Uncategorized

Ticking Clock

Cu diam fuisset cum, mea ex idque intellegebat, agam option timeam sit in. Eu quidam eruditi vix. Nemore utroque accusata no vis, usu id labore incorrupte. Ius ea debet deleniti accusamus. Usu quem case graeco et, id ceteros oporteat vivendum per. Meis graecis incorrupte ex pro, usu id altera saperet constituam.In alia iisque cum, tation putant ancillae qui ex. Eam id solum tollit feugait. Soluta qualisque eum eu, possit scaevola salutandi ex pro. Ius dolor malorum conclusionemque ut, cibo forensibus concludaturque id his. Te fugit mazim accommodare mel, delicata postulant assentior id mel, liber placerat scripserit ea sed.Mei no adhuc expetenda urbanitas. Populo equidem fabulas per id. At vix ridens dicunt. His minim cetero disputando ei, mea an maiorum adolescens vituperata. At mea nemore recusabo, usu mutat utinam id. At mei vocibus facilis invenire.Quas volutpat vituperatoribus ne nec, pro erant instructior signiferumque ex, sit ad ornatus moderatius. Ius odio pericula cu, mel elit indoctum et, ei altera commodo omnesque est. Cu qui nemore equidem assentior, ferri velit aliquam nam id. Ex mel quando scripserit, nam in similique adipiscing, inani interpretaris cu cum. Cum equidem persecuti te, ut natum semper tacimates vis. Stet referrentur interpretaris sea in, duo in ferri suavitate. Omittam assueverit scripserit qui ne, vel ei essent definiebas.

Ticking Clock Read More »

Hidupku Tertambat Bersama AAT

Suatu hari ketika kutelisik ke belakang, sesuatu yang kujalani adalah warisan kedua orang tuaku. Bila melihat anak tidak dapat melanjutkan sekolah maka hatiku serasa teriris. Aku dibesarkan bersama ke-5 saudara kandung dan beberapa saudara yang silih berganti dibawa ayah ke rumah saat mereka ingin melanjutkan kuliah. Prinsip orang tuaku adalah menuntut ilmu setinggi mungkin tanpa memandang usia. Meski orang tuaku tergolong pegawai kecil yang gajinya tidak seberapa, namun kami dinasehati tetap melanjutkan sekolah sebagai bekal hidup. Saudara-saudara maupun anak orang lain yang tinggal di rumah kami tidak dikenai biaya kost sepeserpun asal mereka dengan tekun belajar. Bundaku membantu ayah dengan berjualan kebutuhan sehari-hari, menerima jahitan, serta berjualan masakan. Beliau hanya sempat tidur beberapa jam saja setiap harinya. Sore hari ayah jualan kacang goreng serta jenis-jenis lain di Pasar Peterongan, dahulu disebut dengan Pasar Koplak, pasar yang buka pada sore dan malam hari. Pasar sore yang dahulu bersih dan asri bagi penjual dan pembelinya. Beliau mencari tambahan penghasilan demi uang sekolah dan kebutuhan hidup. Meski kelelahan dalam memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya dan anak orang lain, ayah serta bundaku tidak mengeluh di hadapan kami. Yang mengherankan adalah, ayah tidak pernah putus membawa anak orang lain ke rumah supaya mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik. Kadang jengkel rasa hatiku melihat ini semua, sebab aku harus bekerja bertambah keras untuk membantu bundaku mencari tambahan uang guna memenuhi kebutuhan hidup. Aku anak perempuan tertua, berbadan kecil, hitam, jelek dan sakit-sakitan, masih harus jualan gorengan yang dibuat oleh bunda. Aku berjualan gorengan dari kampung ke kampung, juga disetor ke warung-warung. Jengkel, nangis, dan entah apa lagi saat itu yang kurasakan menerima dampak sikap orang tuaku yang menampung anak-anak orang lain. ”Capai tauu,” kata hati kecilku. “Apakah mereka tidak merasakan keluhan yang selalu kupendam selama ini ya?” batinku. Gaji Pertama dan Pengalaman Menjadi Orangtua Asuh Tahun demi tahun berlalu dan ayahku masih mengambil anak-anak asuh tanpa kelelahan maupun bosan. Hingga suatu hari saat aku mendapatkan gaji untuk pertama kalinya, aku mengambil alih beberapa orang anak tetangga yang sudah satu tahun tidak bisa sekolah. Sangat perih kurasakan saat melihat mereka bengong di depan rumah ketika teman seusianya berangkat sekolah. Kemudian aku berada dalam situasi “terkutuk” (menurutku saat itu) warisan orang tuaku yang membuatku menjadi “pecandu” untuk memberi beasiswa bagi anak-anak orang lain secara konvensional. Dalam memberi beasiswa, aku berinteraksi langsung dengan orang tua serta keluarga anak asuh. Aku ingin mendampingi anak-anak agar sekolah dengan benar. Namun ada yang kurang menyenangkan dengan cara ini. Seringkali uang sekolah yang aku berikan ke orang tua anak tidak dibayarkan hingga berbulan-bulan. Hal ini kuketahui saat ingin melihat raport mereka. Karena menunggak sampai saat pembagian raport, maka buku laporan hasil belajar tersebut tidak dapat diberikan kepada siswa. Memang tidak semua orang tua bersikap seperti itu, buktinya ada juga anak-anak yang dapat aku tanggung kuliahnya hingga jenjang S1 meski nafasku tersenggal-senggal. Namun tetaplah, sikap orang tua yang seenaknya cukup membuat hatiku jengkel, sedih, hingga pada akhirnya aku memutus kesempatan sekolah bagi mereka untuk kemudian berganti ke anak lain. Bergabung Bersama Anak Anak Terang Sampai pada suatu hari aku mendapatkan informasi tentang komunitas yang sesuai misiku. Komunitas Anak Anak Terang (AAT). Aku sadar meski aku bukan tergolong kaya, namun “canduku” untuk memberi kesempatan calon penerus bangsa agar mendapatkan pendidikan yang layak telah menjadi kesukaanku. Bukan karena ingin dipuji, namun berharap agar suatu saat bangsa di mana aku dilahirkan, dibesarkan, akan memiliki generasi muda yang dapat meneruskan perjuangan para pendahulunya menjadi negara maju dan bersih.   Saat aku menulis goresan hidup ini, aku diberi tugas Tuhan untuk menjadi salah satu pengurus harian komunitas Anak Anak Terang. Meski kutahu hanya secuil yang mampu kulakukan dibanding pengurus lain yang masih muda belia yang memiliki peran begitu besar atas berlangsungnya komunitas ini, para pengurus yang membanting tulang untuk orang lain, yang kehilangan banyak waktu untuk diri sendiri, pengurus yang mencurahkan pikiran dan kepandaiannya dalam mencari peluang mendapatkan donatur, aku hanya bisa memberi bekal kepada pemuda-pemudi relawan AAT untuk kehidupan mereka selanjutnya. Bahwa hidup mereka sangat berharga. Berharga bagi orang lain dan diri sendiri. Berharga bagi komunitas Anak Anak Terang yang saat ini membutuhkan tenaga muda mengurus adik-adik asuh, mendampingi adik-adik yang mendapatkan beasiswa sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Kebahagiaanku bukan dengan emas permata. Kebahagiaanku adalah saat aku berkumpul dengan pemuda-pemudi relawan AAT yang semakin lama semakin memiliki kepribadian yang cerdas serta bertanggung jawab, mandiri dan tidak cengeng. Bersama mereka di Sekretariat Yogya, Purwokerto, Madiun, Semarang hingga Malang membuatku serasa menjadi lebih muda berpuluh tahun. Serasa aku menjadi ibu muda yang harus mengomel, memberi petuah, maupun tertawa bersama. Relawan-relawan yang menyandang status mahasiswa ini membuat hidupku penuh bunga. Aku bahagia bila para relawan dapat membawa diri serta mampu mengurus adik-adik yang menjadi tanggung jawab mereka di AAT. Menjadikan AAT sebagai komunitas beasiswa yang mampu mempertanggungjawabkan semua uang yang dipercayakan dari para donatur. Sekarang yang kuharapkan adalah semakin banyak insan yang berkenan menjadi donatur di AAT melalui www.anakanakterang.web.id , supaya semakin banyak anak yang mendapatkan kesempatan menuntut ilmu. Harapanku agar ada bibit-bibit relawan muda yang sudah mapan dan jujur untuk berkenan bergabung bersama AAT agar kelak dapat menggantikan kami sebagai pengurus di Yayasan AAT Indonesia. Berkenan bergabung bersama AAT akan membuat hidup lebih berharga, lebih bermakna, dan berkenan di hadapan Allah. Tetap bertahan dan bertambah besarlah Anak Anak Terang. Terima kasih atas kesempatan untuk dapat hidup bersama kalian. Salam   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Pengurus Harian Yayasan AAT Indonesia   [qrcode content=”https://aat.or.id/hidupku-tertambat-bersama-aat” size=”175″]  

Hidupku Tertambat Bersama AAT Read More »

Kasih Tuhan Terpancar Melalui AAT

“Janji Tuhan laksana matahari yang terbit di esok hari, tidak akan pernah terlambat, selalu tepat pada waktunya”, ungkapan inilah yang cocok untuk menggambarkan perjumpaan pertamaku dengan AAT. Perkenalkan, namaku Jochen Phoan, namun orang-orang lebih sering menyapaku dengan Yohan, aku bukanlah berasal dari keluarga yang berekonomi kaya, kedua orang tuaku juga telah bercerai semenjak aku masih sangat kecil sehingga aku hanya hidup berdua bersama dengan Bunda yang merawat dan mendidikku sedari kecil hingga saat ini. Penghasilan Bunda juga hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit disisihkan untuk menabung. Meski demikian Bunda bercita-cita agar bisa menyekolahkanku hingga perguruan tinggi, dan perguruan tinggi yang kupilih adalah Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Program Studi Teknik Industri. Dengan menguras seluruh tabungan Bunda, akupun bisa mengenyam bangku kuliah, meskipun kami hanya mampu membayar sebagian dari kewajiban administrasi yang menjadi kewajiban. Semenjak Semester 2 aku mulai mencoba mencari penghasilan tambahan sebagai seorang guru les privat. “Lumayanlah untuk mengurangi beban Bunda” ujarku dalam hati. Seiring berjalannya waktu aku juga mencoba mencari penghasilan tambahan lagi sebagai Asisten Dosen. Sering kali aku berangkat pagi untuk kuliah, mengajar dan menjadi guru les, hingga petang hari aku baru kembali, namun semuanya itu aku jalani dengan Ikhlas dan penuh syukur. Hingga tibalah waktunya aku menginjak semester terakhir dari masa kuliahku, namun aku masih memiliki tunggakan biaya kuliah yang cukup besar. “Tuhaaannn… aku tidak sanggup lagi” ujarku dalam hati. Segala perhitungan kami sudah mencapai titik buntu. Semua tabungan bahkan barang yang bisa kami jual pun sudah habis. Aku sudah tidak memiliki apapun untuk bisa membayar tunggakan uang kuliah. Dan di sinilah tangan Tuhan berkarya melalui Anak Anak Terang (AAT). Seperti petir di siang hari saat aku mendapat kabar dari adik kelasku (Fransiska Mulyani, salah satu Staff Admin AAT) bahwa salah satu dosenku, yaitu Bpk. Hadi Santono yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Teknologi Industri hendak bertemu dengan diriku secara pribadi. Pikiranku sudah khawatir, “Apakah beliau hendak menanyakan masalah tunggakan uang kuliahku ?” Pertanyaan ini sempat muncul dalam benakku, karena setiap semester memang kami selalu menghadap ke Kantor Keuangan UAJY untuk memohon keringanan pembayaran uang kuliah, dan ini sudah semester terakhir dalam masa studiku. Saat aku menghadap Bpk. Hadi Santono beliau menyodorkan secarik kertas yang berisikan jumlah tunggakan uang kuliahku yang belum terbayarkan. “Mampuslah aku kali ini !” ujarku dalam batin, kekhawatiranku makin menjadi pada saat itu. Kemudian maksud Bpk. Hadi menyodorkan kertas tersebut bukanlah untuk menagih hutang tunggakan uang kuliahku, tetapi justru untuk membantuku dalam melunasinya Aku kaget bukan main, hal ini benar-benar di luar dugaanku. Sungguh karya Tuhan telah bekerja pada diriku melalui AAT. Semenjak itu Bpk. Hadi Santono mulai mengenalkanku kepada AAT, mengenai kenapa ia membantu anak-anak yang kurang mampu dan bagaimana cara dan prosedurnya. Aku terkejut bukan main, ternyata dana yang dikumpulkan itu berasal dari banyak donatur, sehingga dana tersebut mampu digunakan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Nominal uang yang tidak seberapa besarnya, bahkan lebih kecil dari harga sepotong pizza sekali pun, ternyata bisa membantu anak-anak dalam mewujudkan mimpinya. Satu pesan yang diamanatkan kepadaku oleh Bpk. Hadi Santono yaitu “Jadilah Anak-Anak Terang yang bukan hanya mampu menerangi diri sendiri, namun bisa membantu sesamanya”. Hal itu yang terus aku tanamkan dalam hatiku hingga saat ini. Meskipun aku baru saja mulai berkarir, sedikit demi sedikit, aku menyisihkan dan mengirimkan sebagian kecil dari gaji yang kuterima setiap bulan untuk membantu adik-adik asuh AAT lainnya. Nilai yang sangat kecil, terpaut jauh dengan bantuan yang pernah kuterima saat menjadi anak asuh AAT. Namun hanya itu yang saat ini aku sanggup karena akulah yang sekarang harus menanggung kehidupan Bunda. Semoga Tuhan selalu menyalakan Api Semangat Untuk Berbagi Kasih Kepada sesama dalam diriku melalui AAT dan hal lainnya. Amin.   Jochen Phoan, ST.*  *Jochen Phoan (YOHAN) adalah salah satu anak asuh AAT. Lulus Sarjana pada bulan Juni 2012 dari Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan predikat Sangat Memuaskan. Sekarang bekerja sebagai staff Divisi Sales and Logistic di PT. Honda Prospect Motor, Jakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/kasih-tuhan-terpancar-melalui-aat” size=”175″]  

Kasih Tuhan Terpancar Melalui AAT Read More »

Letter from Patricia L. Henry

One of the highlights of my trip to Indonesia this time, was my meeting with Pak Hadi Santono and a group of volunteers from Anak Anak Terang in Jogjakarta. This amazing group of smart and energetic young people taught me how to support and care for the less fortunate by giving them a chance to go to good schools, hence a good shot in life. Their program is quite basic, but what makes it different and successful is their believe in the “POWER of SMALL” (donation), yet a HUGE network of caring volunteers–educators, sponsors, and students– providing physical and emotional support for the child. It is a village. With a little less than $10.00 a month, a little more than a cup of cappuccino in the US, we can send a child to school. 11 years ago, a group of caring Moms, decided to do something with the Jakarta’s street kids. Now it has blossomed into providing scholarships for 2048 some students, ranging from 1st grade to College, with hundreds of volunteers and donors, many are the products of this program themselves. I am inviting you to please get involved. The gift of education will provide a child with dignity that every person deserves to have. We can help stop the cycle of poverty now. My gratitude to Pak Hadi Santono, Pak Christ Widya, Ibu Lies Endjang for their hospitality and incredible dedication to the the group, and last but not least to Pak Nico Krisnanto who introduced me to this amazing group. Salam hangat. May God continue to bless you.   Patricia L. Henry Houston, Texas, USA   [qrcode content=”https://aat.or.id/letter-from-patricia-l-henry” size=”175″]  

Letter from Patricia L. Henry Read More »

Siswa SLB Yapenas : Aku Juga Bisa

Nama saya Wahyu Haryono, siswa SLB Yapenas, saya sedang melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan laptop. Saya adalah salah satu anak asuh dari AAT. Sekarang saya kelas XII. Berbagai macam kegiatan di SLB Yapenas, khususnya SMALB, 70% bersifat keterampilan dan 30% bersifat akademis. Belajar komputer sangat menyenangkan, walaupun kondisi saya tunarungu yang tidak bisa mendengar suara di sekitar dengan baik. Tapi saya senang belajar komputer. Temanku pernah juara I desain grafis tingkat kabupaten pada tahun 2012 ini. Saya juga pernah juara I lomba pantomim  Tingkat Kabupaten, dan juara II tingkat Provinsi DIY. Pembelajaran dengan menggunakan komputer sangat membantu pemahaman saya. Buat teman-teman mari belajar komputer seperti saya. Salam untuk AAT !    

Siswa SLB Yapenas : Aku Juga Bisa Read More »

Testimoni SD Marsudirini Boro

Hidup yang Dibagikan Sungguh Membawa Rahmat Berlimpah – oleh : Sr. M. Rustika, OSF –   BERAWAL dari informasi yang saya terima tentang adanya komunitas yang peduli pendidikan anak-anak kurang mampu, saya diperkenalkan oleh Rm. Rusmanto, Pr kepada Kelompok Anak-Anak Terang (AAT) di Yogyakarta. Saya mencoba membuat proposal kemudian mengajukannya ke Sekretariat AAT di UAJY. Selang beberapa waktu, Bp. Hadi Santono bersama Tim AAT datang berkunjung ke sekolah kami secara mendadak untuk mengadakan survey atas kondisi siswa dan sekolah. Mereka juga mewawancarai beberapa siswa yang kami ajukan sebagai calon anak asuh. Mulai saat itu, saya menjadi tahu tentang visi & misi Anak-anak Terang. Luar biasa! Dengan bermodalkan saling percaya serta pertanggungjawaban yang tepat kepada para donatur dari berbagai penjuru dunia, Bapak Hadi Santono pun melibatkan diri untuk menjadi bagian penting dalam kelompok AAT. Posisi mapan sebagai Wakil Dekan III Fakultas Teknologi Industri di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang mayoritas berisi mahasiswa dari kalangan menengah ke atas, sesungguhnya bisa membuat perhatian seseorang terhadap yang kurang mampu menjadi berkurang. Tetapi Bp. Hadi Santono tetap eksis di AAT, merelakan waktu, tenaga, bahkan mungkin finansial untuk berbagi dengan mereka di banyak pelosok tanah air, secara khusus di wilayah Yogyakarta.   Program Tabulampot SD Marsudirini St. Theresia Boro adalah sekolah yang mengutamakan pemberian pelayanan bagi masyarakat kurang mampu. Sekolah ini yang lebih banyak disubsidi dari Yayasan Pusat, karena besaran SPP belum mencukupi kebutuhan operasional, terlebih untuk pemberian gaji guru dan karyawan yang merupakan pegawai yayasan. Namun demikian SD Marsudirini St. Theresia Boro tidak mau ketinggalan mencari berbagai terobosan agar dapat mendidik anak sesuai kemajuan serta tuntutan jaman. Bantuan dari Kelompok AAT ini sangat kami rasakan sebagai bentuk dukungan moral maupun finansial yang sungguh semakin membuat berbesar hati dalam berusaha. Dukungan yang diberikan dalam pengaplikasian Pendidikan Berbasis Lokal, yakni pertanian, seperti pemberian subsidi program Tabulampot. SD Marsudirini St. Theresia Boro diberikan dana untuk pengadaan pot dan pembelian benih awal bagi tiap-tiap siswa. Memang butuh perjuangan karena kami baru pertama kali menyelenggarakan Tabulampot. Namun pada proses-proses selanjutnya menjadi sebuah pembelajaran yang sangat bagus, baik bagi para guru maupun para siswa. Dari pelaksanaan program Tabulampot, siswa belajar mengenai arti sebuah proses, ketekunan, dan kesabaran. Siswa belajar dari pengalaman untuk mencintai serta peka terhadap lingkungan. Para siswa berlatih menulis dari program ini. Anak-anak kelas 3 sampai dengan 6 diajarkan untuk membuat tulisan setiap hari tentang proses penanaman hingga panen Tabulampot dalam sebuah buku catatan. Walau masih sederhana dan dalam bentuk tulisan tangan, ada yang telah berhasil menuliskan secara kreatif. Tulisan tersebut disertai gambar illustrasi sesuai proses yang mereka alami. Sangat banyak manfaat dapat kami dapatkan, sehingga program Tabulampot masih dilanjutkan sampai saat ini. Sebagai informasi, hasil panen terakhir di bulan September 2011 dijual ke konsumen, yakni para orang tua murid .   SMP Kanisius Samigaluh Selain di SD Marsudirini St. Theresia Boro, Bapak Hadi Santono bersama Tim AAT juga memberikan perhatian yang cukup besar di SMP Kanisius Samigaluh yang notabene harus mandiri mencukupkan kebutuhan penyelenggaraan pendidikan. Kemandirian ini diwujudkan melalui swadaya umat wilayah setempat dalam naungan paroki St. Theresia Lisieux Boro. Beliau begitu gigih mencari donatur bagi pembangunan gedung sekolah yang keadaannya cukup parah. Kini SMP Kanisius Samigaluh itu pun sudah lebih baik kondisinya. Harapannya, lebih banyak siswa yang tertarik mendaftar untuk bersekolah. Terimakasih banyak para donatur, Bapak Hadi, dan Kelompok AAT. Semoga segala usaha baik dan perjuangan untuk berbagi kasih bagi anak-anak yang kurang senantiasa diberkati oleh Tuhan.   Salam kasih dari kami Keluarga Besar SD Marsudirini St. Theresia Boro Kepala Sekolah Sr. M. Rustika,OSF   [box type=”info”]Ini kisahku, mana kisahmu ? Tuliskan pengalaman yang dialami selama survey lalu kirimkan kisahmu via email ke beasiswa@anakanakterang.web.id. Dapatkan hadiah sebuah Flash Disk dari Pengurus AAT untuk setiap kisah yang dimuat di website AAT. Setiap orang boleh mengirimkan lebih dari satu kisah. Ayo menulis![/box]    [qrcode content=”https://aat.or.id/testimoni-sd-marsudirini-boro” size=”175″]  

Testimoni SD Marsudirini Boro Read More »

Testimoni Donatur : Punya Anak Asuh Seringan Makan Burger

— KADANG kita berpikir terlalu ruwet tentang memiliki anak asuh. Misalnya persoalan dimana mencarinya, bagaimana prosesnya, lalu berapa biayanya, dst. Bisa jadi di dalam benak, masih tumbuh persepsi bahwa memiliki anak asuh mesti terlebih dulu menjadi kaya raya, kelebihan uang di rekening bank sampai-sampai bingung mau untuk membeli apa. Lah, bila anggapan ini dirasa kurang tepat, memangnya berapa dana yang perlu dikeluarkan jika ingin mempunyai anak asuh? Memiliki anak asuh pendidikan, dalam arti sang anak bersekolah lalu kita mendukung biaya SPP-nya, alias memberi bantuan beasiswa, tidak menuntut biaya yang heboh. Untuk beberapa sekolah bahkan cukup Rp 20.000,- per bulan. Ya, dua puluh ribu rupiah per bulan. Dua puluh ribu itu.. untuk beli burger Big Mac saja nggak cukup. Buat yang suka film, nomat di XXI Plaza Senayan pun Rp 25.000,- (belum lagi jika nonton berdua). Apalagi yang suka belanja novel import, dapet apa sih dengan 20ribu? Yang ingin ditekankan adalah: kadang nominal uang yang seringkali sepele bagi seseorang, ternyata telah dapat  dimanfaatkan untuk membantu sekolah anak asuh selama satu bulan. Ini bukan mengarang cerita, sebut saja salah satu anak asuh saya bernama Teguh, SPP perbulannya 20 ribu rupiah (kelas 6 SD). Bisa jadi juga, beberapa pribadi malah kecewa karena dianggap terlalu murah. Maklumlah, masih ada yang menganggap murah sama dengan murahan. Jangan kecewa! Untuk yang hendak membantu lebih, dapat mengambil beberapa anak asuh. Bisa 2, 3, 4, dan seterusnya sesuai kemampuan. Persoalannya, bagaimana jika anak asuh yang perbulan hanya memerlukan donasi Rp 20.000,- telah habis dibantu oleh donatur lain, sedangkan kemampuan kita sebagai calon orang tua asuh hanya sebatas itu? Jangan khawatir! Bila kasus ini terjadi, para donatur tetap dapat memberikan bantuan-lepas tanpa memiliki anak asuh secara khusus.   Dimana Saya Bisa Berpartisipasi? Yang sedang saya bicarakan adalah komunitas anak asuh bernama Anak Anak Terang (AAT). Saya, sebagai salah satu orangtua asuh, berani turut mengabarkan sebab komunitas yang sudah berkiprah sejak awal tahun 2002 ini cukup profesional. Misalnya saja dalam hal pertanggungjawaban keuangan. Untuk mengetahui tentang AAT, para donatur dan calon donatur dapat mengunjungi www.aat.or.id. Pada website tersebut telah tersedia gambaran detail tentang komunitas ini. Sedang untuk turut menjadi orang tua asuh, dapat langsung menuju SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) yang beralamat di www.sianas.aat.or.id Sebagai orangtua asuh, kita (termasuk juga Anda), akan mendapat pertanggungjawaban keuangan hingga fotokopi raport anak-anak asuh yang telah dibantu. Lewat laporan rutin ini pula, suatu hari saya menjadi tahu bila anakasuh ikut ekskul pertanian organik dan mendapat nilai B atas partisipasinya. Sedangkan tentang transfer donasi dari orangtua asuh, komunitas AAT menerimanya baik secara bulanan, per tiga bulanan, setengah tahunan, atau per satu tahun. Jadi, tunggu apa lagi? Melalui tulisan ini saya mengajak kawan-kawan untuk berpartisipasi.   Tabik, Johanes 11 Agustus 2011   catatan-catatan : 1. setelah mendaftar di SIANAS -Sistem Informasi Anak Asuh dan disetujui oleh administrator (maksimal 1×24 jam), maka donatur akan mendapat username dan password melalui email untuk login ke sistem. 2. dengan password yang telah diberikan, donatur dapat memilih anak asuh secara mandiri melalui SIANAS dengan terlebih dahulu login, lalu klik menu “Donasi -> Pendaftaran Donasi”. Aplikasi SIANAS juga memberikan informasi mengenai data diri dan latar belakang keluarga anakasuh yang hendak dibantu. 3. Beberapa contoh anak asuh yang menunggu uluran tangan para sahabat: Agustinus Eka Kurnia Putri – SD Marsudirini – Kelas VI – Rp 25000 ,00 Dio Ivan – SD Marsudirini – Kelas VI – Rp 25000 ,00 Billy Eben Gideo – TK/SD Pangudi Luhur – Kelas V – Rp 20000 ,00 Stefani Nuri Alvita – TK/SD Pangudi Luhur – Kelas IV – Rp 20000 ,00 Vincentius Bondan Nugroho – SMP Kanisius Samigaluh – Kelas VII Rp 50000 ,00 dan masih banyak lagi…    

Testimoni Donatur : Punya Anak Asuh Seringan Makan Burger Read More »

Testimoni Orangtua Murid SMK Sanjaya

  Yohanes Sudiyanto (Orang tua siswa – Anastasia Dewi Wulandari kelas XII PJ) Pekerjaan saya sebagai buruh musiman dengan penghasilan tidak tentu. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga ya sangat pas-pasan, apalagi harus membiayai anak sekolah sangatlah berat. Dengan adanya bantuan dari AAT saya sangat bersyukur pada Tuhan karena berkat AAT anak saya jadi bisa rutin membayar sekolah. Harapan saya setelah anak saya lulus bisa membantu saya membiayai adik-adiknya.   Anastasia Masiyem (Orang Tua Siswa – Brigita Septria Rotua Casegar XII AK) Dengan adanya bantuan dari Yayasan AAT kami dan anak saya Septria sangat merasa tertolong dalam proses belajar maupun biaya sekolah. Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada Yayasan AAT.   Pujiati Lestari (Orang Tua Siswa – Eka Tyas Novianti XII PJ) Berkat AAT anak saya kembali bersemangat untuk belajar dan beban keluarga untuk biaya sekolah menjadi lebih ringan. Terima kasih kepada para donatur AAT.   Catarina Masinem (Orang Tua Siswa – Valentinus Vebriono XII AK) Dengan adanya bantuan AAT saya sebagai orang tua mengucapkan banyak terima kasih. Karena adanya bantuan AAT bisa meringankan beban untuk biaya sekolah anak saya.   Bernadeta Marinten (Orang Tua Siswa – Christina Leni Pranawati XII AP) Saya sebagai orang tua merasa sangat senang dengan mendapatkan bantuan AAT. Karena bantuan ini sangatlah berguna sekali bagi kami dan anak. Bantuan ini benar-benar membantu kesulitan yang sedang kami hadapi. Terima Kasih   Veronika Sujiati (Orang Tua Siswa – Lusia Mona Trisayekti XII AK) Saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan suami tidak bekerja. Saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah anak supaya nantinya bisa jadi orang. Penghasilan saya sangatlah pas-pasan apalagi untuk biaya sekolah sangatlah berat. Berkat bantuan AAT saya sangatlah berterima kasih karena telah membantu meringankan beban saya dan anak dapat bersekolah dengan tenang.   Sukarman (Orang Tua Siswa – Paulina Arsanti XII AK) Kami sangatlah berterima kasih atas bantuan AAT untuk sekolah anak saya. kami telah dibantu untuk meringankan biaya sekolah. Terima kasih   Christina Asriyah (Orang Tua Siswa – Ria Krisdayanti David XII AP) Dengan bantuan AAT kami merasa dibantu dan diringankan dalam membayar SPP. Terima kasih AAT.   Kardi Subagyo ( Orang Tua Siswa – Maria Dwi Jayanti XII AK) Dengan adanya bantuan AAT saya sebagai orang tua merasa sangat berterima kasih. Karena AAT telah membantu ekonomi keluarga saya terutama dalam meringankan biaya sekolah anak. Terima kasih.   Bartolomeus Sudiran (Orang Tua Siswa – Dirana Marlianik XII AP) Kami sebagai orang tua mengucapkan terima kasih atas bantuan dari AAT sehingga anak saya dapat bersekolah dengan lancar.   Y. Sri Murjiningsih (Orang Tua Siswa – Veronika Meilina Estiningsih XIIAP) Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dari AAT yang telah menolong saya dalam meringankan biaya sekolah anak. Terima kasih.   TH. Sri Budiyati (Orang Tua Siswa – Widityas XII AP) Kami bersyukur pada Tuhan karena telah menolong kami melalui tangan-tangan para donatur AAT. Bantuan tersebut sangatlah berarti bagi kami sekeluarga terutama bagi pendidikan anak kami. Semoga Tuhan selalu memberkati Yayasan AAT. Terima Kasih.   Sumarwanto (Orang Tua Siswa – Sukerni XII AP) Dengan bantuan ini, keluarga kami sangat berterima kasih karena pendidikan anak kami telah diselamatkan.   Mulyono (Orang Tua Siswa – Galuh PA XII AP) Kami mengucapkan terima kasih kepada AAT karena telah membantu kami dalam membayar SPP untuk anak selama 1 tahun. Dulu sebelum mendapat bantuan kami sering terlambat membayar SPP untuk anak, dan sekarang berkat bantuan AAT telah terpenuhi. Terima kasih.   Harno Sutrisno (Orang Tua Siswa – Agus Saryanto XII PJ) Saya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang sangat pas-pasan. Untuk membiayai sekolah, saya sudah berusaha bekerja keras tapi apa daya tetap belum cukup. Namun berkat bantuan AAT saya sangatlah bersyukur pada Tuhan ternyata masih ada orang-orang yang peduli pendidikan anak. Saya berharap Yayasan AAT terus berkembang dan semakin banyak anak-anak yang tertolong masa depannya. Terima kasih.   Winarni (Orang Tua Siswa – Safitri Eka Ambarwati XII AP) Kami sangatlah berterima kasih kepada AAT karena telah membantu biaya SPP untuk anak saya, sehingga anak saya bisa bersekolah dengan lancar.   V. Muryanti (Orang Tua Siswa – Agustina Rinti) Suami saya bekerja sebagai buruh tukang batu dengan penghasilan yang pas-pasan dan tidak tentu. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sangatlah minim apalagi untuk biaya sekolah sangatlah tidak cukup. Tetapi saya tidak berhenti berharap pada pertolongan Tuhan, ternyata masih ada orang-orang yang peduli dengan kehidupan rakyat kecil terutama dengan pendidikan. Saya sangatlah beruntung karena anak saya mendapatkan bantuan dari AAT dan itu sangatlah berarti bagi kami dan masa depan anak kami. Kami berharap semoga Yayasan AAT semakin berkembang sehingga semakin banyak anak-anak yang terselamatkan pendidikannya. Terima kasih.   Baca juga : Testimoni Murid SMK Dominikus Testimoni Murid SMK Sanjaya

Testimoni Orangtua Murid SMK Sanjaya Read More »

Testimoni Murid SMK Dominikus

  “Puji syukur berkat adanya bantuan dari AAT saya bisa melanjutkan sekolah, dan bisa bersekolah di SMK Dominikus. Saya sangat berterimakasih kepada AAT atas bantuan yang diberikan oleh AAT. Dengan adanya bantuan ini sangat membantu dan meringankan beban orangtua saya yang bekerja sebagai petani, dan hasil bertani hanya bisa cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.” — Susi Setiasih – XI Akuntansi “Saya sungguh berterimakasih atas kepedulian Bapak/Ibu (AAT) yang telah membantu meringankan beban orangtua saya. Perlu diketahui bahwa Orangtua saya kondisinya sangat kekurangan, yang bekerja hanya sebagai tukang ojek.” — Hendro Gunawan – XI Akuntansi   “Novia berterimakasih sekali karena dengan bantuan dari AAT dapat meringankan tanggung jawab orangtua, karena orangtua saya bekerja sebagai petani. Untuk itu Novia mengucapkan terima kasih banyak dengan Bapak/Ibu (AAT), semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kita semua.” — Novia Kristiani – XI Akuntansi   “Terimakasih saya ucapkan kepada AAT atas bantuan yang diberikan untuk saya selama ini di SMK Dominikus. Sehingga dengan beasiswa yang saya dapatkan, dapat membantu meringankan beban orangtua saya, terutama karena perjalanan ke sekolah begitu jauh sehingga ada pengeluaran tambahan untuk transport (angkot).” — Novena Priyastuti – XI Akuntansi   “Saya mengucapkan banyak terimakasih dan bersyukur karena ada AAT yang membantu meringankan biaya sekolah saya. Saya sangat berterimakasih sekali karena orangtua saya sangat berkesusahan mencarikan biaya untuk saya. Ayah saya hanya bekerja sebagai buruh dan penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu saya hanya dirumah, dan kadang-kadang bekerja di sawah sebagai buruh untuk mencari tambahan biaya transport dan uang saku. Jarak antara rumah dan sekolah saya sangat jauh dan terkadang transportasi susah.” — Dina W – XI Akuntansi   “Saya disini ingin mengucapkan banyak terimakasih, kepada AAT terutama kepada Tuhan Yesus karena dengan adanya beasiswa dari AAT dapat membantu meringankan beban orangtua saya. Setiap hari saya selalu naik angkot karena jarak rumah yang jauh, dan ini membutuhkan biaya yang lebih setiap harinya.” — Yustina Putri R.W – XI Akuntansi   “Terimakasih kepada AAT, karena saya merasa sangat terbantu terutama dalam pembayaran SPP. Saya berharap beasiswa ini akan terus berlanjut untuk keperluan masa depan saya. Orang tua saya hanya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak menentu.” — Ari Prasetyo – XI Akuntansi   “Terimakasih kepada AAT karena telah meringankan beban orangtua saya. Orangtua saya sudah bercerai dan saat ini saya tinggal bersama mamah saya.” — Samuel Harjianto – XI Akuntansi   “Terimakasih saya ucapkan, berkat bantuan beasiswa ini saya bisa bersekolah. Setiap hari pulang sekolah saya harus membantu berjualan buah-buahan untuk menambah peghasilan dan meringankan beban orangtua saya. Orangtua saya hanya bekerja sebagai buruh bangunan.”  — Dwi Triyanto – XI Akuntansi   “Terimakasih atas bantuan dari AAT yang telah diberikan kepada saya, sehingga saya masih bisa bersekolah sampai saat ini. Bantuan ini sungguh sangat membantu meringankan beban orangtua, karena orangtua saya hanya seorang petani yang penghasilannya tidak tentu setiap bulan.” — Lusia Pramudita.S.S – XI Akuntansi   Baca juga : Testimoni Murid SMK Sanjaya Testimoni Orangtua Murid SMK Sanjaya  

Testimoni Murid SMK Dominikus Read More »

Testimoni Murid SMK Sanjaya

  Ayah saya buruh berpenghasilan tak tentu, dan ibu seorang ibu rumah tangga. Kadang orangtua berhutang demi  kebutuhan keluarga. Belum kalau mendapat surat dari sekolah untuk melunasi tunggakan, orangtua kebingungan mencari pinjaman. Tapi saat ini kami lega, saya pun lebih bersemangat dalam belajar karena bantuan dari AAT. Terima kasih AAT.” — Anastasi Dewi W (XII PJ) ” Saya anak pertama dari 2 bersaudara. Adik saya masih duduk di kelas 6 SD. Orang tua saya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak menentu dan hanya cukup untuk makan saja. sedangkan untuk biaya sekolah orang tua harus mengutang di tetangga. Berkat AAT sekarang saya dapat bersekolah dengan tenang dan lebih bersemangat. Saya berharap semoga dengan adanya AAT ini cita-cita saya dapat terwujud dan pada akhirnya nanti bisa membanggakan kedua orang tua saya. ” — Galuh Puji Astuti (XII AP) “Saya sekarang bisa lebih konsentrasi dan focus belajar dengan semangat berkat AAT, dahulu saya putus asa karena setiap mau membayar ibu saya hutang tetangga dan saya kadang menerima dengan sedih. Sekarang berkat AAT tidak lagi” — Maria Dwi Jayanti (XII Ak)   “Dahulu saya SPP selalu nunggak karena penghasilan orang tua saya tidak menentu, berkat AAT sekarang bisa rutin membayar” — Paulina Arsanti (XII Ak)   “Adik saya 5, ayah saya sudah meninggal, ibu saya bekerja sebagai buruh tani. Dahulu saya bingung ketika lulus SMP apakah dapat meneruskan ke SMK karena kesulitan biaya. Berkat AAT sekarang saya bisa melanjutkan sekolah sampai kelas XII dan setelah lulus saya ingin cepat bekerja untuk sekolah adik-adik saya. Saya akan menyekolahkan adik-adik saya di SMK Sanjaya Pakem supaya mendapat AAT” — Valentinus Febriono (XII Ak)   “Ayah saya bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan minim hanya untuk makan. Berkat AAT sekarang saya dapat bertahan sekolah sampai kelas XII dan saya berharap AAT membiayai saya sampai lulus” — Diah Ayu Wijayanti (XII Ak)   “Terima kasih Tuhan berkat bantuan AAT saya tidak bingung lagi membayar SPP. Ibu saya seorang janda dengan 3 orang anak yang bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya hanya cukup untuk makan. Sekarang saya lebih bersemangat dalam belajar karena berkat bantuan AAT” — Veronika Meilina Estiningsih (XII AP)   “Ayah saya seorang buruh bangunan dan  ibu saya tidak bekerja. Penghasilan ayah hanya cukup untuk makan dan minum. Dahulu saya putus asa mau keluar karena kesulitan administrasi. Berkat bantuan AAT sekarang saya bersemangat lagi untuk menyelesaikan sekolah” — Ria Krisdayanti David (XII AP)   “Puji syukur kepada Tuhan, karena berkat AAT saya dapat bersekolah sampai saat ini. Karena ayah saya sudah meninggal dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Setiap hari kami hanya mengandalkan hasil kebun yang tidak seberapa. Dan berkat AAT saya dapat bersekolah dan dapat mengurangi beban ibu dalam membiayai sekolah” — Safitri Eka Ambarwati (XII AP)   “Ayah bekerja sebagai buruh tukang bangunan dan penjaga malam di koperasi susu. Pendapatan keluarga hanya cukup untuk biaya sehari-hari, ditambah lagi bila sakit diabetes ayah kambuh dan harus mengeluarkan biaya untuk berobat. Namun berkat AAT beban yang ditanggung ayah berkurang untuk membiayai sekolah saya dan adik. Terima kasih AAT yang selalu membantu saya dan keluarga” — Dirana Marlianik (XIIAP)   “Ayah saya seorang karyawan swasta  dengan gaji pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sudah 5 tahun terakhir ini ayah sakit dan itu pun sangat membutuhkan banyak uang untuk berobat. Karena keadaan tersebut saya merasa “minder” karena setiap kali harus bayar sekolah selalu “nunggak” biaya sekolah. Sekarang saya merasa lega karena ada bantuan AAT yang sangat membantu saya dalam penyelesaian biaya sekolah. Terima Kasih AAT .” — Christina Leni Prana Wati (XII AP)   “Ayah saya seorang pensiunan PNS dan ibu sebagai ibu rumah tangga.  Penghasilan ayah selalu habis untuk berobat ke Rumah Sakit karena penyakit diabetesnya. Sehingga untuk membayar biaya sekolah tak jarang ibu harus hutang sana sini. Saya hanya bisa berdoa agar Tuhan menolong saya supaya dapat bersekolah dengan lancar. Ternyata Tuhan benar-benar mengabulkan doa saya dengan melalui AAT Tuhan telah menjawab doa saya. Semoga Tuhan selalu memberkati AAT “ — Elizabeth Widityas Prabudiarni (XII AP)   Saya hidup dengan ibu sedangkan ayah pergi sejak saya kecil. Sehari-hari ibu bekerja membanting tulang sebagai buruh tani demi menghidupi keluarga dan membiayai sekolah saya. Namun dengan adanya bantuan AAT saya sangat terbantu dalam melanjutkan pendidikan saya.” — Sukerni (XII AP)   “Bantuan AAT sungguh-sungguh berarti bagi saya maupun orang tua saya. Karena berkat bantuannya saya dapat bersekolah dengan tenang dan bersemangat. Orang tua saya juga sangat terbantu dalam meringankan biaya sekolah” — Agustina Rinti (XII PJ)   Ayah saya bekerja sebagai buruh tani dan Ibu sehari-hari membuat tempe untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. karena masih belum cukup untuk memenuhi keluarga maka saya bekerja di tempat guru saya untuk membantu membayar sekolah dan uang saku. Saya bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat bantuan AAT saya sudah tidak kuwatir lagi nunggak membayar sekolah.” — Agus Suryanto (XII PJ)   — Dra. N. Rini Kusparwati – Guru BP SMK Sanjaya Pakem Sungguh saya merasa mukjijat Tuhan selalu hadir di tengah karya-karyaNya. Kadang saya merasa putus asa dan menyerah kalau menyaksikan siswa didik saya yang sampai harus keluar karena tidak ada biaya, karena memang sangat kekurangan pada saat saya adakan home Visit. Tetapi adanya AAT membuat saya semakin semangat dan lega kalau melihat siswa didik kami dapat terlepas dari putus sekolah.   Baca juga : Testimoni Orangtua Murid SMK Sanjaya Testimoni Murid SMK Dominikus

Testimoni Murid SMK Sanjaya Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 perihoki perihoki cakar76 cakar76 perihoki teknik baca grafik volatilitas pragmatic sinkronisasi jam main analis profesional bedah mekanik wild bounty showdown framework manajemen risiko sesi panjang psikologi fitur tumble pergerakan simbol dialektika rtp vs hit rate digital studi kasus starlight princess 1000 masa depan algoritma hiburan digital 2026 audit mandiri evaluasi strategi bermain analisis mekanik scatter hitam mahjong wins dinamika pengali mahjong ways 2 sinyal transisi sesi mahjong wins struktur probabilitas mahjong ways evolusi engine scatter hitam 2026 aws algoritma mahjong ways fluktuasi simbol teknis aws cara ukur efisiensi pola mahjong aws integrasi otomatis manual mahjong ways aws kalibrasi strategi mahjong wild rtp gates olympus aws kalkulasi rtp mahjong wins tiga teknis aws observasi teknis simbol mahjong wins aws pola trik rtp mahjong ways aws strategi awet mahjong black scatter aws tren dominasi fitur black scatter aws trik pola naga emas mahjong review lengkap fitur mahjong wild deluxe ketegangan dadu sicbo keajaiban gates of olympus teknik profesi pola transformasi mahjong ways 2 pgsoft sistem taruhan roulette sticky wild west gold alasan mahjong wins 3 pragmatic blackjack sugar rush menjadi game viral platform sv388 terbaru aws analisis jam hoki rtp olympus aws era multiplier turbo starlight olympus aws fase transisi mahjong pgsoft algoritma aws komputasi data rtp mahjong ways aws mitos fakta jam hoki olympus aws momentum scatter merah mahjong ways aws rekapitulasi data log mahjong ways aws rotasi fitur captains bounty analisis aws strategi transparan rtp starlight princess aws visual turbo lucky neko starlight aws analisis komparatif rtp pgsoft global aws arsitektur mekanik mahjong wins analis aws bocoran rtp live mahjong hari ini aws interkoneksi sistem money train2 presisi aws karakter pola server optimal mahjong aws latensi jaringan rtp mahjong ways aws observasi longitudinal rtp mahjong aws observasi realtime dragon tiger dinamis aws pendekatan ilmiah mahjong digital presisi aws pendekatan sistematis mahjong kombinasi strategi masterclass bedah algoritma mahjong wild deluxe rumus dadu sicbo pola petir gates of olympus teknik rahasia pro player ritme taruhan mahjong ways 2 strategi baccarat multiplier starlight princess panduan manajemen saldo taruhan mahjong wins 3 pramgatic teknik martingale blackjack sweet bonanza logika scatter hitam mahjong wins analisis algoritma mahjong ways 2 dinamika frame emas mahjong ways misteri frekuensi scatter hitam komparatif mahjong wins vs ways navigasi sesi stabil mahjong ways transformasi intensitas tumble mahjong probabilitas scatter hitam 2026 pengaruh latensi server mahjong ways evaluasi mekanik mahjong wins