Keajaiban dari Tuhan melalui AAT

mariaelinside

MUKJIZAT selalu datang bila kita percaya kepada Tuhan. Itulah yang saya dapatkan, mukjizat dari Tuhan yang datang melalui Anak-Anak Terang (AAT) kepada saya. Berikut ini, saya akan sharing kepada teman-teman sekalian tentang pengalaman saya.

Ketika saya duduk di bangku SMA, setiap tahun, sekolah saya mengadakan pameran pendidikan. Banyak perguruan tinggi yang ikut serta dalam pameran tersebut. banyak sekali stand-stand yang menawarkan dan mempresentasikan perguruan tinggi mereka. Teman-teman saya sangat antusias setiap tahunnya ketika diadakan pameran tersebut, karena memang latar belakang keluarga mereka yang berkecukupan sehingga membuat mereka yakin untuk memilih ke mana mereka akan melanjutkan studi mereka. Sedangkan saya hanya mengunjungi beberapa stand saja, karena saat itu ada tugas guru untuk menuliskan laporan tentang perguruan tinggi tersebut. Hingga akhirnya di tahun ketiga saya bersekolah dan hendak lulus, ketika pameran pendidikan itu diadakan kembali, dengan perasaan senang saya melihat teman-teman saya yang didampingi orang tua mereka untuk mendaftarkan diri ke sebuah perguruan yang mereka pilih. Namun di saat yang bersamaan pula, saya sedih hanya bisa melihat kegembiraan dan keantusiasan mereka karena keterbatasan biaya yang saya alami.

Saya, Maria Elisabeth Roberta, kebetulan saya lahir di keluarga yang berkecukupan. Orang tua saya bekerja di bidang tekstil (batik) di bawah bimbingan nenek saya. Kemudian di tahun 2006 ketika itu saya duduk di bangku 6 SD, nenek saya meninggal dunia dikarenakan kanker lambung yang ia derita selama satu tahun. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan nenek saya tidaklah sedikit, sehingga ayah saya harus berhutang kepada bank dengan jaminan rumah kami di Pekalongan. Dan pada akhirnya rumah kami disita oleh bank, di tahun yang sama ketika nenek saya meninggal. Masa itu adalah masa tersulit yang tengah dihadapi oleh ayah saya karena setelah kehilangan ibunya ia juga harus kehilangan rumah yang telah Ia tinggali selama 19 tahun.

Akhirnya, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Ketika di Jakarta, ayah saya tidak memiliki pekerjaan. Ia berniat membuka usaha lain selain batik, tetapi segala yang Ia lakukan hanyalah sebuah niat yang tak tersalurkan. Sehingga selama 3 tahun kami tinggal di Jakarta, ayah kami tidak bekerja dan hanya mengandalkan aset yang Ia miliki. Akhirnya seluruh aset yang ayah saya miliki kini habis dan ayah pun berhutang pada saudara dari ibu saya. Ketika tahun 2009, ayah saya memutuskan untuk kembali ke Pekalongan untuk merintis batik kembali.

Seketika itu juga saya dan keluarga saya kembali ke Pekalongan. Saya dan keluarga saya mengontrak di sebuah rumah kecil di Pekalongan yang setiap tahunnya selalu terkena banjir ketika musim hujan. Seiring berjalannya waktu, ketika Ayah saya merintis batik kembali, Ia mengalami kerugian yang banyak sekali sehingga mengharuskan ayah berhutang lebih banyak lagi kepada saudara dan teman-temannya. Dan akhirnya pekerjaan apapun Ayah lakoni dan menyingkirkan ego dan gengsinya. Dari menjadi supir sampai membantu tetangga kami pindahan rumah. Apapun akan Ayah kerjakan asalkan dapat menghasilkan uang, sehingga setiap bulannya Ayah kami tidak memiliki penghasilan tetap. Kakak saya pun akhirnya menunda kuliahnya selama 2 tahun untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya.

Ketika kakak saya bisa kuliah, Ia beberapa kali dipanggil oleh Kantor Keuangan UAJY karena tunggakan yang Ia miliki. Hingga akhirnya pada semester 4, Ia direkomendasikan oleh Pak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan UAJY untuk bergabung dengan Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia.

Akhirnya Saya Menjadi Seorang Mahasiswi

Ketika saya lulus di tahun 2012, karena saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, saya bekerja. Awalnya saya bekerja sebagai Staff Administrasi di salah satu toko elektronik di Pekalongan. Di pertengahan tahun 2013, saya ditawari oleh ayah saya untuk bekerja di Jakarta. Karena gaji yang lebih tinggi, saya pun pindah ke Jakarta. Namun karena tekanan dari atasan saya yang begitu besar, akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri (resign) dan kembali ke Pekalongan. Sesampainya saya di Pekalongan, saya diajak kakak saya untuk mencoba mengajukan beasiswa AAT.

Tuhan memang selalu datang di waktu yang tepat! Ia tidak pernah terlambat dan selalu menolong hambanya tepat pada saat saya menghadapi keputusasaan bagaimana saya akan melanjutkan studi saya. Saat itu setelah mendengarkan ajakan Kakak, saya langsung ke Jogja dan membawa berkas-berkas yang saya butuhkan untuk mendaftarkan diri ke beasiswa AAT. Besar harapan saya agar dapat lolos dalam seleksi AAT. Saya terus berdoa dan memohon kepada Tuhan agar saya dapat lolos dan mendapatkan beasiswa dari AAT, agar saya dapat mewujudkan cita-cita saya dan dapat membantu perekonomian keluarga saya bila kelak saya lulus nanti. Dan keajaiban pun terjadi, ternyata saya lulus untuk mendapatkan beasiswa AAT. AAT akhirnya membantu saya dalam melunasi tunggakan yang diperlukan agar saya dapat masuk ke universitas yang saya kehendaki.

Pada bulan Agustus 2013, saya resmi menjadi mahasiswi di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) dan mengambil jurusan D3 Perhotelan. Walaupun saya terpaksa melewatkan masa OSPEK atau pengenalan kampus di bulan Juli, tapi saya sangat senang sekali. Dengan bantuan yang diberikan oleh AAT, saya dapat kuliah.

Selain menjadi mahasiswi di STIPRAM, saya juga aktif dalam UKM Pastry setiap hari Selasa dan kegiatan senam pagi setiap hari Jumat. Tidak hanya kegiatan kampus, kegiatan lain yang saya lakukan yaitu kegiatan luar kampus, seperti mengikuti casual-casual (pekerjaan freelance di hotel) beberapa kali, tetapi tidak sering karena terkadang jadwal kuliah dengan casual sering kali bentrok. Jadi saya hanya mengikuti casual di saat saya tidak ada kelas saja. Dan juga menjadi pagar ayu di event organizer di Solo di akhir minggunya.

Menjadi Staff Admin di AAT

Dengan mendapatkan beasiswa dari AAT, konsekensi yang saya terima adalah selain belajar dengan rajin, saya juga harus menjadi Staff Administrasi atau biasa disebut sebagai Pendamping Komunitas (PK) di AAT. Saya sama sekali tidak terbebani dengan hal ini, karena saya juga ingin berbuat sesuatu kepada AAT yang sudah mau membantu saya dengan beasiswa yang diberikan agar saya dapat kuliah.

Ketika pertama kali menjadi Staff Administrasi di AAT, awal mulanya saya cukup bingung dan beberapa kali melakukan kesalahan saat input data. Beruntung kakak-kakak pembimbing dengan penuh kesabaran selalu mengingatkan saya dan memberikan dukungan kepada saya agar saya tidak down dengan kebingungan yang saya alami.

Sekitar tanggal 11 November 2013, saya bersama kakak PK lain mengadakan survei ke SMP Kanisius Gayam. Di sana banyak anak-anak yang latar belakang keluarganya juga kurang mampu, bahkan jauh di bawah saya. Ada yang orang tuanya bekerja sebagai tukang parkir, petani, dan sebagainya. Tetapi mereka memiliki semangat belajar yang tinggi. Hal itu membuat saya tersentuh dan memotivasi saya untuk lebih giat dan memiliki semangat yang lebih besar dalam belajar. Hal itu juga telah membukakan mata hati saya untuk selalu bersyukur dan melihat ke bawah, bahwa di bawah saya masih banyak yang lebih prihatin dibandingkan saya. Karena itu saya harus lebih bersemangat dalam belajar dan melayani di dalam AAT.

Saya sangat bersyukur karena bisa mendapatkan beasiswa dari AAT, ikut membantu, dan aktif di dalam AAT. Di samping itu, saya juga dapat banyak pengalaman dari AAT sendiri. Saya dapat belajar untuk lebih bersyukur kepada Tuhan, aktif dalam suatu organisasi, bersosialisasi, belajar untuk lebih peduli kepada sesama, bekerja keras untuk menggapai sesuatu, dan masih banyak lagi. Terimakasih AAT atas bantuannya, baik moral maupun beasiswa yang telah AAT berikan kepada saya.

 

Maria Elisabeth Roberta
Staff Admin AAT Yogyakarta

*Maria Elisabeth Roberta (Elis) adalah mahasiswi STIPRAM (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) jurusan D3 Perhotelan angkatan 2013 . Aktif dalam UKM Pastry, dan kegiatan lain di kampusnya di samping menjadi Staff Admin AAT.

 

[qrcode content=”https://aat.or.id/keajaiban-dari-tuhan-melalui-aat” size=”175″]