Kerja Keras adalah Kekuatan Mama

aatstaf

Nama saya Yosita Lianawati, sering disapa Yosita. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Saya memiliki dua adik yang masih sekolah SMA dan SMP, serta satu adik yang masih balita, menginjak usia 4 tahun. Saya berasal dari keluarga sederhana yang mempunyai banyak kekurangan, karena kebutuhan dan jumlah tanggungan yang banyak. Papa saya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang sedikit, yang tidak cukup untuk membiayai kebutuhan kami setiap bulannya. Karena itu, mama saya membantu papa saya untuk mencari nafkah dengan menjadi pembantu rumah tangga.

Saat ini, saya kuliah di STIKOM Yos Sudarso Purwokerto, jurusan SI (Sistem Informasi). Saya sudah menginjak semester 4. Saya bisa kuliah berkat perjuangan mama yang begitu besar agar saya terus bisa melanjutkan pendidikan saya.

Melihat keadaan ekonomi keluarga yang sangat tidak mencukupi, saya merasa kasihan pada kedua orang tua sebab akan menambah beban mereka. Sempat saya berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah, tetapi mama saya berkata, “Kamu harus mendapatkan pendidikan setiggi-tingginya. Jangan seperti mama. Dan buktikanlah kepada orang-orang yang telah memandang rendah kita bahwa kamu bisa menjadi orang yang berhasil.” Kata-kata itu tertanam dibenak saya sampai saat ini dan menjadi motivasi dalam hidup saya.

Bagaimana Saya Bisa Kuliah?

Setelah lulus SMA, saya bimbang. Apa yang akan saya lakukan setelah ini? Apakah saya harus bekerja? Ataukah kuliah? Saya terus bertanya-tanya pada diri saya sendiri.

Kemudian mama saya berkata, “Kamu harus kuliah, bagaimanapun caranya”.

Dengan semangat, mama dan saya mencari informasi tentang universitas yang bisa memberikan beasiswa dan keringanan biaya. Memang banyak universitas yang dapat memberikan keringanan, tetapi tetap saja biaya yang akan dikeluarkan untuk sisa keringanan sangat banyak.

Akhirnya, mama saya sedikit kecewa dan bercerita pada Romo Paroki di Gereja saya. Puji Tuhan, romo tersebut memberikan rekomendasi perguruan tinggi untuk saya.

Dengan bekal nilai yang baik, saya pun mendapatkan keringanan dan sedikit bantuan dari romo. Saya dan orangtua saya sangat bahagia. Saya sangat berterimakasih kepada Tuhan, karena telah mengabulkan doa saya dan mama saya. Tanpa tangan Tuhan, saat ini saya tidak bisa kuliah.

Seiring berjalannya waktu, biaya kuliah semakin menjerat orangtua saya. Karena mereka tidak hanya membiayai saya saja, tetapi juga ketiga adik saya yang juga membutuhkan biaya untuk sekolah dan kehidupan sehari hari. Saya ikut kebingungan, akankah saya berhenti kuliah?

Kerja Keras adalah Kekuatan Mama

Suatu ketika, Romo Paroki mengenalkan saya pada AAT. Apa itu AAT? Mengapa romo mengenalkan saya pada AAT? Pertanyaan itu memenuhi kepala saya sebelum bertemu dengan romo.

Setelah pertemuan dengan romo paroki, akhirnya saya tahu apa itu AAT dan mengapa romo mengenalkan saya pada AAT.

AAT merupakan yayasan sosial yang membantu anak-anak yang kurang mampu di bidang pendidikan formal, membantu anak-anak yang mempunyai niat besar dalam dirinya untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikannya. AAT memberikan beasiswa berupa biaya SPP untuk siswa SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Tidak hanya memberikan beasiswa, AAT juga memberikan perhatian serta kasih sayang pada mereka, sehingga, para anak asuh (penerima beasiswa) lebih bersemangat lagi untuk belajar dan menjadi anak yang memiliki kepedulian yang besar terhadap sesama. Oleh karena itulah romo mengenalkan saya pada AAT. Romo berharap, saya tetap bisa melanjutkan kuliah, meskipun saat itu romo dan mama sangat kesulitan dalam membiayai kuliah saya.

Ketika rekoleksi AAT diadakan di Yogyakarta, saya bertemu dengan banyak orang yang sangat luar biasa. Saya merasa sangat bahagia saat itu. Sampai tiba saatnya saya diwawancarai oleh pengurus AAT. Saya diminta untuk menceritakan kondisi keluarga saya, motivasi saya untuk ke depan, dan motivasi saya untuk bergabung dalam AAT. Saya menjawab dengan semangat semua pertanyaan itu.

Saya ikut bergabung dalam AAT, karena saya ingin tetap melanjutkan pendidikan dan ingin melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu supaya bisa tetap melanjutkan pendidikannya. Saya tahu, saya bukan orang kaya yang bisa dengan mudah mengeluarkan uang. Saya tahu, saat ini saya tidak mungkin bisa membiayai sekolah mereka, karena saya sendiri dalam kekurangan. Namun, lewat AAT ini saya ingin sekali menyumbangkan tenaga dan pikiran saya demi mereka. Saya ingin memberikan apa yang telah diberikan orang-orang baik yang telah membantu saya selama ini.

Akhirnya, tiba saatnya saya dipanggil oleh pengurus AAT. Saya diberitahu tanggung jawab apa saja yang harus saya emban jika menjadi bagian dari AAT, dan sekali lagi saya ditanya kesanggupan serta komitmen saya untuk menolong adik-adik yang kurang beruntung. Karena, jika saya diterima menjadi anak asuh nanti, saya juga harus menjadi staf administrasi AAT yang mengurus administrasi (kuitansi, tanda terima, dan fotokopi rapor siswa) dari sekolah-sekolah yang siswanya mendapatkan Beasiswa AAT.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya diberitahu bahwa saya diterima menjadi anak asuh AAT. Saya sungguh bahagia. Saya mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan, karena lewat tangan-Nya, saya bisa dibantu dan dikuatkan. Saya mengucapkan terima kasih dan tak sabar untuk memberitahu mama saya.

Setelah memberitahu mama, suaranya yang sangat bersemangat, menandakan mama sangat bahagia. Sejak saat itu, saya berjanji akan memberikan kebahagiaan kepada mama dan keluarga saya. Terima kasih mama atas perjuangan yang tiada henti. Terima kasih telah membantu papa mencari nafkah. Terima kasih atas usaha kerasnya demi pendidikan saya.

“Maka kebahagiaanmu adalah impian terbesarku, dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjadi orang yang berguna bagi sesama. Aku sayang mama.”

 

Yosita Lianawati*
Staf Admin AAT Purwokerto
* Yosita Lianawati adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Purwokerto. Merupakan mahasiswa STIKOM Yos Sudarso Purwokerto angkatan 2012.

 
[qrcode content=”https://aat.or.id/kerja-keras-adalah-kekuatan-mama” size=”175″]