AAT Madiun

IMG 20170527 WA0016 1024x768

Tidak menyia-yiakan Kepercayaan

Oleh: Dira Nur Agista Nama saya Dira Nur Agista, saya mahasiswi prodi Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun semester 5. Sudah 2 tahun ini saya menjadi anak asuh dari beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia. Dengan bantuan donator dan pengurus-pengurus AAT lainnya saya bisa melanjutkan pendidikan S1 saya dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Di sekretariat saya selain menjadi pendamping komunitas dari SMK St. Bonaventura 2 Madiun dan SMPK Garuda Parang saya juga menjadi bendahara sekretariat Madiun. Ilmu akuntansi yang selama ini saya pelajari sangat berguna ketika diterapkan. Selain menjadi bendahara sekretariat saya juga membantu tim public relation AAT dengan menjadi admin sosial media (sosmed), yaitu: instagram dan twitter AAT. Setiap ada berita atau kegiatan dari relawan AAT dari berbagai sekretariat kami sebagai tim public relation harus selalu segera mengupload-nya ke sosmed AAT agar para donator mengetahui dan hal tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada donatur. Saya terkadang masih sering kesulitan mencari bahan posting dan menulis caption apa yang sesuai dan menarik, namun berkat kerjasama tim public relation semua permasalahan tersebut teratasi. Saya sangat senang bisa mengenal relawan dari berbagai sekretariat. Walaupun dari mereka merupakan relawan dan bukan anak asuh, kepedulian mereka sangat menginspirasi saya untuk lebih konsisten dengan tugas yang diberikan kepada saya agar semakin banyak donatur dan lebih banyak lagi anak Indonesia yang nyaris putus sekolah dapat melanjutkan pendidikan-nya sama seperti saya. Di semester 5 ini banyak sekali kegiatan yang saya ikuti disela-sela waktu kuliah. Mata kuliah semester 5 ini juga sangat berat dari pada semester sebelumnya. Kita sudah memulai fokus terhadap bidang akuntansi dan mempersiapkan skripsi. Mulai tahun ini saya di beri kepercayaan oleh seluruh teman-teman 1 program studi menjadi Ketua HMPS Akuntansi. Walaupun saya menyadari akan semakin banyak lagi tugas yang harus saya lakukan, baik tugas kampus sebagai ketua HMPS, tugas sebagai mahasiswa dan yang lebih penting tugas melayani sebagai relawan AAT. Kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya sebagai anak asuh AAT tidak akan saya sia siakan. Saya akan selalu berusaha keras menyelesaikan studi S1 dengan tepat waktu dan nilai terbaik, selain itu juga akan selalu memperbaiki kerja saya sebagai anak asuh dan relawan AAT. Terima kasih AAT. *Dira Nur Agista, Mahasiswi prodi Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun

Tidak menyia-yiakan Kepercayaan Read More »

IMG 20160906 WA0002

Tak Menyangka Dibantu Kuliahnya

Oleh : Atikah Maulidya Waber Assalamualaikum wr wb, Nama saya Atikah Maulidya Waber. Saya adalah anak ke-4 dari 4 bersaudara yang lahir pada 20 tahun silam di Bogor Jawa Barat. Sejak umur 6 bulan saya sudah menjadi seorang yatim, karena papa meninggal akibat kanker tulang sampai saat ini hanya mengetahui sosok papa dari foto saja.  Jadi mamalah yang merangkap sebagai bapak. Sayangnya, mama telah meninggal dunia 4 tahun yang lalu karena sakit komplikasi. Mama pergi begitu mendadak karena meninggal ketika acara pernikahan kakak pertama saya di Magelang. Mungkin itulah jalan Tuhan, kami hanya bisa berpasrah dan merelakan semuanya. Mama sosok pekerja keras, tetapi setelah kepergiannya perhatian penuh kasih sayang diperlihatkan oleh tante kepada kami. Tante telah memberikan banyak hal kepada kami sejak mama masih hidup. Tante sosok yang sabar, bisa dibilang tante sebagai pengganti orang tua saya saat ini. Saya sendiri sekarang tinggal bersama tante di Madiun. Tante saya belum menikah dan umur tante kira-kira 55 tahun. Biaya kuliah awalnya ditanggung oleh tante. Ada cerita yang menarik ketika saya masih menempuh pendidikan SD-SMP dimana saya masih tinggal di Cibinong-Bogor. Di sana peran tante sangat begitu berjasa. Pada masa itu, saya diurus oleh tante karena mama harus bekerja untuk membiayai kehidupan kami. Mama saya seorang mualaf. Karena pada dasarnya keluarga mama dan tante adalah non-muslim. Karena mama masih belajar juga, maka sejak TK sampai SMP anak-anaknya dimasukan di sekolah berbasis islam. Meskipun tante adalah seorang yang beragama non-muslim kita sangat menjunjung tinggi toleransi antara satu dengan lainnya. Setiap hari yang masak dan mengurus semuanya adalah tante. Tante rajin mengantarkan anak-anak mama (kami) untuk mengaji di masjid, mengikuti abang (kakak pertama saya) lomba adzan, mengantarkan mba Fitri (kakak perempuan saya) ke lomba mewarnai, mengantar mas Nanang (kakak kedua saya) ke lomba sepak bola antar kabupaten. Tante sering mengingatkan untuk sholat lima waktu. Jika bulan puasa tante ikut bangun pada waktu sahur, ikut membantu menyiapkan menu sahur, ikut menemani saya selama sahur. Begitu pula saat berbuka tante menyiapkan menu untuk berbuka puasa, dan mengingatkan untuk berangkat ke Masjid menunaikan ibadah shalat tarawih. Berbeda ketika di hari minggu. Tante harus libur, mama menyuruh tante untuk pergi ke gereja dan istrirahat saja. Kami sangat menghormati tante dan tante pun menghormati kami juga. Walaupun hidup dengan pas-pas-an, anak-anak mama tetap bersyukur dengan semua yang diberikan. Sekarang ini, saya sudah semester 6 kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun jurusan Akuntansi. Saya sangat berterimakasih kepada Beasiswa Anak-Anak Terang yang sudah membantu saya selama hampir 2 tahun, jadi saya bisa membantu tante meringankan biaya kuliah. Terimakasih untuk donatur yang telah membantu saya. Dulu saya tidak menyangka akan kuliah sampai saat ini setelah kedua orangtua saya meninggal. Sekali lagi saya berterimakasih kepada beasiswa AAT telah membantu saya. Semoga kelak saya dapat membantu adik-adik-ku yang juga ingin bersekolah dan mencapai cita-citanya. Amin. *Atikah Maulidya Waber, adalah mahasiswi Jurusan Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Penerima Beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang

Tak Menyangka Dibantu Kuliahnya Read More »

552310 440181926015404 1179625821 N

Memahami Keistimewaan Tuhan Melalui AAT

Oleh : Janis Adi Wicaksono Setiap dari pada kita diciptakan oleh Tuhan secara istimewa. Maksud, tujuan, ataupun rencana yang Dia kerjakan itu sungguh sangat istimewa bagi setiap manusia. Mungkin banyak orang tidak menyadari, namun kita perlu memahami bahwa setiap orang itu istimewa di mata Tuhan. Ketika setiap orang dapat memiliki pengertian bahwa semua pribadi itu istimewa, sikap hati yang selalu bersyukur akan dimiliki, sikap peduli dan rela berbagi akan senantiasa terjadi. Menjadi salah satu anak asuh penerima beasiswa Yayasan AAT (AAT) Indonesia adalah bukti betapa diri saya yang tidak sempurna ini dijadikan Tuhan menjadi pribadi yang sangat istimewa di mata-Nya. Saya sangat bersyukur akan hal tersebut. Banyak hal boleh saya dapatkan, baik pengalaman, pengetahuan, dan juga indahnya sebuah kebersamaan. Keistimewaan demi keistimewaan Tuhan kerjakan dan lakukan melalui tim yang luar biasa tersebut. Mungkin bisa menjadi lebih sibuk dari anak-anak muda yang lain, namun hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan dan sukacita tersendiri. Karena katanya, orang yang memiliki kesibukan atau ada hal yang menuntut untuk dikerjakan berarti dirinya adalah orang yang berguna dan tidak menyia-nyiakan waktu hidup yang ada. Kesibukan yang bermakna, berguna, dan semoga senantiasa memberkati banyak orang. Berbicara tentang keistimewaan yang Tuhan lakukan dalam diri saya dapati ketika bergabung di AAT. Saya menjadi salah anak asuh di Sekretariat Madiun, Jawa Timur, sekaligus menjadi pendamping komunitas/sekolah SMK Katholik Santo Yosef Cepu. Selama kurang lebih setahun sudah saya menjadi bagian dari proyek besar yang sedang dikerjakan oleh Yayasan AAT  Indonesia yaitu untuk menolong setiap adik-adik yang kurang mampu namun memiliki kemauan untuk tetap terus belajar dan berprestasi. Sebagai seorang anggota dan/atau anak asuh dan pendamping komunitas sebuah sekolah, mungkin hanyalah sebagian kecil dari sebuah proyek besar yang dilakukan Yayasan AAT Indonesia tersebut. Namun hal tersebut membuat saya sadar bahwa itu sebuah kebangaan yang sangat patut untuk disyukuri. Mungkin tidak terlalu banyak yang bisa saya lakukan, namun semoga kiranya hal tersebut dapat menjadikan saya sebagai saluran berkat Tuhan bagi banyak orang, terkhusus untuk adik-adik yang ada di SMK Katholik Santo Yosef Cepu. Banyak hal yang dapat saya pelajari ketika saya menjadi salah satu anggota Yayasan AAT Indonesia dan menjadi seorang pendamping komunitas. Belajar untuk dapat membangun komunikasi yang baik dengan bertanggungjawab terhadap sekolah yang saya dampingi, belajar memahami setiap adik-adik yang menjadi anak asuh, serta belajar membangun sebuah kerjasama yang utuh dan manis. Semua hal tersebut yang membawa sebuah perenungan yang dalam akan betapa terlalu indah dan istimewanya rencana Tuhan dalam kehidupan saya pribadi. Selain banyak hal yang dapat dipelajari, berkat yang lain juga saya dapatkan. Tentu keringanan biaya dalam kuliah yang sedang saya jalani, fasilitas laptop yang diberikan, serta berkat-berkat secara jasmaniah yang lain. Saya sangat beryukur kepada Tuhan, berterimakasih kepada segenap pengurus pusat beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia dan juga rekan-rekan tim yang istimewa yang ada di Sekretariat Madiun, Jawa Timur. Saya percaya bahwa setiap daripada kita semua adalah pribadi yang istimewa di mata Tuhan dan tidak ada satupun rencana-Nya yang gagal dan membawa kecelakaan. Kiranya beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia terus senantiasa dapat dipakai Tuhan untuk dapat menyadarkan bahwa semua manusia itu istimewa dan berharga bagaimanapun kondisi dan latar belakangnya. Karena hal tersebutlah yang saya alami saat ini. Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia menyadarkan saya bahwa diri ini menjadi sangat istimewa dan berguna bagi orang lain. Dia istimewa, rencana-Nya luar biasa, dan kita semua adalah makhluk yang sangat berharga. *Janis Adi Wicaksono adalah Penerima Beasiswa Anak-Anak Terang di Sekretariat Madiun

Memahami Keistimewaan Tuhan Melalui AAT Read More »

IMG 20160911 152214

Percaya Selalu Ada Jalan

Oleh : Sarah Juniati Nama saya Sarah Juniati, saya merupakan salah satu anak asuh (penerima) beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia. Terhitung mulai tahun 2014 saya sudah mendapatkan beasiswa AAT. Puji syukur kepada Tuhan karena sampai saat ini saya masih diberi talenta untuk bisa terus memperjuangkan beasiswa AAT ini karena saya tahu banyak orang di luar sana yang juga membutuhkan beasiswa AAT untuk melanjutkan pendidikan. Bersama Anak-Anak Terang dan teman-teman saya merasakan banyak sekali lika-liku selama ini. Selama semester 4 kemarin banyak hal yang saya alami dan membuat saya semakin berlatih untuk menjadi lebih baik. Salah satu kejadian yang membuat saya merasa melakukan suatu kesalahan adalah ketika kami melakukan penerimaan beasiswa dan ternyata proses tersebut harus ditunda. Kami tak tahu harus berkata apa kepada teman-teman yang sudah mendaftar, ingin rasanya lari dari kenyataan itu dengan menutup mata dan telinga. Namun saya sadari itu harus diselesaikan. Akhirnya solusi telah kami dapatkan dengan rapat besar bersama. Hal itu membuat saya berfikir bahwa seharusnya kami pun juga tidak membuka pendaftaran untuk setiap tahun karena kami juga harus mempertimbangkan kondisi pusat. Apapun itu, semua mengandung pembelajaran yang besar. Banyak hal yang saya alami hanya saja sulit untuk menceritakan satu persatu dan keterbatasan kosa kata bias membuatnya menjadi salah tafsir. Selama satu semester kemarin saya merasa bimbang, takut dan cemas karena saya sudah memutuskan untuk keluar dari rumah guru SMA dimana saya memutuskan untuk mengekost karena saya sudah tidak merasa nyaman disana. Saya pun tidak mungkin kembali ke rumah orang tua saya karena jarak rumah dengan kampus yang sangat jauh.  Dengan keputusan itu saya harus mengambil sebuah resiko bahwa saya harus menanggung kebutuhan hidup saya sendiri karena dulunya saya diberi tumpangan dan makan. Dengan kondisi orang tua yang sudah melepaskan saya untuk menjalani hidup sendiri, maka saya harus bertanggungjawab. Terkadang saya merasa hari-hari yang saya lalui sangat berat karena saya harus bekerja untuk menopang hidup. Saya kadang merasa bersalah jika tidak menghadiri rapat AAT Madiun karena alasan bekerja itu. Namun, saya sadar bahwa AAT telah membantu saya untuk pendidikan ini sehingga saya selalu berusaha datang. Syukur pula disamping itu, puji Tuhan teman-teman AAT lainnya masih bisa mengerti. Saya juga bersyukur bahwa selalu ada kebaikan, hal itu terlihat dari adanya seorang teman dekat yang selalu menawarkan berkat kepada saya. Keluarganya baik dan kadang mengijinkan saya untuk makan di rumah mereka. Saya juga tentu merasa sungkan akan hal ini, makanya selalu selalu berusaha selain untuk makan, uang yang didapatkan dari hasil kerja juga disisihkan untuk kos sebesar Rp. 150.000. Sayangnya di bulan Juni lalu saya memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin kembali fokus ke Anak-Anak Terang. Saya percaya selalu ada jalan untuk segala sesuatu. *Sarah Juniati, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Penerima Beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang

Percaya Selalu Ada Jalan Read More »

IMG 20160911 152208

Mengusahakan yang Terbaik

  Oleh : Dira Nur Agista Nama saya Dira Nur Agista, saya kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Saya selalu berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik kepada semua orang yang telah men-support dan membantu saya dalam perkuliahan. Terutama tanggung jawab kepada para donatur dan pengurus Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia yang telah membiayai saya dalam kuliah. Saya menjadi anak asuh Anak-Anak Terang sudah 2 semester ini dan sudah banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Kegiatan rutin yang saya lakukan selama ini adalah survey dan wawancara calon anak asuh, mengupload kwitansi dan tanda terima. Salah satu survey dan wawancara calon anak asuh yang saya ikuti adalah di SMK Nusasantara. SMK Nusantara memang baru tahun 2015 dan kemudian mengajukan beasiswa Anak-Anak Terang. Sekolah ini terletak di Desa Balerejo Kabupaten Madiun. Banyak sekali cerita haru yang mewarnai survey dan wawancara saya ke sana. Walaupun terma suk sekolah baru, SMK Nusantara telah memiliki banyak siswa/i, dan rata-rata siswa-nya adalah dari anak yang putus sekolah dan berasal dari desa terpencil di sekitar Kab. Madiun dan Ngawi. Siswa yang saya wawancara ada yang tinggal di asrama kepala sekolah dengan makan dan tempat tinggal gratis karena subsidi dari kepala sekolah. Kebanyakan alasan siswa-siswi tersebut memilih SMK Nusantara adalah karena biaya murah, dan ada asrama gratis. Saya selalu berharap semoga Anak-Anak Terang semakin besar sehingga lebih banyak membantu sesama sehingga dapat meringankan beban anak-anak Indonesia yang nyaris kehilangan harapan karena putus sekolah. Anak-Anak Terang telah memberikan saya banyak sekali pengalaman hidup yang sangat berkesan dan tidak akan pernah saya lupakan. Saya berharap agar Anak-Anak Terang semakin banyak donatur yang bergabung agar semakin banyak anak anak di Indonesia yang nyaris putus sekolah dan hampir kehilangan harapannya dapat terbantu dan dapat mengangkat derajat kedua orang tua nya dan keluar dari lingkaran garis kemiskinan. *Dira Nur Agista, Mahasiswi Jurusan Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Penerima Beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia

Mengusahakan yang Terbaik Read More »

Bertha AAT 20160911 134856

Mempertahankan Prestasi

Oleh : Alberta Caecaria Arias Saya Alberta Caecaria Arias, biasa dipanggil Berta. Saya adalah mahasiswi bimbingan dan konseling di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2014. Saya bergabung dengan AAT pada semester 3, tahun lalu. Saya Beruntung mendapatkan beasiswa AAT dan menjadi salah satu anak asuh. Saya menganggap AAT adalah keluarga saya karena ada banyak teman, sahabat, dan pendampingan rohani dari para Bruder. Hal tersebut membuat saya senang karena dapat menjalin keakraban satu dengan yang lainnya apalagi bisa mempunyai teman baru dari lintas agama, suku ataupun ras. Semester 3 kemarin, IP saya turun dari yang semula 3,9 menjadi 3,8. Saya menyadari penurunan IP tersebut dikarenakan ketika UAS pada bulan Januari lalu, ayah saya masuk rumah sakit untuk beberapa hari. Pada saat itu saya harus bolak-balik antara kampus, rumah, dan rumah sakit. Ini bukan alasan, namun seperti inilah keadaan dimana saya harus UAS dan ayah saya masuk rumah sakit. Peristiwa tersebut membuat saya kurang fokus dalam belajar, sehingga berakibat nilai saya menurun. Namun saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya. Semester 4 saya berusaha untuk memperbaiki nilai-nilai supaya IP saya kembali membaik. Saya menargetkan IP semester 4 ini nanti 4,00, namun apabila pada akhirnya target itu tidak tercapai, setidaknya IP saya harus lebih dari IP semester 3. Untuk saat ini beberapa nilai UAS yang sudah keluar hasilnya adalah A. Puji Tuhan sekali saya mendapatkan nilai sempurna tersebut dan berharap target IP 4,00 tercapai. Selain itu saya juga masih ingin mendapatkan beasiswa AAT hingga saya lulus nanti. Bagi saya, yang terpenting adalah saya harus bisa membanggakan orang tua dan keluarga saya dengan prestasi yang saya miliki. Walaupun saya sibuk dengan kegiatan HMJ di kampus ataupun kegiatan kelas serta tugas-tugas kampus, saya akan berusaha untuk tetap menjalankan kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa dan juga anak asuh AAT yang dapat dibanggakan dengan kesibukan yang padat. Saya sadar, semua ini sudah menjadi pilihan serta tanggung jawab maka harus dijalankan semaksimal mungkin dengan segala konsekuensi yang berlaku. Tidak hanya kegiatan kampus, kegiatan AAT, namun juga kehidupan saya sehari-hari yang pastinya banyak sekali permasalahan yang bermunculan yang dapat juga menganggu kondisi fisik maupun psikis saya. Akan tetapi, saya percaya tidak ada manusia yang tidak ada masalah dan manusia memiliki Tuhan yang lebih besar dari masalah yang dimiliki. Saya selalu semangat walaupun sering mengeluh karena banyak tugas dan kegiatan. Saya ingin segera lulus agar nantinya dapat segera. Di semester 5 nanti, saya akan berusaha dengan sepenuhnya untuk tetap mempertahankan nilai-nilai A serta lebih aktif dalam segala kegiatan yang ada di kampus guna menunjang kemampuan-kemampuan yang saya miliki, namun dengan tetap menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dan tanggung jawab sebagai anak asuh AAT. *Alberta Caecaria Arias, adalah mahasiswi Bimbingan dan Konseling dan Penerima Beasiswa Yayasan AAT Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. #cegahputussekolah #cegahputuskuliah

Mempertahankan Prestasi Read More »

10697207 758362930865644 1255414306530996 O 1024x683

Bijaksana dalam membuat Keputusan

Oleh : Franciska Ariliana Namaku Franciska Ariliana lahir 30 April 1995 aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Aku sedang menempuh studi di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun program studi Teknik Industri. Saat ini, aku sudah semester enam, terima kasih kepada AAT yang telah membiayai kuliahku sampai semester enam ini dan aku berharap untuk bisa lanjut sampai semester delapan nanti. Ibu dan Ayah masih tetap bekerja di pasar berdagang kosmetik dan menerima orang yang menjual emas. Meskipun orang tuaku mempunyai bisnis menerima emas, tapi modal yang digunakan tidak bersal dari uang sendiri, melainkan pinjam ke orang lain. Ibu dan ayah hanya mengambil keuntungan dari hasil penjualan emas yang disetorkan ke pengepul sehingga hasil yang didapatkan juga tidak menentu karena tidak setiap hari ada orang yang menjual emas. Ayah selain bekerja membantu ibu di pasar juga terkadang bekerja sebagai tukang bangunan, tergantung ada orang yang menyuruh atau tidak. Saat ini adikku yang kedua sudah lulus dari SMA dan berencana akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, orang tuaku sangat berharap sekali untuk adikku mendapatkan beasiswa, jika tidak mendapatkan beasiswa adikku tidak jadi melanjutkan ke perguruaan tinggi. Adikku yang ketiga sekarang juga sudah masuk SMP, sehingga keluargaku mengeluarkan uang yang cukup banyak. Beberapa kejadian di AAT membuat aku belajar untuk lebih peduli kepada sesama, terutama dengan orang-orang terdekatku. Kejadian yang tak terduga saat ada dua orang teman kami yang beasiswanya harus dipending dan satu teman kami yang beasiswanya dihentikan karena nilainya yang tidak mencapai target. Kami merasa kasihan kepada teman-teman kami tersebut dan kami berfikir bahwa kami harus melakukan suatu tindakan untuk membantu mereka. Akhirnya aku dan teman-teman yang lain berencana untuk membuat rosario merah putih dan menjualnya ke gereja. Hasil dari jualan kami berikan kepada ketiga teman kami untuk membantu membayar uang kuliah, selain itu kami juga iuran untuk membantu. Aku sangat senang sekali dengan sikap dan semangat teman-teman AAT Madiun yang dengan senang hati, saling bergotong royong membantu teman kami yang kesusahan. Aku dan teman-teman di AAT Madiun masih rutin untuk mengadakan pertemuan untuk membahas keperluan AAT dan untuk lebih mengakrabkan diri. Tahun ini kami juga kehilangan satu pembimbing rohani yaitu bruder Yakobus yang dipindah tugaskan di Flores. Pengalamanku selama menjadi koordinator mengajariku untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan lebih bijaksana lagi. Tidak terasa masa jabantanku sebagai koordinator tinggal satu bulan lagi, ada kelegaan ketika aku berhasil untuk menjalankan tugasku nanti dan semoga masih bisa untuk membantu membimbing PK baru yang akan menggantikanku nanti. Diakhir semester enam ini aku juga dituntut untuk seminasi topik skripsi. Dalam proses pencarian tiga judul aku sangat kebingunggan sekali, tapi puji Tuhan dengan bantuan dosenku dan usaha aku berhasil menemukan tiga judul skirpsi yang akan aku presentasikan. Dalam seminasi topik akhirnya aku dipilihkan satu topik untuk nantinya aku gunakan skripsi di semester tujuh dan delapan. Aku berharap semoga skripsiku dapat berjalan dengan baik pada semester tujuh dan delapan sehingga aku dapat lulus tepat empat tahun. Pada akhir semester enam ini aku juga akan magang kerja selama satu bulan di PT INTAN USTRIX Gresik. Aku ingin mencoba pengalaman baru di luar Madiun, dan semoga magangku juga dapat berjalan dengan lancar. Amin. *Franciska Ariliana, adalah mahasiswi program studi Teknik Industri Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Penerima Beasiswa AAT dan Mantan Koordinator Sekretariat Madiun

Bijaksana dalam membuat Keputusan Read More »

Temu PK dan PJ Madiun

Tanggal 19 September 2016 AAT Sekretariat Madiun mengadakan acara pertemuan PJ ( Penanggung Jawab). Acara tersebut di ikuti oleh 20 penanggung Jawab dari masing-masing sekolah yang bekerja sama dengan AAT.  Agenda pertemuan PJ dimulai dengan doa pembuka,  sambutan dari koordinator AAT Madiun, lalu ada sambutan dari penanggung jawab AAT Madiun yaitu bapak Bernardus Widodo,  pembagian SK, pengenalan PK (Pendamping Komunitas), sosialisasi  pelatihan SIANAS, dan ditutup oleh doa. Bapak Bernardus Widodo menyampaikan beberapa hasil rapat koordinator (rakor) yang diadakan tanggal 20-21 Agustus kemarin, diantaranya adalah pada tahun ajaran 2016/2017 ini yayasan AAT tidak menerima anak asuh baru baik itu anak asuh SD, SMP, SMA ataupun dari perguruan tinggi. Hal tersebut disebabkan karena adanya perbaikan sistem agar pelayanan kepada donatur dan anak asuh lebih tertata dan lebih baik lagi. Selain itu bapak Bernardus Widodo juga menyampaikan kepada PJ sekolah agar tertib administrasi mengirimkan kwitansi, tanda terima, rapor dan SKHU tepat sesuai jadwal yang sudah pusat tentukan dalam buku pedoman. Acara pembagian SK dan pertemuan PJ memang merupakan agenda tahunan yang selalu di laksanakan, namun untuk tahun ini sangat berbeda karena selain pembagian SK para PJ sekolah juga dei beri sosialisasi dan pelatoahn SIANAS ( Sistem Informasi Anak asuh ). Setiap PJ sekolah di beri akun SIANAS masing-masing yang bisa di gunakan untuk mengecek apakah tanda terima dan kwitansi sudah di upload oleh PK nya dan supaya rapor anak asuh bisa langsung di upload oleh PJ. Sistem baru tersebut tidak langsung di terapkan, tetapi masih dalam proses percobaan. Bertepatan dengan acara pembagian SK, AAT madiun juga mengadakan serah terima jabatan KSB (koordinator, sekretaris dan bendahara) yang lama ke KSB yang baru. Koordinator AAT yang lama adalah Franciska Afriliana dan  koordinator AAT yang baru adalah Alberta Caecaria Arias. Dengan koordinator yang baru di harapkan AAT Madiun lebih baik lagi dalam hal pelayanan kepada anak asuh.  Kami semua PK Madiun juga mengucapkan  terima kasih kepada Franciska yang sudah mengkoordinir kami selama 1 tahun ini. Dengan adanya pertemuan PJ dan penyerahan SK  diharapkan proses beasiswa berjalan dengan lancar dan semakin banyak anak Indonesia yang terbantu . Penulis : Dira Nuragista

Temu PK dan PJ Madiun Read More »

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

NAMA SAYA Yeni Puspitasari. Saya biasanya akrab dipanggil Yeni. Saya lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 13 September 1993. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun. Orang tua saya bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Sejak kecil, saya diasuh dan dibesarkan oleh nenek di kota Madiun. Orang tua saya harus pergi karena pekerjaan. Saya diasuh oleh nenek, karena kedua orang tua harus bekerja dan saat itu tidak mampu membayar babysitter untuk mengasuh saya. Alhasil, saya diasuh dan dibesarkan di desa bersama nenek hingga sekarang ini. Adik saya tinggal bersama orang tua di Sidoarjo, sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di Madiun bersama nenek, karena nenek tinggal di rumah sendirian. Tidak sampai hati rasanya jika harus meninggalkan seorang nenek yang sudah merawat saya sejak kecil tinggal di rumah seorang diri. Masa Sekolah Memasuki usia sekolah, mulanya saya bersekolah di TK Dharma Wanita Ngadirejo. Saat itu saya baru berusia 5 tahun. Namun, nenek sudah memasukkan saya ke sekolah. Lalu, saya bersekolah di SDN Ngadirejo 02. Kebetulan TK dan SD berada dalam satu lokasi yang sama dan lokasi sekolah tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya, kira-kira 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian, saya bersekolah di SMPN 1 Wonoasri. Jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, sekitar 5 km. Saat diumumkan kelulusan SMP dan dinyatakan lulus, saya mulai bimbang akan kemanakah saya melanjutkan sekolah. Saya benar-benar bingung antara SMA atau SMK. Saya berpikir, jika sekolah di SMA berarti harus kuliah, sedangkan biaya kuliah sangatlah mahal. Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke sekolah swasta, yaitu SMK PGRI Wonoasri dan mengambil jurusan Akuntansi. Sekolah tersebut terletak di tengah kota Caruban. Jarak sekolah dan tempat tinggal saya sekitar 11 km. Untunglah saat itu saya ada teman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga bisa sedikit meringankan biaya untuk membeli bensin. Seminggu sekali, kami bergantian untuk mengisi bensin. Waktu sekolah dulu, saya bersama sahabat saya pernah berjualan kacang bawang. Tiap pulang sekolah kami membuat kacang bawang dan besoknya kami titipkan ke warung-warung. Selain itu, saya juga berjualan pulsa untuk tambahan uang saku, karena jika mengandalkan uang saku dari orang tua sangatlah tidak cukup. Kelas XI saatnya melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Saya bersama ketiga teman mencari tempat untuk melakukan praktek. Hingga akhirnya, kami berempat diterima PSG di PLN Madiun selama 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dari mengarsipan data, entri data tusbung, melayani costumer, dll. Masa SMA pun segera berakhir. Sambil menunggu ijazah keluar, saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Madiun. Saya diterima di sana dan kontrak awal selama 3 bulan. Awalnya, saya merasa tidak sanggup bekerja selama 10 jam per hari, tapi saya berusaha memberi semangat pada diri saya bahwa saya pasti bisa. Satu bulan saya bekerja, ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan lagi. Akhirnya, saya menyetujuinya dan ayah mengusahakan untuk mencarikan biaya pendaftaran. Saya pun konsultasi dengan guru BK SMK. Menurut beliau, kampus Widya Mandala (WIMA) Madiun adalah kampus yang cukup baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di kampus UNIKA Widya Mandala Madiun dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua orangtua saya awalnya tidak setuju kalau saya kuliah di situ. Mereka ingin saya kuliah di perguruan tinggi lain yang ada di Madiun, tetapi saya tetap ingin kuliah di WIMA Madiun. Awal Mengenal AAT Jalan Tuhan memang indah. Jika saat itu saya ikut saran orangtua untuk kuliah di universitas lain, mungkin sekarang saya tidak akan mengenal AAT. Saya baru sadar mengapa saat itu saya kekeuh ingin kuliah di Wima, yaitu karena Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Hingga akhirnya, saya bisa mengenal yayasan yang begitu hebat, Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia. Pagi itu, tanggal 26 Agustus 2013 adalah hari di mana saya pertama kali mengenal Anak-Anak Terang (AAT). Awalnya, saya ke kampus hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi mendengar bahwa ada sosialisasi beasiswa AAT, saya dan teman saya Mbak Rike tertarik untuk mengikuti sosialisasi mengenal beasiswa AAT. Sebelumnya, saya sudah mendengar ada pengajuan beasiswa dan mahasiswa yang lolos seleksi beasiswa tersebut akan menjadi staf administrasi dan tugasnya adalah mengurus beasiswa untuk anak SD, SMP, dan SMA. Saya tidak mengajukan beasiswa AAT, karena pada saat itu saya sudah mendapat beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM). Beberapa teman mengatakan bahwa tidak hanya yang penerima beasiswa AAT saja yang bisa mengurus beasiswa untuk SD, SMP, dan SMA, tetapi yang tidak menerima beasiswa AAT pun boleh membantu. Mendengar hal seperti itu saya tertarik untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT. Saat memasuki ruangan tersebut, saya berkenalan dengan Mbak Chika dan Mbak Alma yang saat itu menjadi koordinator nasional. Saat Mbak Chika menanyakan apakah sudah membuka website-nya AAT, saya jawab belum. Karena saat itu yang saya tahu beasiswa AAT memberikan beasiswa kepada SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Saya belum melangkah lebih jauh sampai membuka website-nya AAT. Setelah Mbak Alma, Mbak Chika, Pak Christ, dan Pak Hadi menjelaskan kepada semua audience yang hadir, saya baru paham apa itu beasiswa AAT. Dari penjelasan mereka dan dari tanya jawab, saya semakin yakin untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT, karena kegiatan di AAT sangat positif. Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Setelah resmi bergabung bersama AAT, saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang sebelumnya belum saya kenal. Mereka semua baik dan kami saling bekerja sama, saling membantu, dan saling memberikan semangat. Menjadi staf administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem informasi Anak Asuh), bagaimana mengirim bukti transfer dan kuitansi setiap bulannya kepada donatur, dan bagaimana mengirim rapor anak asuh untuk donatur. Saat survei, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Ketika wawancara, saya mendengar cerita langsung dari calon anak asuh. Saya merasa sangat bersyukur atas kehidupan saya. Saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik di luar sana yang tidak seberuntung saya. Cerita dan perjuangan mereka semakin membuat saya bersyukur dan bersemangat untuk meraih cita-cita saya, untuk terus membantu sesame, dan terus melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekeliling saya dan tentunya untuk AAT. Menjadi Anak Asuh AAT Tahun ajaran

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Read More »

Be a Special Person in a Special Place

“Kemenangan adalah milik mereka yang tidak berhenti berjuang.” Mungkin kalimat itulah yang bisa mewakili perasaan saya saat ini. Perasaan senang, lega, puas, dan perasaan lain yang menunjukkan keberhasilan suatu perjuangan. Rabu, 8 Juli 2015, menjadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya bisa merasakan sidang skripsi. Dulu, bisa sekolah sampai SMK saja, saya sudah sangat bersyukur. Bisa merasakan lulus SMK saja, saya sudah sangat bahagia. Hari itu, saya berangkat ke kampus lebih awal. Saya yang biasanya telat, berusaha berangkat lebih pagi di hari itu. Sebelum berangkat, semuanya saya persiapkan sebaik mungkin. Empat copy-an skripsi dan satu file presentasi sudah siap. Baju dan jas almamater yang disetrika rapi, sepatu yang dilap bersih, sampai jilbab yang disemprot sedikit minyak wangi. Hari itu, saya harus menampilkan yang terbaik. Bisa merasakan sidang skripsi adalah hal yang luar biasa bagi saya. Jangankan sidang skripsi, kuliah saja menjadi hal yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Selama perjalanan, saya seolah diajak kembali pada peristiwa-peristiwa tujuh tahun silam tentang bagaimana perjuangan orang tua dan saya untuk bisa merasakan kebahagiaan hari ini. Perjuangan Dimulai Lahir dalam keluarga yang sangat sederhana memang bukan pilihan saya. Namun, hal itu tidak pernah saya sesali sedikit pun. Sebaliknya, saya sangat bersyukur karena keadaan tersebut membuat saya menjadi perempuan yang lebih kuat, tidak mudah mengeluh, dan tidak mudah menyerah. Sejak kecil, orang tua selalu mengajarkan sikap pantang menyerah pada saya. Ketika sudah memutuskan sebuah pilihan, kita harus memperjuangkannya sampai berhasil. Semuanya telah orang tua tunjukkan ketika kami harus memperjuangkan hidup. Orang tua yang bekerja seadanya, membuat kami juga hidup seadanya, makan seadanya, dan tinggal di rumah seadanya. Untuk bisa makan sehari-hari, orang tua saya harus bekerja keras. Karena itulah, pendidikan saya pun hampir terkorbankan. Dulu, saya hampir tidak melanjutkan sekolah ke SMK karena tidak memiliki biaya. Setelah kelulusan, saya menangis sejadi-jadinya di kamar karena takut tidak bisa melanjutkan sekolah. Melihat keinginan kuat saya untuk terus sekolah, membuat orang tua saya merasa iba dan berusaha keras mencarikan biaya. Bapak yang hanya sebagai tukang kebun dan Ibu yang hanya sebagai baby sitter berjuang mengumpulkan uang dan meminjam uang ke saudara agar saya tetap bisa sekolah. Sulitnya untuk bisa mengenyam pendidikan, membuat saya tidak malas belajar dan selalu mendapatkan prestasi yang baik di sekolah. Hingga lulus SMK, saya tetap mendapatkan nilai yang memuaskan. Melihat teman-teman saya banyak yang mendaftar ke perguruan tinggi, membuat saya ingin merasakan hal yang sama. Namun, saya menyadari bagaimana kondisi keuangan keluarga kami saat itu. Sehingga saya tidak berani mengungkapkan keinginan saya pada orang tua. Tapi, saya tidak bisa begitu saja mengubur keinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Saya memutar otak dan mencari cara agar bisa mewujudkan keinginan tersebut. Saya sempat berpikir untuk bekerja dulu ke luar negeri, menjadi TKI, agar bisa mendapatkan uang yang banyak untuk bisa kuliah. Namun, mendengar kontrak kerja yang cukup lama, saya membatalkannya. Dan akhirnya, saya memilih untuk bekerja di Jakarta. Selama di Jakarta, saya bekerja menjadi penjaga kasir di sebuah warung makan kecil, tepatnya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di sana, saya mengumpulkan uang untuk bisa kuliah. Setelah 7 bulan bekerja, uang terkumpul Rp 2.700.000,00 dan saya siap pulang untuk kuliah. Namun, ternyata biaya pendaftaran untuk kuliah saat itu sekitar 4 juta. Saya sedih, ternyata uang saya tidak cukup. Mau meminta orang tua, rasanya tidak tega. Mereka sudah terlalu banyak berkorban untuk saya. Lalu, seorang teman menyarankan untuk kuliah di Universitas Terbuka saja karena biayanya lebih murah. Namun, saya tetap bersikukuh untuk memilih Universitas Widya Mandala Madiun. Menurut teman yang sudah kuliah di sana, universitas tersebut merupakan universitas yang cukup bagus di Madiun. Akhirnya, dengan terpaksa saya bekerja lagi supaya uangnya bisa tercukupi. Keep Fight Kemudian, saya pun melamar kerja di sebuah pabrik seafood di Surabaya. Di sana, saya menjadi buruh pabrik dengan gaji Rp1.100.000,00 tiap bulannya. Dengan gaji pas-pasan itu, saya hanya bisa menyisihkan Rp200.000,00 tiap bulannya, karena saya harus membagi gaji tersebut untuk biaya makan sehari-hari dan biaya kos. Setahun kemudian, saya pulang dengan membawa uang sekitar Rp2.400.000,00. Jika digabung dengan gaji saya tahun sebelumnya, uang tersebut sudah cukup untuk biaya pendaftaran. Saya tidak peduli dengan biaya semester selanjutnya. Yang terpenting saat itu adalah saya bisa kuliah dulu. Masalah biaya selanjutkan bisa dicari lagi, entah bagaimanapun caranya. Begitulah yang saya pikirkan saat itu. Awal kuliah berjalan dengan lancar. Namun, memasuki semester dua saya mulai bingung dengan biaya kuliah. Saya kembali memutar otak supaya tetap bisa kuliah. Lalu, ibu pun mengantar saya untuk melamar kerja di warung makan di daerah Caruban. Di sana saya bisa bekerja paruh waktu, namun hanya di hari-hari tertentu saja. Gajinya memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa meringankan beban orang tua yang harus ikut membiayai kuliah saya. Demi bisa tetap kuliah, saya berusaha keras mencari biaya. Dari mulai bekerja paruh waktu, mengajukan beasiswa kurang mampu, mengisi les, sampai menjadi Liaison Organizer (LO) saat PORPROV JATIM telah saya lakukan. Bersyukur sekali pada saat semester tiga saya mendapatkan beasiswa kurang mampu selama satu semester. Semester lima dan enam saya mendapat beasiswa prestasi dan di semster tujuh sampai delapan mendapatkan beasiswa dari Yayasan Anak-Anak Terang. Be a Special Person in a Special Place Saya sangat bersyukur bisa kuliah di Unika Widya Mandala Madiun. Di universitas tersebut, saya mendapatkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Selama kuliah, saya tidak hanya belajar untuk mendapatkan ilmu, tapi juga belajar bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan kita. Sama seperti semboyan Unika Widya Mandala Madiun yang berbunyi, “Non scholae sed vitae discimus” yang berarti kita belajar bukan hanya untuk ilmu tapi juga untuk kehidupan. Di sana, kita tidak hanya belajar teori saja, tapi juga belajar bagaimana menjadi seorang yang humanis, yang memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, yang mengabdi untuk kepentingan sesama. Selain itu, di sana saya juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Saya bisa merasakan pengalaman menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), bisa merasakan menjadi Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), bisa ikut banyak kegiatan kampus yang positif. Dan di sana juga, tempat saya pertama mengenal Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia, yayasan yang sudah memberi saya beasiswa

Be a Special Person in a Special Place Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 duta76 aws interaksi lucky neko preferensi pemain aws momentum simbol mahjong scatter merah aws riset mahjong scatter emas tren rtp aws spin auto mahjong grid simbol aws symbol stutter multiplier olympus aws analisa putaran wild bandito otomatisasi aws analisis statistik simbol ekspektasi data aws analogi spin otomatis putaran konsisten aws data spin rng pgsoft aws data starlight princess analisis scatter aws evaluasi rtp live data historis aws jeda spin mahjong wins bonus aws koi gate scatter tanpa pola aws pemetaan putaran pgsoft algoritma aws rtp terbaru target logis pemain mahjong ways trik rahasia kemenangan pola baru mahjong strategi amhjong strategi unggul mahjong strategi mahjong ways pg soft rahasia suhu rahasia pg soft sensasi main mahjong ways 2 visual manja mahjong ways terbaru animasi cara baca simbol transisi mahjong ways 2 rahasia dimensi waktu hasil mahjong wins 3 pola mahjong agresif bonus besar tanpa hoki strategi mahjong agresif banjir bonus terbaru rumus sakti mahjong ways 2 pola gacor bocoran eksklusif mahjong ways 2 indikator live update analisis mahjong ways 2 waktu main cara kerja tumble mahjong ways kombinasi beruntun transformasi sesi transisi layer algoritma gates of olympus pemodelan scatter hitam mahjong wins keputusan arena premium dinamika wild merah mahjong ways 2 fase krusial kajian struktur pola mahjong wins 3 ketahanan sesi digital fenomena perilaku mahjong wins 3 observasi pakar analis analisis rtp tinggi abc1131 jam richard mille bonus hasil jutaan mahjong wins indonesia 2026 komunitas bandung indikator terbatas abc1131 abc1131 akuisisi mahjong wins 3 indonesia lokal analisa eksekutif peluang sicbo pola mahjong wild deluxe rtp live jitu gates of olympus duta76 kalkulasi silang analisa peluang baccarat pola mahjong ways 2 pgsoft taktik rtp live starlight princess duta76 makro strategi profit integrasi taktik blackjack analisa peluang pola mahjong wins 3 teknik rtp live sweet bonanza duta76 taktik paradoks sinkronisasi peluang dadu sicbo rtp live gates of olympus strategi mahjong wild deluxe matriks probabilitas sinkronisasi strategi baccarat teknik baca rtp live starlight princess pola mahjong ways 2 pgsoft anatomi keuntungan sinkronisasi strategi blackjack analisa pola mahjong wins 3 pragmatic teknik rtp live sweet bonanza aws ai koi gate scatter analisis aws gates olympus multiplier akses stabil aws konsistensi mahjong pendekatan perilaku aws lonjakan pemain rtp mahjong data aws mahjong kestabilan uji performa tren aws metode lucky neko pola digital aws performa koi gate analisis objektif aws riset komunitas mahjong rtp lonjakan aws validasi sweet bonanza pola rtp aws wild bandito manajemen risiko sistematis gates of olympus vs mahjong ways 1 mobil sport rekor tertinggi scatter hitam mahjong wins 3 sorotan hasil 2026 indikator tinggi abc1131 pemodelan topografi digital mahjong ways 2 mobile sinergi indikator balikan mahjong ways pasar saham adaptasi algoritma rekomendasi mahjong ways beranda dampak multitasking browser visibilitas mahjong ways strategi mahjong ways 2 ekonomi perhatian 2026 evolusi preferensi gen z strategi mahjong ways kalkulasi probabilitas berantai mahjong ways 2 aws analitik realtime lucky neko trik aws data algoritma koordinat scatter presisi aws ekspektasi realistis lucky neko konsistensi aws formula mahjong perubahan spin otomatis aws interval spin malam scatter hitam aws investigasi pola starlight multiplier terstruktur aws mindset pengguna rtp komunitas dampak aws optimasi update mahjong risiko stabil aws perhitungan waktu algoritma wild bandito aws transformasi rtp stabil data historis rahasia symbol stutter gates of olympus multiplier ekspektasi target statistik prediksi simbol navigasi ritme terpadu wild merah mahjong ways 2 arsitektur grid komputasional mahjong ways 2 fondasi navigasi sistem sinkronisasi grid metode prediksi numerik scatter hitam april 2026 logika algoritma pragmatic play black scatter akselerasi putaran strategis super scatter hitam ketahanan sesi digital mahjong wins 3 manajemen kontrol emosi kecepatan putaran mahjong wins