AAT

Live bersama Tommy Wong

Akhir pekan ini, Yayasan AAT akan kedatangan seorang inspirator kehidupan. Beliau adalah Tommy Wong. Pengalaman hidupnya yang berlika-liku, kabarnya terpuruk di masa kecil, nyatanya mengubah beliau menjadi pribadi yang luar biasa yang sukses dan inspiratif. Ia justru bangkit dan membuktikan kepada dunia bahwa tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini jika kita terus berjuang. Kunci kesuksesan hidup pria yang juga Ketua Umum BIIIionare Mindset Indonesia ini dibagikan kepada kita semua. Jadi, tunggu apa lagi, mari bergabung, daftarkan dirimu dalam sesi live bersama Tommy Wong via Zoom dan Facebook Anak-Anak Terang. Acara ini gratis. Informasi lebih lanjut hubungi 082138870341 (Neles-Purel AAT)

Live bersama Tommy Wong Read More »

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Beasiswa AAT: Beasiswa untuk Mencegah Putus Sekolah Anak Tak Mampu

Oleh: Fajar Akbar Suryadi dan Korneles Materay (Divisi Purel AAT) Apakah Anda pernah mendengar sebutan “AAT” atau “Beasiswa Anak Anak Terang? Pernahkah Anda melihat ada hastag #cegahputussekolah ketika melakukan pencarian hastag dengan keyword “cegah” di medsos seperti twitter atau instagram Anda, misalnya? Apakah Anda sudah mengenalnya? Jika belum, bacalah tulisan ini sampai selesai. Kami akan membagikan beberapa fakta menarik tentang AAT. AAT merupakan salah satu program beasiswa di Indonesia. Beasiswa AAT hadir dengan misi utama membantu anak-anak dari seluruh Indonesia dari keluarga yang tidak mampu agar tetap dapat meneruskan pendidikan formalnya. Hingga saat ini, Beasiswa AAT telah membantu biaya pendidikan lebih dari 11.600 anak Indonesia. Nah, 5 (lima) hal berikut ini dapat membantu Anda mengenal lebih dalam Beasiswa AAT. 1.Tidak boleh terjadi seseorang tidak melanjutkan pendidikan hanya karena ia miskin. Ungkapan di atas dikemukakan oleh Frans Seda yang menjadi motto Beasiswa AAT. Semangat mencegah orang miskin putus sekolah itu mengilhami kelahiran AAT. Semula dari kekhawatiran akan nasib 25 anak di SLTP Kampung Jembatan yang terancam putus sekolah karena terhambat membayar biaya pendidikan pada tahun ajaran 2002 – 2003, para Inisiator Beasiswa AAT menggagas pemberian beasiswa kepada mereka. Mula-mula seorang donatur menawarkan diri untuk membantu tetapi ia hanya mampu membiayai 10 anak. Menyadari 15 anak lainnya harus tetap bersekolah, para Inisiator Beasiswa AAT dengan segala keberanian mereka menghubungi beberapa teman untuk membantu anak-anak tersebut. Di luar dugaan, ternyata dana yang terkumpul melebihi kebutuhan 15 anak itu. Dari yang tadinya bingung karena kekurangan dana akhirnya menjadi bingung karena kelebihan dana. Lantas, dana yang terkumpul tidak hanya untuk membantu anak-anak kurang mampu di atas, namun juga di tempat lain. 2. Beasiswa Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi Beasiswa AAT diberikan kepada ribuan anak setiap tahunnya dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari tingkat SD, SMP, SMU/SMK hingga perguruan tinggi. Besarnya beasiswa yang disalurkan mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Penerima Beasiswa AAT disebut Anak Asuh (AA) dan pemberi beasiswa disebut Orang Tua Asuh (OTA). OTA sama dengan donatur. Beasiswa AAT tidak memandang suku, agama, ras, dan golongan (SARA) sebagai penerima beasiswanya. Para donatur pun berasal dari berbagai latar belakang. Donatur AAT berasal dari seluruh wilayah Indonesia hingga menembus batas negara. Tercatat beberapa donatur berdomisili di Singapura, Perancis, Hongkong, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Jerman, Belgia, Belanda, Qatar hingga Australia. 3. Berbadan Hukum Di awal kelahirannya, Beasiswa AAT berbentuk kelompok informal peduli pendidikan. Namun, sejak 12 Oktober 2013, Beasiswa AAT bernaung di bawah badan hukum Yayasan AAT Indonesia. Pada 21 April 2014 disahkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Nomor. AHU-2314.AH.01.04.Tahun 2014. 4. Sistem Informasi Publik AAT AAT memiliki dua website utama sebagai sistem informasi publik yang menyediakan data dan informasi kegiatan-kegiatan AAT yaitu www.aat.or.id dan www.sianas.aat.or.id. www.aat.or.id merupakan platform informasi umum bila Anda ingin mengenal lebih dalam mengenal sepak terjang AAT. Sedangkan, www.sianas.aat.or.id merupakan sebuah platform donasi AAT. SIANAS adalah singkatan dari “Sistem Informasi Anak Asuh.” Siapapun dapat menjadi OTA atau donatur AAT. Proses menjadi donatur melalui SIANAS. SIANAS memuat data terpadu OTA dan AA. Calon OTA yang telah mendaftarkan diri sebagai OTA bisa melihat profil calon anak asuhnya, memilih anak asuhnya sesuai jumlah yang diinginkan, melihat perkembangan akademik anak asuh, dan tentu saja kewajibannya. Donasi biaya pendidikan yang merupakan kewajiban OTA yang disalurkan kepada AA dapat dilakukan setiap bulan, 3 (tiga) bulan, 6 (enam) bulan, atau per tahun. SIANAS tidak hanya dalam bentuk website karena sejak 2020 ini, SIANAS sudah berbentuk aplikasi yang bisa diinstal di smartphone melalui play store/google play. Ingin berdonasi langsung dari hapemu? Yuk, instal SIANAS sekarang! 5. Merayakan Ultah ke-18 Tahun di Bulan Kemerdekaan Agustus adalah bulan spesial bagi bangsa Indonesia karena ini adalah bulan Kemerdekaan. Agustus juga bulan spesial bagi AAT karena ada peringatan hari lahir AAT. AAT lahir pada 1 Agustus 2002 dan tepat 1 Agustus 2020, AAT telah menginjak usia 18 tahun. Doakan ya, semoga Beasiswa AAT berumur panjang dan banyak orang-orang baik yang berdonasi di AAT sehingga bersama-sama kita memberi dampak. Amin…

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Beasiswa AAT: Beasiswa untuk Mencegah Putus Sekolah Anak Tak Mampu Read More »

HUT 18 Tahun AAT

1 Agustus 2020, AAT telah mencapai usia 18 tahun. Kami segenap Pengurus Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak khususnya kepada para Donatur, PJ Sekolah, Relawan, dan Anak Asuh yang telah mewarnai, mengisi, mendoakan, hingga memberikan dukungan dan bantuan kepada AAT sejauh ini. Semoga melalui AAT karya-karya kemanusiaan terpancar kini, sekarang dan nanti. Mari cegah anak-anak bangsa dari putus sekolah bersama-sama. Informasi lengkap AAT: www.aat.or.id Pendaftaran donatur/donasi: www.sianas.aat.or.id

HUT 18 Tahun AAT Read More »

Ayah Bunda… Aku Ingin Sekolah

Oleh: Severius Rischo Setyo, Romualdus Sumbogo dan Patricia Dyah Pitaloka. Menjadi garam dan terang dunia di tengah-tengah anak-anak kecil adalah berkat yang diberikan oleh Tuhan untuk membantu mereka agar dapat bersekolah. Perjalanan yang luar biasa ini dimulai pada pertengahan tahun 2018 lalu. Saat itu, kami diajak untuk “memberi berkat” ke anak-anak yang membutuhkan. Dan, kami mengiyakan permintaan itu. Perjalanan dan hari yang panjang untuk kami pada saat itu. Karena kami harus pergi ke beberapa sekolah yang ada di Jogja, Kulon Progo hingga Wonosari dalam 3 hari. Perjalanan awal kami yang sangat luar biasa selama setahun belakangan ini untuk mengurus anak-anak kecil yang ingin bersekolah. Perasaan terharu menghampiri kami, ketika anak-anak menceritakan apa cita-cita ketika mereka besar nanti. Kami hanya bisa mengatakan dalam hati “semoga cita-cita kalian semua terkabul ya dek”. Pada saat wawancara anak-anak kecil ini kami akan mendapatkan cerita yang berbeda dari mereka. Dari anak yang sangat tertutup sampai anak yang sangat aktif, dari anak yang sangat ceria hingga anak-anak yang menyimpan cerita menyedihkan. Ada perasaan sedih dan juga ingin membantu mereka semua di dalam benak kami. Tapi apalah daya kami yang tidak bisa membantu mereka secara langsung. Kami hanya dapat membantu mereka melalui perpanjangan tangan orang lain. Ketika cita-cita mereka dihadapkan dengan kenyataan yang tidak mereka inginkan, kami tidak tahu apa yang ada di benak mereka, apa yang mereka pikirkan, dan apa yang mereka rasakan. Banyak dari anak-anak ini yang harus merasakan hidup terpisah dengan orang tua mereka, ada yang terlahir dari keluarga broken home, ada yang tidak tahu salah satu orang tua mereka ada dimana, dan juga ada anak yang dititipkan begitu saja di panti asuhan. Sedih? Ya! Itu hal pertama yang kami rasakan sebagai relawan. Bagaimana mereka bisa hidup tanpa tahu orang tua mereka ada dimana? Mereka merasakan hidup ini tidak cukup adil untuk mereka, karena mereka harus merasakan hidup terpisah dengan orang tua mereka. Ada salah satu anak asuh yang kami temui, anak Papua. Dimas,  namanya. Ayahnya berasal dari Manokwari dan ibunya berasal dari Bantul. Dimas sudah hidup terpisah dengan ayahnya semenjak dia masih bayi. Dan, Dimas beserta ibu dan juga adiknya harus hidup luntang-lantung di jalanan, mereka hidup dari belas kasihan orang-orang, tetapi mereka tidak mengemis loh ya. Dulunya, Dimas dan juga ibunya harus tinggal di depan toko-toko, tetapi saat ini Dimas dan juga ibunya bisa sedikit bernafas lega karena saat ini mereka tinggal di sepetak kos-kosan yang disewakan kepada mereka dengan harga yang murah. Setiap harinya saat Dimas berangkat ke sekolah akan ada ibu-ibu penjual jajanan pasar memberikan Dimas sebungkus bakmi goreng untuk Dimas makan sesampainya dia di sekolah. Menurut wali kelas Dimas, Dimas merupakan anak yang bandel dan sering menjahili teman-temannya yang ada di kelas. Bukan tanpa alasan Dimas seperti itu. Dimas hanya ingin bermain bersama dengan teman-temannya. Itu cara dia untuk mengajak teman-temannya bermain bersama dengan dia. Kenapa seperti itu? Karena sebagian besar teman-temannya tidak ingin bermain dengan Dimas karena dia “berbeda”. Apa karena “berbeda” lalu harus dipandang sebelah mata? Menurut wali kelas Dimas, setiap harinya sepulang sekolah Dimas akan dijemput oleh ibunya menggunakan sepeda dan mencari sampah plastik yang kemudian akan di kilokan, dan hasil dari kiloan sampah plastik tersebut mereka gunakan untuk makan. Sekali memungut sampah dan di kilokan, Dimas dan ibunya hanya mendapatkan Rp10.000. Ya, sepuluh ribu rupiah yang digunakan untuk membeli makan 3 orang. Banyak guru di sekolah Dimas yang setiap Sabtu sore dan Minggu pagi selalu melihat Dimas berada di gereja dan selalu duduk di bangku paling depan. Ketika di sekolah gurunya bertanya pada Dimas apa cita-citanya saat dia besar nanti? Dan, jawaban Dimas adalah dia ingin menjadi Romo (Pastor). Alasannya, karena Dimas ingin memberkati orang banyak. Itulah cerita tentang salah satu anak asuh di Yogyakarta yang sangat diingat oleh relawan. Sebenarnya masih banyak sekali cerita-cerita tentang anak asuh dengan perjuangan mereka untuk bisa sekolah yang ada di Yogyakarta. Kami para relawan sangat bersyukur karena kami bisa bersekolah dengan enak tanpa melalui proses seperti anak-anak ini. Kami hanya berharap suatu saat nanti mereka (anak asuh) bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarganya dan juga cita-cita mereka bisa tercapai sesuai dengan keinginan mereka.

Ayah Bunda… Aku Ingin Sekolah Read More »

Pengalaman Survei Paling Berkesan

Pengalaman Survei Paling Berkesan Oleh: Tata Adika Salam Sejahtera! Satu detik yang lalu adalah masa lalu dan tidak akan pernah bisa kembali. Waktu adalah anugrah Tuhan yang begitu luar biasa. Tapi tidak banyak orang yang bisa menghargai itu. Mungkin saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang belum bisa menghargai waktu. Pekenalkan nama saya Tata Adika. Teman-teman biasa memanggil saya Tata, saya lahir di Malang pada tanggal 20 November 1997. Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang disibukkan dengan skripsi di Universitas Katolik Widya Karya Malang. Saya mengambil jurusan Akuntansi. Rasanya bila ditanya mengenai cita-cita, saya sedikit bingung. Bahkan sejak SD, SMP, dan SMA ketika ditanya cita-citamu apa? Saya selalu jawab berbeda. Seiring bertambahnya usia dan mulai pahamnya saya tentang cita-cita, maka saya mencoba memiliki cita-cita yang realistis saja. Bila dikaitkan dengan jurusan kuliahku saat ini, cita-citaku bekerja dibagian keuangan suatu perusahaan swasta/negeri. Selain sebagai pekerja/karyawan saya ingin membuka toko grosiran. Yahh… harapan hanya sebuah harapan. Saya sebagai manusia hanya berusaha, Tuhan yang menentukan. Jika memang Tuhan berkehendak lain, maka mungkin itu yang terbaik. Yang perlu saya lakukan sekang adalah berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkan harapan saya. Saya senang sekali menambah pengalaman, pengetahuan baru dan bergaul dengan lingkungan yang baru. Tahun 2016, Saya adalah salah satu anak asuhnya Rm Hudiono yang dikuliahkan. Awalnya saya mengira hanya tanggungjawab personal dengan romo, ternyata anak asuhnya romo ini cukup banyak dan selalu ada acara kumpul bersama sembari ngobrol dan saling berkenalan. Dari beberapa yang berbincangan, saya mendengar mengenai Yayasan AAT dengan banyak versi. Tetapi saya baru memahami apa itu Yayasan AAT dua tahun kemudian tepatnya tahun 2018. Saya yang tidak mengetahui apa itu Yayasan AAT, disuruh menggantikan mas Andrew untuk mengikuti RAKERNAS di Biara Jayagiri Malang. Dari situlah saya mengerti apa itu Yayasan AAT dan mengenal Ketua Sekretariat yaitu Mbak Emy dan pengurus lama seperti Mas Putra dan Om Adi dsb.   Pengalaman saya selama mengikuti kegiatan survei yang paling berkesan dan sampai detik ini yang paling kuingat selalu adalah survei 14 sekolah, yayasan Karmel, dan 1 panti. Sebagai orang baru pada waktu itu, dan belum mengetahui cara kerjanya, saya bertanya-tanya bagaimana langsung disuruh terjun ke lapangan dan praktik sosialisasi? Bagaimana cara upload dan seterunysa? Dalam waktu 4 hari 3 malam keliling dari Malang, Pasuruan, Lumajang sampai Banyuwangi. Saat itu bersama Om Adi yang menjabat sebagai Tim SIANAS kalu tidak salah, beliau datang jauh-jauh dari Semarang mengajak kami untuk survei. Bertemu dengan orang baru dan tinggal bersama anak-anak panti, bagi saya itu hal yang sangat luar biasa. Dan, pada saat itu saya pernah survei ke Bangkalan Madura dimana berangkat malam naik travel sampai disana pagi sekitar pukul 02.00 WIB tinggal di mess bersama Mas Putra. Puncaknya adalah Gathering AAT 2018, saya sangat bersyukur bisa bergabung dan bertemu dengan orang-orang hebat yang memberikan banyak motivasi yang berharga untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi sesama. Harapanku untuk Yayasan AAT ke depan bisa menunjukkan eksistensinya terus dan berkembang pesat pelayananya kepada anak-anak untuk bisa menggapai cita-citanya. Terimakasih banyak untuk Yayasasan AAT atas bantuan finansial berupa living coast setiap bulan yang sangat membantu sekali untuk memenuhi kebutuhan saya. Dan, terimakasih para donatur yang setia terus dalam mendukung anak-anak untuk bisa melanjutkan sekolahnya. *Tata Adika adalah Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Katolik Widya Karya Malang dan Penerima Beasiswa Yayasan Anak-Anak Terang. Saat ini Adika sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya.

Pengalaman Survei Paling Berkesan Read More »