Saya Berikan Prestasi Terbaik

Risma AATNama lengkap saya Putri Krismawati, biasa dipanggil Risma oleh teman-teman. Saya adalah anak yatim sebab ayah telah meninggal dunia pada tahun 2006. Di keluarga, saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara dengan dua orang adik, semuanya adalah perempuan. Adik pertama berjarak 6 tahun, sedangkan adik kedua berjarak 12 tahun.

Ketika ayah meninggal, saya merasa sedih. Ibu yang kemudian menanggung beban 3 orang anak. Yang lebih menyedihkan bahwa saat ayah meninggal, adik terkecil belum mengetahui ayahnya seperti apa.

Seiring berjalannya waktu, saya bisa lulus SMA di Magelang. Saya mempunyai impian menjadi orang yang sukses dan berhasil agar bisa membantu orang tua, juga membiayai kedua adik saya. Setelah saya lulus SMA saya ingin kuliah walaupun tidak tahu siapa yang akan membiayai. Saya tidak berhenti mencoba walaupun dengan keadaan keluarga yang sangat minim.

Pada awalnya saya mencoba mendaftar di Universitas Atma Jaya Yogjakarta dan beberapa perguruan tinggi yang lain. Setelah tahu bahwa diterima semua, pada saat itu saya bingung untuk memilih dan juga bingung siapa yang akan membiayai kuliah. Saya berusaha bicara dari hati ke hati dengan tante yang mempunyai keuangan yang lebih, namun apa daya saya malah dicaci maki dan dihina. Setelah itu nenek berusaha bagaimana cara untuk bisa membiayai kuliah saya.

Saat itu saya tidak putus semangat. Saya berinisiatif untuk mencari pekerjaan untuk mengumpulkan uang. Akhirnya saya dapat pekerjaan di Jogja menjadi pelayan toko. Beberapa bulan bekerja di tempat itu, namun hasilnya tetap belum bisa untuk membayar kuliah.

Suatu ketika nenek menelepon saya dan menyuruh pulang ke rumah. Ketika sampai rumah, saya kaget karena nenek menyerahkan uang senilai 5 juta rupiah untuk membayar angsuran biaya kuliah yang pertama. Saya bahagia karena akan menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas, dan mungkin ini adalah awal anak tangga untuk meraih impian menjadi orang sukses.

Setelah menjadi mahasiswi, saya masih banyak permasalahan ekonomi ((biaya kost, biaya hidup dan biaya transport)), juga bingung hendak dengan cara apalagi untuk membayar angsuran biaya kuliah berikutnya. Oleh sebab hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan pialang. Semua itu saya lakukan untuk menambah uang untuk hidup di Jogja termasuk juga untuk membayar kost.

Pada akhir semester pertama saya mendapatkan hasil yang tidak memuaskan. Saya menyesal sekali karena kesibukan pekerjaan menganggu konsentrasi kuliah saya. Saya bertambah bingung karena nilai yang didapat sangat tidak memuaskan. Bagaimana bisa menaiki anak tangga selanjutnya jika hanya melangkah tidak sepenuh hati? Saya sadar dan merenungi apa yang sudah ditempuh saat semester satu yang lalu.

Mengenal Anak Anak Terang

Akhir semester satu saya mengenal Anak Anak Terang (AAT). Di AAT saya ikut melayani sebagai Pendamping Komunitas (PK) atau yang sering disebut sebagai Staff Admin untuk beberapa sekolah. Saya merasa senang karena bisa ikut melayani orang lain. Melalui pelayanan ini juga, membuat saya menyadari bahwa masih ada orang lain yang di bawah kita.

Awal semester dua saya kembali bingung bagaimana caranya membayar uang SPP tetap dan Variabel. Saya tidak mungkin minta dengan ibu, karena beliau juga berpenghasilan minim. Hanya pas untuk makan dan memberi uang saku adik-adik. Saya bercerita dengan nenek saya dengan keadaan yang saya alami saat itu. Nenek memberikan cicin dan anting untuk digadaikan agar saya tetap bisa kuliah. Saya merasa sedih karena kuliah ini menjadi beban untuk nenek. Setelah itu saya berfikir apakah saya bisa menjadi anak asuh dalam pelayanan AAT yang saya ikuti?

Saya berusaha mencari informasi bagaimana caranya untuk menjadi anak asuh. Pada saat itu saya berkonseling dengan Romo Vidi, Ibu Lies, dan Romo Agus. Saya tak henti-henti berdoa agar bisa melawati tahap seleksi anak asuh. Semua proses sudah saya lewati hingga pada akhirnya tinggal menunggu hasil dari semester dua untuk menjadi persyaratan yang utama. Sayangnya ada satu nilai yang menjatuhkan. Hancur sudah hati ini karena melihat nilai itu. Namun ada kawan yang juga menjadi anak asuh yang terus memberi semangat untuk saya memperbaiki nilai (Ujian Remidi) agar dapat memenuhi syarat sebagai anak asuh.

Di akhir semester saya mendapatkan nilai yang menjadi syarat untuk menjadi anak asuh. Sungguh tidak menyangka bila dapat kuliah lagi. Andai saya tidak menjadi anak asuh,  saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja. Namun kuasa Tuhan sangat luar biasa. Saya yakin dan percaya Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya.

Saya akan belajar sungguh-sungguh untuk memberikan yang terbaik buat orang tua serta donatur yang telah membiayai saya dan mempercayai saya untuk menjadi anak asuh mereka. Meskipun belum dapat mengenal siapa donatur yang telah mau membiayai namun saya mengucapkan terima kasih, sebab para donatur telah mau berbagi dengan menyisihkan sebagian rejekinya guna membiayai pendidikan saya.

Saya tidak dapat membalas kebaikan donatur, tetapi saya akan memberikan prestasi yang terbaik di antara yang baik. Semoga donatur selalu diberkati Tuhan dan dimudahkan segala usaha dan urusannya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Romo Vidi , Ibu Lies, Romo Agus, Ibu Komang, dan Bapak Hadi selaku ketua Yayasan AAT Indonesia saat ini. Tanpa mereka, saya tidak akan bisa mendapatkan beasiswa. Sungguh luar biasa, Tuhan telah memberikan jalan untuk saya menjadi yang terbaik.

 

Putri Krismawati
Staff Admin AAT Yogyakarta

 

[qrcode content=”https://aat.or.id/saya-berikan-prestasi-terbaik” size=”175″]