AAT Semarang

SMCA 600x375

Suara Merdeka Community Award

Semarang – .Anak Anak Terang pada tanggal 11 Maret 2017 berkesempatan menjadi salah satu nominator Suara Merdeka Community Award 2017. Ajang penghargaan untuk komunitas-komunitas di seluruh Jawa Tengah. Pameran komunitas Suara Merdeka Community Award digelar di hall Hotel UTC Semarang. Semarak acara meski tidak ramai padat, tidak menyurutkan semangat relawan Anak Anak Terang. Mulai dari H-1, para relawan AAT Semarang mempersiapkan booth yang telah disediakan oleh panitia. Pagi hingga siang mereka kuliah. Usai kuliah meluncur ke Hotel UTC dengan perlengkapan yang dibutuhkan. Booth dihias sedemikian rupa menampilkan wajah Anak Anak Terang, komunitas orang-orang yang peduli kepada pendidikan anak anak tidak mampu. Ajang Suara Merdeka Community Award bukan untuk mengejar sebagai pemenang Komunitas Terfavorit pilihan pembaca koran Suara Merdeka. Ajang ini sebagai salah satu sarana memperkenalkan Anak Anak Terang kepada banyak orang. Makin banyak yang mengenal AAT, akan makin banyak orang yang bisa ikut peduli dan berbagi dalam program beasiswa anak tidak mampu. SemangAAT Anak Anak Terang!

Suara Merdeka Community Award Read More »

Bahagia itu Sederhana

NAMA saya Dian Mayasari. Saya biasa dipanggil Dian oleh teman-teman dan keluarga. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. saya mempunyai kakak perempuan (Theresia Chandra) dan kakak laki-laki (Yohan Setiawan Chandra). Kedua kakak saya sudah menikah dan mempunyai anak. Papah saya bernama Chandra Hasan dan mamah saya bernama Linawati. Papah saya bekerja sebagai buruh tidak tetap. Terkadang berjualan burung dara di pasar atau menjadi pelatih burung dara yang akan dilombakan. Penghasilan yang diperoleh memang tidak tetap, tergantung ada latihan ataupun perlombaan. Mamah bekerja sebagai penjahit kerudung burung, membuat tas kertas untuk acara tertentu, dan berjualan kacang yang dititipkan ke warung-warung di dekat rumah. Sebelumnya, saat saya kelas XII saya sempat bimbang dan bingung, harus melanjutkan pendidikan kuliah atau tidak karena tidak adanya biaya dan juga bingung harus mengambil jurusan apa dan kuliah di mana. Tapi saya optimis. Saya yakin dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan serta membahagiakan kedua orang tua saya. Saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah, namun mamah berkata, “Tamatan SMA sulit cari kerjanya.” Saya juga sudah mencari-cari di internet, kampus mana yang akan saya masuki dan juga mencari beasiswa agar tidak membebani kedua orang tua saya. Pada pertengahan Januari saya belum juga mendapatkan kampus untuk melanjutkan pendidikan dan juga jurusan apa yang harus saya ambil. Sampai pada akhirnya ada salah satu kampus di Semarang yang presentasi ke sekolah. Awalnya, saya tidak tertarik dengan jurusan tersebut karena nilai saya yang tidak begitu bagus. Namun, dalam brosur tersebut tertulis bahwa ada beasiswa kurang mampu dan dengan persyaratan nilai rapor harus bagus dan juga akan dicarikan beasiswa dari PT dengan syarat IP semester awal diatas 2,85. Saya masih bimbang, dan pada akhirnya saya bercerita dengan mamah dan beliau meyerahkan kembali keputusannya pada saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba mendaftar. Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya harus mengikuti wawancara terlebih dahulu. Setelah wawancara berlangsung, tinggal menunggu keputusan saja. Dan saya pun diterima di kampus tersebut. Tetapi, ternyata ada persyaratan lain, yaitu harus membayar Rp500.000,00 terlebih dahulu untuk mendapatkan almamater dan juga jas laboratorium. Sebelumnya, mamah kebingungan untuk mencari biaya tersebut, dan akhirnya mamah mendapatkan berkat dari Tuhan yang tidak terduga sehingga bisa membayar uang pendaftaran tersebut. Saya pun sudah menyelesaikan Ujian Nasional dan lulus dengan nilai yang cukup baik. Setelah itu, saya dan mamah pergi ke Semarang untuk membayar biaya pendaftaran dan juga untuk memperjelas tentang beasiswa saya. Di sana saya bertemu dengan petugas BAAK yang mencarikan beasiswa untuk saya. Namun, saya harus menunggu dan meninggalkan nomor telepon. Setelah beberapa hari, saya mendapatkan sms yang berisi saya didaftarkan masuk beasiswa Bidik Misi. Saya sangat senang sekali dan harus mengumpulkan persyaratan tersebut secepatnya. Akhirnya, saya mempersiapkan semua persyaratan yang dibutuhkan dan juga ke Semarang lagi untuk mengumpulkan persyaratan tersebut. Sesampainya di sana saya langsung menyerahkan persyaratan tersebut. Namun, saya kecewa karena saya tidak jadi mendaptkan beasiswa tersebut karena nilai teman saya jauh lebih tinggi dari saya. Saya sangat kecewa dan hampir berputus asa, namun pihak BAAK memberikan saya formulir tentang beasiswa baru lagi untuk diisi dan memenuhi persyaratan. Dan beasiswa itu adalah beasiswa AAT. Mengenal Anak Anak Terang (AAT) Awalnya, saya tidak tahu dan tidak mengerti apa itu AAT. Tetapi, setelah membaca formulir dan membuka website-nya saya sedikit mengerti. Saya harus ke Semarang lagi untuk memberikan persyaratan tersebut dan juga akan diberi penjelasan tentang AAT. Setelah pengumpulan persyaratan tersebut, ternyata saya harus menunggu beberapa hari terlebih dahulu dan juga datang kembali untuk mengikuti wawancara. Dan bersyukur saya lolos dan menjadi penerima beasiswa AAT. Tantangannya, IPK harus di atas 3,00. Saya senang sekaligus takut. Tapi saya yakin saya pasti bisa memberikan yang terbaik. Tanggal 18 Agustus 2014, saya masuk untuk mengikuti MOPD di salah satu kampus di Semarang. Setelah selesai mengikuti MOPD dan juga LDK, saya resmi menjadi mahasiswi di Akademi Kimia Industri Semarang (AKIN) dan tinggal di kos. Berbeda dari teman-teman lainnya, kos yang saya tempati cukup jauh dari kampus karena disuruh mamah dekat dengan rumah kakak yang di Semarang. Saya tidak tinggal bersama kakak, karena tempatnya kecil dan masih menumpang di rumah mertuanya. Saya ke kampus diantar oleh suami kakak saya, namun terkadang naik motor sendiri, atau berangkat bersama teman yang rumahnya dekat dengan kos. Semester satu ini saya dapat melewati dengan baik, meskipun jadwal perkuliahan yang sangat padat dengan tugas-tugas dan harus mengurus yang lain juga. Ada salah satu mata kuliah yang tidak saya suka, entah karena pelajarannya atau dosennya, yang pasti saat ada ulangan mata kuliah tersebut saya selalu mendapatkan nilai yang jelek. Setelah beberapa bulan mengikuti perkuliahan ujian akhir semester pun berlangsung, awalnya saya bisa mengerjakan dengan baik. Namun, setelah masuk pada hari di mana mata kuliah yang tidak saya sukai diujikan, saya menjadi takut jika nilai saya jelek. Nilaipun sudah keluar satu persatu dan saya sempat down karena nilai mata kuliah yang tidak saya sukai jelek. Saya takut kalau tidak bisa mendapatkan IPK 3,00 karena saya tidak tahu harus membayar uang semester satu dengan apa. Setelah semua nilai keluar, akhirnya IPK saya cukup memuaskan dan melebihi 3,00. Saya sangat bangga dan senang sekali. Bangga menjadi Anak Asuh sekaligus Relawan AAT Saya merasa bangga menjadi salah satu Anak Asuh AAT, karena tidak banyak orang yang bisa mendapatkan beasiswa AAT. Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Ibu Lies Endjang, Ibu Meitasari, Om Christ Widya, Kak Santi Widya (Kak Can), Om Adhi, dan pengurus AAT lainnya. Banyak pengalaman yang saya dapat setelah bergabung bersama AAT. Saya mendapatkan keluarga baru dan dididik untuk menjadi lebih baik lagi. Saya juga mendapatkan teman baru, menjadi peduli terhadap sesama, dan merasa bahagia bisa membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan. Pengalaman yang sangat menarik adalah ketika saya survei sekolah dan wawancara calon anak asuh yang mengajukan beasiswa. Saat saya perjalanan menuju ke tempat survei, saya dan teman-teman kesasar sampai jauh dan sudah ditunggu oleh anak-anak yang akan diwawancarai. Setelah selesai wawancara, saya dan teman-teman pulang. Namun, di tengah perjalanan pulang, hujan tiba-tiba turun dan kami harus mencari tempat berteduh untuk istirahat sebentar. Akhirnya, kami berteduh sebentar sambil makan. Di sini saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Kami dapat berkumpul dan juga bercanda satu sama lain.

Bahagia itu Sederhana Read More »

Life and Love

Perkenalkan Nama saya Pieter Adriaan Lucar Kippuw, lahir pada 20 Mei 1993 di Semarang. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Saat ini saya adalah seorang mahasiswa semester 6 jurusan Teknik Kimia di Akademi Kimia Industri St. Paulus Semarang. Saya lahir di tengah keluarga yang sederhana tetapi penuh dengan kehangatan. Hidup bersama ayah, ibu, serta kedua adik saya merupakan sebuah berkah dari Tuhan yang tidak ternilai bagi saya. Di keluarga ini, saya seperti tidak pernah mengalami kekurangan. Mulai dari makan hingga pendidikan sepertinya semua tercukupi. Syukur saya pada Tuhan tiada henti. Semakin bertambah usia, akhirnya saya mulai menyadari. Sesungguhnya ada kesulitan di balik kekurangan keluarga kami. Dan semakin mengertilah saya tentang masalah yang ada dalam keluarga. Cobaan Menimpa Kami Ayah saya hanya bekerja di sebuah proyek pembangunan dan ibu adalah seorang penyiar radio. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan saya dan adik saya yang pertama (saat itu adik saya yang kedua belum lahir), penghasilan kedua orang tua saya masih bisa dikatakan cukup. Hingga pada tahun 2002, cobaan mulai menimpa keluarga kami. Perusahaan tempat ayah bekerja mengalami kebangkrutan karena likuidasi akibat pihak asing. Ibu saya juga keluar dari pekerjaannya karena saat itu hamil adik saya yang kedua. Kondisi itu juga membuat pembayaran uang sekolah menjadi sering menunggak. Sehingga pihak sekolah meminta kami untuk segera melunasi tunggakan tersebut yang cukup menggangu belajar saya. Tetapi ayah dan ibu hanya berpesan pada saya untuk fokus saja pada sekolah. Memang, akhirnya tunggakan uang sekolah bisa dilunasi. Entah darimana ayah dan ibu mendapatkan uang itu. Sampai akhirnya saya mengerti. Mereka mendapatkan uang dari hasil pinjaman sana sini, hingga menjual rumah dan tanah. Mengenal AAT Selama kurun waktu kurang lebih satu tahun setelah ayah dan ibu keluar dari pekerjaan mereka, ayah dan ibu mulai mencoba usaha sendiri tetapi akhirnya gagal. Selama tahun 2003 – 2008 ayah sering berganti-ganti pekerjaan. Semua beliau lakukan untuk keluarga. Sampai akhirnya menjadi pelatih sepak bola untuk anak-anak hingga sekarang dan ibu juga mulai bekerja kembali menjadi penyiar pada tahun 2007 hingga sekarang. Mulai saat itu kondisi keluarga menjadi kembali membaik. Ditambah lagi, saat kuliah ini saya juga mendapat bantuan dari Yayasan AAT Indonesia. Berbicara tentang Anak-Anak Terang atau AAT, banyak cerita dan pelajaran yang saya dapat selama bergabung di sana. Awalnya saya diajak oleh kedua teman kuliah saya, Handy dan Nisa yang terlebih dahulu bergabung dengan AAT atas ajakan Bruder Konrad, CSA. Tertarik oleh ajakan kedua temannya, akhirnya pada Minggu 7 Oktober 2012, Handy mengajak saya dan Maria pergi ke Deoholic Kafe untuk lebih mengenal apa itu AAT. Di Deoholic kafe itulah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Mas Christ, Bu Lies, dan Pak Hadi yang merupakan pengurus AAT, serta Chika, Christina, dan Mega yang merupakan Staf Admin AAT. Di Deoholic, Chika, Christina, dan Mega menyampaikan materi tentang AAT. Kami diperkenalkan lebih dalam tentang AAT. Sebagai seorang yang kurang pandai berbicara di depan orang banyak, melihat mereka menyampaikan materi dengan penuh percaya diri sungguh membuat saya kagum. Dan itu memotivasi saya untuk bisa seperti mereka. Pada hari itu, kami juga mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara pada calon anak asuh AAT. Dan di saat itulah, mata hati saya mulai terbuka. Ternyata masih banyak anak yang lebih kekurangan dan lebih membutuhan daripada saya yang harus dibantu. Pengalaman pertama itu membuat saya semakin mantap untuk terus bergabung dengan Anak-Anak Terang. Cerita, pengalaman, dan pelajaran berharga terus saya dapat selama lebih dari satu tahun bergabung di AAT. Di sana saya juga semakin dekat dengan seseorang. Ya, di sana pula, cinta saya berlabuh pada salah satu Staf Admin AAT. Kesibukan bersama di AAT membuat saya semakin nyaman dengannya. Yang dulu hanya seorang teman, sekarang menjadi lebih dari teman. Kita menjadi semakin kompak dalam bertugas. Hati kita bertaut untuk sama-sama melayani di AAT. Tapi memang di AAT, banyak cinta yang bisa kita dapat dan berikan. Di sini kita mendapatkan keluarga baru yang saling mendukung agar diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karena cinta dan rasa peduli pula, perbedaan agama juga tidak menjadi penghalang untuk bersama, bersatu, untuk membantu saudara kita yang membutuhkan. Di AAT juga, saya merasakan cinta Tuhan lewat tangan-tangan para donatur, Staf Admin AAT, dan orang-orang baik lain yang bekerja di balik layar. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan juga materi yang mereka miliki demi membantu sesama, saudara kita yang lebih membutuhkan. Semuanya hanya karena rasa peduli dan rasa cinta yang muncul dalam hati kita. Cinta memang istimewa, dapat menaklukan segalanya. Amor Vincit Omnia.   Pieter Adriaan Lucar Kippuw Staf Admin AAT Semarang   *Pieter adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staf Admin AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Akademi Kimia Industri (AKIN) Santo Paulus Semarang, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/life-and-love” size=”175″]    

Life and Love Read More »

Learn to Life Together

PAGI ITU, 6 april 1993, lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun, kelahirannya tidak berjalan dengan lancar. Ketika keluar dari rahim ibunya, ia tidak menangis dan tidak bernapas. Hal tersebut membuat dokter dan kedua orang tuanya panik. Segala upaya dilakukan dokter, mulai dari mengguncang tubuh si bayi, hingga memberi napas buatan, tetapi nihil yang diperoleh. Kedua orangtuanya cemas dan terus berdoa demi keselamatan anaknya. Hingga di ujung doa mereka, akhirnya Tuhan menunjukkan kuasanya. Beberapa detik setelah mereka berpasrah pada Tuhan, bayi tersebut meneriakkan tangisannya, tepat pagi hari ketika ayam berkokok. Kini, bayi tampan bermata cemerlang itu telah beranjak dewasa. Bayi yang telah dewasa itu adalah saya, Lucas Kristiawan. Nama sederhana yang berarti lahir di pagi hari. Penyangkalan Masa-masa bahagia yang saya alami sama seperti anak-anak pada umumnya. Saya dapat bermain dengan teman sebaya saya dan segala mainan yang saya inginkan dapat dipenuhi oleh kedua orang tua. Namun, masa-masa bahagia tersebut tidak bertahan lama, hingga ayah yang merupakan tulang punggung keluarga terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ayah mengalami PHK tepat saat saya kelas 2 SMK. Kejadian itu sontak membuat saya marah kepada Tuhan. “Mengapa Kau ijinkan kejadian ini menimpa keluarga saya Tuhan?” Itulah kata-kata yang terucap saat doa malam menjelang tidur. Penyangkalan–penyangkalan itu tidak dapat hilang begitu saja di pikiran dan hati saya. Kebencian terhadap pahitnya hidup selalu meliputi hati saya. Kemarahan yang saya luapkan tak kunjung memberi hasil. Tetap saja ekonomi keluarga saya memburuk. Hidup apa adanya memaksa saya untuk dijalani. Tidak jarang saya harus makan sehari hanya dua kali. Hingga akhirnya ayah mendapat pekerjaan sebagai salesman. Untuk melanjutkan studi, saya mencoba mencari penghasilan sendiri. Pekerjaan sebagai guru privat menjadi pilihan saya, guna membantu kedua orang tua. Penghasilan dari menjadi guru privat tersebut juga saya tabung untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Anak-Anak Terang   Menginjak semester 4 di AKIN St. Paulus Semarang, saya dipertemukan Tuhan dengan salah seorang teman. Teman akrab yang membuat saya sadar akan nilai hidup ini. Dan teman yang selalu bersama saya, yang juga mengenalkan saya tentang Komunitas Anak-Anak Terang. Perdebatan demi perdebatan terlontar dari mulut kami berdua, hingga sampai pada salah satu argumennya yang membuat hati saya tergugah untuk masuk ke dalam Komunitas Anak-Anak Terang. “Di sana kamu dapat belajar tentang arti hidup”. Saya yang merupakan orang dengan akar kepahitan atas ketidakadilan hidup sangat tertarik dengan pernyataan teman saya tersebut. Sebulan berjalan, saya belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Yang ada malah kejenuhan dan kebosanan yang saya temukan. Pekerjaan-pekerjaan yang dibebankannya seakan menyita waktu berharga saya. Hingga saat di mana ada kegiatan wawancara anak di SMP Agustinus Semarang. Learn to Life Together Tepat saat saya mewawancarai seorang anak yang benar-benar tidak memiliki apa apa, bahkan orang tua sekalipun. Namun, ia tetap tegar dan tidak menyalahkan Tuhan maupun orang lain. Hal itu seketika membuka belenggu kebencian dalam hati saya. Tidak berhentinya menanyakan keadaan anak tersebut saja, namun saya juga menanyakan tentang hal apa yang dapat membuatnya tegar dalam menjalani hidup seperti itu. Jawab anak ini sangat sederhana, “Meskipun tidak ada orang tua maupun harta benda yang saya miliki, namun saya memiliki ibu panti dan teman-teman panti yang senantiasa mengisi warna dalam hidup saya”. Saat itulah hati kecil saya menangis dan terbuka. Saya meminta maaf kepada Tuhan karena saya hanya melihat kelemahan yang saya miliki dan tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah ada. Melalui Komunitas Anak-Anak Terang, telah ada satu hati yang terselamatkan. Satu hati yang belajar tentang indahnya mensyukuri segala yang ada. Belajar untuk hidup bersama, saling peduli, saling berkasih, dan saling berbagi kasih. Komunitas Anak-Anak Terang telah membimbing saya ke jalan yang benar. Menjadi relawan AAT adalah keputusan yang telah saya pilih. Melalui AAT ini, saya akan terus berkarya untuk kemajuan AAT. Masih banyak anak-anak yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan di luar sana dan masih banyak juga tangan-tangan baik yang ingin membantu pendidikan di Indonesia. Saya berkomitmen, dengan apa yang saya miliki sekarang ini yaitu kekuatan dan keberanian, saya akan selalu membantu mengenalkan AAT ke seluruh orang-orang yang belum mengenal AAT. Semakin banyak yang mengenal, semakin banyak yang terbantu.   Lucas Kristiawan Staf Admin AAT Semarang   *Lucas Kristiawan adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Akademi Kimia Industri Santo Paulus Semarang, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/learn-to-life-together” size=”175″]  

Learn to Life Together Read More »

AAT Bagaikan Lemon Tea

AAT, keluarga yang hebat yang pernah saya miliki. Saya dapat merasakan tiga rasa sekaligus. Pahit, asam, dan manis, seperti lemon tea. Kalian suka yang happy ending atau sad ending? Kalau pilih yang happy ending, maka yang pahit di depan, sedangkan manis di belakang. Tapi, jika suka yang sad ending, manisnya di depan, namun pahitnya di belakang. Karena saya tidak suka yang sad ending, jadi saya ceritakan yang tidak menyenangkan dulu ya. Yang pahit-pahit dahulu, baru yang menyenangkan. Selamat menikmati. Awal di AAT Seperti kebanyakan orang, adaptasi adalah hal yang tersulit dilakukan, ketika kita berada di tempat yang benar-benar baru. Itulah yang saya rasakan ketika pertama bergabung di AAT. Awalnya, saya merasa kesulitan beradaptasi dengan teman-teman baru. Terlebih di sekretariat Semarang, yang di dalamnya terdapat Mas Christ, Mami Lies, dan Bruder Konrad, CSA, yang terkenal galak dan suka memarahi relawan yang tidak aktif. Hal ini jelas membuat saya pribadi merasa takut. Dengan beban sebagai relawan yang harus tiap bulan mengirimkan tanda bukti penerimaan beasiswa dan kuitansi ke donatur, serta mengirimkan tabel kebutuhan pada tim keuangan AAT. Selain itu, tiap semester harus mengirimkan raport, menerima proposal pengajuan beasiswa, dan melakukan wawancara calon anak asuh. Dan pasti harus mencari donatur juga. Shock. Mungkin itu yang saya rasakan. Karena belum apa-apa, tugasnya sudah banyak sekali dan sepertinya berat. Pesimis juga menyelimuti hati saya. Apakah saya bisa melaksanakan tugas yang cukup banyak ini? Gelisah, tentulah. Karena pasti takut “dimarahi” oleh Mas Christ dan Mami Lies jika tugas tersebut tidak terlaksana dengan baik. Beberapa bulan di AAT, saya ditunjuk untuk membantu sekretariat pusat di bagian pengelolaan SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh). Senang? Pastinya. Bisa bertemu dengan banyak teman lagi. Tapi, ternyata tugas yang dijalani tidak kalah beratnya, harus sering online di depan laptop atau komputer. Setiap saat harus siap untuk mengonfirmasi donatur yang baru masuk, melelang anak asuh yang sangat banyak, dan mengecek data anak asuh, apakah ada kesalahan atau tidak. Pernah juga merasakan penat yang sangat mendalam. Saya merasakan dalam tim ini, sedikit sekali orang yang bekerja atau yang aktif bekerja. Terkadang, saya juga sebal dengan beberapa tingkah sesama relawan. Di saat saya masih bingung dan pusing, masih saja ada teman yang mengajak bercanda. Selalu ada yang usil. Namun, terkadang saya merindukan saat-saat kebersamaan itu. Satu Kata yang Tepat, Pahami! Setelah saya banyak berpikir di kamar mandi, akhirnya saya mulai memahami. Sebetulnya, yang diungkapkan oleh Mas Christ dan Mami Lies saat “memarahi” kami adalah sebuah saran. Supaya kita bisa lebih baik lagi. Namun, karena salah tanggap, saya mengiranya itu adalah luapan emosi semata. Setelah sering berbincang dengan Mas Christ dan Mami Lies, saya baru benar-benar menyadarinya. Mereka tidaklah galak seperti yang pernah diungkapkan para relawan senior Sekretariat Semarang. Untuk tugas pengelolaan SIANAS, awalnya saya menganggapnya terlalu berat. Namun, setelah menjalaninya, beban itu terasa hilang. Tergantikan oleh rasa senang, karena melihat adik-adik yang memang membutuhkan bantuan, bisa mendapatkan donatur yang baik hati. Tidak bisa dipungkiri juga, hal itu berkat bantuan teman-teman yang sering share informasi AAT, baik lewat media sosial, email, dan sms. Terima kasih atas bantuan teman-teman, yang membuat semua anak asuh yang diterima semester ini, tahun ajaran 2013/2014, bisa mendapatkan orangtua asuh semua. Saya senang bisa melihat orang lain juga senang. Saya tidak ingin, apa yang terjadi pada saya dan keluarga saya, terjadi juga pada orang lain. Dikucilkan di lingkungan sendiri, karena keluarga yang tidak mampu, tidak dianggap ada oleh teman, dan tidak dipercaya oleh orang lain. Sering diremehkan, itu adalah hal yang paling biasa saya dapatkan, ketika saya kecil dan itu masih ada sampai sekarang. Ya, mungkin ini yang membuat saya malas kembali ke kota asal saya, Madiun. Dan salah satu cita-cita saya, pindah bersama keluarga saya dari Madiun, menuju tempat yang lebih baik lagi. Berusaha menjadi orang yang dipercaya, itulah yang saya lakukan sekarang. Saya ingin, selama saya masuk AAT, saya dianggap “ada”. Saya ingin sesuatu yang lebih berwarna dan berasa di AAT, seperti lemon tea. Mungkin inilah yang menjadi alasan, mengapa ketika saya diminta mengerjakan tugas, saya berusaha melaksanakannya, meski saat itu ada pekerjaan lain. Saya percaya, saya bisa membagi pikiran dan dapat menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan. Meskipun keteteran, tidak apa-apa, setidaknya saya sudah berusaha. Terkadang, saya juga sering dinasehati atau istilahnya diwejangi sama Mas Bani. “Kamu harus pintar-pintar membagi waktu, karena ini tugas tim, Bar”. Itulah salah satu wejangan Mas Bani yang masih saya ingat sampai sekarang. Tapi, karena saya dasarnya keras kepala dan bandel, saya jarang mengikuti sarannya itu. Manisnya Lemon Tea Saat pahit sudah dirasakan, ditambah asamnya, sekarang giliran manisnya. Banyak cinta yang saya dapatkan di sini. Cinta ibu pada anaknya, yang ditunjukkan Mami Lies, cinta bapak pada anaknya, yang dilakukan oleh Pak Hadi, cinta kakak pada adiknya, seperti yang sering Mas Christ, Mbak Santi, Mas Bani, Mbak Nisa dan Mbak Alma. Cinta sesama teman, sering ditunjukkan oleh Mas Edo, Mas Billy, Mas Tyo, Mas Sindhu, Rike (harusnya saya panggil mbak), Mas Handy, dan teman-teman lainnya yang tidak mungkin saya tulis semua di sini. Cinta kepada adik-adiknya, yang sering ditunjukkan para relawan, yang tidak mengenal siang ataupun malam, tetap berusaha untuk mendapatkan donatur dan berusaha agar adik-adiknya bisa terus melanjutkan pendidikannya. Masih banyak jenis cinta lainnya di AAT yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Berbagai pengalaman saya dapatkan. Dari pelatihan menulis yang diberikah oleh tim Rumah Media, pelatihan bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik, dan bagaimana kita bisa percaya dengan kemampuan yang kita miliki. Bertemu orang-orang yang hebat pada bidangnya dan bisa berbagi pengalaman saat survei ataupun saat pengenalan AAT. Mendapatkan teman yang baru, itulah yang saya sukai. Semakin banyak teman baru yang bergabung di AAT. Bisa berbagi satu sama lain, tanpa harus canggung. Tanpa harus melihat apakah kita berbeda ras, agama, dan umur. “Perbedaan tidak untuk dibandingkan, akan tetapi untuk disatukan”. Dan dengan AAT, semuanya terkumpul di sini. Yang tak kenal pun menjadi akrab, apalagi yang sudah kenal, tambah akrab lagi. Saya sangat senang menjadi bagian dari keluarga besar AAT. Saya senang minum lemon tea. Jadi saya ibaratkan AAT seperti lemon tea, yang di dalamnya terdapat rasa pahit, asam, dan manis. Tercampur jadi satu, menghasilkan

AAT Bagaikan Lemon Tea Read More »

Berubah untuk Berbuah

Tentang Diriku Namaku Natalia Agassi Cristinawati. Sejak kecil aku biasa dipanggil Gessi oleh orang tua, teman dan saudaraku. Tetapi biasa juga dipanggil Natalia atau Agassi. Masa kecil kuhabiskan di sebuah kota kecil di pinggir Utara Pulau Jawa yaitu Juana. Hingga saat menginjak SMA aku meninggalkan tempat tinggalku untuk hidup di lingkungan baru di sebuah kota besar, Semarang. 19 tahun yang lalu aku dilahirkan di Pati, 24 Desember 1994. Selama hampir 5 tahun aku tinggal di Semarang dan jauh dari keluarga. Selama 5 tahun itu pula banyak cerita dan pengalaman yang berharga buat hidupku. Orang Tua Saat aku berumur kurang lebih satu bulan ayah pergi meninggalkanku dan ibu untuk merantau ke negeri orang untuk mencari nafkah bagi keluarga kami. Selama beberapa waktu aku tidak tahu bagaimana sosok ayahku, hingga suatu saat ayahku pulang aku tidak mengenalinya. Bahkan aku menganggapnya seperti orang asing karena sekian lama aku tak melihatnya. Sejak kecil aku hidup bersama keluarga yang sederhana. Cinta kasih yang begitu besar aku dapatkan dari ayah, ibu, kakek, nenek dan semua keluargaku. Suatu saat ayah memutuskan untuk pulang dan tidak pergi merantau lagi. Ayah membuka usaha kuningan dengan membeli sepetak tanah dan membangun sebuah rumah sekaligus tempat usaha. Harapannya adalah ingin punya usaha sendiri dengan penghasilan yang lumayan, karena daerah kami dikenal sebagai pengrajin kuningan. Tetapi di tengah jalan usaha itu terpaksa tutup dan kami harus menjual rumah tanah milik kami. Ketika itu mendapatkan pekerjaan sangat sulit. Ayah sudah mencoba untuk mencari pekerjaan kesana kemari namun nihil. Hingga akhirnya ayah mencoba untuk kembali merantau, tetapi gagal. Keluarga kami mengalami pergumulan hebat. Di samping kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, ada kebutuhan sekolahku, juga kebutuhan adikku yang saat itu masih kecil. Sedangkan pemasukan hampir tidak ada. Berbagai usaha dicoba dan ayahku mendapat pekerjaan sebagai juru parkir di swalayan dekat rumah kami milik seorang temannya. Memang bukan pekerjaan yang menjanjikan waktu itu tetapi lumayan untuk menambah pemasukan keluarga kami. Setelah beberapa waktu bekerja ternyata penghasilan ayah belum mencukupi untuk kebutuhan keluarga kami. Hingga ibu memutuskan untuk berjualan makanan. Waktu itu ibu berjualan jus buah di rumah. Aku mencoba menambah penghasilan ibu dengan menawarkan kepada teman-teman sekolahku. Kala itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Harga jus yang ditawarkan pun sangat murah yaitu 300 rupiah dan 500 rupiah. Setelah itu ibu mencoba berjualan pepes telur ikan. Setiap pulang sekolah aku membantu ibu untuk mengolah telur ikan yang masih mentah untuk dibuat pepes. Sore harinya dengan sepeda ibu menjajakan dagangannya berkeliling desa. Terkadang aku pun ikut berjualan dengan dibonceng oleh ibu. Banyak orang yang berkomentar negatif tentang dagangan ibu tetapi dengan ikhlas ibu tetap menjalaninya. Usaha ini tak bertahan lama karena bahan baku yang sulit didapatkan. Kemudian ibu mencoba usaha menerima pesanan makanan, dengan sepeda aku mengantarkan hasil pesanan ke tempat pemesan. Terbersit rasa capek dan sedih harus melihat kedua orang tuaku bekerja keras untuk keluarga kami. Sebagai anak aku mencoba membantu sebisaku untuk meringankan mereka. Ketika lulus SD aku sangat ingin masuk sekolah favorit di daerahku. Tetapi ada hal yang sedikit menghalangi yaitu masalah biaya. Orang tuaku sempat pesimis karena takut tidak bisa membiayai sekolahku. Tetapi aku ingin terus sekolah, aku optimis bisa menjadi salah satu murid di sekolah favorit itu. Dan Tuhan mengabulkan harapanku. Di sekolah ini aku meminta keringanan biaya SPP karena masih terlalu berat bagi orang tuaku untuk membayarnya. Selama kurang lebih 4 tahun ayah bekerja sebagai juru parkir, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk kembali bekerja di negeri orang. Hal ini dilakukan ayah karena beliau ingin anak-anaknya bisa terus sekolah hingga perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan. Sudah hampir 6 tahun ayah berada disana. Baru sekali ayah pulang menemui kami setelah 3 tahun ayah di sana. Selama satu bulan ayah pulang aku hanya bisa bertemu setiap akhir minggu karena waktu itu aku masih sekolah di Semarang. Rindu selama 3 tahun hanya bisa dibayar dengan intensitas pertemuan yang singkat. Terkadang aku merasa iri melihat teman-temanku yang bisa setiap hari bertemu dan memeluk orang tua mereka atau bahkan hanya sekedar mencium tangan mereka. Aku tak bisa sering melakukannya dan hanya bisa mencium tangan ibuku ketika aku pulang ke rumah. Aku pun hanya bisa sesekali mendengar suara ayahku lewat telepon tanpa bisa bertemu, memeluk dan mencium tangannya. Sekolah dan Kuliah Tinggal dan sekolah di Semarang sebenarnya bukan keinginanku, tetapi keinginan orang tuaku. Mereka ingin aku bisa berkembang menjadi orang yang lebih baik. Ingin rasanya menolak apa yang mereka mau, tetapi aku ingin membuat mereka bahagia. Sejak tinggal di Semarang banyak hal yang aku dapatkan. Aku belajar mandiri sebagai anak kos. Belajar mengatur keuangan, belajar menjaga diri, tahu tempat baru, bertemu banyak teman dan orang baru yang belum pernah kukenal. Tentunya aku belajar menjadi orang yang lebih dewasa. Sebagian masa remajaku, kuhabiskan untuk menuntut ilmu di Semarang. Kembali lagi itu semua kulakukan demi orang tua yang selalu mendukung dan mendoakanku. Ketika hampir lulus sekolah aku berniat untuk bekerja, untuk membantu orang tuaku. Tetapi niat itu musnah ketika aku melihat teman-temanku melanjutkan kuliah. Aku juga ingin kuliah seperti mereka tetapi aku tak tahu apakah aku bisa. Niat ingin kuliah aku utarakan kepada orang tuaku. Aku meyakinkan mereka bahwa aku akan lebih bersungguh-sungguh untuk kuliah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan. Awalnya aku ingin masuk perguruan tinggi negeri, tetapi tidak lolos seleksi. Lalu aku mendaftar di Akademi Farmasi Theresiana dan diterima. Di sinilah aku bertemu dan mengenal AAT Anak Anak Terang Perkenalan dengan AAT diawali ketika aku bersama lima temanku yaitu Wulan, Lensa, Dora, Naning dan Jenesia diberitahu oleh salah satu dosen kami (Pak Priyo) untuk bergabung dalam komunitas AAT menjadi relawan. Saat itu kami masih bertanya-tanya apa itu AAT. Mengapa kami yang dipilih dan apa yang nantinya akan kami lakukan. Minggu, 22 Sepetember 2013 kami hadir pada pertemuan relawan AAT Semarang di Deoholic Café. Kami disambut dengan begitu baik oleh teman-teman dari AAT termasuk Mami Lies, Bruder Konrad, CSA dan Mas Christ. Saat itu satu per satu dari kami relawan baru diminta untuk berbicara mengenai mengapa kami mau bergabung di AAT. Bukan hal mudah untuk bisa berbicara didepan orang lain, yang aku rasakan saat itu adalah

Berubah untuk Berbuah Read More »

Penandatanganan MoU AAT dan AKIN

“Anak Asuh Perguruan Tinggi adalah bagian integral dari AAT. Keberadaannya di AAT bukan sekedar untuk mendapatkan dana atau bantuan uang kuliah dan yang lainnya. Dengan penuh semangat, mereka mengambil bagian dalam pelayanan AAT, terutama dalam bidang administrasi. Di masa depan, mereka diharapkan menjadi penerus karya AAT. Oleh karena itu, kiranya tidak berlebihan kalau anak-anak asuh yang saat ini berada di Perguruan Tinggi merupakan masa kini dan masa depan AAT “(Rm. Ag. Agus Widodo, Pr.) Dalam pelayanan Beasiswa AAT, para penerima beasiswa AAT tingkat perguruan tinggi adalah ujung tombak pelayanan. Bersama dengan para relawan mahasiswa lainnya, mereka bertugas sebagai Staff Administrasi Beasiswa AAT dan menjadi Pendamping Komunitas (PK) bagi 132 sekolah/komunitas. Mereka mengelola 6 Sekretariat Beasiswa AAT, 1.126 donatur, dan 2.672 anak asuh di seluruh Indonesia. Mereka berada di Sekretariat AAT di Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Madiun, Malang dan Pontianak Program Beasiswa Anak-Anak Terang tingkat Perguruan Tinggi ini dijalankan oleh AAT sejak tahun akademik 2011/2012, bertujuan untuk memotivasi anak asuh agar menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki karakter yang kuat dan memiliki kompetensi yang baik, sehingga mampu untuk terus meningkatkan prestasinya. Program Beasiswa Anak-Anak Terang tingkat Perguruan Tinggi telah meluluskan 4 orang. Alumni dari program ini terus berkembang bersama AAT hingga sekarang. Mereka meniti karir di perusahaan-perusahaan ternama dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menjadi donatur bagi adik-adik asuh di AAT. Tahun Ajaran 2013/2014, AAT memiliki anak asuh Perguruan Tinggi sejumlah 36 orang yang tersebar di 7 Perguruan Tinggi di Yogyakarta, Semarang, Madiun dan Purwokerto. Alokasi dana beasiswa untuk Perguruan Tinggi pada tahun ini hanya sebesar Rp 233.290.000 atau sebesar 13,91%. Jumlah yang masih sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan Staff Administrasi untuk melayani ribuan donatur dan anak asuh. Untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak yang tidak mampu namun memiliki kemampuan akademis yang baik untuk mengenyam pendidikan tinggi, AAT menjalin kerjasama dengan AKADEMI KIMIA INDUSTRI (AKIN) SANTO PAULUS SEMARANG. Perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh Hadi Santono (Ketua Yayasan AAT Indonesia) dan Herman Yoseph Sriyana, S.Pd., MT. (Direktur AKIN Santo Paulus Semarang) disaksikan oleh Christianus Widya Utomo (Sekretaris Yayasan AAT Indonesia) dan Drs. T.A. Bambang Irawan, MT. (Pembantu Direktur AKIN Santo Paulus Semarang). Pada kesempatan itu juga Romo A.G Luhur Prihadi, Pr. sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral dan Vikaris Episkopalis Semarang berkenan memberikan kata sambutan pada acara tersebut.   Secara umum, isi MoU AAT dengan AKIN Santo Paulus adalah mengenai kerjasama pemberian beasiswa kepada mahasiswa AKIN Santo Paulus dan kerjasama pengelolaan Sekretariat Beasiswa AAT Semarang yang beralamat di SMK Kimia Industri Theresiana, Jalan Pleburan No. 12 Semarang. Sri Sutanti, salah satu Dosen AKIN Santo Paulus Semarang berpendapat, “MoU AAT dengan AKIN Santo Paulus merupakan kerjasama yang baik. Siswa jadi punya kesempatan yang sama untuk belajar. Harapannya ke depan, beasiswa ini bisa lanjut terus dan anak-anak bisa mempertahankan prestasinya”. Senada dengan Sri Sutanti, Br. Konrad, CSA, Ketua Yayasan Santo Paulus Semarang berpendapat, “Senang ya bisa bekerja sama dengan AAT. Kerjasama ini bisa membantu mahasiswa AKIN yang kebanyakan berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Selain itu MoU ini juga merupakan media promosi bagi AKIN untuk para mahasiswa baru. Ke depannya, diharapkan pelayanan AAT dan AKIN di bidang pendidikan bisa makin meningkat dan berkualitas”. Elisabeth Lies Endjang, Bendahara AAT mewakili para pengurus AAT pada kesempatan tersebut menyatakan, “Bagus sekali, kesempatan anak-anak untuk kuliah jadi banyak. Apalagi anak-anak di sini banyak yang latar belakangnya dari keluarga tidak mampu. Dari hal-hal kecil seperti ini, dengan memberi kesempatan pada anak-anak untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi, kita membantu negara untuk mengentaskan kemiskinan. Hal ini dilakukan dengan bantuan dari orang-orang yang mampu. Dengan membuat anak-anak ini mampu untuk menolong dirinya sendiri, maka di masa depan ia akan mampu untuk menolong negaranya. Selain itu anak juga diharapkan selalu bersyukur dengan mengoptimalkan (potensi) apa yang ada pada dirinya. Tuhan Maha Kuasa” Acara Penandatanganan MoU AAT dan AKIN Santo Paulus Semarang juga diisi dengan Sosialisasi Beasiswa AAT kepada beberapa Kepala Sekolah di Semarang. Aloysius Sudarno, Kepala Sekolah SMP Agustinus Semarang menyatakan, “Menurut saya bagus ya, adanya MoU ini amat sangat membantu mahasiswa kelas menengah ke bawah. Apalagi dari sekolah kami yang bisa dibilang sekolah pinggiran, untuk masuk ke perguruan tinggi akan sangat kesulitan biaya. Namun dengan masuk AKIN, anak-anak bisa lulus dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama lalu sudah bisa bekerja. Harapannya kerjasama ini bisa meluas dan tidak hanya di AKIN saja”. Penandatanganan MoU juga dihadiri oleh Donatur AAT. Emilda Handayani, salah seorang donatur AAT menyampaikan, “Saya sebenarnya baru mengenal AAT ya. Menurut saya MoU antara AKIN dan AAT ini bagus karena kampus bisa lebih tahu performa mahasiswa dan pengelolaan beasiswa secara administratif juga menjadi lebih mudah dan teratur. Harapan kami bahwa dana yang terkumpul oleh AAT ini bisa digunakan dengan lebih maksimal dan tepat pada sasaran”.     Diliput oleh : Hadi Santono Ikka Marissa Roberta   [qrcode content=”https://aat.or.id/penandatanganan-mou-aat-dan-akin” size=”175″]  

Penandatanganan MoU AAT dan AKIN Read More »

Workshop Menulis Bersama Rumah Media

Workshop Amal oleh Para Penulis “Kumcer Teenlit: Bukan Cupid” dari Rumah Media Minggu pagi, 16 Februari 2014, para relawan AAT Sekretariat Semarang tampak sibuk mempersiapkan workshop kepenulisan dengan tema “Write Your Love”. Workshop tersebut diisi oleh para penulis “Kumcer Teenlit: Bukan Cupid” dari Rumah Media. Acara yang diselenggarakan di SMK Kimia Industri, Jalan Sriwijaya (Kusumanegara) No. 104 Semarang ini dihadiri oleh para relawan AAT sekretariat Semarang, beberapa relawan dari sekretariat Yogyakarta, sekretariat Madiun, pengurus AAT, dan beberapa teman-teman dari Rumah Media. Menurut jadwal, acara dimulai tepat pukul 10 pagi. Namun, karena Mbak Ulin (pembawa acara) masih ada suatu hal, akhirnya acara baru dimulai pukul 10.45. Karena waktu semakin siang, akhirnya acara dibuka oleh Pak Wiwien Wintarto. Beliau adalah penulis, narasumber, sekaligus pegiat Rumah Media. Workshop dengan tema “Write Your Love” itu diawali dengan sambutan dari Bruder Konrad, CSA dengan gayanya yang khas. Bruder juga mengisi sambutan dengan membacakan sebuah syair cinta yang manis. Sebuah nasehat yang sangat menyentuh dan membawa kasih Tuhan di acara workshop amal semacam itu. Kala itu, bruder tidak seperti biasanya. Tangan beliau gemetaran saat menyenandungkan syair cinta tersebut. Selesai sambutan Bruder Konrad, CSA, dilanjutkan sedikit sambutan dari Pak Wiwien. “Rumah Media adalah bimbel menulis, wadah bagi siapa saja yang ingin belajar sama-sama tentang menulis karya sastra,” kata Mas Wien memulai sambutan. Rumah Media tidak hanya tempat belajar menulis, tetapi juga tempat memperdalam ketrampilan jurnalistik dan tempat untuk belajar broadcasting. Tak lama kemudian, Mbak Ulin datang. Intermezzo Mas Wien Wintarto dilanjutkan dengan perkenalkan para pengarang “Kumcer Teenlit: Bukan Cupid”. Kumcer tersebut ditulis oleh 14 pengarang. Beliau menjelaskan siapa-siapa saja pengarang didalamnya, ada Antonius Andrie, Christina Juzwar, Erlin Cahyadi, Esi Lahur, Irena Tjiunata, Janita Jaya, Lea Agustina Citra, Monica Petra, Nora Umres, Pricillia A.W, Sophie Maya, Theresa Bertha, Valleria Verawati, dan Wiwien Wintarto sendiri. Mereka adalah para penulis yang sudah melanglang buana dalam dunia tulis menulis. Penjelasan Mas Wiwien tentang Fiksionalisasi adalah materi selanjutnya. Fiksionalisasi adalah mengubah kisah nyata menjadi fiksi. Menurut penjelasan Mas Wiwien, ada 5 langkah yang dapat dilakukan untuk fiksionalisasi, yaitu : 1. Scene by Scene Yaitu membuat kisah secara runtut adegan demi adegan. 2. Rumus Hollywood Yang dimaksud Rumus Hollywood yaitu cerita yang diawali dengan perkenalan, konflik, lalu klimaks. Sama seperti Materi Bahasa Indonesia saat SMK. 3. Fluktuasi Emosi Memberi efek suasana emosional yang fluktuatif atau bahasa kerennya “labil”. Senang, tegang, sedih, dan bahagia, untuk mencampur adukkan suasana hati pembaca. 4. Efek Dramatik Menambahkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada agar cerita tersebut memberi kesan dramatis. Menambahkan hal-hal “alay” dapat dilakukan. Sesuai selera dan imajinasi masing-masing. 5. Tokoh Fiktif Mengembangkan adegan dan menambah tokoh-tokoh yang sebenarnya tidak ada. Menurut Pak Wiwien lagi, setelah kita dapat mengarang cerita, setidaknya dapat menghasilkan sebuah cerpen, kita dapat mencoba membuat novel. Ada beberapa tips bagaimana sebuah novel saat masuk penerbit dapat memiliki peluang yang besar untuk lolos seleksi. Beberapa tips yang diberikan yaitu: 1. Enam Halaman Pertama Saat teks novel kita masuk pada bagian editor, pertanyannya, “Apakah mereka membaca seluruh bagian novel yang kita kirim?” tentu saja jawabannya “tidak”, 6 halaman pertamalah yang mereka baca. Oleh karena itu, enam halaman pertama harus dikemas semenarik mungkin. 2. Adegan Pertama Unik Memberi kesan dini pada pembaca atas karya tulis sangat berguna untuk menarik perhatian pembaca dalam membaca karya anda. 3. Langsung Action/Dialog (bukan eksposisi maupun deskripsi) Deskripsi adalah penggambaran dan eksposisi adalah penjelasan suatu hal secara terperinci. Karya yang seperti itu membuat cerita terlihat berbelit-belit. Tentu saja penjelasan hal-hal di atas juga diselingi oleh joke-joke ala Mas Wien Wintarto agar materi tidak membosankan. Dan acara selanjutnya adalah makan siang selama setengah jam. Seusai makan siang, acara diambil alih oleh Mas Aulia A. Muhammad. Pembawa acara “Ruang Cinta” di salah satu acara televisi lokal di Semarang. Sama seperti Mas Wien, beliau juga penutur bahasa yang sangat baik dan selalu ada guyonan di sela-sela pemaparan materi. Mas Aulia ini juga sudah dua kali datang di acara AAT, seperti mas Wien.   Mas Aulia menjelaskan tentang kreativitas. Yaitu suatu kemampuan untuk berimajinasi dan menghasilkan ide-ide baru dengan mengombinasikan, mengubah, atau menerapkan sesuatu yang sudah ada dengan cara yang belum ada sebelumnya. “Tanpa kreativitas, suatu karya tidak akan memiliki jiwa dan terlihat mainstream,” jelasnya. Dalam kreativitas ini yang terpenting adalah jeli melihat peluang dan memanfaatkannya. Dalam kondisi apapun, peluang selalu ada. Kesempatan yang hanya datang sekali dan sangat rugi apabila kita hanya duduk terdiam tidak berbuat apapun. Mas Aul menunjukkan kemampuan kita pada setiap peluang, entah itu menulis, menjadi pembawa acara, dan sebagainya. Ini penting. Mas Aul juga menjelaskan tentang Bejana Kreativitas, Tembok Kreativitas, dan Sembilan Pil Perangsang. Yang dibahas satu persatu. Yang pertama ada Bejana kreativitas, yang terdiri dari empat hal. 1. Motivasi Personal Yang dimaksud di sini adalah keberanian sesorang untuk menantang diri dan menjawab tantangan tersebut untuk kemajuan hidupnya. 2. Lingkungan Lingkungan sebagai pembentuk kepribadian. Saat kita hidup di lingkungan yang penuh kreativitas, kita akan berkembang didalamnya. Begitupun sebaliknya. 3. Keahlian dan Keterbukaan Ahli didapatkan dari berlatih. Dan keterbukaan dilakukan dalam menerima kritik orang lain atas bentuk karya. Hal itu akan membuat jiwa kreatif terbentuk. 4. Proses Kegagalan dan keberhasilan adalah hasil akhir. Yang ditekankan di sini adalah bagaimana cara kita dalam mencapai hal itu. Dengan berlatih, mencoba hal-hal baru, dan tentu saja berusaha semaksimal mungkin. Materi kedua adalah Tembok Kreativitas. Apa saja itu? 1. Menyangkal Masalah Saat kita memiliki masalah, kita akan cenderung bersikap “saya baik-baik saja” dihadapan orang lain. Padahal kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Setiap masalah haruslah dihadapi. Berani menerima kekurangan adalah kuncinya. 2. Merasa Tak Mungkin/Bukan Aku Ketika kita melihat suatu peluang atau ditantang oleh suatu hal, banyak dari kita yang hanya diam karena kita merasa bahwa “ini bukan saya”. Karena apa? Tidak adanya kepercayaan diri sendiri bahwa kita dapat menerima tantangan itu. Saat kita mau berusaha untuk berkata “saya bisa melakukannya” dan mewujudkannya dalam aksi. Itulah memang yang seharusnya kita lakukan. 3. Ingin Terlihat Dewasa, Canggih, Tak Usil Kebanyakan orang ingin terlihat dewasa dan bersikap hati-hati di depan umum. Dunia anak misalnya, penuh kreativitas karena apa? Keluguan dan tak ada kata malu dalam kamus mereka. Mereka

Workshop Menulis Bersama Rumah Media Read More »

Pohon Kesabaran yang Berbuah Manis    

“Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya” Menjadi Mahasiswa Menjadi seorang mahasiswa memang sudah menjadi impian saya sejak dulu. Awalnya saya memang ingin melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri, tentunya itu hanya ada di luar kota Madiun. Namun keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di luar kota tidak dikabulkan oleh kedua orang tua saya, karena semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang dikeluarkan tidak hanya untuk kuliah, tapi juga biaya hidup di sana nantinya. Mengingat bapak saya yang hanya seorang sopir di sebuah instansi pemerintah dengan penghasilan pas-pasan dan ibu saya tidak bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Bersyukur saya bisa melanjutkan kuliah. Bulan September 2011 perkuliahan dimulai. Awalnya menyenangkan, karena impian saya untuk kuliah tercapai. Saya merasakan menjadi seorang mahasiswa dan merasakan diajar oleh dosen. Namanya bukan lagi mata pelajaran, tapi sudah menjadi mata kuliah. Merasakan mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan pakaian bebas di kelas, dengan setumpuk tugas, dan berbagai kegiatan yang ada di kampus. Ya, sangat identik dengan seorang mahasiswa. Memang berbeda sekali ketika masih di bangku sekolah. Ketika tugas mulai menumpuk, saya harus sering berkunjung ke warnet dan mengeluarkan uang lebih. Harus merepotkan sahabat serta teman-teman untuk pinjam laptop, karena waktu itu saya belum punya laptop. Semuanya demi tugas kuliah yang harus saya selesaikan. Saya Gagal dan Mencoba Lagi Satu semester terlampaui. Terbersit keinginan untuk nyambi kerja. Tapi keinginan itu hanya sebatas keinginan saja, masih belum mantap di hati saya. Di semester dua, saya mulai melihat kebingungan orang tua saya, ketika tiba waktunya untuk membayar angsuran biaya kuliah. Hal ini dikarenakan berkurangnya penghasilan sampingan bapak (carteran mobil). Selama ini, penghasilan dari carter mobil itu yang membantu keuangan keluarga kami. Akhirnya saya berusaha mencari informasi beasiswa-beasiswa yang ada di kampus. Pertengahan semester dua saya mencoba mengajukan beasiswa di kampus. Tetapi saya gagal mendapatkannya. Padahal harapan dan keyakinan saya sudah setinggi langit. Apa boleh buat, belum rejeki saya. Kemudian tak lama setelah itu ada kesempatan beasiswa lagi dan saya mencobanya lagi. Karena beasiswa ini memang sangat menggiurkan buat kami para mahasiswa. Tapi lagi-lagi saya gagal mendapatkannya. Kecewa iya, sedih iya, tapi Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan untuk bersabar dan terus mau berusaha lagi untuk mencoba keberuntungan yang lain. Ketika menginjak semester tiga, keinginan saya untuk nyambi kerja sangat besar. Bahkan saya ingin pindah kelas malam supaya bisa bekerja penuh. Karena memang keuangan keluarga kami terus menurun dan selalu ada kekhawatiran dalam diri saya saat waktunya membayar cicilan uang kuliah. Takut-takut kalau tidak bisa membayar, tidak bisa ikut ujian, dan akhirnya berhenti kuliah. Harapannya, jika saya nyambi, saya dapat membantu meringankan beban bapak meskipun hanya sedikit. Akhirnya, saya mulai mencari informasi lowongan pekerjaan. Beberapa kali saya memasukkan lamaran, tetapi tak satu pun yang diterima. Meskipun kecewa, tapi saya masih bersabar dan terus mencari informasi. Ternyata, Tuhan telah mempersiapkan pekerjaan untuk saya di tempat lain. Mulai April 2013, saya mulai bekerja di salah satu bimbingan belajar. Saya pun masih bisa kuliah tanpa harus berpindah kelas malam. Alhamdulillah penghasilan part time job ini dapat membantu kebutuhan pribadi saya. Lagi-lagi Gagal Kesempatan beasiswa yang ketiga kalinya muncul saat saya berada di semester 4. Dan saya mencoba keberuntungan lagi, berharap kali ini bisa saya dapatkan. Tetapi sepertinya keberuntungan belum berpihak kepada saya, lagi-lagi saya gagal. Pengumuman beasiswa itu memang seperti halilintar di siang bolong yang menggoyahkan pikiran, hati, dan semangat saya. Beberapa hari saya sempat down karena saat itu bapak saya mulai pensiun dan otomatis keuangan kami akan semakin menurun. Bingung bercampur kecewa, karena tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tetapi, untungnya Tuhan memberikan kekuatan pada saya melalui sahabat-sahabat saya yang tidak hentinya terus memberi semangat. Akhirnya kepercayaan saya tumbuh lagi. Pohon Kesabaran Selalu Berbuah Manis Tak lama kemudian, saya seperti kejatuhan durian runtuh, mendapatkan rejeki yang bisa digunakan untuk membeli laptop. Saya mendapatkan tugas dari kampus untuk menjadi LO (Liaison Officer) di acara PORPROV Jatim yang diselenggarakan di kota Madiun. Di sana saya bertugas selama kurang lebih 2 minggu dan mendapatkan gaji yang lumayan. Ya, pohon dari kesabaran selama dua tahun akhirnya berbuah juga. Akhirnya saya bisa membeli laptop. Tidak lama dari itu, saya mendapatkan informasi dari Pak Bernardus Widodo, Wakil Rektor III di kampus saya, bahwa akan ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ANAK-ANAK TERANG dari Yayasan AAT Indonesia atau biasa disebut dengan AAT. Saat itulah saya mulai mengenal AAT. Informasi itu membuat saya semakin bersemangat lagi dan dengan sesegera mungkin saya melengkapi berkas-berkas persyaratan. Kemudian langkah selanjutnya saya harus diwawancarai. Saat itu, saya di wawancarai oleh Bruder Yakobus, CSA. Deg-degan di hati bercampur dengan dingin yang luar biasa, was-was menunggu giliran wawancara. Setelah masuk ruangan, saya mendapatkan berbagai pertanyaan. Saat menjawab pertanyaan dari Bruder, suasana mulai mencair, dan saya mulai merasa nyaman diwawancarai. Rasanya seperti ngobrol dengan teman sendiri. Beberapa hari kemudian, tanggal 23 Agustus 2013, saya harus wawancara kembali dengan pengurus AAT. Itu adalah persyaratan terakhir yang harus saya penuhi. Ternyata setelah mereka datang, langsung diumumkan siapa yang lolos beasiswa ini dan menjadi anak asuh AAT. Berdebar sekali rasanya, seperti jantung mau copot. Dari 30an peserta, yang lolos hanya 10 mahasiswa. Satu persatu nama yang lolos disebutkan. Dalam batin saya, “Kok nama saya nggak disebut-sebut ya.” Saya tambah nervous saat urutan nama ke-7 belum juga disebut. Sempat berpikir negatif, menghela nafas, dan terus menunggu sampai selesai. Dan ternyata nama saya disebut yang terakhir kalinya, urutan ke-10. Lega seketika, hilang rasa cemas, kecewa, yang ada hanya rasa syukur dan gembira. Dan lagi-lagi, pohon kesabaran yang saya tanam berbuah manis. Raut kegembiraan terpancar jelas dari orang tua dan keluarga saya, penantian selama dua tahun. Terima Kasih AAT   Memang pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Di mana September 2013, awal bapak saya harus pensiun dan saat itu juga saya mulai mendapatkan beasiswa dari AAT. Alhamdulillah beasiswa yang diberikan AAT sangat membantu meringankan beban keluarga saya, sehingga saya masih bisa melanjutkan kuliah sampai sekarang ini. Memang semuanya sudah dipersiapkan oleh-Nya. Kesabaran, kerja keras, dan pantang menyerah memang menjadi kunci dari semua impian yang ingin kita wujudkan. Tidak ada yang gratis di dunia ini, semua harus

Pohon Kesabaran yang Berbuah Manis     Read More »

Menginspirasi Lewat AAT

Theodora Laras Wigati, itulah namaku. Tetapi, teman-teman akrab menyapaku dengan panggilan Dora. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Hidup sederhana kunikmati bersama kedua orang tua dan dua saudaraku di sebuah desa, daerah Lampung. Dulu ayahku masih bekerja sebagai seorang guru di perantauan, yaitu di daerah Lahat, Sumatra Selatan. Ayah rela merantau jauh meninggalkan kami demi memenuhi kebutuhan hidup kami. Tetapi ternyata ayah tidak pernah mengirim uang untuk ibu. Karena uang yang diperoleh ayah hanya cukup untuk biaya hidup ayah di perantauan. Ketika itu, ibu berinisiatif bekerja sebagai seorang penjual sayur keliling di Desa Argomulyo, Kecamatan Banjit, Lampung. Tentang Orangtua Waktu itu, ketika ibu menjadi penjual sayur keliling, aku masih berada di dalam kandungan. Tidak hanya itu, ibu juga rela menitipkan kakakku yang masih berumur 1 tahun pada tetanggaku, ketika ibuku berjualan. Dengan sabar dan ikhlas ibuku berkeliling dari pagi sampai siang dengan penghasilan yang tidak menentu. Itulah salah satu kehebatan yang dimiliki oleh seorang ibu. Rela berkorban untuk anak-anaknya meski dalam keadaan seburuk apapun. Ketika aku dilahirkan, ayah belum kembali pulang. Hal itu sangat membuat hati ibu sangat sedih karena ibu melahirkan tanpa didampingi seorang suami. Setelah beberapa hari aku dilahirkan, ayah pulang ke rumah. Tetapi sedihnya, ayah terlihat tidak senang dan tidak langsung menggendong aku seperti para ayah yang lain terhadap anaknya. Kisah itu kudengar dari cerita ibu saat aku sudah duduk di bangku SMA, ketika ibu sering bertengkar dengan ayah di hadapanku. Semenjak itu, aku menyimpan rasa benci terhadap sosok ayahku. Meski rasa benci itu tidak pernah aku tunjukkan pada ayah. Dan memang, dari kecil aku merasa kurang mendapat kasih sayang darinya. Tetapi hal itu justru menjadi motivasi untuk diriku agar menjadi anak yang lebih mandiri dan tegar. Aku Harus Bisa Kuliah Ketika SMP dan SMA, aku memilih sekolah di sekolah swasta Katolik karena aku ingin belajar mandiri dengan tinggal di asrama dalam bimbingan para Suster. Karena ibu mendukung dan ayah pun ikut menyetujui dukungan ibu, maka aku bersekolah di sekolah yang aku inginkan tersebut. Ibu mendukung karena ibu tidak mau anak-anaknya merasakan nasib seperti ibuku yang hanya lulusan SMP. Dengan penuh harapan, ibu selalu berkata pada kami, “Pokoknya kalian harus bisa kuliah semua. Supaya nanti jadi orang yang lebih baik dari ibu.” Ketika aku lulus SMA, aku teringat kata-kata ibu. Dan aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta Jurusan Farmasi. Tetapi aku tidak berani meminta ibu untuk mewujudkan impianku, karena aku tahu biayanya besar. Dan lagi tidak hanya aku yang dibiayai untuk kuliah. Kakakku juga kuliah dan aku harus mengerti dengan keadaan keluargaku yang pas-pasan dan masih ada adikku yang baru masuk SD. Ketika itu, aku tetap nekat meminta kepada orangtuaku untuk kuliah. Ibu pun menanyakan kira-kira biayanya. Setelah aku memberi penjelasan pada ibu, akhirnya ibu menyetujui, tetapi syaratnya aku harus berhenti sekitar setahun sembari orangtuaku mengumpulkan biayanya. Aku tak begitu saja menyetujui, aku berfikir kembali dan mencari solusinya. Aku pun searching di internet mencari Jurusan Farmasi di daerah Jawa. Aku memutuskan untuk kuliah di Akademi Farmasi Theresiana Semarang, orangtuaku pun menyetujuinya. Aku senang sekali dapat melanjutkan kuliah seperti teman-temanku yang lain. Di Akfar Theresiana inilah aku diperkenalkan dengan AAT oleh dosenku. Mengenal AAT Ketika itu aku bersama lima temanku yang lainya yaitu Wulan, Lensa, Naning, Natalia, dan Jenesia, diberitahu bahwa Bruder Konrad, CSA, mengajak kami untuk bergabung membantu komunitas AAT tersebut. Kami masih bingung apa itu AAT, apa saja kegiatan AAT, dan kami baru mengetahui adanya komunitas AAT, Bruder lalu memberi tahu dosen kami bahwa pada hari minggu tanggal 22 September 2013, kami diminta untuk mengikuti pengenalan tentang AAT di Deoholic Cafe. Dengan rasa semangat dan penasaran kami datang dan memperkenalkan diri masing-masing kepada para pengurus AAT dan kakak-kakak AAT. Setelah pengenalan para pengurus dan teman-teman Pendamping Komunitas (PK), dilanjutkan pengenalan apa itu AAT, bagaimana tugas AAT, dan terutama tugas PK AAT karena kami akan masuk menjadi anggota AAT dan menjadi PK AAT. Yang paling berkesan adalah kata-kata Mami Lies yang unik yaitu “AAT membantu anak asuh yang ingin bersekolah namun tidak memiliki dana untuk membiayai uang sekolah mereka. Jadi kita harus mencari biaya dari para donatur-donatur yang baik hati untuk membantu para anak asuh AAT.” Setiap mengingatnya, aku menjadi semakin bersemangat untuk ikut membantu dan melakukan tugas sebaik mungkin. Pertamanya kami masing bingung dengan tugasnya bagaimana. Tetapi setelah terjun dan belajar langsung mengenai tugas kami yaitu seperti survei dan mewawancarai anak asuh yang akan mendapatkan beasiswa dari AAT ini. Selain itu kami juga kami belajar tentang pengajuan proposal, pengiriman kwitansi dan bukti pembayaran SPP, serta cara menginput data anak asuh. Kami bisa menjalaninya sedikit demi sedikit. Sangat menyenangkan rasanya, karena aku bisa mendapat teman banyak dan pengalaman yang luar biasa di AAT. Menginspirasi Lewat AAT   Tugas yang sangat berkesan buat aku adalah ketika mewawancarai adik-adik yang akan menjadi calon anak asuh AAT di SMP Salomo 3 Temanggung, pada tanggal 10 November 2013. Saat itu aku senang karena bisa bertemu dengan adik-adik yang akan aku wawancarai. Di balik keceriaan mereka semua ternyata banyak masalah yang mereka alami melebihi masalah yang aku alami selama ini. Mulai dari keluarga yang sangat tidak mampu, anak yatim, anak yatim piatu, dan ada juga yang mengalami kejadian seperti aku dulu waktu kecil ditinggal ayah pergi merantau mencari uang dan ibu mencari nafkah sendiri. Saat itu aku teringat pengalaman diriku juga, sedih saat mendengarkan ceritanya. Ayahnya pergi ke Kalimantan meninggalkan keluarganya dan tidak pernah bisa dihubungi lagi. Ibunya pun tidak pernah mendapat kiriman uang dari ayahnya. Ibunya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak menentu. Adik ini juga termasuk siswa yang berprestasi karena dia mendapat nilai yang bagus dan mendapat juara ke-2. Aku bangga dengan semangat belajar adik ini. Dengan tegar ia menceritakan apa yang dialaminya selama ini. Ternyata aku masih sangat beruntung dibanding mereka semua. Aku masih punya ayah yang tidak lagi meninggalkan keluarga demi mencari nafkah. Kehidupan keluargaku yang sekarang sudah lebih baik dibanding nasib keluarga mereka. Tanpa aku sadari ternyata mereka menjadi inspirasiku untuk lebih menyayangi ayahku dan ingin membuang rasa benci yang pernah aku pendam. Rasa sayangku terhadap ibu semakin

Menginspirasi Lewat AAT Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 duta76 aws interaksi lucky neko preferensi pemain aws momentum simbol mahjong scatter merah aws riset mahjong scatter emas tren rtp aws spin auto mahjong grid simbol aws symbol stutter multiplier olympus aws analisa putaran wild bandito otomatisasi aws analisis statistik simbol ekspektasi data aws analogi spin otomatis putaran konsisten aws data spin rng pgsoft aws data starlight princess analisis scatter aws evaluasi rtp live data historis aws jeda spin mahjong wins bonus aws koi gate scatter tanpa pola aws pemetaan putaran pgsoft algoritma aws rtp terbaru target logis pemain mahjong ways trik rahasia kemenangan pola baru mahjong strategi amhjong strategi unggul mahjong strategi mahjong ways pg soft rahasia suhu rahasia pg soft sensasi main mahjong ways 2 visual manja mahjong ways terbaru animasi cara baca simbol transisi mahjong ways 2 rahasia dimensi waktu hasil mahjong wins 3 pola mahjong agresif bonus besar tanpa hoki strategi mahjong agresif banjir bonus terbaru rumus sakti mahjong ways 2 pola gacor bocoran eksklusif mahjong ways 2 indikator live update analisis mahjong ways 2 waktu main cara kerja tumble mahjong ways kombinasi beruntun transformasi sesi transisi layer algoritma gates of olympus pemodelan scatter hitam mahjong wins keputusan arena premium dinamika wild merah mahjong ways 2 fase krusial kajian struktur pola mahjong wins 3 ketahanan sesi digital fenomena perilaku mahjong wins 3 observasi pakar analis analisis rtp tinggi abc1131 jam richard mille bonus hasil jutaan mahjong wins indonesia 2026 komunitas bandung indikator terbatas abc1131 abc1131 akuisisi mahjong wins 3 indonesia lokal analisa eksekutif peluang sicbo pola mahjong wild deluxe rtp live jitu gates of olympus duta76 kalkulasi silang analisa peluang baccarat pola mahjong ways 2 pgsoft taktik rtp live starlight princess duta76 makro strategi profit integrasi taktik blackjack analisa peluang pola mahjong wins 3 teknik rtp live sweet bonanza duta76 taktik paradoks sinkronisasi peluang dadu sicbo rtp live gates of olympus strategi mahjong wild deluxe matriks probabilitas sinkronisasi strategi baccarat teknik baca rtp live starlight princess pola mahjong ways 2 pgsoft anatomi keuntungan sinkronisasi strategi blackjack analisa pola mahjong wins 3 pragmatic teknik rtp live sweet bonanza aws ai koi gate scatter analisis aws gates olympus multiplier akses stabil aws konsistensi mahjong pendekatan perilaku aws lonjakan pemain rtp mahjong data aws mahjong kestabilan uji performa tren aws metode lucky neko pola digital aws performa koi gate analisis objektif aws riset komunitas mahjong rtp lonjakan aws validasi sweet bonanza pola rtp aws wild bandito manajemen risiko sistematis gates of olympus vs mahjong ways 1 mobil sport rekor tertinggi scatter hitam mahjong wins 3 sorotan hasil 2026 indikator tinggi abc1131 pemodelan topografi digital mahjong ways 2 mobile sinergi indikator balikan mahjong ways pasar saham adaptasi algoritma rekomendasi mahjong ways beranda dampak multitasking browser visibilitas mahjong ways strategi mahjong ways 2 ekonomi perhatian 2026 evolusi preferensi gen z strategi mahjong ways kalkulasi probabilitas berantai mahjong ways 2 aws analitik realtime lucky neko trik aws data algoritma koordinat scatter presisi aws ekspektasi realistis lucky neko konsistensi aws formula mahjong perubahan spin otomatis aws interval spin malam scatter hitam aws investigasi pola starlight multiplier terstruktur aws mindset pengguna rtp komunitas dampak aws optimasi update mahjong risiko stabil aws perhitungan waktu algoritma wild bandito aws transformasi rtp stabil data historis rahasia symbol stutter gates of olympus multiplier ekspektasi target statistik prediksi simbol navigasi ritme terpadu wild merah mahjong ways 2 arsitektur grid komputasional mahjong ways 2 fondasi navigasi sistem sinkronisasi grid metode prediksi numerik scatter hitam april 2026 logika algoritma pragmatic play black scatter akselerasi putaran strategis super scatter hitam ketahanan sesi digital mahjong wins 3 manajemen kontrol emosi kecepatan putaran mahjong wins