So, What Colour Are You?

Bani AAT

Anak Anak Terang (AAT), itulah nama yang setahun lalu terngiang dalam benak dan membuat saya penasaran. Beragam pertanyaan mulai mengusik saya. Mulai dari apa itu AAT? Apa saja kegiatan yang ada di AAT? Beruntunglah saya bertemu dengan Mas Christ yang bersedia menjelaskan tentang AAT. Beliau menjelaskan bahwa AAT adalah komunitas sosial yang konsen membantu anak-anak yang kurang mampu dalam hal finansial supaya dapat terus melanjutkan pendidikannya. Tidak ketinggalan beberapa buah stiker dan satu buah tas yang berlogo AAT dihadiahkan kepada saya di akhir pembicaraan. Tidak lupa juga meluncur kalimat ajakan, “Kalo ada waktu, yok melu gabung ngewangi AAT, kuwi ono website AAT ojo lali dibuka, ben luwih ngerti soal AAT” yang artinya, “Ayo gabung bantuin AAT, itu ada website AAT jangan lupa dibuka, supaya kamu lebih mengerti tentang AAT.” Dari situlah awal perkenalan saya dengan yayasan sosial ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya sering bertemu dengan teman-teman relawan AAT dari Semarang. Lambat laun, saya mulai sedikit mengerti aktivitas apa saja yang dilakukan para relawan dan tentu cara kerja para relawan dalam membantu AAT. Mulai dari cara pengajuan proposal, survei, hingga bagaimana cara input data. Saya jadi semakin tertarik untuk bergabung menjadi relawan di AAT. Namun, waktu seakan selalu jadi penghalang. Baru bulan Mei lalu, waktu mengijinkan saya bergabung menjadi relawan AAT. Saya masih ingat jelas pengalaman pertama survey ke SMP Bellarminus Semarang dengan sambutan teman-teman yang tidak terlupakan. Waktu saya datang, teman-teman relawan Semarang dengan sangat kompak berseru “akhirnya datang juga.” Sambutan yang cukup menyenangkan, mungkin saking lamanya mereka menunggu. Hari itu juga merupakan pengalaman pertama saya mewawancarai calon anak asuh AAT. Mungkin saya juga yang merasa paling berdosa waktu itu karena menolak banyak calon anak asuh.

Tentang Yani

Satu kisah dari salah satu anak yang waktu itu saya wawancarai yang membuat saya terharu, salut, serta bersyukur dengan keadaan saya sekarang ini. Yani namanya. Dia tinggal menumpang di rumah kakeknya di Semarang bersama ibu dan kedua adiknya. Ibunya tidak memiliki mata pencaharian yang tetap. Mulai buruh cuci harian hingga mengasuh anak tetangga, itupun jika ada yang meminta. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan Yani sejak kecil, “saya tidak tahu dimana ayah sekarang,” jawabnya lirih ketika saya bertanya padanya.

 

Wawancara calon anak asuh AAT
Wawancara calon anak asuh AAT

Untuk hidup sehari-hari, Yani mengandalkan bantuan dari tantenya yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah kakeknya. Penghasilan ibunya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi kakeknya yang sudah tua dan sering sakit. Uang sakunya tiap hari hanya 2 ribu rupiah, itupun juga mengandalkan pemberian dari tantenya, jumlah rupiah yang bagi sebagian orang nilainya tidak seberapa. Tak jarang dia juga membantu mengasuh anak tantenya untuk mendapatkan uang tambahan. Meski begitu, semangatnya untuk sekolah tetap membara, tumpahan sinar matahari yang terik ketika berjalan kaki pulang dan pergi tak pernah menyurutkan niatnya. Sungguh perjalanan hidup yang bagi saya sangat luar biasa dan sangat menginspirasi. Di akhir wawancara tak lupa saya menyelipkan kalimat, “semangat ya dik, kamu bisa!”

Cat Lukis dan Warna Kehidupan

Cerita Yani tadi menjadi refleksi tersendiri bagi saya, mengingatkan saya saat dikarantina selama satu minggu di lereng Merapi dalam acara latihan kepemimpinan setahun yang lalu. Di sana saya diajak untuk merasakan langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar, menjadi penambang pasir di sungai, membantu nenek tua berjualan di pasar, sampai mencari makan untuk kambing, dan membersihkan kandangnya. Pada saat akhir sesi ada satu pertanyaan menarik. Pertanyaan tersebut adalah, seperti apa dirimu jika digambarkan sebagai suatu benda dan mengapa.

Ketika itu saya menggambarkan diri saya sebagai cat lukis. Mengapa? Filosofinya saya mengibaratkan setiap manusia punya warna tersendiri dalam dirinya, yang akan digoreskan dalam kanvas orang lain, dan tentunya bakal membekas menjadi kumpulan warna tersendiri bagi orang tersebut. Intinya, saya ingin menjadi orang yang memberi dan menggoreskan warna tersendiri dalam kehidupan seseorang, sehingga menjadi lebih berwarna. Berangkat dari refleksi di atas, saya berharap dengan bergabung di AAT bisa menjadi media saya untuk lebih banyak belajar tentang hidup dan tentunya memberi warna bagi kehidupan sesama.

Inilah sepenggal kisah pengalaman saya selama bergabung dengan Yayasan AAT Indonesia (AAT). Seperti judul cerita di atas, satu pertanyaan yang akan saya ajukan kepada anda semua, “So, What Colour Are You?

 

Polycarpus Estutomo Bani Pandhito
Staff Admin AAT Semarang
 
[qrcode content=”https://aat.or.id/so-what-colour-are-you” size=”175″]