Pohon Kesabaran yang Berbuah Manis    

Tiara

“Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya”

Menjadi Mahasiswa

Menjadi seorang mahasiswa memang sudah menjadi impian saya sejak dulu. Awalnya saya memang ingin melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri, tentunya itu hanya ada di luar kota Madiun. Namun keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di luar kota tidak dikabulkan oleh kedua orang tua saya, karena semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang dikeluarkan tidak hanya untuk kuliah, tapi juga biaya hidup di sana nantinya. Mengingat bapak saya yang hanya seorang sopir di sebuah instansi pemerintah dengan penghasilan pas-pasan dan ibu saya tidak bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun. Bersyukur saya bisa melanjutkan kuliah.

Bulan September 2011 perkuliahan dimulai. Awalnya menyenangkan, karena impian saya untuk kuliah tercapai. Saya merasakan menjadi seorang mahasiswa dan merasakan diajar oleh dosen. Namanya bukan lagi mata pelajaran, tapi sudah menjadi mata kuliah. Merasakan mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan pakaian bebas di kelas, dengan setumpuk tugas, dan berbagai kegiatan yang ada di kampus. Ya, sangat identik dengan seorang mahasiswa.

Memang berbeda sekali ketika masih di bangku sekolah. Ketika tugas mulai menumpuk, saya harus sering berkunjung ke warnet dan mengeluarkan uang lebih. Harus merepotkan sahabat serta teman-teman untuk pinjam laptop, karena waktu itu saya belum punya laptop. Semuanya demi tugas kuliah yang harus saya selesaikan.

Saya Gagal dan Mencoba Lagi

Satu semester terlampaui. Terbersit keinginan untuk nyambi kerja. Tapi keinginan itu hanya sebatas keinginan saja, masih belum mantap di hati saya. Di semester dua, saya mulai melihat kebingungan orang tua saya, ketika tiba waktunya untuk membayar angsuran biaya kuliah. Hal ini dikarenakan berkurangnya penghasilan sampingan bapak (carteran mobil). Selama ini, penghasilan dari carter mobil itu yang membantu keuangan keluarga kami. Akhirnya saya berusaha mencari informasi beasiswa-beasiswa yang ada di kampus.

Pertengahan semester dua saya mencoba mengajukan beasiswa di kampus. Tetapi saya gagal mendapatkannya. Padahal harapan dan keyakinan saya sudah setinggi langit. Apa boleh buat, belum rejeki saya. Kemudian tak lama setelah itu ada kesempatan beasiswa lagi dan saya mencobanya lagi. Karena beasiswa ini memang sangat menggiurkan buat kami para mahasiswa. Tapi lagi-lagi saya gagal mendapatkannya. Kecewa iya, sedih iya, tapi Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan untuk bersabar dan terus mau berusaha lagi untuk mencoba keberuntungan yang lain.

Ketika menginjak semester tiga, keinginan saya untuk nyambi kerja sangat besar. Bahkan saya ingin pindah kelas malam supaya bisa bekerja penuh. Karena memang keuangan keluarga kami terus menurun dan selalu ada kekhawatiran dalam diri saya saat waktunya membayar cicilan uang kuliah. Takut-takut kalau tidak bisa membayar, tidak bisa ikut ujian, dan akhirnya berhenti kuliah. Harapannya, jika saya nyambi, saya dapat membantu meringankan beban bapak meskipun hanya sedikit.

Akhirnya, saya mulai mencari informasi lowongan pekerjaan. Beberapa kali saya memasukkan lamaran, tetapi tak satu pun yang diterima. Meskipun kecewa, tapi saya masih bersabar dan terus mencari informasi.

Ternyata, Tuhan telah mempersiapkan pekerjaan untuk saya di tempat lain. Mulai April 2013, saya mulai bekerja di salah satu bimbingan belajar. Saya pun masih bisa kuliah tanpa harus berpindah kelas malam. Alhamdulillah penghasilan part time job ini dapat membantu kebutuhan pribadi saya.

Lagi-lagi Gagal

Kesempatan beasiswa yang ketiga kalinya muncul saat saya berada di semester 4. Dan saya mencoba keberuntungan lagi, berharap kali ini bisa saya dapatkan. Tetapi sepertinya keberuntungan belum berpihak kepada saya, lagi-lagi saya gagal. Pengumuman beasiswa itu memang seperti halilintar di siang bolong yang menggoyahkan pikiran, hati, dan semangat saya.

Beberapa hari saya sempat down karena saat itu bapak saya mulai pensiun dan otomatis keuangan kami akan semakin menurun. Bingung bercampur kecewa, karena tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tetapi, untungnya Tuhan memberikan kekuatan pada saya melalui sahabat-sahabat saya yang tidak hentinya terus memberi semangat. Akhirnya kepercayaan saya tumbuh lagi.

Pohon Kesabaran Selalu Berbuah Manis

Tak lama kemudian, saya seperti kejatuhan durian runtuh, mendapatkan rejeki yang bisa digunakan untuk membeli laptop. Saya mendapatkan tugas dari kampus untuk menjadi LO (Liaison Officer) di acara PORPROV Jatim yang diselenggarakan di kota Madiun. Di sana saya bertugas selama kurang lebih 2 minggu dan mendapatkan gaji yang lumayan. Ya, pohon dari kesabaran selama dua tahun akhirnya berbuah juga. Akhirnya saya bisa membeli laptop.

Tidak lama dari itu, saya mendapatkan informasi dari Pak Bernardus Widodo, Wakil Rektor III di kampus saya, bahwa akan ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ANAK-ANAK TERANG dari Yayasan AAT Indonesia atau biasa disebut dengan AAT. Saat itulah saya mulai mengenal AAT. Informasi itu membuat saya semakin bersemangat lagi dan dengan sesegera mungkin saya melengkapi berkas-berkas persyaratan. Kemudian langkah selanjutnya saya harus diwawancarai. Saat itu, saya di wawancarai oleh Bruder Yakobus, CSA. Deg-degan di hati bercampur dengan dingin yang luar biasa, was-was menunggu giliran wawancara.

Setelah masuk ruangan, saya mendapatkan berbagai pertanyaan. Saat menjawab pertanyaan dari Bruder, suasana mulai mencair, dan saya mulai merasa nyaman diwawancarai. Rasanya seperti ngobrol dengan teman sendiri.

Beberapa hari kemudian, tanggal 23 Agustus 2013, saya harus wawancara kembali dengan pengurus AAT. Itu adalah persyaratan terakhir yang harus saya penuhi. Ternyata setelah mereka datang, langsung diumumkan siapa yang lolos beasiswa ini dan menjadi anak asuh AAT. Berdebar sekali rasanya, seperti jantung mau copot. Dari 30an peserta, yang lolos hanya 10 mahasiswa.

Satu persatu nama yang lolos disebutkan. Dalam batin saya, “Kok nama saya nggak disebut-sebut ya.” Saya tambah nervous saat urutan nama ke-7 belum juga disebut. Sempat berpikir negatif, menghela nafas, dan terus menunggu sampai selesai. Dan ternyata nama saya disebut yang terakhir kalinya, urutan ke-10. Lega seketika, hilang rasa cemas, kecewa, yang ada hanya rasa syukur dan gembira. Dan lagi-lagi, pohon kesabaran yang saya tanam berbuah manis. Raut kegembiraan terpancar jelas dari orang tua dan keluarga saya, penantian selama dua tahun.

Terima Kasih AAT

 

Wawancara calon anak asuh AAT di SMP Garuda Parang.
Wawancara calon anak asuh AAT di SMP Garuda Parang

Memang pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Di mana September 2013, awal bapak saya harus pensiun dan saat itu juga saya mulai mendapatkan beasiswa dari AAT. Alhamdulillah beasiswa yang diberikan AAT sangat membantu meringankan beban keluarga saya, sehingga saya masih bisa melanjutkan kuliah sampai sekarang ini. Memang semuanya sudah dipersiapkan oleh-Nya. Kesabaran, kerja keras, dan pantang menyerah memang menjadi kunci dari semua impian yang ingin kita wujudkan. Tidak ada yang gratis di dunia ini, semua harus didapat dengan usaha.

Selain beasiswa yang saya dapatkan, melalui AAT saya juga mendapatkan begitu banyak pengalaman untuk mengembangkan potensi saya. Serta mengetahui bahwa masih banyak anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung kita dan membutuhkan uluran bantuan dari kita. Terimakasih AAT, semoga AAT semakin banyak membawa terang untuk sesama. Semangat dan pantang menyerah!!

 

Survey SMK Bonaventura 2 Madiun
Survey SMK Bonaventura 2 Madiun
Tiara Riszky Ananda*
Staff Admin AAT Madiun

* Tiara Riszky Ananda adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Koordinator Sekretariat AAT Madiun. Merupakan mahasiswi Program Studi Akuntansi, UNIKA Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.

 

 

[qrcode content=”https://aat.or.id/pohon-kesabaran-yang-berbuah-manis” size=”175″]