Perjuangan Mengenyam Pendidikan

kimiaindustriinside

Perjuangan Salah Satu Anak Bangsa yang Ingin Mengenyam Pendidikan

Seorang remaja lelaki itu masuk kelas dengan wajah yang terlihat pucat pasi, kuyu, dan terlihat lemas. Semakin dia mendekat, kulihat peluh di wajahnya. Kemudian aku sapa dengan senyum, dia duduk di depanku dengan tertunduk pucat.

“Selamat pagi Mas Boy, namamu Boy ya?” (nama disamarkan)

“Selamat pagi Ibu, iya itu nama saya.”

“Kamu kenapa Boy? kamu sakit?”

Dia terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tertunduk lagi. Agak curiga dengan keadaannya, kemudian kupegang tangannya, dingin sekali. Keringat dingin membuat dia terlihat lemas.

“Sudah biasa Ibu, setiap pagi begini,” jawabnya.

“Lho kok setiap pagi? Memangnya kamu sakit?”

“Tidak ibu,” jawabnya lirih.

Karena penasaran, aku membuka biodata anak ini. Sambil membacanya dengan cermat, kuamati wajah anak ini.

Eeh.. “Bruukk..”

Calon penerima beasiswa ini jatuh pingsan.

* * * 

Kira-kira satu jam kemudian remaja lelaki itu kembali masuk, duduk di hadapanku dan berkata, “Maaf Ibu… saya tidak sengaja tadi kok terasa kepala saya berputar.”

Saat dia pingsan aku mencari informasi tentang anak ini kepada gurunya. Dan ternyata, dia adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang tinggal di sebuah desa di Karangjati. Agar dia tidak terlambat sampai di sekolah yaitu di SMK Kimia Industri, dia berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya kira-kira 3 km. Setelah itu, ia mencari tumpangan truk yang menuju ke arah Semarang. Hanya itulah satu-satunya alternatif yang dipilihnya agar dia tidak terlambat, agar dia tidak seperti kedua kakaknya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga hidupnya menjadi miskin.

Tidak ada rupiah disakunya sebagai bekal untuk jajan. Padahal, jam sekolah hingga pukul 3 sore.

“Terus kamu sarapan dan makan siang di sekolah?” tanyaku padanya.

Dia terdiam, cukup lama. Kemudian ia berkata, “ Maaf Ibu, saya malu. Saya tidak pernah sarapan dan makan siang. Saya berangkat dari rumah jam 5 pagi, tentu mamak tidak bisa menyiapkan sarapan dan bahkan kami belum bisa menikmati sarapan sejak kami masih kecil.”

“Orang tua saya tidak mampu untuk memberi uang saku pada saya. Paling ada Rp 1.000,- untuk naik bus bila saya pulang karena tidak ada truk dari sini menuju Karangjati. Kalau naik truk saya bisa gratis menuju rumah. Maaf Ibu, jangankan memberi uang saku, untuk sekolah pun mamak sudah melarang saya karena mamak tidak punya uang untuk bayar SPP”

Anak ini sudah menunggak uang sekolah dari mulai dia masuk hingga saat saya wawancarai.

Sambil lemas ia melanjutkan ceritanya, “Saya akan nekad ikut sekolah meskipun sampai sekolah saya main petak umpet bila melihat ada yang mau nagih SPP. Saya ingin hidup mapan meski saya dari keluarga yang morat-marit, Bu.”

Setelah itu, aku pun pura-pura izin ke kamar kecil sebentar. Dan kemudian, aku menangis sesenggukan di kamar mandi. Betapa kuat nyali anak ini, ”Dia tidak ingin bodoh”

Selesai wawancara, aku pun dan beberapa guru mengantarkan anak yang lemas ini ke rumahnya. Rumah yang jauh sekali dari sekolah. Ini adalah sepenggal cerita duka dari remaja berusia 15 tahun (semester besok remaja ini menempuh ujian SMK)

Mari rekan-rekanku semua, jadilah donatur bagi pejuang-pejuang masa depan negeri kita melalui Yayasan Anak-anak Terang (AAT) Indonesia.

 

Elisabeth Lies Endjang Soerjawati
Bendahara Yayasan AAT Indonesia

 

[qrcode content=”https://aat.or.id/perjuangan-mengenyam-pendidikan” size=”175″]