
Donasi Bukan Tentang Nominal, Tetapi Tentang Konsistensi
Banyak orang beranggapan membantu atau berdonasi kepada sesama harus menjadi kaya terlebih dahulu atau kadang donasi lebih dikaitkan erat dengan para orang-orang kaya. Stigma ini muncul dan berkembang di masyarakat tanpa disadari sehingga banyak orang menjadi ragu untuk berdonasi karena merasa dirinya belum cukup kaya atau ketakutan karena berpikir bantuan yang diberikan tidak sebanyak orang lain. Padahal, donasi bukan tentang nominal tetapi niat berkelanjutan untuk membantu sesama
Mitos Membantu Hanya untuk yang Mampu
Membantu sesama memang membutuhkan sebuah kemampuan, tetapi sesungguhnya kemampuan yang diperlukan bukan terkait harta, kekayaan, ataupun nominal. Melainkan kemampuan mengusahakan membantu yang dengan artian dalam segala kondisi akan tetap menyisihkan sebagian yang dimiliki. Ketika membantu, terkadang orang lain tidak melihat nominal atau seberapa besar barang yang didapat tetapi ketulusan dari si pemberi. Kebaikan tidak memiliki takaran besar atau kecil karena setiap bantuan adalah wujud nyata kepedulian terhadap yang membutuhkan.
Banyak orang berpikir “aku ingin kaya dan banyak uang agar bisa membantu semua orang” padahal untuk membantu tidak perlu menunggu kaya karena persepsi kaya dalam benak setiap orang berbeda-beda. Mungkin kita bisa menunggu untuk menjadi kaya, tetapi orang yang membutuhkan bantuan belum tentu dapat menunggu lebih lama lagi karena didesak oleh keadaan.
Konsistensi Berdonasi Berdampak untuk Sesama
Donasi rutin dan konsisten dengan nominal kecil sangat terasa untuk suatu lembaga dan ataupun penerima manfaat. Sekalipun menurut Anda nominal yang diberikan kecil tetapi jika dilakukan rutin setiap bulan maka dapat investasi jangka panjang untuk penerima. Ibarat seperti hujan yang turun ke bumi lalu meresap ke tanah dan baru bisa dirasakan oleh orang-orang beberapa saat kemudian. Begitu pula dengan donasi, mungkin saat ini dengan nominal yang menurut Anda kecil tidak langsung berdampak. Tetapi, jika nominal kecil tersebut diberikan oleh 50 orang secara serentak maka bisa dialokasikan untuk berbagai macam hal untuk membantu sesama.
Contoh nyatanya, mungkin 50 ribu hanya cukup untuk sekali ngopi di cafe tetapi bagi sebagian keluarga, nominal tersebut merupakan SPP 1 anak setiap bulan yang harus dibayar dengan berjualan selama berhari-hari. Kemudian, 10 orang berdonasi 50 ribu setiap bulan selama setahun maka sudah bisa membiayai SPP 10 anak hingga akhir tahun pelajaran.
Satu Tindakan Saat Ini Mengubah Masa Depan
Setiap hal besar selalu diawali dengan langkah kecil yang konsisten.
Berdonasi tidak perlu menunggu kaya karena donasi bukan ajang pembuktian kekayaan tetapi donasi tentang kepedulian terhadap sesama.
Donasi tidak memandang nominal, tetapi donasi melihat ketulusan dan keikhlasan.
