Membasuh

Oleh: Alosisius Ferdinand Andy Kusuma*

Terang sang surya mulai mengintip dibalik jendela kamar. Kelopak mata mulai membuka, terdengar kicauan burung bersautan. Beranjak dan bergegas menyongsong hari penuh kasih sayang ini.

Menerjang hiruk pikuk kota, menuju sumur sukacita. Tak hayal pikiran terus melayang-layang. Memikirkan pertanyaan menggelitik hati nurani dari sang bunda.

“ Sudahkah anakku ini memberi tanpa pamrih?”

Jujur, selama ini kunanti hanyalah yang kuberikan datang berbalik. Menghela nafas, sambil menikmati lukisan nyata dari Maha Pencipta. Sampailah di sumur sukacita, bersama berkas AAT yang kubawa.

Tak ada rasa tak ada empati awalnya, biasa saja. Berkerumun anak-anak putih merah yang ceria mengelilingi tubuhku. Tak ada sedikitpun kekeringan yang terpancar.

Berdiskusi, bercerita, dan bercanda. Begitu hangat atmosfernya. Anak-anak itu, yaa anak-anak itu. Ternyata begitu maya keceriaannya, pedih kutahu kenyataannya.

Rasa malu mulai mencuat, kala tahu selama ini aku kurang bersyukur. Telah kusadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar. Pendidikan yang kumiliki, milik anak-anak itu juga bersama.

Mengering sanubariku, terisi kembali. Membasuh harapan yang mulai pudar bagi anak-anak kurang beruntung. Terus memberi walau tak suci, terus mengobati walau membiru. Demi keberlanjutan pendidikan anak-anak Indonesia.

Anak-Anak Terang seperti embun pagi. Selalu memberikan kesejukan direlung hatiku, hatimu dan hati kita. Kutemukan makna hidupku disini. Yaa, di komunitas Anak-Anak Terang ini. Semoga kasih sayang manusia tak pernah pudar.

Salam hangat,

*Alosisius Ferdinand Andy Kusuma, BPT Sekretariat Semarang. Tulisan ini terkait tema “Gerakan Kasih Sayang dalam Beasiswa Anak-Anak Terang” dalam rangka merayakan Hari Kasih Sayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *