
Menuju Layanan yang Lebih Terintegrasi, AAT Gelar Pelatihan Sianas di Solo
Solo, 23 Agustus 2026 — Yayasan AAT Indonesia menyelenggarakan pelatihan Sianas selama dua hari, pada 22–23 Agustus 2026, di Meeting Room Parangraja Hotel, Solo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya AAT dalam memperkuat kapasitas tim sekaligus mendorong pengelolaan layanan yang semakin terintegrasi melalui pemanfaatan teknologi digital.
Pelatihan diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari BPT, Tim Sianas, Tim Public Relations (Purel), Tim IT, serta didampingi oleh Penanggung Jawab (PJ) Madiun dan PJ Semarang. Keterlibatan berbagai bagian dalam kegiatan ini menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman, memperkuat koordinasi, dan membangun kolaborasi dalam pengelolaan program AAT.

Salah satu agenda utama dalam pelatihan adalah pengenalan dan pelatihan penggunaan website baru Sianas yang disampaikan oleh Akbar Romadhon, Kepala Divisi BPT. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung untuk memahami berbagai fitur dan alur kerja dalam sistem.

Melalui Sianas, pengelolaan berbagai informasi yang berkaitan dengan program anak asuh, orang tua asuh, sekolah, hingga kebutuhan administrasi dapat dilakukan secara lebih terstruktur. Karena itu, pemahaman yang sama mengenai penggunaan sistem menjadi penting agar setiap bagian dapat menjalankan perannya secara efektif, termasuk dalam mendukung kebutuhan administrasi dan koordinasi dengan sekolah.
Penguatan pemahaman mengenai peran Penanggung Jawab sekolah juga disampaikan oleh Franciska, Kepala Divisi Sianas. Dalam sesi tersebut, Franciska menyampaikan beberapa aturan dan ketentuan yang perlu dipahami oleh Penanggung Jawab sekolah melalui tim BPT. Selain memahami alur dan regulasi yang berlaku, komunikasi yang baik antara Penanggung Jawab sekolah dan tim BPT juga menjadi hal penting untuk memastikan informasi dapat tersampaikan dengan jelas dan kebutuhan di lapangan dapat ditangani dengan baik.

Selain praktik penggunaan sistem, kegiatan juga diisi dengan diskusi dan evaluasi tim. Peserta bersama-sama membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, kebutuhan di lapangan, serta regulasi yang perlu dipahami dan diterapkan dalam pengelolaan program. Proses ini menjadi kesempatan bagi setiap bagian untuk menyampaikan pengalaman, menemukan berbagai hal yang perlu diperbaiki, serta menyamakan langkah untuk pelaksanaan program ke depan.
Tidak hanya berfokus pada sistem dan administrasi, pelatihan juga menjadi ruang untuk memperkuat identitas dan semangat seluruh tim AAT. Ibu Dhanis, Penanggung Jawab Sekretariat Madiun, menyampaikan materi mengenai launching maskot AAT sebagai salah satu bagian dari penguatan identitas organisasi.

Dalam sesi yang sama, Rico dari BPT Madiun turut membagikan berbagai hasil karya dan dokumentasi yang berkaitan dengan anak asuh di Sekretariat Madiun. Salah satunya adalah photovoice dan video cerita anak asuh bersama maskot AAT, yang menghadirkan pengalaman dan cerita anak asuh melalui media visual. Rico juga memperkenalkan berbagai artikel dan dokumentasi lainnya yang telah dihasilkan oleh Sekretariat Madiun.

Kehadiran photovoice dan video tersebut menjadi salah satu cara untuk menghadirkan cerita anak asuh secara lebih dekat dan bermakna. Melalui karya tersebut, anak-anak tidak hanya menjadi bagian dari data dalam sebuah sistem, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan cerita, pengalaman, dan perspektif mereka. Hal ini sekaligus memperkuat pesan bahwa teknologi, dokumentasi, dan komunikasi dalam AAT pada akhirnya tetap diarahkan untuk mendukung kebermanfaatan program bagi anak-anak.
Sementara itu, Ibu Meitha sebagai Penanggung Jawab Sekretariat Semarang memberikan sesi motivasi bagi peserta mengenai pentingnya membangun semangat dan komitmen dalam menjalankan peran sebagai bagian dari tim AAT. Sesi ini menjadi pengingat bahwa di balik sistem, administrasi, dan berbagai proses kerja, terdapat tujuan yang lebih besar, yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak dan seluruh pihak yang terlibat dalam program AAT.

Pelatihan selama dua hari ini menjadi momentum bagi Yayasan AAT Indonesia untuk terus belajar dan berkembang bersama. Kolaborasi antara BPT, Tim Sianas, Purel, IT, serta Penanggung Jawab Sekretariat, menunjukkan bahwa pengelolaan program membutuhkan keterhubungan antarbagian dan pemahaman yang sama terhadap tujuan organisasi.
Dengan adanya penguatan kapasitas melalui pelatihan Sianas, AAT berharap seluruh tim semakin siap memanfaatkan teknologi dalam mendukung pengelolaan program, sekaligus tetap menjaga sisi humanis dalam setiap prosesnya. Langkah ini menjadi bagian dari perjalanan AAT menuju layanan yang lebih terintegrasi, tertib, kolaboratif, dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi anak asuh, orang tua asuh, serta sekolah mitra.
