Relawan

Bertha AAT 20160911 134856

Mempertahankan Prestasi

Oleh : Alberta Caecaria Arias Saya Alberta Caecaria Arias, biasa dipanggil Berta. Saya adalah mahasiswi bimbingan dan konseling di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2014. Saya bergabung dengan AAT pada semester 3, tahun lalu. Saya Beruntung mendapatkan beasiswa AAT dan menjadi salah satu anak asuh. Saya menganggap AAT adalah keluarga saya karena ada banyak teman, sahabat, dan pendampingan rohani dari para Bruder. Hal tersebut membuat saya senang karena dapat menjalin keakraban satu dengan yang lainnya apalagi bisa mempunyai teman baru dari lintas agama, suku ataupun ras. Semester 3 kemarin, IP saya turun dari yang semula 3,9 menjadi 3,8. Saya menyadari penurunan IP tersebut dikarenakan ketika UAS pada bulan Januari lalu, ayah saya masuk rumah sakit untuk beberapa hari. Pada saat itu saya harus bolak-balik antara kampus, rumah, dan rumah sakit. Ini bukan alasan, namun seperti inilah keadaan dimana saya harus UAS dan ayah saya masuk rumah sakit. Peristiwa tersebut membuat saya kurang fokus dalam belajar, sehingga berakibat nilai saya menurun. Namun saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya. Semester 4 saya berusaha untuk memperbaiki nilai-nilai supaya IP saya kembali membaik. Saya menargetkan IP semester 4 ini nanti 4,00, namun apabila pada akhirnya target itu tidak tercapai, setidaknya IP saya harus lebih dari IP semester 3. Untuk saat ini beberapa nilai UAS yang sudah keluar hasilnya adalah A. Puji Tuhan sekali saya mendapatkan nilai sempurna tersebut dan berharap target IP 4,00 tercapai. Selain itu saya juga masih ingin mendapatkan beasiswa AAT hingga saya lulus nanti. Bagi saya, yang terpenting adalah saya harus bisa membanggakan orang tua dan keluarga saya dengan prestasi yang saya miliki. Walaupun saya sibuk dengan kegiatan HMJ di kampus ataupun kegiatan kelas serta tugas-tugas kampus, saya akan berusaha untuk tetap menjalankan kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa dan juga anak asuh AAT yang dapat dibanggakan dengan kesibukan yang padat. Saya sadar, semua ini sudah menjadi pilihan serta tanggung jawab maka harus dijalankan semaksimal mungkin dengan segala konsekuensi yang berlaku. Tidak hanya kegiatan kampus, kegiatan AAT, namun juga kehidupan saya sehari-hari yang pastinya banyak sekali permasalahan yang bermunculan yang dapat juga menganggu kondisi fisik maupun psikis saya. Akan tetapi, saya percaya tidak ada manusia yang tidak ada masalah dan manusia memiliki Tuhan yang lebih besar dari masalah yang dimiliki. Saya selalu semangat walaupun sering mengeluh karena banyak tugas dan kegiatan. Saya ingin segera lulus agar nantinya dapat segera. Di semester 5 nanti, saya akan berusaha dengan sepenuhnya untuk tetap mempertahankan nilai-nilai A serta lebih aktif dalam segala kegiatan yang ada di kampus guna menunjang kemampuan-kemampuan yang saya miliki, namun dengan tetap menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dan tanggung jawab sebagai anak asuh AAT. *Alberta Caecaria Arias, adalah mahasiswi Bimbingan dan Konseling dan Penerima Beasiswa Yayasan AAT Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. #cegahputussekolah #cegahputuskuliah

Mempertahankan Prestasi Read More »

10697207 758362930865644 1255414306530996 O 1024x683

Bijaksana dalam membuat Keputusan

Oleh : Franciska Ariliana Namaku Franciska Ariliana lahir 30 April 1995 aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Aku sedang menempuh studi di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun program studi Teknik Industri. Saat ini, aku sudah semester enam, terima kasih kepada AAT yang telah membiayai kuliahku sampai semester enam ini dan aku berharap untuk bisa lanjut sampai semester delapan nanti. Ibu dan Ayah masih tetap bekerja di pasar berdagang kosmetik dan menerima orang yang menjual emas. Meskipun orang tuaku mempunyai bisnis menerima emas, tapi modal yang digunakan tidak bersal dari uang sendiri, melainkan pinjam ke orang lain. Ibu dan ayah hanya mengambil keuntungan dari hasil penjualan emas yang disetorkan ke pengepul sehingga hasil yang didapatkan juga tidak menentu karena tidak setiap hari ada orang yang menjual emas. Ayah selain bekerja membantu ibu di pasar juga terkadang bekerja sebagai tukang bangunan, tergantung ada orang yang menyuruh atau tidak. Saat ini adikku yang kedua sudah lulus dari SMA dan berencana akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, orang tuaku sangat berharap sekali untuk adikku mendapatkan beasiswa, jika tidak mendapatkan beasiswa adikku tidak jadi melanjutkan ke perguruaan tinggi. Adikku yang ketiga sekarang juga sudah masuk SMP, sehingga keluargaku mengeluarkan uang yang cukup banyak. Beberapa kejadian di AAT membuat aku belajar untuk lebih peduli kepada sesama, terutama dengan orang-orang terdekatku. Kejadian yang tak terduga saat ada dua orang teman kami yang beasiswanya harus dipending dan satu teman kami yang beasiswanya dihentikan karena nilainya yang tidak mencapai target. Kami merasa kasihan kepada teman-teman kami tersebut dan kami berfikir bahwa kami harus melakukan suatu tindakan untuk membantu mereka. Akhirnya aku dan teman-teman yang lain berencana untuk membuat rosario merah putih dan menjualnya ke gereja. Hasil dari jualan kami berikan kepada ketiga teman kami untuk membantu membayar uang kuliah, selain itu kami juga iuran untuk membantu. Aku sangat senang sekali dengan sikap dan semangat teman-teman AAT Madiun yang dengan senang hati, saling bergotong royong membantu teman kami yang kesusahan. Aku dan teman-teman di AAT Madiun masih rutin untuk mengadakan pertemuan untuk membahas keperluan AAT dan untuk lebih mengakrabkan diri. Tahun ini kami juga kehilangan satu pembimbing rohani yaitu bruder Yakobus yang dipindah tugaskan di Flores. Pengalamanku selama menjadi koordinator mengajariku untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan lebih bijaksana lagi. Tidak terasa masa jabantanku sebagai koordinator tinggal satu bulan lagi, ada kelegaan ketika aku berhasil untuk menjalankan tugasku nanti dan semoga masih bisa untuk membantu membimbing PK baru yang akan menggantikanku nanti. Diakhir semester enam ini aku juga dituntut untuk seminasi topik skripsi. Dalam proses pencarian tiga judul aku sangat kebingunggan sekali, tapi puji Tuhan dengan bantuan dosenku dan usaha aku berhasil menemukan tiga judul skirpsi yang akan aku presentasikan. Dalam seminasi topik akhirnya aku dipilihkan satu topik untuk nantinya aku gunakan skripsi di semester tujuh dan delapan. Aku berharap semoga skripsiku dapat berjalan dengan baik pada semester tujuh dan delapan sehingga aku dapat lulus tepat empat tahun. Pada akhir semester enam ini aku juga akan magang kerja selama satu bulan di PT INTAN USTRIX Gresik. Aku ingin mencoba pengalaman baru di luar Madiun, dan semoga magangku juga dapat berjalan dengan lancar. Amin. *Franciska Ariliana, adalah mahasiswi program studi Teknik Industri Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Penerima Beasiswa AAT dan Mantan Koordinator Sekretariat Madiun

Bijaksana dalam membuat Keputusan Read More »

Tahun Pertamaku Bersama Anak-Anak Terang

Tahun Pertamaku Bersama Anak-Anak Terang Perkenalkan nama saya Anggun Septin Kartika Wulan. Saya biasa dipanggil dengan nama Anggun. Saat ini saya sudah semester tujuh di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun saya bergabung di Yayasan Anak-Anak Terang. Saya bergabung dan mendapatkan beasiswa Anak-Anak Terang ketika saya masih semester lima. Tahun ini merupakan tahun kedua saya bergabung dengan Anak-Anak Terang. Banyak suka maupun duka yang telah dilalui bersama. Mulai dari tugas bulanan yaitu mengunggah tanda terima dan kuitansi sekolah, melakukan survei ke sekolah-sekolah, menggalang dana, hingga mengikuti berbagai acara bersama dengan teman-teman pendamping komunitas sekretariat AAT Yogyakarta. Melalui Anak-Anak Terang saya berkesempatan menjadi salah satu bagian dari tim SIANAS (Sistem Informasi Anak asuh). Tim SIANAS merupakan tim yang menangani pelelangan anak asuh, mulai dari input data anak asuh, mencari donatur, hingga mengingatkan donatur untuk mentrasfer beasiswa. Di tim ini saya mendapatkan tugas di bagian donasi. Tugas saya mengecek donasi dari donatur dan mengingatkan donatur untuk mentrasfer beasiswa sebelum jatuh tempo. Dari situ saya menjadi tahu bagaimana sistem kerja pencarian donatur di Anak-Anak Terang. Harus terjalin relasi yang kuat antara anak asuh, donatur atau orang tua asuh, dan relawan yang menjalankan sistem di Anak-Anak Terang. Untuk menjadi tim SIANAS, harus mengikuti training terlebih dahulu sebelum menjalankan sistemnya. Training yang saya ikuti dilakukan selama dua hari, yaitu hari Sabtu dan Minggu di Semarang. Saya bersama dua teman berangkat dari Yogyakarta jam 6 pagi dan sampai di Semarang jam 9-an. Kami dijemput kemudian di antar ke rumah Mami Lies (Bu Lies Endjang). Ternyata di sana sudah banyak teman lainnya. Dari sini pula saya mendapatkan teman-teman baru dari sekretariat AAT Semarang, Malang, Madiun, dan Bandung. Saya belum pernah bertemu dengan Mami Lies sebelumnya. Ternyata beliau orang yang sangat hangat dan mudah bergaul dengan anak muda. Apa saja bisa diceritakan bersama Mami Lies. Beliau memang sosok Ibu di keluarga besar Anak-Anak Terang se-Indonesia. Selain pengalaman ambil bagian di Tim SIANAS, saya juga pernah beberapa kali ikut mencari dana dengan cara menjual merchandise Anak-Anak Terang. Waktu itu kebetulan kami berjualan di depan gereja. Awalnya saya ragu dan takut dipandang aneh karena penampilan saya yang berhijab dan sebelumnya saya belum pernah ke gereja. Tetapi teman-teman meyakinkan saya bahwa tidak akan terjadi diskriminasi seperti yang saya bayangkan. Dan benar saja, para jemaat gereja tetap tertarik dan antusias melihat dan membeli merchandise AAT. Dari pencarian dana tersebut, kami mendapatkan dana yang cukup banyak. Dari sini saya belajar bahwa berbagi itu tidak harus melihat dari apa yang mereka kenakan dan juga bukan dari apa agama mereka. Berbagi murni muncul dari hati manusia yang saling mengasihi karena setiap agama mengajarkan bagaimana mencintai dan mengasihi kepada semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih kepada Anak-Anak Terang yang tidak hanya memberikan beasiswa, namun juga mengajarkan ilmu-ilmu lain sehingga menjadikan saya pribadi yang lebih baik lagi. “Berbagi itu tidak harus melihat dari apa yang mereka kenakan dan juga bukan dari apa agama mereka.” Anggun

Tahun Pertamaku Bersama Anak-Anak Terang Read More »

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

NAMA SAYA Yeni Puspitasari. Saya biasanya akrab dipanggil Yeni. Saya lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 13 September 1993. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun. Orang tua saya bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Sejak kecil, saya diasuh dan dibesarkan oleh nenek di kota Madiun. Orang tua saya harus pergi karena pekerjaan. Saya diasuh oleh nenek, karena kedua orang tua harus bekerja dan saat itu tidak mampu membayar babysitter untuk mengasuh saya. Alhasil, saya diasuh dan dibesarkan di desa bersama nenek hingga sekarang ini. Adik saya tinggal bersama orang tua di Sidoarjo, sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di Madiun bersama nenek, karena nenek tinggal di rumah sendirian. Tidak sampai hati rasanya jika harus meninggalkan seorang nenek yang sudah merawat saya sejak kecil tinggal di rumah seorang diri. Masa Sekolah Memasuki usia sekolah, mulanya saya bersekolah di TK Dharma Wanita Ngadirejo. Saat itu saya baru berusia 5 tahun. Namun, nenek sudah memasukkan saya ke sekolah. Lalu, saya bersekolah di SDN Ngadirejo 02. Kebetulan TK dan SD berada dalam satu lokasi yang sama dan lokasi sekolah tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya, kira-kira 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian, saya bersekolah di SMPN 1 Wonoasri. Jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, sekitar 5 km. Saat diumumkan kelulusan SMP dan dinyatakan lulus, saya mulai bimbang akan kemanakah saya melanjutkan sekolah. Saya benar-benar bingung antara SMA atau SMK. Saya berpikir, jika sekolah di SMA berarti harus kuliah, sedangkan biaya kuliah sangatlah mahal. Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke sekolah swasta, yaitu SMK PGRI Wonoasri dan mengambil jurusan Akuntansi. Sekolah tersebut terletak di tengah kota Caruban. Jarak sekolah dan tempat tinggal saya sekitar 11 km. Untunglah saat itu saya ada teman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga bisa sedikit meringankan biaya untuk membeli bensin. Seminggu sekali, kami bergantian untuk mengisi bensin. Waktu sekolah dulu, saya bersama sahabat saya pernah berjualan kacang bawang. Tiap pulang sekolah kami membuat kacang bawang dan besoknya kami titipkan ke warung-warung. Selain itu, saya juga berjualan pulsa untuk tambahan uang saku, karena jika mengandalkan uang saku dari orang tua sangatlah tidak cukup. Kelas XI saatnya melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Saya bersama ketiga teman mencari tempat untuk melakukan praktek. Hingga akhirnya, kami berempat diterima PSG di PLN Madiun selama 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dari mengarsipan data, entri data tusbung, melayani costumer, dll. Masa SMA pun segera berakhir. Sambil menunggu ijazah keluar, saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Madiun. Saya diterima di sana dan kontrak awal selama 3 bulan. Awalnya, saya merasa tidak sanggup bekerja selama 10 jam per hari, tapi saya berusaha memberi semangat pada diri saya bahwa saya pasti bisa. Satu bulan saya bekerja, ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan lagi. Akhirnya, saya menyetujuinya dan ayah mengusahakan untuk mencarikan biaya pendaftaran. Saya pun konsultasi dengan guru BK SMK. Menurut beliau, kampus Widya Mandala (WIMA) Madiun adalah kampus yang cukup baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di kampus UNIKA Widya Mandala Madiun dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua orangtua saya awalnya tidak setuju kalau saya kuliah di situ. Mereka ingin saya kuliah di perguruan tinggi lain yang ada di Madiun, tetapi saya tetap ingin kuliah di WIMA Madiun. Awal Mengenal AAT Jalan Tuhan memang indah. Jika saat itu saya ikut saran orangtua untuk kuliah di universitas lain, mungkin sekarang saya tidak akan mengenal AAT. Saya baru sadar mengapa saat itu saya kekeuh ingin kuliah di Wima, yaitu karena Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Hingga akhirnya, saya bisa mengenal yayasan yang begitu hebat, Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia. Pagi itu, tanggal 26 Agustus 2013 adalah hari di mana saya pertama kali mengenal Anak-Anak Terang (AAT). Awalnya, saya ke kampus hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi mendengar bahwa ada sosialisasi beasiswa AAT, saya dan teman saya Mbak Rike tertarik untuk mengikuti sosialisasi mengenal beasiswa AAT. Sebelumnya, saya sudah mendengar ada pengajuan beasiswa dan mahasiswa yang lolos seleksi beasiswa tersebut akan menjadi staf administrasi dan tugasnya adalah mengurus beasiswa untuk anak SD, SMP, dan SMA. Saya tidak mengajukan beasiswa AAT, karena pada saat itu saya sudah mendapat beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM). Beberapa teman mengatakan bahwa tidak hanya yang penerima beasiswa AAT saja yang bisa mengurus beasiswa untuk SD, SMP, dan SMA, tetapi yang tidak menerima beasiswa AAT pun boleh membantu. Mendengar hal seperti itu saya tertarik untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT. Saat memasuki ruangan tersebut, saya berkenalan dengan Mbak Chika dan Mbak Alma yang saat itu menjadi koordinator nasional. Saat Mbak Chika menanyakan apakah sudah membuka website-nya AAT, saya jawab belum. Karena saat itu yang saya tahu beasiswa AAT memberikan beasiswa kepada SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Saya belum melangkah lebih jauh sampai membuka website-nya AAT. Setelah Mbak Alma, Mbak Chika, Pak Christ, dan Pak Hadi menjelaskan kepada semua audience yang hadir, saya baru paham apa itu beasiswa AAT. Dari penjelasan mereka dan dari tanya jawab, saya semakin yakin untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT, karena kegiatan di AAT sangat positif. Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Setelah resmi bergabung bersama AAT, saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang sebelumnya belum saya kenal. Mereka semua baik dan kami saling bekerja sama, saling membantu, dan saling memberikan semangat. Menjadi staf administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem informasi Anak Asuh), bagaimana mengirim bukti transfer dan kuitansi setiap bulannya kepada donatur, dan bagaimana mengirim rapor anak asuh untuk donatur. Saat survei, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Ketika wawancara, saya mendengar cerita langsung dari calon anak asuh. Saya merasa sangat bersyukur atas kehidupan saya. Saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik di luar sana yang tidak seberuntung saya. Cerita dan perjuangan mereka semakin membuat saya bersyukur dan bersemangat untuk meraih cita-cita saya, untuk terus membantu sesame, dan terus melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekeliling saya dan tentunya untuk AAT. Menjadi Anak Asuh AAT Tahun ajaran

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Read More »

Be a Special Person in a Special Place

“Kemenangan adalah milik mereka yang tidak berhenti berjuang.” Mungkin kalimat itulah yang bisa mewakili perasaan saya saat ini. Perasaan senang, lega, puas, dan perasaan lain yang menunjukkan keberhasilan suatu perjuangan. Rabu, 8 Juli 2015, menjadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya bisa merasakan sidang skripsi. Dulu, bisa sekolah sampai SMK saja, saya sudah sangat bersyukur. Bisa merasakan lulus SMK saja, saya sudah sangat bahagia. Hari itu, saya berangkat ke kampus lebih awal. Saya yang biasanya telat, berusaha berangkat lebih pagi di hari itu. Sebelum berangkat, semuanya saya persiapkan sebaik mungkin. Empat copy-an skripsi dan satu file presentasi sudah siap. Baju dan jas almamater yang disetrika rapi, sepatu yang dilap bersih, sampai jilbab yang disemprot sedikit minyak wangi. Hari itu, saya harus menampilkan yang terbaik. Bisa merasakan sidang skripsi adalah hal yang luar biasa bagi saya. Jangankan sidang skripsi, kuliah saja menjadi hal yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Selama perjalanan, saya seolah diajak kembali pada peristiwa-peristiwa tujuh tahun silam tentang bagaimana perjuangan orang tua dan saya untuk bisa merasakan kebahagiaan hari ini. Perjuangan Dimulai Lahir dalam keluarga yang sangat sederhana memang bukan pilihan saya. Namun, hal itu tidak pernah saya sesali sedikit pun. Sebaliknya, saya sangat bersyukur karena keadaan tersebut membuat saya menjadi perempuan yang lebih kuat, tidak mudah mengeluh, dan tidak mudah menyerah. Sejak kecil, orang tua selalu mengajarkan sikap pantang menyerah pada saya. Ketika sudah memutuskan sebuah pilihan, kita harus memperjuangkannya sampai berhasil. Semuanya telah orang tua tunjukkan ketika kami harus memperjuangkan hidup. Orang tua yang bekerja seadanya, membuat kami juga hidup seadanya, makan seadanya, dan tinggal di rumah seadanya. Untuk bisa makan sehari-hari, orang tua saya harus bekerja keras. Karena itulah, pendidikan saya pun hampir terkorbankan. Dulu, saya hampir tidak melanjutkan sekolah ke SMK karena tidak memiliki biaya. Setelah kelulusan, saya menangis sejadi-jadinya di kamar karena takut tidak bisa melanjutkan sekolah. Melihat keinginan kuat saya untuk terus sekolah, membuat orang tua saya merasa iba dan berusaha keras mencarikan biaya. Bapak yang hanya sebagai tukang kebun dan Ibu yang hanya sebagai baby sitter berjuang mengumpulkan uang dan meminjam uang ke saudara agar saya tetap bisa sekolah. Sulitnya untuk bisa mengenyam pendidikan, membuat saya tidak malas belajar dan selalu mendapatkan prestasi yang baik di sekolah. Hingga lulus SMK, saya tetap mendapatkan nilai yang memuaskan. Melihat teman-teman saya banyak yang mendaftar ke perguruan tinggi, membuat saya ingin merasakan hal yang sama. Namun, saya menyadari bagaimana kondisi keuangan keluarga kami saat itu. Sehingga saya tidak berani mengungkapkan keinginan saya pada orang tua. Tapi, saya tidak bisa begitu saja mengubur keinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Saya memutar otak dan mencari cara agar bisa mewujudkan keinginan tersebut. Saya sempat berpikir untuk bekerja dulu ke luar negeri, menjadi TKI, agar bisa mendapatkan uang yang banyak untuk bisa kuliah. Namun, mendengar kontrak kerja yang cukup lama, saya membatalkannya. Dan akhirnya, saya memilih untuk bekerja di Jakarta. Selama di Jakarta, saya bekerja menjadi penjaga kasir di sebuah warung makan kecil, tepatnya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di sana, saya mengumpulkan uang untuk bisa kuliah. Setelah 7 bulan bekerja, uang terkumpul Rp 2.700.000,00 dan saya siap pulang untuk kuliah. Namun, ternyata biaya pendaftaran untuk kuliah saat itu sekitar 4 juta. Saya sedih, ternyata uang saya tidak cukup. Mau meminta orang tua, rasanya tidak tega. Mereka sudah terlalu banyak berkorban untuk saya. Lalu, seorang teman menyarankan untuk kuliah di Universitas Terbuka saja karena biayanya lebih murah. Namun, saya tetap bersikukuh untuk memilih Universitas Widya Mandala Madiun. Menurut teman yang sudah kuliah di sana, universitas tersebut merupakan universitas yang cukup bagus di Madiun. Akhirnya, dengan terpaksa saya bekerja lagi supaya uangnya bisa tercukupi. Keep Fight Kemudian, saya pun melamar kerja di sebuah pabrik seafood di Surabaya. Di sana, saya menjadi buruh pabrik dengan gaji Rp1.100.000,00 tiap bulannya. Dengan gaji pas-pasan itu, saya hanya bisa menyisihkan Rp200.000,00 tiap bulannya, karena saya harus membagi gaji tersebut untuk biaya makan sehari-hari dan biaya kos. Setahun kemudian, saya pulang dengan membawa uang sekitar Rp2.400.000,00. Jika digabung dengan gaji saya tahun sebelumnya, uang tersebut sudah cukup untuk biaya pendaftaran. Saya tidak peduli dengan biaya semester selanjutnya. Yang terpenting saat itu adalah saya bisa kuliah dulu. Masalah biaya selanjutkan bisa dicari lagi, entah bagaimanapun caranya. Begitulah yang saya pikirkan saat itu. Awal kuliah berjalan dengan lancar. Namun, memasuki semester dua saya mulai bingung dengan biaya kuliah. Saya kembali memutar otak supaya tetap bisa kuliah. Lalu, ibu pun mengantar saya untuk melamar kerja di warung makan di daerah Caruban. Di sana saya bisa bekerja paruh waktu, namun hanya di hari-hari tertentu saja. Gajinya memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa meringankan beban orang tua yang harus ikut membiayai kuliah saya. Demi bisa tetap kuliah, saya berusaha keras mencari biaya. Dari mulai bekerja paruh waktu, mengajukan beasiswa kurang mampu, mengisi les, sampai menjadi Liaison Organizer (LO) saat PORPROV JATIM telah saya lakukan. Bersyukur sekali pada saat semester tiga saya mendapatkan beasiswa kurang mampu selama satu semester. Semester lima dan enam saya mendapat beasiswa prestasi dan di semster tujuh sampai delapan mendapatkan beasiswa dari Yayasan Anak-Anak Terang. Be a Special Person in a Special Place Saya sangat bersyukur bisa kuliah di Unika Widya Mandala Madiun. Di universitas tersebut, saya mendapatkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Selama kuliah, saya tidak hanya belajar untuk mendapatkan ilmu, tapi juga belajar bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan kita. Sama seperti semboyan Unika Widya Mandala Madiun yang berbunyi, “Non scholae sed vitae discimus” yang berarti kita belajar bukan hanya untuk ilmu tapi juga untuk kehidupan. Di sana, kita tidak hanya belajar teori saja, tapi juga belajar bagaimana menjadi seorang yang humanis, yang memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, yang mengabdi untuk kepentingan sesama. Selain itu, di sana saya juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Saya bisa merasakan pengalaman menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), bisa merasakan menjadi Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), bisa ikut banyak kegiatan kampus yang positif. Dan di sana juga, tempat saya pertama mengenal Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia, yayasan yang sudah memberi saya beasiswa

Be a Special Person in a Special Place Read More »

Key of Life

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”  Hadits Rasulullah SAW itulah yang selalu membuat saya semangat untuk terus berbuat baik pada sesama. Begitu pun ketika memutuskan untuk bergabung menjadi relawan AAT, tepat pada tanggal 25 Agustus tahun lalu. Saat itulah saya memutuskan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk yayasan yang peduli pendidikan di Indonesia itu. Tidak terasa, dua tahun sudah saya menjadi bagian dari keluarga besar AAT. Ya, keluarga besar dengan semangat kepedulian yang tinggi. Begitu banyak pengalaman, ilmu, dan pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan. Tak ubahnya sebuah keluarga, saya mendapatkan curahan kasih dan perhatian dari saudara-saudara di AAT. Mereka selalu menawarkan tangan ketika saya membutuhkan pertolongan dan menawarkan bahu ketika sedang kesusahan. Padahal, niat pertama saya ketika bergabung bersama AAT adalah untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran saya untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Karena saya tahu, saya adalah bagian dari mereka. Saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Susahnya membayar uang sekolah, susahnya membeli buku-buku pelajaran, bahkan sampai susahnya membeli jajan ketika bel istirahat berbunyi. Saat di mana anak-anak bersorak untuk segera mengisi perut setelah mengikuti pelajaran. Memang, saya belum bisa membantu mereka secara finansial. Karena saat ini pun, saya masih dalam perjuangan. Berjuang untuk terus bisa mengenyam pendidikan. Namun, dengan segala kekurangan saya, saya masih ingin memberi manfaat bagi mereka. Melalui AAT, saya bisa berbagi sedikit tenaga dan pikiran saya untuk membantu pengelolaan beasiswa yang diberikan pada anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, sampai SMA/SMK. Rasa syukur selalu saya ucapkan ketika tangan saya masih dibolehkan untuk membantu sesama. Lebih bersyukur lagi ketika saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan anak asuh maupun calon anak asuh ketika survei dan wawancara. Survei dan wawancara langsung adalah salah satu prosedur penerimaan beasiswa AAT. Hal itu supaya donasi AAT tidak salah sasaran dan anak yang dibantu benar-benar anak yang membutuhkan.   AAT tidak pernah membedakan dalam membantu. Agama apapun, suku apapun, daerah manapun, jika memang membutuhkan pasti dibantu. Semua itu menginspirasi saya untuk terus peduli tanpa membeda-bedakan. Relawan, pengurus, maupun donatur AAT pun juga berasal dari berbagai agama, suku, dan daerah. Bahkan donaturnya juga ada yang berasal dari luar Indonesia. Semua bahu-membahu menyelamatkan pendidikan di Indonesia. Sungguh, saya bersyukur menjadi bagian dari mereka. Mereka telah mengajarkan kepada saya tentang kekuatan berbagi dan peduli. Sesungguhnya, semangat berbagi dan peduli sudah ditanamkan dalam diri saya sejak kecil. Kedua orang tua sayalah yang dengan sabar menanam dan merawat benih kepedulian dalam diri saya. Sejak saya kecil, orang tua saya selalu mengajarkan saya untuk mau berbagi, sekalipun kami dalam kekurangan. “Sekecil apapun rezeki, harus disisihkan untuk sesama.” Awalnya saya kesal. “Kita saja dalam kesusahan, kenapa masih harus berbagi?” pertanyaan dalam hati ini tidak pernah mendapatkan jawaban dari orang tua saya. Selama bertahun-tahun mereka mengajarkan kepada saya untuk terus berbagi. Bukan dengan kalimat-kalimat motivasi maupun kata-kata mutiara, namun dengan tindakan langsung tanpa memberitahu apa maksudnya. Dari mulai berbagi makanan, beras, air minum, pakaian, bahkan uang satu-satunya pun akan mereka berikan jika orang lain memang lebih membutuhkan. Semua itu mereka lakukan, mereka ajarkan kepada saya, sampai saat ini. Hingga suatu hari, tepat di tanggal 12 Juli 2014, saya menyaksikan sendiri. Seorang perempuan yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji sekitar Rp 400.000,00 per bulan, menyerahkan sebagian uangnya untuk empat orang nenek-nenek. Perempuan itu menyerahkan uang Rp 100.000,00 kepada salah satu nenek dan meminta nenek itu untuk membaginya dengan tiga nenek yang lain. Semua terjadi di depan mata saya. Saya melihat langsung sebuah pelajaran yang sangat berharga. Meskipun hidupnya berkekurangan, perempuan itu tidak pernah lelah untuk berbagi. Baginya, untuk bisa berbagi, tidak harus menunggu kaya dahulu. Sekarang, saat ini juga, kita bisa melakukannya. Dan saat itu, saya hanya bisa tersenyum bangga disela tetesan airmata. Karena perempuan itu adalah ibu saya. Perempuan yang selama ini mengajarkan saya untuk berbagi dan peduli. Mengajarkan saya untuk selalu menawarkan tangan untuk membantu sesama. Hingga saya pun menemukan jawaban atas kegundahan hati saya. “Hidup kita memang selayaknya untuk orang lain. Tangan kita, kaki kita, semua Tuhan ciptakan untuk menolong sesama. Menjadi manfaat, menjadi berkat, adalah kunci bahagia kita.”   Rike Kotikhah* Relawan AAT Sekretariat Madiun  *Rike Kotikhah adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2011. Merupakan relawan AAT sekaligus salah satu anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi.   [qrcode content=”https://aat.or.id/key-of-life” size=”175″]  

Key of Life Read More »

Bahagia itu Sederhana

NAMA saya Dian Mayasari. Saya biasa dipanggil Dian oleh teman-teman dan keluarga. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. saya mempunyai kakak perempuan (Theresia Chandra) dan kakak laki-laki (Yohan Setiawan Chandra). Kedua kakak saya sudah menikah dan mempunyai anak. Papah saya bernama Chandra Hasan dan mamah saya bernama Linawati. Papah saya bekerja sebagai buruh tidak tetap. Terkadang berjualan burung dara di pasar atau menjadi pelatih burung dara yang akan dilombakan. Penghasilan yang diperoleh memang tidak tetap, tergantung ada latihan ataupun perlombaan. Mamah bekerja sebagai penjahit kerudung burung, membuat tas kertas untuk acara tertentu, dan berjualan kacang yang dititipkan ke warung-warung di dekat rumah. Sebelumnya, saat saya kelas XII saya sempat bimbang dan bingung, harus melanjutkan pendidikan kuliah atau tidak karena tidak adanya biaya dan juga bingung harus mengambil jurusan apa dan kuliah di mana. Tapi saya optimis. Saya yakin dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan serta membahagiakan kedua orang tua saya. Saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah, namun mamah berkata, “Tamatan SMA sulit cari kerjanya.” Saya juga sudah mencari-cari di internet, kampus mana yang akan saya masuki dan juga mencari beasiswa agar tidak membebani kedua orang tua saya. Pada pertengahan Januari saya belum juga mendapatkan kampus untuk melanjutkan pendidikan dan juga jurusan apa yang harus saya ambil. Sampai pada akhirnya ada salah satu kampus di Semarang yang presentasi ke sekolah. Awalnya, saya tidak tertarik dengan jurusan tersebut karena nilai saya yang tidak begitu bagus. Namun, dalam brosur tersebut tertulis bahwa ada beasiswa kurang mampu dan dengan persyaratan nilai rapor harus bagus dan juga akan dicarikan beasiswa dari PT dengan syarat IP semester awal diatas 2,85. Saya masih bimbang, dan pada akhirnya saya bercerita dengan mamah dan beliau meyerahkan kembali keputusannya pada saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba mendaftar. Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya harus mengikuti wawancara terlebih dahulu. Setelah wawancara berlangsung, tinggal menunggu keputusan saja. Dan saya pun diterima di kampus tersebut. Tetapi, ternyata ada persyaratan lain, yaitu harus membayar Rp500.000,00 terlebih dahulu untuk mendapatkan almamater dan juga jas laboratorium. Sebelumnya, mamah kebingungan untuk mencari biaya tersebut, dan akhirnya mamah mendapatkan berkat dari Tuhan yang tidak terduga sehingga bisa membayar uang pendaftaran tersebut. Saya pun sudah menyelesaikan Ujian Nasional dan lulus dengan nilai yang cukup baik. Setelah itu, saya dan mamah pergi ke Semarang untuk membayar biaya pendaftaran dan juga untuk memperjelas tentang beasiswa saya. Di sana saya bertemu dengan petugas BAAK yang mencarikan beasiswa untuk saya. Namun, saya harus menunggu dan meninggalkan nomor telepon. Setelah beberapa hari, saya mendapatkan sms yang berisi saya didaftarkan masuk beasiswa Bidik Misi. Saya sangat senang sekali dan harus mengumpulkan persyaratan tersebut secepatnya. Akhirnya, saya mempersiapkan semua persyaratan yang dibutuhkan dan juga ke Semarang lagi untuk mengumpulkan persyaratan tersebut. Sesampainya di sana saya langsung menyerahkan persyaratan tersebut. Namun, saya kecewa karena saya tidak jadi mendaptkan beasiswa tersebut karena nilai teman saya jauh lebih tinggi dari saya. Saya sangat kecewa dan hampir berputus asa, namun pihak BAAK memberikan saya formulir tentang beasiswa baru lagi untuk diisi dan memenuhi persyaratan. Dan beasiswa itu adalah beasiswa AAT. Mengenal Anak Anak Terang (AAT) Awalnya, saya tidak tahu dan tidak mengerti apa itu AAT. Tetapi, setelah membaca formulir dan membuka website-nya saya sedikit mengerti. Saya harus ke Semarang lagi untuk memberikan persyaratan tersebut dan juga akan diberi penjelasan tentang AAT. Setelah pengumpulan persyaratan tersebut, ternyata saya harus menunggu beberapa hari terlebih dahulu dan juga datang kembali untuk mengikuti wawancara. Dan bersyukur saya lolos dan menjadi penerima beasiswa AAT. Tantangannya, IPK harus di atas 3,00. Saya senang sekaligus takut. Tapi saya yakin saya pasti bisa memberikan yang terbaik. Tanggal 18 Agustus 2014, saya masuk untuk mengikuti MOPD di salah satu kampus di Semarang. Setelah selesai mengikuti MOPD dan juga LDK, saya resmi menjadi mahasiswi di Akademi Kimia Industri Semarang (AKIN) dan tinggal di kos. Berbeda dari teman-teman lainnya, kos yang saya tempati cukup jauh dari kampus karena disuruh mamah dekat dengan rumah kakak yang di Semarang. Saya tidak tinggal bersama kakak, karena tempatnya kecil dan masih menumpang di rumah mertuanya. Saya ke kampus diantar oleh suami kakak saya, namun terkadang naik motor sendiri, atau berangkat bersama teman yang rumahnya dekat dengan kos. Semester satu ini saya dapat melewati dengan baik, meskipun jadwal perkuliahan yang sangat padat dengan tugas-tugas dan harus mengurus yang lain juga. Ada salah satu mata kuliah yang tidak saya suka, entah karena pelajarannya atau dosennya, yang pasti saat ada ulangan mata kuliah tersebut saya selalu mendapatkan nilai yang jelek. Setelah beberapa bulan mengikuti perkuliahan ujian akhir semester pun berlangsung, awalnya saya bisa mengerjakan dengan baik. Namun, setelah masuk pada hari di mana mata kuliah yang tidak saya sukai diujikan, saya menjadi takut jika nilai saya jelek. Nilaipun sudah keluar satu persatu dan saya sempat down karena nilai mata kuliah yang tidak saya sukai jelek. Saya takut kalau tidak bisa mendapatkan IPK 3,00 karena saya tidak tahu harus membayar uang semester satu dengan apa. Setelah semua nilai keluar, akhirnya IPK saya cukup memuaskan dan melebihi 3,00. Saya sangat bangga dan senang sekali. Bangga menjadi Anak Asuh sekaligus Relawan AAT Saya merasa bangga menjadi salah satu Anak Asuh AAT, karena tidak banyak orang yang bisa mendapatkan beasiswa AAT. Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Ibu Lies Endjang, Ibu Meitasari, Om Christ Widya, Kak Santi Widya (Kak Can), Om Adhi, dan pengurus AAT lainnya. Banyak pengalaman yang saya dapat setelah bergabung bersama AAT. Saya mendapatkan keluarga baru dan dididik untuk menjadi lebih baik lagi. Saya juga mendapatkan teman baru, menjadi peduli terhadap sesama, dan merasa bahagia bisa membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan. Pengalaman yang sangat menarik adalah ketika saya survei sekolah dan wawancara calon anak asuh yang mengajukan beasiswa. Saat saya perjalanan menuju ke tempat survei, saya dan teman-teman kesasar sampai jauh dan sudah ditunggu oleh anak-anak yang akan diwawancarai. Setelah selesai wawancara, saya dan teman-teman pulang. Namun, di tengah perjalanan pulang, hujan tiba-tiba turun dan kami harus mencari tempat berteduh untuk istirahat sebentar. Akhirnya, kami berteduh sebentar sambil makan. Di sini saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Kami dapat berkumpul dan juga bercanda satu sama lain.

Bahagia itu Sederhana Read More »

It is Simple, It is so Beautifull

“Dengan kasih Tuhan, AAT peduli akan pendidikan anak-anak yang tidak mampu.” Sebaris kalimat itu tidak bisa dihilangkan dalam pikiran saya dan membuat saya hingga saat ini bertahan bersama AAT. Menjadi relawan sekaligus penerima beasiswa AAT adalah hal yang luar biasa untuk saya. Saya bangga menjadi bagian dari Anak-anak Terang. Perkenalkan, nama saya Tanti Kusumawati. Saya adalah seorang mahasiswi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta Fakultas Ekonomi dan saya adalah bagian dari karya pelayanan Anak-Anak Terang. Perasaan haru selalu menyelimuti hati saya. Tidak jarang, setiap hari setetes air mata selalu menyelimuti wajah yang penuh pengharapan ini. Merasakan betapa bahagia mengenal dan menjadi bagian Anak-Anak Terang. Dengan AAT, saya bisa belajar banyak hal. Saya menjadi lebih sadar bahwa belajar itu bukan hanya dengan orang tua, bukan hanya dengan orang yang banyak gelar dinamanya, dan bukan hanya dengan motivator handal. Tiga Rantai Yang Tidak Terputuskan It is simple, it is so beautifull … Hanya di AAT hal seperti itu akan didapat. Kita belajar bersama orang yang usianya jauh di bawah kita. Kita belajar bersama orang yang usianya sama dengan kita dan kita belajar bersama orang yang usianya jauh di atas kita. Ini adalah tiga rantai yang tak terputuskan di AAT, rantai khas AAT. Mengapa? Belajar bersama orang yang usianya jauh di bawah kita, kadang membuat saya malu dan membuat saya kagum. Hal itu saya dapatkan saat kami, para relawan AAT datang ke sekolah-sekolah untuk melakukan survei dan wawancara anak asuh. Saat itu posisi kami adalah sebagai tokoh yang luar biasa untuk anak-anak SD, SMP, SMA/SMK, karena setahu mereka kami adalah pahlawan untuk mereka dan keluarganya (menurut cerita dari calon anak asuh). Tapi, saat wawancara berlangsung, saya merasa menjadi orang yang paling berdosa. Saat wawancara calon anak asuh, ada seorang anak asuh yang bercerita bahwa ia membawa uang saku Rp12.000,00. Untuk transportasi pulang pergi ke sekolah Rp10.000,00 dan harus berangkat setengah 6 pagi dari rumah untuk naik bus dan harus oper untuk bisa sampai ke sekolahan. Dan saat saya bertanya, dia hanya menjawab, “Bisa sekolah sudah luar biasa, Mbak. Tidak usah menuntut yang lain-lain yang penting setelah lulus nanti saya bisa kerja dan membantu orang tua.” Status dia saat itu adalah murid yang mendapatkan peringkat 1 di SMK Putra Nusantara Magelang. Saat itu saya hanya bisa diam, kagum mendengarnya, dan mata sudah mulai berkaca-kaca teringat kejadian semalam ketika menghubungi ibu untuk minta kenaikan uang saku dan mengeluh karena jalan kaki untuk pergi ke kampus. Yang jarak kos ke kampus hanya 17 menit jika di tempuh dengan jalan kaki. Dalam hati saya, “Oh Tuhan, maafkan saya…” Saya merasa sangat berdosa pada ibu. Saya mendapatkan pelajaran dari orang yang seusia ketika berinterkasi dengan teman-teman sesama anak asuh perguruan tinggi dan teman-teman relawan AAT. Kita memiliki kesibukan yang sama, yaitu sebagai mahasiswa dan sebagai relawan di AAT. Saya kagum ketika melihat seorang relawan yang tidak mendapatkan imbalan apapun di AAT dapat bekerja dengan penuh cinta dan pengorbanan. Tak jarang, mereka harus hujan-hujanan untuk pergi survei ke sekolah-sekolah, mengerjakan tugas-tugas AAT di sela kesibukannya sebagai seorang mahasiswa, menjalankan kewajibannya sebagai Pendamping Komunitas (PK) AAT di sela jam istirahat mereka, dan mempromosikan AAT ke sana ke mari supaya banyak donatur, serta menyisihkan uang saku untuk mengurangi biaya operasional AAT. Ya. Orang-orang hebat dapat saya kenal di sini. Meskipun kadang merasa lelah, tetapi relawan yang bukan anak asuh membangkitkan semangat saya. Yang seperti ini yang kadang membuat saya malu. Mereka yang tidak mendapatkan apa-apa saja bisa seperti ini, kenapa saya yang mendapatkan bantuan biaya kuliah dari AAT justru tidak bisa seperti mereka? Di AAT saya juga belajar bersama orang yang usianya jauh di atas kita. Untuk hal di sini saya mendapatkan pelajaran karena keberadaan donatur yang rela dan senang hati membantu kami, anak asuh AAT untuk tetap bisa sekolah. Walaupun donatur memiliki kesibukan dan kebutuhan hidup, tetapi tetap bisa membantu kami yang mungkin tidak beliau kenal. Bekerja pagi hingga malam menyisihkan uangnya untuk didonasikan ke Anak-anak Terang, supaya anak asuh AAT bisa tetap sekolah. Begitupun dengan semua pengurus yayasan AAT Indonesia yang luar biasa, yang membimbing kita para relawan, memberikan perhatian kepada kami anak asuh dengan rela mengorbankan waktu disela kesibukannya belajar dan bekerja hingga mengorbankan biaya untuk membuat kami senang. Mereka juga memberikan arahan serta memberikan motivasi yang membangun untuk kami para relawan Anak-anak Terang. Terima kasih adik, teman, romo, suster, bapak dan ibu yang menjadi bagian karya pelayanan Anak-Anak Terang yang telah membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya bangga mengenal dan ada bersama kalian.   Tanti Kusumawati* Koordinator AAT Sekretariat Yogyakarta *Tanti merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tanti adalah salah satu anak asuh AAT yang juga menjadi koordinator AAT Sekretariat Yogyakarta.   [qrcode content=”https://aat.or.id/its-simple-its-so-beautifull” size=”175″]  

It is Simple, It is so Beautifull Read More »

Akhirnya Mimpi Saya menjadi Nyata

NAMA SAYA Tiara Riszky Ananda, kelahiran Madiun 17 Maret 1993. Saya merupakan salah satu anak asuh Perguruan Tinggi AAT dari Universitas Katolik Widya Mandala Madiun yang baru saja lulus dan diwisuda. Saya bergabung dengan AAT dan dibantu para bapak/ibu donatur AAT sejak 24 Agustus 2013. Saat itu saya sedang belajar di Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi semester V. Sejak 24 Agustus 2013, saya juga dipercayai untuk menjadi Koordinator AAT Madiun selama satu periode, yaitu pada tahun 2013-2014. Bersama dengan teman-teman pendamping komunitas sekretariat AAT Madiun, kami mengelola sekretariat AAT Madiun dengan ratusan anak asuh yang tersebar di sekolah/komunitas Se-Eks Karesidenan Madiun. Dalam mengelola beasiswa, kami juga didampingi para pendamping rohani, yaitu Br. Yakobus CSA, Br. Alex CSA, dan Br. Neri CSA, serta Bapak Bernadus Widodo M.Pd. selaku penanggungjawab sekretariat AAT Madiun. Kemudian, pada tanggal 21 September 2014, saat Rapat Pengurus Yayasan AAT Indonesia, saya dipercayai kembali untuk menjadi Koordinator Nasional Relawan AAT untuk tahun ajaran 2014-2015. Mimpi saya untuk menyelesaikan pendidikan S1 Akuntansi sebelum waktunya, yaitu dengan 3,5 tahun adalah mimpi saya sejak awal masuk perkuliahan. Saya ingin segera meringankan beban kedua orang tua saya dan segera bekerja. Untuk mencapai keinginan saya itu, setiap semesternya saya berusaha untuk mendapatkan IPK di atas 3,00. Dengan begitu, saya bisa mengambil mata kuliah di atas tingkatan saya. Tidak hanya hardskill saja yang saya tekuni, tetapi di Widya Mandala Madiun saya juga belajar untuk melatih softskill saya. Dan pada 28 Februari 2015, doa saya terjawab. Saya berhasil menyelesaikan kuliah S1 saya dengan masa studi 3,5 tahun dan berhasil menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Terimakasih kepada para sahabat AAT yang telah membantu biaya kuliah saya. Berkat bantuan dari Bapak/Ibu Donatur AAT, saya bisa melanjutkan dan menyelesaikan kuliah saya sebelum waktunya. Terima kasih untuk dukungan semangat dan doa yang telah diberikan para sahabat AAT. Terimakasih untuk pendampingan yang diberikan kepada saya selama ini. Terima kasih atas pengalaman dan kesempatan yang luar biasa yang telah diberikan kepada saya untuk menjadi salah satu Anak Asuh AAT, menjadi Pendamping Komunitas, menjadi Koordinator AAT Madiun, menjadi Koordinator Nasional Relawan AAT, dan menjadi bagian dari keluarga besar AAT. Untuk kedepannya, saya ingin menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk membantu adik-adik asuh di AAT, sesuai dengan visi Beasiswa PT dari AAT, yaitu Pay it Forward! Harapan saya, makin banyak anak-anak SD, SMP, SMA/SMK, dan mahasiswa yang dapat dibantu oleh AAT. Untuk 46 Anak Asuh AAT tingkat perguruan tinggi yang lainnya, tetap semangat untuk menyelesaikan kuliah, ya. Kejar semua cita-cita yang kalian inginkan dan yakinlah semua akan bisa tercapai dengan kerja keras dan doa tentunya. Tangan Tuhan tidak akan bekerja jika tangan manusia tidak bekerja. Just do it and do your best! Terima kasih AAT.   Tiara Riszky Ananda Koordinator Relawan AAT Nasional   [qrcode content=”https://aat.or.id/akhirnya-mimpi-saya-menjadi-nyata” size=”175″]  

Akhirnya Mimpi Saya menjadi Nyata Read More »

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

NAMA SAYA YENI PUSPITASARI. Saya biasanya akrab dipanggil Yeni. Saya lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 13 September 1993. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun. Orang tua saya bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Sejak kecil, saya diasuh dan dibesarkan oleh nenek di kota Madiun. Orang tua saya harus pergi karena pekerjaan. Saya diasuh oleh nenek, karena kedua orang tua harus bekerja dan saat itu tidak mampu membayar babysitter untuk mengasuh saya. Alhasil, saya diasuh dan dibesarkan di desa bersama nenek hingga sekarang ini. Adik saya tinggal bersama orang tua di Sidoarjo, sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di Madiun bersama nenek, karena nenek tinggal di rumah sendirian. Tidak sampai hati rasanya jika harus meninggalkan seorang nenek yang sudah merawat saya sejak kecil tinggal di rumah seorang diri. Masa Sekolah Memasuki usia sekolah, mulanya saya bersekolah di TK Dharma Wanita Ngadirejo. Saat itu saya baru berusia 5 tahun. Namun, nenek sudah memasukkan saya ke sekolah. Lalu, saya bersekolah di SDN Ngadirejo 02. Kebetulan TK dan SD berada dalam satu lokasi yang sama dan lokasi sekolah tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya, kira-kira 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian, saya bersekolah di SMPN 1 Wonoasri. Jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, sekitar 5 km. Saat diumumkan kelulusan SMP dan dinyatakan lulus, saya mulai bimbang akan kemanakah saya melanjutkan sekolah. Saya benar-benar bingung antara SMA atau SMK. Saya berpikir, jika sekolah di SMA berarti harus kuliah, sedangkan biaya kuliah sangatlah mahal. Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke sekolah swasta, yaitu SMK PGRI Wonoasri dan mengambil jurusan Akuntansi. Sekolah tersebut terletak di tengah kota Caruban. Jarak sekolah dan tempat tinggal saya sekitar 11 km. Untunglah saat itu saya ada teman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga bisa sedikit meringankan biaya untuk membeli bensin. Seminggu sekali, kami bergantian untuk mengisi bensin. Waktu sekolah dulu, saya bersama sahabat saya pernah berjualan kacang bawang. Tiap pulang sekolah kami membuat kacang bawang dan besoknya kami titipkan ke warung-warung. Selain itu, saya juga berjualan pulsa untuk tambahan uang saku, karena jika mengandalkan uang saku dari orang tua sangatlah tidak cukup. Kelas XI saatnya melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Saya bersama ketiga teman mencari tempat untuk melakukan praktek. Hingga akhirnya, kami berempat diterima PSG di PLN Madiun selama 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dari mengarsipan data, entri data tusbung, melayani pelanggan, dll. Masa SMA pun segera berakhir. Sambil menunggu ijazah keluar, saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Madiun. Saya diterima di sana dan kontrak awal selama 3 bulan. Awalnya, saya merasa tidak sanggup bekerja selama 10 jam per hari, tapi saya berusaha memberi semangat pada diri saya bahwa saya pasti bisa. Satu bulan saya bekerja, ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan lagi. Akhirnya, saya menyetujuinya dan ayah mengusahakan untuk mencarikan biaya pendaftaran. Saya pun konsultasi dengan guru BK SMK. Menurut beliau, kampus Widya Mandala (WIMA) Madiun adalah kampus yang cukup baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di kampus UNIKA Widya Mandala Madiun dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua orangtua saya awalnya tidak setuju kalau saya kuliah di situ. Mereka ingin saya kuliah di perguruan tinggi lain yang ada di Madiun, tetapi saya tetap ingin kuliah di WIMA Madiun. Awal Mengenal AAT Jalan Tuhan memang indah. Jika saat itu saya ikut saran orangtua untuk kuliah di universitas lain, mungkin sekarang saya tidak akan mengenal AAT. Saya baru sadar mengapa saat itu saya bersikeras ingin kuliah di Wima, yaitu karena Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Hingga akhirnya, saya bisa mengenal yayasan yang begitu hebat, Yayasan AAT Indonesia. Pagi itu, tanggal 26 Agustus 2013 adalah hari di mana saya pertama kali mengenal Anak-anak Terang (AAT). Awalnya, saya ke kampus hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi mendengar bahwa ada sosialisasi beasiswa AAT, saya dan teman saya Mbak Rike tertarik untuk mengikuti sosialisasi mengenal beasiswa AAT. Sebelumnya, saya sudah mendengar ada pengajuan beasiswa dan mahasiswa yang lolos seleksi beasiswa tersebut akan menjadi staf administrasi dan tugasnya adalah mengurus beasiswa untuk anak SD, SMP, dan SMA. Saya tidak mengajukan beasiswa AAT, karena pada saat itu saya sudah mendapat beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM). Beberapa teman mengatakan bahwa tidak hanya yang penerima beasiswa AAT saja yang bisa mengurus beasiswa untuk SD, SMP, dan SMA, tetapi yang tidak menerima beasiswa AAT pun boleh membantu. Mendengar hal seperti itu saya tertarik untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT. Saat memasuki ruangan tersebut, saya berkenalan dengan Mbak Chika dan Mbak Alma yang saat itu menjadi koordinator nasional. Saat Mbak Chika menanyakan apakah sudah membuka situs web AAT, saya jawab belum. Karena saat itu yang saya tahu beasiswa AAT memberikan beasiswa kepada SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Saya belum melangkah lebih jauh sampai membuka website-nya AAT. Setelah Mbak Alma, Mbak Chika, Pak Christ, dan Pak Hadi menjelaskan kepada semua audience yang hadir, saya baru paham apa itu Beasiswa AAT. Dari penjelasan mereka dan dari tanya jawab, saya semakin yakin untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT, karena kegiatan di AAT sangat positif. Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Setelah resmi bergabung bersama AAT, saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang awalnya belum saya kenal. Mereka semua baik dan kami saling bekerja sama, saling membantu, dan saling memberikan semangat. Menjadi staf administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem informasi Anak Asuh), bagaimana mengirim bukti transfer dan kuitansi setiap bulannya kepada donatur, dan bagaimana mengirim rapor anak asuh untuk donatur.   Saat survei, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Ketika wawancara, saya mendengar cerita langsung dari calon anak asuh. Saya merasa sangat bersyukur atas kehidupan saya. Saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik di luar sana yang tidak seberuntung saya. Cerita dan perjuangan mereka semakin membuat saya bersyukur dan bersemangat untuk meraih cita-cita saya, untuk terus membantu sesama, dan terus melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekeliling saya dan tentunya untuk AAT. Menjadi Anak Asuh AAT Tahun ajaran

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 duta76 perihoki monitoring aktivitas real time big data mahjong studi intensitas pengguna visibilitas mahjong ways distribusi kuantitatif simbol premium mahjong ways 2 automasi kolektif wild bounty showdown responsivitas dekonstruksi 12 fase transisi pg soft algoritma efisiensi operasional data heterogen mahjong ways 2 metadata semantik starlight princess prediksi simbol variasi hasil stokastik mahjong wins 3 strategi penyaringan bonus scatter merah mahjong ways fenomena scatter emas indikator balikan pg soft aws ekspektasi algoritma scatter gates olympus aws evolusi spam spin rtp live data aws kalkulasi ai mahjong data terstruktur aws kondisi optimal mahjong simbol unik aws logika putaran bonus data konsisten aws monitoring rtp mahjong pola terstruktur aws pergeseran rtp pgsoft lonjakan tren aws riset algoritma rtp pragmatic respon aws riset scatter simbol premium pola aws strategi pola wild bandito adaptasi trik anti gagal mahjong rtp bandar model analisis simbol mahjong ways bongkar pola mahjong strategi bandar framework analisis siklus interaksi mahjong eksplorasi pola berulang mahjong ways frekuensi simbol tinggi scatter hitam kejutan irama mahjong scatter wild perubahan dinamis mahjong scatter tanda halus simbol scatter hitam transisi diam simbol mahjong besar e5 adaptif dalam permainan dengan data rtp harian e5 berbasis evaluasi rtp harian e5 berbasis pola spin yang terencana e5 bermain berbasis analisis rtp harian e5 dengan pendekatan algoritma pada scatter dan wild e5 fleksibel permainan berlandaskan data rtp harian e5 melalui teknik spin yang lebih terstruktur e5 permainan mengacu pada analisis rtp harian e5 rtp dengan teknik spin yang lebih presisi e5 scatter dan wild menggunakan analisis algoritma eksplorasi dimensi waktu mahjong wins optimalisasi pola bermain evaluasi digital pendekatan siklus pola mahjong ways pengembangan bermain evaluasi algoritma rahasia pola rtp pragmatic play server rahasia pola waktu mahjong wins main rekonstruksi pola bermain analisis game strategi jitu pola rtp pragmatic play strategi waktu mahjong wins jam main teknik cerdas analisis maintence server teknik jitu peluang momentum dadu sicbo strategi pola mahjong wild deluxe rtp live gates of olympus strategi ampuh taktik peluang baccarat pola mahjong ways 2 pgsoft analisa teknik rtp live starlight princess metodologi unik taktik blackjack analisa rtp live teknik pola pragmatic sweet bonanza mahjong wins 3 sinergi asli analisa teknik roulette strategi pola wild west gold taktik peluang rtp live mahjong ways 2 pgsoft taktik paten ekuilibrium analisa teknik peluang sv388 blackjack strategi pola rtp live mahjong wins 3 pragmatic sugar rush arsitektur aneh peluang strategi dadu sicbo analisa pola mahjong wild deluxe taktik rtp live gates of olympus taktik umum disiplin baccarat strategi pola mahjong ways 2 pgsoft analisa teknik peluang rtp live starlight princess algoritma baru probabilitas strategi peluang blackjack analisa pola sweet bonanza teknik rtp live mahjong wins 3 pragmatic matriks jangka eksekusi strategi peluang roulette analisa pola wild west gold taktik teknik rtp live mahjong ways 2 pgsoft konvergensi jitu analisa peluang blackjack strategi sv388 taktik teknik pola rtp live sugar rush mahjong wins 3 pragmatic aws ai scatter koi gate aws celah rtp scatter emas aws data putaran starlight scatter aws definisi spin otomatis pragmatic aws independensi rng scatter berlapis aws lonjakan pemain rtp mahjong aws momentum simbol premium mahjong aws preferensi pemain baru neko aws strategi aman konsistensi mahjong aws strategi multiplier gates olympus alur main pro mahjong ways scatter hitam bedah matriks scatter mahjong ways 2 peluang arsitektur mekanik mahjong wins 3 analis sistem analisis jam gacor mahjong ways tempo main trik konsistensi mahjong wins 3 pola stabil update pola real time mahjong ways april 2026 rahasia indikator balikan mahjong ways 2 gacor matematika grid tumble mahjong ways 2 kombinasi tips optimasi mahjong wins 3 balikan real time formasi sinkronisasi tumble mahjong ways kontinu isyarat halus reel scatter hitam mendekat ketika scatter hadir alur mahjong ways nuansa berbeda mahjong ways scatter perubahan mikro reel sinyal scatter hadir transformasi reel mahjong scatter wild strategi ampuh mahjong ways pola rtp strategi lengkap memahami pola rtp live tutorial lengkap mahjong ways pola main kupas tuntas mahjong ways pola bermain panduan jitu mahjong strategi rtp live cara memahami pola tersembunyi spin mengungkap ritme permainan mahjong wins dari sunyi irama mahjong scatter emas membongkar dinamika putaran mahjong wins transformasi irama dipicu scatter wild ketika scatter wild alur mahjong dinamis mengintip putaran mahjong sudut pandang momen penting spin mahjong terlewat ritme mahjong ways seiring scatter wild detail kecil spin mahjong bisa hasil aws analisis kognitif wild bounty interaksi aws analisis statistik mahjong target aws indikasi stutter multiplier olympus aws konsep data heterogen mahjong aws mahjong ways evolusi konten digital aws metadata semantik starlight analisis aws otomatisasi wild bandito analisa aws pendekatan stokastik mahjong wins aws perubahan algoritma mahjong fase transisi aws pola premium mahjong grid analisis arsitektur aneh peluang strategi dadu sicbo analisa pola mahjong wild deluxe taktik rtp live gates of olympus taktik umum disiplin baccarat strategi pola mahjong ways 2 pgsoft analisa teknik peluang rtp live starlight princess algoritma baru probabilitas strategi peluang blackjack analisa pola sweet bonanza teknik rtp live mahjong wins 3 pragmatic matriks jangka eksekusi strategi peluang roulette analisa pola wild west gold taktik teknik rtp live mahjong ways 2 pgsoft konvergensi jitu analisa peluang blackjack strategi sv388 taktik teknik pola rtp live sugar rush mahjong wins 3 pragmatic teori konvergensi matriks strategi mahjong wild deluxe kalkulasi probabilitas dadu sicbo pro gates of olympus paradigma ekuilibrium sinkronisasi teknik baccarat progresif algoritma mahjong ways 2 pgsoft starlight princess arsitektur profitabilitas tinggi analisa mahjong wins 3 taktik sweet bonanza strategi manajemen risiko blackjack elit protokol intelijen rtp live strategi agresif wild west gold teknik konservatif mahjong ways 2 terpadu roulette dekonstruksi pola multiplier teknik heuristik mahjong wins 3 pragmatic manajemen risiko blackjack pro sugar rush sv388 anatomi algoritma dekode pola frekuensi tinggi gates of olympus analisa teknik mahjong wild deluxe dadu sicbo pemetaan fraktal keuntungan analisa pola volatilitas starlight princess rasio rtp live mahjong ways 2 pgsoft bcaccarat dinamika rtp live cross platform sinkronisasi teknik blackjack momentum mahjong wins 3 pragmatic play sweet bonanza manifesto manajemen risiko dekonstruksi pola wild west gold teknik analisa lintas platform roulette mahjong wins 3 pragmatic teori sinkronisitas profit integrasi analisa probabilitas blackjack algoritma sugar rush sv388 terpadu mahjong wins 3 pragmatic penguasaan tanpa pola rtp live deluxe mahjong wins 2 lebih terpercaya starlight princess x1000 rasio kemenangan sicbo saat rtp mahjong wins black scatter terbaru sweet bonanza super rasio lebih memilih dragon tiger saat mahjong black scatter menguasai starlight princess rasio lebih memilih roullete saat mahjong ways terpercaya rtp gates of olympus deluxe strategi memecahkan baccarat sesuai mahjong ways deluxe dengan teknik gates of olympus isyarat halus reel scatter hitam mendekat ketika scatter hadir alur mahjong ways nuansa berbeda mahjong ways scatter perubahan mikro reel sinyal scatter hadir transformasi reel mahjong scatter wild strategi ampuh mahjong ways pola rtp strategi lengkap memahami pola rtp live tutorial lengkap mahjong ways pola main kupas tuntas mahjong ways pola bermain panduan jitu mahjong strategi rtp live