Nothing is Impossible

novibria

“Don’t ever let someone tell you that you can’t do something. Not, even me your father. You got a dream, you gotta protect it. When people can’t do something themselves, they’re gonna tell you that you can’t do it. You want something, GO, GET IT, PERIOD!!  (Will Smith, The Pursuit of Happiness).

Pesan Will Smith untuk anaknya dalam film itu tidak jauh berbeda dengan pesan bapak saya sebelum meninggal. Bedanya hanya versi bahasanya saja. Kata-kata itulah yang selalu membuat saya semangat untuk meraih cita-cita dan percaya bahwa segala sesuatu itu mungkin dan pasti akan indah pada waktunya.

* * *

Nama saya Novhy, lengkapnya Marsellina Novhy Bria, mahasiswa jurusan Sastra Inggris semester 6, UNIKA Widya Mandala Madiun. Saya anak ke 3 dari 4 bersaudara. Lahir tanggal 11 November 1990 dan menghabiskan masa kecil di Baun, sebuah desa yang berjarak 20 km dari kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bapak dan mama, panggilan saya untuk orang tua saya, bekerja sebagai petani. Tetapi, cita-cita mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi membuat kami selalu bersemangat untuk memberi yang terbaik. Untuk mereka, orang tua kami, melalui prestasi kami di sekolah.

Semuanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja sampai kelas 3 SMP. Hingga menjelang UAN, bapak yang merupakan tulang punggung keluarga dan juga motivator saya meninggal dunia karena sakit. Saya merasa jauh dari cita-cita dan berpikir bahwa kuliah itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah bisa diraih. Tapi saya bersyukur karena mempunyai mama dan kakak yang luar biasa yang selalu membuat saya bersemangat dan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang berguna untuk mencapai cita-cita yang saya inginkan.

Setelah bapak meninggal, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 2 Kupang yang merupakan salah satu sekolah favorit saat itu. Masa SMA inilah masa di mana saya belajar menjadi pribadi yang lebih tekun, kuat, dan sabar dalam menghadapi apapun.

Tahun 2008, setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk ke Surabaya. Niat ke Surabaya bukan untuk kuliah tapi bekerja, karena yang ada dalam pikiran saya, “Saya tidak mungkin bisa kuliah, terlalu mahal.”

Sejak tahun 2008-2011, saya memilih tinggal dan bekerja di Madiun, karena kota ini lebih nyaman dan tidak rumit. Selama bekerja inilah, sedikit demi sedikit, saya mengumpulkan uang untuk kuliah. Hingga akhirnya tahun 2011, nama saya pun tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris di UNIKA Widya Mandala Madiun. Bangga, bahagia, dan tidak percaya karena untuk mendapat status mahasiswa, jalan yang saya lewati sangat sulit. Saya semakin percaya bahwa semua mungkin terjadi. Nothing is impossible.

Awal kuliah, semua urusan administrasi masih lancar-lancar saja. Tetapi, memasuki semester ke 2, semuanya terasa lebih sulit. Karena tidak ingin menjadi beban kakak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, saya pun mencoba untuk mencari beasiswa.

Semester 3, saya mendapat beasiswa prestasi. Tetapi hanya untuk satu semester saja. Saat itu juga saya memutuskan untuk bekerja menjadi guru les privat anak SD dan SMP. Dan juga sebagai asisten pengajar di KUMON, salah satu tempat kursus Bahasa Inggris di Madiun.

Awal Perkenalan dengan AAT

Akhir semester 4 sebelum liburan akhir semester, kami calon anak asuh yang dipilih prodi di hubungi untuk mengikuti pengenalan beasiswa Anak-Anak Terang (AAT) oleh Bapak Bernardus Widodo, Wakil Rektor 3. Setelah itu, kami diminta untuk melengkapi semua persyaratan dan mengikuti seleksi wawancara bersama bruder-bruder CSA. Saat itu, saya diwawancara oleh Bruder Aleks, CSA.

Banyak pertanyaan dan motivasi yang diberikan oleh Bruder dan beliau berpesan, “Nov, banyak doa ya. Ingat pulang Novena. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Siapa tahu kamu juga terpilih dapat beasiswa ini.”

Saya pun mengikuti pesan Bruder dan doa saya terkabul, karena saya salah satu dari 10 penerima beasiswa Anak-Anak Terang. Bersyukur dan bersyukur. Berkat Tuhan memang luar biasa. Akhirnya, saya benar-benar bisa membuat mama dan kakak tersenyum.

Anak-Anak Terang

 

novpostSetelah menjadi Anak Asuh AAT, secara otomatis kami pun menjadi staff administrasi atau Pendamping Komunitas (PK) untuk sekolah-sekolah sekaresidenan Madiun yang bekerja sama dengan Yayasan AAT Indonesia. Banyak hal luar biasa yang saya dapat selama bergabung dalam AAT ini. Dari perjalanan survei dan wawancara bersama calon anak asuh, sampai pengalaman mengurus pengiriman tanda bukti penerimaan beasiswa AAT, kwitansi, dan pengiriman raport anak asuh AAT.

Satu hal yang pasti, saya menjadi orang yang sangat bersyukur. Karena bisa dibilang kesulitan hidup yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan adik-adik yang saya wawancara. Saya belajar banyak hal dari mereka. Semangat untuk belajar, kuat dalam menghadapi tantangan, selalu tersenyum, dan selalu berpikir positif.

Saat ini, walaupun harus membagi waktu antara kuliah, kerja, kegiatan kampus dan AAT, tapi saya berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik untuk AAT. Cerita ini saya persembahkan untuk donatur yang telah membantu saya membiayai kuliah. Siapapun beliau, saya percaya Tuhan ada dalam dirinya. Suatu saat nanti, saya pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang beliau lakukan saat ini. Untuk AAT dan untuk adik-adik asuh nantinya.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Begitu pun dengan apa yang saya cita-citakan untuk AAT. Terima kasih AAT. Terima kasih Pak Hadi Santono, Pak Christ Widya, Br. Konrad, CSA, Br. Aleks, CSA, Br. Yakobus, CSA, Om Adhi, dan orang-orang baik lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Salah satu anugerah Tuhan yang terindah dalam hidup saya adalah menjadi anggota keluarga besar Anak-Anak Terang.

 

Marsellina Novhy Bria
Staff Admin AAT Madiun.
* Marsellina Novhy Bria adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, UNIKA Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.

 
[qrcode content=”https://aat.or.id/nothing-is-impossible” size=”175″]