Kampus Tak Sekedar Tempat Kuliah

retnopic

Nama saya Retno Agustin. Usia saya sekarang ini menginjak 22 tahun. Saat ini, saya kuliah di Unika Widya Mandala Madiun atau WIMA Madiun, mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling.

Di rumah, saya tinggal bersama kedua orang tua saya dan satu kakak perempuan yang sekarang juga menempuh pendidikan S1. Waktu itu, di tahun 2010, saya lulus SMK Jurusan Akuntansi. Namun, saya tidak langsung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena biaya yang terbatas dan kakak saya juga harus membayar kuliah. Akhirnya, saya mencoba bekerja menjadi SPG di salah satu pusat perbelanjaan selama 1 tahun. Hingga tahun 2011, saya memutuskan untuk masuk ke Unika Widya Mandala Madiun.

Awalnya, saya berminat untuk kuliah di jurusan seni atau olahraga, karena hal tersebut merupakan kegemaran saya. Namun, saat itu saya baru saja mengalami kecelakaan dan retak kaki, sehingga saya mengurungkan niat untuk mengambil jurusan olahraga. Apalagi di daerah Madiun, jurusan seni juga tidak ada. Saat itu, saya berpikir untuk tidak mau melanjutkan kuliah di luar kota, mengingat saya tidak pernah jauh dari keluarga. Akhirnya, WIMA menjadi pilihan saya.

Banyak Hal yang Bisa Saya Lakukan di Kampus

Dari awal saya masuk Unika Widya Mandala Madiun, saya mulai bersemangat mengikuti perkuliahan karena kuliah hanya beberapa jam sehari, tidak seperti saat di SMK. Yang paling membuat saya senang adalah karena di kampus WIMA ini banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa saya ikuti. Jadi saya kuliah tidak hanya untuk mendapat pendidikan, tapi juga untuk mengembangkan hobi serta bakat saya.

Saat awal masuk kuliah, saya mengikuti banyak UKM, yaitu UKM Voli, UKM Karate, dan UKM Palawa (Pecinta Alam). Semua olahraga tersebut sudah saya sukai sejak masuk SMP. Namun, saya belum pernah mendapatkan penghargaan apapun dari olahraga tersebut. Meskipun begitu, saya tetap bangga pada diri saya. Selain mengikuti UKM, saya juga dipercaya sebagai Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan koordinator kelas atau ketua kelas.

“Banyak hal yang bisa saya lakukan, yang tidak semua wanita bisa lakukan.”

Saya Harus Punya Target

Saya bisa membuat aksesoris seperti bros dan perhiasan yang kadang saya jual ke teman-teman saya. Saya belajar membuatnya secara otodidak, baik dari televisi maupun internet. Saya berpikir, sebenarnya banyak hal yang bisa saya kembangkan. Namun, saya merasa orang tua saya tidak mengetahui apa yang saya lakukan. Jadi mereka cenderung cuek dengan potensi-potensi yang saya miliki. Bahkan, kadang mereka melarang hal-hal yang saya sukai. Menurut mereka, semua hanya membuang-buang waktu. Namun, saya tidak mudah menyerah.

Ketika saya menginjak semester 3, keuangan keluarga kami mengalami masalah. Sebenarnya, ketika saya akan lulus dari SMK, kami sudah mulai punya masalah itu. Dari keluarga yang cukup mampu, hingga kami harus menjual apa saja untuk menutupi hutang. Sampai saat saya kuliah, masalah tersebut belum bisa teratasi.

Sampai akhirnya, motor yang saya gunakan untuk kuliah juga terjual. Sampai saat saya kuliah harus bergantian dengan kakak, walaupun jadwal dan tempat berbeda. Dan saat itu hampir saja saya ingin berhenti kuliah agar saya bisa membantu orang tua. Namun, orang tua melarang. Apapun yang terjadi, mereka akan berjuang agar saya bisa menjadi sarjana. Di situlah saya mempunyai target agar saya bisa lulus, insya Allah dalam waktu tidak lebih dari 4 tahun. Dan sampai saat ini alhamdulillah kuliah saya lancar. Hingga saya bisa mengambil mata kuliah semester atas, karena IPK saya 3.

Memang, dalam kuliah saya pernah malas-malasan dan kadang tidak masuk. Namun, saya punya target yang harus saya capai agar saya bisa segera lulus dan bisa menjadi konselor yang bisa membantu banyak orang dan juga bisa membantu ekonomi keluarga saya. Selama ini saya merasa belum bisa memberikan apapun kepada orang tua saya dan belum bisa membanggakan kedua orang tua saya. Namun, suatu saat nanti, saya yakin bisa membantu dan membahagiakan orang tua saya.

AAT dan Kegiatannya

 

Kegiatan bersama AAT
Kegiatan bersama AAT

Alhamdulillah, semester 4 lalu saya mendapat beasiswa AAT. Awal menerima beasiwa AAT, saya sangat bersyukur alhamdulilah, karena dengan adanya beasiswa ini benar benar membantu kuliah saya. Kegiatan sebagai penerima beasiswa juga menyenangkan. Ketika ada kegiatan mewawancarai anak asuh itulah yang sangat menyenangkan. Kita jadi tahu kehidupan anak-anak yang kurang mampu, banyak dari mereka yang kehidupannya benar-benar kurang. Namun, masih tetap ada canda tawa dari mereka yang membuat beban dihati mereka terasa berkurang. Hal tersebut membuat saya menjadi sadar bahwa di luar sana masih ada banyak orang yang hidupnya lebih susah dari pada saya. Itu pegalaman saya ketika wawancara anak asuh.

Kalau pengalaman ketika bersama teman-teman penerima beasiswa lainya juga tidak kalah menyenangkan. Awal menerima beasiswa, saya tidak kenal dengan teman- teman penerima beasiswa lainnya meskipun kami satu kampus.

Setelah kenal dan tahu karakter masing-masing, ternyata mereka teman yang baik dan kadang juga suka bercanda. Namun, kadang kalau harus rapat bersama banyak yang tidak datang. Itulah hal yang kurang menyenangkan. Ya, memang bisa dimaklumi karena jadwal kuliah kami tidak sama karena beda jurusan.

Selama menjadi anak asuh AAT, kami bukan hanya santai sesudah menerima beasiswa, tapi kami juga harus bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Bekerja di sini maksudnya adalah mengolah data tentang anak asuh serta wawancara kepada calon anak asuh tingkat sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA/SMK. Selain itu, kami juga harus selalu menjaga agar nilai kami tidak sampai turun, supaya tidak mengecewakan donatur yang sudah membantu membiayai kuliah kami selama ini. Itu bukanlah sebuah beban, hal tersebut malah membuat saya semakin semangat untuk kuliah dan segera lulus. Supaya saya kelak juga bisa membantu anak-anak lain yang kurang mampu. Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan AAT Indonesia yang sudah membantu saya selama ini. Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada donatur yang sudah mau membantu membiayai kuliah saya selama ini. Meskipun saya tidak pernah tahu siapa anda, saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya tidak ingin mengecewakan anda. Dan semoga anda selalu diberi kesehatan. Aamiin.

 

Retno Agustin
Staf Admin AAT Madiun
 
*Retno Agustin adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Madiun. Merupakan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.
 
[qrcode content=”https://aat.or.id/kampus-tak-sekedar-tempat-kuliah” size=”175″]