Ketika Wawancara Menjadi Jembatan Harapan
Pada tanggal 10 Februari saya menjadi salah satu relawan untuk mewawancarai calon anak-anak asuh dari beasiswa AAT di SMA YOS SUDARSO CILACAP . Selama proses wawancara anak asuh pada, awalnya saya mengira ini hanya sesi tanya jawab biasa. Namun setelah dijalani, ternyata lebih dari itu. Beberapa anak tampak gugup serta terlihat malu dan takut, menjawab singkat, bahkan cenderung diam. Tapi setelah suasana mulai nyaman, mereka mulai bercerita perlahan.
Dari situ saya menyadari bahwa wawancara bukan hanya tentang menilai, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan ruang yang aman agar mereka bisa terbuka. Di balik jawaban sederhana, ada banyak cerita dan perjuangan yang tidak langsung terlihat.
Setelah beberapa kali mengikuti wawancara, saya semakin memahami bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan usaha yang berbeda untuk tetap bisa bersekolah. Ada yang terlihat biasa saja, tetapi ternyata memiliki semangat yang besar di tengah keterbatasan.
Salah satu anak yang cukup berkesan awalnya terlihat kurang percaya diri dan sempat kehilangan semangat. Namun setelah menjadi anak asuh dan mendapatkan beasiswa, ia mulai berubah. Menjadi lebih aktif di sekolah, lebih berani.
Dari pengalaman ini, saya merasa bahwa bantuan yang diberikan bukan hanya soal finansial, tetapi juga mampu menumbuhkan kembali semangat dan harapan. Pengalaman ini juga menjadi pengingat bagi saya untuk lebih peduli dan menghargai setiap kesempatan yang dimiliki serta menumbuhkan rasa syukur di dalam diri kita.
Penulis: Nita Devi Ariesta

