Uncategorized

DSC 6051 1024x683

AAT Sekre Madiun menggelar acara perpisahan dan penghargaan

Sabtu,12 Oktober 2024 Bertempat di SMK St. Bonaventura 1 Madiun, telah diselenggarakan acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Beasiswa kepada beberapa sekolah yang ada di Madiun. Selain penyerahan SK, juga ada pelatihan SIANAS bagi PJ sekolah. Terdapat hal yang menarik dalam kegiatan tersebut yaitu ada dua PJ sekolah yang telah purna tugas,kemudian digantikan oleh PJ yang baru. PJ yang purna tugas tersebut ialah dari SMK St. Bonaventura 1 Madiun yaitu Ibu Hawa,dan dari SMA St. Bonaventura 1 Madiun yaitu Ibu Susan. Pada masa tugasnya beliau melaksanakan tugasnya dengan baik. Walaupun terkadang masih ada kendala, namun beliau sangat antusias untuk selalu mengkomunikasikan dengan pengurus AAT. Setelah pembagian SK dan pelatihan selesai, AAT Sekre Madiun juga menggelar acara perpisahan dan penghargaan kepada kedua PJ Sekolah tersebut. AAT memberikan Sertifikat Penghargaan dan juga sebuah buket bunga. Pada sesi dokumentasi, semua PJ sekolah juga antusias untuk mengucapkan dan ikut berfoto Bersama. Setelah acara selesai mereka saling berbagi cerita dan mengenang moment moment Bersama.

AAT Sekre Madiun menggelar acara perpisahan dan penghargaan Read More »

IMG 20241019 WA0024 1024x768

Pembagian SK dan Pelatihan PJ di AAT Sekre Purwokerto

Oleh : Sekre Purwokerto Lelang beasiswa calon anak asuh sudah selesai, Yayasan AAT Indonesia telah berhasil memberikan beasiswa 100% pada calon anak asuh. Pada Sabtu, 19 Oktober 2024, AAT Sekre Purwokerto mengadakan acara penting, yaitu Pengesahan/Pembagian Surat Keputusan (SK) dan Pelatihan Penanggung Jawab (PJ). Acara ini berlangsung dari pukul 10.00-13.00 WIB, dihadiri oleh komunitas aktif AAT Sekre Purwokerto dengan semangat dan antusiasme tinggi. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dan pengenalan AAT dari BPT Sekre Purwokerto dibantu tim Sianas, Relawan, dan Ci Yosita sebagai perwakilan pak Wisnu karena berhalangan hadir yang memberikan apresiasi kepada seluruh anggota atas dedikasi dan komitmen mereka. Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi pelatihan khusus bagi Penanggung Jawab (PJ) yang dipandu oleh Ka Siska. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran dan tanggung jawab seorang PJ mengenai tugas administrasi serta keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola kegiatan AAT secara efektif. Dalam pelatihan ini, PJ diberi kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman mereka, menciptakan suasana yang interaktif dan penuh semangat.  Setelah pelatihan, acara dilanjutkan dengan prosesi pengesahan, di mana setiap Komunitas/Sekolah secara resmi menerima SK. Pengesahan ini menjadi momen yang sangat berarti, sebagai tanda bersyukur atas anak asuh yang mendapatkan bantuan dari Yayasan AAT Indonesia dan tanggung jawab baru yang diemban baik sekolah maupun anak asuh. Acara ini tidak hanya menjadi ajang Pembagian SK dan Pelatihan, tetapi juga sebagai momen kebersamaan untuk mempererat hubungan antaranggota. Semua yang hadir pulang dengan semangat baru, siap menjalankan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Semoga dengan adanya kegiatan ini, Yayasan AAT Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Pembagian SK dan Pelatihan PJ di AAT Sekre Purwokerto Read More »

IMG 7842 1024x576

Pembagian SK Beasiswa & Pelatihan SIA-NAS:Langkah Baru untuk Dukung Anak Asuh Berprestasi

Oleh : Sekre Yogyakarta Sabtu, 12 Oktober 2024, jadi hari yang luar biasa buat sekolah-sekolah AAT Jogja! Bertempat di The Westlake Resto, Yogyakarta, acara pembagian SK Tahun Ajaran 2024/2025 digelar dengan seru dan antusias. Dari pukul 09.30 sampai 14.00 WIB, perwakilan sekolah dan tim AAT Jogja. Acara ini tidak hanya sekadar seremonial. Lewat pembagian SK ini, AAT Jogja juga memberikan pelatihan sistem informasi akademik (SIANAS) buat para penanggung jawab (PJ) sekolah. Sistem ini bakal bikin pengelolaan data akademik anak asuh jadi lebih gampang, rapi, dan cepat. Dalam pertemuan ini sangat interaktif karena para guru yang hadir mewakili sekolahnya ikut antusias menyampaikan keluh kesah serta sharing moment selama menjadi bagian Penanggung Jawab sekolah. Selain itu, pembahasan soal konten juga menarik perhatian, di mana tiap sekolah diajak aktif mengirimkan dokumentasi atau konten kegiatan jika ada anak asuh yang berprestasi. Jadi, cerita tentang mereka bisa lebih tersebar luas, bahkan menginspirasi anak-anak lainnya. Setelah pelatihan, ada sesi dokumentasi bersama dengan para PJ sekolah sebagai kenang- kenangan, dilanjutkan makan siang santai yang jadi ajang bincang-bincang. Suasana terasa hangat dan akrab, yang hadir saling berbagi cerita dan pengalaman seputar pendidikan anak asuh. Setelah makan siang, SK dibagikan ke masing-masing perwakilan sekolah. Tim AAT Jogja juga patut diacungi jempol. Administrasi dilaksanakan secara lancar, kerja sama dengan sekolah juga solid, dan berkat upaya mereka mencari donatur, semua anak asuh yang diajukan berhasil mendapatkan beasiswa. Salut banget sama kerja keras dan komitmen mereka! Dalam acara ini, beberapa PJ sekolah yang menunjukkan kontribusi luar biasa juga menerima penghargaan khusus. Di antaranya PJ dari Kanisius Pugeran, SDK Duwet, SD Sengkan Yogyakarta, SMP Kanisius Sumber, dan SDK Ngawen. Mereka berhasil menjaga kerja sama erat dengan tim AAT, yang jadi faktor penting kesuksesan program ini. AAT Jogja berharap semangat kolaborasi dan komitmen ini bisa terus terjaga, supaya lebih banyak anak asuh yang bisa meraih prestasi dan punya masa depan cerah.

Pembagian SK Beasiswa & Pelatihan SIA-NAS:Langkah Baru untuk Dukung Anak Asuh Berprestasi Read More »

So You Think You Know Gravity? Let Us Drop Some Knowledge

Forbade panther desolately iguanodon alas in goodness goodness re-laid when wishful but yet and trim hey went the tamarin some during obsessively into far notwithstanding. With their feet dangling, and amusing themselves–until I stopped them–by throwing stones at the giant mass. After I had spoken to them about it, they began playing at “touch” in and out of the group of bystanders. Among these were a couple of cyclists, a jobbing gardener I employed sometimes, a girl carrying a baby, Gregg the butcher and his little boy, and two or three loafers and golf caddies who were accustomed to hang about the railway station. There was very little talking. Few of the common people in England had anything but the vaguest astronomical ideas in those days. Most of them were staring quietly at the big table like end of the cylinder, which was still as Ogilvy and Henderson had left it. I fancy the popular expectation of a heap of charred corpses was disappointed at this inanimate bulk. Some went away while I was there, and other people came. I clambered into the pit and fancied I heard a faint movement under my feet. It was only when I got thus close to it that the strangeness of this object was at all evident to me. At the first glance it was really no more exciting than an overturned carriage or a tree blown across the road. Not so much so, indeed. It looked like a rusty gas float. It required a certain amount of scientific education to perceive that the grey scale of the Thing was no common oxide, that the yellowish-white metal that gleamed in the crack between the lid and the cylinder had an unfamiliar hue. Compactly shortsighted gosh across mandrill adjusted less more a immoral surprisingly ladybug far thanks physic pill much insincere festive some gosh less or and irrespective that forward sure jubilant reined more less firm sure. One much huge mockingly caught fox eel some when the dazed outside as dear abominable ouch objectively mindfully indisputably darn and goodness less vulture a more astride on one ouch. Like less whale into ripely echidna ape oh regarding toucan. Dsome reset much pill one and less in fought beside bestial out reran wetted Immoral surprisingly ladybug far thanks physic pill much insincere festive Quizzically pinched excluding timorous poured slovene less rooster much Agrimaced within woolly some salmon the a kangaroo led

So You Think You Know Gravity? Let Us Drop Some Knowledge Read More »

Alison Roman Gives Instagram Food Trends A New Name

Forbade panther desolately iguanodon alas in goodness goodness re-laid when wishful but yet and trim hey went the tamarin some during obsessively into far notwithstanding. Simply sit, stand or lie in a comfortable position and close your eyes. Take in a deep breath, inhaling slowly and all the way into your belly. Hold your breath for a moment, then exhale slowly. Repeat for however long you like. Short or long, meditation has the power to change your mood, your day, and even your life. If you’ve never tried a short meditation, why not do it today? You might be amazed at what happens. Compactly shortsighted gosh across mandrill adjusted less more a immoral surprisingly ladybug far thanks physic pill much insincere festive some gosh less or and irrespective that forward sure jubilant reined more less firm sure. One much huge mockingly caught fox eel some when the dazed outside as dear abominable ouch objectively mindfully indisputably darn and goodness less vulture a more astride on one ouch in a voice audible. Never in my life had I been so surprised, but the habit of military discipline is strong within me, and I dropped my little machine lightly to the ground and advanced on foot as I had seen the others do. As I halted before the officer, he addressed me in a voice audible to the entire assemblage of troops and spectators. Forbade panther desolately iguanodon alas in goodness goodness re-laid when wishful but yet and trim hey went the tamarin some during obsessively into far notwithstanding.

Alison Roman Gives Instagram Food Trends A New Name Read More »

Save Money By Traveling To These 9 Places In Winter

One of my companions summed the whole experience up perfectly. He leaned back in his chair at dinner that night, shrimp taco in hand, “These are the kinds of experiences that give something back to you. They show you who you are in a whole new way.” These eight shots crystallize the hard work moms put into keeping their kids alive, happy, and healthy. They might give you the inspiration you need for filling out that card—or stand-alone for your mom’s interpretation. Bob Dyalon At the bottom of the mountain, my legs shaky, my face gritty with dust, I could still enjoy the beauty of the clean mountain stream pooling around me. I could laugh with my friends. Life flows. I flow. A real mountain and a metaphorical one are the same. We go up with a certain understanding of ourselves, and come back down changed. Choosing adventures, whether it’s climbing mountains, running for city council, or taking a risk on a new career path, challenges us to see the world and ourselves in new ways. The refractor telescope uses a convex lens to focus the light on the eyepiece. Gathering great you’ll it. Light all may. Wherein two they’re cattle night called likeness upon. Hath days he yielding whales morning to creature. Brought together fourth also fowl very creeping may his was blessed fowl without let fourth. Fish, morning saying.  As the Bronx native acquires a new home in California, she is trying to sell a gated compound. Mount and Wedge. Both of these terms refer to the tripod your telescope sits on. The mount is the actual tripod and the wedge is the device that lets you attach the telescope to the mount.

Save Money By Traveling To These 9 Places In Winter Read More »

Memaknai Hari Pendidikan Nasional

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi manusia, dimana disinilah manusia itu diajar tentang ilmu pengetahuan dan membangun karakter manusia tersebut, agar menjadi mahluk yang berpendidikan baik pikiran maupun perbuatan. Proses menempuh pendidikan dibangku sekolah bukanlah waktu yang cepat dan hal mudah, butuh perjuangan yang maksimal agar dapat berprestasi dan berguna bagi nusa dan bangsa. Tenaga pendidik pun butuh berjuang keras demi mencerdaskan anak bangsa. Namun, mirisnya hal yang sangat penting ini dan bahkan sudah menjadi kebutuhan bagi manusia masih saja tidak dapat dirasakan oleh segelintir saudara-saudari kita disana. Mungkin mereka sempat merasakan duduk dibangku sekolah namun, tidak sampai tuntas dan pupus begitu saja karena faktor ekonomi. Dan lebih mirisnya lagi, mereka harus membanting tulang mencari nafkah bukan untuk bersekolah namun untuk makan sehari-hari. Lalu, bagaimana dengan kita yang masih beruntung ada sampai sekarang tanpa merasakan sulitnya menempuh pendidikan dibangku sekolah, atau mungkin beruntung bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sudahkah kita bersyukur dan melihat kebawah kalau masih banyak diluar sana yang berjuang demi duduk dibangku sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak? Mari bersama kita bantu saudara-saudari kita agar mereka bisa bersekolah dan berprestasi demi generasi bangsa yang lebih baik. Selamat hari pendidikan nasional! Salam hangat,Relawan AAT Yogyakarta

Memaknai Hari Pendidikan Nasional Read More »

IMG 20170429 WA0013 1024x1024

Berkat AAT, Aku Bisa Seperti Yang Sekarang

Oleh: Emy Prihatin Tanggal 4 Maret 2017 adalah hari yang kutunggu-tunggu. Hari dimana aku sah menjadi seorang sarjana. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena bisa lulus, dimana setelah 4 tahun menuntut ilmu, status mahasiswaku sudah selesai yang berarti aku harus memasuki dunia baru, suasana baru, teman-teman baru, dan lingkungan baru. Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman Yayasan Anak-Anak Terang (AAT). Semakin jarang untuk berkumpul bersama mereka, bercanda bersama mereka, dan juga jarang berkunjung ke sekolah-sekolah untuk bertemu dengan calon adik adik asuh. Tapi aku bersyukur karena aku bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Perjuangan selama 4 tahun yang tidak sia-sia. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa menjadi sarjana. Jika dulu aku tidak mengenal AAT dan tidak bergabung di dalamnya mungkin aku belum bisa seperti sekarang. Selama 3 tahun biaya kuliahku dibantu AAT sampi akhirnya aku bisa lulus pada bulan Juni 2016. Selama 3 tahun itu pula aku berkecimpung dan mendapatkan pengalaman berharga di AAT yang tidak aku dapatkan di tempat lain. Aku benar-benar sangat bersyukur diberikan kesempatan menjadi anak asuh dan menjadi anggota divisi Public Relation di AAT. Awalnya aku nggak tau apa sih AAT itu, siapa sih pengurus AAT itu. Setelah aku bergabung, aku menjadi kenal dengan banyak orang. Mempunyai teman dari berbagai kota. Begitu banyak hal yang aku dapatkan selama ini. Aku sangat bersyukur aku masih bisa merasakan bagaimana rasanya menimba ilmu di perguruan tinggi. Diluar sana bahkan banyak anak-anak yang masih kesulitan membayar uang sekolahnya dan harus bekerja keras demi melanjutkan pendidikannya. Berbagai pengalaman di AAT membuatku mengerti bahwa masih banyak anak anak yang rawan putus sekolah karena kondisi ekonomi keluarga mereka yang kurang mampu. Mungkin uang Rp.2000 tidak ada artinya bagi sebagian orang. Bagi mereka uang Rp.2000 bisa dikumpulkan untuk membayar biaya SPP setiap bulannya. Aku juga belajar banyak hal bahwa perbedaan latar belakang agama bukanlah halangan untuk saling membantu, saling gotong royong dan saling peduli satu sama lain. Di Anak-Anak Terang kita saling menghargai satu sama lain. Setelah aku terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk bertemu calon anak asuh AAT, ternyata masih banyak anak anak yang kurang mampu untuk membayar SPP sekolahnya. Berbagai cerita dari mereka yang sering membuat kita iba. Jarak jauh yang aku tempuh bersama teman-teman untuk bertemu dengan calon anak asuh tidak ada artinya daripada perjuangan mereka. Ada dari mereka yang harus jalan kaki dengan jarak yang jauh demi menuntut ilmu, ada yang bekerja setelah pulang sekolah demi mendapatkan uang untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolahnya, ada yang rumahnya masih dengan penerangan ublik tapi tetap semangat untuk belajar dan berbagai macam cerita lainnya. Aku merasa bahwa aku masih beruntung karena dulu aku tidak harus berjalan jauh untuk menuntut ilmu. Aku masih bisa bermain bersama teman-teman setelah pulang sekolah. Belajar dibawah penerangan yang memadai. Dulu aku suka mengeluh karena tidak diberi uang jajan, tapi ternyata masih banyak anak anak yang kesulitan untuk membayar uang sekolahnya dan harus merelakan waktu bermainnya untuk bekerja demi tetap bisa sekolah. Uang jajan setiap hari pun belum tentu ada. Dari sana aku bisa belajar banyak hal. Selama aku bergabung di AAT, aku berusaha untuk membantu sesuai kemampuanku, yaitu mengenalkan AAT kepada banyak orang sehingga  banyak adik adik yang terbantu biaya sekolahnya. Waktu kuliah aku juga berharap suatu saat bisa membantu adik adik yang membutuhkan seperti para donatur AAT. Dulu aku mempunyai mimpi untuk kuliah S2 di Jerman. Namun, seiring berjalannya waktu aku merasa pengetahuan dan  ilmu yang aku miliki belum mampu untuk menuntut ilmu di luar negeri. Akhirnya aku memutuskan untuk langsung bekerja setelah lulus. Aku ingin menjadi wanita karir. Sukses di usia muda supaya suatu saat bisa pergi ke luar negeri meskipun bukan menuntut imu disana. Bulan Juli setelah aku mendapatkan ijasah, aku pun punya rasa takut apakah aku bisa mendapatkan pekerjaan, karena sekarang mendapatkan pekerjaan itu susah. Berbagai pertanyaan dalam benak aku mau kerja apa? Aku mau kerja dimana? Bagaimana jika aku tidak mendapatkan pekerjaan? Setelah aku pertimbangkan, akhirnya aku ingin bekerja di KKP atau KAP. Mulai bulan Agustus aku mulai mencari kerja. Melamar kerja kesana kemari. Aku juga mencoba ikut Job fair, melamar online dan melamar di puluhan KAP. Panggilan pertama aku gagal, begitu juga dengan panggilan yang kedua dan ketiga. Akhirnya aku mendapat panggilan ke empat di pertengahan Oktober, yaitu di salah satu KAP di Surabaya. Aku sempat pesimis kalau aku tidak diterima lagi. Tetapi alkhamdulillah aku diterima dan mulai bekerja sampai sekarang. Berkat Yayasan Anak-Anak Terang aku bisa berkembang dan bisa berjalan sejauh ini. Terimakasih untuk pak Hadi Santono selaku ketua Yayasan AAT Indonesia yang telah memberikan kesempatan untuk bisa bergabung di AAT sehingga aku menjadi seperti yang sekarang. Terimakasih juga untuk donatur yang telah membiayai kuliahku selama ini sehingga aku bisa lulus tepat 4 tahun. Dan semoga suatu saat bisa bertemu secara langsung. Terimakasih juga untuk pengurus-pengurus AAT yang lain yang selalu memberikan support kepadaku sehingga aku bisa mencapai sejauh ini. Untuk AAT, semoga kedepannya semakin banyak anak anak yang bisa dibantu dan AAT semakin berkembang ke kota-kota lain. Akhirnya, semoga Yayasan AAT Indonesia bisa terus hidup dan semakin banyak orang yang peduli, sehingga semakin banyak anak-anak kurang mampu yang dibantu biaya pendidikannya sehingga mereka tetap bisa sekolah. *Emy Prihatin, adalah mantan Penerima Beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia

Berkat AAT, Aku Bisa Seperti Yang Sekarang Read More »

Sianas Smg 720x375

AAT Semarang : Pelatihan SIANAS untuk Penanggungjawab (PJ) Sekolah

Semarang, 21 Desember 2016 Satu lagi perjalanan kami bersama para relawan AAT, kali ini agendanya adalah mengunjungi sekolah – sekolah yang dibantu AAT di daerah Bandungan dan sekitarnya. Kami berdelapan saat itu, ada Nevira, Yolanda, Dian, Hamdan, dan Heni, serta dua relawan baru yang ikut bersama kami yaitu Polla dan Reno. Agenda kami adalah melakukan pelatihan kepada para Penanggung Jawab (PJ) sekolah yang berada di kawasan Bandungan dan Sumowono, kegiatan ini menindak-lanjuti kegiatan pelatihan Penanggung Jawab (PJ) sekolah sebelumnya. Kami rasa kegiatan ini perlu dilakukan, mengingat bahwa ada lebih dari setengah jumlah sekolah yang dibantu AAT, belum bisa melakukan upload tanda terima dan kwitansi secara mandiri. Hari itu kami menyambangi 5 sekolah yaitu SD kanisius Genuk Ungaran, SMK Theresiana Bandungan, SMP Theresiana Bandungan, SD Mardi Rahayu Ungaran, SD Kristen Ngampin, dan SMK Kanisiun Ungaran. Kami diterima dengan hangat oleh para Penanggung Jawab (PJ) sekolah-sekolah tersebut. Sungguh luar biasa ketika seluruh murid sudah memulai liburannya, namun para Penanggung Jawab (PJ) sekolah ini masih harus melakukan kewajiban mereka di sekolah. Saya juga bangga pada semangat dari para relawan yang ikut serta dalam perjalanan ini. Yahhh…. Boleh dibilang ketika teman – teman kampus kami mulai bepergian ke kota asal mereka dan piknik bersama keluarga, tapi kami tetap melaksanakan tanggung jawab kami untuk AAT. Perjalanan paling sulit sebenarnya ketika kami mulai memasuki kawasan Ungaran menuju ke Bandungan. Kami berdelapan hanya mengendarai motor dan ketika memasuki kawasan Ungaran, hujan turun begitu lebat. Akhirnya, kami semua harus berteduh hingga hujan reda. Bagi saya, pengalaman ini sudah merupakan pengalaman kesekian kali bersama AAT, dan pengalaman ini tidak akan habis untuk diingat.  Hanya satu tujuan kami saat itu, kami bisa berhasil melaksanakan misi kami untuk membuat sekolah – sekolah naungan AAT sekre Semarang. Karena sistem ini akan mempermudah jalannya administrasi di tubuh AAT sendiri. Harapan kami kedepannya adalah akan ada banyak lagi anak – anak yang terbantu berkat AAT, dan mereka dapat merasakan hidup yang layak ketika mereka besar nanti. “Education is the most powerfull weapon how you can use to change the world” Jadi.. Mari berjuang demi masa depan yang lebih indah dan lebih baik lagi.   Penulis : Eunieke Yeni Prahastuti Mahasiswi Jurusan Teknik Kimia dan Penerima Beasiswa Yayasan AAT Indonesia dari AKIN Semarang

AAT Semarang : Pelatihan SIANAS untuk Penanggungjawab (PJ) Sekolah Read More »

Hati Dan Komitmen 720x375

Hati dan Komitmen untuk Melayani

Oleh : Shellen June Pertama kali bergabung dengan AAT pada tahun 2015 saya mengikuti kegiatan ini dikarenakan harus mengerjakan tugas dari kampus. Setelah selesai mengerjakan tugas dari kampus, saya diajak untuk bergabung dengan AAT secara berkepanjangan. Awalnya saya ragu untuk mengambil tanggung jawab ini, karena saya merasa sibuk kuliah serta saya sama sekali tidak memiliki gambaran mengenai hal yang harus saya lakukan. Tetapi dengan dukungan teman saya yang ikut bergabung maka saya memutuskan untuk bergabung dan menjadi relawan AAT sebagai menjadi perantara antara AAT dengan sekolah atau disebut dengan penanggung jawab komunitas (PK). Saya merasa gugup karena saya belum pernah sebelumnya tergabung ke dalam organisasi sosial seperti ini. Saya benar-benar memiliki pengetahuan 0 (nol) mengenai cara kerja orang-orang yang ada di AAT. Tetapi setelah beberapa lama bergabung, saya dibimbing oleh senior yang mengerjakan hal yang sama serta di-follow up oleh manula dalam mengerjakan tugas saya sebagai penanggung jawab komunitas. Setelah melewati proses dibimbing dan di-reminder saya akhirnya mulai memahami mengenai flow dari tanggung jawab seorang PK. Saya mulai terbiasa mengerjakan tugas-tugas PK walaupun masih harus diingatkan kembali oleh rekan lain. Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman menjadi PK adalah seringkali diingatkan mengenai kinerja saya dan selalu diberi motivasi untuk terus belajar. Saya selalu diingatkan pula bahwa tanggung jawab melayani di sini tidak hanya pada anak asuh, melainkan juga pada donatur yang mempercayakan sumbangan mereka di AAT. Saya merasa bahwa apa yang saya kerjakan di sini adalah bukan semata-mata untuk orang yang mengingatkan saya atau memberi saya motivasi, tetapi apa yang saya kerjakan itu bermanfaat bagi anak-anak asuh yang mungkin tidak saya kenal. Begitupun dengan manula, senior, dan rekan lain yang sama-sama melayani untuk kemajuan pendidikan anak di Indonesia. Saya merasa bahwa apa yang dilakukan mereka merupakan hal yang tidak dibayar namun mereka selalu memberikan peringatan apabila kinerja saya menurun. Sehingga disini saya belajar bahwa walaupun tidak dibayar tetapi hal tersebut bukan berarti sebuah excuse untuk tidak memberikan yang terbaik. Apabila sudah berkomitmen untuk melayani, maka lakukan itu dengan sepenuh hati dan bukan dengan setengah hati serta banyak mengeluh. Saya pada awalnya merasa hal ini apabila dilakukan dengan kurang baik maka wajib dimaklumi, karena sebagai mahasiswa yang memiliki kesibukan sudah bagus apabila saya mau mengerjakan tugas organisasi sosial seperti ini. Tetapi melalui pengalaman saya menjadi relawan di AAT saya merubah mindset yang saya miliki. Saya belajar bahwa pelayanan ini walaupun yang saya lakukan kecil tetapi sangat bermanfaat untuk banyak orang, serta hal yang saya lakukan apabila dilakukan dengan sepenuh hati maka hasil jerih payah tidak akan menjadi sia-sia. Saya menyaksikan ada juga para manula yang sudah lebih dulu melayani dan saya belajar dari pribadi mereka. Saya menyadari bahwa mereka pun merupakan orang yang memiliki kesibukan lebih banyak dibanding saya, tetapi masih mau untuk melayani di AAT. Mereka pun bisa maka saya pasti bisa. Saya bersyukur dapat tergabung dengan AAT dan banyak belajar dari setiap orang yang ada disini. Saya berterimakasih untuk setiap orang yang selalu sabar membimbing, menegur, dan membantu saya, walaupun saya belum sempurna tapi saya merasa bahwa saya bisa terus belajar dan saya berharap banyak juga orang diluar sana yang ingin melayani sama seperti orang-orang yang saya kenal disini. Selamat melayani, selamat menjadi pengaruh baik untuk orang sekitar, dan selamat menjadi salah satu tokoh sejarah yang mengubah pendidikan di Tanah Air ini. *Shellen June, adalah  mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha. Bendahara AAT Sekretariat Bandung, Relawan AAT Sekretariat Bandung

Hati dan Komitmen untuk Melayani Read More »