AAT Semarang

Saya Berubah Berkat AAT

“Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik.”  PERKENALKAN, Saya Edo Prakosa, relawan Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia Sekretariat Semarang. Saya seorang muslim, lahir di Semarang tanggal 29 Maret 1994. Saat ini, saya kuliah di AKIN (Akademi Kimia Industri) St. Paulus Semarang, Semester IV. Di AKIN, saya dipercaya sebagai ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), dan di AAT ini, saya sebagai Koordinator Sekretariat AAT Semarang. Kedua orang tua saya merupakan pekerja keras. Tiap pagi jam 4, ayah sudah bangun untuk pergi ke pasar. Beliau di pasar bekerja menata dan menjaga kendaraan, baik roda dua maupun roda empat agar tampak rapi dan terhindar dari pencurian sampai jam 7 pagi. Sore harinya, sekitar jam 3, beliau ke ruko untuk menjaga keamanan di sana sampai jam 5. Ya, penjaga keamanan yang tidak pernah memakai seragam. Ibu saya bekerja berjualan nasi dan minuman di depan ruko dengan gerobak bersama tetangga saya. Pekerjaan dibagi dua, Ibu bagian memasak dan menyiapkan yang lainnya, sedangkan tetangga saya yang berjualan. Nantinya, keuntungan tiap hari akan dibagi dua. Saya lahir di sebuah keluarga yang istimewa. Sekilas tampak dari kondisi keluarga yang harmonis dan sangat tercukupi. Namun, hal itu kadang tidak selalu benar. Kebiasaan buruk ayah saya dari muda sampai sekarang masih belum bisa dihilangkan. Karena memang ayah saya sejak kecil lahir dan hidup di lingkungan yang keras. Ayah kadang pulang dalam keadaan sempoyongan. Hal itulah yang memicu seringnya terjadi cekcok dalam keluarga saya. Berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan ayah, sudah saya lakukan. Tetapi masih tetap sama, tidak ada perubahan. Meskipun begitu, itu semua tetap saya hadapi dengan sabar dan kuat. Walau sebenarnya dalam hati ingin berteriak sekeras-kerasnya, karena tidak tahan melihat keadaan keluarga saya yang seperti itu. Saya Berubah Berkat AAT Semasa SMP dan SMK, saya dikenal sebagai sosok yang pendiam dan cuek. tapi kadang suka membuat teman-teman tertawa. Bahkan, saking cueknya, beberapa teman saya mengira bahwa saya seorang anak yang sombong. Padahal bagi yang sudah mengenal saya, hal itu sangat jauh berbeda. Semasa sekolah, saya belum aktif berorganisasi. Namun saya dikenal anak yang rajin dan cukup pintar. Itu kata teman-teman saya. Sebelum lulus SMK, saya sudah diterima kerja di Pabrik Cat asli Indonesia yaitu PT. Propan Raya ICC Tangerang. Saya hanya bekerja selama setahun karena ada desakan dari orang tua yang belum bisa melepas saya untuk bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di AKIN St. Paulus Semarang, karena di sana banyak beasiswa prestasi yang ditawarkan dan lulusannya juga tidak kalah dengan PTN lainnya. Di AKIN St. Paulus inilah saya mulai berubah 180 derajat. Sebelum bertemu AAT, saya masih pendiam, dingin, malu tampil di depan umum, dan parahnya gaptek media sosial (buat akun facebook saja baru bulan Agustus 2012). Bulan Juni 2013 merupakan “pandangan pertama” saya dengan AAT. AAT yang multikultur yang tanpa membeda-bedakan agama, membuat saya tanpa berpikir panjang langsung mengikuti kegiatan AAT tiap akhir pekan. Hal itu berkat ajakan teman saya, Handy. Kegiatan-kegiatan di AAT seperti survei di sekolah-sekolah untuk mewawancarai calon anak asuh, yang nantinya anak tersebut akan mendapat beasiswa untuk pembayaran SPP. Kesan pertama bergabung di AAT, saya sangat senang sekali karena bisa jalan-jalan sambil berkegiatan sosial. Namun di tengah perjalanan kadang terdapat kesulitan. Meskipun begitu, AAT telah memberi saya banyak manfaat. Karena AAT yang membuat saya berani berbicara di depan umum, berani diberi tanggung jawab, dan berani menjadi pemimpin. Bimbingan, arahan, dan nasehat yang keras dari para pengurus AAT yang membuat saya seperti sekarang ini. Banyak hal yang saya dapat selama bergabung dengan AAT. Dari perubahan sikap, pengendalian emosi, pembagian waktu yang efektif, pola pikir yang lebih dewasa, dan yang terutama selalu memegang komitmen dan bertanggung jawab. Relawan AAT tidak sekedar relawan. Kami para relawan dilatih untuk menjadi seorang yang mandiri dan kelak akan menjadi bagian dari pemimpin negeri ini. Sebenarnya bukan relawan, melainkan pekerja. Pekerja sosial ! Karena selain membantu anak-anak yang kurang mampu dengan waktu dan tenaga yang dimiliki, di AAT diajarkan juga untuk memiliki target. Tentu saja target memenuhi kuota donatur bagi para anak asuh. Pengalaman Bersama AAT   Bulan Agustus dan Januari merupakan bulan tersibuk bagi semua jajaran AAT baik pengurus maupun relawan. Kenapa? Karena pada bulan tersebut terjadi suatu peristiwa paling heboh dan ramai yaitu “lelang anak”. Ingin tahu seperti apa? Ikuti saja terus kegiatan AAT melalui web AAT di www.anakanakterang.web.id ataupun sosial media AAT, bisa FB grup (Anak Anak Terang), Fanpage (Anak Anak Terang), atau Twitter @beasiswaaat. Di bulan-bulan itu para relawan dan pengurus bekerja sama mencari ratusan donatur yang nantinya akan membiayai SPP anak asuh, baik lewat jejaring sosial maupun lewat jaringan lain seperti teman kerja, teman kuliah, dan orang-orang terdekat lainnya. Jaringan AAT sangat luas, sehingga kami selalu mendapatkan banyak pertolongan dari orang-orang yang tergerak hatinya untuk membantu. Banyak tantangan dan kegiatan selama menjadi relawan AAT khususnya. Dimulai dari mengatur kegiatan survei, pencarian dana, input data anak asuh, mencari donatur, mengirim raport anak asuh, dan masih banyak lagi. Belum lagi secara tidak langsung mendapatkan ilmu public speaking, jurnalistik, dan sosial media. Seru dan menegangkan tentunya. Saya di lingkungan AAT merasa sedang masuk dalam labirin, di mana kadang kita menemukan jalan berlika-liku, buntu, dan akhirnya menemukan jalan keluar yang lain lagi. Sungguh tantangan yang luar biasa. Saya percaya setelah menguasai lika-liku labirin ini, banyak hal yang akan saya peroleh untuk bekal menjadi manusia bagi manusia lainnya, yaitu manusia yang peduli akan sekitarnya, manusia yang meyakini bahwa apa yang kita beri ke orang lain pasti juga nantinya akan kembali ke diri kita sendiri. Terima Kasih Mas Christ Widya, Mami Elisabeth Lies Endjang, Br. Conradus, CSA, yang sudah menjadi sosok penting dalam perjalanan hidup saya sekarang, nanti, dan selamanya.   Edo Prakosa* Staff Admin AAT Semarang * Edo Prakosa adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Koordinator Sekretariat AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang angkatan 2012.   [qrcode content=”https://aat.or.id/saya-berubah-berkat-aat” size=”175″]  

Saya Berubah Berkat AAT Read More »

Wawancara dan Survei SMP Kanisius Raden Patah

Minggu, 17 November 2013 adalah hari yang berkesan dan bersejarah buat saya khususnya. Tadi pagi, tepatnya jam 10.00, kami tim Pendamping Komunitas Anak-Anak Terang (PK AAT) mengadakan survei sekolah dan wawancara calon anak asuh AAT di SMP Kanisius Raden Patah Semarang yang terletak di Jln. Raden Patah No. 163, Semarang. Ketika sampai di sana, kami disambut hangat oleh guru-guru SMP Kanisius Raden Patah Semarang. Setelah presentasi tentang AAT di depan calon anak asuh selesai, kami membuat permainan kecil yaitu mengadakan kuis yang seru lalu dilanjutkan menyanyikan Lagu AAT bersama-sama. Setelah itu, kami pun mulai mewawancarai calon Anak Asuh (AA) satu per satu. Dari mereka yang saya temui, saya menemukan banyak karakter dan sifat, tapi di sisi lain ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya karena dapat mengenal latar belakang mereka. Dari sekian banyak latar belakang dan latar kehidupan mereka yang saya ketahui, ada salah satu anak yang memiliki cerita kehidupan yang menyentuh hati dan nurani saya yang amat mendalam. Anak ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kondisi keluarga yang tidak harmonis dan memprihatinkan tengah dirasakan seorang gadis kecil yang duduk di kelas 3 SMP Raden Patah ini. Ibunya meninggal kira-kira 2 tahun lalu dan di saat itu juga ayahnya pun pergi entah kemana, tanpa pamit, dan tanpa kabar. Betapa mirisnya hati saya ketika saya mendengar cerita gadis kecil yang lugu itu. Seorang ayah yang seharusnya berkewajiban menafkahi, menjaga, dan mengayomi anak-anaknya malah pergi tanpa ada kabar sampai sekarang. Anak itu saat ini tinggal bersama neneknya. Dia dan adiknya dinafkahi oleh neneknya yang berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Seorang nenek yang harusnya sudah tidak bekerja lagi tapi tetap berusaha mencari nafkah demi kedua cucunya yang masih bersekolah. Dan mirisnya lagi anak ini di sekolah belum mendapat beasiswa apapun yang membantu meringankan biaya SPP-nya. Semakin tersentuh sekali hati saya mendengarnya. Setelah mendengar cerita anak ini saya berfikir bahwa dia layak mendapat beasiswa dari AAT.   Cerita selanjutnya dari gadis yang duduk di bangku kelas 3 SMP juga, dia anak ke 2 dari 4 bersaudara. Orangtuanya telah bercerai dan yang menafkahi keluarganya adalah ibunya dengan berjualan di dekat kantor POS dan menyetor-nyetorkan nasi ke sekolah adiknya. Tanggungan ibunya adalah 3 anak yang masih bersekolah dan 1 anak yang hanya lulusan SMP. Saat ini anak itu bekerja baru sebulan. Ia melakukannya karena orangtuanya bercerai dan ayahnya tidak menafkahinya lagi. Ibunya pun harus banting tulang untuk menafkahi anak-anaknya dengan segala cara. Mendengar cerita ini saya tersentuh kembali dan sangat miris hati saya. Anak ini layak juga mendapat beasiswa AAT. Cerita terakhir yang menyentuh yaitu cerita seorang anak yang harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Jika anak lain, masih ditemani kedua orang tuanya saat belajar, dia tidak dapat merasakannya lagi. Kedua orang tuanya telah meninggal. Sang ayah meninggal sejak dia kecil, sedangkan ibunya, meninggal ketika dia baru duduk di bangku SMP. Yang mengurusnya sekarang adalah kakaknya. Meski memiliki 2 kakak, itu tidak menjamin dia mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Karena kakaknya sendiri telah berkeluarga. Di samping itu, kakaknya tidak bisa membuatkan makanan untuknya karena berangkat kerjanya pagi-pagi dan pulangnya malam hari. Terlebih lagi uang saku setiap harinya hanya Rp 5.000, itu sudah termasuk uang untuk naik angkot pulang dan uang makan selama sehari. Mungkin kalau saya di posisinya, saya hanya bersedih, tidak dapat lagi tersenyum, seakan-akan dunia telah menelan semua kegembiraan yang saya miliki. Namun anak ini berbeda, dia tetap bersemangat untuk tetap bersekolah dan tetap tersenyum, seperti tidak ada beban di pikirannya. Semangat hidupnya tetap membara meski telah dipadamkan berulang kali. Namun semua pasti ada batasnya, kita tidak tahu, sampai sejauh mana kekuatannya. Semoga ada yang tergerak hati untuk membantunya. Tidak hanya membantu dalam finansial, namun juga kasih sayang. Saya tidak dapat membayangkan bila saya berada di posisi anak ini. Jadi bersyukurlah kita yang sudah diberi kenikmatan hidup oleh Tuhan. Janganlah kalian menyia-nyiakannya. Tetaplah bersyukur bagi semuanya.   Fransisca Jenesia Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/wawancara-dan-survei-smp-kanisius-raden-patah” size=”175″]  

Wawancara dan Survei SMP Kanisius Raden Patah Read More »

Bagaimana Saya Bisa Sekolah?

“Saya bertanggung jawab, tapi bagaimana caranya saya bisa sekolah?” Senin siang, saya memenuhi janji pada Kepala Sekolah SMP Bellarminus Semarang untuk mewawancarai beberapa anak yang minggu kemarin tidak hadir. Dari 6 orang anak, ada seorang anak yang tidak hadir lagi, bahkan tidak masuk sekolah. Saya sabar menunggu Pak Kepala Sekolah dan Guru BP yang berusaha muter-muter mencari jejak anak ini. Hingga terdengar suara, “Ayoook cepat masuk… sudah ditunggu sejak tadi …” kata Bapak Kepsek dengan agak keras (remaja ini ditemukan di pemakaman sedang memanjat pohon Kamboja untuk memetik bunga Kamboja). Di depan pintu muncullah anak lelaki dengan wajah merah merona penuh peluh, menenteng tas sekolah dan beberapa tas kresek hitam dipelukkannya. Agak takut ia berdiri di depanku. Tak kuasa aku melihat wajah takutnya, kukembangkan senyumku dan mempersilahkannya duduk. “Selamat siang nak… Namamu Satria ya?” (nama disamarkan) “Selamat siang juga Ibu…..bener” “Eh … ngomong-ngomong kamu kemana saja? Kemaren tidak hadir wawancara, juga hari ini tidak masuk sekolah” Dia diam. Lalu berkata, “Maaf Ibu, saya tadi berangkat sekolah kok. Tetapi tidak sampai sekolahan” (sambil krusak-krusek mempermainkan tas kresek hitamnya) Karena penasaran, saya pinjam tas kreseknya meski tadi tidak diperbolehkan. Rada berpikir konyol saya pun tertawa agak keras. Ternyata tas itu berisi bunga Kamboja. Karena tawa saya, andrenalin lelaki kecil itu tersulut. “Maaf Ibu.. Silahkan Ibu mengejek saya, saya tidak peduli. Karena bunga Kamboja ini adalah emas bagi saya…” (Padahal aku geli karena teringat waktu kecil. Dulu aku merasa lebih cantik bila aku merangkai bunga Kamboja dan memakaikannya di rambutku) Sambil emosi dia berkata, “Meski hari ini saya tidak sampai sekolahan karena ibu saya belum bisa melunasi uang SPP yang menunggak, namun saya tetap sekolah. Saya harus sekolah. Saya ingin pintar. Saya malu karena baju seragam saya sobek dan hanya satu-satunya itu yang saya punya. Kemarin dan hari ini saya harus mencari bunga Kamboja karena itulah sumber nafkah keluarga kami agar kami tetap bisa makan.” Ternyata, bunga Kamboja itu dikeringkan dan lima hari sekali disetor sebagai dasar membuat bedak berkualitas. Dia menghidupi dirinya sendiri, ibu, dan seorang nenek. Namun dengan apa dia bisa membayar uang SPP? Meski cita-citanya meletup-letup? Gleekk… Dadaku sesak karena haru. Anak seusianya yang lain masih bermain dan diberi uang saku berlebih. Tapi anak ini…   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Bendahara Yayasan AAT Indonesia.   [qrcode content=”https://aat.or.id/bagaimana-saya-bisa-sekolah” size=”175″]  

Bagaimana Saya Bisa Sekolah? Read More »

Perjuangan Mengenyam Pendidikan

Perjuangan Salah Satu Anak Bangsa yang Ingin Mengenyam Pendidikan Seorang remaja lelaki itu masuk kelas dengan wajah yang terlihat pucat pasi, kuyu, dan terlihat lemas. Semakin dia mendekat, kulihat peluh di wajahnya. Kemudian aku sapa dengan senyum, dia duduk di depanku dengan tertunduk pucat. “Selamat pagi Mas Boy, namamu Boy ya?” (nama disamarkan) “Selamat pagi Ibu, iya itu nama saya.” “Kamu kenapa Boy? kamu sakit?” Dia terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tertunduk lagi. Agak curiga dengan keadaannya, kemudian kupegang tangannya, dingin sekali. Keringat dingin membuat dia terlihat lemas. “Sudah biasa Ibu, setiap pagi begini,” jawabnya. “Lho kok setiap pagi? Memangnya kamu sakit?” “Tidak ibu,” jawabnya lirih. Karena penasaran, aku membuka biodata anak ini. Sambil membacanya dengan cermat, kuamati wajah anak ini. Eeh.. “Bruukk..” Calon penerima beasiswa ini jatuh pingsan. * * *  Kira-kira satu jam kemudian remaja lelaki itu kembali masuk, duduk di hadapanku dan berkata, “Maaf Ibu… saya tidak sengaja tadi kok terasa kepala saya berputar.” Saat dia pingsan aku mencari informasi tentang anak ini kepada gurunya. Dan ternyata, dia adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang tinggal di sebuah desa di Karangjati. Agar dia tidak terlambat sampai di sekolah yaitu di SMK Kimia Industri, dia berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya kira-kira 3 km. Setelah itu, ia mencari tumpangan truk yang menuju ke arah Semarang. Hanya itulah satu-satunya alternatif yang dipilihnya agar dia tidak terlambat, agar dia tidak seperti kedua kakaknya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga hidupnya menjadi miskin. Tidak ada rupiah disakunya sebagai bekal untuk jajan. Padahal, jam sekolah hingga pukul 3 sore. “Terus kamu sarapan dan makan siang di sekolah?” tanyaku padanya. Dia terdiam, cukup lama. Kemudian ia berkata, “ Maaf Ibu, saya malu. Saya tidak pernah sarapan dan makan siang. Saya berangkat dari rumah jam 5 pagi, tentu mamak tidak bisa menyiapkan sarapan dan bahkan kami belum bisa menikmati sarapan sejak kami masih kecil.” “Orang tua saya tidak mampu untuk memberi uang saku pada saya. Paling ada Rp 1.000,- untuk naik bus bila saya pulang karena tidak ada truk dari sini menuju Karangjati. Kalau naik truk saya bisa gratis menuju rumah. Maaf Ibu, jangankan memberi uang saku, untuk sekolah pun mamak sudah melarang saya karena mamak tidak punya uang untuk bayar SPP” Anak ini sudah menunggak uang sekolah dari mulai dia masuk hingga saat saya wawancarai. Sambil lemas ia melanjutkan ceritanya, “Saya akan nekad ikut sekolah meskipun sampai sekolah saya main petak umpet bila melihat ada yang mau nagih SPP. Saya ingin hidup mapan meski saya dari keluarga yang morat-marit, Bu.” Setelah itu, aku pun pura-pura izin ke kamar kecil sebentar. Dan kemudian, aku menangis sesenggukan di kamar mandi. Betapa kuat nyali anak ini, ”Dia tidak ingin bodoh” Selesai wawancara, aku pun dan beberapa guru mengantarkan anak yang lemas ini ke rumahnya. Rumah yang jauh sekali dari sekolah. Ini adalah sepenggal cerita duka dari remaja berusia 15 tahun (semester besok remaja ini menempuh ujian SMK) Mari rekan-rekanku semua, jadilah donatur bagi pejuang-pejuang masa depan negeri kita melalui Yayasan Anak-anak Terang (AAT) Indonesia.   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Bendahara Yayasan AAT Indonesia   [qrcode content=”https://aat.or.id/perjuangan-mengenyam-pendidikan” size=”175″]  

Perjuangan Mengenyam Pendidikan Read More »

Horeee kumpul lagi…

Hari Minggu tanggal 1 Desember 2013, para relawan Anak-Anak Terang (AAT) Semarang berkumpul kembali. Kami berkumpul di Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang. Acara dimulai pukul 08.00 pagi dan dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Kak Edo. Setelah itu, Kak Edo dan Kak Handy memberi penjelasan tentang tugas koordinator, PK (Pendamping Komunitas), sekretaris, dan bendahara. Kami semua pun bersiap-siap mengeluarkan laptop sambil mendengarkan penjelasan dari Kak Edo dan Kak Handy. Setelah penjelasan selesai, kami mengadakan evaluasi tentang survei dan wawancara calon anak asuh di sekolah-sekolah serta evaluasi kinerja PK. Lalu dilanjutkan dengan training SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) dan penjelasan tentang pengiriman raport anak asuh. Kelanjutan beasiswa tiap kenaikan kelas juga dijelaskan oleh Kak Edo dan Kak Handy. Mas Christ, Bu Lies, dan Bruder Konrad, CSA., dengan setia mendampingi kami selama acara berlangsung. Kehadiran mereka di tengah-tengah kami selalu menjadi warna tersendiri untuk kami. Kami pun mulai sibuk dengan laptop dan tidak terasa waktu makan siang pun tiba. Akhirnya kami semua beristirahat setelah lama berkutik dengan laptop. Acara makan siang sudah selesai. Kami kembali ke ruang 302 untuk mengikuti acara selanjutnya. Tapi sebelum itu, Bu Lies memberikan nasehat kepada kami semua. Kami sangat berterima kasih pada beliau dan akan selalu mengingat serta menyimpan nasehat-nasehat Bu Lies. Acara selanjutnya adalah acara paling menarik, dimana para PK diberikan pelatihan jurnalistik oleh para pembicara dari “Rumah Media”. Dan kehadiran mereka pun menghadirkan kegembiraan bagi kami. Pembawaan mereka yang seringkali mengundang tawa, membuat kami semua terhibur. Mbak Ulin membuka acara dengan gaya bicaranya yang lucu. Mbak Ulin memperkenalkan teman-temannya dari “Rumah Media”. Selanjutnya giliran Bu Wesiati yang menjelaskan tentang apa itu jurnalistik. Beliau menceritakan pengalamannya selama terjun dalam dunia jurnalistik. Beliau berkata bahwa menulis sebuah buku itu rumit, karena selalu saja datang yang namanya komentar dan kritik. Namun bagi beliau tidak ada satupun karya yang sempurna. Sebagus apapun sebuah karya tidak akan lepas dari yang namanya komentar dan kritik. Beliau juga menceritakan proses beliau dalam menulis sebuah buku. Lalu dilanjutkan Mbak Maria dan Mas Billy menceritakan pengalamannya bergabung dengan AAT. Setelah pelatihan jurnalistik selesai, dilanjutkan oleh Pak Tis yang menceritakan pengalamannya di dunia jurnalistik. Beliau berprofesi sebagai wartawan. Dan beliau berpesan pada kami semua, “Jangan pernah patah semangat, karena apapun yang kita lakukan itu semua membutuhkan sebuah proses.” Acara pun selesai pukul 16.00 dan ditutup oleh doa yang dipimpin oleh Kak Edo. Banyak hal yang kita dapatkan dari kegiatan ini. Kebersamaan yang kami lewati semakin mendekatkan kami antara satu dengan yang lain. Menulis itu bukan hal yang menakutkan. Lewat tulisan bisa mengungkapkan perasaan kita bahkan kegelisahan kita. Ternyata memang benar bahwa buku adalah jendela dunia. Menulis itu seperti menyimpan sebuah file. Waktu kita membutuhkan sesuatu kita tinggal membukanya saja. Setiap karya dan seperti apapun karya kita pasti tidak akan lepas dari komentar dan kritik. Tetapi sebenarnya itulah yang kita butuhkan. Sebuah komentar adalah sebuah langkah untuk maju. Di mana komentar tersebut menuntun kita pada sebuah perbaikan. Kita juga mulai berpikir bagaimana kita bisa menjadikan karya kita lebih baik dari sebuah komentar dan kritik. Dalam menulis, kita harus belajar untuk fokus terhadap apa yang mau kita tulis. Fokus dengan apa yang kita gali, apa yang kita catat, dan pada apa yang kita sampaikan lewat tulisan kita. Itu yang namanya fokus. Jangan lupa sebagai langkah awal kita menulis berikan sebuah senyuman yang menandakan sebuah ketulusan dari hati kita. Karena dari ketulusan itulah akan kita dapatkan sebuah tulisan yang hidup. “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreatifitas ditimbang-timbang“  (Seno Gumira Ajidarma)   Agnes Lensa Staff Administrasi AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/horeee-kumpul-lagi” size=”175″]  

Horeee kumpul lagi… Read More »

So, What Colour Are You?

Anak Anak Terang (AAT), itulah nama yang setahun lalu terngiang dalam benak dan membuat saya penasaran. Beragam pertanyaan mulai mengusik saya. Mulai dari apa itu AAT? Apa saja kegiatan yang ada di AAT? Beruntunglah saya bertemu dengan Mas Christ yang bersedia menjelaskan tentang AAT. Beliau menjelaskan bahwa AAT adalah komunitas sosial yang konsen membantu anak-anak yang kurang mampu dalam hal finansial supaya dapat terus melanjutkan pendidikannya. Tidak ketinggalan beberapa buah stiker dan satu buah tas yang berlogo AAT dihadiahkan kepada saya di akhir pembicaraan. Tidak lupa juga meluncur kalimat ajakan, “Kalo ada waktu, yok melu gabung ngewangi AAT, kuwi ono website AAT ojo lali dibuka, ben luwih ngerti soal AAT” yang artinya, “Ayo gabung bantuin AAT, itu ada website AAT jangan lupa dibuka, supaya kamu lebih mengerti tentang AAT.” Dari situlah awal perkenalan saya dengan yayasan sosial ini. Seiring dengan berjalannya waktu, saya sering bertemu dengan teman-teman relawan AAT dari Semarang. Lambat laun, saya mulai sedikit mengerti aktivitas apa saja yang dilakukan para relawan dan tentu cara kerja para relawan dalam membantu AAT. Mulai dari cara pengajuan proposal, survei, hingga bagaimana cara input data. Saya jadi semakin tertarik untuk bergabung menjadi relawan di AAT. Namun, waktu seakan selalu jadi penghalang. Baru bulan Mei lalu, waktu mengijinkan saya bergabung menjadi relawan AAT. Saya masih ingat jelas pengalaman pertama survey ke SMP Bellarminus Semarang dengan sambutan teman-teman yang tidak terlupakan. Waktu saya datang, teman-teman relawan Semarang dengan sangat kompak berseru “akhirnya datang juga.” Sambutan yang cukup menyenangkan, mungkin saking lamanya mereka menunggu. Hari itu juga merupakan pengalaman pertama saya mewawancarai calon anak asuh AAT. Mungkin saya juga yang merasa paling berdosa waktu itu karena menolak banyak calon anak asuh. Tentang Yani Satu kisah dari salah satu anak yang waktu itu saya wawancarai yang membuat saya terharu, salut, serta bersyukur dengan keadaan saya sekarang ini. Yani namanya. Dia tinggal menumpang di rumah kakeknya di Semarang bersama ibu dan kedua adiknya. Ibunya tidak memiliki mata pencaharian yang tetap. Mulai buruh cuci harian hingga mengasuh anak tetangga, itupun jika ada yang meminta. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan Yani sejak kecil, “saya tidak tahu dimana ayah sekarang,” jawabnya lirih ketika saya bertanya padanya.   Untuk hidup sehari-hari, Yani mengandalkan bantuan dari tantenya yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah kakeknya. Penghasilan ibunya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi kakeknya yang sudah tua dan sering sakit. Uang sakunya tiap hari hanya 2 ribu rupiah, itupun juga mengandalkan pemberian dari tantenya, jumlah rupiah yang bagi sebagian orang nilainya tidak seberapa. Tak jarang dia juga membantu mengasuh anak tantenya untuk mendapatkan uang tambahan. Meski begitu, semangatnya untuk sekolah tetap membara, tumpahan sinar matahari yang terik ketika berjalan kaki pulang dan pergi tak pernah menyurutkan niatnya. Sungguh perjalanan hidup yang bagi saya sangat luar biasa dan sangat menginspirasi. Di akhir wawancara tak lupa saya menyelipkan kalimat, “semangat ya dik, kamu bisa!” Cat Lukis dan Warna Kehidupan Cerita Yani tadi menjadi refleksi tersendiri bagi saya, mengingatkan saya saat dikarantina selama satu minggu di lereng Merapi dalam acara latihan kepemimpinan setahun yang lalu. Di sana saya diajak untuk merasakan langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar, menjadi penambang pasir di sungai, membantu nenek tua berjualan di pasar, sampai mencari makan untuk kambing, dan membersihkan kandangnya. Pada saat akhir sesi ada satu pertanyaan menarik. Pertanyaan tersebut adalah, seperti apa dirimu jika digambarkan sebagai suatu benda dan mengapa. Ketika itu saya menggambarkan diri saya sebagai cat lukis. Mengapa? Filosofinya saya mengibaratkan setiap manusia punya warna tersendiri dalam dirinya, yang akan digoreskan dalam kanvas orang lain, dan tentunya bakal membekas menjadi kumpulan warna tersendiri bagi orang tersebut. Intinya, saya ingin menjadi orang yang memberi dan menggoreskan warna tersendiri dalam kehidupan seseorang, sehingga menjadi lebih berwarna. Berangkat dari refleksi di atas, saya berharap dengan bergabung di AAT bisa menjadi media saya untuk lebih banyak belajar tentang hidup dan tentunya memberi warna bagi kehidupan sesama. Inilah sepenggal kisah pengalaman saya selama bergabung dengan Yayasan AAT Indonesia (AAT). Seperti judul cerita di atas, satu pertanyaan yang akan saya ajukan kepada anda semua, “So, What Colour Are You?”   Polycarpus Estutomo Bani Pandhito Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/so-what-colour-are-you” size=”175″]  

So, What Colour Are You? Read More »

Belajar Bersyukur Bersama AAT

MENJADI seorang mahasiswi bukanlah satu-satunya impianku pada beberapa tahun yang lalu. Mungkin bagi sebagian besar anak di luar sana, melanjutkan pendidikan seusai lulus SMA adalah hal yang mudah dan wajar karena orang tua mereka mampu untuk membiayainya. Namun, kesadaran bahwa hanya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, terlebih keadaan orang tua yang masing-masing sudah memiliki keluarga sendiri. Perceraian mereka, membuat semangatku menciut untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Mustahil untuk dapat menikmati bangku kuliah bersama teman-teman yang lain. Sehingga aku lebih memilih bekerja menjadi seorang Research and Development (R&D) di sebuah Perusahaan Food and Beverage di Kota Tangerang selama kurang lebih 1 tahun. Hingga akhirnya terjadi percakapan singkatku bersama Bruder Konrad, CSA, Ketua Yayasan Santo Paulus. Aku kenal beliau semenjak kelas 1 SMK saat menghadiri acara MOS di Gua Maria Kerep Ambarawa. Ketika itu kusampaikan keinginanku bahwa aku sangat ingin melanjutkan kuliah dan tanpa kuduga sebelumnya ternyata Bruder memberikanku tawaran untuk berkuliah di Akademi Kimia Industri (AKIN) Santo Paulus Semarang. Kukira Bruder hanya bercanda saat menyampaikan hal tersebut. Namun ternyata tawaran itu serius. Entah apa yang kurasakan saat itu. Senang karena diberi kesempatan untuk kuliah, namun juga bingung, siapa yang akan membantu perekonomian keluarga jika aku kuliah. Dengan sedikit mendengarkan hati kecil dan sedikit keegoisanku, aku mengambil kesempatan yang diberikan oleh Bruder Konrad, CSA walau terjadi pro dan kontra di dalam keluarga besarku. Kebingungan lainnya muncul lagi setelah aku mulai menjadi seorang mahasiswi. Meskipun mendapat bantuan beasiswa pada semester pertama, namun kuliah juga memerlukan biaya untuk mencukupi segala kebutuhan kuliah lainnya. Contohnya seperti untuk fotocopy, membeli alat tulis, dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, aku bekerja di sebuah Event Organizer. Meski berpenghasilan tak seberapa, namun lumayan daripada tidak memiliki masukan sama sekali. Tidak cukup sampai di situ, kebingungan lainnya muncul lagi karena uang yang kuperoleh tidak dapat mencukupi biaya kuliahku. Dan memang benar, Tuhan tidak pernah tidur. Kembali lagi Bruder Konrad, CSA memberikanku kesempatan emas yang sangat berharga bagiku. Bersama teman sekelasku, Handy, aku menemui Bruder yang kemudian dijelaskan tentang Anak Anak Terang (AAT). Kami diminta untuk menjadi relawan AAT untuk Sekretariat Semarang. Lalu kami dijelaskan lebih lanjut tentang AAT oleh Mas Christianus Widya Utomo (Mas Christ). Ternyata memang menyenangkan bisa bergabung dan mengenal AAT, apalagi terlibat di dalamnya dan menjadi salah seorang relawan yang bisa menyumbangkan tenaga serta waktu. Di sini juga aku bisa belajar banyak hal. Belajar segala hal yang tidak bisa dijelaskan oleh teori saja. Belajar tentang bersyukur, singkat namun sangat sulit untuk dipahami. Sebelum mengenal AAT, aku selalu merasa bahwa nasibku sangat buruk jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Terlahir dari keluarga sederhana, orang tua yang bercerai sejak aku kecil, tinggal jauh dari orang tua, sangat banyak yang menjadikanku alasan bahwa hidup ini sangatlah tidak adil. Namun setelah aku mengenal AAT, bagaikan ditampar langsung oleh Tuhan. Ternyata aku masih lebih beruntung. Hingga saat ini aku masih bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini tidak kusadari. Sangat berbeda jika kehidupanku dibandingkan dengan kehidupan para Anak Asuh di AAT. Setidaknya aku harus lebih bersyukur bahwa selama ini aku masih bisa bersekolah tanpa harus lelah bekerja menjadi tukang penjual majalah dan tanpa harus lelah bekerja di stasiun seperti yang dialami oleh anak-anak asuh AAT. Setidaknya aku harus lebih bersyukur bahwa aku masih bisa makan 3 kali sehari, tanpa harus lelah bekerja sepulang sekolah demi sesuap nasi untuk menyambung hidup. Lebih bersyukur bahwa setidaknya aku masih bisa tidur di atas kasur yang empuk jika dibandingkan dengan mereka yang tidur beralaskan koran. Lebih bersyukur bahwa bisa berjalan untuk berangkat ke sekolah hanya sejauh 500 meter, jika dibandingkan dengan mereka yang berjalan sejauh puluhan kilometer tanpa mengenakan alas kaki. Banyak hal yang diajarkan secara tidak langsung oleh anak-anak asuh AAT. Seperti menemukan keluarga baru di sana. Memiliki “Mami” yang tak pernah lelah untuk memberikan wejangan, memberikan cubitan-cubitan tentang menyikapi arus hidup. Memiliki kakak-kakak yang selalu mendorong semangat untuk melayani sesama, yang selalu berteriak-teriak agar aku memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki penasihat-penasihat yang sangat luar biasa dalam membentuk moral serta mentalku yang kurasa masih sangat lemah. Terlebih aku diberi kesempatan untuk menjadi salah satu anak asuh penerima beasiswa AAT untuk Perguruan Tinggi. Sungguh mukjizat yang sangat nyata terjadi bagi kehidupanku semenjak mengenal AAT. Meskipun keluarga baruku ini kadang terlihat sangat “galak” dan sering memberikan “tekanan”, namun itu semua ada maksudnya. Aku yakin bahwa suatu saat apapun yang telah mereka ajarkan kepadaku akan berguna di dunia luar nanti. Omelan-omelan dan wejangan dari Mami Can (Ibu Elisabeth Lies Endjang), marahan-marahan dari mas Christ, sentilan-sentilan dari kak Can (Mbak Santi Widya), dan aturan-aturan serta ketegasan dari Bruder Konrad, CSA, suatu saat nanti pasti akan sangat kurindukan meski saat ini sudah sangat lelah mendengar teriakan-teriakan dari mereka. Namun apalah jadinya diriku yang saat ini, jika 19 September 2012 yang lalu aku tidak mengenal AAT. Sekarang tidak ada lagi Nisa yang patah semangat. Tidak ada lagi Nisa yang selalu mengeluh tentang hidup. Tidak ada lagi Nisa yang lembek untuk menghadapi dunia luar. Tidak ada lagi keluh kesah pada Tuhan, dan tidak ada lagi alasan bagiku untuk tidak bersyukur. Apalagi yang masih harus Tuhan beri untuk kita? Udara tersedia gratis bagi kita, rezeki pun selalu ada celah untuk kita terima. Semua disediakan-Nya secara gratis untuk kita. Hanya sejauh mana kita mampu memandang itu semua sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Semua yang terjadi di dalam hidup kita sesungguhnya adalah sebuah anugerah. Kita bahagia, senang, gembira, sedih, berduka, musibah, sakit, semua adalah anugerah dari Tuhan. Apapun yang terjadi dalam kita bukan suatu kebetulan. Tidak perlu menunggu sempurna untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. Sekali lagi, terimakasih yang sebesar-besarnya khususnya untuk Bruder Konrad, CSA (Bruder Agustinus Samsari) yang telah banyak berjasa dalam mengubah kehidupan dan kepribadianku. Pertolongan Tuhan datang melalui Bruder Konrad, CSA dan seluruh Tim AAT. Terima kasih, semoga AAT bisa semakin membawa Terang bagi sesama dan semakin berkembang demi kecerdasan anak bangsa. Amin.   Annisa Wulan Andadari Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/belajar-bersyukur-bersama-aat” size=”175″]  

Belajar Bersyukur Bersama AAT Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 duta76 perihoki monitoring aktivitas real time big data mahjong studi intensitas pengguna visibilitas mahjong ways distribusi kuantitatif simbol premium mahjong ways 2 automasi kolektif wild bounty showdown responsivitas dekonstruksi 12 fase transisi pg soft algoritma efisiensi operasional data heterogen mahjong ways 2 metadata semantik starlight princess prediksi simbol variasi hasil stokastik mahjong wins 3 strategi penyaringan bonus scatter merah mahjong ways fenomena scatter emas indikator balikan pg soft aws ekspektasi algoritma scatter gates olympus aws evolusi spam spin rtp live data aws kalkulasi ai mahjong data terstruktur aws kondisi optimal mahjong simbol unik aws logika putaran bonus data konsisten aws monitoring rtp mahjong pola terstruktur aws pergeseran rtp pgsoft lonjakan tren aws riset algoritma rtp pragmatic respon aws riset scatter simbol premium pola aws strategi pola wild bandito adaptasi trik anti gagal mahjong rtp bandar model analisis simbol mahjong ways bongkar pola mahjong strategi bandar framework analisis siklus interaksi mahjong eksplorasi pola berulang mahjong ways frekuensi simbol tinggi scatter hitam kejutan irama mahjong scatter wild perubahan dinamis mahjong scatter tanda halus simbol scatter hitam transisi diam simbol mahjong besar e5 adaptif dalam permainan dengan data rtp harian e5 berbasis evaluasi rtp harian e5 berbasis pola spin yang terencana e5 bermain berbasis analisis rtp harian e5 dengan pendekatan algoritma pada scatter dan wild e5 fleksibel permainan berlandaskan data rtp harian e5 melalui teknik spin yang lebih terstruktur e5 permainan mengacu pada analisis rtp harian e5 rtp dengan teknik spin yang lebih presisi e5 scatter dan wild menggunakan analisis algoritma eksplorasi dimensi waktu mahjong wins optimalisasi pola bermain evaluasi digital pendekatan siklus pola mahjong ways pengembangan bermain evaluasi algoritma rahasia pola rtp pragmatic play server rahasia pola waktu mahjong wins main rekonstruksi pola bermain analisis game strategi jitu pola rtp pragmatic play strategi waktu mahjong wins jam main teknik cerdas analisis maintence server teknik jitu peluang momentum dadu sicbo strategi pola mahjong wild deluxe rtp live gates of olympus strategi ampuh taktik peluang baccarat pola mahjong ways 2 pgsoft analisa teknik rtp live starlight princess metodologi unik taktik blackjack analisa rtp live teknik pola pragmatic sweet bonanza mahjong wins 3 sinergi asli analisa teknik roulette strategi pola wild west gold taktik peluang rtp live mahjong ways 2 pgsoft taktik paten ekuilibrium analisa teknik peluang sv388 blackjack strategi pola rtp live mahjong wins 3 pragmatic sugar rush arsitektur aneh peluang strategi dadu sicbo analisa pola mahjong wild deluxe taktik rtp live gates of olympus taktik umum disiplin baccarat strategi pola mahjong ways 2 pgsoft analisa teknik peluang rtp live starlight princess algoritma baru probabilitas strategi peluang blackjack analisa pola sweet bonanza teknik rtp live mahjong wins 3 pragmatic matriks jangka eksekusi strategi peluang roulette analisa pola wild west gold taktik teknik rtp live mahjong ways 2 pgsoft konvergensi jitu analisa peluang blackjack strategi sv388 taktik teknik pola rtp live sugar rush mahjong wins 3 pragmatic