Artikel

Saya Berubah Berkat AAT

“Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik.”  PERKENALKAN, Saya Edo Prakosa, relawan Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia Sekretariat Semarang. Saya seorang muslim, lahir di Semarang tanggal 29 Maret 1994. Saat ini, saya kuliah di AKIN (Akademi Kimia Industri) St. Paulus Semarang, Semester IV. Di AKIN, saya dipercaya sebagai ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), dan di AAT ini, saya sebagai Koordinator Sekretariat AAT Semarang. Kedua orang tua saya merupakan pekerja keras. Tiap pagi jam 4, ayah sudah bangun untuk pergi ke pasar. Beliau di pasar bekerja menata dan menjaga kendaraan, baik roda dua maupun roda empat agar tampak rapi dan terhindar dari pencurian sampai jam 7 pagi. Sore harinya, sekitar jam 3, beliau ke ruko untuk menjaga keamanan di sana sampai jam 5. Ya, penjaga keamanan yang tidak pernah memakai seragam. Ibu saya bekerja berjualan nasi dan minuman di depan ruko dengan gerobak bersama tetangga saya. Pekerjaan dibagi dua, Ibu bagian memasak dan menyiapkan yang lainnya, sedangkan tetangga saya yang berjualan. Nantinya, keuntungan tiap hari akan dibagi dua. Saya lahir di sebuah keluarga yang istimewa. Sekilas tampak dari kondisi keluarga yang harmonis dan sangat tercukupi. Namun, hal itu kadang tidak selalu benar. Kebiasaan buruk ayah saya dari muda sampai sekarang masih belum bisa dihilangkan. Karena memang ayah saya sejak kecil lahir dan hidup di lingkungan yang keras. Ayah kadang pulang dalam keadaan sempoyongan. Hal itulah yang memicu seringnya terjadi cekcok dalam keluarga saya. Berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan ayah, sudah saya lakukan. Tetapi masih tetap sama, tidak ada perubahan. Meskipun begitu, itu semua tetap saya hadapi dengan sabar dan kuat. Walau sebenarnya dalam hati ingin berteriak sekeras-kerasnya, karena tidak tahan melihat keadaan keluarga saya yang seperti itu. Saya Berubah Berkat AAT Semasa SMP dan SMK, saya dikenal sebagai sosok yang pendiam dan cuek. tapi kadang suka membuat teman-teman tertawa. Bahkan, saking cueknya, beberapa teman saya mengira bahwa saya seorang anak yang sombong. Padahal bagi yang sudah mengenal saya, hal itu sangat jauh berbeda. Semasa sekolah, saya belum aktif berorganisasi. Namun saya dikenal anak yang rajin dan cukup pintar. Itu kata teman-teman saya. Sebelum lulus SMK, saya sudah diterima kerja di Pabrik Cat asli Indonesia yaitu PT. Propan Raya ICC Tangerang. Saya hanya bekerja selama setahun karena ada desakan dari orang tua yang belum bisa melepas saya untuk bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di AKIN St. Paulus Semarang, karena di sana banyak beasiswa prestasi yang ditawarkan dan lulusannya juga tidak kalah dengan PTN lainnya. Di AKIN St. Paulus inilah saya mulai berubah 180 derajat. Sebelum bertemu AAT, saya masih pendiam, dingin, malu tampil di depan umum, dan parahnya gaptek media sosial (buat akun facebook saja baru bulan Agustus 2012). Bulan Juni 2013 merupakan “pandangan pertama” saya dengan AAT. AAT yang multikultur yang tanpa membeda-bedakan agama, membuat saya tanpa berpikir panjang langsung mengikuti kegiatan AAT tiap akhir pekan. Hal itu berkat ajakan teman saya, Handy. Kegiatan-kegiatan di AAT seperti survei di sekolah-sekolah untuk mewawancarai calon anak asuh, yang nantinya anak tersebut akan mendapat beasiswa untuk pembayaran SPP. Kesan pertama bergabung di AAT, saya sangat senang sekali karena bisa jalan-jalan sambil berkegiatan sosial. Namun di tengah perjalanan kadang terdapat kesulitan. Meskipun begitu, AAT telah memberi saya banyak manfaat. Karena AAT yang membuat saya berani berbicara di depan umum, berani diberi tanggung jawab, dan berani menjadi pemimpin. Bimbingan, arahan, dan nasehat yang keras dari para pengurus AAT yang membuat saya seperti sekarang ini. Banyak hal yang saya dapat selama bergabung dengan AAT. Dari perubahan sikap, pengendalian emosi, pembagian waktu yang efektif, pola pikir yang lebih dewasa, dan yang terutama selalu memegang komitmen dan bertanggung jawab. Relawan AAT tidak sekedar relawan. Kami para relawan dilatih untuk menjadi seorang yang mandiri dan kelak akan menjadi bagian dari pemimpin negeri ini. Sebenarnya bukan relawan, melainkan pekerja. Pekerja sosial ! Karena selain membantu anak-anak yang kurang mampu dengan waktu dan tenaga yang dimiliki, di AAT diajarkan juga untuk memiliki target. Tentu saja target memenuhi kuota donatur bagi para anak asuh. Pengalaman Bersama AAT   Bulan Agustus dan Januari merupakan bulan tersibuk bagi semua jajaran AAT baik pengurus maupun relawan. Kenapa? Karena pada bulan tersebut terjadi suatu peristiwa paling heboh dan ramai yaitu “lelang anak”. Ingin tahu seperti apa? Ikuti saja terus kegiatan AAT melalui web AAT di www.anakanakterang.web.id ataupun sosial media AAT, bisa FB grup (Anak Anak Terang), Fanpage (Anak Anak Terang), atau Twitter @beasiswaaat. Di bulan-bulan itu para relawan dan pengurus bekerja sama mencari ratusan donatur yang nantinya akan membiayai SPP anak asuh, baik lewat jejaring sosial maupun lewat jaringan lain seperti teman kerja, teman kuliah, dan orang-orang terdekat lainnya. Jaringan AAT sangat luas, sehingga kami selalu mendapatkan banyak pertolongan dari orang-orang yang tergerak hatinya untuk membantu. Banyak tantangan dan kegiatan selama menjadi relawan AAT khususnya. Dimulai dari mengatur kegiatan survei, pencarian dana, input data anak asuh, mencari donatur, mengirim raport anak asuh, dan masih banyak lagi. Belum lagi secara tidak langsung mendapatkan ilmu public speaking, jurnalistik, dan sosial media. Seru dan menegangkan tentunya. Saya di lingkungan AAT merasa sedang masuk dalam labirin, di mana kadang kita menemukan jalan berlika-liku, buntu, dan akhirnya menemukan jalan keluar yang lain lagi. Sungguh tantangan yang luar biasa. Saya percaya setelah menguasai lika-liku labirin ini, banyak hal yang akan saya peroleh untuk bekal menjadi manusia bagi manusia lainnya, yaitu manusia yang peduli akan sekitarnya, manusia yang meyakini bahwa apa yang kita beri ke orang lain pasti juga nantinya akan kembali ke diri kita sendiri. Terima Kasih Mas Christ Widya, Mami Elisabeth Lies Endjang, Br. Conradus, CSA, yang sudah menjadi sosok penting dalam perjalanan hidup saya sekarang, nanti, dan selamanya.   Edo Prakosa* Staff Admin AAT Semarang * Edo Prakosa adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Koordinator Sekretariat AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang angkatan 2012.   [qrcode content=”https://aat.or.id/saya-berubah-berkat-aat” size=”175″]  

Saya Berubah Berkat AAT Read More »

Meskipun Berbeda tetapi Saya Bisa

“Kekurangan tidak menjadi penghalang bagiku untuk mewujudkan impian..” Saya Berbeda Nama saya Emy Prihatin, lahir di Pacitan, 31 Agustus 1994. Tempat tinggal saya di RT 01, RW 01, Dusun Krajan, Desa Wonokarto, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Saya adalah anak tunggal yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Saya sangat bersyukur karena keluarga sangat menyayangi saya meskipun kondisi saya yang seperti ini. Ya, saya berbeda dengan anak lainnya. Ayah saya adalah seorang petani dan ibu saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk membantu membiayai biaya hidup kami sehari-hari. Saya menimba ilmu sejak umur lima tahun. Berawal dari Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita selama satu tahun, kemudian dilanjutkan ke SD Negeri Wonokarto I pada tahun 2000 dengan uang saku 300 sampai 500 rupiah waktu itu. Masa-masa TK dan SD bisa dibilang masa perkenalan bagi saya. Saya pun sangat minder dengan kondisi saya yang tidak seperti anak lainnya. Ketika SD sampai SMP saya sering sakit-sakitan. Sampai akhirnya waktu SMA sakit-sakitan itupun hilang. Operasi? Dulu, ketika saya masih kecil, saya sempat mau dioperasi bibir sumbing. Namun gagal karena saya demam dan menangis. Itu kata kedua orang tua saya. Kejadian tersebut waktu saya masih sangat kecil, sehingga saya tidak bisa mengingatnya. Saya teringat ketika kelas VI SD, ketika itu wali kelas memanggil di ruangan kelas, tetapi teman-teman saya sudah keluar. Saya tinggal sendiri di ruangan itu bersama dengan wali kelas. Saya pun sempat berpikir mengapa saya dipanggil? Apa mau dihukum? Saya salah apa? Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu pikiran saya. Guru pun langsung memulai pembicaraan tanpa basa basi. “Kamu kan sudah mau ke SMP, apa kamu nggak mau operasi?” tanya guru. Saya terdiam tidak menjawab. “Apa kamu nggak malu waktu SMP nanti kalau kamu nggak operasi?” tanya guru kembali. Saya masih terdiam. Seketika saya langsung pucat dan tubuh saya mendadak dingin. Saya hanya bisa menjawab “iya” dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan guru saya waktu itu. Tetapi, meskipun saya menjawab iya, saya tetap tidak operasi karena perasaan takut yang menyelimuti. Setelah kejadian itu, di tahun 2006 saya pun alhamdulillah lulus dengan hasil yang cukup memuaskan. Saya Berbeda tetapi Saya Bisa Dengan hasil nilai yang saya dapatkan, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke SMP Negeri 2 Ngadirojo hingga akhirnya diterima dan masuk ke kelas VII A. Di SMP ini saya masih sakit-sakitan. Dengan seragam baru putih-biru, saya mulai mendapatkan teman baru. Kegiatan belajar pun dimulai dengan suasana baru. Saya mulai beradaptasi dengan hal-hal yang baru pula. Di kelas VIII, saya mulai mengikuti kegiatan ekstra kurikuler seperti PMR dan KIR (Karya Ilmiah Remaja). Selain itu, saya juga mengikuti kursus komputer di luar sekolah. Ketika kelas VIII saya hampir tertabrak sepeda motor setelah terjatuh dengan lutut luka. Menginjak kelas IX saya mulai fokus untuk belajar dalam menghadapi UAN. Akhirnya pada tahun 2009, saya lulus dengan hasil yang memuaskan. Meski tidak mendapat juara 1, namun masih bersyukur mendapatkan juara 3. Setelah lulus dari SMP saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Ngadirojo. Saya sangat menyukai tantangan, sehingga mulai kelas X saya aktif mengikuti ekstra kurikuler Saka Bhayangkara dan Pramuka sebagai junior. Di dalam ekstra kurikuler ini saya belajar bagaimana menjadi seorang yang disiplin dan memiliki mental yang kuat. Dan alhamdulillah di SMA saya sudah tidak sakit-sakitan lagi. Dan pada tahun 2010 saya naik ke kelas XI dengan mengambil jurusan IPA. Setelah satu tahun mengikuti ekstra kurikuler Saka Bhayangkara dan Pramuka, akhirnya saya menjadi seorang senior yang akan mengajar adik kelas yang baru. Di dalam organisasi ini, saya dipercaya untuk menjadi seorang bendahara. Meskipun tidak mudah untuk menjadi seorang bendahara, tetapi saya berusaha sebaik mungkin bagaimana untuk mengelola kas yang masuk dan kas yang keluar. Dan di tahun yang sama saya terpilih menjadi anggota OSIS sebagai seksi kreativitas. Saya sangat senang, karena impian untuk menjadi anggota OSIS bisa terwujud. Kegiatan OSIS, Pramuka, dan Saka Bhayangkara pun semakin padat. Saya harus bisa membagi waktu sebaik mungkin untuk belajar mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Di pertengahan kelas XI, saya pun dipercayai oleh guru untuk mewakili olimpiade FISIKA tingkat SMA. Meskipun sempat merasa kecewa ketika mendapatkan hasil yang tidak memuaskan, tetapi saya tetap bersyukur. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah saya juga mencoba untuk mengikuti lomba KIR di sekolah dan bisa mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Lagi-lagi Pertanyaan yang Sama Suatu ketika, saya bersama teman pergi ke kantin untuk sekedar beli makanan kecil. Dan sepulangnya dari kantin, tiba-tiba saya dipanggil oleh kepala sekolah untuk ke ruangannya. Dalam otak saya berfikir ada apa gerangan sampai dipanggil oleh kepala sekolah? Sebelum saya berhenti berfikir, kepala sekolah pun langsung menyapa dengan ramah dan dengan senyumnya yang khas. Tanpa basa basi beliau pun bertanya, “Sebelumnya maaf ya, Em. Kenapa kamu tidak mencoba untuk operasi?” Suaranya sangat pelan, mungkin takut saya tersinggung. Dan “deg..” Lagi-lagi pertanyaan itu. Jantungku serasa berhenti sejenak. Saya pun langsung menjawab dengan singkat “Tidak, Pak”. Kepala sekolah menyambung, “Kenapa? Apa kamu takut?” jelasnya. “Bukan masalah takut nggaknya, Pak. Memang saya nggak mau operasi. Saya sudah sangat bersyukur dengan apa yang diberikan Allah untuk saya. Masih banyak orang yang lebih menderita dari saya. Saya tidak mau mengubah nikmat yang sudah Tuhan berikan kepada saya. Ini memang sudah takdirnya, Pak.” Lalu Kepala sekolah saya menyambung dengan sangat lembut dan penuh pengertian, “Ya kalau kamu operasi, itu bukan mengubah nikmat Tuhan, tetapi hanya memperbaiki saja supaya menjadi lebih baik. Ibarat baju yang kotor dicuci biar bersih. Bukan mengubah nikmat Tuhan,” jelasnya. Saya hanya diam. Memang saya tahu itu bukan mengubah nikmat Tuhan, tetapi tidak tahu mengapa hati kecil saya mengatakan “TIDAK!!” Ketika itu saya tetap bersikeras untuk tidak operasi meskipun kepala sekolah tetap meyakinkan saya. Dan pada akhirnya beliau menjabat tangan saya seraya berkata, “Iya nggak apa-apa. Saya salut sama kamu. Tetap semangat ya.” Saya mencoba untuk tersenyum, menahan air mata yang ingin tumpah. Saya segera permisi untuk kembali ke kelas. Bahkan, entah mengapa sampai sekarang hati kecil saya tetap berkata tidak untuk operasi, meski selalu ada tawaran untuk operasi dari berbagai pihak. Pernah saya menangis semalaman meratapi hidup saya. Sampai menyalahkan Tuhan kerena putus asa. Saya tahu itu salah. Tak seharusnya menyalahkan Tuhan. Itu adalah hal yang terbodoh yang

Meskipun Berbeda tetapi Saya Bisa Read More »

Keajaiban dari Tuhan melalui AAT

MUKJIZAT selalu datang bila kita percaya kepada Tuhan. Itulah yang saya dapatkan, mukjizat dari Tuhan yang datang melalui Anak-Anak Terang (AAT) kepada saya. Berikut ini, saya akan sharing kepada teman-teman sekalian tentang pengalaman saya. Ketika saya duduk di bangku SMA, setiap tahun, sekolah saya mengadakan pameran pendidikan. Banyak perguruan tinggi yang ikut serta dalam pameran tersebut. banyak sekali stand-stand yang menawarkan dan mempresentasikan perguruan tinggi mereka. Teman-teman saya sangat antusias setiap tahunnya ketika diadakan pameran tersebut, karena memang latar belakang keluarga mereka yang berkecukupan sehingga membuat mereka yakin untuk memilih ke mana mereka akan melanjutkan studi mereka. Sedangkan saya hanya mengunjungi beberapa stand saja, karena saat itu ada tugas guru untuk menuliskan laporan tentang perguruan tinggi tersebut. Hingga akhirnya di tahun ketiga saya bersekolah dan hendak lulus, ketika pameran pendidikan itu diadakan kembali, dengan perasaan senang saya melihat teman-teman saya yang didampingi orang tua mereka untuk mendaftarkan diri ke sebuah perguruan yang mereka pilih. Namun di saat yang bersamaan pula, saya sedih hanya bisa melihat kegembiraan dan keantusiasan mereka karena keterbatasan biaya yang saya alami. Saya, Maria Elisabeth Roberta, kebetulan saya lahir di keluarga yang berkecukupan. Orang tua saya bekerja di bidang tekstil (batik) di bawah bimbingan nenek saya. Kemudian di tahun 2006 ketika itu saya duduk di bangku 6 SD, nenek saya meninggal dunia dikarenakan kanker lambung yang ia derita selama satu tahun. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan nenek saya tidaklah sedikit, sehingga ayah saya harus berhutang kepada bank dengan jaminan rumah kami di Pekalongan. Dan pada akhirnya rumah kami disita oleh bank, di tahun yang sama ketika nenek saya meninggal. Masa itu adalah masa tersulit yang tengah dihadapi oleh ayah saya karena setelah kehilangan ibunya ia juga harus kehilangan rumah yang telah Ia tinggali selama 19 tahun. Akhirnya, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Ketika di Jakarta, ayah saya tidak memiliki pekerjaan. Ia berniat membuka usaha lain selain batik, tetapi segala yang Ia lakukan hanyalah sebuah niat yang tak tersalurkan. Sehingga selama 3 tahun kami tinggal di Jakarta, ayah kami tidak bekerja dan hanya mengandalkan aset yang Ia miliki. Akhirnya seluruh aset yang ayah saya miliki kini habis dan ayah pun berhutang pada saudara dari ibu saya. Ketika tahun 2009, ayah saya memutuskan untuk kembali ke Pekalongan untuk merintis batik kembali. Seketika itu juga saya dan keluarga saya kembali ke Pekalongan. Saya dan keluarga saya mengontrak di sebuah rumah kecil di Pekalongan yang setiap tahunnya selalu terkena banjir ketika musim hujan. Seiring berjalannya waktu, ketika Ayah saya merintis batik kembali, Ia mengalami kerugian yang banyak sekali sehingga mengharuskan ayah berhutang lebih banyak lagi kepada saudara dan teman-temannya. Dan akhirnya pekerjaan apapun Ayah lakoni dan menyingkirkan ego dan gengsinya. Dari menjadi supir sampai membantu tetangga kami pindahan rumah. Apapun akan Ayah kerjakan asalkan dapat menghasilkan uang, sehingga setiap bulannya Ayah kami tidak memiliki penghasilan tetap. Kakak saya pun akhirnya menunda kuliahnya selama 2 tahun untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. Ketika kakak saya bisa kuliah, Ia beberapa kali dipanggil oleh Kantor Keuangan UAJY karena tunggakan yang Ia miliki. Hingga akhirnya pada semester 4, Ia direkomendasikan oleh Pak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan UAJY untuk bergabung dengan Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia. Akhirnya Saya Menjadi Seorang Mahasiswi Ketika saya lulus di tahun 2012, karena saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, saya bekerja. Awalnya saya bekerja sebagai Staff Administrasi di salah satu toko elektronik di Pekalongan. Di pertengahan tahun 2013, saya ditawari oleh ayah saya untuk bekerja di Jakarta. Karena gaji yang lebih tinggi, saya pun pindah ke Jakarta. Namun karena tekanan dari atasan saya yang begitu besar, akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri (resign) dan kembali ke Pekalongan. Sesampainya saya di Pekalongan, saya diajak kakak saya untuk mencoba mengajukan beasiswa AAT. Tuhan memang selalu datang di waktu yang tepat! Ia tidak pernah terlambat dan selalu menolong hambanya tepat pada saat saya menghadapi keputusasaan bagaimana saya akan melanjutkan studi saya. Saat itu setelah mendengarkan ajakan Kakak, saya langsung ke Jogja dan membawa berkas-berkas yang saya butuhkan untuk mendaftarkan diri ke beasiswa AAT. Besar harapan saya agar dapat lolos dalam seleksi AAT. Saya terus berdoa dan memohon kepada Tuhan agar saya dapat lolos dan mendapatkan beasiswa dari AAT, agar saya dapat mewujudkan cita-cita saya dan dapat membantu perekonomian keluarga saya bila kelak saya lulus nanti. Dan keajaiban pun terjadi, ternyata saya lulus untuk mendapatkan beasiswa AAT. AAT akhirnya membantu saya dalam melunasi tunggakan yang diperlukan agar saya dapat masuk ke universitas yang saya kehendaki. Pada bulan Agustus 2013, saya resmi menjadi mahasiswi di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) dan mengambil jurusan D3 Perhotelan. Walaupun saya terpaksa melewatkan masa OSPEK atau pengenalan kampus di bulan Juli, tapi saya sangat senang sekali. Dengan bantuan yang diberikan oleh AAT, saya dapat kuliah. Selain menjadi mahasiswi di STIPRAM, saya juga aktif dalam UKM Pastry setiap hari Selasa dan kegiatan senam pagi setiap hari Jumat. Tidak hanya kegiatan kampus, kegiatan lain yang saya lakukan yaitu kegiatan luar kampus, seperti mengikuti casual-casual (pekerjaan freelance di hotel) beberapa kali, tetapi tidak sering karena terkadang jadwal kuliah dengan casual sering kali bentrok. Jadi saya hanya mengikuti casual di saat saya tidak ada kelas saja. Dan juga menjadi pagar ayu di event organizer di Solo di akhir minggunya. Menjadi Staff Admin di AAT Dengan mendapatkan beasiswa dari AAT, konsekensi yang saya terima adalah selain belajar dengan rajin, saya juga harus menjadi Staff Administrasi atau biasa disebut sebagai Pendamping Komunitas (PK) di AAT. Saya sama sekali tidak terbebani dengan hal ini, karena saya juga ingin berbuat sesuatu kepada AAT yang sudah mau membantu saya dengan beasiswa yang diberikan agar saya dapat kuliah. Ketika pertama kali menjadi Staff Administrasi di AAT, awal mulanya saya cukup bingung dan beberapa kali melakukan kesalahan saat input data. Beruntung kakak-kakak pembimbing dengan penuh kesabaran selalu mengingatkan saya dan memberikan dukungan kepada saya agar saya tidak down dengan kebingungan yang saya alami. Sekitar tanggal 11 November 2013, saya bersama kakak PK lain mengadakan survei ke SMP Kanisius Gayam. Di sana banyak anak-anak yang latar belakang keluarganya juga kurang mampu, bahkan jauh di bawah saya. Ada

Keajaiban dari Tuhan melalui AAT Read More »

Bantuan Komputer untuk SMK Santo Yusuf Mejayan Madiun

Minggu, 5 Januari 2014, Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia memberikan bantuan 4 unit komputer dan 1 unit printer untuk SMK Santo Yusuf Mejayan Madiun. Komputer dan printer tersebut dibawa dari Semarang oleh Om Adhi, salah satu relawan AAT dari Semarang. Bantuan komputer diberikan oleh AAT karena kondisi komputer di SMK Santo Yusuf Mejayan sudah sangat memprihatinkan. Dari 5 komputer yang ada, hanya satu yang berfungsi dengan baik. Itu pun processornya masih Pentium III. Kondisi komputer yang ada saat ini menghambat proses pengajaran komputer di sekolah. Komputer yang disumbangkan adalah komputer yang bertipe Nettop (Netbook Desktop) dengan processor Dual Core AMD E350, RAM DDR3 4GB, Harddisk 320 GB, dan dengan monitor LED 16 AOC sebanyak 4 unit. Komputer ini bisa dibilang komputer canggih dengan kinerja desain grafis platform netbook. Meskipun canggih, komputer ini tidak boros listrik dan lebih ringkas karena bentuknya yang simpel. Karena pertimbangan itulah AAT memilih mini PC tersebut. Selain itu, AAT juga menyumbangkan 1 photo printer inkjet. Printer tersebut mampu mencetak dengan kecepatan hingga 4,8 ppm. Diharapkan, untuk kedepannya siswa dapat memanfaatkan komputer dan printer itu dengan semaksimal mungkin. Sebelum menuju ke Sekolah, Om Adhi singgah ke Universitas Katolik Widya Mandala Madiun untuk menemui teman lamanya yaitu Pak Anton. Pak Anton merupakan salah satu dosen Fakultas Psikologi di Universitas Widya Mandala Madiun. Dan ternyata sebelumnya, Om Adhi sudah pernah ke kampus, namun sudah bertahun-tahun lamanya, yaitu sekitar 13 tahun yang lalu. Setelah sedikit ngobrol dengan Pak Anton dan beberapa Pendamping Komunitas (PK) Madiun, Om Adhi berangkat ke sekolah SMK Santo Yusuf Mejayan dengan ditemani 3 PK yaitu Tiara, Rike, dan Novi Bria, serta 1 dosen Universitas Katolik Widya Mandala Madiun yaitu Pak Anton. Sesampainya di SMK Santo Yusuf Mejayan, Om Adhi dan kawan-kawan disambut oleh Pak Joko, Kepala Sekolah SMK Santo Yusuf Mejayan. Pak Joko hanya ditemani satu karyawan karena waktu itu hari Minggu. Mereka pun dipersilahkan masuk ke kantor. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami dan serah terima bantuan komputer dan printer, Pak Joko mengucapkan banyak terima kasih. Menurut Pak Joko, bantuan komputer dan printer itu sangat membantu dalam kegiatan pengajaran komputer di SMK Santo Yusuf Mejayan. Bantuan komputer seperti itu tidak hanya diberikan pada satu sekolah saja. Di tahun 2014 ini, AAT akan melanjutkan program bantuan komputer ini untuk sekolah yang benar-benar membutuhkan. Harapannya, dengan adanya komputer-komputer itu pengajaran komputer di sekolah tidak akan terhambat. Dan siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui bantuan komputer itu.   Rike Kotikhah Staff Admin AAT Madiun   [qrcode content=”https://aat.or.id/wawancara-dan-survei-smp-kanisius-raden-patah” size=”175″]  

Bantuan Komputer untuk SMK Santo Yusuf Mejayan Madiun Read More »

Wawancara dan Survei SMP Kanisius Raden Patah

Minggu, 17 November 2013 adalah hari yang berkesan dan bersejarah buat saya khususnya. Tadi pagi, tepatnya jam 10.00, kami tim Pendamping Komunitas Anak-Anak Terang (PK AAT) mengadakan survei sekolah dan wawancara calon anak asuh AAT di SMP Kanisius Raden Patah Semarang yang terletak di Jln. Raden Patah No. 163, Semarang. Ketika sampai di sana, kami disambut hangat oleh guru-guru SMP Kanisius Raden Patah Semarang. Setelah presentasi tentang AAT di depan calon anak asuh selesai, kami membuat permainan kecil yaitu mengadakan kuis yang seru lalu dilanjutkan menyanyikan Lagu AAT bersama-sama. Setelah itu, kami pun mulai mewawancarai calon Anak Asuh (AA) satu per satu. Dari mereka yang saya temui, saya menemukan banyak karakter dan sifat, tapi di sisi lain ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya karena dapat mengenal latar belakang mereka. Dari sekian banyak latar belakang dan latar kehidupan mereka yang saya ketahui, ada salah satu anak yang memiliki cerita kehidupan yang menyentuh hati dan nurani saya yang amat mendalam. Anak ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kondisi keluarga yang tidak harmonis dan memprihatinkan tengah dirasakan seorang gadis kecil yang duduk di kelas 3 SMP Raden Patah ini. Ibunya meninggal kira-kira 2 tahun lalu dan di saat itu juga ayahnya pun pergi entah kemana, tanpa pamit, dan tanpa kabar. Betapa mirisnya hati saya ketika saya mendengar cerita gadis kecil yang lugu itu. Seorang ayah yang seharusnya berkewajiban menafkahi, menjaga, dan mengayomi anak-anaknya malah pergi tanpa ada kabar sampai sekarang. Anak itu saat ini tinggal bersama neneknya. Dia dan adiknya dinafkahi oleh neneknya yang berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Seorang nenek yang harusnya sudah tidak bekerja lagi tapi tetap berusaha mencari nafkah demi kedua cucunya yang masih bersekolah. Dan mirisnya lagi anak ini di sekolah belum mendapat beasiswa apapun yang membantu meringankan biaya SPP-nya. Semakin tersentuh sekali hati saya mendengarnya. Setelah mendengar cerita anak ini saya berfikir bahwa dia layak mendapat beasiswa dari AAT.   Cerita selanjutnya dari gadis yang duduk di bangku kelas 3 SMP juga, dia anak ke 2 dari 4 bersaudara. Orangtuanya telah bercerai dan yang menafkahi keluarganya adalah ibunya dengan berjualan di dekat kantor POS dan menyetor-nyetorkan nasi ke sekolah adiknya. Tanggungan ibunya adalah 3 anak yang masih bersekolah dan 1 anak yang hanya lulusan SMP. Saat ini anak itu bekerja baru sebulan. Ia melakukannya karena orangtuanya bercerai dan ayahnya tidak menafkahinya lagi. Ibunya pun harus banting tulang untuk menafkahi anak-anaknya dengan segala cara. Mendengar cerita ini saya tersentuh kembali dan sangat miris hati saya. Anak ini layak juga mendapat beasiswa AAT. Cerita terakhir yang menyentuh yaitu cerita seorang anak yang harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Jika anak lain, masih ditemani kedua orang tuanya saat belajar, dia tidak dapat merasakannya lagi. Kedua orang tuanya telah meninggal. Sang ayah meninggal sejak dia kecil, sedangkan ibunya, meninggal ketika dia baru duduk di bangku SMP. Yang mengurusnya sekarang adalah kakaknya. Meski memiliki 2 kakak, itu tidak menjamin dia mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Karena kakaknya sendiri telah berkeluarga. Di samping itu, kakaknya tidak bisa membuatkan makanan untuknya karena berangkat kerjanya pagi-pagi dan pulangnya malam hari. Terlebih lagi uang saku setiap harinya hanya Rp 5.000, itu sudah termasuk uang untuk naik angkot pulang dan uang makan selama sehari. Mungkin kalau saya di posisinya, saya hanya bersedih, tidak dapat lagi tersenyum, seakan-akan dunia telah menelan semua kegembiraan yang saya miliki. Namun anak ini berbeda, dia tetap bersemangat untuk tetap bersekolah dan tetap tersenyum, seperti tidak ada beban di pikirannya. Semangat hidupnya tetap membara meski telah dipadamkan berulang kali. Namun semua pasti ada batasnya, kita tidak tahu, sampai sejauh mana kekuatannya. Semoga ada yang tergerak hati untuk membantunya. Tidak hanya membantu dalam finansial, namun juga kasih sayang. Saya tidak dapat membayangkan bila saya berada di posisi anak ini. Jadi bersyukurlah kita yang sudah diberi kenikmatan hidup oleh Tuhan. Janganlah kalian menyia-nyiakannya. Tetaplah bersyukur bagi semuanya.   Fransisca Jenesia Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/wawancara-dan-survei-smp-kanisius-raden-patah” size=”175″]  

Wawancara dan Survei SMP Kanisius Raden Patah Read More »

Kunjungan ke SMP Yoannes XXIII

Pagi menjelang siang, sekitar pukul 09.45 WIB, kami berempat para Pendamping Komunitas Anak-Anak Terang (PK AAT) Semarang mengunjungi SMP Yoannes XXIII. Saya, Johanes, Pieter, dan Lukas sampai di tujuan sekitar pukul 10.00 WIB. Di sana kami disambut oleh Bapak Rochadi selaku Penanggung Jawab (PJ) di SMP Yoannes XIII. Kami pun langsung menuju ke tempat kelas untuk melakukan presentasi mengenai AAT kepada calon anak asuh. Waktu itu, saya yang mempresentasikan mengenai AAT dibantu oleh Pieter sebagai moderator. Saat saya mempresentasikan mengenai AAT, calon anak asuh itu duduk dengan manis sambil mendengarkan dan berusaha memahami betul apa itu AAT. Cerita tentang Salah Satu Calon Anak Asuh Setelah selesai presentasi, kami segera mewawancarai para calon anak asuh. Dan saya mendapati salah satu calon anak asuh yang menurut saya memang pantas untuk dibantu. Anak tersebut menceritakan semua kondisi keluarganya. Keluarganya numpang di rumah teman ayahnya. Ayahnya sudah tidak bekerja karena sakit, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh (mencuci pakaian dan menyetrika). Ternyata ayahnya mengalami penyakit gagal ginjal yang tiap minggunya harus cuci darah sebanyak dua kali. Padahal ibunya hanya memiliki penghasilan kurang dari Rp 500.000,-. Ditambah lagi, dia dan adiknya masih sekolah dan harus membayar uang sekolah. Dia merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakaknya sudah tamat kuliah dan yang membiayai adalah pak dhenya. Sedangkan dia dengan adiknya dibiayai ibunya.   Setiap kali berangkat ke sekolah, dia diberi uang saku Rp 5.000,- di mana yang Rp 4.000,- untuk ongkos transportasi dan Rp 1.000,- untuk jajan. Dia mengerti kondisi keuangan keluarganya bisa dibilang sangat rendah, sehingga di sekolah dia tidak makan sama sekali. Jika dia merasa lapar, dia hanya beli air minum gelas untuk mengenyangkan perutnya. Ketika saya menanyakan kenapa tidak membawa bekal saja, anak itu menjawab tidak karena dia tidak mau merepotkan ibunya. Apalagi kalau masak sendiri, dia bisa telat masuk sekolah. Dia sadar bahwa ibunya juga harus mengurusi ayahnya yang sedang sakit. Saya pernah menanyakan bagaimana ibunya bisa membayar biaya rumah sakit kalau ayahnya mau cuci darah. Dia pun menjawab kalau ibunya meminjam uang ke tetangga-tetangga. Tiap satu kali cuci darah, ibunya harus mengeluarkan uang sekitar kurang lebih Rp 600.000,- Pernah dua kali ia belum bayar SPP ketika kelas VII dan saat ini juga belum bayar SPP bulan November. Meskipun begitu, dia memiliki cita-cita yang tinggi yaitu ingin menjadi pemain basket internasional karena dia suka sekali bermain basket. Selain itu, ia juga pernah mendapatkan suatu penghargaan berupa sertifikat bela diri karena dia sudah sampai di sabuk orange. Rapat Pleno Setelah selesai wawancara semua anak, kami mengadakan rapat pleno, di mana teman-teman saya menceritakan apa saja informasi yang didapatkan pada waktu wawancara tadi. Saya mendengarkan cerita dari pengalaman teman saya saat mewawancarai calon anak tersebut. Ada yang menceritakan tentang perilaku orang tuanya yang marah-marah karena agama. Saya pun heran mengapa karena masalah agama mereka selalu bertengkar? Padahal sebelum menikah pasti mereka setuju tentang perbedaan agama yang mereka anut. Saya pun menanyakan ke teman saya yang menceritakan cerita tersebut, ”Lah trus bagaimana dengan anak ini? Dia mengikuti agama ayahnya apa ibunya? Dan kenapa ayahnya dan ibunya sering bertengkar cuma gara-gara agama?” “Ya agama anak itu ikut dengan ibunya. Tidak hanya soal agama, mereka juga sering bertengkar karena masalah ekonomi,” jawab temanku itu. Setelah itu temen saya yang lain menceritakan hasil wawancaranya tentang salah satu anak yang nakalnya bukan main. Padahal kondisi keluarganya juga tidak terlalu mewah. Ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Kadang-kadang ia juga sering tidak masuk sekolah dan main ke warnet, tetapi orangtuanya tidak tahu kalau anak itu kadang-kadang tidak masuk sekolah. Namun anak ini pernah mendapat prestasi yaitu juara 3 lomba sepak bola di UNDIP pada saat masih di SD. Saya pun bilang kepada penanggung jawabnya kalau seandainya anak ini mendapatkan beasiswa dari AAT, anak ini harus berubah menjadi baik dan tidak akan bolos lagi. Jika kelakuannya masih seperti itu, beasiswanya nanti bisa dicabut. Ada juga cerita tentang orang tua calon anak asuh yang sering bertengkar karena ibunya sering berbohong. Namun sayangnya bukan saya yang mewawancarai melainkan teman saya. Saya hanya mendengar sekilas mengenai anak tersebut kalau ayahnya itu bekerja sebagai tukang pembuat saluran air minum dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Kadang-kadang ibunya jualan nasi pecel. Ayahnya bekerja jika ada panggilan, sedangkan kalau tidak ada panggilan ayahnya tidak bekerja. Dia anak ke-4 dari 4 bersaudara, kakak pertama sudah bekerja, kakak ke-2 masih kuliah, dan yang ke-3 masih sekolah kelas 3 SMK. Dia memiliki prestasi yaitu mendapat peringkat 1 dan juara lomba pendidikan. Ia memiliki hobi berenang dan memiliki cita-cita menjadi seorang pastur. Dari cerita-cerita anak asuh tersebut, banyak yang mempunyai kesamaan dengan kondisi keluarga saya. Sehingga setiap saya mendengarkan cerita tentang anak-anak tersebut, saya langsung ingat akan kenangan pahit yang pernah saya alami. Orang tua saya yang sering bertengkar gara-gara masalah ekonomi dan ayah saya yang dulu juga pernah menderita penyakit. Namun, kenangan-kenangan itu membuat saya bertekad untuk bisa mengubah kondisi keluarga saya agar lebih baik lagi.   Metodius Billy Sentosa Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/kunjungan-ke-smp-yoannes-xxiii” size=”175″]  

Kunjungan ke SMP Yoannes XXIII Read More »

Gadis Pemetik Kamboja

HARI itu, 8 Desember 2013, adalah hari terakhir survei sekolah dan wawancara calon anak asuh Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia di sekolah-sekolah wilayah eks Keresidenan Madiun. Sekolah yang mendapatkan giliran terakhir untuk disurvei ini adalah SMPK Garuda Parang, Magetan. Banyak cerita yang membuat saya senang, sedih, terharu, kagum, bahkan sampai terheran-heran. Salah satu cerita yang membuat saya terharu dan kagum adalah cerita tentang salah satu siswi kelas VIII. Dia adalah salah satu siswi hebat yang membuat saya semakin bersyukur atas hidup ini. Wajahnya manis meskipun kulitnya terlihat gelap. Tubuhnya kecil dengan rambut panjang yang diikat rapi. Matanya lentik, bibir tipis, dan hidung yang agak mancung. Menurut saya, dia cukup cantik meskipun kulitnya hitam. “Namanya Ayu ya, Dek?” tanya saya memulai wawancara (nama disamarkan) “Iya, Mbak,” jawabnya dengan senyum yang terlihat tulus. “Ayu kelas berapa?” “Kelas delapan, Mbak,” balasnya dengan sangat sopan. Berbicara dengan calon anak asuh AAT yang sopan itu rasanya menyenangkan sekali. Rasanya tidak sabar ingin mendengarkan cerita-cerita mereka yang seru. “Ayu saudaranya berapa?” “Lima, Mbak?” “Lima?” saya sedikit kaget dan ingin bertanya lebih banyak lagi. “Yang nomor satu kemana, Dek?” saya mulai penasaran. “Sudah kerja, Mbak,” jawabnya pelan. “Terus yang nomor dua?” “Kerja juga, Mbak.” “Yang nomor tiga?” Dia diam dan mulai berkaca-kaca, saya pun menjadi semakin penasaran. Namun saya mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kamu yang nomor empat ya Dek?” “Iya, Mbak,” jawabnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Berarti kamu masih punya adik?” “Iya, Mbak, adik saya berumur satu setengah tahun.” “Kakakmu yang nomor tiga ke mana ya, Dek?” saya mengulangi pertanyaan yang belum terjawab tadi dengan lebih halus. “Kakak saya sudah meninggal, Mbak. Setahun yang lalu. Padahal dia adalah kakak saya yang paling saya sayangi. Hanya dia yang bisa mengerti saya. Saya sangat menyayanginya, Mbak.”   Airmatanya mulai tumpah. Saya mencoba menenangkannya. Setelah sudah sedikit tenang, saya mulai bertanya kembali.   “Kalau kakak boleh tahu, kakakmu meninggalnya kenapa?” “Kakak saya meninggalnya dilindas truk, Mbak.” “Deg..” Jantung saya rasanya berhenti berdetak, sesak, dan saya pun mulai menarik nafas dalam-dalam. “Semenjak ditinggal kakak, kehidupan saya langsung berubah, Mbak. Selama ini yang membiayai sekolah saya adalah kakak saya yang nomor tiga. Kakak-kakak saya yang lain kurang peduli pada saya. Setelah lulus SD, kakak saya yang nomor satu dan dua bekerja sendiri-sendiri dan kini sudah berumah tangga. Kakak saya yang nomor tigalah yang bekerja demi sekolah saya. Dan setelah kepergian kakak saya, kehidupan saya hancur, Mbak”.   Dia menangis kembali. Sebisa mungkin saya menahan air mata saya. Saya tidak mau menunjukkan kesedihan saya.   “Sabar ya, Dek. Janganlah merasa hancur. Kehidupanmu masih panjang. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan, masih banyak yang harus kamu perjuangkan. Kepergian kakakmu pasti ada hikmahnya untuk kamu. Dan Tuhan tahu kamu adalah perempuan yang kuat. Kamu pasti bisa mengahadapi semua ini”. “Iya, Mbak. Saya akan terus berjuang demi cita-cita saya dan demi cita-cita kakak saya”. “Apa cita-cita kakak kamu?” “Kakak saya ingin saya sekolah sampai SMA, Mbak. Karena itu dulu kakak saya berjuang mati-matian demi membiayai sekolah saya. Dan setelah kakak saya meninggal, saya ingin sekali mewujudkan cita-citanya. Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya agar saya bisa melanjutkan sekolah saya”. “Bagaimana dengan Bapakmu, Dek? Beliau kan masih bisa membiayai kamu” “Bapak saya hanya petani kecil, Mbak. Sawahnya cuma satu petak dan hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja” “Bagaimana dengan ibu kamu?” “Ibu tidak bekerja. Di rumah mengurus adik saya” “Berarti hanya bapakmu yang mencari nafkah?” “Tidak, Mbak. Saya juga ikut membantu Bapak mencari nafkah” “Lho, kamu kerja? Kerja apa, Dek?” “Setiap pulang sekolah, saya mengumpulkan bunga Kamboja yang ada di kuburan” “Buat apa bunga Kambojanya?” “Buat dijual, Mbak. Biasanya saya sampai maghrib mengumpulkan bunga Kamboja. Sepulang dari mencari bunga Kamboja, saya mencari rumput untuk makan kambing nenek saya. Biasanya saya bawa senter. Malamnya, sekitar pukul sembilan, saya biasanya belajar sampai jam sebelas”   Saya tercekat dan langsung terdiam. Saya tidak bisa lagi berkata apa-apa. Sungguh, adik ini membuat saya kagum. Dengan usia yang masih terbilang remaja, ia harus mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Saya kira kisah seperti ini hanya ada dalam sinetron atau dalam acara televisi saja. Namun ternyata saya mendengar sendiri kisah itu dari siswi ini.   “Kamu tidak takut Dek di kuburan malam-malam? Nanti kalau kamu digigit setan gimana? Kalau ada yang loncat-loncat gimana?” lelucon saya untuk mencoba mencairkan suasana. “Tidak, Mbak. Demi cita-cita kakak saya, saya akan terus berjuang dan tidak akan menyerah” Saya pikir saya bisa sedikit menghiburnya dengan guyonan saya. Ternyata dia tetap berbicara dengan serius sambil mengusap air matanya.   “Biasanya sehari dapat seberapa bunga Kambojanya, Dek? Harganya berapa?” saya mulai melanjutkan pertanyaan saya. “Sehari dapat satu kresek kecil, Mbak. Kalau sedang musim berbunga seperti ini biasanya saya dapat lebih banyak. Sampai rumah bunga-bunga itu saya jemur dan saya kumpulkan sampai satu kilogram. Setelah itu saya jual dengan harga lima puluh ribu” “Wah, banyak dong Dek lima puluh ribu. Itu berapa hari sekali dapat lima puluh ribu?” “Sebulan sekali, Mbak. Itu pun kalau sudah terkumpul satu kilogram” “Haa ..! Sebulan?” Saya hanya tertegun keheranan. “Iya, Mbak. Dan uangnya saya berikan pada ibu untuk belanja sehari-hari” “Mengapa tidak kamu pakai untuk uang jajan kamu saja, Dek?” “Tidak, Mbak. Kasihan ibu. Ibu tidak bekerja dan bapak juga hanya bisa memberi uang sedikit” “Terus bagaimana dengan uang jajanmu?” “Saya jarang jajan. Kalaupun ingin jajan, saya akan mengambil sedikit uang dari hasil menjual bunga Kamboja. Kadang lima ratus kadang seribu” “Uang lima ratus memang cukup untuk jajan, Dek?” “Cukup kok Mbak. Untuk beli permen yang akan saya bagi dengan adik saya” “Baik sekali hatimu Dek. Mbak bangga sama kamu. Jangan pernah putus asa ya. Tuhan tidak akan membuat apa yang kamu perjuangkan menjadi sia-sia” “Iya, Mbak”   Cerita demi cerita saya dengarkan sendiri darinya. Bagaimana perjuangannya yang harus berjalan kaki kiloan meter setiap hari karena tidak punya kendaraan yang bisa dipakai, bagaimana perjuangannya yang setiap hari mengumpulkan bunga Kamboja yang hasilnya tak seberapa, bagaimana perjuangannya menghadapi kerasnya hidup, menahan kesedihan atas kepergian kakaknya yang sangat ia sayangi, menahan kekasaran bapaknya, dan menahan semua rasa sakit dalam hati dan tubuhnya. Saya sangat

Gadis Pemetik Kamboja Read More »

Bagaimana Saya Bisa Sekolah?

“Saya bertanggung jawab, tapi bagaimana caranya saya bisa sekolah?” Senin siang, saya memenuhi janji pada Kepala Sekolah SMP Bellarminus Semarang untuk mewawancarai beberapa anak yang minggu kemarin tidak hadir. Dari 6 orang anak, ada seorang anak yang tidak hadir lagi, bahkan tidak masuk sekolah. Saya sabar menunggu Pak Kepala Sekolah dan Guru BP yang berusaha muter-muter mencari jejak anak ini. Hingga terdengar suara, “Ayoook cepat masuk… sudah ditunggu sejak tadi …” kata Bapak Kepsek dengan agak keras (remaja ini ditemukan di pemakaman sedang memanjat pohon Kamboja untuk memetik bunga Kamboja). Di depan pintu muncullah anak lelaki dengan wajah merah merona penuh peluh, menenteng tas sekolah dan beberapa tas kresek hitam dipelukkannya. Agak takut ia berdiri di depanku. Tak kuasa aku melihat wajah takutnya, kukembangkan senyumku dan mempersilahkannya duduk. “Selamat siang nak… Namamu Satria ya?” (nama disamarkan) “Selamat siang juga Ibu…..bener” “Eh … ngomong-ngomong kamu kemana saja? Kemaren tidak hadir wawancara, juga hari ini tidak masuk sekolah” Dia diam. Lalu berkata, “Maaf Ibu, saya tadi berangkat sekolah kok. Tetapi tidak sampai sekolahan” (sambil krusak-krusek mempermainkan tas kresek hitamnya) Karena penasaran, saya pinjam tas kreseknya meski tadi tidak diperbolehkan. Rada berpikir konyol saya pun tertawa agak keras. Ternyata tas itu berisi bunga Kamboja. Karena tawa saya, andrenalin lelaki kecil itu tersulut. “Maaf Ibu.. Silahkan Ibu mengejek saya, saya tidak peduli. Karena bunga Kamboja ini adalah emas bagi saya…” (Padahal aku geli karena teringat waktu kecil. Dulu aku merasa lebih cantik bila aku merangkai bunga Kamboja dan memakaikannya di rambutku) Sambil emosi dia berkata, “Meski hari ini saya tidak sampai sekolahan karena ibu saya belum bisa melunasi uang SPP yang menunggak, namun saya tetap sekolah. Saya harus sekolah. Saya ingin pintar. Saya malu karena baju seragam saya sobek dan hanya satu-satunya itu yang saya punya. Kemarin dan hari ini saya harus mencari bunga Kamboja karena itulah sumber nafkah keluarga kami agar kami tetap bisa makan.” Ternyata, bunga Kamboja itu dikeringkan dan lima hari sekali disetor sebagai dasar membuat bedak berkualitas. Dia menghidupi dirinya sendiri, ibu, dan seorang nenek. Namun dengan apa dia bisa membayar uang SPP? Meski cita-citanya meletup-letup? Gleekk… Dadaku sesak karena haru. Anak seusianya yang lain masih bermain dan diberi uang saku berlebih. Tapi anak ini…   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Bendahara Yayasan AAT Indonesia.   [qrcode content=”https://aat.or.id/bagaimana-saya-bisa-sekolah” size=”175″]  

Bagaimana Saya Bisa Sekolah? Read More »

Perjuangan Mengenyam Pendidikan

Perjuangan Salah Satu Anak Bangsa yang Ingin Mengenyam Pendidikan Seorang remaja lelaki itu masuk kelas dengan wajah yang terlihat pucat pasi, kuyu, dan terlihat lemas. Semakin dia mendekat, kulihat peluh di wajahnya. Kemudian aku sapa dengan senyum, dia duduk di depanku dengan tertunduk pucat. “Selamat pagi Mas Boy, namamu Boy ya?” (nama disamarkan) “Selamat pagi Ibu, iya itu nama saya.” “Kamu kenapa Boy? kamu sakit?” Dia terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tertunduk lagi. Agak curiga dengan keadaannya, kemudian kupegang tangannya, dingin sekali. Keringat dingin membuat dia terlihat lemas. “Sudah biasa Ibu, setiap pagi begini,” jawabnya. “Lho kok setiap pagi? Memangnya kamu sakit?” “Tidak ibu,” jawabnya lirih. Karena penasaran, aku membuka biodata anak ini. Sambil membacanya dengan cermat, kuamati wajah anak ini. Eeh.. “Bruukk..” Calon penerima beasiswa ini jatuh pingsan. * * *  Kira-kira satu jam kemudian remaja lelaki itu kembali masuk, duduk di hadapanku dan berkata, “Maaf Ibu… saya tidak sengaja tadi kok terasa kepala saya berputar.” Saat dia pingsan aku mencari informasi tentang anak ini kepada gurunya. Dan ternyata, dia adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang tinggal di sebuah desa di Karangjati. Agar dia tidak terlambat sampai di sekolah yaitu di SMK Kimia Industri, dia berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya kira-kira 3 km. Setelah itu, ia mencari tumpangan truk yang menuju ke arah Semarang. Hanya itulah satu-satunya alternatif yang dipilihnya agar dia tidak terlambat, agar dia tidak seperti kedua kakaknya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga hidupnya menjadi miskin. Tidak ada rupiah disakunya sebagai bekal untuk jajan. Padahal, jam sekolah hingga pukul 3 sore. “Terus kamu sarapan dan makan siang di sekolah?” tanyaku padanya. Dia terdiam, cukup lama. Kemudian ia berkata, “ Maaf Ibu, saya malu. Saya tidak pernah sarapan dan makan siang. Saya berangkat dari rumah jam 5 pagi, tentu mamak tidak bisa menyiapkan sarapan dan bahkan kami belum bisa menikmati sarapan sejak kami masih kecil.” “Orang tua saya tidak mampu untuk memberi uang saku pada saya. Paling ada Rp 1.000,- untuk naik bus bila saya pulang karena tidak ada truk dari sini menuju Karangjati. Kalau naik truk saya bisa gratis menuju rumah. Maaf Ibu, jangankan memberi uang saku, untuk sekolah pun mamak sudah melarang saya karena mamak tidak punya uang untuk bayar SPP” Anak ini sudah menunggak uang sekolah dari mulai dia masuk hingga saat saya wawancarai. Sambil lemas ia melanjutkan ceritanya, “Saya akan nekad ikut sekolah meskipun sampai sekolah saya main petak umpet bila melihat ada yang mau nagih SPP. Saya ingin hidup mapan meski saya dari keluarga yang morat-marit, Bu.” Setelah itu, aku pun pura-pura izin ke kamar kecil sebentar. Dan kemudian, aku menangis sesenggukan di kamar mandi. Betapa kuat nyali anak ini, ”Dia tidak ingin bodoh” Selesai wawancara, aku pun dan beberapa guru mengantarkan anak yang lemas ini ke rumahnya. Rumah yang jauh sekali dari sekolah. Ini adalah sepenggal cerita duka dari remaja berusia 15 tahun (semester besok remaja ini menempuh ujian SMK) Mari rekan-rekanku semua, jadilah donatur bagi pejuang-pejuang masa depan negeri kita melalui Yayasan Anak-anak Terang (AAT) Indonesia.   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Bendahara Yayasan AAT Indonesia   [qrcode content=”https://aat.or.id/perjuangan-mengenyam-pendidikan” size=”175″]  

Perjuangan Mengenyam Pendidikan Read More »

Kunjungan Relawan ke SMP Salomo

SMP Salomo 3 Pringsurat yang berada di desa Ngipik, Pringsurat, Temanggung, adalah sekolah Kristen yang perintisannya bersamaan dengan perintisan Gereja Isa Almasih Ngipik yaitu pada tahun 1975 tepatnya bulan Januari 1975. SMP Salomo 3 Pringsurat didirikan sebagai salah satu prasyarat pendirian Gereja Isa Almasih Ngipik yang dirintis oleh seorang dokter gigi yang bernama dr. Lukas Sebadja. Awalnya pada tahun 1974, dr. Lukas Sebadja menabrak seorang anak laki-laki di desa Pringsurat. Menghadapi korban yang nampaknya tidak tertolong, dr. Lukas Sebadja bernazar “Apabila anak tersebut hidup dan sembuh, maka dr. Lukas akan mendirikan gereja di tempat tersebut”. Dan ternyata doa serta nazar dr. Lukas Sebadja didengar Tuhan, anak tersebut sembuh dan hidup. Menyaksikan mukjizat Tuhan melalui kesembuhan anak tersebut. Akhirnya, di lokasi tersebut didirikan tempat persekutuan doa keluarga dan ada beberapa orang yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat dalam hidupnya, termasuk di dalamnya keluarga anak yang ditabrak dr. Lukas Sebadja. Karena persekutuan semakin berkembang, maka pelayanan dibantu oleh para mahasiswa STT Abdiel. Oleh kuasa Tuhan Yesus akhirnya berdirilah pos PI di desa Pringsurat bertempat di rumah Pak Dul Sholeh dan di desa Nglarangan di rumah Bapak Christianus Ngasiman. Penanggung jawab pelayanan pada kedua pos PI tersebut adalah dr. Lukas Sebadja bersama Ibu Hanna Sebadja S.Th, istri beliau, dibantu oleh bapak Sugriwo seorang guru injil dan GKJ Pepanthan Pingit. Atas Hikmat dari Tuhan Yesus Kristus, dr. Lukas Sebadja berniat membeli lagi sebidang tanah yang berada tepat di samping tanah yang akan dipakai untuk pembangunan gereja. Tanah tersebut akan diperuntukkan bagi pembangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai wujud kepedulian umat Kristiani terhadap dunia pendidikan. Gereja ingin ikut ambil bagian mencerdaskan anak anak bangsa lewat jalur pendidikan. Kebetulan pada waktu itu di Kecamatan Pringsurat belum ada SMP yang akan diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu. Gagasan dan rencana tersebut ternyata disambut baik oleh masyarakat dan pemerintah desa Ngipik. Akhirnya, pembangunan gereja pun diperbolehkan bersamaan dengan pembangunan gedung SMP Salomo 3 Pringsurat, Temanggung. Tahun 1975, berdirilah sekolah menengah pertama dengan nama SMP Salomo 3 Pringsurat yang disponsori oleh keluarga dr. Lukas Sebadja. Untuk memudahkan pengelolaannya, dr. Lukas Sebadja membentuk Yayasan Pendidikan Anugerah. Yayasan Pendidikan Anugerah diketuai oleh Ibu Sulaksono dan dibantu oleh beberapa orang pengurus, termasuk Bapak Stepanus Sumaryono juga masuk di dalam kepengurusan. Dinamakan SMP Salomo 3 karena di kota Semarang sudah ada Salomo 1 dan Salomo 2 yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kranggan. Walaupun Yayasan yang menaungi berbeda, namun Salomo 1 dan Salomo 3 sama-sama didirikan oleh anak anak Tuhan yang berjemaat di Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. Enam bulan setelah SMP Salomo 3 Pringsurat berdiri, maka Gereja Isa Almasih Ngipik juga berdiri dan didewasakan sebagai Jemaat Gereja Isa Almasih. Selain pendewasaan Gereja, Bapak Stepanus Sumaryono juga ditahbiskan sebagai pendeta di jajaran Sinode Gereja Isa Almasih, sekaligus menjadi Gembala Sidang di GIA Ngipik. Di SMP Salomo Pringsurat Temanggung ini kebanyakan muridnya beragama Islam. Kondisi ekonomi orang tua murid murid SMP Salomo sebagian besar berada di bawah garis besar kemiskinan. Rata-rata orang tua mereka bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan karyawan kayu lapis. Tingkat pendidikan orang tua mereka pun hanya lulusan sekolah dasar. Untuk gaji guru dan karyawan, SMP Salomo diperoleh dari Bantuan Operasional Sekolah, Yayasan Pendidikan Kranggan, dan sebagian partisipasi orang tua siswa. Pengalaman Kunjungan Hari Rabu, 6 November 2013, saya melakukan kunjungan ke SMP Salomo Pringsurat Temanggung. Saat itu, saya bersama teman saya, Edo. Kunjungan itu adalah kali pertama saya terlibat dalam kegiatan relawan Anak-Anak Terang (AAT). Kami berangkat pukul 07.15 pagi. Sampai di SMP Salomo, kami langsung menemui Ibu Vosa dan Ibu Jeki. Kami pun disambut dengan hangat. Setelah itu, kami langsung bersiap- siap mewawancarai penanggung jawab tentang seberapa banyak pengetahuan Penanggung Jawab (PJ) tentang AAT, sejauh mana PJ mengenal Anak Asuh (AA), sumber dana sekolah, dan lain-lain. Yang membuat saya tertarik di saat mewawancarai PJ ternyata saya mendengar kalau banyak kondisi dari calon AA yang memprihatinkan. Semisal ada anak yang keluar dari SMP Salomo lalu berjualan di daerah Semarang, tetapi karena dia tidak betah kerja, maka kembali lagi ke SMP Salomo. Ada juga yang ditinggal ayahnya meninggal tetapi dia tetap sekolah dan kesehariannya membantu ibunya. Ini yang membuat saya kagum dengan calon AA meskipun baru mendengar ceritanya saja melalui PJ SMP Salomo. Hari Minggu, 10 November 2013, saya dan lima relawan AAT lainnya yaitu Edo, Anisa, Dora, Setyoko, dan Galih berangkat ke SMP Salomo. Kita dari Semarang jam setengah delapan pagi dan sampai di sana jam sembilan pagi. Sesampainya di sana kami langsung dipersilahkan oleh bu Vosa dan bu Jeki di salah satu kelas dan kami pun langsung menyiapkan peralatan dan dokumen untuk wawancara anak. Dan saat acara dimulai, ini adalah kali pertama saya presentasi di AAT. Rasanya saya sangat senang berinteraksi dengan anak-anak. Presentasi saya berjalan dengan lancar. Tibalah saatnya untuk wawancara. Saya kebagian mewawancarai anak kelas IX. Yang menarik dari anak-anak yang saya wawancarai yaitu mereka adalah anak-anak yang penuh semangat walau mereka dari keluarga yang tidak mampu, tetapi semangat mereka untuk belajar sangatlah tinggi. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka, anak-anak dari SMP Salomo 3.   Ignatius Sindhu Wijaya Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/kunjungan-relawan-ke-smp-salomo” size=”175″]  

Kunjungan Relawan ke SMP Salomo Read More »

duta76 perihoki rtp live duta76 menjadi basis pemain dalam bermain mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza arah perkembangan mahjong wins 3 pragmatic blackjack kerap ditentukan konsistensi pemain duta76 starlight princess tantangan sebenarnya mahjong wild deluxe muncul saat tempo sicbo perihoki tidak berjalan stabil lucky neko alur cerita perihoki mahjong ways 2 pgsoft roulette perihokisering berkembang di luar perkiraan pemain wild west gold kejernihan analisis membantu memahami karakter dinamika mahjong wins 3 pragmatic blackjack harian sabung ayam sv388 perihoki pergeseran haluan mahjong wild 2 terjadi tanpa sinyal yang terlihat jelas duta76 sicbo gates of olympus mahjong ways 2 pgsoft bacarat menghadirkan alur rtp live hasil berbasis starlight princess duta76 strategi analisis pola jitu simbol mahjong wins 3 pragmatic blackjack dan scatter digital sweet bonanza duta76 hasil mahjong ways 2 pgsoft roulette terlihat konsisten dalam skema rtp live perihoki wild bounty showdown pola rtp live jitu mengantar pemain perihoki memahami arah main mahjong wins 3 pragmatic blackjack aztec gems keputusan spontan di mahjong wild deluxe dapat mempengaruhi arah sesi dadu sico perihoki gates of olympus pola rtp live perihoki menjadi rangka dasar dalam mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza taktik pola visual mahjong wins 3 pragmatic blackjack perihoki terkadang memberi petunjuk starlight princess keseimbangan emosi pemain duta76 mahjong ways 2 pgsoft berpengaruh pada keputusan roulette sabung ayam sv388 framework pola rtp jitu sekuensial mahjong wins 3 pragmatic blackjack transisi algoritma duta76 wild bounty hunter aws ekonomi digital probabilitas scatter aws evolusi mahjong digital 2026 aws formulasi transisi grid rtp aws ide turbo spin fokus aws konsistensi mahjong hujan scatter aws matematika peluang update rtp aws panduan visual simbol mahjong aws plot twist scatter hitam aws review putaran malam mahjong aws strategi modal umkm mahjong audit sistemik performa mahjong ways dinamika arus mekanik virtual metodologi bermain santai rasio pengembalian efektif target 65 juta kriptoanalisis struktur grid mahjong wins 3 dekoding dinamika sistem manajemen arus kas internal arena digital capaian 65 juta arsitektur strategi anatomis mahjong wins 3 probabilitas scatter hitam proyeksi stabilitas algoritma mahjong ways 2 hiburan digital 2026 signifikansi formasi simbol awal sesi pemandu strategi pemain ahli efektivitas disiplin teknis algoritma sistem akumulasi 34 juta navigasi alur terarah rasio pengembalian sistem target 90 juta analisis tren strategi santai viral target 22 juta efisien pola rtp live menjadi titik awal permainan mahjong wild deluxe dadu sicbo perihoki gates of olympus rtp live jitu menjadi basis pemain dalam mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza perihoki hasil akhir mahjong wins 3 pragmatic berjalan dalam skema rtp live backjack perihoki starlight princes strategi peluang teknik mahjong wild 2 sicbo gates of olympus rtp live pola taktik duta76 optimalkan peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess strategi pola taktik duta76 taktik teknik peluang mahjong wins 3 blackjack sweet bonanza analisa rtp live duta76 meraih kemenangan mahjong ways 2 pgsoft roulette wild bounty showdown pola strategi rtp live perihoki teknik optimalkan peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack aztec gems teknik pola taktik perihoki cara menguasai mahjong wild deluxe sicbo dan gates of olympus strategi pola taktik rtp live perihoki teknik mengungkap pola dan strategi mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza rtp live perihoki taktik menaklukkan mahjong wins 3 blackjack starlight princess strategi rtp live pola perihoki analisa cerdas rtp live mahjong ways 2 roulette wild west gold strategi pola taktik duta76 strategi terbaik mahjong wins 3 blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live duta76 e4 analisis pola konsisten mahjong wins menuju hasil maksimal e4 analisis pola mahjong wins dampak kecepatan spin terhadap peluang bonus e4 analisis pola sistem untuk hasil lebih optimal e4 analisis profesional mahjong wins untuk target puluhan juta e4 analisis statistik mahjong wins untuk hasil lebih optimal e4 cara cermat optimalkan rtp terbaru e4 cara kerja algoritma rtp mahjong wins 3 dan strateginya e4 cara membaca data rtp mahjong wins secara profesional e4 cara membaca rtp mahjong wins untuk target 30 juta e4 cara mengatur saldo di mahjong wins 3 tanpa tekanan e4 disiplin finansial mahjong wins 3 untuk hasil konsisten e4 disiplin ketat jadi kunci maksimalkan rtp e4 disiplin ketat mahjong wins 2 untuk peluang scatter maksimal e4 fakta mengejutkan rtp mahjong wins tempo main lebih penting dari kecepatan mahjong wins sikap pasif scatter utama saat waktu terasa scatter mahjong putaran demi scatter hitam segalanya mahjong ways ritme scatter wild menyatu mahjong ways lebih lega scatter wild scatter wild mahjong ways setiap putaran mahjong wins arah scatter hitam putaran ketegangan terbangun menjadi scatter hitam bukan sekadar simbol scatter mahjong ways bukan keajaiban mahjong wins scatter hitam aws evaluasi teknis mahjong wins3 aws momentum mahjong ways2 spin aws algoritma dinamis mahjong ways2 aws spin progresif mahjong ways3 aws strategi wild blackscatter ways2 aws fase mahjong wins3 simbol aws efektif scatter hitam wins3 aws target bertahap rtp mahjong aws data rtp adaptasi algoritma aws inovasi pgsoft scatter adaptif studi periodik rasio simbol bernilai tinggi mahjong ways 2 durasi sesi implementasi pola aman simbol wild target finansial 40 juta dialektika intuisi logika struktur mahjong wins 3 inovasi hiburan analisis dekonstruksi pola strategis mahjong ways akumulasi hasil implementasi formasi simbol terpadu mahjong ways efisiensi sesi studi komparatif dinamika pola mahjong ways indikator balikan rekonstruksi strategi pemain ahli algoritma mahjong ways metodologi sinkronisasi simbol grid mahjong ways akumulasi nilai interpretasi teknis formasi pola mahjong ways keputusan strategis kajian profesional pola transisi scatter mahjong ways konsistensi analisis algoritma capaian finansial pola terstruktur mahjong ways sinergi kalkulasi probabilitas pola visual mahjong ways strategi dekoding arsitektur mekanik mahjong ways korelasi pola stabilitas dinamika awal scatter wild mahjong ways 2 strategi total strategi pemain menata ritme konsistensi putaran digital e4 fokus dan konsistensi mahjong wins 2 menuju scatter hitam e4 kesalahan fatal pemain mahjong wins terlalu agresif tanpa ritme e4 mengatur timing spin mahjong wins agar bonus lebih mudah terbuka e4 metode aman berbasis data dan rtp update e4 pendekatan konsisten dan analitis mahjong wins e4 pendekatan terukur mahjong wins dengan pola stabil e4 pola main disiplin dengan analisis angka e4 rahasia konsisten 23 juta berkat evaluasi data e4 strategi aman berbasis rtp terbaru menuju 33 juta mahjong wins keluar zona scatter hitam ketidakacakan mahjong ways scatter saat scatter hitam lebih keras mahjong wins permainan biasa menjadi arena mahjong mahjong ways dinamika scatter wild putaran putaran simbol mahjong ways scatter mulai mahjong wins serius ketika scatter mengatur mahjong wins memasuki fase scatter wild biasa ketika scatter mahjong wins bisa dibaca batas scatter hitam berkuasa di mahjong teknik cerdas untuk meraih kemenangan mahjong wild 2 sicbo gates of olympus pola analisa rtp live perihoki strategi unggul mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza rtp live taktik pola analisa peluang jitu perihoki taktik juara perihoki mahjong wins 3 blackjack starlight princess analisa teknik peluang rtp live paten rahasia tingkatkan kemenangan mahjong ways 2 roulette wild bounty showdown pola strategi rtp live perihoki cara tingkatkan peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live teknik perihoki rahasia pola pemenang mahjong wild deluxe sicbo gates of olympus rtp live teknik peluang analisa duta76 cara tingkatkan peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza teknik rtp live pola duta76 teknik pemenang mahjong wins 3 blackjack starlight princess analisa pola taktik rtp live dibagikan duta76 trik paling unik duta76 mahjong ways 2 roulette wild bounty showdown taktik pola analisa rtp live peluang strategi paling jitu pemenang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live taktik duta76 teknik menguasai pola mahjong wild deluxe dadu sicbo gates of olympus teknik strategi rtp live perihoki trik jitu mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza peluang kemenangan teknik pola rtp live perihoki cara menang cerdas mahjong wins 3 blackjack starlight princess strategi rtp live peluang teknik perihoki bongkar rahasia kemenangan mahjong ways 2 roulette wild west gold pola analisa teknik rtp live duta76 taktik pola jitu mahjong wins 3 pragmatic blackjack lucky neko strategi peluang rtp live diberikan duta76 oke bukan instan scatter wild mahjong ways oke mahjong wins waktu mandek scatter hitam oke ada nuansa mahjong ways scatter wild oke waktu seolah berhenti scatter hitam oke waktu terus berlalu scatter hitam mahjong