This is My Way

Home / Kabar / This is My Way

dicatrans

MEI 2013 menjadi salah satu bulan paling bersejarah dalam hidup saya. Mulai saat itu kehidupan saya berubah 360 derajat. Tidak ada lagi Dica yang dulu, yang tidak menghargai sebuah kehidupan dan selalu merasa kekurangan.

Mei tahun 2013 adalah pertama kalinya saya mengenal AAT dan bergabung menjadi Anak Asuh AAT. Pada awalnya saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan bantuan untuk melanjutkan kuliah. Saya berjuang keras, bekerja ini dan itu, siang dan malam tanpa mengenal lelah untuk membiayai kuliah saya sendiri, dikarenakan orang tua saya tidak mampu membiayai pada saat itu. Mulai dari menjadi pelayan sebuah cafe di siang hari dan pada sore hingga malam hari menjadi pelayan di sebuah rumah makan padang pernah saya jalani untuk membiayai kuliah saya agar tidak terputus.

Pada akhirnya Tuhan menjawab doa dan kerja keras tersebut. Saat saya mulai putus asa, ketika itulah tangan Tuhan menjamah. Saya di rekomendasikan oleh Bapak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kepada Bapak Hadi Santono untuk bergabung dengan komunitas Anak-Anak Terang. Awalnya saya ragu dan tidak begitu tertarik karena belum mengenal AAT lebih jauh. Namun seiring waktu berjalan, pepatah “tak kenal maka tak sayang” menghinggapi saya, dan itu benar!

Saya baru mengerti apa itu AAT setelah saya berkenalan dengan teman-teman di AAT. Setelah saya juga melihat bahwa ternyata banyak orang yang lebih menderita daripada saya.  Setelah saya juga melihat banyak sekali teman-teman diluar sana yang lebih patut dibantu  dibandingkan saya. Justru dengan inilah saya harus bersyukur. Mensyukuri hidup yang telah Tuhan berikan kepada saya.

Disinilah hidup saya berubah. Sedikit demi sedikit saya mengubah pola hidup yang kurang baik menjadi lebih baik. Berkat bimbingan yang diberikan oleh Bapak Hadi Santono dan pengurus AAT lainnya, saya merasa menjadi Dica yang baru dan sangat menyadari bahwa kuasa Tuhan luar biasa.

Saat ini saya bisa melanjutkan kuliah dengan tenang, menunjukan prestasi, juga seluruh kemampuan yang saya miliki. Saat ini tidak perlu lagi mengalami benturan oleh biaya kuliah dan semua ini juga tidak akan terwujud apabila tidak dibantu oleh Bapak dan Ibu Donatur. Para donatur yang telah berbaik hati untuk membiayai saya sehingga merasa tenang untuk melanjutkan kuliah tanpa harus bekerja siang dan malam yang hanya membuat pola hidup saya berantakan.

Pengalaman Kunjungan SMK Putra Tama

Hal lain yang membuat saya mensyukuri hidup dan mau berbagi kasih terhadap sesama adalah saat saya mengikuti kunjungan wawancara calon anak asuh baru ke berbagai sekolah. Salah satunya adalah sekolah SMK Putra Tama. SMK Putra Tama terletak di daerah Bantul, wilayah selatan Yogyakarta. Letaknya yang cukup jauh membuat saya dan teman saya Elina harus menempuh sekitar 45 menit untuk dapat sampai kesana.

Setelah sampai, saya menemukan teman-teman yang sebagian besar berasal dari wilayah Indonesia timur. Di sekolah tersebut, saya langsung disambut oleh Bapak Simon selaku kepala sekolah di SMK Putra Tama. Selanjutnya kami langsung mempresentasikan perihal AAT, kemudian kami melakukan wawancara kepada calon anak asuh AAT.

Saat itu juga hati saya langsung terenyuh ketika mendengarkan kisah-kisah calon anak asuh AAT. Saya mengira mereka berasal dari lingkungan sekitar atau mungkin memang memiliki keluarga di Yogyakarta, namun ternyata tidak. Mereka adalah anak-anak perantau yang sebagian besar berasal dari Kupang, Ambon, dll. Mereka menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam untuk dapat sampai ke Yogyakarta menggunakan kapal laut. Tidak sampai disitu saja, saya juga tersentuh mendengarkan kisah mereka tinggal di Panti Asuhan yang dikelola oleh pak Simon yang berada di sekitar sekolah. Mereka tidak pernah bertemu keluarga selama bersekolah di SMK Putra Tama. Jangankan bertemu, untuk berkomunikasi saja sangat sulit.

Orang tua calon anak asuh kebanyakan adalah petani dan buruh di kotanya masing-masing. Singkat cerita, ada anak yang berumur 20 tahun namun baru menempuh pendidikan di kelas 11 atau kelas 2 SMA karena pada saat itu dia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Ada juga yang orang tuanya pergi meninggalkan mereka. Ada yang orang tuanya tega menitipkan mereka kepada tetangga atau kerabat sehingga adik-adik ini tidak mengetahui siapa sebenarnya sang orang tua. Ada juga orang tua mereka yang sudah meninggal bahkan sedang di dalam penjara.

Sungguh miris hati saya saat mendengar kisah-kisah tersebut. Tidak sadar saya menangis pada saat mewawancarai. Mereka sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pak Simon dan AAT karena AAT dapat membantu mereka agar mereka bisa bersekolah lagi. Disinilah hati saya mulai menyadari bahwa kehidupan itu tidaklah bisa sesuai dengan keinginan kita pribadi, namun kitalah yang harus berusaha agar keinginan itu bisa terwujud.

Tentang Cita-cita dan Refleksi

Saya bercita-cita untuk memiliki uang yang banyak dan mungkin bukan hanya saya saja yang bercita-cita seperti itu. Semua orang bercita-cita yang sama seperti saya, namun tidak semua orang memiliki tujuan yang sama dengan saya. Saya ingin memiliki uang yang banyak bukan hanya untuk kesenangan saya pribadi, namun saya ingin berbagi dengan orang lain. Berbagi kebahagiaan dengan mereka. Berbagi kasih dan perhatian dengan mereka, sebab Tuhan juga sudah memberikan saya kehidupan yang luar biasa. Andai sekarang saya mempunyai uang yang banyak, saya berharap tidak ada lagi Dica-Dica yang lain, atau mungkin adik-adik SMK Putra Tama yang lain yang kesulitan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Tidak boleh terjadi seseorang tidak melanjutkan pendidikan karena ia miskin” –Frans Seda.

Inilah yang menjadi refleksi diri saya apabila Tuhan mengijinkan untuk mempunyai rejeki yang banyak. Saya ingin melihat senyum keceriaan yang dirasakan oleh adik-adik yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya namun akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Mungkin hati saya sangat damai dan bahagia, karena saya juga pernah merasakan penderitaan yang mereka rasakan. Semoga Tuhan mendengar doa saya dan mengabulkannya. Amin.

Sebelumnya saya juga ingin berterima kasih kepada orang-orang yang sangat berjasa dalam kehidupan saya. Terima kasih banyak kepada Bapak Agus Triyogo yang sudah merekomendasikan saya kepada AAT. Kepada Bapak Hadi Santono juga pengurus AAT lainnya yang telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Terima kasih yang sangat mendalam kepada para Donatur yang telah berbaik hati untuk membiayai kuliah saya, sehingga saat ini saya bisa tenang melanjutkan kuliah dan menunjukkan prestasi saya. Terima kasih juga kepada orang tua yang mengajarkan saya pentingnya arti hidup mandiri. Dan yang paling utama, terima kasih Tuhan sudah memberikan pelajaran berharga yang luar biasa, sehingga saya bisa mensyukuri hidup yang saya miliki dan memiliki cinta kasih serta rasa ingin berbagi terhadap sesama.

 

Dica Herra Vidianti
Staff Admin AAT Yogyakarta

 

[qrcode content=”http://aat.or.id/this-is-my-way” size=”175″]

 

Please follow and like us:

Enjoy this blog? Please spread the word :)