Artikel

Terima Kasih, Karena Kalian Berharga

“Sebaik-baiknya orang, ia tidak akan berguna jika tidak memberikan sesuatu untuk sekitarnya…” Kata-kata dosen tadi di kelas sontak membuatku tersadar dari lamunanku saat perjalanan pulang setelah kuliah. Entah mengapa kata-kata itu selalu terniang dalam benakku. Fricilia Mawaria, panggil saja aku Fricil, mahasiswi Program Studi Manajemen Angkatan 2012 Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Aku mengenal Anak-Anak Terang (AAT) dari teman dekatku Islamiah (Iis) yang mengajakku ikut AAT. Ia mengetahui AAT saat LDPKM (Latian Dasar Pengembangan Kepribadian Mahasiswa) oleh Bapak Hadi Santono sebagai dosen pendamping saat itu. Sungguh pertama mendengarnya aku sangat tertarik, mengingat kehidupan ini tidak hanya melulu bekerja untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Tidak tepat kapan waktu pertama menjadi relawan AAT, sekitar Oktober 2013, aku diajak untuk ikut rapat AAT bersama Iis. Kami berdua sangat ingin mengikuti tetapi saat itu kami tidak mengerti apa-apa. Untungnya Antik mau membimbing kami untuk mengenal AAT lebih dekat, terkadang kami juga suka piket di sekretariat ketika tidak sedang berkuliah. Pengalaman Kunjungan Pengalaman luar biasa saya ketika kunjungan ke sekolah untuk pertama kalinya di SMK St. Paulus di Sedayu, aku memperhatikan secara seksama bagaimana presentasi dimulai, lalu dilanjutkan dengan wawancara. Saat wawancara, aku begitu tersentuh dan berbicara dalam hatiku sendiri bagaimana bisa mereka selalu bisa tersenyum saat kondisi mereka seperti ini. Mereka bahkan tidak menuntut banyak hal untuk kehidupan yang mereka jalani saat ini. Bahkan, salah satu calon anak asuh AAT yang aku wawancarai mempunyai cita-cita tinggi. Ia ingin sekali masuk Perguruan Tinggi Negeri dan setelah itu menjadi pengusaha sukses. Kelak setelah sukses ia ingin membantu lebih banyak orang lagi untuk bisa bersekolah lebih layak dan tinggi, tidak seperti ia sekarang. Selang beberapa minggu, aku kembali ikut kunjungan sekolah di SMP Kanisius Gayam. Betapa lucu-lucunya mereka, aku bahkan seperti mengingat masa kecilku, tetapi aku tidak bisa membayangkan, ternyata di balik tubuh mungil mereka tersimpan banyak permasalahan hidup. Salah satu dari mereka ayahnya meninggal dan ibunya sebagai buruh cuci baju. Ibunya masih harus menghidupi 3 orang anak yang masih bersekolah semua. Sejenak terdiam dan masuk dalam lamunanku sebelum tidur, merefleksikan banyak hal yang terjadi setelah menjadi relawan AAT. Seakan aku disadarkan untuk selalu mengucap syukur atas segala yang diberikan-Nya. Dan di dalam diriku selalu ada semangat untuk terus menjadi relawan AAT. Meskipun yang aku berikan sama sekali tidak berarti, tetapi aku berterima kasih pada kalian anak asuh karena kalianlah aku bercermin dan terus ingin berbagi tenaga, pikiran, waktu, dan bahkan aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi donatur. “Lahir di keluarga miskin/kaya bukanlah pilihan kita, tetapi untuk menjadi sukses adalah sebuah pilihan…” Kata-kata motivasi ini diberikan oleh seorang dosen dalam perkuliahan karena masa lalunya. Aku percaya, engkau dan aku juga sanggup menjalani kehidupan dan menjadi lebih baik bukan karena takdir kita lahir di keluarga miskin/kaya tetapi usaha kita yang mampu merubah kehidupan di masa depan.   Fricilia Mawaria Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/terima-kasih-karena-kalian-berharga” size=”175″]  

Terima Kasih, Karena Kalian Berharga Read More »

Rapat Pengurus Pusat

Rapat pengurus pusat Anak-anak Terang (AAT) dilaksanakan 2 hari, yaitu pada tanggal 26 Oktober sampai tanggal 27 Oktober 2013. Rapat pengurus pusat pada hari pertama dimulai pada pukul 15.00. Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh PK (Pendamping Komunitas) atau Staff Administrasi sekretariat Yogyakarta dan perwakilan PK atau Staff Administrasi dari sekretariat Semarang, Madiun, dan Malang. Dalam Rapat itu dibedakan antara rapat PK Yogyakarta dan rapat pengurus pusat. Memang tidak semua PK yang ditunjuk untuk menjadi pengurus pusat bisa datang, tetapi itu sudah mewakili semuanya. Dalam Rapat tersebut dijelaskan tentang tugas yang harus dikerjakan oleh setiap divisi dan pemilihan bagian untuk setiap PK. Beberapa PK juga bisa memilih sendiri mau masuk ke divisi mana, yang dirasa lebih mereka kuasai. Tetapi ada juga yang sudah ditentukan oleh Mbak Alma dan Mbak Chika untuk bertugas dalam divisi tertentu. Tidak lama rapat itu berlangsung karena hanya menjelaskan gambaran tugas-tugas dan memilih bagian untuk pengurus pusat. Rapat pun selesai dan akan dilanjutkan pada keesokan harinya, yaitu hari Minggu tanggal 27 Oktober 2013. Rapat pada hari Minggu dihadiri oleh perwakilan PK dari sekretariat Madiun, Malang, dan Semarang. Walaupun ada PK yang baru tiba di Yogyakarta pukul 07.00 dan rapat dimulai pukul 08.00 pagi, tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap bersemangat dan berkumpul antar sesama PK dari berbagai sekretariat. Rapat pengurus pusat tersebut diawali dengan pengenalan SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) kepada PK baru yang belum begitu tahu tentang SIANAS. Saat itu, Mbak Alma yang bertugas menjelaskan apa itu SIANAS kepada PK baru dan lama agar lebih mengenal lagi tentang SIANAS. Pembagian Divisi Setelah pengenalan SIANAS selesai, mulailah penjelasan untuk pengurus pusat. Beberapa PK yang hari sebelumnya belum sempat datang dan belum mengetahui pembagian divisi atau staff pengurus pusat dijelaskan kembali oleh Mbak Alma dan Mbak Cika. Kemudian dimulai dengan memilih bagian divisi oleh para PK yang belum mendapatkan bagian. Setelah semuanya masuk dan mendapat bagian dalam divisi masing-masing, mulailah penjelasan mengenai masing-masing tugas yang harus dilakukan oleh para pengurus pusat. Penjelasan tentang divisi dilakukan oleh Mbak Alma, Mbak Cika, dan Mbak Lia sebagai pengurus pusat yang lama dan memang yang sudah senior di antara yang lain. Divisinya dibagi menjadi 8 bagian, yaitu Divisi Keuangan yang diisi oleh Agustina Awalia Riyanti, Mahdalena Salupra, Mikaella Maria Dicna Advenia, dan Ryan Frederick, Divisi Kesekretariatan yang diisi oleh Brigitta Tri Damayanti, Lucas Kristiawan, dan Dhika M. Putera, Divisi Admin Media yang diisi oleh Ryan Frederick dan Maria Elisabeth Roberta, divisi Jurnalistik yang diisi oleh Rike Kotikhah, Divisi Kreatif yang diisi oleh Dica Herra Vidianti, Divisi Operasional yang diisi oleh Aloysius Handy Wibowo dan Rosalina Desti Wulandari, Divisi Data Base/SIANAS yang diisi oleh Caroline Nadia Laksita Devy, serta Divisi Beasiswa Perguruan Tinggi yang diisi oleh Ikka Marissa. Sebelum dilakukan penjelasan, pengurus masing-masing divisi berkumpul menjadi satu. Mereka mulai dijelaskan tugas-tugas setiap divisi. Kemudian tugas tersebut dibagi lagi sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan setiap anggota divisi. Sehingga dalam satu divisi dapat saling bekerja sama menyelesaikan setiap tugas yang harus dikerjakan. Setelah mengetahui tugas masing-masing, penjelasan diperdalam dengan praktik langsung. Dalam praktik ini memang tidak bisa lengkap dan hanya dengan contoh saja. Penjelasan secara praktik ini meliputi banyak hal, contohnya saja tugas untuk mengunggah foto di web AAT, mengirim data, memasukkan/menginput data ke SIANAS, meng-update penerimaan transfer dari donatur, dan masih ada yang lain lagi. Penjelasan ini memang lebih lama dari yang sebelumnya yaitu penjelasan tentang SIANAS, karena penjelasan ini lebih detail dan harus benar-benar dimengerti oleh masing-masing pengurus, mengingat tidak setiap saat mereka bisa mendapat penjelasan lebih detail karena pengurus datang dari berbagai kota. Hal terakhir yang dilakukan yaitu sedikit penjelasan tentang pengurus sekretariat cabang. Tidak banyak yang harus dijelaskan karena hal ini tidak sekompleks tugas pengurus pusat. Karena semua dirasa cukup dan sudah selesai, rapat pengurus pusat pun berakhir pada siang hari dan ditutup dengan makan siang bersama.   Mikaella Maria Dicna Advenia Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/rapat-pengurus-pusat” size=”175″]  

Rapat Pengurus Pusat Read More »

Bertemu dengan Masa Lalu

Nama saya Nataliya Isma. Awal bergabung dengan Anak-Anak Terang (AAT), saya rasa itu adalah bisikan Roh Kudus. Tidak pernah terbersit dalam hidup saya untuk bisa berbagi dalam bidang pendidikan bersama Anak-Anak Terang. Nama AAT sangat berarti dalam hidup saya. Karena dengan bergabung dengan AAT, saya bisa membawa terang untuk mereka yang mengalami kegelapan terhadap dunia pendidikan khususnya. Berawal dari Iseng di Internet Saat itu saya iseng-iseng mencari beasiswa di internet. Beasiswa yang ingin saya “tembak” adalah beasiswa dari pemerintah atau lembaga-lembaga lain yang biasanya dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswa untuk menambah uang sakunya. Selama ini saya bisa kuliah juga karena dana dari orang tua asuh di Komunitas Saint Egidio. Tujuan saya adalah meringankan beban orang tua asuh saya, kalau-kalau saya mendapat beasiswa dari luar. Siapa tahu dana kuliah saya bisa dialokasikan untuk adik-adik panti yang lain. Tidak sengaja saya menemukan website AAT, setelah saya pelajari, rupanya ini adalah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dengan memberikan beasiswa dan pendampingan. Saya merasa rindu bergabung dengan organisasi, karena di lingkungan kampus saya kegiatan sosial seperti ini sangat terbatas. Dalam website itu, di jelaskan bahwa kita bisa menjadi Anak Asuh (AA), Penanggung Jawab Komunitas (PJ) atau Pendamping Komunitas (PK) yang sering juga disebut sebagai Staff Admin. Saya berpikir, “Tidak apa-apalah menjadi relawan (PK), siapa tahu menambah relasi untuk masa depan nanti.“ Kemudian modal iseng juga saya SMS Pak Hadi Santono selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan AAT Indonesia. “Selamat siang Pak, maaf menganggu. Nama saya Nataliya Isma dari Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro. Saat ini saya kuliah di Multimedia Training Center (MMTC) Yogyakarta. Apakah bisa mahasiswa bergabung untuk menjadi relawan AAT ? Terima Kasih.“ Dalam SMS, saya sebutkan bahwa saya berasal dari Panti Asuhan Brayat Pinnuji Boro, karena memang sejak kecil saya sudah tinggal di Panti Asuhan. Hingga saat ini, setiap akhir pekan saya pulang ke panti. Selama berakhir pekan di panti, saya membantu suster untuk mengasuh adik-adik di Panti Asuhan. Pagi hari ketika saya bangun tidur, saya membuka pesan masuk di HP yang ternyata pesan dari Pak Hadi. Beliau menjawab, “Iya, saya tunggu di ruang Dekanat FTI UAJY Lantai 1 jam 2 nanti. Terima kasih.” Mata saya langsung bening dan saat itu juga langsung saya balas, “OKE Pak.. “ Universitas Atma Jaya Yogyakarta adalah kampus yang saya impikan. Tetapi sayangnya saya tidak bisa masuk kesana karena secara finansial terlalu mahal dan saya tidak sepintar Mbak Susan, kakak di panti saya yang mendapat beasiswa NOL RUPIAH selama 4 tahun kuliah di UAJY. Tetapi saya tetap bersyukur karena sekarang saya mendapat kesempatan kuliah di bidang penyiaran, khususnya radio dan televisi di MMTC. Dan saya sangat menikmati bidang ini. Didasari saat SMK saya sudah mengambil multimedia, jadi tidak terlalu susah untuk mengikuti beberapa mata kuliah yang ada. Itulah yang ada di pikiran saya saat pertama menginjak Kampus UAJY. Survey yang Memberi Pelajaran Hidup Pengalaman pertama saya survei adalah di sebuah sekolah pedesaan di sekitar Pegunungan Menoreh. Walaupun dari sebuah desa yang jarang air, letak geografisnya nempel di badan Pegunungan Menoreh dan mayoritas penduduknya adalah petani. Indah sekali pemandangan di sana. Saat itu saya bersama beberapa teman AAT, Mbak Alma, Mbak Chika, dan Fera, berangkat menuju Kulon Progo. Tepatnya di SD Kanisius Kenalan. Sekolah ini sangat unik. Murid-muridnya memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka rata-rata berjalan 2 sampai 3 km dengan berjalan kaki menuju sekolah. Suasana sekolah itu, seolah membawa saya pada masa lalu saya ketika saya belum masuk di panti asuhan dan asrama, dididik bersama suster-suster OSF. Wawancara PJ berlalu, dan tiba saatnya untuk wawancara anak asuh. Ada satu anak yang membuat saya terkejut dan tercengang. Dari data yang saya lihat dan saya perhatikan, sepertinya anak ini anak yang susah hidupnya. Rambutnya sedikit menggumpal agak merah, kulitnya hitam, tetapi badannya sedikit lebih besar dari saya. Bisa saya bilang anak ini dekil sekali. “Namanya siapa, dek ?” tanya saya. “Bernadeta Tari, mbak.. (bukan nama asli)” “Dipanggil Tari ya..” “Rumahnya masih gedek (sejenis anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang dijadikan dinding rumah) dek?” tanya saya lagi. “Iya, mbak,” jawabnya lirih. “Lantainya masih tanah?” tanya saya kembali. “Iya, mbak..” “Kalau belajar jam berapa, dek?” “Tidak pernah belajar mbak” “Lho, kenapa?” “Setelah pulang sekolah, saya membantu Mbah, mbak” “Kalo sore-sore atau malam gitu?” Adik itu hanya diam. Saya pun diam sambil memikirkan pertanyaan selanjutnya. “Di rumah sudah ada lampu kan, dek?” “Belum, mbak” jawabnya pelan. “Hah? Terus menggunakan apa?” “Pakai sentir Mbak (sentir adalah botol yang diberi minyak tanah dan diberi sumbu)” Saya hanya diam. Air mata seakan ingin tumpah, tetapi tidak mungkin hal ini terjadi. Saya mencoba menarik nafas dan membuat hati ini sedikit tenang. Sekarang tahun 2013 masih ada rakyat Indonesia yang tidak punya lampu listrik sebagai alat penerangan. Saya shock, karena itu adalah masa lalu saya. Kembali ke Masa Lalu dan Refleksi Sebelum saya tinggal di panti asuhan bersama para suster OSF, rumah saya masih bambu, belum memakai listrik dan saya harus berjalan sekitar 2 km dari rumah menuju sekolah. Bisa dikategorikan keluarga saya adalah keluarga paling miskin di desa itu. Ejekan dari tetangga pun menjadi makanan yang biasa untuk kami. Kalau dari bapak, hal tersebut adalah hal yang biasa dan beliau tidak ambil pusing. Akan tetapi, untuk ibu saya, ejekan dari tetangga adalah sebuah beban hidup. Hal inilah yang memicu saya untuk membuktikan kepada tetangga-tetangga saya bahwa saya ingin membangun harga diri keluarga saya. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa kuliah, mempunyai pekerjaan yang mapan, dan mempunyai keluarga yang baik-baik. Itulah sebabnya mengapa sampai saat ini saya masih bertahan menjadi relawan AAT. Saya pernah merasakan punya tunggakan uang sekolah sampai tidak bisa mengikuti ujian. Saya pernah menyaksikan ibu saya berjuang menjual kelapa setiap pagi ke pasar, sedikit demi sedikit ditabung, demi membayar uang sekolah saya. Menjual ayam kesayangan saya demi membayar SPP. Saya pernah menjadi mereka dan hidup susah seperti mereka. Ya, luka di masa lalu yang membuat saya memiliki hati untuk berbagi. Tugas kampus, pekerjaan di tempat kerja, dan kegiatan lain pun terkadang menyita waktu saya sehingga tampaknya saya kurang bergerak di AAT. Saya pun manusia, terkadang merasa jenuh terhadap pekerjaan AAT. Tetapi dari

Bertemu dengan Masa Lalu Read More »

Horeee kumpul lagi…

Hari Minggu tanggal 1 Desember 2013, para relawan Anak-Anak Terang (AAT) Semarang berkumpul kembali. Kami berkumpul di Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang. Acara dimulai pukul 08.00 pagi dan dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Kak Edo. Setelah itu, Kak Edo dan Kak Handy memberi penjelasan tentang tugas koordinator, PK (Pendamping Komunitas), sekretaris, dan bendahara. Kami semua pun bersiap-siap mengeluarkan laptop sambil mendengarkan penjelasan dari Kak Edo dan Kak Handy. Setelah penjelasan selesai, kami mengadakan evaluasi tentang survei dan wawancara calon anak asuh di sekolah-sekolah serta evaluasi kinerja PK. Lalu dilanjutkan dengan training SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) dan penjelasan tentang pengiriman raport anak asuh. Kelanjutan beasiswa tiap kenaikan kelas juga dijelaskan oleh Kak Edo dan Kak Handy. Mas Christ, Bu Lies, dan Bruder Konrad, CSA., dengan setia mendampingi kami selama acara berlangsung. Kehadiran mereka di tengah-tengah kami selalu menjadi warna tersendiri untuk kami. Kami pun mulai sibuk dengan laptop dan tidak terasa waktu makan siang pun tiba. Akhirnya kami semua beristirahat setelah lama berkutik dengan laptop. Acara makan siang sudah selesai. Kami kembali ke ruang 302 untuk mengikuti acara selanjutnya. Tapi sebelum itu, Bu Lies memberikan nasehat kepada kami semua. Kami sangat berterima kasih pada beliau dan akan selalu mengingat serta menyimpan nasehat-nasehat Bu Lies. Acara selanjutnya adalah acara paling menarik, dimana para PK diberikan pelatihan jurnalistik oleh para pembicara dari “Rumah Media”. Dan kehadiran mereka pun menghadirkan kegembiraan bagi kami. Pembawaan mereka yang seringkali mengundang tawa, membuat kami semua terhibur. Mbak Ulin membuka acara dengan gaya bicaranya yang lucu. Mbak Ulin memperkenalkan teman-temannya dari “Rumah Media”. Selanjutnya giliran Bu Wesiati yang menjelaskan tentang apa itu jurnalistik. Beliau menceritakan pengalamannya selama terjun dalam dunia jurnalistik. Beliau berkata bahwa menulis sebuah buku itu rumit, karena selalu saja datang yang namanya komentar dan kritik. Namun bagi beliau tidak ada satupun karya yang sempurna. Sebagus apapun sebuah karya tidak akan lepas dari yang namanya komentar dan kritik. Beliau juga menceritakan proses beliau dalam menulis sebuah buku. Lalu dilanjutkan Mbak Maria dan Mas Billy menceritakan pengalamannya bergabung dengan AAT. Setelah pelatihan jurnalistik selesai, dilanjutkan oleh Pak Tis yang menceritakan pengalamannya di dunia jurnalistik. Beliau berprofesi sebagai wartawan. Dan beliau berpesan pada kami semua, “Jangan pernah patah semangat, karena apapun yang kita lakukan itu semua membutuhkan sebuah proses.” Acara pun selesai pukul 16.00 dan ditutup oleh doa yang dipimpin oleh Kak Edo. Banyak hal yang kita dapatkan dari kegiatan ini. Kebersamaan yang kami lewati semakin mendekatkan kami antara satu dengan yang lain. Menulis itu bukan hal yang menakutkan. Lewat tulisan bisa mengungkapkan perasaan kita bahkan kegelisahan kita. Ternyata memang benar bahwa buku adalah jendela dunia. Menulis itu seperti menyimpan sebuah file. Waktu kita membutuhkan sesuatu kita tinggal membukanya saja. Setiap karya dan seperti apapun karya kita pasti tidak akan lepas dari komentar dan kritik. Tetapi sebenarnya itulah yang kita butuhkan. Sebuah komentar adalah sebuah langkah untuk maju. Di mana komentar tersebut menuntun kita pada sebuah perbaikan. Kita juga mulai berpikir bagaimana kita bisa menjadikan karya kita lebih baik dari sebuah komentar dan kritik. Dalam menulis, kita harus belajar untuk fokus terhadap apa yang mau kita tulis. Fokus dengan apa yang kita gali, apa yang kita catat, dan pada apa yang kita sampaikan lewat tulisan kita. Itu yang namanya fokus. Jangan lupa sebagai langkah awal kita menulis berikan sebuah senyuman yang menandakan sebuah ketulusan dari hati kita. Karena dari ketulusan itulah akan kita dapatkan sebuah tulisan yang hidup. “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreatifitas ditimbang-timbang“  (Seno Gumira Ajidarma)   Agnes Lensa Staff Administrasi AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/horeee-kumpul-lagi” size=”175″]  

Horeee kumpul lagi… Read More »

So, What Colour Are You?

Anak Anak Terang (AAT), itulah nama yang setahun lalu terngiang dalam benak dan membuat saya penasaran. Beragam pertanyaan mulai mengusik saya. Mulai dari apa itu AAT? Apa saja kegiatan yang ada di AAT? Beruntunglah saya bertemu dengan Mas Christ yang bersedia menjelaskan tentang AAT. Beliau menjelaskan bahwa AAT adalah komunitas sosial yang konsen membantu anak-anak yang kurang mampu dalam hal finansial supaya dapat terus melanjutkan pendidikannya. Tidak ketinggalan beberapa buah stiker dan satu buah tas yang berlogo AAT dihadiahkan kepada saya di akhir pembicaraan. Tidak lupa juga meluncur kalimat ajakan, “Kalo ada waktu, yok melu gabung ngewangi AAT, kuwi ono website AAT ojo lali dibuka, ben luwih ngerti soal AAT” yang artinya, “Ayo gabung bantuin AAT, itu ada website AAT jangan lupa dibuka, supaya kamu lebih mengerti tentang AAT.” Dari situlah awal perkenalan saya dengan yayasan sosial ini. Seiring dengan berjalannya waktu, saya sering bertemu dengan teman-teman relawan AAT dari Semarang. Lambat laun, saya mulai sedikit mengerti aktivitas apa saja yang dilakukan para relawan dan tentu cara kerja para relawan dalam membantu AAT. Mulai dari cara pengajuan proposal, survei, hingga bagaimana cara input data. Saya jadi semakin tertarik untuk bergabung menjadi relawan di AAT. Namun, waktu seakan selalu jadi penghalang. Baru bulan Mei lalu, waktu mengijinkan saya bergabung menjadi relawan AAT. Saya masih ingat jelas pengalaman pertama survey ke SMP Bellarminus Semarang dengan sambutan teman-teman yang tidak terlupakan. Waktu saya datang, teman-teman relawan Semarang dengan sangat kompak berseru “akhirnya datang juga.” Sambutan yang cukup menyenangkan, mungkin saking lamanya mereka menunggu. Hari itu juga merupakan pengalaman pertama saya mewawancarai calon anak asuh AAT. Mungkin saya juga yang merasa paling berdosa waktu itu karena menolak banyak calon anak asuh. Tentang Yani Satu kisah dari salah satu anak yang waktu itu saya wawancarai yang membuat saya terharu, salut, serta bersyukur dengan keadaan saya sekarang ini. Yani namanya. Dia tinggal menumpang di rumah kakeknya di Semarang bersama ibu dan kedua adiknya. Ibunya tidak memiliki mata pencaharian yang tetap. Mulai buruh cuci harian hingga mengasuh anak tetangga, itupun jika ada yang meminta. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan Yani sejak kecil, “saya tidak tahu dimana ayah sekarang,” jawabnya lirih ketika saya bertanya padanya.   Untuk hidup sehari-hari, Yani mengandalkan bantuan dari tantenya yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah kakeknya. Penghasilan ibunya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi kakeknya yang sudah tua dan sering sakit. Uang sakunya tiap hari hanya 2 ribu rupiah, itupun juga mengandalkan pemberian dari tantenya, jumlah rupiah yang bagi sebagian orang nilainya tidak seberapa. Tak jarang dia juga membantu mengasuh anak tantenya untuk mendapatkan uang tambahan. Meski begitu, semangatnya untuk sekolah tetap membara, tumpahan sinar matahari yang terik ketika berjalan kaki pulang dan pergi tak pernah menyurutkan niatnya. Sungguh perjalanan hidup yang bagi saya sangat luar biasa dan sangat menginspirasi. Di akhir wawancara tak lupa saya menyelipkan kalimat, “semangat ya dik, kamu bisa!” Cat Lukis dan Warna Kehidupan Cerita Yani tadi menjadi refleksi tersendiri bagi saya, mengingatkan saya saat dikarantina selama satu minggu di lereng Merapi dalam acara latihan kepemimpinan setahun yang lalu. Di sana saya diajak untuk merasakan langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar, menjadi penambang pasir di sungai, membantu nenek tua berjualan di pasar, sampai mencari makan untuk kambing, dan membersihkan kandangnya. Pada saat akhir sesi ada satu pertanyaan menarik. Pertanyaan tersebut adalah, seperti apa dirimu jika digambarkan sebagai suatu benda dan mengapa. Ketika itu saya menggambarkan diri saya sebagai cat lukis. Mengapa? Filosofinya saya mengibaratkan setiap manusia punya warna tersendiri dalam dirinya, yang akan digoreskan dalam kanvas orang lain, dan tentunya bakal membekas menjadi kumpulan warna tersendiri bagi orang tersebut. Intinya, saya ingin menjadi orang yang memberi dan menggoreskan warna tersendiri dalam kehidupan seseorang, sehingga menjadi lebih berwarna. Berangkat dari refleksi di atas, saya berharap dengan bergabung di AAT bisa menjadi media saya untuk lebih banyak belajar tentang hidup dan tentunya memberi warna bagi kehidupan sesama. Inilah sepenggal kisah pengalaman saya selama bergabung dengan Yayasan AAT Indonesia (AAT). Seperti judul cerita di atas, satu pertanyaan yang akan saya ajukan kepada anda semua, “So, What Colour Are You?”   Polycarpus Estutomo Bani Pandhito Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/so-what-colour-are-you” size=”175″]  

So, What Colour Are You? Read More »

Belajar Bersyukur Bersama AAT

MENJADI seorang mahasiswi bukanlah satu-satunya impianku pada beberapa tahun yang lalu. Mungkin bagi sebagian besar anak di luar sana, melanjutkan pendidikan seusai lulus SMA adalah hal yang mudah dan wajar karena orang tua mereka mampu untuk membiayainya. Namun, kesadaran bahwa hanya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, terlebih keadaan orang tua yang masing-masing sudah memiliki keluarga sendiri. Perceraian mereka, membuat semangatku menciut untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Mustahil untuk dapat menikmati bangku kuliah bersama teman-teman yang lain. Sehingga aku lebih memilih bekerja menjadi seorang Research and Development (R&D) di sebuah Perusahaan Food and Beverage di Kota Tangerang selama kurang lebih 1 tahun. Hingga akhirnya terjadi percakapan singkatku bersama Bruder Konrad, CSA, Ketua Yayasan Santo Paulus. Aku kenal beliau semenjak kelas 1 SMK saat menghadiri acara MOS di Gua Maria Kerep Ambarawa. Ketika itu kusampaikan keinginanku bahwa aku sangat ingin melanjutkan kuliah dan tanpa kuduga sebelumnya ternyata Bruder memberikanku tawaran untuk berkuliah di Akademi Kimia Industri (AKIN) Santo Paulus Semarang. Kukira Bruder hanya bercanda saat menyampaikan hal tersebut. Namun ternyata tawaran itu serius. Entah apa yang kurasakan saat itu. Senang karena diberi kesempatan untuk kuliah, namun juga bingung, siapa yang akan membantu perekonomian keluarga jika aku kuliah. Dengan sedikit mendengarkan hati kecil dan sedikit keegoisanku, aku mengambil kesempatan yang diberikan oleh Bruder Konrad, CSA walau terjadi pro dan kontra di dalam keluarga besarku. Kebingungan lainnya muncul lagi setelah aku mulai menjadi seorang mahasiswi. Meskipun mendapat bantuan beasiswa pada semester pertama, namun kuliah juga memerlukan biaya untuk mencukupi segala kebutuhan kuliah lainnya. Contohnya seperti untuk fotocopy, membeli alat tulis, dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, aku bekerja di sebuah Event Organizer. Meski berpenghasilan tak seberapa, namun lumayan daripada tidak memiliki masukan sama sekali. Tidak cukup sampai di situ, kebingungan lainnya muncul lagi karena uang yang kuperoleh tidak dapat mencukupi biaya kuliahku. Dan memang benar, Tuhan tidak pernah tidur. Kembali lagi Bruder Konrad, CSA memberikanku kesempatan emas yang sangat berharga bagiku. Bersama teman sekelasku, Handy, aku menemui Bruder yang kemudian dijelaskan tentang Anak Anak Terang (AAT). Kami diminta untuk menjadi relawan AAT untuk Sekretariat Semarang. Lalu kami dijelaskan lebih lanjut tentang AAT oleh Mas Christianus Widya Utomo (Mas Christ). Ternyata memang menyenangkan bisa bergabung dan mengenal AAT, apalagi terlibat di dalamnya dan menjadi salah seorang relawan yang bisa menyumbangkan tenaga serta waktu. Di sini juga aku bisa belajar banyak hal. Belajar segala hal yang tidak bisa dijelaskan oleh teori saja. Belajar tentang bersyukur, singkat namun sangat sulit untuk dipahami. Sebelum mengenal AAT, aku selalu merasa bahwa nasibku sangat buruk jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Terlahir dari keluarga sederhana, orang tua yang bercerai sejak aku kecil, tinggal jauh dari orang tua, sangat banyak yang menjadikanku alasan bahwa hidup ini sangatlah tidak adil. Namun setelah aku mengenal AAT, bagaikan ditampar langsung oleh Tuhan. Ternyata aku masih lebih beruntung. Hingga saat ini aku masih bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini tidak kusadari. Sangat berbeda jika kehidupanku dibandingkan dengan kehidupan para Anak Asuh di AAT. Setidaknya aku harus lebih bersyukur bahwa selama ini aku masih bisa bersekolah tanpa harus lelah bekerja menjadi tukang penjual majalah dan tanpa harus lelah bekerja di stasiun seperti yang dialami oleh anak-anak asuh AAT. Setidaknya aku harus lebih bersyukur bahwa aku masih bisa makan 3 kali sehari, tanpa harus lelah bekerja sepulang sekolah demi sesuap nasi untuk menyambung hidup. Lebih bersyukur bahwa setidaknya aku masih bisa tidur di atas kasur yang empuk jika dibandingkan dengan mereka yang tidur beralaskan koran. Lebih bersyukur bahwa bisa berjalan untuk berangkat ke sekolah hanya sejauh 500 meter, jika dibandingkan dengan mereka yang berjalan sejauh puluhan kilometer tanpa mengenakan alas kaki. Banyak hal yang diajarkan secara tidak langsung oleh anak-anak asuh AAT. Seperti menemukan keluarga baru di sana. Memiliki “Mami” yang tak pernah lelah untuk memberikan wejangan, memberikan cubitan-cubitan tentang menyikapi arus hidup. Memiliki kakak-kakak yang selalu mendorong semangat untuk melayani sesama, yang selalu berteriak-teriak agar aku memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki penasihat-penasihat yang sangat luar biasa dalam membentuk moral serta mentalku yang kurasa masih sangat lemah. Terlebih aku diberi kesempatan untuk menjadi salah satu anak asuh penerima beasiswa AAT untuk Perguruan Tinggi. Sungguh mukjizat yang sangat nyata terjadi bagi kehidupanku semenjak mengenal AAT. Meskipun keluarga baruku ini kadang terlihat sangat “galak” dan sering memberikan “tekanan”, namun itu semua ada maksudnya. Aku yakin bahwa suatu saat apapun yang telah mereka ajarkan kepadaku akan berguna di dunia luar nanti. Omelan-omelan dan wejangan dari Mami Can (Ibu Elisabeth Lies Endjang), marahan-marahan dari mas Christ, sentilan-sentilan dari kak Can (Mbak Santi Widya), dan aturan-aturan serta ketegasan dari Bruder Konrad, CSA, suatu saat nanti pasti akan sangat kurindukan meski saat ini sudah sangat lelah mendengar teriakan-teriakan dari mereka. Namun apalah jadinya diriku yang saat ini, jika 19 September 2012 yang lalu aku tidak mengenal AAT. Sekarang tidak ada lagi Nisa yang patah semangat. Tidak ada lagi Nisa yang selalu mengeluh tentang hidup. Tidak ada lagi Nisa yang lembek untuk menghadapi dunia luar. Tidak ada lagi keluh kesah pada Tuhan, dan tidak ada lagi alasan bagiku untuk tidak bersyukur. Apalagi yang masih harus Tuhan beri untuk kita? Udara tersedia gratis bagi kita, rezeki pun selalu ada celah untuk kita terima. Semua disediakan-Nya secara gratis untuk kita. Hanya sejauh mana kita mampu memandang itu semua sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Semua yang terjadi di dalam hidup kita sesungguhnya adalah sebuah anugerah. Kita bahagia, senang, gembira, sedih, berduka, musibah, sakit, semua adalah anugerah dari Tuhan. Apapun yang terjadi dalam kita bukan suatu kebetulan. Tidak perlu menunggu sempurna untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. Sekali lagi, terimakasih yang sebesar-besarnya khususnya untuk Bruder Konrad, CSA (Bruder Agustinus Samsari) yang telah banyak berjasa dalam mengubah kehidupan dan kepribadianku. Pertolongan Tuhan datang melalui Bruder Konrad, CSA dan seluruh Tim AAT. Terima kasih, semoga AAT bisa semakin membawa Terang bagi sesama dan semakin berkembang demi kecerdasan anak bangsa. Amin.   Annisa Wulan Andadari Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/belajar-bersyukur-bersama-aat” size=”175″]  

Belajar Bersyukur Bersama AAT Read More »

Hidupku Lebih Bermakna Bersama AAT

Tanggal 19 September 2012 adalah tanggal yang tidak bisa saya lupakan. Bermula dari obrolan bersama Bruder Konrad, CSA seputar kegiatan kampus, beliau pun lantas mengajak saya dan teman saya Annisa untuk menjadi relawan Anak-Anak Terang (AAT). Dalam hati saya berpikir seperti apa kegiatan AAT itu? Bruder pun memberikan kontak dari pengurus AAT yaitu Mas Christianus Widya Utomo atau yang biasa kita panggil Mas Christ. Esoknya saya dan Annisa pergi menemui Mas Christ. Beliau lalu menjelaskan tentang apa itu AAT dan kegiatan seperti apa yang nanti akan dilakukan. Beliau juga mengatakan bahwa yang menjadi relawan mayoritas adalah mahasiswa dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hari minggunya, saya bersama Annisa, Maria, dan Pieter mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai AAT oleh Bapak Hadi Santono selaku Ketua Yayasan AAT Indonesia dan tiga mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang telah lebih dahulu menjadi seorang relawan AAT. Mereka adalah Chika, cik Christina dan kak Mega. Ketiganya saling bergantian menjelaskan kepada saya dan teman-teman mengenai Sistem Pengelolaan Beasiswa AAT, prosedur pengajuan proposal beasiswa, dan lain-lainnya. Sungguh banyak sekali yang harus diingat-ingat. Rasanya saya hampir tidak bisa mengingat semua itu dengan jelas. Tapi satu point penting yang dapat saya ambil bahwa AAT membantu adik-adik yang ingin bersekolah namun tidak memiliki dana untuk membiayainya. Pada saat memulai wawancara untuk yang pertama kali dengan calon anak asuh, saya sangat tersentuh mendengarkan cerita-cerita mereka. Kebanyakan dari mereka merupakan anak yatim atau anak piatu. Ada juga yang ayah dan ibunya tidak lagi bersama (bercerai). Selain itu, ada yang sejak mereka lahir mereka tidak mengenal ayah atau ibu yang seharusnya mengasihi, menyayangi, dan membimbing, serta mendidik mereka. Bahkan ketika disuruh menceritakan tentang keluarganya, ada salah satu calon anak asuh yang menangis. Ia menceritakan tentang kehidupan keluarganya yang sangat menyedihkan karena orang tuanya sudah meninggal. Dan ia pun hanya diurus oleh neneknya yang setiap hari berusaha untuk memenuhi kebutuhannya agar bisa terus bersekolah. Akhirnya Bisa Kuliah Melihat adik-adik yang punya semangat untuk terus bersekolah, mengingatkan saya ketika mau lulus SMP. Waktu itu saya ingin melanjutkan sekolah di SMA layaknya teman-teman lainnya. Tetapi nenek dengan keras mengatakan “Handy kamu tidak usah ke SMA biayanya sangat mahal kamu lebih baik masuk SMK biar cepet kerja bantu orang tua cari uang”. Saya mengerti kondisi keuangan keluarga saya memang tidak sebaik saudara-saudara saya. Tetapi dalam hati bertanya mengapa cuma saya yang harus masuk di SMK? Pada awalnya memang saya sedikit kecewa dan putus asa karena tidak diijinkan masuk SMA. Tetapi saya juga harus tahu bahwa masuk SMA sangat mahal sehingga saya memilih masuk SMK dengan tujuan setelah lulus bisa langsung bekerja. Namun setelah melihat lowongan pekerjaan di saat saya kelas 3 SMK yang dibutuhkan minimal D3/S1, saya ingin melanjutkan pendidikan. Tetapi uang dari mana untuk bisa kuliah? Orang tua bilang bahwa uang tidak perlu dipikirkan yang penting bisa kuliah dulu. Akhirnya saya melanjutkan kuliah di Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang. Saat tiba waktu pembayaran kuliah, saya merasa was-was memikirkan pelunasan pembayaran. Tetapi ternyata orang tua bilang kepada saya bahwa uang kuliah cicilan pertama sudah lunas. Saya bingung, uang darimana sampai bisa membayar? Namun mereka menjawab tidak usah memikirkan biaya dan fokus kuliah saja. Bulan pertama kuliah lancar sampai akhir semester tetapi uang kuliah belum lunas. Saya pun harus meminta dispensasi ke kampus agar diberi keringanan. Untuk dapat melunasi uang kuliah, saya berusaha meringankan sedikit beban orang tua dengan memberikan les private. Hasilnya memang tidak seberapa. Tetapi setidaknya saya bisa sedikit membantu orang tua. Meskipun tiap semester saya tetap harus menemui bagian keuangan untuk meminta dispensasi. Meskipun begitu, saya tidak patah semangat karena saya ingin menjadi orang yang lebih baik dan dapat membanggakan orang tua. Suatu hari saat rapat dengan teman-teman AAT, Bu Lies mengatakan kepada kami bahwa kami diajukan dalam beasiswa AAT untuk perguruan tinggi dan harus melewati tahap seleksi. Saya mulai mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Waktu proses wawancara pun saya melaluinya satu persatu dengan pasrah dan tetap sabar menunggu hasilnya. Dan akhirnya saya dinyatakan lolos seleksi. Saat itu juga saya merasa senang karena bisa meringankan beban orang tua saya dan mereka tidak harus membanting tulang demi dapat membiayai uang kuliah saya. Saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua saya dan juga untuk donatur yang telah membantu saya sehingga saya dapat terus menimba ilmu sampai sekarang.   Selama mengikuti kegiatan AAT, saya dan teman-teman selalu didampingi oleh Mas Christ, Bu Lies dan Bruder Konrad, CSA. Meskipun terkadang beliau-beliau marah karena kami berbuat salah dan kurang bertanggung jawab, namun kami sadar semua itu agar kami menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Saya sangat senang dapat bergabung di AAT. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan. Mulai dari bagaimana berbicara yang baik dengan orang banyak terutama dengan orang tua, belajar tentang tanggung jawab, pantang menyerah, dan belajar bagaimana mengatur waktu dengan baik. Kelak ketika saya sudah menjadi orang yang mapan nanti, saya juga ingin membantu adik-adik saya yang kurang mampu agar dapat mengenyam pendidikan yang baik. Terima kasih Anak-Anak Terang, terima kasih Bruder Konrad, CSA, terima kasih Mas Christ dan juga Bu Lies. Pengalaman serta pendampingan yang baik ini tidak akan saya sia-siakan.   Aloysius Handy Wibowo* Staff Admin AAT Semarang * Aloysius Handy Wibowo adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/hidupku-lebih-bermakna-bersama-aat” size=”175″]  

Hidupku Lebih Bermakna Bersama AAT Read More »

Relawan AAT, Why Not?

Akbar Romadan, itu adalah nama saya. Tetapi cukup panggil Akbar saja. Saya dari Madiun ke Semarang bertujuan untuk melanjutkan studi (kuliah) dengan bantuan Bu Han (guru SMA yang paling dekat dengan saya) dan Bruder Konrad, CSA. Satu lagi, Yonathan Setyawan. Sahabat saya ini juga turut berperan membantu saya agar bisa pergi ke kota Semarang. Awalnya dulu saya sudah mendaftar ke sebuah universitas negeri terkenal di Surabaya. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Baik jalur undangan maupun tes, tidak satu pun nama saya ter-“list” di dalamnya saat pengumuman. Kecewa, itulah yang saya rasakan saat itu. Dan yang pastinya saya juga merasa sedih. Tetapi yang paling saya pikirkan, setelah ini langkah selanjutnya apa? Saya tidak memperhitungkan bila hal ini terjadi. Tetapi, ternyata Allah punya rencana lain. Sebelum pendaftaran jalur tes universitas, Bu Han memberikan brosur AKIN St. Paulus Semarang kepada saya. Beliau mengatakan “AKIN bagus Akbar, sebelum lulus sudah dapat pekerjaan”. Mendengar itu saya tertarik dan akhirnya mengisi formulir AKIN. Berkat mengisi formulir tersebut, saya mendapatkan pilihan lain. AKIN menjadi tujuan baru saya dan melupakan impian untuk bisa kuliah ke Surabaya. Surabaya telah menolak saya, tetapi Semarang akan menerima saya. Pada 23 Agustus 2013, saya pergi ke Semarang diantar oleh Bu Han bersama keluarganya. Tujuan pertama adalah AKIN, untuk menemui Pak Bambang, salah satu dosen AKIN bagian kemahasiswaan. Tujuan kedua, mencari tempat kos. Dan tujuan terakhir, mempersiapkan mental dan pikiran di tempat yang baru. Tidak lupa juga untuk membetahkan diri di sana. Tiga hari pertama masuk kuliah di AKIN digunakan untuk masa orientasi. Tiga hari berikutnya digunakan untuk Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di Kerep, Ambarawa. Saat itulah, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Br. Konrad, CSA. Beliau menjelaskan tentang Anak Anak Terang (AAT). Bingung, itu yang ada dalam benak saya saat itu. Apa itu AAT? Apa tujuan adanya AAT? Kemudian Bruder menjelaskan lebih lanjut tentang AAT. Dari situ saya mulai sedikit paham. Pertemuan kedua kali dengan Bruder, saya “disuruh” ikut AAT. Awalnya saya ragu karena belum begitu paham tentang AAT. Tetapi setelah mengikuti acara AAT pada tanggal 7 September 2013 lalu, saya baru mengetahui lebih detail tentang AAT dari kakak tingkat saya. Mulai saat itu, ada ketertarikan pada AAT dan ingin rasanya mengajak teman yang lain untuk ikut bergabung juga. Selama di AAT, saya banyak bertemu dengan orang baru. Hal itu sekaligus untuk menambah jaringan AAT agar semakin luas. Pertemuan kedua AAT, membuat saya semakin tertarik. Tidak hanya dari teman sekampus, dari kampus lain pun hadir. Tidak cukup sampai di situ, dari kota lain pun tidak ketinggalan seperti Yogyakarta, Purwokerto, Malang, dan Madiun. AAT sungguh ada di mana-mana. Yang paling menyenangkan adalah ketika diadakannya retreat di Gedang Anak, Ungaran, Semarang. Empat kota menjadi satu. Perwakilan Pendamping Komunitas (PK) dari Semarang, Yogyakarta, Madiun, dan Purwokerto berkumpul menjadi satu. Pada sesi pertama para PK diajarkan tentang Public Speaking oleh Pak Harry Santoso, agar kelak pada saat menyampaikan sosialisasi AAT tidak grogi. Dapat mengendalikan situasi dan tahu apa yang harus dilakukan ketika berbicara di depan umum. Selain itu, dapat berkomunikasi dengan baik, membuat orang yang kita ajak bicara merasa nyaman serta mudah memahami apa yang kita sampaikan. Selain itu juga, kita juga diberi ilmu bagaimana seseorang itu jujur atau sedang menyembunyikan sesuatu. Beliau juga mengajarkan tentang bagaimana menemukan kesamaan antar anggota komunitas yang nantinya akan membuat komunitas tersebut menjadi nyaman, solid, dan dapat terus berjalan meski ada kerikil yang menghambat. Sesi kedua, kami disuruh menutup mata kami dengan kain penutup oleh panitia. This is Games. Kami disuruh berjalan keliling di sekitar tempat tersebut dengan mata tertutup. Kunci dari permainan ini adalah percaya pada pemimpin yang akan mengingatkan kita yang ada di belakangnya ketika di depan ada sesuatu dan juga bertugas menjaga komunikasi. Setelah selesai dari permainan ini, mata kami tetap dalam keadaan tertutup. Pada sesi ini, kami disiram dengan air kembang sebagai simbol bahwa kami telah diterima di AAT dan harus bersiap mengemban tugas yang cukup berat. Tidak lupa pula kami juga diberi PIN AAT. Pada hari berikutnya, waktunya outbound. Kami dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 dan 2 merasakan mouse trap terlebih dahulu, sedangkan kelompok 3 dan 4, mencoba menarik ke atas sebuah baskom yang berisi air dengan tali yang diikatkan pada setiap sisi baskom dan menurunkannya kembali tanpa menumpahkan air di dalamnya. Saya pun masuk dalam kelompok 1. Dalam permainan ini terdapat tiga peran, ada yang sebagai korban, komandan, dan pelaku. Yang pertama, saya menjadi pelaku. Sebagai pelaku, mata saya harus ditutup dan mendengar perintah dari komandan. Saya gagal sehingga membuat teman saya yang menjadi korban tersiram air. Tapi, saat saya menjadi komandan, saya berhasil membimbing teman saya yang menjadi pelaku dan menyelamatkan teman saya yang menjadi korban. Kunci permainan ini adalah bagaimana kita mendengarkan arahan dari sang komandan dan menjaga komunikasi sehingga meminimalkan korban. Permainan kedua, menarik baskom. Di bawah baskom ada teman kami yang menjadi korban. Jadi ketika airnya tumpah, si korban yang terkena air. Ada seorang pemimpin yang membimbing kami. Awalnya sulit menyamakan posisi antar pemegang tali karena timbul keegoisan tiap individu. Akan tetapi setelah menyusun strategi, akhirnya kami berhasil menaikkan baskom ke puncak. Namun di luar dugaan, kami juga harus menurunkannya juga dengan mata tertutup. Ini sulit karena ketika salah satu sisi tidak sama, maka baskom tersebut tidak akan turun. Saat itu kami tetap tidak bisa menurunkan baskom sampai bawah. Kuncinya pada komunikasi, leader harus cepat mengambil keputusan dan kita harus percaya pada pemimpin dan memiliki strategi yang jitu. Permainan ketiga, kami dituntut untuk mengambil label yang ditempelkan pada mainan puzzle yang telah diberi harga. Tiap orang yang menjadi peserta hanya boleh mengambil 3 label dengan bimbingan satu orang karena mata kami harus ditutup. Permainan terakhir, berjalan dengan menggunakan sandal bakiak. Terdapat 3 sandal untuk satu kelompok. Ada tiga garis. Garis start, garis tembak, dan garis finish. Di garis tembak, kami dibekali bola air sebagai peluru untuk menembaki kelompok lain. Awalnya sulit saat berjalan, tapi saat diberi tahu kuncinya, kami dapat berjalan lebih lancar. Makna dari permainan itu adalah sebuah kelompok, awal mulanya belum menemukan hambatan yang berarti dalam mencapai finish. Namun ketika sampai di tengah yaitu di garis

Relawan AAT, Why Not? Read More »

Statistik AAT 2013/2014

Statistik Anak Anak Terang Tahun Ajaran 2013 / 2014 Setiap tahun secara rutin Anak Anak Terang mencari Orang Tua Asuh baru, sekaligus mengonfirmasi Orang Tua Asuh lama perihal kesediaan untuk melanjutkan dukungan pada Program Beasiswa AAT. Selain itu, Anak Anak Terang pun terus menyeleksi pengajuan beasiswa dari sekolah sebagai penerima Beasiswa AAT yang baru. Proses ini berlaku juga untuk Tahun Ajaran 2013/2014 di mana kegiatan belajar telah dimulai sejak Juli 2013. Pada Tahun Ajaran 2013/2014 terdapat 2048 siswa mulai dari jenjang pendidikan SD hingga Perguruan Tinggi yang menjadi Anak Asuh AAT. Dana yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan Anak Asuh AAT mencapai Rp 1.676.584.000,00 per tahun. Pendanaan ini berasal dari dukungan 923 Donatur AAT, baik yang menjadi orang tua asuh aktif maupun donatur beasiswa insidentil. Tabel Statistik Anak Asuh AAT   Tabel Statistik Donatur AAT   Grafik Jumlah Anak Asuh AAT   Grafik Penerima Beasiswa AAT Berdasar Jenjang Pendidikan   Grafik Jumlah Donatur Tetap AAT   Grafik Persentase Donatur AAT   [qrcode content=”https://aat.or.id/statistik-aat-2013-2014″ size=”175″]  

Statistik AAT 2013/2014 Read More »

Saya Berikan Prestasi Terbaik

Nama lengkap saya Putri Krismawati, biasa dipanggil Risma oleh teman-teman. Saya adalah anak yatim sebab ayah telah meninggal dunia pada tahun 2006. Di keluarga, saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara dengan dua orang adik, semuanya adalah perempuan. Adik pertama berjarak 6 tahun, sedangkan adik kedua berjarak 12 tahun. Ketika ayah meninggal, saya merasa sedih. Ibu yang kemudian menanggung beban 3 orang anak. Yang lebih menyedihkan bahwa saat ayah meninggal, adik terkecil belum mengetahui ayahnya seperti apa. Seiring berjalannya waktu, saya bisa lulus SMA di Magelang. Saya mempunyai impian menjadi orang yang sukses dan berhasil agar bisa membantu orang tua, juga membiayai kedua adik saya. Setelah saya lulus SMA saya ingin kuliah walaupun tidak tahu siapa yang akan membiayai. Saya tidak berhenti mencoba walaupun dengan keadaan keluarga yang sangat minim. Pada awalnya saya mencoba mendaftar di Universitas Atma Jaya Yogjakarta dan beberapa perguruan tinggi yang lain. Setelah tahu bahwa diterima semua, pada saat itu saya bingung untuk memilih dan juga bingung siapa yang akan membiayai kuliah. Saya berusaha bicara dari hati ke hati dengan tante yang mempunyai keuangan yang lebih, namun apa daya saya malah dicaci maki dan dihina. Setelah itu nenek berusaha bagaimana cara untuk bisa membiayai kuliah saya. Saat itu saya tidak putus semangat. Saya berinisiatif untuk mencari pekerjaan untuk mengumpulkan uang. Akhirnya saya dapat pekerjaan di Jogja menjadi pelayan toko. Beberapa bulan bekerja di tempat itu, namun hasilnya tetap belum bisa untuk membayar kuliah. Suatu ketika nenek menelepon saya dan menyuruh pulang ke rumah. Ketika sampai rumah, saya kaget karena nenek menyerahkan uang senilai 5 juta rupiah untuk membayar angsuran biaya kuliah yang pertama. Saya bahagia karena akan menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas, dan mungkin ini adalah awal anak tangga untuk meraih impian menjadi orang sukses. Setelah menjadi mahasiswi, saya masih banyak permasalahan ekonomi ((biaya kost, biaya hidup dan biaya transport)), juga bingung hendak dengan cara apalagi untuk membayar angsuran biaya kuliah berikutnya. Oleh sebab hal ini, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan pialang. Semua itu saya lakukan untuk menambah uang untuk hidup di Jogja termasuk juga untuk membayar kost. Pada akhir semester pertama saya mendapatkan hasil yang tidak memuaskan. Saya menyesal sekali karena kesibukan pekerjaan menganggu konsentrasi kuliah saya. Saya bertambah bingung karena nilai yang didapat sangat tidak memuaskan. Bagaimana bisa menaiki anak tangga selanjutnya jika hanya melangkah tidak sepenuh hati? Saya sadar dan merenungi apa yang sudah ditempuh saat semester satu yang lalu. Mengenal Anak Anak Terang Akhir semester satu saya mengenal Anak Anak Terang (AAT). Di AAT saya ikut melayani sebagai Pendamping Komunitas (PK) atau yang sering disebut sebagai Staff Admin untuk beberapa sekolah. Saya merasa senang karena bisa ikut melayani orang lain. Melalui pelayanan ini juga, membuat saya menyadari bahwa masih ada orang lain yang di bawah kita. Awal semester dua saya kembali bingung bagaimana caranya membayar uang SPP tetap dan Variabel. Saya tidak mungkin minta dengan ibu, karena beliau juga berpenghasilan minim. Hanya pas untuk makan dan memberi uang saku adik-adik. Saya bercerita dengan nenek saya dengan keadaan yang saya alami saat itu. Nenek memberikan cicin dan anting untuk digadaikan agar saya tetap bisa kuliah. Saya merasa sedih karena kuliah ini menjadi beban untuk nenek. Setelah itu saya berfikir apakah saya bisa menjadi anak asuh dalam pelayanan AAT yang saya ikuti? Saya berusaha mencari informasi bagaimana caranya untuk menjadi anak asuh. Pada saat itu saya berkonseling dengan Romo Vidi, Ibu Lies, dan Romo Agus. Saya tak henti-henti berdoa agar bisa melawati tahap seleksi anak asuh. Semua proses sudah saya lewati hingga pada akhirnya tinggal menunggu hasil dari semester dua untuk menjadi persyaratan yang utama. Sayangnya ada satu nilai yang menjatuhkan. Hancur sudah hati ini karena melihat nilai itu. Namun ada kawan yang juga menjadi anak asuh yang terus memberi semangat untuk saya memperbaiki nilai (Ujian Remidi) agar dapat memenuhi syarat sebagai anak asuh. Di akhir semester saya mendapatkan nilai yang menjadi syarat untuk menjadi anak asuh. Sungguh tidak menyangka bila dapat kuliah lagi. Andai saya tidak menjadi anak asuh,  saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja. Namun kuasa Tuhan sangat luar biasa. Saya yakin dan percaya Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya. Saya akan belajar sungguh-sungguh untuk memberikan yang terbaik buat orang tua serta donatur yang telah membiayai saya dan mempercayai saya untuk menjadi anak asuh mereka. Meskipun belum dapat mengenal siapa donatur yang telah mau membiayai namun saya mengucapkan terima kasih, sebab para donatur telah mau berbagi dengan menyisihkan sebagian rejekinya guna membiayai pendidikan saya. Saya tidak dapat membalas kebaikan donatur, tetapi saya akan memberikan prestasi yang terbaik di antara yang baik. Semoga donatur selalu diberkati Tuhan dan dimudahkan segala usaha dan urusannya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Romo Vidi , Ibu Lies, Romo Agus, Ibu Komang, dan Bapak Hadi selaku ketua Yayasan AAT Indonesia saat ini. Tanpa mereka, saya tidak akan bisa mendapatkan beasiswa. Sungguh luar biasa, Tuhan telah memberikan jalan untuk saya menjadi yang terbaik.   Putri Krismawati Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/saya-berikan-prestasi-terbaik” size=”175″]  

Saya Berikan Prestasi Terbaik Read More »

duta76 perihoki rtp live duta76 menjadi basis pemain dalam bermain mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza arah perkembangan mahjong wins 3 pragmatic blackjack kerap ditentukan konsistensi pemain duta76 starlight princess tantangan sebenarnya mahjong wild deluxe muncul saat tempo sicbo perihoki tidak berjalan stabil lucky neko alur cerita perihoki mahjong ways 2 pgsoft roulette perihokisering berkembang di luar perkiraan pemain wild west gold kejernihan analisis membantu memahami karakter dinamika mahjong wins 3 pragmatic blackjack harian sabung ayam sv388 perihoki pergeseran haluan mahjong wild 2 terjadi tanpa sinyal yang terlihat jelas duta76 sicbo gates of olympus mahjong ways 2 pgsoft bacarat menghadirkan alur rtp live hasil berbasis starlight princess duta76 strategi analisis pola jitu simbol mahjong wins 3 pragmatic blackjack dan scatter digital sweet bonanza duta76 hasil mahjong ways 2 pgsoft roulette terlihat konsisten dalam skema rtp live perihoki wild bounty showdown pola rtp live jitu mengantar pemain perihoki memahami arah main mahjong wins 3 pragmatic blackjack aztec gems keputusan spontan di mahjong wild deluxe dapat mempengaruhi arah sesi dadu sico perihoki gates of olympus pola rtp live perihoki menjadi rangka dasar dalam mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza taktik pola visual mahjong wins 3 pragmatic blackjack perihoki terkadang memberi petunjuk starlight princess keseimbangan emosi pemain duta76 mahjong ways 2 pgsoft berpengaruh pada keputusan roulette sabung ayam sv388 framework pola rtp jitu sekuensial mahjong wins 3 pragmatic blackjack transisi algoritma duta76 wild bounty hunter aws ekonomi digital probabilitas scatter aws evolusi mahjong digital 2026 aws formulasi transisi grid rtp aws ide turbo spin fokus aws konsistensi mahjong hujan scatter aws matematika peluang update rtp aws panduan visual simbol mahjong aws plot twist scatter hitam aws review putaran malam mahjong aws strategi modal umkm mahjong audit sistemik performa mahjong ways dinamika arus mekanik virtual metodologi bermain santai rasio pengembalian efektif target 65 juta kriptoanalisis struktur grid mahjong wins 3 dekoding dinamika sistem manajemen arus kas internal arena digital capaian 65 juta arsitektur strategi anatomis mahjong wins 3 probabilitas scatter hitam proyeksi stabilitas algoritma mahjong ways 2 hiburan digital 2026 signifikansi formasi simbol awal sesi pemandu strategi pemain ahli efektivitas disiplin teknis algoritma sistem akumulasi 34 juta navigasi alur terarah rasio pengembalian sistem target 90 juta analisis tren strategi santai viral target 22 juta efisien pola rtp live menjadi titik awal permainan mahjong wild deluxe dadu sicbo perihoki gates of olympus rtp live jitu menjadi basis pemain dalam mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza perihoki hasil akhir mahjong wins 3 pragmatic berjalan dalam skema rtp live backjack perihoki starlight princes strategi peluang teknik mahjong wild 2 sicbo gates of olympus rtp live pola taktik duta76 optimalkan peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess strategi pola taktik duta76 taktik teknik peluang mahjong wins 3 blackjack sweet bonanza analisa rtp live duta76 meraih kemenangan mahjong ways 2 pgsoft roulette wild bounty showdown pola strategi rtp live perihoki teknik optimalkan peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack aztec gems teknik pola taktik perihoki cara menguasai mahjong wild deluxe sicbo dan gates of olympus strategi pola taktik rtp live perihoki teknik mengungkap pola dan strategi mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza rtp live perihoki taktik menaklukkan mahjong wins 3 blackjack starlight princess strategi rtp live pola perihoki analisa cerdas rtp live mahjong ways 2 roulette wild west gold strategi pola taktik duta76 strategi terbaik mahjong wins 3 blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live duta76 e4 analisis pola konsisten mahjong wins menuju hasil maksimal e4 analisis pola mahjong wins dampak kecepatan spin terhadap peluang bonus e4 analisis pola sistem untuk hasil lebih optimal e4 analisis profesional mahjong wins untuk target puluhan juta e4 analisis statistik mahjong wins untuk hasil lebih optimal e4 cara cermat optimalkan rtp terbaru e4 cara kerja algoritma rtp mahjong wins 3 dan strateginya e4 cara membaca data rtp mahjong wins secara profesional e4 cara membaca rtp mahjong wins untuk target 30 juta e4 cara mengatur saldo di mahjong wins 3 tanpa tekanan e4 disiplin finansial mahjong wins 3 untuk hasil konsisten e4 disiplin ketat jadi kunci maksimalkan rtp e4 disiplin ketat mahjong wins 2 untuk peluang scatter maksimal e4 fakta mengejutkan rtp mahjong wins tempo main lebih penting dari kecepatan mahjong wins sikap pasif scatter utama saat waktu terasa scatter mahjong putaran demi scatter hitam segalanya mahjong ways ritme scatter wild menyatu mahjong ways lebih lega scatter wild scatter wild mahjong ways setiap putaran mahjong wins arah scatter hitam putaran ketegangan terbangun menjadi scatter hitam bukan sekadar simbol scatter mahjong ways bukan keajaiban mahjong wins scatter hitam aws evaluasi teknis mahjong wins3 aws momentum mahjong ways2 spin aws algoritma dinamis mahjong ways2 aws spin progresif mahjong ways3 aws strategi wild blackscatter ways2 aws fase mahjong wins3 simbol aws efektif scatter hitam wins3 aws target bertahap rtp mahjong aws data rtp adaptasi algoritma aws inovasi pgsoft scatter adaptif studi periodik rasio simbol bernilai tinggi mahjong ways 2 durasi sesi implementasi pola aman simbol wild target finansial 40 juta dialektika intuisi logika struktur mahjong wins 3 inovasi hiburan analisis dekonstruksi pola strategis mahjong ways akumulasi hasil implementasi formasi simbol terpadu mahjong ways efisiensi sesi studi komparatif dinamika pola mahjong ways indikator balikan rekonstruksi strategi pemain ahli algoritma mahjong ways metodologi sinkronisasi simbol grid mahjong ways akumulasi nilai interpretasi teknis formasi pola mahjong ways keputusan strategis kajian profesional pola transisi scatter mahjong ways konsistensi analisis algoritma capaian finansial pola terstruktur mahjong ways sinergi kalkulasi probabilitas pola visual mahjong ways strategi dekoding arsitektur mekanik mahjong ways korelasi pola stabilitas dinamika awal scatter wild mahjong ways 2 strategi total strategi pemain menata ritme konsistensi putaran digital e4 fokus dan konsistensi mahjong wins 2 menuju scatter hitam e4 kesalahan fatal pemain mahjong wins terlalu agresif tanpa ritme e4 mengatur timing spin mahjong wins agar bonus lebih mudah terbuka e4 metode aman berbasis data dan rtp update e4 pendekatan konsisten dan analitis mahjong wins e4 pendekatan terukur mahjong wins dengan pola stabil e4 pola main disiplin dengan analisis angka e4 rahasia konsisten 23 juta berkat evaluasi data e4 strategi aman berbasis rtp terbaru menuju 33 juta mahjong wins keluar zona scatter hitam ketidakacakan mahjong ways scatter saat scatter hitam lebih keras mahjong wins permainan biasa menjadi arena mahjong mahjong ways dinamika scatter wild putaran putaran simbol mahjong ways scatter mulai mahjong wins serius ketika scatter mengatur mahjong wins memasuki fase scatter wild biasa ketika scatter mahjong wins bisa dibaca batas scatter hitam berkuasa di mahjong teknik cerdas untuk meraih kemenangan mahjong wild 2 sicbo gates of olympus pola analisa rtp live perihoki strategi unggul mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza rtp live taktik pola analisa peluang jitu perihoki taktik juara perihoki mahjong wins 3 blackjack starlight princess analisa teknik peluang rtp live paten rahasia tingkatkan kemenangan mahjong ways 2 roulette wild bounty showdown pola strategi rtp live perihoki cara tingkatkan peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live teknik perihoki rahasia pola pemenang mahjong wild deluxe sicbo gates of olympus rtp live teknik peluang analisa duta76 cara tingkatkan peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat sweet bonanza teknik rtp live pola duta76 teknik pemenang mahjong wins 3 blackjack starlight princess analisa pola taktik rtp live dibagikan duta76 trik paling unik duta76 mahjong ways 2 roulette wild bounty showdown taktik pola analisa rtp live peluang strategi paling jitu pemenang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sabung ayam sv388 pola rtp live taktik duta76 teknik menguasai pola mahjong wild deluxe dadu sicbo gates of olympus teknik strategi rtp live perihoki trik jitu mahjong ways 2 baccarat sweet bonanza peluang kemenangan teknik pola rtp live perihoki cara menang cerdas mahjong wins 3 blackjack starlight princess strategi rtp live peluang teknik perihoki bongkar rahasia kemenangan mahjong ways 2 roulette wild west gold pola analisa teknik rtp live duta76 taktik pola jitu mahjong wins 3 pragmatic blackjack lucky neko strategi peluang rtp live diberikan duta76 oke bukan instan scatter wild mahjong ways oke mahjong wins waktu mandek scatter hitam oke ada nuansa mahjong ways scatter wild oke waktu seolah berhenti scatter hitam oke waktu terus berlalu scatter hitam mahjong