Relawan

AAT Membawa Terang dalam Hidupku

SATU SETENGAH TAHUN aku berkecimpung di AAT. Berkat beasiswa AAT inilah aku bisa kuliah sampai sekarang. AAT yang telah membiayai kuliahku dari semester 3 kemarin. Dulu, sebelum aku dibiayai AAT, orang tuaku harus menggadaikan cengkeh dan menjual anak sapi yang didapat setelah bertahun-tahun memelihara induknya dari saudaraku. Dan sekarang, aku bersyukur sekali kuliahku sudah dibiayai AAT. Berkat AAT, beban ekonomi yang ditanggung oleh orangtuaku sudah tidak seberat dulu. Terkadang, orang tuaku menjual kayu atau pinjam ke saudara untuk biaya hidup sehari-hari, karena ibuku sudah tidak bekerja lagi. Sekarang, ibu hanya mengurusi sawah dan ladang bersama bapak, serta cari daun cengkeh dan rempah–rempah untuk dijual. Selama 1,5 tahun juga, aku ditunjuk sebagai bendahara AAT sekretariat Madiun. Jujur, tidaklah mudah menjadi seorang bendahara yang harus mengurusi uang. Bahkan, kalau sampai salah hitung, aku bisa pusing yang akhirnya terlambat untuk mengirim laporan ke pusat. Tapi semuanya kulakukan, karena tugas sebagai bendahara tidak seberat pengorbanan dari para pengurus yang rela meluangkan waktunya untuk AAT. Selain sebagai bendahara, aku juga sebagai salah satu tim public relations. Di sini aku banyak belajar mengenal orang yang tak dikenal, yang akhirnya menjadi kenal. Di tim ini aku bertugas posting di fanpage AAT sesuai jadwal masing-masing. Ketika melihat data anak asuh di SIANAS (Sistem Informasi Anak asuh) angkanya berkurang, saya merasa sangat senang, karena ada yang membantu mereka. Mereka dapat melanjutkan sekolahnya berkat para donatur yang baik hati. Rasa malas untuk posting terkadang datang menghinggap. Tapi perasaan itu segera hilang ketika ingat perjuangan para pengurus yang rela meluangkan waktu untuk posting setiap hari demi mencari donatur untuk adik-adik yang membutuhkan. Berkat AAT juga aku merasa lebih bersyukur. Saat rapat public relations 2014 lalu, sebelum pulang, aku, Mbak Rike, dan Mbak Tiara yang diantar oleh Om Adhi dan Pak Greg mampir ke Panti Asuhan Cacat Ganda Semarang. Di situlah seolah aku merasakan tamparan atas kurang syukurku selama ini yang selalu memandang ke atas. Rasa trenyuh, sedih, terharu, bercampur aduk menjadi satu. Di sana aku melihat banyak anak-anak yang dengan kondisi berkekurangan. Mereka tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri layaknya orang-orang normal pada umumnya. Mereka harus dibantu oleh para perawat. Sedangkan aku? Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Aku membayangkan, bagaimana jika aku menjadi mereka? Apa aku bisa seperti sekarang ini? Semua itu membuat aku sangat merasa bersyukur atas pemberian Tuhan selama ini. Aku masih beruntung dibandingkan dengan mereka. Karena Tuhan masih memberikan indra yang lengkap untukku. Dulu, di awal menerima beasiswa AAT, jujur aku pernah berpikir untuk keluar atau mengundurkan diri. Kenapa? Karena aku takut. Aku bingung, karena saat itu langsung ditunjuk sebagai salah satu Pendamping Komunitas (PK) di SDK dan SMPK Santo Yusuf Madiun. Kenapa harus aku yang duluan? Apa aku bisa? Berhari-hari aku memikirkan hal itu. Aku tidak punya teman yang kenal saat pertama kali penerimaan beasiswa. Bahkan, sama Andika yang satu kelas saja aku tidak begitu akrab. Apalagi sama yang lainnya. Tapi akhirnya semua aku jalani saja. Ternyata, tidak seberat yang aku pikirkan. Sungguh pilihan yang bodoh kalau aku dulu benar-benar keluar dari AAT hanya karena hal sepele. Kemungkinan besar, tidak akan pernah ada yang berubah dalam hidupku. Bahkan, bisa jadi aku tidak akan operasi sampai aku tua. Dan di AAT, apa yang aku dapatkan? Banyak sekali. Pengalaman yang begitu berharga yang tidak aku dapatkan di luar AAT. Berawal dari “penculikan” tak terduga di Kaliurang bulan April kemarin yang membuat aku berani operasi, sampai pada perubahan-perubahan hidup yang saya alami sampai sekarang. Sesaat, aku jadi jera gara-gara operasi tahap dua. Tapi aku berpikir lagi, “Aku sudah melewati dua tahap, sayang sekali kalau aku harus berhenti sampai di sini. Aku harus melanjutkan operasi sampai terapi.” Dan akhirnya, aku memutuskan untuk operasi tahap ketiga. Bahkan, kalau ada tahap-tahap selanjutnya akan aku lakukan sampai hasil terbaik. Dulu, aku tidak sampai berpikir sampai sejauh ini. Semua itu berkat AAT. Bagiku, AAT adalah keluarga besar. Keluarga yang memberikan cinta dan kasih sayang yang luar biasa. Meskipun kami berasal dari berbagai agama, daerah, suku dan ras, namun aku benar-benar menemukan cinta yang begitu besar di AAT. Sebuah organisasi yang berhasil membuat diriku berubah. Di AAT juga aku bisa mengenal banyak orang. Banyak teman dari Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Malang, Padang, dan Pontianak. Aku juga bersyukur, karena di AAT inilah aku bisa mengenal para pengurus dan sebagian donatur yang bergabung di AAT. Semuanya membuatku lebih bersemangat. Mereka adalah inspirasiku. Aku telah banyak belajar dari mereka. Begitu banyak pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan di AAT. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk donatur baik hati yang telah bersedia membayai kuliahku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan beliau yang telah membiayai kuliahku. Semoga suatu saat ini aku bisa bertemu dengan beliau.Dan terimakasih juga untuk Pak Hadi, Pak Christ, Kak Can Santi Widya, Pak Marcel, Mami Can Lies Endjang, Om Adhi, Pak Greg, Bruder, dan semuanya atas pelajaran yang sangat berharga. Semuanya membuat perubahan dalam hidupku, sehingga menjadikan Emy yang sekarang. Yang sedikit demi sedikit mulai bermetamorfosis. Semua itu berkat orang-orang hebat yang aku kenal di AAT. Semua hal yang ada di AAT begitu memberi arti dalam hidupku. Memberi warna dalam setiap langkahku. AAT-lah pembawa terang dalam hidupku.   Emy Prihatin* Relawan AAT Sekretariat Madiun *Emy merupakan mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2012. Emy adalah salah satu anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi yang ditunujuk sebagai bendahara AAT sekretariat Madiun.   [qrcode content=”https://aat.or.id/aat-membawa-terang-dalam-hidupku” size=”175″]  

AAT Membawa Terang dalam Hidupku Read More »

Gerakan Kecil Bermakna Besar

PERKENALKAN nama saya Anggun Septin Kartika Wulan, biasa dipanggil Anggun. Saya tinggal bersama kedua orang tua, satu adik laki-laki dan satu nenek yang sedang sakit stroke di Giwangan Yogyakarta. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan telah memasuki semester VI. Saya mengenal Anak-Anak Terang (AAT) dari seorang teman. Waktu itu dia memberi tahu mengenai beasiswa kuliah dari AAT yang telah bekerja sama dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mengetahui hal itu, saya kemudian mencari tahu apa itu beasiswa AAT dan persyaratan-persyaratan untuk mengajukan beasiswa. Pada saat itu sedang liburan semester IV dan akan memasuki semester V. Singkat cerita, pengajuan beasiswa saya diterima walau sebenarnya saya belum begitu paham mengenai AAT itu sendiri. Awalnya saya mengira AAT itu hanya sekedar memberikan beasiswa saja tanpa ada hubungan lain setelahnya. Tapi ternyata saya salah. Di AAT, semua orang yang telah bergabung juga ikut terlibat dalam mengembangkan AAT atau bisa disebut setiap orang adalah roda bagi AAT. Awalnya terasa berat menjadi pengurus baru. Ya, mungkin karena belum terbiasa dengan sistem dan lingkungannya. Tugas wajib yang harus saya lakukan adalah piket, mengurus rapor anak asuh AAT tingkat sekolah, mengunggah dan mengirim kuitansi serta tanda terima beasiswa dari sekolah-sekolah yang telah dibantu oleh AAT. Suatu ketika, saya ikut survei mengunjungi anak-anak calon penerima beasiswa. Sekolahnya terletak di atas pegunungan di Purworejo. Beberapa kali kendaraan kami tidak kuat naik jalanan yang menanjak. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya sampai di sekolah yang dituju. Sekolah itu cukup kecil, sebuah SMP yang hanya terdiri atas tiga ruang kelas. Saya mengobrol dengan anak-anak tersebut. Dari mereka, saya mengetahui ternyata saya tidak ada apa-apanya dengan mereka dalam semangat belajar. Kebanyakan dari anak-anak tersebut harus berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer untuk sampai di sekolah. Keadaan rumah mereka pun juga masih banyak yang beralaskan tanah dan dengan dinding kayu atau anyaman bambu. Bahkan, ada juga yang belum tersambung dengan jaringan listrik. Namun, tidak ada kesedihan dan rasa malas di wajah mereka untuk terus belajar. Saya menjadi malu karena kadang merasa berat melakukan tugas di AAT. Melalui mereka saya menjadi mengerti dan lebih bersemangat bergabung dengan AAT. Di AAT saya mendapatkan keluarga baru dan pengalaman baru. Tidak hanya cerita dari anak-anak tersebut, namun juga para pengurus yang rela mencurahkan pikiran, tenaga, materi dan hati mereka untuk anak-anak melalui AAT. Mereka semua mengajarkan pada saya untuk terus peduli pada sesama. Mereka juga mengajarkan untuk terus berbuat baik. Sekecil apapun tugas kita, harus dilakukan sebaik mungkin. Karena, setiap gerakan kecil kita di AAT sangat berarti besar untuk mereka, sang penerus bangsa. Terima kasih AAT.   Anggun Septin Kartika Wulan Relawan AAT Sekretariat Yogyakarta   Mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UAJY, Anak Asuh AAT Tingkat Perguruan Tinggi   [qrcode content=”https://aat.or.id/gerakan-kecil-bermakna-besar” size=”175″]  

Gerakan Kecil Bermakna Besar Read More »

Survei dan Wawancara SD Kanisius Ngawen

PAGI ITU, 15 November 2014 sekitar pukul 7.30, saya dan teman-teman menuju tempat survei, yaitu SD Kanisius Ngawen Wonosari. Sebenarnya pagi itu badan saya kurang bersahabat. Tetapi, saya tetap bersemangat dalam melaksanakan tugas untuk survei dan wawancara calon anak asuh AAT meskipun sesekali saya mengeluh, “Duh, jauhnya Wonosari”. Mengendarai motor selama 30 menit membuat saya merasa mengantuk karena badan yang tidak enak. Setelah pertigaan, kami pun belok ke arah kanan. Di sana terlihat tanjakan tinggi dan tajam. Mata yang tadinya mengantuk pun mendadak terang benderang karena kami sadar perjalanan akan sangat ekstrim dengan jalan yang berliku-liku. Sebelumnya, saya belum pernah melalui jalan seekstrim itu. Setelah melalui pegunungan kapur, kami pun bertanya kepada warga sekitar apakah betul jalan tersebut adalah jalan menuju sekolah yang akan kami survei. Ternyata benar. Ketika kami belok ke arah kanan, akhirnya kami sampai di sekolah. Padahal sebelumnya, saya merasa tidak yakin akan sampai ke sekolah. Hal itu karena waktu kami sampai di pertigaan sebelum sekolah, kami tidak melihat tanda-tanda kehidupan (maksudnya tidak melihat rumah-rumah). Setelah berjalan lagi, kami menemukan beberapa rumah di bukit kapur dan kami pun bertanya lagi dengan warga yang ada disekitaran situ dan jawabannya sama, “Benar, masih naik lagi, Mbak?” Kami hampir menyerah. Tapi akhirnya kami menemukan sekolah yang kami tuju juga. Luar biasa perjalanan yang kami tempuh.   Sesampainya di SD Kanisius Wonosari, kami disambut dengan pertunjukan drumband yang dimainkan oleh siswa-siswa SD Kanisius Wonosari. Kami merasa terharu dan bahagia atas penyambutan yang luar biasa itu. Rasa lelah pun seketika menghilang ketika melihat anak-anak memainkan drumband dengan lincah dan penuh bersemangat. Wawancara Waktu wawancara pun tiba. Saya mendapatkan jatah 2 siswa untuk diwawancarai. Yang pertama, saya mewawancarai Nabila. Nabila adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya sehari-hari bekerja mencari burung dan hasil penjualannya burung itu untuk membeli kebutuhan makan serta susu untuk kedua adiknya yang kembar. Namun, pada musim hujan seperti ini ayahnya sulit sekali menangkap burung. Saya melihat kembali rapor Nabila. Nilainya di atas rata-rata. Saya mulai bertanya kepada Nabila. “Nabila rangking berapa?” “Rangking 3, Mbak.” Jawabnya singkat. Saya membalas lagi, “Rangking 3 dari berapa siswa?” “Dari 3, Mbak.” Saya terkejut dengan jawabannya, Nabila rangking 3 dari 3 siswa? Bagaimana ceritanya? Lalu, berapa siswa total keseluruhan siswa di sekolah ini jika kelas tiganya hanya 3 anak? Sebelum semuanya terjawab, saya pun melanjutkan wawancara dengan siswa lainnya. Namanya Lilo, nama yang lucu. Dia terlihat polos ketika saya mewawancarainya. Lilo menceritakan pekerjaan ayahnya sebagai buruh tani. Setelah itu saya bertanya kepada Lilo, “Lilo berangkat sekolah jam berapa? Diantar bapak nggak?” “Berangkat jam 6 pagi dari rumah, Mbak. Lilo berangkat sendiri,” jawabnya. Setelah mendengar jawaban Lilo saya terdiam sesaat dan bertanya kembali, “Lilo naik sepeda?” “Jalan kaki, Mbak.” Luar biasa sekali perjuangan Lilo. Diumurnya yang masih kecil, ia harus melewati gunung berkapur, jalan menanjak, dan jalan menurun demi bisa sekolah. Saya bertanya kembali kepada Lilo, “Lilo rumahnya jauh ya? Berapa lama sampai sekolahan?” “Sampai di sekolah setengah tujuh lebih, Mbak.” Saya begitu salut dengan semangat yang tinggi dan luar biasa dari seorang anak laki-laki yang mempunyai cita-cita sebagai guru ini. Mungkin orang lain di luar sana tidak mendapatkan pengalaman yang saya dapat ini. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga untuk saya. Ternyata, masih ada orang di bawah saya yang lebih kesusahan. Semua ini membuat saya semakin bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini. Meskipun dalam kekurangan, saya lebih beruntung dibandingkan adik-adik di sana. Setelah selesai wawancara, saya dan teman-teman berkumpul di tempat yang sudah disediakan oleh sekolah tersebut. Saya melihat-lihat apa yang terletak di ruangan itu. Saya membaca total murid dari kelas I hingga kelas VI SD Kanisius Wonosari ternyata berjumlah 35 anak. Kelas III-nya hanya 3 anak saja. Saya tak henti-henti terpaku oleh keadaan yang ada. Sungguh jelas di depan mata dan sungguh jelas cerita kehidupan yang terjadi, bukan drama, bukan acting ataupun skenario. Ini benar-benar nyata. Perjalanan Pulang Survei dan wawancara pun selesai. Kami bergegas untuk kembali ke Yogyakarta. Tiba-tiba seorang guru menghampiri kami. “Mbak! Apabila turun ke bawah tolong bonceng tiga murid saya, ya. Rumahnya di bawah gunung berkapur.” Setiap harinya, tiga murid tersebut bergantung kepada salah satu guru yang memberikan tumpangan karena rumah mereka sangat jauh di lereng gunung. Pada saat membonceng dua siswa, saya bertanya pada salah satu dari mereka yang bernama Wanda. “Wanda kalau berangkat jam berapa?” “Tadi saya menunggu Bu Guru jam enam, tapi Bu Guru datangnya jam tujuh lebih.” kata-kata itu di ucapkan dalam bahasa jawa. Kemudian saya bertanya lagi, “Wanda kalau Bu Guru tidak menjemput bagaimana sekolahnya?” “Ya nggak sekolah, Mbak. Jalannya jauh.” Sungguh mulia sekali Guru itu. Demi siswanya, beliau rela menjemput mereka. Bagi saya ini adalah cerita yang tak bisa saya lupakan. Saya jadi lebih bersemangat lagi untuk menjalankan pendidikan yang saya tempuh dan kegiatan organisasi di Yayasan AAT Indonesia, serta lainnya. Mungkin bagi orang lain ini hanya sekedar cerita semata, namun bagi saya ini adalah pelajaran yang berharga dan tak pernah ternilai harganya.   Elisabeth Putri Krismawati Relawan AAT Sekretariat Yogyakarta.   [qrcode content=”https://aat.or.id/survei-dan-wawancara-sd-kanisius-ngawen” size=”175″]      

Survei dan Wawancara SD Kanisius Ngawen Read More »

Sketsa Indahku

NAMAKU VENA, lahir 1 Agustus 1995 sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Bak sebuah sinetron, hidup di keluarga “broken home” membuatku menjadi anak pendiam dan penyendiri, serta mudah emosi. Ayahku entah di mana, pergi dengan banyak wanita lain. Ibu yang terpaksa berhenti bekerja demi membesarkan kedua anaknya, memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Sekarang, di rumah eyanglah aku tinggal. Biaya makan dan sekolah pun eyang yang menanggungnya dengan modal uang pensiunan almarhum kakekku. Ibuku selalu dipandang sebelah mata, makin diperparah oleh kelakuan ayahku yang tak berperasaan itu. Hidup dalam hinaan keluarga sendiri sangat membuatku dan adik tertekan. Tak jarang kami berdua menangis bersama. Meskipun adikku seorang laki-laki, tapi aku tahu dia begitu rapuh dan sangat membutuhkan figur seorang ayah. Karena ayah dan ibu menikah sebagai seorang Katolik, ibu selalu mencoba memaafkan dan bertahan demi aku dan adikku. Meskipun sakit rasanya melihat diam-diam ibuku menangis. Aku banyak belajar darinya yang begitu kuat menjalani hidup. Aku menjadi lebih kuat menghadapi semuanya, sesakit apapun itu. Karena aku tahu, tak ada yang lebih sakit seperti yang ibu rasakan. Ketika lulus SMA, aku tak bisa melanjutkan kuliah karena masih memiliki tunggakan uang sekolah yang membuat aku tak bisa mengambil ijazah maupun rapor. Namun, dengan alasan untuk mencari kerja, akupun diperbolehkan mendapat fotokopi legalisir rapor. Tanpa persiapan yang matang, aku pergi ke Bandung menerima tawaran saudara. Dua minggu sudah aku di sana. Tetapi, dua hari sebelum bekerja, tiba-tiba aku memutuskan untuk pulang ke Purwokerto. Itu semua karena aku merasa tidak nyaman di tempat saudara. Aku pun kembali ke Purwokerto dan mendaftar di STIKOM Yos Sudarso, tempat di mana aku pertama mengenal AAT. Semesta Mengirimnya Untukku Semester pertama, disitulah aku bergabung dengan AAT. Awalnya kupikir AAT adalah tempat untuk mengajar anak-anak seperti di dalam kelas. Ternyata tidak, di sini kami menjadi relawan atau staf administrasi untuk membantu para donatur menyalurkan donasinya kepada anak-anak melalui sekolah yang sudah bekerjasama dengan AAT. Awalnya memang berat, bahkan sempat berpikir untuk keluar karena teman-teman AAT disini tidak ramah. Hingga suatu hari, saya bertemu Mas Bani, Mbak Alma, dan Mas Dhika di sebuah acara. Mereka begitu ramah dan murah senyum kepadaku, meskipun baru pertama kali bertemu. Mereka ternyata juga relawan AAT. Saat itu, aku merasa seperti mendapat sengatan. Seketika itu juga aku ingin mengenal AAT lebih dalam dan ingin bertemu dengan relawan AAT dari kota lain. Sejak pertemuan itu, aku mencoba untuk lebih mengenal teman-teman AAT di kotaku. “Kalau mereka tidak ingin memulai, mengapa aku harus menunggu? Kalau aku bisa, mengapa tak kulakukan? Hanya menjadi sok kenal, kan? Pasti bisa!” pikirku. Semakin hari aku mulai memahami mereka. Selangkah demi selangkah kami menjadi akrab. Ditambah lagi jika sedang melakukan survei calon anak asuh, banyak pengalaman dan pelajaran yg kudapat. Selain menjadi lebih dekat dengan yang lain, aku jadi tahu banyak kisah calon anak asuh dengan perjuangan luar biasa mereka demi menjalani hidup. Mereka menyadarkanku bahwa di dunia ini bukan diri kita saja yang memiliki masalah. Salah bila kita menganggap diri kita paling menderita, menghakimi orang lain tak akan mengerti perasaan kita, atau bahkan sampai menyalahkan Tuhan. Apapun keadaannya, kita harus bersyukur dan tersenyum. Karena hal itulah yang akan menguatkan kita. Kemudian, pada Rekoleksi 2014 di Yogyakarta, aku bertemu banyak relawan dari berbagai kota. Mulai dari relawan AAT Yogyakarta sendiri, Semarang, Madiun, Pontianak, dan Padang. Hari pertama, ketika ada sharing yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku melihat seseorang yang “mengalihkan duniaku”. Rasanya aku “jatuh cinta”! Maksudnya, dia terlihat begitu dewasa. Saat itu, ia menjadi koordinator kota Semarang. Ketika dia sharing dan memberikan solusinya untuk kami, aku melihatnya begitu tenang, dengan pembawaannya yang santai dan ramah. Semua itu membuat seakan-akan ia tak memikiki beban dipundaknya. Saat itulah aku kagum padanya. Dalam hatiku berkata, “Siapa dia? Superhero-kah?” Dengan senyum dan tawanya yang begitu lepas, ia tak terlihat terbebani. Padahal aku tahu pasti sangatlah pusing memikirkan ribuan anak asuh yang ada di Semarang, belum lagi jika ada masalah lain. Aku pun tersadar! Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak mau kalah darinya! Dengan tanggung jawab besar yang dibawanya saja, ia dapat tertawa dan tersenyum. Mengapa aku tidak? Ya. Dialah inspiasiku… Mas Edo. Setelah itu, aku mulai lebih mengenal AAT, aku membaca banyak kisah relawan. Kisah mereka yang selalu mengingatkanku untuk terus tersenyum. Dalam lamunan, aku berkata pada diri sendiri, “Hahaha.. Mengapa aku harus larut dalam masalah? Ayahku yang tak tahu ada di mana, bagaimana keadaannya, dan dengan atau tanpa wanita lain. Setidaknya aku tahu, aku masih memiliki seorang ayah. Tidak bisa kubayangkan bagaimana parasaanku bila tidak memiliki ayah. Aku hanya ingin dia tahu, aku memaafkannya, dan aku akan selalu menyayanginya. Terima kasih. Karena ayah, aku ada di sini. Aku bisa bertemu orang-orang hebat. Aku bisa memiliki mas-mas “strong” -ku, Mas Edo, Mas Sindhu, Mas Billy, Mas Tyok, dan semuanya yang sangat berharga dihidupku. “If there are no ups dan downs in your life, it means you are dead.” Menemukan atau Ditemukan? Jiwaku Semarang, 25 Januari 2015, hari ke-2 Rapat Nasional AAT. Ini adalah kali pertama aku mengikuti Rapat Nasional AAT sebagai perwakilan Divisi “Public Relations”. At least, banyak yg dibicarakan dalam rapat, mulai dari evaluasi sampai program kerja selanjutnya.   Pada sesi terakhir di hari kedua ini, para pengurus sharing pengalaman mereka. Suasana mengharu biru. Bu Meita dengan perjuangannya yang luar biasa, Abang Incon dan Om Marcel dengan kisahnya yang menginspirasi. Kata mereka, “Jika kamu harus membaca 3 atau bahkan 30 kali untuk bisa memahaminya, lakukan! You must try hard! Semua tak akan sia-sia.” Mas Christ, Sekretaris AAT, ia adalah nspirasiku, kekuatanku. Ia dan KakCan Santi Widya istrinya adalah penyemangatku. Senyum mereka membuatku tenang dan menguatkanku menjalani hidup. Mereka selalu kuidolakan. Hari ini mendengar sharing Mas Christ dengan matanya yang berkaca-kaca, aku tak bisa berhenti meneteskan airmata. Begitupun uncle-ku tersayang, Om Adhi “SikuAAT” yang selalu setia menjaga, melindungi, dan menyayangi keponakan-keponakannya. Airmataku pun mengalir deras ketika ia katakan bahwa kamilah para relawan yg menginspirasi mereka. Dalam diam dan terus memperhatikan, aku berkata, “Siapakah aku? Menjadi inspirasi orang-orang hebat ini? Merekalah inspirasiku, kekuatanku. Mereka adalah bintang-bintang yang datang menghiasi langit gelapku. Mereka adalah terang yang selalu

Sketsa Indahku Read More »

A Never-Ending-Asia Town I’ve been in Love with

There are so many things, I can’t forget in my life. Especially my experience in Yogyakarta. Special thanks to Mr. Hadi as chief of AAT, Mr. Jimmy as secretary of PSKP Padang, and also to Ms. May as our counselor. It can’t be happened without their support. We went to Jogja with Ms. May and four of my friends. The first one is Jimmy. He is our coordinator chief in AAT Padang. He doesn’t talk to much – calm, quiet, and cool. But, he has so many great ideas in his mind. The second one is Agus. He is a friendly person. He also has good leadership. The third is Winda. She has a good self confidence. However, she is careless. The last is Betria. She is almost like Jimmy. She only speaks important. That’s all about my friends. Now, I’m going to talk about my experience. On the first day, we came a little bit late than others participant. We were so surprised because all friends in AAT greeted us with a great applause. It was my first time to be greeted like that. We took pictures and played a really fun game together. After that, Mr. Hadi explained about management of bursary in AAT that really helps us to manage the bursary. Afterwards, Romo Handoko, MSC talked about how good attitude change our life. That was really important thing that I have learnt. Romo Handoko, MSC explained all the things very clear. I liked the way he explained. He is the best priest that I have ever known. The last session for the first day performance from each secretariat. All secretariat prepared their performance really well. Even though we didn’t win the performance competition, we were still proud of our performance. All secretariats did a good job at that time. On the second day, we played outbound together. That was really fun. There were so many funny things that I could not describe one by one. After the program had done, we went to Br. Agus, MTB’s place. We got so many things that we have to learn there. One of the things is discipline. We wouldn’t forget it. The day after, we went to Prambanan temple. That was our first time to see such a big awesome building. We took so many pictures there. There were so many children wanted to take a picture with Jimmy. They thought that Jimmy is Japanese. Winda who was also there at that time said that Jimmy is Indonesian. That was really funny for me. At night, we went to alun-alun. We rode a bicycle there, but the bicycle was made from a car. When we rode, the rain fell down over us. We had not finished it yet. However, because of the rain, we stopped and sheltered in a comfortable place. We had waited for the rain to stop for a long time. However, the rain was still falling down. Therefore , we decided to go home. Although we were drenched and cold, that was really fun. On the next day, we went to Taman Sari, a garden of the Sultan Palace. On the last day, we were picked up by a taxi. We were really reluctant to leave Jogja and all friends in Jogja. They treated us really well. We never forget about that. Good bye Yogyakarta. Hope we will be back again to see you guys.   Daniel Yulindra Staf Admin AAT Padang   *Daniel adalah salah satu relawan  AAT yang bertugas sebagai Staf Admin AAT Padang. Merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga Padang.   [qrcode content=”https://aat.or.id/a-never-ending-asia-town-ive-been-in-love-with” size=”175″]  

A Never-Ending-Asia Town I’ve been in Love with Read More »

Be an Extraordinary Person

Dag.. dig.. duggg.. Itu yang akan selalu di rasakan menjelang ujian. Ujian.. Ujian lagi.. Eitss.. Bukan karena ujiannya, ataupun soal-soal ujiannya, tapi masalahnya bisa nggak saya ikut ujian? Itu ada sepenggal perasaan saya 2 tahun lalu sebelum mengenal AAT. * * * Perkenalkan nama Saya Elina Suryani Lolodatu. Saya Kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jurusan Teknobiologi (Biologi Pangan). Saya sudah menginjak semester 8. Saya anak ketiga dari lima bersaudara. Saya memiliki dua kakak yang sekarang sudah bekerja, dan salah satunya adalah anak asuh AAT yang baru lulus tahun yang lalu. Kakak yang saya maksud adalah Megawati Kurnia Lolodatu. Saya mempunyai dua adik lagi yang duduk di bangku SMA dan kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar. Keluarga kami merupakan keluarga sederhana yang tentu juga mempunyai banyak kekurangan dan masalah. Yang pasti anak-anaknya akan ikut juga merasakan betapa beratnya sebuah perjuangan untuk sekolah. Kedua orang tua saya adalah seorang pekerja keras supaya anak-anaknya dapat mencicipi bangku sekolah. Apa saja akan mereka lakukan, seperti menjual atau menggadaikan barang-barang di rumah, termasuk sertifikat rumahnya. Hal itu dilakukan karena bapak yang dulunya bekerja sebagai pemborong bangunan yang cukup berhasil dengan gaji yang lumayan terpaksa berhenti bekerja. Bapak berhenti bekerja sejak gempa yang cukup besar yang terjadi di Irian Jaya, sehingga semua proyeknya dibatalkan dan bapak mendapatkan kerugian yang cukup besar. Maka dari itu mama berinisiatif untuk mencari kredit dari pegadaian agar kami dapat terus bertahan hidup. Mama adalah seorang PNS di Departemen Pendidikan, gajinya selalu dicukupkan untuk kita semua. “Gali lubang tutup lubang” itulah kata yang pas untuk keluarga kami. Bagaimana Saya Bisa Kuliah ? Kalimat itu masih membuat saya bertanya-tanya sendiri, apakah saya akan tetap bisa lanjut sampai S1. Puji Tuhan saya mendapatkan informasi bahwa saya bebas tes masuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan dapat potongan pembayaran karena masuk lewat jalur prestasi. Hal ini membuat saya bersyukur, akhirnya saya bisa masuk ke tempat yang benar-benar saya minati. Melihat hal itu mama saya langsung mencarikan uang tiket pesawat dan biaya untuk pembayaran awal masuk Universitas. Untuk kedepannya, kata mama akan segera diusahakan, tapi masih ada perasaan takut bahwa saya akan berhenti di jalan, jika mama tidak bisa melunasi biaya kuliah saya. Ternyata benar, seiring dengan berjalannya waktu keluarga kami semakin terjerat dengan biaya kuliah 3 kakak saya, 2 adik saya yang masih SMA dan sebentar lagi akan lulus. Melihat mama saya yang semakin stress, karena papa yang juga tidak mau memikirkan keadaan keluarganya serta masa bodoh, maka kedua kakakku mencari kerja part time yaitu sebagai pengajar privat dan salah satunya lagi sebagai student staff di Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hasil dari gajinya itu lumayan untuk menutupi tunggakan kost, dan makan. Namun, lagi-lagi biaya itu tidak cukup karena semakin banyak tunggakan. Oleh karena itu, saya bergerak mencari kerja part time, akhirnya saya kerja sebagai salah satu pramuniaga di toko sepatu, dengan gaji hanya Rp 400.000/bulan. Tapi, semakin lama pekerjaan ini semakin menyita waktu saya dan menurunkan nilaiku secara drastis. Selama 6 bulan itulah saya menjadi pramuniaga.   Akhirnya, Tuhan membukakan jalan. Tuhan mempertemukan saya dengan AAT lewat kakak saya yang sudah dulu bergabung. Kami berdua bisa masuk berkat Pak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan UAJY. Beliaulah yang sudah membawa nama kami ke atas meja Pak Hadi untuk dibantu. Namun, pada saat itu Pak Hadi baru memanggil Megawati karena nilainya cukup bagus. Sempat terbersit dalam pikiran saya, tidak mungkin saya bisa mendapatkan beasiswa AAT. “Ah, mana mungkin saya mendapatkannya? Nilai saya tidak cukup untuk itu”. Namun, semua perasaan pesimis itu menghilang ketika Pak Hadi memanggil saya dengan kekurangan nilai saya. Berkat motivasi dan semangat dari beliau, akhirnya saya diberi kesempatan untuk menaikkan nilai saya. Saya pun tidak lagi bekerja part time dan fokus untuk nilai dan kuliah. Pada akhirnya, saya mendapatkan beasiswa dan masih bisa bertahan berkat keluarga besar AAT yang terus mendukung. Walaupun saya jatuh mereka tetap ada untuk memegang tangan saya. Serta, mereka selalu ada ketika saya butuh motivasi dan semangat. Semua selalu memberikan waktu dan menjadi orang tua kami. Semua yang telah mereka berikan, kepercayaan, dan kasih sayang bukan hanya sebuah “cinta biasa”. Sampai sekarang, saya belum bisa membalas semuanya jasa-jasa para donatur dan para Pembimbing AAT. Semoga kepercayaan kalian, baik materi ataupun non-materi dapat terus saya pertanggungjawabkan dengan baik. Kelak di masa depan saya juga akan menjadi seperti kalian. Terima kasih telah menjadikan gadis seorang penjual sepatu ini bukan hanya menjadi mahasiswa biasa yang biasa-biasa saja, melainkan mahasiswa yang luar biasa atas didikan moral dan pesan-pesan kehidupan kalian. Galatia 6 : 7 dikatakan ” apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai”   Elina Suryani Lolodatu Staf Admin AAT Yogyakarta   *Elina adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staf Admin AAT Yogyakarta. Merupakan mahasiswa Program Studi Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, angkatan 2010.   [qrcode content=”https://aat.or.id/be-an-extraordinary-person” size=”175″]  

Be an Extraordinary Person Read More »

Life and Love

Perkenalkan Nama saya Pieter Adriaan Lucar Kippuw, lahir pada 20 Mei 1993 di Semarang. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Saat ini saya adalah seorang mahasiswa semester 6 jurusan Teknik Kimia di Akademi Kimia Industri St. Paulus Semarang. Saya lahir di tengah keluarga yang sederhana tetapi penuh dengan kehangatan. Hidup bersama ayah, ibu, serta kedua adik saya merupakan sebuah berkah dari Tuhan yang tidak ternilai bagi saya. Di keluarga ini, saya seperti tidak pernah mengalami kekurangan. Mulai dari makan hingga pendidikan sepertinya semua tercukupi. Syukur saya pada Tuhan tiada henti. Semakin bertambah usia, akhirnya saya mulai menyadari. Sesungguhnya ada kesulitan di balik kekurangan keluarga kami. Dan semakin mengertilah saya tentang masalah yang ada dalam keluarga. Cobaan Menimpa Kami Ayah saya hanya bekerja di sebuah proyek pembangunan dan ibu adalah seorang penyiar radio. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan saya dan adik saya yang pertama (saat itu adik saya yang kedua belum lahir), penghasilan kedua orang tua saya masih bisa dikatakan cukup. Hingga pada tahun 2002, cobaan mulai menimpa keluarga kami. Perusahaan tempat ayah bekerja mengalami kebangkrutan karena likuidasi akibat pihak asing. Ibu saya juga keluar dari pekerjaannya karena saat itu hamil adik saya yang kedua. Kondisi itu juga membuat pembayaran uang sekolah menjadi sering menunggak. Sehingga pihak sekolah meminta kami untuk segera melunasi tunggakan tersebut yang cukup menggangu belajar saya. Tetapi ayah dan ibu hanya berpesan pada saya untuk fokus saja pada sekolah. Memang, akhirnya tunggakan uang sekolah bisa dilunasi. Entah darimana ayah dan ibu mendapatkan uang itu. Sampai akhirnya saya mengerti. Mereka mendapatkan uang dari hasil pinjaman sana sini, hingga menjual rumah dan tanah. Mengenal AAT Selama kurun waktu kurang lebih satu tahun setelah ayah dan ibu keluar dari pekerjaan mereka, ayah dan ibu mulai mencoba usaha sendiri tetapi akhirnya gagal. Selama tahun 2003 – 2008 ayah sering berganti-ganti pekerjaan. Semua beliau lakukan untuk keluarga. Sampai akhirnya menjadi pelatih sepak bola untuk anak-anak hingga sekarang dan ibu juga mulai bekerja kembali menjadi penyiar pada tahun 2007 hingga sekarang. Mulai saat itu kondisi keluarga menjadi kembali membaik. Ditambah lagi, saat kuliah ini saya juga mendapat bantuan dari Yayasan AAT Indonesia. Berbicara tentang Anak-Anak Terang atau AAT, banyak cerita dan pelajaran yang saya dapat selama bergabung di sana. Awalnya saya diajak oleh kedua teman kuliah saya, Handy dan Nisa yang terlebih dahulu bergabung dengan AAT atas ajakan Bruder Konrad, CSA. Tertarik oleh ajakan kedua temannya, akhirnya pada Minggu 7 Oktober 2012, Handy mengajak saya dan Maria pergi ke Deoholic Kafe untuk lebih mengenal apa itu AAT. Di Deoholic kafe itulah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Mas Christ, Bu Lies, dan Pak Hadi yang merupakan pengurus AAT, serta Chika, Christina, dan Mega yang merupakan Staf Admin AAT. Di Deoholic, Chika, Christina, dan Mega menyampaikan materi tentang AAT. Kami diperkenalkan lebih dalam tentang AAT. Sebagai seorang yang kurang pandai berbicara di depan orang banyak, melihat mereka menyampaikan materi dengan penuh percaya diri sungguh membuat saya kagum. Dan itu memotivasi saya untuk bisa seperti mereka. Pada hari itu, kami juga mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara pada calon anak asuh AAT. Dan di saat itulah, mata hati saya mulai terbuka. Ternyata masih banyak anak yang lebih kekurangan dan lebih membutuhan daripada saya yang harus dibantu. Pengalaman pertama itu membuat saya semakin mantap untuk terus bergabung dengan Anak-Anak Terang. Cerita, pengalaman, dan pelajaran berharga terus saya dapat selama lebih dari satu tahun bergabung di AAT. Di sana saya juga semakin dekat dengan seseorang. Ya, di sana pula, cinta saya berlabuh pada salah satu Staf Admin AAT. Kesibukan bersama di AAT membuat saya semakin nyaman dengannya. Yang dulu hanya seorang teman, sekarang menjadi lebih dari teman. Kita menjadi semakin kompak dalam bertugas. Hati kita bertaut untuk sama-sama melayani di AAT. Tapi memang di AAT, banyak cinta yang bisa kita dapat dan berikan. Di sini kita mendapatkan keluarga baru yang saling mendukung agar diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karena cinta dan rasa peduli pula, perbedaan agama juga tidak menjadi penghalang untuk bersama, bersatu, untuk membantu saudara kita yang membutuhkan. Di AAT juga, saya merasakan cinta Tuhan lewat tangan-tangan para donatur, Staf Admin AAT, dan orang-orang baik lain yang bekerja di balik layar. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan juga materi yang mereka miliki demi membantu sesama, saudara kita yang lebih membutuhkan. Semuanya hanya karena rasa peduli dan rasa cinta yang muncul dalam hati kita. Cinta memang istimewa, dapat menaklukan segalanya. Amor Vincit Omnia.   Pieter Adriaan Lucar Kippuw Staf Admin AAT Semarang   *Pieter adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staf Admin AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Akademi Kimia Industri (AKIN) Santo Paulus Semarang, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/life-and-love” size=”175″]    

Life and Love Read More »

Bersyukur dalam Kesederhanaan

Saya Fitri Astutik. Saya lahir di Madiun, 22 Juli 1994. Biasanya saya dipanggil dengan sebutan Fitri. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakak saya perempuan. Kakak pertama bernama Suprihatin dan kakak kedua bernama Sumiati. Kedua kakak saya sudah menikah, tetapi kakak yang kedua telah bercerai. Sejak kecil, saya tinggal di Madiun, tepatnya di Desa Sidorejo RT.15 Rw. 02 Jln. Semeru, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Walaupun saya berbeda agama dengan orang tua saya, tapi hubungan saya dengan orang tua tetap baik. Uang saku saya setiap harinya Rp 10.000. Uang tersebut saya gunakan untuk membeli bensin dan sisanya untuk di rumah. Tetapi, kadang uang saku saya Rp 7.000, yang hanya cukup untuk membeli bensin. Pada saat liburan kelulusan sekolah, saya bekerja di pasar besar Kota Madiun. Tepatnya di toko “Sari Warna”, yaitu toko yang menjual pakaian dan kain dengan gaji Rp 300.000. Gaji tersebut untuk membeli kebutuhan saya seperti baju dan lain-lainya. Saya bersyukur sekali pada Tuhan. Apapun yang saya butuhkan, Tuhan selalu mencukupinya walaupun saya harus melewati berbagai rintangan dahulu. Saya harus kuat, karena semua adalah rencana Tuhan yang pasti indah pada waktunya Bersepeda Onthel  Supardi adalah bapak saya. Saat ini, bapak berusia 55 tahun. Bapak seorang muslim. Beliau bekerja di Pabrik Gula “Kanigoro” Madiun di bagian conto. Tugas bapak adalah mengangkut tebu yang akan dibawa ke pabrik. Dengan sepeda onthel kesayangannya, bapak penuh semangat mengangkut tebu-tebu itu. Meskipun jaraknya hingga 15 km, tiada sedikit pun kata menyerah baginya. Saya begitu terharu dengan perjuangan bapak. Hingga saya pun bertekad untuk terus melakukan yang terbaik dan tidak ingin sedikitpun mengecewakannya. Penghasilan bapak di pabrik Rp 30.000 per hari, tapi kerjanya tidak menentu. Selain bekerja di pabrik, bapak juga bekerja sebagai buruh bersih-bersih di rumah orang dengan penghasilan Rp 40.000. Itupun juga kalau ada orang yang menyuruh. Jika dijumlahkan semua, penghasilan bapak sekitar Rp 900.000 per bulan. Bulan ini, bapak sudah mulai pensiun. Dan pastinya, keadaan ekonomi keluarga semakin memburuk. Namun, bapak tidak menyerah. Untuk tetap bisa menopang ekonomi keluarga, bapak tetap bekerja sebagai buruh kebun maupun buruh rumah tangga. Ibu Berhenti Bekerja Nama ibu saya Martoyah. Beliau seorang buruh pengupas tebu. Tetapi itu bukan pekerjaan tetap. Beliau bekerja di musim-musim tertentu saja. Sudah 3 bulan ini ibu tidak lagi bekerja sebagai buruh pengupas tebu. Hal itu karena sudah tidak ada panggilan kerja dari pabrik. Akhirnya, ibu menganggur. Sama seperti bapak, ibu juga berusia 55 tahun. Tidak tahan menganggur, akhirnya ibu bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp 17.000 sehari. Uang tersebut untuk membantu kebutuhan makan 5 anggota keluarga kami. Penghasilan bapak dan ibu yang tidak menentu digunakan untuk membayar listrik, biaya kuliah, biaya air PDAM, serta untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Sebisa mungkin, orang tua saya mencarikan uang untuk anak-anaknya. Orang tua saya tidak mau kalau anaknya kesusahan. Namun, di satu sisi saya juga kasihan pada orang tua yang bekerja setiap hari tanpa mengenal lelah. Rasanya ingin sekali segera lulus dan membantu ekonomi keluarga. Mengenal AAT Pada saat itu, di papan pengumuman Program Studi Manajemen, saya melihat ada pengumuman tentang sosialisasi suatu beasiswa. Saya tidak tahu beasiswa apa yang akan disosialisasikan. Lalu, saya pun datang dan berkumpul di auditorium Unika Widya Mandala Madiun untuk mendengarkan sosialisasi beasiswa tersebut. Ternyata, beasiswa itu adalah beasiswa dari AAT. Sosialisasi disampaikan oleh Bapak Bernardus Widodo selaku Wakil Rektor III. Beliau menjelaskan bagaimana cara pengajuan dan persyaratan beasiswa AAT. Akhirnya, saya mendaftarkan diri untuk mendapatkan Beasiswa AAT tersebut. Saat wawancara, saya merasa takut dan cemas. Apa yang akan ditanyakan oleh bruder yang mewawancarai saya nanti? Rasa penasaran menyelimuti pikiran saya. Bersyukur dalam Kesederhanaan Setelah cukup lama diwawancarai, akhirnya rangkaian proses seleksi sudah terpenuhi. Mulai wawancara, sampai diumumkan yang menerima beasiswa AAT. Dari sekitar 50 anak yang mendaftar, terpilihlah 10 mahasiswa yang diterima. Dan saya adalah salah satu yang beruntung mendapatkannya. Seketika itu, saya bersyukur pada Tuhan. Tuhan telah membuktikan bahwa semua memang indah pada waktunya. Ketika itu, saya dan keluarga kebingungan untuk memperoleh uang untuk biaya kuliah semester 3. Puji Tuhan, dari Beasiswa AAT ini saya bisa membiayai kuliah saya. Tanpa rencana Tuhan melalui Beasiswa AAT ini, mungkin saya tidak dapat membiayai kuliah dan kebingungan mencari dana. Sebagai penerima Beasiswa AAT, saya juga diberi beberapa tanggung jawab. Salah satu tanggung jawab tersebut adalah melakukan  survei dan wawancara di sekolah-sekolah. Kegiatan ini adalah pengalaman pertama saya. Awalnya saya merasa takut, karena belum pernah mewawancarai anak SMA, SMP, dan SD. Dari beberapa anak yang saya wawancarai, saya mulai tahu berbagai kondisi keluarga calon anak asuh. Meskipun dalam kekurangan, mereka tidak patah semangat untuk meraih pendidikannya. Waktu wawancara di daerah Ponorogo, ada salah satu anak SMP yang rumahnya jauh dari sekolah. Dia berjalan kaki dari rumah ke sekolah yang jaraknya antara 6 sampai 7 km. Kondisi keluarganya serba terbatas. Tetapi mereka tetap bersemangat belajar dan meraih cita-cita mereka. Itu yang membuat saya bersemangat membantu mereka yang membutuhkan. Saya ingin lebih peduli dengan sesama. Melalui AAT, saya mendapatkan banyak pembelajaran hidup. Saya menjadi semakin bersyukur dalam kesederhanaan hidup. Berkat AAT pula, kini saya tahu bagaimana berorganisasi dan bagaimana bertanggung jawab dalam mengemban tugas. Terima kasih AAT. Terima kasih sudah membantu dalam pembiayaan kuliah saya dan memberikan saya limpahan pengalaman yang membuat saya semakin kuat dan semakin banyak bersyukur. “Semoga, AAT lebih maju dalam membantu pendidikan anak-anak kurang mampu. Agar lebih banyak lagi senyum-senyum yang terkembang di wajah mereka, putra-putri penerus bangsa.”   Fitri Astutik Staf Admin AAT Madiun   *Fitri Astutik adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, angkatan 2012.   [qrcode content=”https://aat.or.id/bersyukur-dalam-kesederhanaan” size=”175″]  

Bersyukur dalam Kesederhanaan Read More »

Kampus Tak Sekedar Tempat Kuliah

Nama saya Retno Agustin. Usia saya sekarang ini menginjak 22 tahun. Saat ini, saya kuliah di Unika Widya Mandala Madiun atau WIMA Madiun, mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Di rumah, saya tinggal bersama kedua orang tua saya dan satu kakak perempuan yang sekarang juga menempuh pendidikan S1. Waktu itu, di tahun 2010, saya lulus SMK Jurusan Akuntansi. Namun, saya tidak langsung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena biaya yang terbatas dan kakak saya juga harus membayar kuliah. Akhirnya, saya mencoba bekerja menjadi SPG di salah satu pusat perbelanjaan selama 1 tahun. Hingga tahun 2011, saya memutuskan untuk masuk ke Unika Widya Mandala Madiun. Awalnya, saya berminat untuk kuliah di jurusan seni atau olahraga, karena hal tersebut merupakan kegemaran saya. Namun, saat itu saya baru saja mengalami kecelakaan dan retak kaki, sehingga saya mengurungkan niat untuk mengambil jurusan olahraga. Apalagi di daerah Madiun, jurusan seni juga tidak ada. Saat itu, saya berpikir untuk tidak mau melanjutkan kuliah di luar kota, mengingat saya tidak pernah jauh dari keluarga. Akhirnya, WIMA menjadi pilihan saya. Banyak Hal yang Bisa Saya Lakukan di Kampus Dari awal saya masuk Unika Widya Mandala Madiun, saya mulai bersemangat mengikuti perkuliahan karena kuliah hanya beberapa jam sehari, tidak seperti saat di SMK. Yang paling membuat saya senang adalah karena di kampus WIMA ini banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa saya ikuti. Jadi saya kuliah tidak hanya untuk mendapat pendidikan, tapi juga untuk mengembangkan hobi serta bakat saya. Saat awal masuk kuliah, saya mengikuti banyak UKM, yaitu UKM Voli, UKM Karate, dan UKM Palawa (Pecinta Alam). Semua olahraga tersebut sudah saya sukai sejak masuk SMP. Namun, saya belum pernah mendapatkan penghargaan apapun dari olahraga tersebut. Meskipun begitu, saya tetap bangga pada diri saya. Selain mengikuti UKM, saya juga dipercaya sebagai Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan koordinator kelas atau ketua kelas. “Banyak hal yang bisa saya lakukan, yang tidak semua wanita bisa lakukan.” Saya Harus Punya Target Saya bisa membuat aksesoris seperti bros dan perhiasan yang kadang saya jual ke teman-teman saya. Saya belajar membuatnya secara otodidak, baik dari televisi maupun internet. Saya berpikir, sebenarnya banyak hal yang bisa saya kembangkan. Namun, saya merasa orang tua saya tidak mengetahui apa yang saya lakukan. Jadi mereka cenderung cuek dengan potensi-potensi yang saya miliki. Bahkan, kadang mereka melarang hal-hal yang saya sukai. Menurut mereka, semua hanya membuang-buang waktu. Namun, saya tidak mudah menyerah. Ketika saya menginjak semester 3, keuangan keluarga kami mengalami masalah. Sebenarnya, ketika saya akan lulus dari SMK, kami sudah mulai punya masalah itu. Dari keluarga yang cukup mampu, hingga kami harus menjual apa saja untuk menutupi hutang. Sampai saat saya kuliah, masalah tersebut belum bisa teratasi. Sampai akhirnya, motor yang saya gunakan untuk kuliah juga terjual. Sampai saat saya kuliah harus bergantian dengan kakak, walaupun jadwal dan tempat berbeda. Dan saat itu hampir saja saya ingin berhenti kuliah agar saya bisa membantu orang tua. Namun, orang tua melarang. Apapun yang terjadi, mereka akan berjuang agar saya bisa menjadi sarjana. Di situlah saya mempunyai target agar saya bisa lulus, insya Allah dalam waktu tidak lebih dari 4 tahun. Dan sampai saat ini alhamdulillah kuliah saya lancar. Hingga saya bisa mengambil mata kuliah semester atas, karena IPK saya 3. Memang, dalam kuliah saya pernah malas-malasan dan kadang tidak masuk. Namun, saya punya target yang harus saya capai agar saya bisa segera lulus dan bisa menjadi konselor yang bisa membantu banyak orang dan juga bisa membantu ekonomi keluarga saya. Selama ini saya merasa belum bisa memberikan apapun kepada orang tua saya dan belum bisa membanggakan kedua orang tua saya. Namun, suatu saat nanti, saya yakin bisa membantu dan membahagiakan orang tua saya. AAT dan Kegiatannya   Alhamdulillah, semester 4 lalu saya mendapat beasiswa AAT. Awal menerima beasiwa AAT, saya sangat bersyukur alhamdulilah, karena dengan adanya beasiswa ini benar benar membantu kuliah saya. Kegiatan sebagai penerima beasiswa juga menyenangkan. Ketika ada kegiatan mewawancarai anak asuh itulah yang sangat menyenangkan. Kita jadi tahu kehidupan anak-anak yang kurang mampu, banyak dari mereka yang kehidupannya benar-benar kurang. Namun, masih tetap ada canda tawa dari mereka yang membuat beban dihati mereka terasa berkurang. Hal tersebut membuat saya menjadi sadar bahwa di luar sana masih ada banyak orang yang hidupnya lebih susah dari pada saya. Itu pegalaman saya ketika wawancara anak asuh. Kalau pengalaman ketika bersama teman-teman penerima beasiswa lainya juga tidak kalah menyenangkan. Awal menerima beasiswa, saya tidak kenal dengan teman- teman penerima beasiswa lainnya meskipun kami satu kampus. Setelah kenal dan tahu karakter masing-masing, ternyata mereka teman yang baik dan kadang juga suka bercanda. Namun, kadang kalau harus rapat bersama banyak yang tidak datang. Itulah hal yang kurang menyenangkan. Ya, memang bisa dimaklumi karena jadwal kuliah kami tidak sama karena beda jurusan. Selama menjadi anak asuh AAT, kami bukan hanya santai sesudah menerima beasiswa, tapi kami juga harus bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Bekerja di sini maksudnya adalah mengolah data tentang anak asuh serta wawancara kepada calon anak asuh tingkat sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA/SMK. Selain itu, kami juga harus selalu menjaga agar nilai kami tidak sampai turun, supaya tidak mengecewakan donatur yang sudah membantu membiayai kuliah kami selama ini. Itu bukanlah sebuah beban, hal tersebut malah membuat saya semakin semangat untuk kuliah dan segera lulus. Supaya saya kelak juga bisa membantu anak-anak lain yang kurang mampu. Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan AAT Indonesia yang sudah membantu saya selama ini. Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada donatur yang sudah mau membantu membiayai kuliah saya selama ini. Meskipun saya tidak pernah tahu siapa anda, saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya tidak ingin mengecewakan anda. Dan semoga anda selalu diberi kesehatan. Aamiin.   Retno Agustin Staf Admin AAT Madiun   *Retno Agustin adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/kampus-tak-sekedar-tempat-kuliah” size=”175″]  

Kampus Tak Sekedar Tempat Kuliah Read More »

Learn to Life Together

PAGI ITU, 6 april 1993, lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun, kelahirannya tidak berjalan dengan lancar. Ketika keluar dari rahim ibunya, ia tidak menangis dan tidak bernapas. Hal tersebut membuat dokter dan kedua orang tuanya panik. Segala upaya dilakukan dokter, mulai dari mengguncang tubuh si bayi, hingga memberi napas buatan, tetapi nihil yang diperoleh. Kedua orangtuanya cemas dan terus berdoa demi keselamatan anaknya. Hingga di ujung doa mereka, akhirnya Tuhan menunjukkan kuasanya. Beberapa detik setelah mereka berpasrah pada Tuhan, bayi tersebut meneriakkan tangisannya, tepat pagi hari ketika ayam berkokok. Kini, bayi tampan bermata cemerlang itu telah beranjak dewasa. Bayi yang telah dewasa itu adalah saya, Lucas Kristiawan. Nama sederhana yang berarti lahir di pagi hari. Penyangkalan Masa-masa bahagia yang saya alami sama seperti anak-anak pada umumnya. Saya dapat bermain dengan teman sebaya saya dan segala mainan yang saya inginkan dapat dipenuhi oleh kedua orang tua. Namun, masa-masa bahagia tersebut tidak bertahan lama, hingga ayah yang merupakan tulang punggung keluarga terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ayah mengalami PHK tepat saat saya kelas 2 SMK. Kejadian itu sontak membuat saya marah kepada Tuhan. “Mengapa Kau ijinkan kejadian ini menimpa keluarga saya Tuhan?” Itulah kata-kata yang terucap saat doa malam menjelang tidur. Penyangkalan–penyangkalan itu tidak dapat hilang begitu saja di pikiran dan hati saya. Kebencian terhadap pahitnya hidup selalu meliputi hati saya. Kemarahan yang saya luapkan tak kunjung memberi hasil. Tetap saja ekonomi keluarga saya memburuk. Hidup apa adanya memaksa saya untuk dijalani. Tidak jarang saya harus makan sehari hanya dua kali. Hingga akhirnya ayah mendapat pekerjaan sebagai salesman. Untuk melanjutkan studi, saya mencoba mencari penghasilan sendiri. Pekerjaan sebagai guru privat menjadi pilihan saya, guna membantu kedua orang tua. Penghasilan dari menjadi guru privat tersebut juga saya tabung untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan. Anak-Anak Terang   Menginjak semester 4 di AKIN St. Paulus Semarang, saya dipertemukan Tuhan dengan salah seorang teman. Teman akrab yang membuat saya sadar akan nilai hidup ini. Dan teman yang selalu bersama saya, yang juga mengenalkan saya tentang Komunitas Anak-Anak Terang. Perdebatan demi perdebatan terlontar dari mulut kami berdua, hingga sampai pada salah satu argumennya yang membuat hati saya tergugah untuk masuk ke dalam Komunitas Anak-Anak Terang. “Di sana kamu dapat belajar tentang arti hidup”. Saya yang merupakan orang dengan akar kepahitan atas ketidakadilan hidup sangat tertarik dengan pernyataan teman saya tersebut. Sebulan berjalan, saya belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Yang ada malah kejenuhan dan kebosanan yang saya temukan. Pekerjaan-pekerjaan yang dibebankannya seakan menyita waktu berharga saya. Hingga saat di mana ada kegiatan wawancara anak di SMP Agustinus Semarang. Learn to Life Together Tepat saat saya mewawancarai seorang anak yang benar-benar tidak memiliki apa apa, bahkan orang tua sekalipun. Namun, ia tetap tegar dan tidak menyalahkan Tuhan maupun orang lain. Hal itu seketika membuka belenggu kebencian dalam hati saya. Tidak berhentinya menanyakan keadaan anak tersebut saja, namun saya juga menanyakan tentang hal apa yang dapat membuatnya tegar dalam menjalani hidup seperti itu. Jawab anak ini sangat sederhana, “Meskipun tidak ada orang tua maupun harta benda yang saya miliki, namun saya memiliki ibu panti dan teman-teman panti yang senantiasa mengisi warna dalam hidup saya”. Saat itulah hati kecil saya menangis dan terbuka. Saya meminta maaf kepada Tuhan karena saya hanya melihat kelemahan yang saya miliki dan tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah ada. Melalui Komunitas Anak-Anak Terang, telah ada satu hati yang terselamatkan. Satu hati yang belajar tentang indahnya mensyukuri segala yang ada. Belajar untuk hidup bersama, saling peduli, saling berkasih, dan saling berbagi kasih. Komunitas Anak-Anak Terang telah membimbing saya ke jalan yang benar. Menjadi relawan AAT adalah keputusan yang telah saya pilih. Melalui AAT ini, saya akan terus berkarya untuk kemajuan AAT. Masih banyak anak-anak yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan di luar sana dan masih banyak juga tangan-tangan baik yang ingin membantu pendidikan di Indonesia. Saya berkomitmen, dengan apa yang saya miliki sekarang ini yaitu kekuatan dan keberanian, saya akan selalu membantu mengenalkan AAT ke seluruh orang-orang yang belum mengenal AAT. Semakin banyak yang mengenal, semakin banyak yang terbantu.   Lucas Kristiawan Staf Admin AAT Semarang   *Lucas Kristiawan adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Akademi Kimia Industri Santo Paulus Semarang, angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/learn-to-life-together” size=”175″]  

Learn to Life Together Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 duta76 perihoki 001 meta analisa probabilitas kalkulasi sicbo algoritma rtp live mahjong wild deluxe pro gates of olympus 002 arsitektur kemenangan integrasi pola multiplier starlight princess analisa probabilitas baccarat profesional mahjong ways 2 pgsoft 003 dialektika probabilitas logika blackjack analisa pola intensitas mahjong wins 3 pragmatic play sweet bonanza 004 paradigma probabilitas kalkulasi statistik roulette pola multiplier mahjong ways 2 pgsoft wild west gold 005 sinergi operasional dekonstruksi pola multiplier sugar rush analisa sv388 strategi blackjack mahjong wins 3 pragmatic adaptasi struktur roulette menggunakan sistem rtp deluxe mahjong ways rasio starlight princess analisa penggunaan struktur baccarat mencapai lucky neko dengan tambahan snow party analisa teknik blackjack tanpa pola mahjong ways melebihi gates of olympus 1000 formula pendekatan baccarat membaca rtp candy bonanza tanpa sweet rush bonanza kalibrasi penggunaan teknik blackjack lebih rtp live deluxe mahjong wins 3 capai sweet bonanza