Artikel

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

NAMA SAYA YENI PUSPITASARI. Saya biasanya akrab dipanggil Yeni. Saya lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 13 September 1993. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun. Orang tua saya bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Sejak kecil, saya diasuh dan dibesarkan oleh nenek di kota Madiun. Orang tua saya harus pergi karena pekerjaan. Saya diasuh oleh nenek, karena kedua orang tua harus bekerja dan saat itu tidak mampu membayar babysitter untuk mengasuh saya. Alhasil, saya diasuh dan dibesarkan di desa bersama nenek hingga sekarang ini. Adik saya tinggal bersama orang tua di Sidoarjo, sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di Madiun bersama nenek, karena nenek tinggal di rumah sendirian. Tidak sampai hati rasanya jika harus meninggalkan seorang nenek yang sudah merawat saya sejak kecil tinggal di rumah seorang diri. Masa Sekolah Memasuki usia sekolah, mulanya saya bersekolah di TK Dharma Wanita Ngadirejo. Saat itu saya baru berusia 5 tahun. Namun, nenek sudah memasukkan saya ke sekolah. Lalu, saya bersekolah di SDN Ngadirejo 02. Kebetulan TK dan SD berada dalam satu lokasi yang sama dan lokasi sekolah tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya, kira-kira 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian, saya bersekolah di SMPN 1 Wonoasri. Jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, sekitar 5 km. Saat diumumkan kelulusan SMP dan dinyatakan lulus, saya mulai bimbang akan kemanakah saya melanjutkan sekolah. Saya benar-benar bingung antara SMA atau SMK. Saya berpikir, jika sekolah di SMA berarti harus kuliah, sedangkan biaya kuliah sangatlah mahal. Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke sekolah swasta, yaitu SMK PGRI Wonoasri dan mengambil jurusan Akuntansi. Sekolah tersebut terletak di tengah kota Caruban. Jarak sekolah dan tempat tinggal saya sekitar 11 km. Untunglah saat itu saya ada teman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga bisa sedikit meringankan biaya untuk membeli bensin. Seminggu sekali, kami bergantian untuk mengisi bensin. Waktu sekolah dulu, saya bersama sahabat saya pernah berjualan kacang bawang. Tiap pulang sekolah kami membuat kacang bawang dan besoknya kami titipkan ke warung-warung. Selain itu, saya juga berjualan pulsa untuk tambahan uang saku, karena jika mengandalkan uang saku dari orang tua sangatlah tidak cukup. Kelas XI saatnya melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Saya bersama ketiga teman mencari tempat untuk melakukan praktek. Hingga akhirnya, kami berempat diterima PSG di PLN Madiun selama 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dari mengarsipan data, entri data tusbung, melayani pelanggan, dll. Masa SMA pun segera berakhir. Sambil menunggu ijazah keluar, saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Madiun. Saya diterima di sana dan kontrak awal selama 3 bulan. Awalnya, saya merasa tidak sanggup bekerja selama 10 jam per hari, tapi saya berusaha memberi semangat pada diri saya bahwa saya pasti bisa. Satu bulan saya bekerja, ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan lagi. Akhirnya, saya menyetujuinya dan ayah mengusahakan untuk mencarikan biaya pendaftaran. Saya pun konsultasi dengan guru BK SMK. Menurut beliau, kampus Widya Mandala (WIMA) Madiun adalah kampus yang cukup baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di kampus UNIKA Widya Mandala Madiun dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua orangtua saya awalnya tidak setuju kalau saya kuliah di situ. Mereka ingin saya kuliah di perguruan tinggi lain yang ada di Madiun, tetapi saya tetap ingin kuliah di WIMA Madiun. Awal Mengenal AAT Jalan Tuhan memang indah. Jika saat itu saya ikut saran orangtua untuk kuliah di universitas lain, mungkin sekarang saya tidak akan mengenal AAT. Saya baru sadar mengapa saat itu saya bersikeras ingin kuliah di Wima, yaitu karena Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Hingga akhirnya, saya bisa mengenal yayasan yang begitu hebat, Yayasan AAT Indonesia. Pagi itu, tanggal 26 Agustus 2013 adalah hari di mana saya pertama kali mengenal Anak-anak Terang (AAT). Awalnya, saya ke kampus hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi mendengar bahwa ada sosialisasi beasiswa AAT, saya dan teman saya Mbak Rike tertarik untuk mengikuti sosialisasi mengenal beasiswa AAT. Sebelumnya, saya sudah mendengar ada pengajuan beasiswa dan mahasiswa yang lolos seleksi beasiswa tersebut akan menjadi staf administrasi dan tugasnya adalah mengurus beasiswa untuk anak SD, SMP, dan SMA. Saya tidak mengajukan beasiswa AAT, karena pada saat itu saya sudah mendapat beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM). Beberapa teman mengatakan bahwa tidak hanya yang penerima beasiswa AAT saja yang bisa mengurus beasiswa untuk SD, SMP, dan SMA, tetapi yang tidak menerima beasiswa AAT pun boleh membantu. Mendengar hal seperti itu saya tertarik untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT. Saat memasuki ruangan tersebut, saya berkenalan dengan Mbak Chika dan Mbak Alma yang saat itu menjadi koordinator nasional. Saat Mbak Chika menanyakan apakah sudah membuka situs web AAT, saya jawab belum. Karena saat itu yang saya tahu beasiswa AAT memberikan beasiswa kepada SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Saya belum melangkah lebih jauh sampai membuka website-nya AAT. Setelah Mbak Alma, Mbak Chika, Pak Christ, dan Pak Hadi menjelaskan kepada semua audience yang hadir, saya baru paham apa itu Beasiswa AAT. Dari penjelasan mereka dan dari tanya jawab, saya semakin yakin untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT, karena kegiatan di AAT sangat positif. Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Setelah resmi bergabung bersama AAT, saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang awalnya belum saya kenal. Mereka semua baik dan kami saling bekerja sama, saling membantu, dan saling memberikan semangat. Menjadi staf administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem informasi Anak Asuh), bagaimana mengirim bukti transfer dan kuitansi setiap bulannya kepada donatur, dan bagaimana mengirim rapor anak asuh untuk donatur.   Saat survei, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Ketika wawancara, saya mendengar cerita langsung dari calon anak asuh. Saya merasa sangat bersyukur atas kehidupan saya. Saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik di luar sana yang tidak seberuntung saya. Cerita dan perjuangan mereka semakin membuat saya bersyukur dan bersemangat untuk meraih cita-cita saya, untuk terus membantu sesama, dan terus melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekeliling saya dan tentunya untuk AAT. Menjadi Anak Asuh AAT Tahun ajaran

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Read More »

AAT Membawa Terang dalam Hidupku

SATU SETENGAH TAHUN aku berkecimpung di AAT. Berkat beasiswa AAT inilah aku bisa kuliah sampai sekarang. AAT yang telah membiayai kuliahku dari semester 3 kemarin. Dulu, sebelum aku dibiayai AAT, orang tuaku harus menggadaikan cengkeh dan menjual anak sapi yang didapat setelah bertahun-tahun memelihara induknya dari saudaraku. Dan sekarang, aku bersyukur sekali kuliahku sudah dibiayai AAT. Berkat AAT, beban ekonomi yang ditanggung oleh orangtuaku sudah tidak seberat dulu. Terkadang, orang tuaku menjual kayu atau pinjam ke saudara untuk biaya hidup sehari-hari, karena ibuku sudah tidak bekerja lagi. Sekarang, ibu hanya mengurusi sawah dan ladang bersama bapak, serta cari daun cengkeh dan rempah–rempah untuk dijual. Selama 1,5 tahun juga, aku ditunjuk sebagai bendahara AAT sekretariat Madiun. Jujur, tidaklah mudah menjadi seorang bendahara yang harus mengurusi uang. Bahkan, kalau sampai salah hitung, aku bisa pusing yang akhirnya terlambat untuk mengirim laporan ke pusat. Tapi semuanya kulakukan, karena tugas sebagai bendahara tidak seberat pengorbanan dari para pengurus yang rela meluangkan waktunya untuk AAT. Selain sebagai bendahara, aku juga sebagai salah satu tim public relations. Di sini aku banyak belajar mengenal orang yang tak dikenal, yang akhirnya menjadi kenal. Di tim ini aku bertugas posting di fanpage AAT sesuai jadwal masing-masing. Ketika melihat data anak asuh di SIANAS (Sistem Informasi Anak asuh) angkanya berkurang, saya merasa sangat senang, karena ada yang membantu mereka. Mereka dapat melanjutkan sekolahnya berkat para donatur yang baik hati. Rasa malas untuk posting terkadang datang menghinggap. Tapi perasaan itu segera hilang ketika ingat perjuangan para pengurus yang rela meluangkan waktu untuk posting setiap hari demi mencari donatur untuk adik-adik yang membutuhkan. Berkat AAT juga aku merasa lebih bersyukur. Saat rapat public relations 2014 lalu, sebelum pulang, aku, Mbak Rike, dan Mbak Tiara yang diantar oleh Om Adhi dan Pak Greg mampir ke Panti Asuhan Cacat Ganda Semarang. Di situlah seolah aku merasakan tamparan atas kurang syukurku selama ini yang selalu memandang ke atas. Rasa trenyuh, sedih, terharu, bercampur aduk menjadi satu. Di sana aku melihat banyak anak-anak yang dengan kondisi berkekurangan. Mereka tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri layaknya orang-orang normal pada umumnya. Mereka harus dibantu oleh para perawat. Sedangkan aku? Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Aku membayangkan, bagaimana jika aku menjadi mereka? Apa aku bisa seperti sekarang ini? Semua itu membuat aku sangat merasa bersyukur atas pemberian Tuhan selama ini. Aku masih beruntung dibandingkan dengan mereka. Karena Tuhan masih memberikan indra yang lengkap untukku. Dulu, di awal menerima beasiswa AAT, jujur aku pernah berpikir untuk keluar atau mengundurkan diri. Kenapa? Karena aku takut. Aku bingung, karena saat itu langsung ditunjuk sebagai salah satu Pendamping Komunitas (PK) di SDK dan SMPK Santo Yusuf Madiun. Kenapa harus aku yang duluan? Apa aku bisa? Berhari-hari aku memikirkan hal itu. Aku tidak punya teman yang kenal saat pertama kali penerimaan beasiswa. Bahkan, sama Andika yang satu kelas saja aku tidak begitu akrab. Apalagi sama yang lainnya. Tapi akhirnya semua aku jalani saja. Ternyata, tidak seberat yang aku pikirkan. Sungguh pilihan yang bodoh kalau aku dulu benar-benar keluar dari AAT hanya karena hal sepele. Kemungkinan besar, tidak akan pernah ada yang berubah dalam hidupku. Bahkan, bisa jadi aku tidak akan operasi sampai aku tua. Dan di AAT, apa yang aku dapatkan? Banyak sekali. Pengalaman yang begitu berharga yang tidak aku dapatkan di luar AAT. Berawal dari “penculikan” tak terduga di Kaliurang bulan April kemarin yang membuat aku berani operasi, sampai pada perubahan-perubahan hidup yang saya alami sampai sekarang. Sesaat, aku jadi jera gara-gara operasi tahap dua. Tapi aku berpikir lagi, “Aku sudah melewati dua tahap, sayang sekali kalau aku harus berhenti sampai di sini. Aku harus melanjutkan operasi sampai terapi.” Dan akhirnya, aku memutuskan untuk operasi tahap ketiga. Bahkan, kalau ada tahap-tahap selanjutnya akan aku lakukan sampai hasil terbaik. Dulu, aku tidak sampai berpikir sampai sejauh ini. Semua itu berkat AAT. Bagiku, AAT adalah keluarga besar. Keluarga yang memberikan cinta dan kasih sayang yang luar biasa. Meskipun kami berasal dari berbagai agama, daerah, suku dan ras, namun aku benar-benar menemukan cinta yang begitu besar di AAT. Sebuah organisasi yang berhasil membuat diriku berubah. Di AAT juga aku bisa mengenal banyak orang. Banyak teman dari Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Malang, Padang, dan Pontianak. Aku juga bersyukur, karena di AAT inilah aku bisa mengenal para pengurus dan sebagian donatur yang bergabung di AAT. Semuanya membuatku lebih bersemangat. Mereka adalah inspirasiku. Aku telah banyak belajar dari mereka. Begitu banyak pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan di AAT. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk donatur baik hati yang telah bersedia membayai kuliahku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan beliau yang telah membiayai kuliahku. Semoga suatu saat ini aku bisa bertemu dengan beliau.Dan terimakasih juga untuk Pak Hadi, Pak Christ, Kak Can Santi Widya, Pak Marcel, Mami Can Lies Endjang, Om Adhi, Pak Greg, Bruder, dan semuanya atas pelajaran yang sangat berharga. Semuanya membuat perubahan dalam hidupku, sehingga menjadikan Emy yang sekarang. Yang sedikit demi sedikit mulai bermetamorfosis. Semua itu berkat orang-orang hebat yang aku kenal di AAT. Semua hal yang ada di AAT begitu memberi arti dalam hidupku. Memberi warna dalam setiap langkahku. AAT-lah pembawa terang dalam hidupku.   Emy Prihatin* Relawan AAT Sekretariat Madiun *Emy merupakan mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2012. Emy adalah salah satu anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi yang ditunujuk sebagai bendahara AAT sekretariat Madiun.   [qrcode content=”https://aat.or.id/aat-membawa-terang-dalam-hidupku” size=”175″]  

AAT Membawa Terang dalam Hidupku Read More »

Gerakan Kecil Bermakna Besar

PERKENALKAN nama saya Anggun Septin Kartika Wulan, biasa dipanggil Anggun. Saya tinggal bersama kedua orang tua, satu adik laki-laki dan satu nenek yang sedang sakit stroke di Giwangan Yogyakarta. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan telah memasuki semester VI. Saya mengenal Anak-Anak Terang (AAT) dari seorang teman. Waktu itu dia memberi tahu mengenai beasiswa kuliah dari AAT yang telah bekerja sama dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mengetahui hal itu, saya kemudian mencari tahu apa itu beasiswa AAT dan persyaratan-persyaratan untuk mengajukan beasiswa. Pada saat itu sedang liburan semester IV dan akan memasuki semester V. Singkat cerita, pengajuan beasiswa saya diterima walau sebenarnya saya belum begitu paham mengenai AAT itu sendiri. Awalnya saya mengira AAT itu hanya sekedar memberikan beasiswa saja tanpa ada hubungan lain setelahnya. Tapi ternyata saya salah. Di AAT, semua orang yang telah bergabung juga ikut terlibat dalam mengembangkan AAT atau bisa disebut setiap orang adalah roda bagi AAT. Awalnya terasa berat menjadi pengurus baru. Ya, mungkin karena belum terbiasa dengan sistem dan lingkungannya. Tugas wajib yang harus saya lakukan adalah piket, mengurus rapor anak asuh AAT tingkat sekolah, mengunggah dan mengirim kuitansi serta tanda terima beasiswa dari sekolah-sekolah yang telah dibantu oleh AAT. Suatu ketika, saya ikut survei mengunjungi anak-anak calon penerima beasiswa. Sekolahnya terletak di atas pegunungan di Purworejo. Beberapa kali kendaraan kami tidak kuat naik jalanan yang menanjak. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya sampai di sekolah yang dituju. Sekolah itu cukup kecil, sebuah SMP yang hanya terdiri atas tiga ruang kelas. Saya mengobrol dengan anak-anak tersebut. Dari mereka, saya mengetahui ternyata saya tidak ada apa-apanya dengan mereka dalam semangat belajar. Kebanyakan dari anak-anak tersebut harus berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer untuk sampai di sekolah. Keadaan rumah mereka pun juga masih banyak yang beralaskan tanah dan dengan dinding kayu atau anyaman bambu. Bahkan, ada juga yang belum tersambung dengan jaringan listrik. Namun, tidak ada kesedihan dan rasa malas di wajah mereka untuk terus belajar. Saya menjadi malu karena kadang merasa berat melakukan tugas di AAT. Melalui mereka saya menjadi mengerti dan lebih bersemangat bergabung dengan AAT. Di AAT saya mendapatkan keluarga baru dan pengalaman baru. Tidak hanya cerita dari anak-anak tersebut, namun juga para pengurus yang rela mencurahkan pikiran, tenaga, materi dan hati mereka untuk anak-anak melalui AAT. Mereka semua mengajarkan pada saya untuk terus peduli pada sesama. Mereka juga mengajarkan untuk terus berbuat baik. Sekecil apapun tugas kita, harus dilakukan sebaik mungkin. Karena, setiap gerakan kecil kita di AAT sangat berarti besar untuk mereka, sang penerus bangsa. Terima kasih AAT.   Anggun Septin Kartika Wulan Relawan AAT Sekretariat Yogyakarta   Mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UAJY, Anak Asuh AAT Tingkat Perguruan Tinggi   [qrcode content=”https://aat.or.id/gerakan-kecil-bermakna-besar” size=”175″]  

Gerakan Kecil Bermakna Besar Read More »

Survei dan Wawancara SD Kanisius Ngawen

PAGI ITU, 15 November 2014 sekitar pukul 7.30, saya dan teman-teman menuju tempat survei, yaitu SD Kanisius Ngawen Wonosari. Sebenarnya pagi itu badan saya kurang bersahabat. Tetapi, saya tetap bersemangat dalam melaksanakan tugas untuk survei dan wawancara calon anak asuh AAT meskipun sesekali saya mengeluh, “Duh, jauhnya Wonosari”. Mengendarai motor selama 30 menit membuat saya merasa mengantuk karena badan yang tidak enak. Setelah pertigaan, kami pun belok ke arah kanan. Di sana terlihat tanjakan tinggi dan tajam. Mata yang tadinya mengantuk pun mendadak terang benderang karena kami sadar perjalanan akan sangat ekstrim dengan jalan yang berliku-liku. Sebelumnya, saya belum pernah melalui jalan seekstrim itu. Setelah melalui pegunungan kapur, kami pun bertanya kepada warga sekitar apakah betul jalan tersebut adalah jalan menuju sekolah yang akan kami survei. Ternyata benar. Ketika kami belok ke arah kanan, akhirnya kami sampai di sekolah. Padahal sebelumnya, saya merasa tidak yakin akan sampai ke sekolah. Hal itu karena waktu kami sampai di pertigaan sebelum sekolah, kami tidak melihat tanda-tanda kehidupan (maksudnya tidak melihat rumah-rumah). Setelah berjalan lagi, kami menemukan beberapa rumah di bukit kapur dan kami pun bertanya lagi dengan warga yang ada disekitaran situ dan jawabannya sama, “Benar, masih naik lagi, Mbak?” Kami hampir menyerah. Tapi akhirnya kami menemukan sekolah yang kami tuju juga. Luar biasa perjalanan yang kami tempuh.   Sesampainya di SD Kanisius Wonosari, kami disambut dengan pertunjukan drumband yang dimainkan oleh siswa-siswa SD Kanisius Wonosari. Kami merasa terharu dan bahagia atas penyambutan yang luar biasa itu. Rasa lelah pun seketika menghilang ketika melihat anak-anak memainkan drumband dengan lincah dan penuh bersemangat. Wawancara Waktu wawancara pun tiba. Saya mendapatkan jatah 2 siswa untuk diwawancarai. Yang pertama, saya mewawancarai Nabila. Nabila adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya sehari-hari bekerja mencari burung dan hasil penjualannya burung itu untuk membeli kebutuhan makan serta susu untuk kedua adiknya yang kembar. Namun, pada musim hujan seperti ini ayahnya sulit sekali menangkap burung. Saya melihat kembali rapor Nabila. Nilainya di atas rata-rata. Saya mulai bertanya kepada Nabila. “Nabila rangking berapa?” “Rangking 3, Mbak.” Jawabnya singkat. Saya membalas lagi, “Rangking 3 dari berapa siswa?” “Dari 3, Mbak.” Saya terkejut dengan jawabannya, Nabila rangking 3 dari 3 siswa? Bagaimana ceritanya? Lalu, berapa siswa total keseluruhan siswa di sekolah ini jika kelas tiganya hanya 3 anak? Sebelum semuanya terjawab, saya pun melanjutkan wawancara dengan siswa lainnya. Namanya Lilo, nama yang lucu. Dia terlihat polos ketika saya mewawancarainya. Lilo menceritakan pekerjaan ayahnya sebagai buruh tani. Setelah itu saya bertanya kepada Lilo, “Lilo berangkat sekolah jam berapa? Diantar bapak nggak?” “Berangkat jam 6 pagi dari rumah, Mbak. Lilo berangkat sendiri,” jawabnya. Setelah mendengar jawaban Lilo saya terdiam sesaat dan bertanya kembali, “Lilo naik sepeda?” “Jalan kaki, Mbak.” Luar biasa sekali perjuangan Lilo. Diumurnya yang masih kecil, ia harus melewati gunung berkapur, jalan menanjak, dan jalan menurun demi bisa sekolah. Saya bertanya kembali kepada Lilo, “Lilo rumahnya jauh ya? Berapa lama sampai sekolahan?” “Sampai di sekolah setengah tujuh lebih, Mbak.” Saya begitu salut dengan semangat yang tinggi dan luar biasa dari seorang anak laki-laki yang mempunyai cita-cita sebagai guru ini. Mungkin orang lain di luar sana tidak mendapatkan pengalaman yang saya dapat ini. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga untuk saya. Ternyata, masih ada orang di bawah saya yang lebih kesusahan. Semua ini membuat saya semakin bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini. Meskipun dalam kekurangan, saya lebih beruntung dibandingkan adik-adik di sana. Setelah selesai wawancara, saya dan teman-teman berkumpul di tempat yang sudah disediakan oleh sekolah tersebut. Saya melihat-lihat apa yang terletak di ruangan itu. Saya membaca total murid dari kelas I hingga kelas VI SD Kanisius Wonosari ternyata berjumlah 35 anak. Kelas III-nya hanya 3 anak saja. Saya tak henti-henti terpaku oleh keadaan yang ada. Sungguh jelas di depan mata dan sungguh jelas cerita kehidupan yang terjadi, bukan drama, bukan acting ataupun skenario. Ini benar-benar nyata. Perjalanan Pulang Survei dan wawancara pun selesai. Kami bergegas untuk kembali ke Yogyakarta. Tiba-tiba seorang guru menghampiri kami. “Mbak! Apabila turun ke bawah tolong bonceng tiga murid saya, ya. Rumahnya di bawah gunung berkapur.” Setiap harinya, tiga murid tersebut bergantung kepada salah satu guru yang memberikan tumpangan karena rumah mereka sangat jauh di lereng gunung. Pada saat membonceng dua siswa, saya bertanya pada salah satu dari mereka yang bernama Wanda. “Wanda kalau berangkat jam berapa?” “Tadi saya menunggu Bu Guru jam enam, tapi Bu Guru datangnya jam tujuh lebih.” kata-kata itu di ucapkan dalam bahasa jawa. Kemudian saya bertanya lagi, “Wanda kalau Bu Guru tidak menjemput bagaimana sekolahnya?” “Ya nggak sekolah, Mbak. Jalannya jauh.” Sungguh mulia sekali Guru itu. Demi siswanya, beliau rela menjemput mereka. Bagi saya ini adalah cerita yang tak bisa saya lupakan. Saya jadi lebih bersemangat lagi untuk menjalankan pendidikan yang saya tempuh dan kegiatan organisasi di Yayasan AAT Indonesia, serta lainnya. Mungkin bagi orang lain ini hanya sekedar cerita semata, namun bagi saya ini adalah pelajaran yang berharga dan tak pernah ternilai harganya.   Elisabeth Putri Krismawati Relawan AAT Sekretariat Yogyakarta.   [qrcode content=”https://aat.or.id/survei-dan-wawancara-sd-kanisius-ngawen” size=”175″]      

Survei dan Wawancara SD Kanisius Ngawen Read More »

Sketsa Indahku

NAMAKU VENA, lahir 1 Agustus 1995 sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Bak sebuah sinetron, hidup di keluarga “broken home” membuatku menjadi anak pendiam dan penyendiri, serta mudah emosi. Ayahku entah di mana, pergi dengan banyak wanita lain. Ibu yang terpaksa berhenti bekerja demi membesarkan kedua anaknya, memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Sekarang, di rumah eyanglah aku tinggal. Biaya makan dan sekolah pun eyang yang menanggungnya dengan modal uang pensiunan almarhum kakekku. Ibuku selalu dipandang sebelah mata, makin diperparah oleh kelakuan ayahku yang tak berperasaan itu. Hidup dalam hinaan keluarga sendiri sangat membuatku dan adik tertekan. Tak jarang kami berdua menangis bersama. Meskipun adikku seorang laki-laki, tapi aku tahu dia begitu rapuh dan sangat membutuhkan figur seorang ayah. Karena ayah dan ibu menikah sebagai seorang Katolik, ibu selalu mencoba memaafkan dan bertahan demi aku dan adikku. Meskipun sakit rasanya melihat diam-diam ibuku menangis. Aku banyak belajar darinya yang begitu kuat menjalani hidup. Aku menjadi lebih kuat menghadapi semuanya, sesakit apapun itu. Karena aku tahu, tak ada yang lebih sakit seperti yang ibu rasakan. Ketika lulus SMA, aku tak bisa melanjutkan kuliah karena masih memiliki tunggakan uang sekolah yang membuat aku tak bisa mengambil ijazah maupun rapor. Namun, dengan alasan untuk mencari kerja, akupun diperbolehkan mendapat fotokopi legalisir rapor. Tanpa persiapan yang matang, aku pergi ke Bandung menerima tawaran saudara. Dua minggu sudah aku di sana. Tetapi, dua hari sebelum bekerja, tiba-tiba aku memutuskan untuk pulang ke Purwokerto. Itu semua karena aku merasa tidak nyaman di tempat saudara. Aku pun kembali ke Purwokerto dan mendaftar di STIKOM Yos Sudarso, tempat di mana aku pertama mengenal AAT. Semesta Mengirimnya Untukku Semester pertama, disitulah aku bergabung dengan AAT. Awalnya kupikir AAT adalah tempat untuk mengajar anak-anak seperti di dalam kelas. Ternyata tidak, di sini kami menjadi relawan atau staf administrasi untuk membantu para donatur menyalurkan donasinya kepada anak-anak melalui sekolah yang sudah bekerjasama dengan AAT. Awalnya memang berat, bahkan sempat berpikir untuk keluar karena teman-teman AAT disini tidak ramah. Hingga suatu hari, saya bertemu Mas Bani, Mbak Alma, dan Mas Dhika di sebuah acara. Mereka begitu ramah dan murah senyum kepadaku, meskipun baru pertama kali bertemu. Mereka ternyata juga relawan AAT. Saat itu, aku merasa seperti mendapat sengatan. Seketika itu juga aku ingin mengenal AAT lebih dalam dan ingin bertemu dengan relawan AAT dari kota lain. Sejak pertemuan itu, aku mencoba untuk lebih mengenal teman-teman AAT di kotaku. “Kalau mereka tidak ingin memulai, mengapa aku harus menunggu? Kalau aku bisa, mengapa tak kulakukan? Hanya menjadi sok kenal, kan? Pasti bisa!” pikirku. Semakin hari aku mulai memahami mereka. Selangkah demi selangkah kami menjadi akrab. Ditambah lagi jika sedang melakukan survei calon anak asuh, banyak pengalaman dan pelajaran yg kudapat. Selain menjadi lebih dekat dengan yang lain, aku jadi tahu banyak kisah calon anak asuh dengan perjuangan luar biasa mereka demi menjalani hidup. Mereka menyadarkanku bahwa di dunia ini bukan diri kita saja yang memiliki masalah. Salah bila kita menganggap diri kita paling menderita, menghakimi orang lain tak akan mengerti perasaan kita, atau bahkan sampai menyalahkan Tuhan. Apapun keadaannya, kita harus bersyukur dan tersenyum. Karena hal itulah yang akan menguatkan kita. Kemudian, pada Rekoleksi 2014 di Yogyakarta, aku bertemu banyak relawan dari berbagai kota. Mulai dari relawan AAT Yogyakarta sendiri, Semarang, Madiun, Pontianak, dan Padang. Hari pertama, ketika ada sharing yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku melihat seseorang yang “mengalihkan duniaku”. Rasanya aku “jatuh cinta”! Maksudnya, dia terlihat begitu dewasa. Saat itu, ia menjadi koordinator kota Semarang. Ketika dia sharing dan memberikan solusinya untuk kami, aku melihatnya begitu tenang, dengan pembawaannya yang santai dan ramah. Semua itu membuat seakan-akan ia tak memikiki beban dipundaknya. Saat itulah aku kagum padanya. Dalam hatiku berkata, “Siapa dia? Superhero-kah?” Dengan senyum dan tawanya yang begitu lepas, ia tak terlihat terbebani. Padahal aku tahu pasti sangatlah pusing memikirkan ribuan anak asuh yang ada di Semarang, belum lagi jika ada masalah lain. Aku pun tersadar! Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak mau kalah darinya! Dengan tanggung jawab besar yang dibawanya saja, ia dapat tertawa dan tersenyum. Mengapa aku tidak? Ya. Dialah inspiasiku… Mas Edo. Setelah itu, aku mulai lebih mengenal AAT, aku membaca banyak kisah relawan. Kisah mereka yang selalu mengingatkanku untuk terus tersenyum. Dalam lamunan, aku berkata pada diri sendiri, “Hahaha.. Mengapa aku harus larut dalam masalah? Ayahku yang tak tahu ada di mana, bagaimana keadaannya, dan dengan atau tanpa wanita lain. Setidaknya aku tahu, aku masih memiliki seorang ayah. Tidak bisa kubayangkan bagaimana parasaanku bila tidak memiliki ayah. Aku hanya ingin dia tahu, aku memaafkannya, dan aku akan selalu menyayanginya. Terima kasih. Karena ayah, aku ada di sini. Aku bisa bertemu orang-orang hebat. Aku bisa memiliki mas-mas “strong” -ku, Mas Edo, Mas Sindhu, Mas Billy, Mas Tyok, dan semuanya yang sangat berharga dihidupku. “If there are no ups dan downs in your life, it means you are dead.” Menemukan atau Ditemukan? Jiwaku Semarang, 25 Januari 2015, hari ke-2 Rapat Nasional AAT. Ini adalah kali pertama aku mengikuti Rapat Nasional AAT sebagai perwakilan Divisi “Public Relations”. At least, banyak yg dibicarakan dalam rapat, mulai dari evaluasi sampai program kerja selanjutnya.   Pada sesi terakhir di hari kedua ini, para pengurus sharing pengalaman mereka. Suasana mengharu biru. Bu Meita dengan perjuangannya yang luar biasa, Abang Incon dan Om Marcel dengan kisahnya yang menginspirasi. Kata mereka, “Jika kamu harus membaca 3 atau bahkan 30 kali untuk bisa memahaminya, lakukan! You must try hard! Semua tak akan sia-sia.” Mas Christ, Sekretaris AAT, ia adalah nspirasiku, kekuatanku. Ia dan KakCan Santi Widya istrinya adalah penyemangatku. Senyum mereka membuatku tenang dan menguatkanku menjalani hidup. Mereka selalu kuidolakan. Hari ini mendengar sharing Mas Christ dengan matanya yang berkaca-kaca, aku tak bisa berhenti meneteskan airmata. Begitupun uncle-ku tersayang, Om Adhi “SikuAAT” yang selalu setia menjaga, melindungi, dan menyayangi keponakan-keponakannya. Airmataku pun mengalir deras ketika ia katakan bahwa kamilah para relawan yg menginspirasi mereka. Dalam diam dan terus memperhatikan, aku berkata, “Siapakah aku? Menjadi inspirasi orang-orang hebat ini? Merekalah inspirasiku, kekuatanku. Mereka adalah bintang-bintang yang datang menghiasi langit gelapku. Mereka adalah terang yang selalu

Sketsa Indahku Read More »

Wisuda Sarjana Anak Asuh AAT

Selamat dan sukses kepada Anak Asuh AAT yang telah diwisuda pada Wisuda Sarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta Periode IV Tahun Akademik 2013/2014, 30 Agustus 2014. Sdr. Fransiska Mulyani, Lulusan Terbaik, dengan Predikat Cum Laude, Program Studi Teknik Industri, Angkatan 2010, IPK : 3.97. Sdr. Maria Claudia Alma, Lulus dengan Predikat Sangat Memuaskan, Program Studi Akuntansi, Angkatan 2010, IPK : 3.44. Predikat Cum Laude diberikan jika IPK antara 3.51 – 4.00 dengan masa studi maksimal 5 tahun, dan tidak ada mata kuliah dengan nilai kurang dari B. Fransiska Mulyani dan Maria Claudia Alma adalah 2 anak dari 50 anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi. AAT memiliki anak asuh mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi Indonesia. Mari Berpartisipasi Bagi para sahabat AAT yang belum memiliki anak asuh, kami mengajak untuk menjadi orangtua asuh bagi para mahasiswa yang menjadi staff administrasi AAT. Mereka merupakan pelaksana operasional dan lapangan dalam pengelolaan beasiswa AAT untuk 2.833 anak asuh di seluruh Indonesia. Untuk Beasiswa Perguruan Tinggi, AAT menggunakan sistem gotong-royong, dimana satu anak asuh dibantu beramai-ramai. Mengingat besarnya biaya pendidikan perguruan tinggi, tentu saja jika biaya tersebut harus ditanggung oleh satu orang akan berat sekali. Komitmen donasi cukup minimal Rp100.000 per bulan, jika mampu bisa lebih. Bagaimana caranya? Cukup sederhana : Login ke SIANAS ( http://sianas.aat.or.id ) dengan username dan password milik bapak/ibu >> pilih menu Donasi >> Pendaftaran Donasi >> isikan besarnya donasi yang dikehendaki >> scroll ke bawah >> Pilih Proses >> Setuju >> Selesai. Selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi dari Staff Admin. Bila sudah terdaftar sebagai orangtua asuh mahasiswa, bapak/ibu bisa mengakses data-data serta perkembangan studi anak asuh mahasiswa yang dibantu. Jadi tunggu apa lagi? Segera login ke SIANAS, pilih donasi yang sesuai dengan keinginan bapak/ibu. Setiap uluran kasih yang kita berikan, membuat anak-anak kurang mampu dapat terus mengenyam pendidikan. Terima kasih.   [qrcode content=”https://aat.or.id/wisuda-sarjana-anak-asuh-aat” size=”175″]  

Wisuda Sarjana Anak Asuh AAT Read More »

Selamat Idul Fitri dan HUT AAT ke-12

Yth. Bapak/Ibu Sahabat AAT terkasih, Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) disebutkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2013 mencapai 28,07 juta (11,37%). Ini adalah fakta statistik untuk menjadi acuan sekaligus memberi gambaran betapa kemiskinan masih betah bercokol di negeri ini. Kemiskinan merupakan faktor yang masih menjadi problem untuk dibenahi. Dalam kerangka pendidikan, kemiskinan selalu menjadi penghalang bahkan momok untuk mewujudkan misi pemerataan pendidikan. Sampai sekarang, diskriminasi pendidikan antara si kaya dan si miskin seakan masih selalu ada. Selain angka kemiskinan yang masih tinggi bercokol, fakta semakin mahalnya biaya pendidikan tidak bisa dielakkan. Menurut Laporan UNICEF Tahun 2012, 2,5 juta anak usia 7-15 tahun tidak bersekolah. Anak-anak dari keluarga miskin berkemungkinan 4 kali lebih besar untuk putus sekolah dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga kaya. Padahal, pendidikan adalah senjata canggih pemutus rantai kemiskinan. Dua belas tahun yang lalu, Anak-anak Terang bermula dari sebuah gerakan kecil diinisiasi oleh sekelompok ibu yang peduli terhadap kelangsungan pendidikan formal untuk anak-anak di Kampung Jembatan, Cipinang, Jakarta. AAT berkembang, mulai dari sebuah komunitas dunia maya dengan komunikasi lewat mailing list hingga menjadi sebuah yayasan berbadan hukum. AAT bertolak dari 25 anak asuh, hingga menjadi ribuan anak asuh setiap tahunnya di seluruh Indonesia. Donatur-donatur AAT yang pada awalnya merupakan teman-teman dekat atau keluarga, sekarang menjadi ribuan partisipan dari berbagai daerah bahkan menembus batas negara. Tercatat beberapa donatur berdomisili di Singapura, Perancis, Hongkong, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Jerman, Belgia, Belanda, Qatar hingga Australia. Sebuah perkembangan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Di dalam AAT, kami melayani tanpa membedakan agama, suku, dan golongan. Baik dari sisi donatur maupun anak asuh, kesemuanya berasal dari berbagai agama, suku, serta golongan tanpa adanya perbedaan perlakuan. Para relawan, pendamping, pembimbing, serta penanggung jawab AAT yang secara keseluruhan berjumlah ratusan, mereka bekerja dengan tulus hati untuk melayani proses pemberian beasiswa untuk anak-anak asuh. Semua ini dikerjakan secara sukarela, tanpa menerima gaji/honorarium sama sekali. Luar biasa bukan ? Sebuah kerelaan yang semakin langka di bumi Indonesia, di saat orang-orang berlomba-lomba mengejar keuntungan bagi diri sendiri. Setiap pribadi yang berkarya di AAT adalah pemain kunci, tidak ada pemain cadangan! Entah sekecil apapun talenta yang diberikan, semuanya memegang peran penting dan mewarnai karya AAT. Bapak/Ibu terkasih, karya pelayanan AAT belumlah selesai. Masih banyak yang harus kita kerjakan bersama-sama. Saat ini masih terdapat ratusan anak asuh yang belum mendapatkan donatur. Mari kita mengajak segenap sahabat, keluarga dan handai taulan untuk ikut ambil bagian. Bersamaan dengan usainya Ramadhan tahun ini, menyongsong hari kemenangan, dan juga ulang tahun AAT yang ke-12 (1 Agustus 2002 – 1 Agustus 2014), atas nama segenap Anak Asuh, Pengurus, Relawan, Pembimbing dan Pendamping AAT, kami mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal ‘Aidin wal-Faizin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi seluruh sahabat yang merayakan, sekaligus Selamat Ulang Tahun Anak-anak Terang ke-12.   Salam,   Hadi Santono Ketua Yayasan AAT Indonesia   [qrcode content=”https://aat.or.id/selamat-idul-fitri-dan-hut-aat-ke-12″ size=”175″]  

Selamat Idul Fitri dan HUT AAT ke-12 Read More »

A Never-Ending-Asia Town I’ve been in Love with

There are so many things, I can’t forget in my life. Especially my experience in Yogyakarta. Special thanks to Mr. Hadi as chief of AAT, Mr. Jimmy as secretary of PSKP Padang, and also to Ms. May as our counselor. It can’t be happened without their support. We went to Jogja with Ms. May and four of my friends. The first one is Jimmy. He is our coordinator chief in AAT Padang. He doesn’t talk to much – calm, quiet, and cool. But, he has so many great ideas in his mind. The second one is Agus. He is a friendly person. He also has good leadership. The third is Winda. She has a good self confidence. However, she is careless. The last is Betria. She is almost like Jimmy. She only speaks important. That’s all about my friends. Now, I’m going to talk about my experience. On the first day, we came a little bit late than others participant. We were so surprised because all friends in AAT greeted us with a great applause. It was my first time to be greeted like that. We took pictures and played a really fun game together. After that, Mr. Hadi explained about management of bursary in AAT that really helps us to manage the bursary. Afterwards, Romo Handoko, MSC talked about how good attitude change our life. That was really important thing that I have learnt. Romo Handoko, MSC explained all the things very clear. I liked the way he explained. He is the best priest that I have ever known. The last session for the first day performance from each secretariat. All secretariat prepared their performance really well. Even though we didn’t win the performance competition, we were still proud of our performance. All secretariats did a good job at that time. On the second day, we played outbound together. That was really fun. There were so many funny things that I could not describe one by one. After the program had done, we went to Br. Agus, MTB’s place. We got so many things that we have to learn there. One of the things is discipline. We wouldn’t forget it. The day after, we went to Prambanan temple. That was our first time to see such a big awesome building. We took so many pictures there. There were so many children wanted to take a picture with Jimmy. They thought that Jimmy is Japanese. Winda who was also there at that time said that Jimmy is Indonesian. That was really funny for me. At night, we went to alun-alun. We rode a bicycle there, but the bicycle was made from a car. When we rode, the rain fell down over us. We had not finished it yet. However, because of the rain, we stopped and sheltered in a comfortable place. We had waited for the rain to stop for a long time. However, the rain was still falling down. Therefore , we decided to go home. Although we were drenched and cold, that was really fun. On the next day, we went to Taman Sari, a garden of the Sultan Palace. On the last day, we were picked up by a taxi. We were really reluctant to leave Jogja and all friends in Jogja. They treated us really well. We never forget about that. Good bye Yogyakarta. Hope we will be back again to see you guys.   Daniel Yulindra Staf Admin AAT Padang   *Daniel adalah salah satu relawan  AAT yang bertugas sebagai Staf Admin AAT Padang. Merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga Padang.   [qrcode content=”https://aat.or.id/a-never-ending-asia-town-ive-been-in-love-with” size=”175″]  

A Never-Ending-Asia Town I’ve been in Love with Read More »

Be an Extraordinary Person

Dag.. dig.. duggg.. Itu yang akan selalu di rasakan menjelang ujian. Ujian.. Ujian lagi.. Eitss.. Bukan karena ujiannya, ataupun soal-soal ujiannya, tapi masalahnya bisa nggak saya ikut ujian? Itu ada sepenggal perasaan saya 2 tahun lalu sebelum mengenal AAT. * * * Perkenalkan nama Saya Elina Suryani Lolodatu. Saya Kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jurusan Teknobiologi (Biologi Pangan). Saya sudah menginjak semester 8. Saya anak ketiga dari lima bersaudara. Saya memiliki dua kakak yang sekarang sudah bekerja, dan salah satunya adalah anak asuh AAT yang baru lulus tahun yang lalu. Kakak yang saya maksud adalah Megawati Kurnia Lolodatu. Saya mempunyai dua adik lagi yang duduk di bangku SMA dan kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar. Keluarga kami merupakan keluarga sederhana yang tentu juga mempunyai banyak kekurangan dan masalah. Yang pasti anak-anaknya akan ikut juga merasakan betapa beratnya sebuah perjuangan untuk sekolah. Kedua orang tua saya adalah seorang pekerja keras supaya anak-anaknya dapat mencicipi bangku sekolah. Apa saja akan mereka lakukan, seperti menjual atau menggadaikan barang-barang di rumah, termasuk sertifikat rumahnya. Hal itu dilakukan karena bapak yang dulunya bekerja sebagai pemborong bangunan yang cukup berhasil dengan gaji yang lumayan terpaksa berhenti bekerja. Bapak berhenti bekerja sejak gempa yang cukup besar yang terjadi di Irian Jaya, sehingga semua proyeknya dibatalkan dan bapak mendapatkan kerugian yang cukup besar. Maka dari itu mama berinisiatif untuk mencari kredit dari pegadaian agar kami dapat terus bertahan hidup. Mama adalah seorang PNS di Departemen Pendidikan, gajinya selalu dicukupkan untuk kita semua. “Gali lubang tutup lubang” itulah kata yang pas untuk keluarga kami. Bagaimana Saya Bisa Kuliah ? Kalimat itu masih membuat saya bertanya-tanya sendiri, apakah saya akan tetap bisa lanjut sampai S1. Puji Tuhan saya mendapatkan informasi bahwa saya bebas tes masuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan dapat potongan pembayaran karena masuk lewat jalur prestasi. Hal ini membuat saya bersyukur, akhirnya saya bisa masuk ke tempat yang benar-benar saya minati. Melihat hal itu mama saya langsung mencarikan uang tiket pesawat dan biaya untuk pembayaran awal masuk Universitas. Untuk kedepannya, kata mama akan segera diusahakan, tapi masih ada perasaan takut bahwa saya akan berhenti di jalan, jika mama tidak bisa melunasi biaya kuliah saya. Ternyata benar, seiring dengan berjalannya waktu keluarga kami semakin terjerat dengan biaya kuliah 3 kakak saya, 2 adik saya yang masih SMA dan sebentar lagi akan lulus. Melihat mama saya yang semakin stress, karena papa yang juga tidak mau memikirkan keadaan keluarganya serta masa bodoh, maka kedua kakakku mencari kerja part time yaitu sebagai pengajar privat dan salah satunya lagi sebagai student staff di Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hasil dari gajinya itu lumayan untuk menutupi tunggakan kost, dan makan. Namun, lagi-lagi biaya itu tidak cukup karena semakin banyak tunggakan. Oleh karena itu, saya bergerak mencari kerja part time, akhirnya saya kerja sebagai salah satu pramuniaga di toko sepatu, dengan gaji hanya Rp 400.000/bulan. Tapi, semakin lama pekerjaan ini semakin menyita waktu saya dan menurunkan nilaiku secara drastis. Selama 6 bulan itulah saya menjadi pramuniaga.   Akhirnya, Tuhan membukakan jalan. Tuhan mempertemukan saya dengan AAT lewat kakak saya yang sudah dulu bergabung. Kami berdua bisa masuk berkat Pak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan UAJY. Beliaulah yang sudah membawa nama kami ke atas meja Pak Hadi untuk dibantu. Namun, pada saat itu Pak Hadi baru memanggil Megawati karena nilainya cukup bagus. Sempat terbersit dalam pikiran saya, tidak mungkin saya bisa mendapatkan beasiswa AAT. “Ah, mana mungkin saya mendapatkannya? Nilai saya tidak cukup untuk itu”. Namun, semua perasaan pesimis itu menghilang ketika Pak Hadi memanggil saya dengan kekurangan nilai saya. Berkat motivasi dan semangat dari beliau, akhirnya saya diberi kesempatan untuk menaikkan nilai saya. Saya pun tidak lagi bekerja part time dan fokus untuk nilai dan kuliah. Pada akhirnya, saya mendapatkan beasiswa dan masih bisa bertahan berkat keluarga besar AAT yang terus mendukung. Walaupun saya jatuh mereka tetap ada untuk memegang tangan saya. Serta, mereka selalu ada ketika saya butuh motivasi dan semangat. Semua selalu memberikan waktu dan menjadi orang tua kami. Semua yang telah mereka berikan, kepercayaan, dan kasih sayang bukan hanya sebuah “cinta biasa”. Sampai sekarang, saya belum bisa membalas semuanya jasa-jasa para donatur dan para Pembimbing AAT. Semoga kepercayaan kalian, baik materi ataupun non-materi dapat terus saya pertanggungjawabkan dengan baik. Kelak di masa depan saya juga akan menjadi seperti kalian. Terima kasih telah menjadikan gadis seorang penjual sepatu ini bukan hanya menjadi mahasiswa biasa yang biasa-biasa saja, melainkan mahasiswa yang luar biasa atas didikan moral dan pesan-pesan kehidupan kalian. Galatia 6 : 7 dikatakan ” apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai”   Elina Suryani Lolodatu Staf Admin AAT Yogyakarta   *Elina adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staf Admin AAT Yogyakarta. Merupakan mahasiswa Program Studi Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, angkatan 2010.   [qrcode content=”https://aat.or.id/be-an-extraordinary-person” size=”175″]  

Be an Extraordinary Person Read More »

Beasiswa Yayasan AAT Indonesia untuk UAJY

Bertempat di Ruang diskusi Gedung Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Hadi Santono, ST., MT., Ketua Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia bersama DR. R Maryatmo, selaku Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menandatangani perjanjian kerjasama tentang pemberian beasiswa bagi mahasiswa UAJY pada Selasa (20 Mei 2014). AAT akan memberikan beasiswa penuh berupa SPP tetap dan SPP variabel selama 4 tahun masa studi, bagi mahasiswa UAJY program Sarjana Strata 1 (S1) yang berprestasi, dengan kriteria IP semester minimal 3.00. Penandatangan perjanjian kerjasama ini merupakan wujud nyata visi dan misi AAT untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak yang tidak mampu namun memiliki kemampuan akademis yang baik untuk mengenyam pendidikan tinggi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk menyongsong masa depan yang lebih “terang” dan lebih baik. “Beasiswa AAT ini diberikan dalam dua bentuk yang pertama untuk mahasiswa lama. Mahasiswa yang terlanjur masuk ke perguruan tinggi namun di tengah jalan mengalami kesulitan ekonomi dalam menempuh studi. Kedua, untuk anak SMA yang berniat masuk UAJY tetapi tidak mampu namun berpotensi.” Jelas Hadi Santono, ST., MT.,. Melalui beasiswa ini, mahasiswa UAJY akan mendapatkan banyak manfaat. Tidak hanya menerima bantuan secara finansial, mahasiswa penerima beasiswa juga akan memperoleh banyak pengalaman yaitu dengan bekerja menjadi staff administrasi Sekretariat Beasiswa AAT Yogyakarta dan mengikuti program-program pendampingan dan pengembangan yang akan diberikan oleh AAT selama jangka waktu beasiswa. Saat ini sekitar 137 mahasiswa mendapatkan beasiswa, 12 diantaranya mahasiswa UAJY. Rektor Universitas Atma Jaya Yoyakarta mengapresiasi program AAT ini. “Saya sebagai rektor merasa program beasiswa ini merupakan program yang strategis karena lingkungan sangat membutuhkan aksi yang berdampak besar seperti ini.” Ungkap Dr. R. Maryatmo, MA. disalin dan sumber http://www.uajy.ac.id/berita/beasiswa-yayasan-aat-indonesia-untuk-uajy/   [qrcode content=”https://aat.or.id/beasiswa-yayasan-aat-indonesia-untuk-uajy” size=”175″]  

Beasiswa Yayasan AAT Indonesia untuk UAJY Read More »

duta76 perihoki rtp live duta76 menjadi basis pemain dalam bermain mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza arah perkembangan mahjong wins 3 pragmatic blackjack kerap ditentukan konsistensi pemain duta76 starlight princess tantangan sebenarnya mahjong wild deluxe muncul saat tempo sicbo perihoki tidak berjalan stabil lucky neko alur cerita perihoki mahjong ways 2 pgsoft roulette perihokisering berkembang di luar perkiraan pemain wild west gold kejernihan analisis membantu memahami karakter dinamika mahjong wins 3 pragmatic blackjack harian sabung ayam sv388 perihoki pergeseran haluan mahjong wild 2 terjadi tanpa sinyal yang terlihat jelas duta76 sicbo gates of olympus mahjong ways 2 pgsoft bacarat menghadirkan alur rtp live hasil berbasis starlight princess duta76 strategi analisis pola jitu simbol mahjong wins 3 pragmatic blackjack dan scatter digital sweet bonanza duta76 hasil mahjong ways 2 pgsoft roulette terlihat konsisten dalam skema rtp live perihoki wild bounty showdown pola rtp live jitu mengantar pemain perihoki memahami arah main mahjong wins 3 pragmatic blackjack aztec gems keputusan spontan di mahjong wild deluxe dapat mempengaruhi arah sesi dadu sico perihoki gates of olympus pola rtp live perihoki menjadi rangka dasar dalam mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza taktik pola visual mahjong wins 3 pragmatic blackjack perihoki terkadang memberi petunjuk starlight princess keseimbangan emosi pemain duta76 mahjong ways 2 pgsoft berpengaruh pada keputusan roulette sabung ayam sv388 framework pola rtp jitu sekuensial mahjong wins 3 pragmatic blackjack transisi algoritma duta76 wild bounty hunter aws ekonomi digital probabilitas scatter aws evolusi mahjong digital 2026 aws formulasi transisi grid rtp aws ide turbo spin fokus aws konsistensi mahjong hujan scatter aws matematika peluang update rtp aws panduan visual simbol mahjong aws plot twist scatter hitam aws review putaran malam mahjong aws strategi modal umkm mahjong audit sistemik performa mahjong ways dinamika arus mekanik virtual metodologi bermain santai rasio pengembalian efektif target 65 juta kriptoanalisis struktur grid mahjong wins 3 dekoding dinamika sistem manajemen arus kas internal arena digital capaian 65 juta arsitektur strategi anatomis mahjong wins 3 probabilitas scatter hitam proyeksi stabilitas algoritma mahjong ways 2 hiburan digital 2026 signifikansi formasi simbol awal sesi pemandu strategi pemain ahli efektivitas disiplin teknis algoritma sistem akumulasi 34 juta navigasi alur terarah rasio pengembalian sistem target 90 juta analisis tren strategi santai viral target 22 juta efisien pola rtp live menjadi titik awal permainan mahjong wild deluxe dadu sicbo perihoki gates of olympus rtp live jitu menjadi basis pemain dalam mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza perihoki hasil akhir mahjong wins 3 pragmatic berjalan dalam skema rtp live backjack perihoki starlight princes strategi peluang teknik mahjong wild 2 sicbo gates of olympus rtp live pola taktik duta76 optimalkan peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess strategi pola taktik duta76 taktik teknik peluang mahjong wins 3 blackjack sweet bonanza analisa rtp live duta76 meraih kemenangan mahjong ways 2 pgsoft roulette wild bounty showdown pola strategi rtp live perihoki teknik optimalkan peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack aztec gems teknik pola taktik perihoki cara menguasai mahjong wild deluxe sicbo dan gates of olympus strategi pola taktik rtp live perihoki teknik mengungkap pola dan strategi mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza rtp live perihoki taktik menaklukkan mahjong wins 3 blackjack starlight princess strategi rtp live pola perihoki analisa cerdas rtp live mahjong ways 2 roulette wild west gold strategi pola taktik duta76 strategi terbaik mahjong wins 3 blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live duta76 e4 analisis pola konsisten mahjong wins menuju hasil maksimal e4 analisis pola mahjong wins dampak kecepatan spin terhadap peluang bonus e4 analisis pola sistem untuk hasil lebih optimal e4 analisis profesional mahjong wins untuk target puluhan juta e4 analisis statistik mahjong wins untuk hasil lebih optimal e4 cara cermat optimalkan rtp terbaru e4 cara kerja algoritma rtp mahjong wins 3 dan strateginya e4 cara membaca data rtp mahjong wins secara profesional e4 cara membaca rtp mahjong wins untuk target 30 juta e4 cara mengatur saldo di mahjong wins 3 tanpa tekanan e4 disiplin finansial mahjong wins 3 untuk hasil konsisten e4 disiplin ketat jadi kunci maksimalkan rtp e4 disiplin ketat mahjong wins 2 untuk peluang scatter maksimal e4 fakta mengejutkan rtp mahjong wins tempo main lebih penting dari kecepatan mahjong wins sikap pasif scatter utama saat waktu terasa scatter mahjong putaran demi scatter hitam segalanya mahjong ways ritme scatter wild menyatu mahjong ways lebih lega scatter wild scatter wild mahjong ways setiap putaran mahjong wins arah scatter hitam putaran ketegangan terbangun menjadi scatter hitam bukan sekadar simbol scatter mahjong ways bukan keajaiban mahjong wins scatter hitam aws evaluasi teknis mahjong wins3 aws momentum mahjong ways2 spin aws algoritma dinamis mahjong ways2 aws spin progresif mahjong ways3 aws strategi wild blackscatter ways2 aws fase mahjong wins3 simbol aws efektif scatter hitam wins3 aws target bertahap rtp mahjong aws data rtp adaptasi algoritma aws inovasi pgsoft scatter adaptif studi periodik rasio simbol bernilai tinggi mahjong ways 2 durasi sesi implementasi pola aman simbol wild target finansial 40 juta dialektika intuisi logika struktur mahjong wins 3 inovasi hiburan analisis dekonstruksi pola strategis mahjong ways akumulasi hasil implementasi formasi simbol terpadu mahjong ways efisiensi sesi studi komparatif dinamika pola mahjong ways indikator balikan rekonstruksi strategi pemain ahli algoritma mahjong ways metodologi sinkronisasi simbol grid mahjong ways akumulasi nilai interpretasi teknis formasi pola mahjong ways keputusan strategis kajian profesional pola transisi scatter mahjong ways konsistensi analisis algoritma capaian finansial pola terstruktur mahjong ways sinergi kalkulasi probabilitas pola visual mahjong ways strategi dekoding arsitektur mekanik mahjong ways korelasi pola stabilitas dinamika awal scatter wild mahjong ways 2 strategi total strategi pemain menata ritme konsistensi putaran digital e4 fokus dan konsistensi mahjong wins 2 menuju scatter hitam e4 kesalahan fatal pemain mahjong wins terlalu agresif tanpa ritme e4 mengatur timing spin mahjong wins agar bonus lebih mudah terbuka e4 metode aman berbasis data dan rtp update e4 pendekatan konsisten dan analitis mahjong wins e4 pendekatan terukur mahjong wins dengan pola stabil e4 pola main disiplin dengan analisis angka e4 rahasia konsisten 23 juta berkat evaluasi data e4 strategi aman berbasis rtp terbaru menuju 33 juta mahjong wins keluar zona scatter hitam ketidakacakan mahjong ways scatter saat scatter hitam lebih keras mahjong wins permainan biasa menjadi arena mahjong mahjong ways dinamika scatter wild putaran putaran simbol mahjong ways scatter mulai mahjong wins serius ketika scatter mengatur mahjong wins memasuki fase scatter wild biasa ketika scatter mahjong wins bisa dibaca batas scatter hitam berkuasa di mahjong teknik cerdas untuk meraih kemenangan mahjong wild 2 sicbo gates of olympus pola analisa rtp live perihoki strategi unggul mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza rtp live taktik pola analisa peluang jitu perihoki taktik juara perihoki mahjong wins 3 blackjack starlight princess analisa teknik peluang rtp live paten rahasia tingkatkan kemenangan mahjong ways 2 roulette wild bounty showdown pola strategi rtp live perihoki cara tingkatkan peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live teknik perihoki rahasia pola pemenang mahjong wild deluxe sicbo gates of olympus rtp live teknik peluang analisa duta76 cara tingkatkan peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza teknik rtp live pola duta76 teknik pemenang mahjong wins 3 blackjack starlight princess analisa pola taktik rtp live dibagikan duta76 trik paling unik duta76 mahjong ways 2 roulette wild bounty showdown taktik pola analisa rtp live peluang strategi paling jitu pemenang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live taktik duta76 teknik menguasai pola mahjong wild deluxe dadu sicbo gates of olympus teknik strategi rtp live perihoki trik jitu mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza peluang kemenangan teknik pola rtp live perihoki cara menang cerdas mahjong wins 3 blackjack starlight princess strategi rtp live peluang teknik perihoki bongkar rahasia kemenangan mahjong ways 2 roulette wild west gold pola analisa teknik rtp live duta76 taktik pola jitu mahjong wins 3 pragmatic blackjack lucky neko strategi peluang rtp live diberikan duta76 oke bukan instan scatter wild mahjong ways oke mahjong wins waktu mandek scatter hitam oke ada nuansa mahjong ways scatter wild oke waktu seolah berhenti scatter hitam oke waktu terus berlalu scatter hitam mahjong