Belajar berbagi Kasih Bersama AAT

Oleh: Brigita Etik Purwaningsih, BPT Sekretariat Madiun.

Saya mengenal AAT sudah sejak saya masih SMP di SMPK “Harapan Slahung” saat itu saya kelas 2 SMP. Untuk biaya SPP dibantu oleh AAT. Kemudian saya melanjutkan ke SMK St. Bonaventura Madiun.  Saat itu setelah selesai ujian saya langsung bekerja di Madiun, ada rencana untuk kuliah tetapi saya lebih memilih bekerja karena biaya yang minim untuk masuk dan mendaftar diperguruan tinggi. Tetapi Tuhan memberi jalan berbeda, saya bertemu dengan 2 AAPT di sekre Madiun yang menawarkan kepada saya untuk menjadi BPT di sekre Madiun, dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut. Pada tahun 2019 ini saya melakukan wawancara bersama kakak-kakak AAPT yang sudah lulus, walaupun banyak dari mereka sudah lulus tetap ingin membantu melakukan wawancara calon anak asuh. Mereka tetap semangat ketika saya meminta bantuan untuk wawancara diberbagai tempat. Untuk tahun ini saya tidak bisa menjangkau kabupaten Blora Jawa Tengah karena keterbatasan tenaga. Di kabupaten blora Jawa Tengah terdapat 2 komunitas, dari dua komunitas itu yang diajukan untuk mendapatkan beasiswa AAT sekitar 60 siswa, karena keterbatasan tenaga itu, kami melakukan wawancara secara online melalui google duo, saya dibantu oleh 3 orang yaitu Mbak Dwi, dan Mbak Elbas serta Mas Janis. Kami menyelesaikan wawancara itu sekitar 3 hari karena ada kendala jaringan. Hal yang seru ketika wawancara adalah mendengarkan adik-adik calon anak asuh yang bercerita dengan antusias. Hal yang paling berkesan bagi saya saat wawancara di sekolah saya dulu yaitu SMPK “Harapan” Slahung Ponorogo. Di sekolah itu siswa kelas 1 hanya 5 orang tetapi mereka masih semangat untuk melanjutkan pendidikan. Salah satu dari mereka ada yang bernama Rohmat. Rohmat adalah anak tunggal saat ini rohmat tinggal bersama ibunya menumpang di rumah pamannnya. Sejak Rohmat kecil, ia tidak pernah bertemu dengan sosok ayah karena memang sejak kecil sudah ditinggalkan. Bahkan keluarga maupun tetangga merahasiakan keberadaan ayahnya. Rohmat dan Ibunya tidak memiliki rumah sendiri.  Ibunya setiap 5 hari sekali datang kerumah tetangganya untuk menawarkan jasa mencuci baju dengan upah yang tak seberapa, karena memang tidak ada pekerjaan lain. Bahkan untuk keperluan sehari-hari tidak cukup. Rohmad tidak memiliki handphone selayaknya teman sebayanya, dan dia tidak pernah mengeluh tentang hal itu. Ketika pulang sekolah iya juga menyempatkan diri untuk membantu pamannya berjualan, sebagai balas budi karena sudah diberi tempat tinggal.  Ia juga jarang sekali mendapatkan uang saku dari ibunya. Saat itu ia sangat berharap mendapatkan bantuan SPP dari AAT. Dan saat ini harapannnya diwujudkan oleh AAT, Rohmat menjadi salah satu anak asuh beasiswa AAT 2019/2020. Semoga dengan adanya Yayasan Anak-Anak Terang ini,  dapat memberikan cahaya terang bagi mereka yang memiliki semangat melanjutkan pendidikan untuk mengapai cita-cita mereka. dan semoga dengan adanya AAT ini dapat memberikan lebih banyak harapan pada mereka yang hilangan harapan sekolah karena biaya.  Saya juga mengucapkan terima kasih pada seluruh pengurus AAT yang ada di seluruh Indonesia yang dengan kasih mau membantu. Berkah Dalem.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *