AAT Madiun

Key of Life

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”  Hadits Rasulullah SAW itulah yang selalu membuat saya semangat untuk terus berbuat baik pada sesama. Begitu pun ketika memutuskan untuk bergabung menjadi relawan AAT, tepat pada tanggal 25 Agustus tahun lalu. Saat itulah saya memutuskan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk yayasan yang peduli pendidikan di Indonesia itu. Tidak terasa, dua tahun sudah saya menjadi bagian dari keluarga besar AAT. Ya, keluarga besar dengan semangat kepedulian yang tinggi. Begitu banyak pengalaman, ilmu, dan pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan. Tak ubahnya sebuah keluarga, saya mendapatkan curahan kasih dan perhatian dari saudara-saudara di AAT. Mereka selalu menawarkan tangan ketika saya membutuhkan pertolongan dan menawarkan bahu ketika sedang kesusahan. Padahal, niat pertama saya ketika bergabung bersama AAT adalah untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran saya untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Karena saya tahu, saya adalah bagian dari mereka. Saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Susahnya membayar uang sekolah, susahnya membeli buku-buku pelajaran, bahkan sampai susahnya membeli jajan ketika bel istirahat berbunyi. Saat di mana anak-anak bersorak untuk segera mengisi perut setelah mengikuti pelajaran. Memang, saya belum bisa membantu mereka secara finansial. Karena saat ini pun, saya masih dalam perjuangan. Berjuang untuk terus bisa mengenyam pendidikan. Namun, dengan segala kekurangan saya, saya masih ingin memberi manfaat bagi mereka. Melalui AAT, saya bisa berbagi sedikit tenaga dan pikiran saya untuk membantu pengelolaan beasiswa yang diberikan pada anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, sampai SMA/SMK. Rasa syukur selalu saya ucapkan ketika tangan saya masih dibolehkan untuk membantu sesama. Lebih bersyukur lagi ketika saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan anak asuh maupun calon anak asuh ketika survei dan wawancara. Survei dan wawancara langsung adalah salah satu prosedur penerimaan beasiswa AAT. Hal itu supaya donasi AAT tidak salah sasaran dan anak yang dibantu benar-benar anak yang membutuhkan.   AAT tidak pernah membedakan dalam membantu. Agama apapun, suku apapun, daerah manapun, jika memang membutuhkan pasti dibantu. Semua itu menginspirasi saya untuk terus peduli tanpa membeda-bedakan. Relawan, pengurus, maupun donatur AAT pun juga berasal dari berbagai agama, suku, dan daerah. Bahkan donaturnya juga ada yang berasal dari luar Indonesia. Semua bahu-membahu menyelamatkan pendidikan di Indonesia. Sungguh, saya bersyukur menjadi bagian dari mereka. Mereka telah mengajarkan kepada saya tentang kekuatan berbagi dan peduli. Sesungguhnya, semangat berbagi dan peduli sudah ditanamkan dalam diri saya sejak kecil. Kedua orang tua sayalah yang dengan sabar menanam dan merawat benih kepedulian dalam diri saya. Sejak saya kecil, orang tua saya selalu mengajarkan saya untuk mau berbagi, sekalipun kami dalam kekurangan. “Sekecil apapun rezeki, harus disisihkan untuk sesama.” Awalnya saya kesal. “Kita saja dalam kesusahan, kenapa masih harus berbagi?” pertanyaan dalam hati ini tidak pernah mendapatkan jawaban dari orang tua saya. Selama bertahun-tahun mereka mengajarkan kepada saya untuk terus berbagi. Bukan dengan kalimat-kalimat motivasi maupun kata-kata mutiara, namun dengan tindakan langsung tanpa memberitahu apa maksudnya. Dari mulai berbagi makanan, beras, air minum, pakaian, bahkan uang satu-satunya pun akan mereka berikan jika orang lain memang lebih membutuhkan. Semua itu mereka lakukan, mereka ajarkan kepada saya, sampai saat ini. Hingga suatu hari, tepat di tanggal 12 Juli 2014, saya menyaksikan sendiri. Seorang perempuan yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji sekitar Rp 400.000,00 per bulan, menyerahkan sebagian uangnya untuk empat orang nenek-nenek. Perempuan itu menyerahkan uang Rp 100.000,00 kepada salah satu nenek dan meminta nenek itu untuk membaginya dengan tiga nenek yang lain. Semua terjadi di depan mata saya. Saya melihat langsung sebuah pelajaran yang sangat berharga. Meskipun hidupnya berkekurangan, perempuan itu tidak pernah lelah untuk berbagi. Baginya, untuk bisa berbagi, tidak harus menunggu kaya dahulu. Sekarang, saat ini juga, kita bisa melakukannya. Dan saat itu, saya hanya bisa tersenyum bangga disela tetesan airmata. Karena perempuan itu adalah ibu saya. Perempuan yang selama ini mengajarkan saya untuk berbagi dan peduli. Mengajarkan saya untuk selalu menawarkan tangan untuk membantu sesama. Hingga saya pun menemukan jawaban atas kegundahan hati saya. “Hidup kita memang selayaknya untuk orang lain. Tangan kita, kaki kita, semua Tuhan ciptakan untuk menolong sesama. Menjadi manfaat, menjadi berkat, adalah kunci bahagia kita.”   Rike Kotikhah* Relawan AAT Sekretariat Madiun  *Rike Kotikhah adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2011. Merupakan relawan AAT sekaligus salah satu anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi.   [qrcode content=”https://aat.or.id/key-of-life” size=”175″]  

Key of Life Read More »

Akhirnya Mimpi Saya menjadi Nyata

NAMA SAYA Tiara Riszky Ananda, kelahiran Madiun 17 Maret 1993. Saya merupakan salah satu anak asuh Perguruan Tinggi AAT dari Universitas Katolik Widya Mandala Madiun yang baru saja lulus dan diwisuda. Saya bergabung dengan AAT dan dibantu para bapak/ibu donatur AAT sejak 24 Agustus 2013. Saat itu saya sedang belajar di Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi semester V. Sejak 24 Agustus 2013, saya juga dipercayai untuk menjadi Koordinator AAT Madiun selama satu periode, yaitu pada tahun 2013-2014. Bersama dengan teman-teman pendamping komunitas sekretariat AAT Madiun, kami mengelola sekretariat AAT Madiun dengan ratusan anak asuh yang tersebar di sekolah/komunitas Se-Eks Karesidenan Madiun. Dalam mengelola beasiswa, kami juga didampingi para pendamping rohani, yaitu Br. Yakobus CSA, Br. Alex CSA, dan Br. Neri CSA, serta Bapak Bernadus Widodo M.Pd. selaku penanggungjawab sekretariat AAT Madiun. Kemudian, pada tanggal 21 September 2014, saat Rapat Pengurus Yayasan AAT Indonesia, saya dipercayai kembali untuk menjadi Koordinator Nasional Relawan AAT untuk tahun ajaran 2014-2015. Mimpi saya untuk menyelesaikan pendidikan S1 Akuntansi sebelum waktunya, yaitu dengan 3,5 tahun adalah mimpi saya sejak awal masuk perkuliahan. Saya ingin segera meringankan beban kedua orang tua saya dan segera bekerja. Untuk mencapai keinginan saya itu, setiap semesternya saya berusaha untuk mendapatkan IPK di atas 3,00. Dengan begitu, saya bisa mengambil mata kuliah di atas tingkatan saya. Tidak hanya hardskill saja yang saya tekuni, tetapi di Widya Mandala Madiun saya juga belajar untuk melatih softskill saya. Dan pada 28 Februari 2015, doa saya terjawab. Saya berhasil menyelesaikan kuliah S1 saya dengan masa studi 3,5 tahun dan berhasil menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Terimakasih kepada para sahabat AAT yang telah membantu biaya kuliah saya. Berkat bantuan dari Bapak/Ibu Donatur AAT, saya bisa melanjutkan dan menyelesaikan kuliah saya sebelum waktunya. Terima kasih untuk dukungan semangat dan doa yang telah diberikan para sahabat AAT. Terimakasih untuk pendampingan yang diberikan kepada saya selama ini. Terima kasih atas pengalaman dan kesempatan yang luar biasa yang telah diberikan kepada saya untuk menjadi salah satu Anak Asuh AAT, menjadi Pendamping Komunitas, menjadi Koordinator AAT Madiun, menjadi Koordinator Nasional Relawan AAT, dan menjadi bagian dari keluarga besar AAT. Untuk kedepannya, saya ingin menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk membantu adik-adik asuh di AAT, sesuai dengan visi Beasiswa PT dari AAT, yaitu Pay it Forward! Harapan saya, makin banyak anak-anak SD, SMP, SMA/SMK, dan mahasiswa yang dapat dibantu oleh AAT. Untuk 46 Anak Asuh AAT tingkat perguruan tinggi yang lainnya, tetap semangat untuk menyelesaikan kuliah, ya. Kejar semua cita-cita yang kalian inginkan dan yakinlah semua akan bisa tercapai dengan kerja keras dan doa tentunya. Tangan Tuhan tidak akan bekerja jika tangan manusia tidak bekerja. Just do it and do your best! Terima kasih AAT.   Tiara Riszky Ananda Koordinator Relawan AAT Nasional   [qrcode content=”https://aat.or.id/akhirnya-mimpi-saya-menjadi-nyata” size=”175″]  

Akhirnya Mimpi Saya menjadi Nyata Read More »

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

NAMA SAYA YENI PUSPITASARI. Saya biasanya akrab dipanggil Yeni. Saya lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 13 September 1993. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun. Orang tua saya bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Sejak kecil, saya diasuh dan dibesarkan oleh nenek di kota Madiun. Orang tua saya harus pergi karena pekerjaan. Saya diasuh oleh nenek, karena kedua orang tua harus bekerja dan saat itu tidak mampu membayar babysitter untuk mengasuh saya. Alhasil, saya diasuh dan dibesarkan di desa bersama nenek hingga sekarang ini. Adik saya tinggal bersama orang tua di Sidoarjo, sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di Madiun bersama nenek, karena nenek tinggal di rumah sendirian. Tidak sampai hati rasanya jika harus meninggalkan seorang nenek yang sudah merawat saya sejak kecil tinggal di rumah seorang diri. Masa Sekolah Memasuki usia sekolah, mulanya saya bersekolah di TK Dharma Wanita Ngadirejo. Saat itu saya baru berusia 5 tahun. Namun, nenek sudah memasukkan saya ke sekolah. Lalu, saya bersekolah di SDN Ngadirejo 02. Kebetulan TK dan SD berada dalam satu lokasi yang sama dan lokasi sekolah tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya, kira-kira 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian, saya bersekolah di SMPN 1 Wonoasri. Jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, sekitar 5 km. Saat diumumkan kelulusan SMP dan dinyatakan lulus, saya mulai bimbang akan kemanakah saya melanjutkan sekolah. Saya benar-benar bingung antara SMA atau SMK. Saya berpikir, jika sekolah di SMA berarti harus kuliah, sedangkan biaya kuliah sangatlah mahal. Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke sekolah swasta, yaitu SMK PGRI Wonoasri dan mengambil jurusan Akuntansi. Sekolah tersebut terletak di tengah kota Caruban. Jarak sekolah dan tempat tinggal saya sekitar 11 km. Untunglah saat itu saya ada teman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga bisa sedikit meringankan biaya untuk membeli bensin. Seminggu sekali, kami bergantian untuk mengisi bensin. Waktu sekolah dulu, saya bersama sahabat saya pernah berjualan kacang bawang. Tiap pulang sekolah kami membuat kacang bawang dan besoknya kami titipkan ke warung-warung. Selain itu, saya juga berjualan pulsa untuk tambahan uang saku, karena jika mengandalkan uang saku dari orang tua sangatlah tidak cukup. Kelas XI saatnya melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Saya bersama ketiga teman mencari tempat untuk melakukan praktek. Hingga akhirnya, kami berempat diterima PSG di PLN Madiun selama 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dari mengarsipan data, entri data tusbung, melayani pelanggan, dll. Masa SMA pun segera berakhir. Sambil menunggu ijazah keluar, saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Madiun. Saya diterima di sana dan kontrak awal selama 3 bulan. Awalnya, saya merasa tidak sanggup bekerja selama 10 jam per hari, tapi saya berusaha memberi semangat pada diri saya bahwa saya pasti bisa. Satu bulan saya bekerja, ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan lagi. Akhirnya, saya menyetujuinya dan ayah mengusahakan untuk mencarikan biaya pendaftaran. Saya pun konsultasi dengan guru BK SMK. Menurut beliau, kampus Widya Mandala (WIMA) Madiun adalah kampus yang cukup baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di kampus UNIKA Widya Mandala Madiun dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua orangtua saya awalnya tidak setuju kalau saya kuliah di situ. Mereka ingin saya kuliah di perguruan tinggi lain yang ada di Madiun, tetapi saya tetap ingin kuliah di WIMA Madiun. Awal Mengenal AAT Jalan Tuhan memang indah. Jika saat itu saya ikut saran orangtua untuk kuliah di universitas lain, mungkin sekarang saya tidak akan mengenal AAT. Saya baru sadar mengapa saat itu saya bersikeras ingin kuliah di Wima, yaitu karena Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Hingga akhirnya, saya bisa mengenal yayasan yang begitu hebat, Yayasan AAT Indonesia. Pagi itu, tanggal 26 Agustus 2013 adalah hari di mana saya pertama kali mengenal Anak-anak Terang (AAT). Awalnya, saya ke kampus hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi mendengar bahwa ada sosialisasi beasiswa AAT, saya dan teman saya Mbak Rike tertarik untuk mengikuti sosialisasi mengenal beasiswa AAT. Sebelumnya, saya sudah mendengar ada pengajuan beasiswa dan mahasiswa yang lolos seleksi beasiswa tersebut akan menjadi staf administrasi dan tugasnya adalah mengurus beasiswa untuk anak SD, SMP, dan SMA. Saya tidak mengajukan beasiswa AAT, karena pada saat itu saya sudah mendapat beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM). Beberapa teman mengatakan bahwa tidak hanya yang penerima beasiswa AAT saja yang bisa mengurus beasiswa untuk SD, SMP, dan SMA, tetapi yang tidak menerima beasiswa AAT pun boleh membantu. Mendengar hal seperti itu saya tertarik untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT. Saat memasuki ruangan tersebut, saya berkenalan dengan Mbak Chika dan Mbak Alma yang saat itu menjadi koordinator nasional. Saat Mbak Chika menanyakan apakah sudah membuka situs web AAT, saya jawab belum. Karena saat itu yang saya tahu beasiswa AAT memberikan beasiswa kepada SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Saya belum melangkah lebih jauh sampai membuka website-nya AAT. Setelah Mbak Alma, Mbak Chika, Pak Christ, dan Pak Hadi menjelaskan kepada semua audience yang hadir, saya baru paham apa itu Beasiswa AAT. Dari penjelasan mereka dan dari tanya jawab, saya semakin yakin untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT, karena kegiatan di AAT sangat positif. Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Setelah resmi bergabung bersama AAT, saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang awalnya belum saya kenal. Mereka semua baik dan kami saling bekerja sama, saling membantu, dan saling memberikan semangat. Menjadi staf administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem informasi Anak Asuh), bagaimana mengirim bukti transfer dan kuitansi setiap bulannya kepada donatur, dan bagaimana mengirim rapor anak asuh untuk donatur.   Saat survei, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Ketika wawancara, saya mendengar cerita langsung dari calon anak asuh. Saya merasa sangat bersyukur atas kehidupan saya. Saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik di luar sana yang tidak seberuntung saya. Cerita dan perjuangan mereka semakin membuat saya bersyukur dan bersemangat untuk meraih cita-cita saya, untuk terus membantu sesama, dan terus melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekeliling saya dan tentunya untuk AAT. Menjadi Anak Asuh AAT Tahun ajaran

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Read More »

AAT Membawa Terang dalam Hidupku

SATU SETENGAH TAHUN aku berkecimpung di AAT. Berkat beasiswa AAT inilah aku bisa kuliah sampai sekarang. AAT yang telah membiayai kuliahku dari semester 3 kemarin. Dulu, sebelum aku dibiayai AAT, orang tuaku harus menggadaikan cengkeh dan menjual anak sapi yang didapat setelah bertahun-tahun memelihara induknya dari saudaraku. Dan sekarang, aku bersyukur sekali kuliahku sudah dibiayai AAT. Berkat AAT, beban ekonomi yang ditanggung oleh orangtuaku sudah tidak seberat dulu. Terkadang, orang tuaku menjual kayu atau pinjam ke saudara untuk biaya hidup sehari-hari, karena ibuku sudah tidak bekerja lagi. Sekarang, ibu hanya mengurusi sawah dan ladang bersama bapak, serta cari daun cengkeh dan rempah–rempah untuk dijual. Selama 1,5 tahun juga, aku ditunjuk sebagai bendahara AAT sekretariat Madiun. Jujur, tidaklah mudah menjadi seorang bendahara yang harus mengurusi uang. Bahkan, kalau sampai salah hitung, aku bisa pusing yang akhirnya terlambat untuk mengirim laporan ke pusat. Tapi semuanya kulakukan, karena tugas sebagai bendahara tidak seberat pengorbanan dari para pengurus yang rela meluangkan waktunya untuk AAT. Selain sebagai bendahara, aku juga sebagai salah satu tim public relations. Di sini aku banyak belajar mengenal orang yang tak dikenal, yang akhirnya menjadi kenal. Di tim ini aku bertugas posting di fanpage AAT sesuai jadwal masing-masing. Ketika melihat data anak asuh di SIANAS (Sistem Informasi Anak asuh) angkanya berkurang, saya merasa sangat senang, karena ada yang membantu mereka. Mereka dapat melanjutkan sekolahnya berkat para donatur yang baik hati. Rasa malas untuk posting terkadang datang menghinggap. Tapi perasaan itu segera hilang ketika ingat perjuangan para pengurus yang rela meluangkan waktu untuk posting setiap hari demi mencari donatur untuk adik-adik yang membutuhkan. Berkat AAT juga aku merasa lebih bersyukur. Saat rapat public relations 2014 lalu, sebelum pulang, aku, Mbak Rike, dan Mbak Tiara yang diantar oleh Om Adhi dan Pak Greg mampir ke Panti Asuhan Cacat Ganda Semarang. Di situlah seolah aku merasakan tamparan atas kurang syukurku selama ini yang selalu memandang ke atas. Rasa trenyuh, sedih, terharu, bercampur aduk menjadi satu. Di sana aku melihat banyak anak-anak yang dengan kondisi berkekurangan. Mereka tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri layaknya orang-orang normal pada umumnya. Mereka harus dibantu oleh para perawat. Sedangkan aku? Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Aku membayangkan, bagaimana jika aku menjadi mereka? Apa aku bisa seperti sekarang ini? Semua itu membuat aku sangat merasa bersyukur atas pemberian Tuhan selama ini. Aku masih beruntung dibandingkan dengan mereka. Karena Tuhan masih memberikan indra yang lengkap untukku. Dulu, di awal menerima beasiswa AAT, jujur aku pernah berpikir untuk keluar atau mengundurkan diri. Kenapa? Karena aku takut. Aku bingung, karena saat itu langsung ditunjuk sebagai salah satu Pendamping Komunitas (PK) di SDK dan SMPK Santo Yusuf Madiun. Kenapa harus aku yang duluan? Apa aku bisa? Berhari-hari aku memikirkan hal itu. Aku tidak punya teman yang kenal saat pertama kali penerimaan beasiswa. Bahkan, sama Andika yang satu kelas saja aku tidak begitu akrab. Apalagi sama yang lainnya. Tapi akhirnya semua aku jalani saja. Ternyata, tidak seberat yang aku pikirkan. Sungguh pilihan yang bodoh kalau aku dulu benar-benar keluar dari AAT hanya karena hal sepele. Kemungkinan besar, tidak akan pernah ada yang berubah dalam hidupku. Bahkan, bisa jadi aku tidak akan operasi sampai aku tua. Dan di AAT, apa yang aku dapatkan? Banyak sekali. Pengalaman yang begitu berharga yang tidak aku dapatkan di luar AAT. Berawal dari “penculikan” tak terduga di Kaliurang bulan April kemarin yang membuat aku berani operasi, sampai pada perubahan-perubahan hidup yang saya alami sampai sekarang. Sesaat, aku jadi jera gara-gara operasi tahap dua. Tapi aku berpikir lagi, “Aku sudah melewati dua tahap, sayang sekali kalau aku harus berhenti sampai di sini. Aku harus melanjutkan operasi sampai terapi.” Dan akhirnya, aku memutuskan untuk operasi tahap ketiga. Bahkan, kalau ada tahap-tahap selanjutnya akan aku lakukan sampai hasil terbaik. Dulu, aku tidak sampai berpikir sampai sejauh ini. Semua itu berkat AAT. Bagiku, AAT adalah keluarga besar. Keluarga yang memberikan cinta dan kasih sayang yang luar biasa. Meskipun kami berasal dari berbagai agama, daerah, suku dan ras, namun aku benar-benar menemukan cinta yang begitu besar di AAT. Sebuah organisasi yang berhasil membuat diriku berubah. Di AAT juga aku bisa mengenal banyak orang. Banyak teman dari Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Malang, Padang, dan Pontianak. Aku juga bersyukur, karena di AAT inilah aku bisa mengenal para pengurus dan sebagian donatur yang bergabung di AAT. Semuanya membuatku lebih bersemangat. Mereka adalah inspirasiku. Aku telah banyak belajar dari mereka. Begitu banyak pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan di AAT. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk donatur baik hati yang telah bersedia membayai kuliahku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan beliau yang telah membiayai kuliahku. Semoga suatu saat ini aku bisa bertemu dengan beliau.Dan terimakasih juga untuk Pak Hadi, Pak Christ, Kak Can Santi Widya, Pak Marcel, Mami Can Lies Endjang, Om Adhi, Pak Greg, Bruder, dan semuanya atas pelajaran yang sangat berharga. Semuanya membuat perubahan dalam hidupku, sehingga menjadikan Emy yang sekarang. Yang sedikit demi sedikit mulai bermetamorfosis. Semua itu berkat orang-orang hebat yang aku kenal di AAT. Semua hal yang ada di AAT begitu memberi arti dalam hidupku. Memberi warna dalam setiap langkahku. AAT-lah pembawa terang dalam hidupku.   Emy Prihatin* Relawan AAT Sekretariat Madiun *Emy merupakan mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2012. Emy adalah salah satu anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi yang ditunujuk sebagai bendahara AAT sekretariat Madiun.   [qrcode content=”https://aat.or.id/aat-membawa-terang-dalam-hidupku” size=”175″]  

AAT Membawa Terang dalam Hidupku Read More »

Bersyukur dalam Kesederhanaan

Saya Fitri Astutik. Saya lahir di Madiun, 22 Juli 1994. Biasanya saya dipanggil dengan sebutan Fitri. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakak saya perempuan. Kakak pertama bernama Suprihatin dan kakak kedua bernama Sumiati. Kedua kakak saya sudah menikah, tetapi kakak yang kedua telah bercerai. Sejak kecil, saya tinggal di Madiun, tepatnya di Desa Sidorejo RT.15 Rw. 02 Jln. Semeru, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Walaupun saya berbeda agama dengan orang tua saya, tapi hubungan saya dengan orang tua tetap baik. Uang saku saya setiap harinya Rp 10.000. Uang tersebut saya gunakan untuk membeli bensin dan sisanya untuk di rumah. Tetapi, kadang uang saku saya Rp 7.000, yang hanya cukup untuk membeli bensin. Pada saat liburan kelulusan sekolah, saya bekerja di pasar besar Kota Madiun. Tepatnya di toko “Sari Warna”, yaitu toko yang menjual pakaian dan kain dengan gaji Rp 300.000. Gaji tersebut untuk membeli kebutuhan saya seperti baju dan lain-lainya. Saya bersyukur sekali pada Tuhan. Apapun yang saya butuhkan, Tuhan selalu mencukupinya walaupun saya harus melewati berbagai rintangan dahulu. Saya harus kuat, karena semua adalah rencana Tuhan yang pasti indah pada waktunya Bersepeda Onthel  Supardi adalah bapak saya. Saat ini, bapak berusia 55 tahun. Bapak seorang muslim. Beliau bekerja di Pabrik Gula “Kanigoro” Madiun di bagian conto. Tugas bapak adalah mengangkut tebu yang akan dibawa ke pabrik. Dengan sepeda onthel kesayangannya, bapak penuh semangat mengangkut tebu-tebu itu. Meskipun jaraknya hingga 15 km, tiada sedikit pun kata menyerah baginya. Saya begitu terharu dengan perjuangan bapak. Hingga saya pun bertekad untuk terus melakukan yang terbaik dan tidak ingin sedikitpun mengecewakannya. Penghasilan bapak di pabrik Rp 30.000 per hari, tapi kerjanya tidak menentu. Selain bekerja di pabrik, bapak juga bekerja sebagai buruh bersih-bersih di rumah orang dengan penghasilan Rp 40.000. Itupun juga kalau ada orang yang menyuruh. Jika dijumlahkan semua, penghasilan bapak sekitar Rp 900.000 per bulan. Bulan ini, bapak sudah mulai pensiun. Dan pastinya, keadaan ekonomi keluarga semakin memburuk. Namun, bapak tidak menyerah. Untuk tetap bisa menopang ekonomi keluarga, bapak tetap bekerja sebagai buruh kebun maupun buruh rumah tangga. Ibu Berhenti Bekerja Nama ibu saya Martoyah. Beliau seorang buruh pengupas tebu. Tetapi itu bukan pekerjaan tetap. Beliau bekerja di musim-musim tertentu saja. Sudah 3 bulan ini ibu tidak lagi bekerja sebagai buruh pengupas tebu. Hal itu karena sudah tidak ada panggilan kerja dari pabrik. Akhirnya, ibu menganggur. Sama seperti bapak, ibu juga berusia 55 tahun. Tidak tahan menganggur, akhirnya ibu bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp 17.000 sehari. Uang tersebut untuk membantu kebutuhan makan 5 anggota keluarga kami. Penghasilan bapak dan ibu yang tidak menentu digunakan untuk membayar listrik, biaya kuliah, biaya air PDAM, serta untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Sebisa mungkin, orang tua saya mencarikan uang untuk anak-anaknya. Orang tua saya tidak mau kalau anaknya kesusahan. Namun, di satu sisi saya juga kasihan pada orang tua yang bekerja setiap hari tanpa mengenal lelah. Rasanya ingin sekali segera lulus dan membantu ekonomi keluarga. Mengenal AAT Pada saat itu, di papan pengumuman Program Studi Manajemen, saya melihat ada pengumuman tentang sosialisasi suatu beasiswa. Saya tidak tahu beasiswa apa yang akan disosialisasikan. Lalu, saya pun datang dan berkumpul di auditorium Unika Widya Mandala Madiun untuk mendengarkan sosialisasi beasiswa tersebut. Ternyata, beasiswa itu adalah beasiswa dari AAT. Sosialisasi disampaikan oleh Bapak Bernardus Widodo selaku Wakil Rektor III. Beliau menjelaskan bagaimana cara pengajuan dan persyaratan beasiswa AAT. Akhirnya, saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan Beasiswa AAT tersebut. Saat wawancara, saya merasa takut dan cemas. Apa yang akan ditanyakan oleh bruder yang mewawancarai saya nanti? Rasa penasaran menyelimuti pikiran saya. Bersyukur dalam Kesederhanaan Setelah cukup lama diwawancarai, akhirnya rangkaian proses seleksi sudah terpenuhi. Mulai wawancara, sampai diumumkan yang menerima beasiswa AAT. Dari sekitar 50 anak yang mendaftar, terpilihlah 10 mahasiswa yang diterima. Dan saya adalah salah satu yang beruntung mendapatkannya. Seketika itu, saya bersyukur pada Tuhan. Tuhan telah membuktikan bahwa semua memang indah pada waktunya. Ketika itu, saya dan keluarga kebingungan untuk memperoleh uang untuk biaya kuliah semester 3. Puji Tuhan, dari Beasiswa AAT ini saya bisa membiayai kuliah saya. Tanpa rencana Tuhan melalui Beasiswa AAT ini, mungkin saya tidak dapat membiayai kuliah dan kebingungan mencari dana. Sebagai penerima Beasiswa AAT, saya juga diberi beberapa tanggung jawab. Salah satu tanggung jawab tersebut adalah melakukan  survei dan wawancara di sekolah-sekolah. Kegiatan ini adalah pengalaman pertama saya. Awalnya saya merasa takut, karena belum pernah mewawancarai anak SMA, SMP, dan SD. Dari beberapa anak yang saya wawancarai, saya mulai tahu berbagai kondisi keluarga calon anak asuh. Meskipun dalam kekurangan, mereka tidak patah semangat untuk meraih pendidikannya. Waktu wawancara di daerah Ponorogo, ada salah satu anak SMP yang rumahnya jauh dari sekolah. Dia berjalan kaki dari rumah ke sekolah yang jaraknya antara 6 sampai 7 km. Kondisi keluarganya serba terbatas. Tetapi mereka tetap bersemangat belajar dan meraih cita-cita mereka. Itu yang membuat saya bersemangat membantu mereka yang membutuhkan. Saya ingin lebih peduli dengan sesama. Melalui AAT, saya mendapatkan banyak pembelajaran hidup. Saya menjadi semakin bersyukur dalam kesederhanaan hidup. Berkat AAT pula, kini saya tahu bagaimana berorganisasi dan bagaimana bertanggung jawab dalam mengemban tugas. Terima kasih AAT. Terima kasih sudah membantu dalam pembiayaan kuliah saya dan memberikan saya limpahan pengalaman yang membuat saya semakin kuat dan semakin banyak bersyukur. “Semoga, AAT lebih maju dalam membantu pendidikan anak-anak kurang mampu. Agar lebih banyak lagi senyum-senyum yang terkembang di wajah mereka, putra-putri penerus bangsa.”   Fitri Astutik Staf Admin AAT Madiun   *Fitri Astutik adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, angkatan 2012.   [qrcode content=”https://aat.or.id/bersyukur-dalam-kesederhanaan” size=”175″]  

Bersyukur dalam Kesederhanaan Read More »

Kampus Tak Sekedar Tempat Kuliah

Nama saya Retno Agustin. Usia saya sekarang ini menginjak 22 tahun. Saat ini, saya kuliah di Unika Widya Mandala Madiun atau WIMA Madiun, mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Di rumah, saya tinggal bersama kedua orang tua saya dan satu kakak perempuan yang sekarang juga menempuh pendidikan S1. Waktu itu, di tahun 2010, saya lulus SMK Jurusan Akuntansi. Namun, saya tidak langsung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena biaya yang terbatas dan kakak saya juga harus membayar kuliah. Akhirnya, saya mencoba bekerja menjadi SPG di salah satu pusat perbelanjaan selama 1 tahun. Hingga tahun 2011, saya memutuskan untuk masuk ke Unika Widya Mandala Madiun. Awalnya, saya berminat untuk kuliah di jurusan seni atau olahraga, karena hal tersebut merupakan kegemaran saya. Namun, saat itu saya baru saja mengalami kecelakaan dan retak kaki, sehingga saya mengurungkan niat untuk mengambil jurusan olahraga. Apalagi di daerah Madiun, jurusan seni juga tidak ada. Saat itu, saya berpikir untuk tidak mau melanjutkan kuliah di luar kota, mengingat saya tidak pernah jauh dari keluarga. Akhirnya, WIMA menjadi pilihan saya. Banyak Hal yang Bisa Saya Lakukan di Kampus Dari awal saya masuk Unika Widya Mandala Madiun, saya mulai bersemangat mengikuti perkuliahan karena kuliah hanya beberapa jam sehari, tidak seperti saat di SMK. Yang paling membuat saya senang adalah karena di kampus WIMA ini banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa saya ikuti. Jadi saya kuliah tidak hanya untuk mendapat pendidikan, tapi juga untuk mengembangkan hobi serta bakat saya. Saat awal masuk kuliah, saya mengikuti banyak UKM, yaitu UKM Voli, UKM Karate, dan UKM Palawa (Pecinta Alam). Semua olahraga tersebut sudah saya sukai sejak masuk SMP. Namun, saya belum pernah mendapatkan penghargaan apapun dari olahraga tersebut. Meskipun begitu, saya tetap bangga pada diri saya. Selain mengikuti UKM, saya juga dipercaya sebagai Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan koordinator kelas atau ketua kelas. “Banyak hal yang bisa saya lakukan, yang tidak semua wanita bisa lakukan.” Saya Harus Punya Target Saya bisa membuat aksesoris seperti bros dan perhiasan yang kadang saya jual ke teman-teman saya. Saya belajar membuatnya secara otodidak, baik dari televisi maupun internet. Saya berpikir, sebenarnya banyak hal yang bisa saya kembangkan. Namun, saya merasa orang tua saya tidak mengetahui apa yang saya lakukan. Jadi mereka cenderung cuek dengan potensi-potensi yang saya miliki. Bahkan, kadang mereka melarang hal-hal yang saya sukai. Menurut mereka, semua hanya membuang-buang waktu. Namun, saya tidak mudah menyerah. Ketika saya menginjak semester 3, keuangan keluarga kami mengalami masalah. Sebenarnya, ketika saya akan lulus dari SMK, kami sudah mulai punya masalah itu. Dari keluarga yang cukup mampu, hingga kami harus menjual apa saja untuk menutupi hutang. Sampai saat saya kuliah, masalah tersebut belum bisa teratasi. Sampai akhirnya, motor yang saya gunakan untuk kuliah juga terjual. Sampai saat saya kuliah harus bergantian dengan kakak, walaupun jadwal dan tempat berbeda. Dan saat itu hampir saja saya ingin berhenti kuliah agar saya bisa membantu orang tua. Namun, orang tua melarang. Apapun yang terjadi, mereka akan berjuang agar saya bisa menjadi sarjana. Di situlah saya mempunyai target agar saya bisa lulus, insya Allah dalam waktu tidak lebih dari 4 tahun. Dan sampai saat ini alhamdulillah kuliah saya lancar. Hingga saya bisa mengambil mata kuliah semester atas, karena IPK saya 3. Memang, dalam kuliah saya pernah malas-malasan dan kadang tidak masuk. Namun, saya punya target yang harus saya capai agar saya bisa segera lulus dan bisa menjadi konselor yang bisa membantu banyak orang dan juga bisa membantu ekonomi keluarga saya. Selama ini saya merasa belum bisa memberikan apapun kepada orang tua saya dan belum bisa membanggakan kedua orang tua saya. Namun, suatu saat nanti, saya yakin bisa membantu dan membahagiakan orang tua saya. AAT dan Kegiatannya   Alhamdulillah, semester 4 lalu saya mendapat beasiswa AAT. Awal menerima beasiwa AAT, saya sangat bersyukur alhamdulilah, karena dengan adanya beasiswa ini benar benar membantu kuliah saya. Kegiatan sebagai penerima beasiswa juga menyenangkan. Ketika ada kegiatan mewawancarai anak asuh itulah yang sangat menyenangkan. Kita jadi tahu kehidupan anak-anak yang kurang mampu, banyak dari mereka yang kehidupannya benar-benar kurang. Namun, masih tetap ada canda tawa dari mereka yang membuat beban dihati mereka terasa berkurang. Hal tersebut membuat saya menjadi sadar bahwa di luar sana masih ada banyak orang yang hidupnya lebih susah dari pada saya. Itu pegalaman saya ketika wawancara anak asuh. Kalau pengalaman ketika bersama teman-teman penerima beasiswa lainya juga tidak kalah menyenangkan. Awal menerima beasiswa, saya tidak kenal dengan teman- teman penerima beasiswa lainnya meskipun kami satu kampus. Setelah kenal dan tahu karakter masing-masing, ternyata mereka teman yang baik dan kadang juga suka bercanda. Namun, kadang kalau harus rapat bersama banyak yang tidak datang. Itulah hal yang kurang menyenangkan. Ya, memang bisa dimaklumi karena jadwal kuliah kami tidak sama karena beda jurusan. Selama menjadi anak asuh AAT, kami bukan hanya santai sesudah menerima beasiswa, tapi kami juga harus bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Bekerja di sini maksudnya adalah mengolah data tentang anak asuh serta wawancara kepada calon anak asuh tingkat sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA/SMK. Selain itu, kami juga harus selalu menjaga agar nilai kami tidak sampai turun, supaya tidak mengecewakan donatur yang sudah membantu membiayai kuliah kami selama ini. Itu bukanlah sebuah beban, hal tersebut malah membuat saya semakin semangat untuk kuliah dan segera lulus. Supaya saya kelak juga bisa membantu anak-anak lain yang kurang mampu. Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan AAT Indonesia yang sudah membantu saya selama ini. Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada donatur yang sudah mau membantu membiayai kuliah saya selama ini. Meskipun saya tidak pernah tahu siapa anda, saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya tidak ingin mengecewakan anda. Dan semoga anda selalu diberi kesehatan. Aamiin.   Retno Agustin Staf Admin AAT Madiun   *Retno Agustin adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/kampus-tak-sekedar-tempat-kuliah” size=”175″]  

Kampus Tak Sekedar Tempat Kuliah Read More »

Amarah Jadi Amanah

“Seseorang yang tidak mendapat kepedulian dari orang pun, bisa memberi kepedulian kepada orang lain.” Nama saya Andika Fitri, biasa di panggil Andika. Sekarang saya berumur 19 tahun. Saya adalah seorang Mahasiswa di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi. Saat ini saya masuk semester 4. Dulu, sewaktu orang tua masih bersama-sama, saya hanyalah anak seorang tukang becak yang tiap harinya mangkal di Manguharjo. Ibu bekerja serabutan. Ketika saya mempunyai 1 adik perempuan yang masih kecil, ibu tidak lagi bekerja. Sehingga kami hidup bergantung pada penghasilan bapak. Dengan hidup yang seperti itu, saya menjadi orang yang pendiam dan selalu mengalah atas apa yang dilakukan teman-teman kepada saya, karena saya orang yang cukup tahu diri tentang bagaimana kondisi hidup saya. Tak jarang juga ada teman yang bersimpati kepada saya. Ada yang memberi saya pakaian, beras, ada juga yang urunan dan memberi uang untuk membantu keluarga saya. Saya merasakan ada rasa kasihan dari teman terhadap kondisi keluarga saya. Saya Benci Keadaan Ini Dari SD sampai SMP, saya selalu mendapatkan bantuan. Hal itu karena ibu selalu berusaha mengajukan surat keterangan tidak mampu ke sekolah. Apa pun syarat yang diajukan oleh sekolah atau instansi pemberi bantuan, selalu diusahakan oleh ibu untuk memenuhinya. Itu semua ibu lakukan untuk mengurangi beban yang harus ditanggung setiap harinya. Sampai akhirnya bapak dan ibu saya bercerai. Bapak pergi ke Kalimantan untuk bekerja dan menikah lagi dengan orang perantauan di sana. Hal itu membuat saya kecewa, karena saya merasa bapak sudah tidak peduli lagi dengan keluarga yang ada di sini. Bapak juga tidak lagi memberi uang bulanan untuk kehidupan sehari-hari kami. Saya menjadi sedih ketika saya harus melihat ibu saya bekerja sendirian untuk menghidupi kami. Karena tidak tahan, saya pun ikut membantu ibu dengan mengumpulkan barang bekas, mengumpulkan bunga kamboja, menyusun bulu ayam, dan juga membantu mengambil air dari rumah tetangga. Kami memang dulu tidak mempunyai sumur timban sendiri untuk mencari air, sehingga kami setiap hari menimba air di rumah tetangga dan membayar biaya air setiap bulannya. Terkadang saya merasakan sakit ketika dimaki orang yang punya timban tersebut. Saya Tidak Dipedulikan Sampai akhirnya, ibu memutuskan untuk menikah lagi dengan bujangan yang sama sekali tidak saya kenal. Kejadian itu membuat saya sangat sedih, bahkan sangat kecewa, melebihi perasaan ketika mendengar bapak menikah lagi. Karena hal itu pula, saya pindah ke rumah nenek, orang tua dari bapak. Saya memutuskan untuk tinggal di rumah nenek bersama adik saya yang sudah menginjak kelas 1 SD. Waktu itu saya kelas 3 SMP. Benar-benar perasaan yang sulit untuk saya jelaskan ketika saya pertama kali tinggal di rumah nenek dan kakek. Meskipun rumah nenek lebih bagus, tetapi rasanya berbeda. Setiap hari, ketika di sekolah maupun di rumah, saya menjadi pribadi yang amat pendiam. Tetapi, Alhamdulillah saya tetap menjadi anak yang dibanggakan dalam urusan pendidikan. Sejak bapak dan ibu bercerai, timbul rasa kebencian. Terkadang saya merasakan sakitnya ketika menjadi anak yang tidak dipedulikan oleh orang tua. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya, “Mengapa harus bercerai? Apakah mereka sudah tidak peduli dengan anak-anaknya? Tidakkah mereka tahu bahwa itu membuat saya bersedih dan kecewa? Mengapa mereka hanya peduli dengan keinginan mereka sendiri? Mereka benar-benar sangat egois!” Kekecewaan itulah yang saya pikirkan waktu itu. Saya Ingin Berubah Saat pertama masuk sekolah SMA, saya ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi anak yang dikasihani. Saya tidak ingin menunjukan rasa sedih dan pedih yang saya rasakan. Ingin menjadi orang pemberani yang tidak takut dengan siapa pun. Tetapi hal itu membuat saya memelihara kebencian yang telah tumbuh dalam diri saya. Saya semakin giat belajar dan ikut dalam organisasi besar, seperti OSIS dan Pramuka. Dengan demikian, banyak yang mengenal saya. Tetapi hal itu tidak lama. Saya kembali menjadi diri saya lagi ketika saya dikhianati teman saya. Semakin banyak pikiran yang buruk tentang orang-orang yang ada di dekat saya. Belum lagi saya merasakan tertekan berada di rumah nenek karena begitu kerasnya didikan mereka. Terkadang, ketika teringat semua kejadian yang saya alami, saya hanya bisa menangis dalam kamar tidur. Setelah saya menangis sampai dada saya terasa sakit, saya pun tidur untuk melupakan semuanya. Ketika saya masuk kuliah, saya senang sekali. Karena saya tahu keluarga saya amat sangat pas-pasan. Bahkan tidak pernah terpikirkan kata kuliah. Tetapi, ketika saya tinggal di rumah nenek dan kakek, saya tahu keinginan mereka yang amat besar agar saya bisa sekolah setinggi-tingginya, agar nantinya dapat kehidupan yang lebih baik dan dapat mengangkat derajat keluarga. Namun entah mengapa, saya melihat ada rasa beban yang amat berat dari raut wajah mereka ketika akan menguliahkan saya. Hal itu membuat saya sedih, sehingga saya meminta mereka untuk tidak memaksakan kehendak. “Biarkan saya langsung bekerja saja, Nek.” Begitulah yang saya katakan, tetapi mereka tetap bertekat ingin menguliahkan saya. Saya Harus Menyembunyikan Kesedihan Ini Saya pun mencoba mendaftar universitas negeri dengan cara ikut bidik misi karena alhamdulillah saya mendapat rekomendasi dari sekolah. Meskipun nenek dan kakek ingin saya kuliah di Madiun saja, tetapi saya ingin mencobanya. Jika tidak diterima berarti inilah takdir saya untuk kuliah di Madiun. Setelah menunggu, ternyata saya tidak diterima. Dan saya masuk ke Unika Widya Mandala Madiun. Saya juga masuk tanpa tes, melainkan dengan nilai. Saya pun ingin tetap menyembunyikan semua kesedihan yang saya alami selama ini dari teman-teman kuliah saya. Saya aktif hampir di semua UKM. Karena dengan cara menyibukkan diri, saya bisa melupakan semua kesedihan saya. Jika tidak bisa melupakan, setidaknya saya telah mengurangi waktu untuk memikirkannya. Yang teman saya tahu, saya adalah anak periang di kampus dan termasuk anak yang aktif di organisasi. Mereka tidak tahu bahwa di dalam hati saya menyimpan kesedihan yang mendalam. Sama seperti sebelumnya, saya juga dapat dibanggakan dalam urusan kuliah. Walaupun demikian, semakin banyak rasa kebencian yang saya pendam. Hal itu pun juga tidak bertahan lama. Di semester 2, saya kembali menjadi Andika yang pendiam lagi dan sedikit pemurung. Semakin sulit untuk menyembunyikan kepedihan yang saya rasakan dan emosi saya juga labil. AAT Mengajarkan Saya untuk Peduli Sampai akhirnya, saya mendapat rekomendasi beasiswa dari prodi. Dan ternyata beasiswa itu adalah Beasiswa Anak-Anak Terang (AAT). Awalnya saya ingin mundur dari beasiswa ini, karena untuk mengajukan saja, sangat

Amarah Jadi Amanah Read More »

Nothing is Impossible

“Don’t ever let someone tell you that you can’t do something. Not, even me your father. You got a dream, you gotta protect it. When people can’t do something themselves, they’re gonna tell you that you can’t do it. You want something, GO, GET IT, PERIOD!!  (Will Smith, The Pursuit of Happiness). Pesan Will Smith untuk anaknya dalam film itu tidak jauh berbeda dengan pesan bapak saya sebelum meninggal. Bedanya hanya versi bahasanya saja. Kata-kata itulah yang selalu membuat saya semangat untuk meraih cita-cita dan percaya bahwa segala sesuatu itu mungkin dan pasti akan indah pada waktunya. * * * Nama saya Novhy, lengkapnya Marsellina Novhy Bria, mahasiswa jurusan Sastra Inggris semester 6, UNIKA Widya Mandala Madiun. Saya anak ke 3 dari 4 bersaudara. Lahir tanggal 11 November 1990 dan menghabiskan masa kecil di Baun, sebuah desa yang berjarak 20 km dari kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bapak dan mama, panggilan saya untuk orang tua saya, bekerja sebagai petani. Tetapi, cita-cita mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi membuat kami selalu bersemangat untuk memberi yang terbaik. Untuk mereka, orang tua kami, melalui prestasi kami di sekolah. Semuanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja sampai kelas 3 SMP. Hingga menjelang UAN, bapak yang merupakan tulang punggung keluarga dan juga motivator saya meninggal dunia karena sakit. Saya merasa jauh dari cita-cita dan berpikir bahwa kuliah itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah bisa diraih. Tapi saya bersyukur karena mempunyai mama dan kakak yang luar biasa yang selalu membuat saya bersemangat dan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang berguna untuk mencapai cita-cita yang saya inginkan. Setelah bapak meninggal, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 2 Kupang yang merupakan salah satu sekolah favorit saat itu. Masa SMA inilah masa di mana saya belajar menjadi pribadi yang lebih tekun, kuat, dan sabar dalam menghadapi apapun. Tahun 2008, setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk ke Surabaya. Niat ke Surabaya bukan untuk kuliah tapi bekerja, karena yang ada dalam pikiran saya, “Saya tidak mungkin bisa kuliah, terlalu mahal.” Sejak tahun 2008-2011, saya memilih tinggal dan bekerja di Madiun, karena kota ini lebih nyaman dan tidak rumit. Selama bekerja inilah, sedikit demi sedikit, saya mengumpulkan uang untuk kuliah. Hingga akhirnya tahun 2011, nama saya pun tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris di UNIKA Widya Mandala Madiun. Bangga, bahagia, dan tidak percaya karena untuk mendapat status mahasiswa, jalan yang saya lewati sangat sulit. Saya semakin percaya bahwa semua mungkin terjadi. Nothing is impossible. Awal kuliah, semua urusan administrasi masih lancar-lancar saja. Tetapi, memasuki semester ke 2, semuanya terasa lebih sulit. Karena tidak ingin menjadi beban kakak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, saya pun mencoba untuk mencari beasiswa. Semester 3, saya mendapat beasiswa prestasi. Tetapi hanya untuk satu semester saja. Saat itu juga saya memutuskan untuk bekerja menjadi guru les privat anak SD dan SMP. Dan juga sebagai asisten pengajar di KUMON, salah satu tempat kursus Bahasa Inggris di Madiun. Awal Perkenalan dengan AAT Akhir semester 4 sebelum liburan akhir semester, kami calon anak asuh yang dipilih prodi di hubungi untuk mengikuti pengenalan beasiswa Anak-Anak Terang (AAT) oleh Bapak Bernardus Widodo, Wakil Rektor 3. Setelah itu, kami diminta untuk melengkapi semua persyaratan dan mengikuti seleksi wawancara bersama bruder-bruder CSA. Saat itu, saya diwawancara oleh Bruder Aleks, CSA. Banyak pertanyaan dan motivasi yang diberikan oleh Bruder dan beliau berpesan, “Nov, banyak doa ya. Ingat pulang Novena. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Siapa tahu kamu juga terpilih dapat beasiswa ini.” Saya pun mengikuti pesan Bruder dan doa saya terkabul, karena saya salah satu dari 10 penerima beasiswa Anak-Anak Terang. Bersyukur dan bersyukur. Berkat Tuhan memang luar biasa. Akhirnya, saya benar-benar bisa membuat mama dan kakak tersenyum. Anak-Anak Terang   Setelah menjadi Anak Asuh AAT, secara otomatis kami pun menjadi staff administrasi atau Pendamping Komunitas (PK) untuk sekolah-sekolah sekaresidenan Madiun yang bekerja sama dengan Yayasan AAT Indonesia. Banyak hal luar biasa yang saya dapat selama bergabung dalam AAT ini. Dari perjalanan survei dan wawancara bersama calon anak asuh, sampai pengalaman mengurus pengiriman tanda bukti penerimaan beasiswa AAT, kwitansi, dan pengiriman raport anak asuh AAT. Satu hal yang pasti, saya menjadi orang yang sangat bersyukur. Karena bisa dibilang kesulitan hidup yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan adik-adik yang saya wawancara. Saya belajar banyak hal dari mereka. Semangat untuk belajar, kuat dalam menghadapi tantangan, selalu tersenyum, dan selalu berpikir positif. Saat ini, walaupun harus membagi waktu antara kuliah, kerja, kegiatan kampus dan AAT, tapi saya berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik untuk AAT. Cerita ini saya persembahkan untuk donatur yang telah membantu saya membiayai kuliah. Siapapun beliau, saya percaya Tuhan ada dalam dirinya. Suatu saat nanti, saya pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang beliau lakukan saat ini. Untuk AAT dan untuk adik-adik asuh nantinya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Begitu pun dengan apa yang saya cita-citakan untuk AAT. Terima kasih AAT. Terima kasih Pak Hadi Santono, Pak Christ Widya, Br. Konrad, CSA, Br. Aleks, CSA, Br. Yakobus, CSA, Om Adhi, dan orang-orang baik lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Salah satu anugerah Tuhan yang terindah dalam hidup saya adalah menjadi anggota keluarga besar Anak-Anak Terang.   Marsellina Novhy Bria Staff Admin AAT Madiun. * Marsellina Novhy Bria adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, UNIKA Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/nothing-is-impossible” size=”175″]  

Nothing is Impossible Read More »

Meskipun Berbeda tetapi Saya Bisa

“Kekurangan tidak menjadi penghalang bagiku untuk mewujudkan impian..” Saya Berbeda Nama saya Emy Prihatin, lahir di Pacitan, 31 Agustus 1994. Tempat tinggal saya di RT 01, RW 01, Dusun Krajan, Desa Wonokarto, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Saya adalah anak tunggal yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Saya sangat bersyukur karena keluarga sangat menyayangi saya meskipun kondisi saya yang seperti ini. Ya, saya berbeda dengan anak lainnya. Ayah saya adalah seorang petani dan ibu saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk membantu membiayai biaya hidup kami sehari-hari. Saya menimba ilmu sejak umur lima tahun. Berawal dari Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita selama satu tahun, kemudian dilanjutkan ke SD Negeri Wonokarto I pada tahun 2000 dengan uang saku 300 sampai 500 rupiah waktu itu. Masa-masa TK dan SD bisa dibilang masa perkenalan bagi saya. Saya pun sangat minder dengan kondisi saya yang tidak seperti anak lainnya. Ketika SD sampai SMP saya sering sakit-sakitan. Sampai akhirnya waktu SMA sakit-sakitan itupun hilang. Operasi? Dulu, ketika saya masih kecil, saya sempat mau dioperasi bibir sumbing. Namun gagal karena saya demam dan menangis. Itu kata kedua orang tua saya. Kejadian tersebut waktu saya masih sangat kecil, sehingga saya tidak bisa mengingatnya. Saya teringat ketika kelas VI SD, ketika itu wali kelas memanggil di ruangan kelas, tetapi teman-teman saya sudah keluar. Saya tinggal sendiri di ruangan itu bersama dengan wali kelas. Saya pun sempat berpikir mengapa saya dipanggil? Apa mau dihukum? Saya salah apa? Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu pikiran saya. Guru pun langsung memulai pembicaraan tanpa basa basi. “Kamu kan sudah mau ke SMP, apa kamu nggak mau operasi?” tanya guru. Saya terdiam tidak menjawab. “Apa kamu nggak malu waktu SMP nanti kalau kamu nggak operasi?” tanya guru kembali. Saya masih terdiam. Seketika saya langsung pucat dan tubuh saya mendadak dingin. Saya hanya bisa menjawab “iya” dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan guru saya waktu itu. Tetapi, meskipun saya menjawab iya, saya tetap tidak operasi karena perasaan takut yang menyelimuti. Setelah kejadian itu, di tahun 2006 saya pun alhamdulillah lulus dengan hasil yang cukup memuaskan. Saya Berbeda tetapi Saya Bisa Dengan hasil nilai yang saya dapatkan, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke SMP Negeri 2 Ngadirojo hingga akhirnya diterima dan masuk ke kelas VII A. Di SMP ini saya masih sakit-sakitan. Dengan seragam baru putih-biru, saya mulai mendapatkan teman baru. Kegiatan belajar pun dimulai dengan suasana baru. Saya mulai beradaptasi dengan hal-hal yang baru pula. Di kelas VIII, saya mulai mengikuti kegiatan ekstra kurikuler seperti PMR dan KIR (Karya Ilmiah Remaja). Selain itu, saya juga mengikuti kursus komputer di luar sekolah. Ketika kelas VIII saya hampir tertabrak sepeda motor setelah terjatuh dengan lutut luka. Menginjak kelas IX saya mulai fokus untuk belajar dalam menghadapi UAN. Akhirnya pada tahun 2009, saya lulus dengan hasil yang memuaskan. Meski tidak mendapat juara 1, namun masih bersyukur mendapatkan juara 3. Setelah lulus dari SMP saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Ngadirojo. Saya sangat menyukai tantangan, sehingga mulai kelas X saya aktif mengikuti ekstra kurikuler Saka Bhayangkara dan Pramuka sebagai junior. Di dalam ekstra kurikuler ini saya belajar bagaimana menjadi seorang yang disiplin dan memiliki mental yang kuat. Dan alhamdulillah di SMA saya sudah tidak sakit-sakitan lagi. Dan pada tahun 2010 saya naik ke kelas XI dengan mengambil jurusan IPA. Setelah satu tahun mengikuti ekstra kurikuler Saka Bhayangkara dan Pramuka, akhirnya saya menjadi seorang senior yang akan mengajar adik kelas yang baru. Di dalam organisasi ini, saya dipercaya untuk menjadi seorang bendahara. Meskipun tidak mudah untuk menjadi seorang bendahara, tetapi saya berusaha sebaik mungkin bagaimana untuk mengelola kas yang masuk dan kas yang keluar. Dan di tahun yang sama saya terpilih menjadi anggota OSIS sebagai seksi kreativitas. Saya sangat senang, karena impian untuk menjadi anggota OSIS bisa terwujud. Kegiatan OSIS, Pramuka, dan Saka Bhayangkara pun semakin padat. Saya harus bisa membagi waktu sebaik mungkin untuk belajar mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Di pertengahan kelas XI, saya pun dipercayai oleh guru untuk mewakili olimpiade FISIKA tingkat SMA. Meskipun sempat merasa kecewa ketika mendapatkan hasil yang tidak memuaskan, tetapi saya tetap bersyukur. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah saya juga mencoba untuk mengikuti lomba KIR di sekolah dan bisa mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Lagi-lagi Pertanyaan yang Sama Suatu ketika, saya bersama teman pergi ke kantin untuk sekedar beli makanan kecil. Dan sepulangnya dari kantin, tiba-tiba saya dipanggil oleh kepala sekolah untuk ke ruangannya. Dalam otak saya berfikir ada apa gerangan sampai dipanggil oleh kepala sekolah? Sebelum saya berhenti berfikir, kepala sekolah pun langsung menyapa dengan ramah dan dengan senyumnya yang khas. Tanpa basa basi beliau pun bertanya, “Sebelumnya maaf ya, Em. Kenapa kamu tidak mencoba untuk operasi?” Suaranya sangat pelan, mungkin takut saya tersinggung. Dan “deg..” Lagi-lagi pertanyaan itu. Jantungku serasa berhenti sejenak. Saya pun langsung menjawab dengan singkat “Tidak, Pak”. Kepala sekolah menyambung, “Kenapa? Apa kamu takut?” jelasnya. “Bukan masalah takut nggaknya, Pak. Memang saya nggak mau operasi. Saya sudah sangat bersyukur dengan apa yang diberikan Allah untuk saya. Masih banyak orang yang lebih menderita dari saya. Saya tidak mau mengubah nikmat yang sudah Tuhan berikan kepada saya. Ini memang sudah takdirnya, Pak.” Lalu Kepala sekolah saya menyambung dengan sangat lembut dan penuh pengertian, “Ya kalau kamu operasi, itu bukan mengubah nikmat Tuhan, tetapi hanya memperbaiki saja supaya menjadi lebih baik. Ibarat baju yang kotor dicuci biar bersih. Bukan mengubah nikmat Tuhan,” jelasnya. Saya hanya diam. Memang saya tahu itu bukan mengubah nikmat Tuhan, tetapi tidak tahu mengapa hati kecil saya mengatakan “TIDAK!!” Ketika itu saya tetap bersikeras untuk tidak operasi meskipun kepala sekolah tetap meyakinkan saya. Dan pada akhirnya beliau menjabat tangan saya seraya berkata, “Iya nggak apa-apa. Saya salut sama kamu. Tetap semangat ya.” Saya mencoba untuk tersenyum, menahan air mata yang ingin tumpah. Saya segera permisi untuk kembali ke kelas. Bahkan, entah mengapa sampai sekarang hati kecil saya tetap berkata tidak untuk operasi, meski selalu ada tawaran untuk operasi dari berbagai pihak. Pernah saya menangis semalaman meratapi hidup saya. Sampai menyalahkan Tuhan kerena putus asa. Saya tahu itu salah. Tak seharusnya menyalahkan Tuhan. Itu adalah hal yang terbodoh yang

Meskipun Berbeda tetapi Saya Bisa Read More »

Bantuan Komputer untuk SMK Santo Yusuf Mejayan Madiun

Minggu, 5 Januari 2014, Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia memberikan bantuan 4 unit komputer dan 1 unit printer untuk SMK Santo Yusuf Mejayan Madiun. Komputer dan printer tersebut dibawa dari Semarang oleh Om Adhi, salah satu relawan AAT dari Semarang. Bantuan komputer diberikan oleh AAT karena kondisi komputer di SMK Santo Yusuf Mejayan sudah sangat memprihatinkan. Dari 5 komputer yang ada, hanya satu yang berfungsi dengan baik. Itu pun processornya masih Pentium III. Kondisi komputer yang ada saat ini menghambat proses pengajaran komputer di sekolah. Komputer yang disumbangkan adalah komputer yang bertipe Nettop (Netbook Desktop) dengan processor Dual Core AMD E350, RAM DDR3 4GB, Harddisk 320 GB, dan dengan monitor LED 16 AOC sebanyak 4 unit. Komputer ini bisa dibilang komputer canggih dengan kinerja desain grafis platform netbook. Meskipun canggih, komputer ini tidak boros listrik dan lebih ringkas karena bentuknya yang simpel. Karena pertimbangan itulah AAT memilih mini PC tersebut. Selain itu, AAT juga menyumbangkan 1 photo printer inkjet. Printer tersebut mampu mencetak dengan kecepatan hingga 4,8 ppm. Diharapkan, untuk kedepannya siswa dapat memanfaatkan komputer dan printer itu dengan semaksimal mungkin. Sebelum menuju ke Sekolah, Om Adhi singgah ke Universitas Katolik Widya Mandala Madiun untuk menemui teman lamanya yaitu Pak Anton. Pak Anton merupakan salah satu dosen Fakultas Psikologi di Universitas Widya Mandala Madiun. Dan ternyata sebelumnya, Om Adhi sudah pernah ke kampus, namun sudah bertahun-tahun lamanya, yaitu sekitar 13 tahun yang lalu. Setelah sedikit ngobrol dengan Pak Anton dan beberapa Pendamping Komunitas (PK) Madiun, Om Adhi berangkat ke sekolah SMK Santo Yusuf Mejayan dengan ditemani 3 PK yaitu Tiara, Rike, dan Novi Bria, serta 1 dosen Universitas Katolik Widya Mandala Madiun yaitu Pak Anton. Sesampainya di SMK Santo Yusuf Mejayan, Om Adhi dan kawan-kawan disambut oleh Pak Joko, Kepala Sekolah SMK Santo Yusuf Mejayan. Pak Joko hanya ditemani satu karyawan karena waktu itu hari Minggu. Mereka pun dipersilahkan masuk ke kantor. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami dan serah terima bantuan komputer dan printer, Pak Joko mengucapkan banyak terima kasih. Menurut Pak Joko, bantuan komputer dan printer itu sangat membantu dalam kegiatan pengajaran komputer di SMK Santo Yusuf Mejayan. Bantuan komputer seperti itu tidak hanya diberikan pada satu sekolah saja. Di tahun 2014 ini, AAT akan melanjutkan program bantuan komputer ini untuk sekolah yang benar-benar membutuhkan. Harapannya, dengan adanya komputer-komputer itu pengajaran komputer di sekolah tidak akan terhambat. Dan siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui bantuan komputer itu.   Rike Kotikhah Staff Admin AAT Madiun   [qrcode content=”https://aat.or.id/wawancara-dan-survei-smp-kanisius-raden-patah” size=”175″]  

Bantuan Komputer untuk SMK Santo Yusuf Mejayan Madiun Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 duta76 aws interaksi lucky neko preferensi pemain aws momentum simbol mahjong scatter merah aws riset mahjong scatter emas tren rtp aws spin auto mahjong grid simbol aws symbol stutter multiplier olympus aws analisa putaran wild bandito otomatisasi aws analisis statistik simbol ekspektasi data aws analogi spin otomatis putaran konsisten aws data spin rng pgsoft aws data starlight princess analisis scatter aws evaluasi rtp live data historis aws jeda spin mahjong wins bonus aws koi gate scatter tanpa pola aws pemetaan putaran pgsoft algoritma aws rtp terbaru target logis pemain mahjong ways trik rahasia kemenangan pola baru mahjong strategi amhjong strategi unggul mahjong strategi mahjong ways pg soft rahasia suhu rahasia pg soft sensasi main mahjong ways 2 visual manja mahjong ways terbaru animasi cara baca simbol transisi mahjong ways 2 rahasia dimensi waktu hasil mahjong wins 3 pola mahjong agresif bonus besar tanpa hoki strategi mahjong agresif banjir bonus terbaru rumus sakti mahjong ways 2 pola gacor bocoran eksklusif mahjong ways 2 indikator live update analisis mahjong ways 2 waktu main cara kerja tumble mahjong ways kombinasi beruntun transformasi sesi transisi layer algoritma gates of olympus pemodelan scatter hitam mahjong wins keputusan arena premium dinamika wild merah mahjong ways 2 fase krusial kajian struktur pola mahjong wins 3 ketahanan sesi digital fenomena perilaku mahjong wins 3 observasi pakar analis analisis rtp tinggi abc1131 jam richard mille bonus hasil jutaan mahjong wins indonesia 2026 komunitas bandung indikator terbatas abc1131 abc1131 akuisisi mahjong wins 3 indonesia lokal analisa eksekutif peluang sicbo pola mahjong wild deluxe rtp live jitu gates of olympus duta76 kalkulasi silang analisa peluang baccarat pola mahjong ways 2 pgsoft taktik rtp live starlight princess duta76 makro strategi profit integrasi taktik blackjack analisa peluang pola mahjong wins 3 teknik rtp live sweet bonanza duta76 taktik paradoks sinkronisasi peluang dadu sicbo rtp live gates of olympus strategi mahjong wild deluxe matriks probabilitas sinkronisasi strategi baccarat teknik baca rtp live starlight princess pola mahjong ways 2 pgsoft anatomi keuntungan sinkronisasi strategi blackjack analisa pola mahjong wins 3 pragmatic teknik rtp live sweet bonanza aws ai koi gate scatter analisis aws gates olympus multiplier akses stabil aws konsistensi mahjong pendekatan perilaku aws lonjakan pemain rtp mahjong data aws mahjong kestabilan uji performa tren aws metode lucky neko pola digital aws performa koi gate analisis objektif aws riset komunitas mahjong rtp lonjakan aws validasi sweet bonanza pola rtp aws wild bandito manajemen risiko sistematis gates of olympus vs mahjong ways 1 mobil sport rekor tertinggi scatter hitam mahjong wins 3 sorotan hasil 2026 indikator tinggi abc1131 pemodelan topografi digital mahjong ways 2 mobile sinergi indikator balikan mahjong ways pasar saham adaptasi algoritma rekomendasi mahjong ways beranda dampak multitasking browser visibilitas mahjong ways strategi mahjong ways 2 ekonomi perhatian 2026 evolusi preferensi gen z strategi mahjong ways kalkulasi probabilitas berantai mahjong ways 2 aws analitik realtime lucky neko trik aws data algoritma koordinat scatter presisi aws ekspektasi realistis lucky neko konsistensi aws formula mahjong perubahan spin otomatis aws interval spin malam scatter hitam aws investigasi pola starlight multiplier terstruktur aws mindset pengguna rtp komunitas dampak aws optimasi update mahjong risiko stabil aws perhitungan waktu algoritma wild bandito aws transformasi rtp stabil data historis rahasia symbol stutter gates of olympus multiplier ekspektasi target statistik prediksi simbol navigasi ritme terpadu wild merah mahjong ways 2 arsitektur grid komputasional mahjong ways 2 fondasi navigasi sistem sinkronisasi grid metode prediksi numerik scatter hitam april 2026 logika algoritma pragmatic play black scatter akselerasi putaran strategis super scatter hitam ketahanan sesi digital mahjong wins 3 manajemen kontrol emosi kecepatan putaran mahjong wins