Informasi
Gerakan #BerbagiHandphone
Oleh: Tim Gerakan #BerbagiHandphone Masa pandemi telah membawa kita menghadapi kenyataan bahwa pendidikan ternyata mempunyai kasta. Pembelajaran jarak jauh, meskipun tidak bisa dihindari, menjadi langkah yang absurb. Absurb karena pemerintah tidak bisa memahami bahwa masih banyak anak dan peserta didik yang belum bisa mengakses maupun terlibat dengan merdeka dalam model pembelajaran jarak jauh ini. Penggunaan teknologi jelas sangat ditopang oleh kehadiran piranti yang mendukung teknologi ini. Tapi kenyataannya, banyak peserta didik yang masih belum mempunyai piranti penunjang pembelajaran jarak jauh. Kalaupun ada, masih belum maksimal, karena piranti masih menjadi bagian dari kebutuhan keluarga dan hanya dipakai bergantian. Potret kasta dalam pendidikan ataupun kepemilikan piranti pendukung agenda pembelajaran jarak jauh juga ada dalam lingkungan AAT. Kegelisahan tampak dirasakan peserta didik atau lebih dikenal Anak Asuh (AA) yang selama ini dibantu AAT. Jika melihat faktanya, seluruh AA AAT berasal dari keluarga yang berkekurangan secara finansial. Siapa lagi? Dalam keadaan seperti ini, tidak ada pilihan selain menjalaninya. Namun, realitasnya, tetap tidak akan berubah bahwa pendidikan jarak jauh menyulitkan dan menyisakan problematika panjang. Kalau bukan kita, siapa lagi? Pertanyaan reflektif ini sekiranya dapat menakar maksud #GerakanBerbagiHP. Per Agustus 2020, Tim AAT mulai bergerak mengetuk hati para donatur untuk terlibat dalam gerakan ini. Sesuai dengan namanya, donatur berdonasi handphone (HP) atau smartphone. Per Agustus 2020, Tim AAT mulai bergerak mengetuk hati para donatur untuk terlibat dalam gerakan ini. Sesuai dengan namanya, donatur berdonasi handphone (HP) atau smartphone. Tim mensyaratkan sasaran gerakan haruslah AA yang belum punya HP dan AA juga harus menuliskan Surat Cinta kepada donatur yang memberikan HP tersebut. Pada 21 Agustus 2020, Tim telah mengunjungi beberapa sekolah dan menyerahkan langsung 13 (tiga belas) buah HP kepada AA yang berhak menerimanya. Kami berharap selama pandemi covid-19 masih berlangsung, gerakan ini bisa digiatkan guna membantu yang lainnya. Angka di atas pastilah masih jauh dari kata cukup membantu. Namun, segala sesuatu yang besar diawali dari hal yang terkecil. Dan, jika Anda ingin turut berpartisipasi dalam gerakan ini, kami sangat bersuka cita.
5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Beasiswa AAT: Beasiswa untuk Mencegah Putus Sekolah Anak Tak Mampu
Oleh: Fajar Akbar Suryadi dan Korneles Materay (Divisi Purel AAT) Apakah Anda pernah mendengar sebutan “AAT” atau “Beasiswa Anak Anak Terang? Pernahkah Anda melihat ada hastag #cegahputussekolah ketika melakukan pencarian hastag dengan keyword “cegah” di medsos seperti twitter atau instagram Anda, misalnya? Apakah Anda sudah mengenalnya? Jika belum, bacalah tulisan ini sampai selesai. Kami akan membagikan beberapa fakta menarik tentang AAT. AAT merupakan salah satu program beasiswa di Indonesia. Beasiswa AAT hadir dengan misi utama membantu anak-anak dari seluruh Indonesia dari keluarga yang tidak mampu agar tetap dapat meneruskan pendidikan formalnya. Hingga saat ini, Beasiswa AAT telah membantu biaya pendidikan lebih dari 11.600 anak Indonesia. Nah, 5 (lima) hal berikut ini dapat membantu Anda mengenal lebih dalam Beasiswa AAT. 1.Tidak boleh terjadi seseorang tidak melanjutkan pendidikan hanya karena ia miskin. Ungkapan di atas dikemukakan oleh Frans Seda yang menjadi motto Beasiswa AAT. Semangat mencegah orang miskin putus sekolah itu mengilhami kelahiran AAT. Semula dari kekhawatiran akan nasib 25 anak di SLTP Kampung Jembatan yang terancam putus sekolah karena terhambat membayar biaya pendidikan pada tahun ajaran 2002 – 2003, para Inisiator Beasiswa AAT menggagas pemberian beasiswa kepada mereka. Mula-mula seorang donatur menawarkan diri untuk membantu tetapi ia hanya mampu membiayai 10 anak. Menyadari 15 anak lainnya harus tetap bersekolah, para Inisiator Beasiswa AAT dengan segala keberanian mereka menghubungi beberapa teman untuk membantu anak-anak tersebut. Di luar dugaan, ternyata dana yang terkumpul melebihi kebutuhan 15 anak itu. Dari yang tadinya bingung karena kekurangan dana akhirnya menjadi bingung karena kelebihan dana. Lantas, dana yang terkumpul tidak hanya untuk membantu anak-anak kurang mampu di atas, namun juga di tempat lain. 2. Beasiswa Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi Beasiswa AAT diberikan kepada ribuan anak setiap tahunnya dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari tingkat SD, SMP, SMU/SMK hingga perguruan tinggi. Besarnya beasiswa yang disalurkan mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Penerima Beasiswa AAT disebut Anak Asuh (AA) dan pemberi beasiswa disebut Orang Tua Asuh (OTA). OTA sama dengan donatur. Beasiswa AAT tidak memandang suku, agama, ras, dan golongan (SARA) sebagai penerima beasiswanya. Para donatur pun berasal dari berbagai latar belakang. Donatur AAT berasal dari seluruh wilayah Indonesia hingga menembus batas negara. Tercatat beberapa donatur berdomisili di Singapura, Perancis, Hongkong, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Jerman, Belgia, Belanda, Qatar hingga Australia. 3. Berbadan Hukum Di awal kelahirannya, Beasiswa AAT berbentuk kelompok informal peduli pendidikan. Namun, sejak 12 Oktober 2013, Beasiswa AAT bernaung di bawah badan hukum Yayasan AAT Indonesia. Pada 21 April 2014 disahkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Nomor. AHU-2314.AH.01.04.Tahun 2014. 4. Sistem Informasi Publik AAT AAT memiliki dua website utama sebagai sistem informasi publik yang menyediakan data dan informasi kegiatan-kegiatan AAT yaitu www.aat.or.id dan www.sianas.aat.or.id. www.aat.or.id merupakan platform informasi umum bila Anda ingin mengenal lebih dalam mengenal sepak terjang AAT. Sedangkan, www.sianas.aat.or.id merupakan sebuah platform donasi AAT. SIANAS adalah singkatan dari “Sistem Informasi Anak Asuh.” Siapapun dapat menjadi OTA atau donatur AAT. Proses menjadi donatur melalui SIANAS. SIANAS memuat data terpadu OTA dan AA. Calon OTA yang telah mendaftarkan diri sebagai OTA bisa melihat profil calon anak asuhnya, memilih anak asuhnya sesuai jumlah yang diinginkan, melihat perkembangan akademik anak asuh, dan tentu saja kewajibannya. Donasi biaya pendidikan yang merupakan kewajiban OTA yang disalurkan kepada AA dapat dilakukan setiap bulan, 3 (tiga) bulan, 6 (enam) bulan, atau per tahun. SIANAS tidak hanya dalam bentuk website karena sejak 2020 ini, SIANAS sudah berbentuk aplikasi yang bisa diinstal di smartphone melalui play store/google play. Ingin berdonasi langsung dari hapemu? Yuk, instal SIANAS sekarang! 5. Merayakan Ultah ke-18 Tahun di Bulan Kemerdekaan Agustus adalah bulan spesial bagi bangsa Indonesia karena ini adalah bulan Kemerdekaan. Agustus juga bulan spesial bagi AAT karena ada peringatan hari lahir AAT. AAT lahir pada 1 Agustus 2002 dan tepat 1 Agustus 2020, AAT telah menginjak usia 18 tahun. Doakan ya, semoga Beasiswa AAT berumur panjang dan banyak orang-orang baik yang berdonasi di AAT sehingga bersama-sama kita memberi dampak. Amin…
HUT 18 Tahun AAT
1 Agustus 2020, AAT telah mencapai usia 18 tahun. Kami segenap Pengurus Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak khususnya kepada para Donatur, PJ Sekolah, Relawan, dan Anak Asuh yang telah mewarnai, mengisi, mendoakan, hingga memberikan dukungan dan bantuan kepada AAT sejauh ini. Semoga melalui AAT karya-karya kemanusiaan terpancar kini, sekarang dan nanti. Mari cegah anak-anak bangsa dari putus sekolah bersama-sama. Informasi lengkap AAT: www.aat.or.id Pendaftaran donatur/donasi: www.sianas.aat.or.id
Rakernas AAT: Jangan Mudah Menyerah Untuk Melayani Negeri
Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia (AAT) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 6 – 9 Februari 2020 bertempat di Griya Paseban, Semarang. Hadir lengkap Pengurus Yayasan AAT. Dalam paparannya, Ketua Umum Yayasan AAT Maria Sophina Irewati mengatakan Rakernas telah menjadi wadah rutin setiap tahun untuk mengevaluasi kinerja yayasan yang menaungi beasiswa AAT ini. “PR kita ada banyak. Yang kita pikirkan adalah nasib siswa. Rakernas secara rutin untuk membicarakan kondisi dan tantangan selama ini. Sampaikan semua keluhan dan usulan apa adanya,” ujar perempuan yang kerap disapa Ibu Ira ini. Selain itu, hadir pula PJ Sekretariat Bandung, Madiun, Malang, Purwokerto, Semarang dan Yogyakarta, penerima bantuan perguruan tinggi (BPT) yang nota-bene administrator di sekretariat dan beberapa relawan. Mayoritas peserta yang hadir datang dari berbagai daerah dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan tentu saja bahkan meninggalkan beberapa kesibukannya. Hal ini membuktikan komitmen dan dedikasi tinggi segenap tim untuk mengelola beasiswa AAT demi keberlangsungan pendidikan anak-anak bangsa. Semangat ini tidak terlepas dari kesadaran kolektif bahwa AAT telah menjelma sebagai wadah peduli pendidikan rujukan banyak orang selama ini. Pembahasan di Rakernas dimulai dari pemaparan hasil kerja BPT dan relawan terkait sisi administrasi beasiswa di sekretariat masing-masing. BPT dan relawan selama ini disamping mengurusi administrasi, mereka juga selalu membina komunikasi dengan PJ sekolah penerima beasiswa di tingkat dasar hingga menengah demi kelancaran penyaluran beasiswa AAT. Kemudian, pemaparan dari sisi PJ sekretariat masing-masing untuk evaluasi tingkat sekretariat dan rapat pengurus guna mengambil keputusan-keputusan penting terkait langkah lembaga ke depan. Pada rapat pengurus ini, terjadi penyegaran organisasi dengan sedikit perubahan struktur tim pengelola beasiswa AAT. AAT merupakan organisasi inklusif. AAT telah menjadi jembatan penghubung ribuan orang dari berbagai latar belakang pendidikan, pekerjaan, agama sampai status sosial yang peduli pada anak-anak yang kurang beruntung di pendidikan formal sejak jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dengan berdonasi di AAT, donasi tersebut dikelola untuk memberikan pelayanan beasiswa formal, pendampingan dan perhatian sehingga pendidikan formal mereka yang dibantu dapat diselesaikan dengan baik. Kurang lebih 10.000 (sepuluh ribu) penerima beasiswa AAT yang disebut anak asuh telah dilayani hingga kini. Namun, setiap tahunnya, jumlah yang dibantu terus bertambah sehingga kebutuhan donasi dan perhatian semua orang pada nasib pendidikan tetap menjadi hal yang penting untuk diperhatikan bersama agar tidak ada lagi kasus putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Selama tiga hari berdinamika bersama, secara resmi Rakernas ditutup kembali oleh Ibu Ira. Beliau mengaku sangat senang akan pertemuan tersebut dan mengapresiasi semua kinerja selama ini, sembari meminta untuk disempurnakan. “Bersyukur karena banyak hal-hal baru dan pekerja-pekerja baru pada Rakernas kali ini. Mudah-mudahan yang dibicarakan ini disempurnakan. Semua orang harus bekerja lebih giat lagi. Kita percaya, Tuhan menyertai. Jangan takut salah. Kalau salah bangkit lagi. Jangan mudah menyerah. Terima kasih untuk komitmen, masukan dan ide semuanya. Saya berharap kita bekerja secara kreatif untuk melayani negeri,” pungkasnya. K/M
Rakernas AAT: Jangan Mudah Menyerah Untuk Melayani Negeri Read More »
Karya Pemenang Lomba Menulis Cerpen dan Puisi
Sabtu, 16 Februari 2019, hasil karya menulis cerpen dan puisi oleh anak-anak bangsa, akhirnya di umumkan juga. Tak sedikit dari mereka yang menyumbangkan kemampuan mereka dan kreatifitas dalam mengikuti lomba menulis cerpen dan puisi. Ada dua kategori perlombaan yang dilaksanakan yaitu, Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs).
Kunjungan ke Sekolah SD Katolik Bhakti Rogojampi
Kali ini, 14 Desember 2017, relawan AAT ( Anak Anak Terang ) Pusat dan Sekretariat Malang mengunjungi SD Katolik Bhakti Rogojampi. Letaknya di ujung timur Banyuwangi/Pulau Jawa. Dekat dengan selat Bali. Ini adalah sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Karmel Keuskupan Malang. SD Katolik Bhakti Rogojampi adalah salah satu sekolah yang dibantu beasiswa oleh Yayasan AAT Indonesia ( Anak Anak Terang ). 304 km jaraknya dari kota Malang. Kami berempat, Adhi, Emi, Tata, Ella berkunjung ke SD Katolik Bhakti Rogojampi dengan tujuan sosialisasi pengelolaan beasiswa Anak Anak Terang dan pelatihan Sistem Informasi Anak Asuh (SIANAS). Pelatihan SIANAS ini dimaksudkan untuk mendorong penggunaan sistem online untuk pelaporan mandiri oleh pihak sekolah. Selama ini pelaporan beasiswa dari pihak sekolah dilakukan oleh Pendamping Komunitas (relawan mahasiswa). Untuk memperlancar pelaporan beasiswa dan mempercepat proses pelaporan, kini, Penanggung Jawab(PJ) Sekolah dilibatkan aktif. Kami disambut dengan sangat luar biasa oleh pihak sekolah. Kebetulan Kepala Sekolah SDK Bhakti Rogojampi di sedang rapat di Malang. Di SDK Bhakti Rogojampi, kami disambut oleh guru-guru yang memang masih berada sekolah usai jam pelajaran untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi sekolah. Tahun ajaran 2017/2018 ada 2 Anak Asuh Anak Anak Terang dari SDK Bhakti Rogojampi. Semoga di Tahun Ajaran 2018/2019, SDK Bhakti Rogojampi dapat mengajukan calon penerima beasiswa baru. Tentunya dengan segala kesiapan Penanggung Jawab Sekolah untuk sistem pelaporan beasiswa yang baru yaitu dengan sistem online. PJ Sekolah langsung memiliki ID PJ dan akses langsung ke SIANAS yang terhubung dengan AAT dan donatur. Sosisalisasi dilakukan oleh Penanggung Jawab Sekretariat Malang (Emi), dan relawan Pendamping Komunitas Sekretariat Malang. Dan saya berkeliling sekolah untuk peliputan dokumentasi sekolah. Melihat kelas-kelas yang ada, wawancara dengan para guru yang masih ada di sekolah. Karena sekarang masa menyambut Natal, ornament kemeriahan Natal ada di mana-mana. Di setiap kelas ditemukan pohon-pohon Natal dan hiasan Natal lainnya. Pohon Natal dan hiasan Natal ini hasil karya anak-anak didik SDK Bhakti Rogojampi. Di tembok sekolah terdapat lukisan 3D hasil karya para guru. Natal kali ini menjadi berbeda dari Natal-Natal sebelumnya. Menyambut Natal, sekolah mengadakan kompetisi lomba membuat pohon Natal dan hiasan Natal dari barang-barang bekas tak terpakai yang mudah ditemukan di sekitar sekolah. Dari mulai tas plastik bekas, kertas warna bekas, kawat bekas, bungkus mie instan dan lain-lain yang bekas-bekas. Selama ini barang-barang ini hanya menjadi sampah yang dibuang saja. Tapi kali ini, dengan modal minimal hasil maksimal, sekolah memancing kreatifitas para murid dan para guru untuk merubah sampah menjadi berkah meriah. Dalam waktu 3 hari, semua murid, guru, wali murid, paguyuban sekolah, dan komite sekolah berlomba-lomba membuat pohon natal yang paling indah. Tujuan diadakan acara lomba ini, menurut Bapak Kepala Sekolah Bpk Rio Moll Kondou, melalui wawancara telepon, adalah untuk menumbuhkan kreatifitas tanpa batas para murid dari bahan-bahan bekas yang tampaknya tidak bisa dipakai lagi. Dan, untuk mengurangi budaya konsumtif di diri anak anak murid sejak dini. Anak jaman sekarang begitu mudah mendapatkan segala sesuatu dengan cara instan. Kali ini mereka harus berusaha menciptakan sesuatu. Good job anak anak! Good job Sekolah! SemangAAT! Salam Anak Anak Terang. From Rogojampi with love
Kunjungan ke Sekolah SD Katolik Bhakti Rogojampi Read More »
Kunjungan ke Yayasan Panti Rini dan SD Maria Purworejo
Oleh: Korneles Materay Tanggal 29 April 2017, Anak-Anak Terang (AAT) Sekretariat Yogyakarta melakukan kunjungan ke dua sekolah/komunitas yang menerima beasiswa AAT. Kesempatan kunjungan ini dilakukan oleh 3 orang Penanggungjawab Komunitas (PK) yaitu Novia, Nyong dan Neles. Setelah menempuh perjalanan dengan kendaraan sepeda motor sekitar 2 jam akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan pertama yaitu, SD Maria Purworejo. Kami disambut dengan hangat oleh pihak sekolah. Kami lalu mengutarakan maksud kunjungan tersebut. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka koordinasi dan membangun komunikasi untuk menggali kendala administrasi pelaksanaan beasiswa AAT selama ini. Ibu Christi selaku Penanggungjawab Sekolah (PJ) mengatakan bahwa keterlambatan pihak sekolah dalam melaksanakan kewajiban administrasi karena adanya kesibukan akreditasi sekolah. “Kami masih sibuk menghadapi akretasi sekolah, jadi maaf ini terbengkalai. Tetapi kasih kami kesempatan untuk memperbaikinya sesegera mungkin”, pungkasnya. Selain itu, dikeluhkan oleh bu Christi bahwa di sekolah tersebut hanya dirinya yang menaruh perhatian penuh ke beasiswa AAT. “Dulu ada kepala sekolah yang sama seperti saya memahami beasiswa AAT, namun sekarang ini kepala sekolahnya telah diganti. Dia (kepala sekolah) mengatakan kepada saya “bu Christi, kalau mau dilanjutkan silahkan, kalau tidak, tidak apa-apa”, tambahnya. Bagi PJ seperti Bu Christi, dia merasa sangat prihatin sehingga selalu bertekad untuk mempertahankan keberlanjutan beasiswa AAT karena faktanya masih ada anak-anak yang butuh beasiswa AAT. Setelah mengetahui kendala tersebut, waktu tersisa kami pergunakan untuk langsung mengajarkan cara menggunakan sistem SIANAS. Sekitar 30 menit belajar SIANAS, Ibu Christi mengatakan sudah bisa mengakses SIANAS. “Kalau menggunakan aplikasi seperti ini kan bagus, saya bisa lebih mudah mengakses dan tidak banyak tanya-tanya”, kesannya. Kami juga memberikan undangan pelatihan SIANAS yang akan diadakan pada bulan Juni untuk seluruh PJ se-Sekretariat AAT Yogyakarta. Setelah berpamitan, kami melanjutkan kunjungan ke Yayasan Panti Rini disambut Sr. Rachel. Kami menjelaskan hal yang sama kepada Sr. Rachel bahwa kedatangan kami adalah untuk mengetahui kendala administrasi pelaksanaan beasiswa AAT selama ini. Memang Sr. Rachel bukanlah PJ karena waktu itu PJ Panti Rini sedang keluar kota. Tetapi waktu tersebut dipergunakan untuk memperkenalkan beasiswa lebih dalam lagi. “Saya akan mencoba untuk mem-back-up. Saya akan lakukan komunikasi sama PJ ya”, pungkasnya. Berbeda dengan apa yang kami lakukan di SD Maria, tidak ada pelatihan SIANAS di Yayasan Panti Rini karena keterbatasan yang ada baik fasilitas laptop dan lainnya. Kami juga memberikan undangan pelatihan SIANAS. Berkenaan dengan maksud kedatangan tersebut baik SD Mari Purworejo maupun Yayasan Panti Rini berjanji akan menyelesaikan semua administrasi yang meliputi tanda terima, kwitansi dan rapor yang tersisa. Bahkan SD Maria Purworejo kami langsung meminta berkas untuk di proses. #AnakAnakTerang #CegahPutusSekolah
Kunjungan ke Yayasan Panti Rini dan SD Maria Purworejo Read More »
Komunitas Anak Anak Terang Semarang Menjadi Pelita Bagi Siswa Kurang Mampu
TRIBUNJATENG.COM — Secercah cahaya pelita mulai mengikis suram yang menyelimuti lorong. Langkah-langkah yang tadinya terhenti akibat gelap, bisa bergerak lincah seiring terang yang mulai sempurna. Kondisi ini seolah tepat menggambarkan anak-anak kurang mampu yang bisa melanjutkan pendidikan tanpa mengkhawatirkan biaya setelah dibantu Komunitas Anak Anak Terang (AAT) Semarang. “Komunitas ini fokus pada pendidikan anak-anak kurang mampu. Jangan sampai kondisi ekonomi yang lemah membatasi mereka mendapat pendidikan,” ujar Koordinator AAT Semarang, Meita. Menurut Meita, AAT Semarang yang terbentuk 2013 merupakan kepanjangan tangan AAT Indonesia di Jakarta yang dirintis sejak 2002. Selain semarang, AAT juga terbentuk di Padang, Pontianak, Bandung, Purworejo, Yogyakarta, Malang, serta Madiun. Adalah Maria Irewati Sophina yang menggagas komunitas tersebut. Merasa tak mampu mengatasi sendiri masalah finansial bidang pendidikan anak-anak kurang mampu ini, Maria menggandeng relasi yang punya niatan sama membentuk satu kelompok yang akhirnya menjadi cikal bakal AAT Indonesia. Di Semarang, Meita menyebut, ada 35 anggota yang mereka sebut relawan. “Tugas relawan adalah menjadi jembatan antara donatur dan anak-anak yang membutuhkan bantuan. Relawan ini juga berperan mendampingi anak-anak yang masuk dalam asuhan AAT,” jelas dia. Meita mengatakan, donasi yang diterima dari donatur tak diwujudkan dalam bentuk barang atau uang tetapi beasiswa. Sekolah tempat anak-anak kurang mampu itu belajar, memberikan informasi identitas mereka. Selanjutnya, relawan turun ke lapangan, melakukan survey dan observasi mengenai kebutuhan setiap anak. Data ini selanjutnya dimasukkan dalam database yang disebut Sistem Anak Asuh (Sianas) yang dibagikan kepada donatur yang ingin memberi bantuan. “Donatur boleh memilih anak yang akan dibantu. Mereka tidak menyerangkan secara langsung beasiswa tetapi melalui penanggungjawab atau dalam hal ini sekolah. Besarannya beragam, mulai Rp 50 ribu untuk SD, Rp 75 ribu untuk SMP dan Rp 100 ribu untuk SMA. Tergantung kebutuhan dan kondisi anak,” ungkapnya. Sampai saat ini, Meita mengungkap, ada 6.000 anak dari keluarga kurang mampu di Indonesia yang mendapat bantuan dari AAT Indonesi dan tujuh daerah lain. Savio Galih, koordinator sekretariat AAT Semarang mengatakan, AAT mengjangkau anak-anak kurang mampu mulai Pati, Temanggung, juga Weleri di Kendal. Ada juga anak-anak di wilayah Indonesia Timur, satu di antaranya Nusa Tenggara Timur (NTT). “Sesuai namanya, kami sebagai relawan dan anggota AAT punya misi memberi terang layaknya pelita, menuntun anak-anak yang kekurangan agar bisa mendapat pendidikan formal yang baik dan jauh lebih baik setelahnya,” ucap Savio. Semangat membantu mereka yang membutuhkan menjadi alasan Savio bergabung di AAT Semarang sejak 2013. Dia pun senang, di komunitas yang memiliki anggota dari berbagai latar belakang tersebut, setiap anggota saling menguatkan. “Yang bikin betah, kepedulian anggota tinggi. Tak hanya pada anak-anak yang dibantu tetapi juga antar anggota. Apalagi, isinya (anggotanya), mayoritas anak-anak muda yang punya semarang tinggi,” ujarnya. Ia berharap, gerakan orangtua asuh yang sudah dirintis AAT ini dapat menjangkiti lebih banyak orang sehingga akan lebih banyak anak-anak kurang mampu yang terjangkau. “Saya sedang dan terus membangun jejaring ke banyak teman-teman muda lain untuk gabung ke AAT. Kalau dulu anggota AAT masih terbatas mahasiswa satu perguruan tinggi, sekarang sudah makin meluas dari berbagai kampus. Harapannya, bisa lebih luas dan banyak lagi menjangkau anak-anak yang membutuhkan,” harap Savio. Harus Terus Bangun Relasi Christ Widya Utomo, Sekjen AAT Indonesia menjelaskan sebagai komunitas yang fokus pada kegiatan sosial, Anak Anak Terang berkembang cukup baik dan konsisten. Meski begitu, harus lebih berkembang dalam menyebarkan virus gerakan orangtua asuh bagi anak-anak kurang mampu. “Yang perlu diperhatikan, di antaranya, membangun jejaring dengan komunitas sosial lain agar misi yang ingin dicapai AAT terpenuhi secara berkesinambungan. Semisal, menjalin kerjasama dengan komunitas yang bisa mewadahi Anak Anak asuh AAT mendapat pekerjaan selepas sekolah. Sehingga, anak anak asuh ini nantin tidak hanya sekadar dibantu hingga sekolah lulus lalu selesai, tetapi juga kalau bisa diarahkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan di kemudian hari supaya bisa menghidupi dirinya sendiri pada akhirnya,” ujarnya. Membangun relasi ini harus telaten, apalagi di Semarang tak sedikit juga komunitas yang punya kegiatan sama dengan AAT. Nah kenapa tidak ini disatukan bergerak bersama. Di internal komunitas, untuk menjaga tetap solid, perlu selalu menjaga hubungan dan komunikasi supaya tetap semangat menghadapi tantangan organisasi. Manfaatkan teknologi seperti media sosial untuk menjaga komunikasi antar anggota bisa dengan buat grup diskusi bersama. Selain itu juga bisa lakukan kopdar secara berkala agar sesama anggota bisa saling lebih mengenal lagi. Sebab tanpa bisa membangun suasana yang akrab di dalam komunitas tentu akan menjadi tidak nyaman bagi siapapun, nah ini yang harus dipelihara terus. (gon) Sumber : Tribun Jateng
Komunitas Anak Anak Terang Semarang Menjadi Pelita Bagi Siswa Kurang Mampu Read More »








