Artikel

Bagaimana Saya Bisa Sekolah?

“Saya bertanggung jawab, tapi bagaimana caranya saya bisa sekolah?” Senin siang, saya memenuhi janji pada Kepala Sekolah SMP Bellarminus Semarang untuk mewawancarai beberapa anak yang minggu kemarin tidak hadir. Dari 6 orang anak, ada seorang anak yang tidak hadir lagi, bahkan tidak masuk sekolah. Saya sabar menunggu Pak Kepala Sekolah dan Guru BP yang berusaha muter-muter mencari jejak anak ini. Hingga terdengar suara, “Ayoook cepat masuk… sudah ditunggu sejak tadi …” kata Bapak Kepsek dengan agak keras (remaja ini ditemukan di pemakaman sedang memanjat pohon Kamboja untuk memetik bunga Kamboja). Di depan pintu muncullah anak lelaki dengan wajah merah merona penuh peluh, menenteng tas sekolah dan beberapa tas kresek hitam dipelukkannya. Agak takut ia berdiri di depanku. Tak kuasa aku melihat wajah takutnya, kukembangkan senyumku dan mempersilahkannya duduk. “Selamat siang nak… Namamu Satria ya?” (nama disamarkan) “Selamat siang juga Ibu…..bener” “Eh … ngomong-ngomong kamu kemana saja? Kemaren tidak hadir wawancara, juga hari ini tidak masuk sekolah” Dia diam. Lalu berkata, “Maaf Ibu, saya tadi berangkat sekolah kok. Tetapi tidak sampai sekolahan” (sambil krusak-krusek mempermainkan tas kresek hitamnya) Karena penasaran, saya pinjam tas kreseknya meski tadi tidak diperbolehkan. Rada berpikir konyol saya pun tertawa agak keras. Ternyata tas itu berisi bunga Kamboja. Karena tawa saya, andrenalin lelaki kecil itu tersulut. “Maaf Ibu.. Silahkan Ibu mengejek saya, saya tidak peduli. Karena bunga Kamboja ini adalah emas bagi saya…” (Padahal aku geli karena teringat waktu kecil. Dulu aku merasa lebih cantik bila aku merangkai bunga Kamboja dan memakaikannya di rambutku) Sambil emosi dia berkata, “Meski hari ini saya tidak sampai sekolahan karena ibu saya belum bisa melunasi uang SPP yang menunggak, namun saya tetap sekolah. Saya harus sekolah. Saya ingin pintar. Saya malu karena baju seragam saya sobek dan hanya satu-satunya itu yang saya punya. Kemarin dan hari ini saya harus mencari bunga Kamboja karena itulah sumber nafkah keluarga kami agar kami tetap bisa makan.” Ternyata, bunga Kamboja itu dikeringkan dan lima hari sekali disetor sebagai dasar membuat bedak berkualitas. Dia menghidupi dirinya sendiri, ibu, dan seorang nenek. Namun dengan apa dia bisa membayar uang SPP? Meski cita-citanya meletup-letup? Gleekk… Dadaku sesak karena haru. Anak seusianya yang lain masih bermain dan diberi uang saku berlebih. Tapi anak ini…   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Bendahara Yayasan AAT Indonesia.   [qrcode content=”https://aat.or.id/bagaimana-saya-bisa-sekolah” size=”175″]  

Bagaimana Saya Bisa Sekolah? Read More »

Perjuangan Mengenyam Pendidikan

Perjuangan Salah Satu Anak Bangsa yang Ingin Mengenyam Pendidikan Seorang remaja lelaki itu masuk kelas dengan wajah yang terlihat pucat pasi, kuyu, dan terlihat lemas. Semakin dia mendekat, kulihat peluh di wajahnya. Kemudian aku sapa dengan senyum, dia duduk di depanku dengan tertunduk pucat. “Selamat pagi Mas Boy, namamu Boy ya?” (nama disamarkan) “Selamat pagi Ibu, iya itu nama saya.” “Kamu kenapa Boy? kamu sakit?” Dia terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tertunduk lagi. Agak curiga dengan keadaannya, kemudian kupegang tangannya, dingin sekali. Keringat dingin membuat dia terlihat lemas. “Sudah biasa Ibu, setiap pagi begini,” jawabnya. “Lho kok setiap pagi? Memangnya kamu sakit?” “Tidak ibu,” jawabnya lirih. Karena penasaran, aku membuka biodata anak ini. Sambil membacanya dengan cermat, kuamati wajah anak ini. Eeh.. “Bruukk..” Calon penerima beasiswa ini jatuh pingsan. * * *  Kira-kira satu jam kemudian remaja lelaki itu kembali masuk, duduk di hadapanku dan berkata, “Maaf Ibu… saya tidak sengaja tadi kok terasa kepala saya berputar.” Saat dia pingsan aku mencari informasi tentang anak ini kepada gurunya. Dan ternyata, dia adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang tinggal di sebuah desa di Karangjati. Agar dia tidak terlambat sampai di sekolah yaitu di SMK Kimia Industri, dia berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya kira-kira 3 km. Setelah itu, ia mencari tumpangan truk yang menuju ke arah Semarang. Hanya itulah satu-satunya alternatif yang dipilihnya agar dia tidak terlambat, agar dia tidak seperti kedua kakaknya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga hidupnya menjadi miskin. Tidak ada rupiah disakunya sebagai bekal untuk jajan. Padahal, jam sekolah hingga pukul 3 sore. “Terus kamu sarapan dan makan siang di sekolah?” tanyaku padanya. Dia terdiam, cukup lama. Kemudian ia berkata, “ Maaf Ibu, saya malu. Saya tidak pernah sarapan dan makan siang. Saya berangkat dari rumah jam 5 pagi, tentu mamak tidak bisa menyiapkan sarapan dan bahkan kami belum bisa menikmati sarapan sejak kami masih kecil.” “Orang tua saya tidak mampu untuk memberi uang saku pada saya. Paling ada Rp 1.000,- untuk naik bus bila saya pulang karena tidak ada truk dari sini menuju Karangjati. Kalau naik truk saya bisa gratis menuju rumah. Maaf Ibu, jangankan memberi uang saku, untuk sekolah pun mamak sudah melarang saya karena mamak tidak punya uang untuk bayar SPP” Anak ini sudah menunggak uang sekolah dari mulai dia masuk hingga saat saya wawancarai. Sambil lemas ia melanjutkan ceritanya, “Saya akan nekad ikut sekolah meskipun sampai sekolah saya main petak umpet bila melihat ada yang mau nagih SPP. Saya ingin hidup mapan meski saya dari keluarga yang morat-marit, Bu.” Setelah itu, aku pun pura-pura izin ke kamar kecil sebentar. Dan kemudian, aku menangis sesenggukan di kamar mandi. Betapa kuat nyali anak ini, ”Dia tidak ingin bodoh” Selesai wawancara, aku pun dan beberapa guru mengantarkan anak yang lemas ini ke rumahnya. Rumah yang jauh sekali dari sekolah. Ini adalah sepenggal cerita duka dari remaja berusia 15 tahun (semester besok remaja ini menempuh ujian SMK) Mari rekan-rekanku semua, jadilah donatur bagi pejuang-pejuang masa depan negeri kita melalui Yayasan Anak-anak Terang (AAT) Indonesia.   Elisabeth Lies Endjang Soerjawati Bendahara Yayasan AAT Indonesia   [qrcode content=”https://aat.or.id/perjuangan-mengenyam-pendidikan” size=”175″]  

Perjuangan Mengenyam Pendidikan Read More »

Kunjungan Relawan ke SMP Salomo

SMP Salomo 3 Pringsurat yang berada di desa Ngipik, Pringsurat, Temanggung, adalah sekolah Kristen yang perintisannya bersamaan dengan perintisan Gereja Isa Almasih Ngipik yaitu pada tahun 1975 tepatnya bulan Januari 1975. SMP Salomo 3 Pringsurat didirikan sebagai salah satu prasyarat pendirian Gereja Isa Almasih Ngipik yang dirintis oleh seorang dokter gigi yang bernama dr. Lukas Sebadja. Awalnya pada tahun 1974, dr. Lukas Sebadja menabrak seorang anak laki-laki di desa Pringsurat. Menghadapi korban yang nampaknya tidak tertolong, dr. Lukas Sebadja bernazar “Apabila anak tersebut hidup dan sembuh, maka dr. Lukas akan mendirikan gereja di tempat tersebut”. Dan ternyata doa serta nazar dr. Lukas Sebadja didengar Tuhan, anak tersebut sembuh dan hidup. Menyaksikan mukjizat Tuhan melalui kesembuhan anak tersebut. Akhirnya, di lokasi tersebut didirikan tempat persekutuan doa keluarga dan ada beberapa orang yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat dalam hidupnya, termasuk di dalamnya keluarga anak yang ditabrak dr. Lukas Sebadja. Karena persekutuan semakin berkembang, maka pelayanan dibantu oleh para mahasiswa STT Abdiel. Oleh kuasa Tuhan Yesus akhirnya berdirilah pos PI di desa Pringsurat bertempat di rumah Pak Dul Sholeh dan di desa Nglarangan di rumah Bapak Christianus Ngasiman. Penanggung jawab pelayanan pada kedua pos PI tersebut adalah dr. Lukas Sebadja bersama Ibu Hanna Sebadja S.Th, istri beliau, dibantu oleh bapak Sugriwo seorang guru injil dan GKJ Pepanthan Pingit. Atas Hikmat dari Tuhan Yesus Kristus, dr. Lukas Sebadja berniat membeli lagi sebidang tanah yang berada tepat di samping tanah yang akan dipakai untuk pembangunan gereja. Tanah tersebut akan diperuntukkan bagi pembangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai wujud kepedulian umat Kristiani terhadap dunia pendidikan. Gereja ingin ikut ambil bagian mencerdaskan anak anak bangsa lewat jalur pendidikan. Kebetulan pada waktu itu di Kecamatan Pringsurat belum ada SMP yang akan diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu. Gagasan dan rencana tersebut ternyata disambut baik oleh masyarakat dan pemerintah desa Ngipik. Akhirnya, pembangunan gereja pun diperbolehkan bersamaan dengan pembangunan gedung SMP Salomo 3 Pringsurat, Temanggung. Tahun 1975, berdirilah sekolah menengah pertama dengan nama SMP Salomo 3 Pringsurat yang disponsori oleh keluarga dr. Lukas Sebadja. Untuk memudahkan pengelolaannya, dr. Lukas Sebadja membentuk Yayasan Pendidikan Anugerah. Yayasan Pendidikan Anugerah diketuai oleh Ibu Sulaksono dan dibantu oleh beberapa orang pengurus, termasuk Bapak Stepanus Sumaryono juga masuk di dalam kepengurusan. Dinamakan SMP Salomo 3 karena di kota Semarang sudah ada Salomo 1 dan Salomo 2 yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kranggan. Walaupun Yayasan yang menaungi berbeda, namun Salomo 1 dan Salomo 3 sama-sama didirikan oleh anak anak Tuhan yang berjemaat di Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. Enam bulan setelah SMP Salomo 3 Pringsurat berdiri, maka Gereja Isa Almasih Ngipik juga berdiri dan didewasakan sebagai Jemaat Gereja Isa Almasih. Selain pendewasaan Gereja, Bapak Stepanus Sumaryono juga ditahbiskan sebagai pendeta di jajaran Sinode Gereja Isa Almasih, sekaligus menjadi Gembala Sidang di GIA Ngipik. Di SMP Salomo Pringsurat Temanggung ini kebanyakan muridnya beragama Islam. Kondisi ekonomi orang tua murid murid SMP Salomo sebagian besar berada di bawah garis besar kemiskinan. Rata-rata orang tua mereka bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan karyawan kayu lapis. Tingkat pendidikan orang tua mereka pun hanya lulusan sekolah dasar. Untuk gaji guru dan karyawan, SMP Salomo diperoleh dari Bantuan Operasional Sekolah, Yayasan Pendidikan Kranggan, dan sebagian partisipasi orang tua siswa. Pengalaman Kunjungan Hari Rabu, 6 November 2013, saya melakukan kunjungan ke SMP Salomo Pringsurat Temanggung. Saat itu, saya bersama teman saya, Edo. Kunjungan itu adalah kali pertama saya terlibat dalam kegiatan relawan Anak-Anak Terang (AAT). Kami berangkat pukul 07.15 pagi. Sampai di SMP Salomo, kami langsung menemui Ibu Vosa dan Ibu Jeki. Kami pun disambut dengan hangat. Setelah itu, kami langsung bersiap- siap mewawancarai penanggung jawab tentang seberapa banyak pengetahuan Penanggung Jawab (PJ) tentang AAT, sejauh mana PJ mengenal Anak Asuh (AA), sumber dana sekolah, dan lain-lain. Yang membuat saya tertarik di saat mewawancarai PJ ternyata saya mendengar kalau banyak kondisi dari calon AA yang memprihatinkan. Semisal ada anak yang keluar dari SMP Salomo lalu berjualan di daerah Semarang, tetapi karena dia tidak betah kerja, maka kembali lagi ke SMP Salomo. Ada juga yang ditinggal ayahnya meninggal tetapi dia tetap sekolah dan kesehariannya membantu ibunya. Ini yang membuat saya kagum dengan calon AA meskipun baru mendengar ceritanya saja melalui PJ SMP Salomo. Hari Minggu, 10 November 2013, saya dan lima relawan AAT lainnya yaitu Edo, Anisa, Dora, Setyoko, dan Galih berangkat ke SMP Salomo. Kita dari Semarang jam setengah delapan pagi dan sampai di sana jam sembilan pagi. Sesampainya di sana kami langsung dipersilahkan oleh bu Vosa dan bu Jeki di salah satu kelas dan kami pun langsung menyiapkan peralatan dan dokumen untuk wawancara anak. Dan saat acara dimulai, ini adalah kali pertama saya presentasi di AAT. Rasanya saya sangat senang berinteraksi dengan anak-anak. Presentasi saya berjalan dengan lancar. Tibalah saatnya untuk wawancara. Saya kebagian mewawancarai anak kelas IX. Yang menarik dari anak-anak yang saya wawancarai yaitu mereka adalah anak-anak yang penuh semangat walau mereka dari keluarga yang tidak mampu, tetapi semangat mereka untuk belajar sangatlah tinggi. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka, anak-anak dari SMP Salomo 3.   Ignatius Sindhu Wijaya Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/kunjungan-relawan-ke-smp-salomo” size=”175″]  

Kunjungan Relawan ke SMP Salomo Read More »

Terima Kasih, Karena Kalian Berharga

“Sebaik-baiknya orang, ia tidak akan berguna jika tidak memberikan sesuatu untuk sekitarnya…” Kata-kata dosen tadi di kelas sontak membuatku tersadar dari lamunanku saat perjalanan pulang setelah kuliah. Entah mengapa kata-kata itu selalu terniang dalam benakku. Fricilia Mawaria, panggil saja aku Fricil, mahasiswi Program Studi Manajemen Angkatan 2012 Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Aku mengenal Anak-Anak Terang (AAT) dari teman dekatku Islamiah (Iis) yang mengajakku ikut AAT. Ia mengetahui AAT saat LDPKM (Latian Dasar Pengembangan Kepribadian Mahasiswa) oleh Bapak Hadi Santono sebagai dosen pendamping saat itu. Sungguh pertama mendengarnya aku sangat tertarik, mengingat kehidupan ini tidak hanya melulu bekerja untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Tidak tepat kapan waktu pertama menjadi relawan AAT, sekitar Oktober 2013, aku diajak untuk ikut rapat AAT bersama Iis. Kami berdua sangat ingin mengikuti tetapi saat itu kami tidak mengerti apa-apa. Untungnya Antik mau membimbing kami untuk mengenal AAT lebih dekat, terkadang kami juga suka piket di sekretariat ketika tidak sedang berkuliah. Pengalaman Kunjungan Pengalaman luar biasa saya ketika kunjungan ke sekolah untuk pertama kalinya di SMK St. Paulus di Sedayu, aku memperhatikan secara seksama bagaimana presentasi dimulai, lalu dilanjutkan dengan wawancara. Saat wawancara, aku begitu tersentuh dan berbicara dalam hatiku sendiri bagaimana bisa mereka selalu bisa tersenyum saat kondisi mereka seperti ini. Mereka bahkan tidak menuntut banyak hal untuk kehidupan yang mereka jalani saat ini. Bahkan, salah satu calon anak asuh AAT yang aku wawancarai mempunyai cita-cita tinggi. Ia ingin sekali masuk Perguruan Tinggi Negeri dan setelah itu menjadi pengusaha sukses. Kelak setelah sukses ia ingin membantu lebih banyak orang lagi untuk bisa bersekolah lebih layak dan tinggi, tidak seperti ia sekarang. Selang beberapa minggu, aku kembali ikut kunjungan sekolah di SMP Kanisius Gayam. Betapa lucu-lucunya mereka, aku bahkan seperti mengingat masa kecilku, tetapi aku tidak bisa membayangkan, ternyata di balik tubuh mungil mereka tersimpan banyak permasalahan hidup. Salah satu dari mereka ayahnya meninggal dan ibunya sebagai buruh cuci baju. Ibunya masih harus menghidupi 3 orang anak yang masih bersekolah semua. Sejenak terdiam dan masuk dalam lamunanku sebelum tidur, merefleksikan banyak hal yang terjadi setelah menjadi relawan AAT. Seakan aku disadarkan untuk selalu mengucap syukur atas segala yang diberikan-Nya. Dan di dalam diriku selalu ada semangat untuk terus menjadi relawan AAT. Meskipun yang aku berikan sama sekali tidak berarti, tetapi aku berterima kasih pada kalian anak asuh karena kalianlah aku bercermin dan terus ingin berbagi tenaga, pikiran, waktu, dan bahkan aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi donatur. “Lahir di keluarga miskin/kaya bukanlah pilihan kita, tetapi untuk menjadi sukses adalah sebuah pilihan…” Kata-kata motivasi ini diberikan oleh seorang dosen dalam perkuliahan karena masa lalunya. Aku percaya, engkau dan aku juga sanggup menjalani kehidupan dan menjadi lebih baik bukan karena takdir kita lahir di keluarga miskin/kaya tetapi usaha kita yang mampu merubah kehidupan di masa depan.   Fricilia Mawaria Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/terima-kasih-karena-kalian-berharga” size=”175″]  

Terima Kasih, Karena Kalian Berharga Read More »

Rapat Pengurus Pusat

Rapat pengurus pusat Anak-anak Terang (AAT) dilaksanakan 2 hari, yaitu pada tanggal 26 Oktober sampai tanggal 27 Oktober 2013. Rapat pengurus pusat pada hari pertama dimulai pada pukul 15.00. Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh PK (Pendamping Komunitas) atau Staff Administrasi sekretariat Yogyakarta dan perwakilan PK atau Staff Administrasi dari sekretariat Semarang, Madiun, dan Malang. Dalam Rapat itu dibedakan antara rapat PK Yogyakarta dan rapat pengurus pusat. Memang tidak semua PK yang ditunjuk untuk menjadi pengurus pusat bisa datang, tetapi itu sudah mewakili semuanya. Dalam Rapat tersebut dijelaskan tentang tugas yang harus dikerjakan oleh setiap divisi dan pemilihan bagian untuk setiap PK. Beberapa PK juga bisa memilih sendiri mau masuk ke divisi mana, yang dirasa lebih mereka kuasai. Tetapi ada juga yang sudah ditentukan oleh Mbak Alma dan Mbak Chika untuk bertugas dalam divisi tertentu. Tidak lama rapat itu berlangsung karena hanya menjelaskan gambaran tugas-tugas dan memilih bagian untuk pengurus pusat. Rapat pun selesai dan akan dilanjutkan pada keesokan harinya, yaitu hari Minggu tanggal 27 Oktober 2013. Rapat pada hari Minggu dihadiri oleh perwakilan PK dari sekretariat Madiun, Malang, dan Semarang. Walaupun ada PK yang baru tiba di Yogyakarta pukul 07.00 dan rapat dimulai pukul 08.00 pagi, tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap bersemangat dan berkumpul antar sesama PK dari berbagai sekretariat. Rapat pengurus pusat tersebut diawali dengan pengenalan SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) kepada PK baru yang belum begitu tahu tentang SIANAS. Saat itu, Mbak Alma yang bertugas menjelaskan apa itu SIANAS kepada PK baru dan lama agar lebih mengenal lagi tentang SIANAS. Pembagian Divisi Setelah pengenalan SIANAS selesai, mulailah penjelasan untuk pengurus pusat. Beberapa PK yang hari sebelumnya belum sempat datang dan belum mengetahui pembagian divisi atau staff pengurus pusat dijelaskan kembali oleh Mbak Alma dan Mbak Cika. Kemudian dimulai dengan memilih bagian divisi oleh para PK yang belum mendapatkan bagian. Setelah semuanya masuk dan mendapat bagian dalam divisi masing-masing, mulailah penjelasan mengenai masing-masing tugas yang harus dilakukan oleh para pengurus pusat. Penjelasan tentang divisi dilakukan oleh Mbak Alma, Mbak Cika, dan Mbak Lia sebagai pengurus pusat yang lama dan memang yang sudah senior di antara yang lain. Divisinya dibagi menjadi 8 bagian, yaitu Divisi Keuangan yang diisi oleh Agustina Awalia Riyanti, Mahdalena Salupra, Mikaella Maria Dicna Advenia, dan Ryan Frederick, Divisi Kesekretariatan yang diisi oleh Brigitta Tri Damayanti, Lucas Kristiawan, dan Dhika M. Putera, Divisi Admin Media yang diisi oleh Ryan Frederick dan Maria Elisabeth Roberta, divisi Jurnalistik yang diisi oleh Rike Kotikhah, Divisi Kreatif yang diisi oleh Dica Herra Vidianti, Divisi Operasional yang diisi oleh Aloysius Handy Wibowo dan Rosalina Desti Wulandari, Divisi Data Base/SIANAS yang diisi oleh Caroline Nadia Laksita Devy, serta Divisi Beasiswa Perguruan Tinggi yang diisi oleh Ikka Marissa. Sebelum dilakukan penjelasan, pengurus masing-masing divisi berkumpul menjadi satu. Mereka mulai dijelaskan tugas-tugas setiap divisi. Kemudian tugas tersebut dibagi lagi sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan setiap anggota divisi. Sehingga dalam satu divisi dapat saling bekerja sama menyelesaikan setiap tugas yang harus dikerjakan. Setelah mengetahui tugas masing-masing, penjelasan diperdalam dengan praktik langsung. Dalam praktik ini memang tidak bisa lengkap dan hanya dengan contoh saja. Penjelasan secara praktik ini meliputi banyak hal, contohnya saja tugas untuk mengunggah foto di web AAT, mengirim data, memasukkan/menginput data ke SIANAS, meng-update penerimaan transfer dari donatur, dan masih ada yang lain lagi. Penjelasan ini memang lebih lama dari yang sebelumnya yaitu penjelasan tentang SIANAS, karena penjelasan ini lebih detail dan harus benar-benar dimengerti oleh masing-masing pengurus, mengingat tidak setiap saat mereka bisa mendapat penjelasan lebih detail karena pengurus datang dari berbagai kota. Hal terakhir yang dilakukan yaitu sedikit penjelasan tentang pengurus sekretariat cabang. Tidak banyak yang harus dijelaskan karena hal ini tidak sekompleks tugas pengurus pusat. Karena semua dirasa cukup dan sudah selesai, rapat pengurus pusat pun berakhir pada siang hari dan ditutup dengan makan siang bersama.   Mikaella Maria Dicna Advenia Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/rapat-pengurus-pusat” size=”175″]  

Rapat Pengurus Pusat Read More »

Bertemu dengan Masa Lalu

Nama saya Nataliya Isma. Awal bergabung dengan Anak-Anak Terang (AAT), saya rasa itu adalah bisikan Roh Kudus. Tidak pernah terbersit dalam hidup saya untuk bisa berbagi dalam bidang pendidikan bersama Anak-Anak Terang. Nama AAT sangat berarti dalam hidup saya. Karena dengan bergabung dengan AAT, saya bisa membawa terang untuk mereka yang mengalami kegelapan terhadap dunia pendidikan khususnya. Berawal dari Iseng di Internet Saat itu saya iseng-iseng mencari beasiswa di internet. Beasiswa yang ingin saya “tembak” adalah beasiswa dari pemerintah atau lembaga-lembaga lain yang biasanya dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswa untuk menambah uang sakunya. Selama ini saya bisa kuliah juga karena dana dari orang tua asuh di Komunitas Saint Egidio. Tujuan saya adalah meringankan beban orang tua asuh saya, kalau-kalau saya mendapat beasiswa dari luar. Siapa tahu dana kuliah saya bisa dialokasikan untuk adik-adik panti yang lain. Tidak sengaja saya menemukan website AAT, setelah saya pelajari, rupanya ini adalah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dengan memberikan beasiswa dan pendampingan. Saya merasa rindu bergabung dengan organisasi, karena di lingkungan kampus saya kegiatan sosial seperti ini sangat terbatas. Dalam website itu, di jelaskan bahwa kita bisa menjadi Anak Asuh (AA), Penanggung Jawab Komunitas (PJ) atau Pendamping Komunitas (PK) yang sering juga disebut sebagai Staff Admin. Saya berpikir, “Tidak apa-apalah menjadi relawan (PK), siapa tahu menambah relasi untuk masa depan nanti.“ Kemudian modal iseng juga saya SMS Pak Hadi Santono selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan AAT Indonesia. “Selamat siang Pak, maaf menganggu. Nama saya Nataliya Isma dari Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro. Saat ini saya kuliah di Multimedia Training Center (MMTC) Yogyakarta. Apakah bisa mahasiswa bergabung untuk menjadi relawan AAT ? Terima Kasih.“ Dalam SMS, saya sebutkan bahwa saya berasal dari Panti Asuhan Brayat Pinnuji Boro, karena memang sejak kecil saya sudah tinggal di Panti Asuhan. Hingga saat ini, setiap akhir pekan saya pulang ke panti. Selama berakhir pekan di panti, saya membantu suster untuk mengasuh adik-adik di Panti Asuhan. Pagi hari ketika saya bangun tidur, saya membuka pesan masuk di HP yang ternyata pesan dari Pak Hadi. Beliau menjawab, “Iya, saya tunggu di ruang Dekanat FTI UAJY Lantai 1 jam 2 nanti. Terima kasih.” Mata saya langsung bening dan saat itu juga langsung saya balas, “OKE Pak.. “ Universitas Atma Jaya Yogyakarta adalah kampus yang saya impikan. Tetapi sayangnya saya tidak bisa masuk kesana karena secara finansial terlalu mahal dan saya tidak sepintar Mbak Susan, kakak di panti saya yang mendapat beasiswa NOL RUPIAH selama 4 tahun kuliah di UAJY. Tetapi saya tetap bersyukur karena sekarang saya mendapat kesempatan kuliah di bidang penyiaran, khususnya radio dan televisi di MMTC. Dan saya sangat menikmati bidang ini. Didasari saat SMK saya sudah mengambil multimedia, jadi tidak terlalu susah untuk mengikuti beberapa mata kuliah yang ada. Itulah yang ada di pikiran saya saat pertama menginjak Kampus UAJY. Survey yang Memberi Pelajaran Hidup Pengalaman pertama saya survei adalah di sebuah sekolah pedesaan di sekitar Pegunungan Menoreh. Walaupun dari sebuah desa yang jarang air, letak geografisnya nempel di badan Pegunungan Menoreh dan mayoritas penduduknya adalah petani. Indah sekali pemandangan di sana. Saat itu saya bersama beberapa teman AAT, Mbak Alma, Mbak Chika, dan Fera, berangkat menuju Kulon Progo. Tepatnya di SD Kanisius Kenalan. Sekolah ini sangat unik. Murid-muridnya memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka rata-rata berjalan 2 sampai 3 km dengan berjalan kaki menuju sekolah. Suasana sekolah itu, seolah membawa saya pada masa lalu saya ketika saya belum masuk di panti asuhan dan asrama, dididik bersama suster-suster OSF. Wawancara PJ berlalu, dan tiba saatnya untuk wawancara anak asuh. Ada satu anak yang membuat saya terkejut dan tercengang. Dari data yang saya lihat dan saya perhatikan, sepertinya anak ini anak yang susah hidupnya. Rambutnya sedikit menggumpal agak merah, kulitnya hitam, tetapi badannya sedikit lebih besar dari saya. Bisa saya bilang anak ini dekil sekali. “Namanya siapa, dek ?” tanya saya. “Bernadeta Tari, mbak.. (bukan nama asli)” “Dipanggil Tari ya..” “Rumahnya masih gedek (sejenis anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang dijadikan dinding rumah) dek?” tanya saya lagi. “Iya, mbak,” jawabnya lirih. “Lantainya masih tanah?” tanya saya kembali. “Iya, mbak..” “Kalau belajar jam berapa, dek?” “Tidak pernah belajar mbak” “Lho, kenapa?” “Setelah pulang sekolah, saya membantu Mbah, mbak” “Kalo sore-sore atau malam gitu?” Adik itu hanya diam. Saya pun diam sambil memikirkan pertanyaan selanjutnya. “Di rumah sudah ada lampu kan, dek?” “Belum, mbak” jawabnya pelan. “Hah? Terus menggunakan apa?” “Pakai sentir Mbak (sentir adalah botol yang diberi minyak tanah dan diberi sumbu)” Saya hanya diam. Air mata seakan ingin tumpah, tetapi tidak mungkin hal ini terjadi. Saya mencoba menarik nafas dan membuat hati ini sedikit tenang. Sekarang tahun 2013 masih ada rakyat Indonesia yang tidak punya lampu listrik sebagai alat penerangan. Saya shock, karena itu adalah masa lalu saya. Kembali ke Masa Lalu dan Refleksi Sebelum saya tinggal di panti asuhan bersama para suster OSF, rumah saya masih bambu, belum memakai listrik dan saya harus berjalan sekitar 2 km dari rumah menuju sekolah. Bisa dikategorikan keluarga saya adalah keluarga paling miskin di desa itu. Ejekan dari tetangga pun menjadi makanan yang biasa untuk kami. Kalau dari bapak, hal tersebut adalah hal yang biasa dan beliau tidak ambil pusing. Akan tetapi, untuk ibu saya, ejekan dari tetangga adalah sebuah beban hidup. Hal inilah yang memicu saya untuk membuktikan kepada tetangga-tetangga saya bahwa saya ingin membangun harga diri keluarga saya. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa kuliah, mempunyai pekerjaan yang mapan, dan mempunyai keluarga yang baik-baik. Itulah sebabnya mengapa sampai saat ini saya masih bertahan menjadi relawan AAT. Saya pernah merasakan punya tunggakan uang sekolah sampai tidak bisa mengikuti ujian. Saya pernah menyaksikan ibu saya berjuang menjual kelapa setiap pagi ke pasar, sedikit demi sedikit ditabung, demi membayar uang sekolah saya. Menjual ayam kesayangan saya demi membayar SPP. Saya pernah menjadi mereka dan hidup susah seperti mereka. Ya, luka di masa lalu yang membuat saya memiliki hati untuk berbagi. Tugas kampus, pekerjaan di tempat kerja, dan kegiatan lain pun terkadang menyita waktu saya sehingga tampaknya saya kurang bergerak di AAT. Saya pun manusia, terkadang merasa jenuh terhadap pekerjaan AAT. Tetapi dari

Bertemu dengan Masa Lalu Read More »

Horeee kumpul lagi…

Hari Minggu tanggal 1 Desember 2013, para relawan Anak-Anak Terang (AAT) Semarang berkumpul kembali. Kami berkumpul di Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang. Acara dimulai pukul 08.00 pagi dan dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Kak Edo. Setelah itu, Kak Edo dan Kak Handy memberi penjelasan tentang tugas koordinator, PK (Pendamping Komunitas), sekretaris, dan bendahara. Kami semua pun bersiap-siap mengeluarkan laptop sambil mendengarkan penjelasan dari Kak Edo dan Kak Handy. Setelah penjelasan selesai, kami mengadakan evaluasi tentang survei dan wawancara calon anak asuh di sekolah-sekolah serta evaluasi kinerja PK. Lalu dilanjutkan dengan training SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) dan penjelasan tentang pengiriman raport anak asuh. Kelanjutan beasiswa tiap kenaikan kelas juga dijelaskan oleh Kak Edo dan Kak Handy. Mas Christ, Bu Lies, dan Bruder Konrad, CSA., dengan setia mendampingi kami selama acara berlangsung. Kehadiran mereka di tengah-tengah kami selalu menjadi warna tersendiri untuk kami. Kami pun mulai sibuk dengan laptop dan tidak terasa waktu makan siang pun tiba. Akhirnya kami semua beristirahat setelah lama berkutik dengan laptop. Acara makan siang sudah selesai. Kami kembali ke ruang 302 untuk mengikuti acara selanjutnya. Tapi sebelum itu, Bu Lies memberikan nasehat kepada kami semua. Kami sangat berterima kasih pada beliau dan akan selalu mengingat serta menyimpan nasehat-nasehat Bu Lies. Acara selanjutnya adalah acara paling menarik, dimana para PK diberikan pelatihan jurnalistik oleh para pembicara dari “Rumah Media”. Dan kehadiran mereka pun menghadirkan kegembiraan bagi kami. Pembawaan mereka yang seringkali mengundang tawa, membuat kami semua terhibur. Mbak Ulin membuka acara dengan gaya bicaranya yang lucu. Mbak Ulin memperkenalkan teman-temannya dari “Rumah Media”. Selanjutnya giliran Bu Wesiati yang menjelaskan tentang apa itu jurnalistik. Beliau menceritakan pengalamannya selama terjun dalam dunia jurnalistik. Beliau berkata bahwa menulis sebuah buku itu rumit, karena selalu saja datang yang namanya komentar dan kritik. Namun bagi beliau tidak ada satupun karya yang sempurna. Sebagus apapun sebuah karya tidak akan lepas dari yang namanya komentar dan kritik. Beliau juga menceritakan proses beliau dalam menulis sebuah buku. Lalu dilanjutkan Mbak Maria dan Mas Billy menceritakan pengalamannya bergabung dengan AAT. Setelah pelatihan jurnalistik selesai, dilanjutkan oleh Pak Tis yang menceritakan pengalamannya di dunia jurnalistik. Beliau berprofesi sebagai wartawan. Dan beliau berpesan pada kami semua, “Jangan pernah patah semangat, karena apapun yang kita lakukan itu semua membutuhkan sebuah proses.” Acara pun selesai pukul 16.00 dan ditutup oleh doa yang dipimpin oleh Kak Edo. Banyak hal yang kita dapatkan dari kegiatan ini. Kebersamaan yang kami lewati semakin mendekatkan kami antara satu dengan yang lain. Menulis itu bukan hal yang menakutkan. Lewat tulisan bisa mengungkapkan perasaan kita bahkan kegelisahan kita. Ternyata memang benar bahwa buku adalah jendela dunia. Menulis itu seperti menyimpan sebuah file. Waktu kita membutuhkan sesuatu kita tinggal membukanya saja. Setiap karya dan seperti apapun karya kita pasti tidak akan lepas dari komentar dan kritik. Tetapi sebenarnya itulah yang kita butuhkan. Sebuah komentar adalah sebuah langkah untuk maju. Di mana komentar tersebut menuntun kita pada sebuah perbaikan. Kita juga mulai berpikir bagaimana kita bisa menjadikan karya kita lebih baik dari sebuah komentar dan kritik. Dalam menulis, kita harus belajar untuk fokus terhadap apa yang mau kita tulis. Fokus dengan apa yang kita gali, apa yang kita catat, dan pada apa yang kita sampaikan lewat tulisan kita. Itu yang namanya fokus. Jangan lupa sebagai langkah awal kita menulis berikan sebuah senyuman yang menandakan sebuah ketulusan dari hati kita. Karena dari ketulusan itulah akan kita dapatkan sebuah tulisan yang hidup. “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreatifitas ditimbang-timbang“  (Seno Gumira Ajidarma)   Agnes Lensa Staff Administrasi AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/horeee-kumpul-lagi” size=”175″]  

Horeee kumpul lagi… Read More »

So, What Colour Are You?

Anak Anak Terang (AAT), itulah nama yang setahun lalu terngiang dalam benak dan membuat saya penasaran. Beragam pertanyaan mulai mengusik saya. Mulai dari apa itu AAT? Apa saja kegiatan yang ada di AAT? Beruntunglah saya bertemu dengan Mas Christ yang bersedia menjelaskan tentang AAT. Beliau menjelaskan bahwa AAT adalah komunitas sosial yang konsen membantu anak-anak yang kurang mampu dalam hal finansial supaya dapat terus melanjutkan pendidikannya. Tidak ketinggalan beberapa buah stiker dan satu buah tas yang berlogo AAT dihadiahkan kepada saya di akhir pembicaraan. Tidak lupa juga meluncur kalimat ajakan, “Kalo ada waktu, yok melu gabung ngewangi AAT, kuwi ono website AAT ojo lali dibuka, ben luwih ngerti soal AAT” yang artinya, “Ayo gabung bantuin AAT, itu ada website AAT jangan lupa dibuka, supaya kamu lebih mengerti tentang AAT.” Dari situlah awal perkenalan saya dengan yayasan sosial ini. Seiring dengan berjalannya waktu, saya sering bertemu dengan teman-teman relawan AAT dari Semarang. Lambat laun, saya mulai sedikit mengerti aktivitas apa saja yang dilakukan para relawan dan tentu cara kerja para relawan dalam membantu AAT. Mulai dari cara pengajuan proposal, survei, hingga bagaimana cara input data. Saya jadi semakin tertarik untuk bergabung menjadi relawan di AAT. Namun, waktu seakan selalu jadi penghalang. Baru bulan Mei lalu, waktu mengijinkan saya bergabung menjadi relawan AAT. Saya masih ingat jelas pengalaman pertama survey ke SMP Bellarminus Semarang dengan sambutan teman-teman yang tidak terlupakan. Waktu saya datang, teman-teman relawan Semarang dengan sangat kompak berseru “akhirnya datang juga.” Sambutan yang cukup menyenangkan, mungkin saking lamanya mereka menunggu. Hari itu juga merupakan pengalaman pertama saya mewawancarai calon anak asuh AAT. Mungkin saya juga yang merasa paling berdosa waktu itu karena menolak banyak calon anak asuh. Tentang Yani Satu kisah dari salah satu anak yang waktu itu saya wawancarai yang membuat saya terharu, salut, serta bersyukur dengan keadaan saya sekarang ini. Yani namanya. Dia tinggal menumpang di rumah kakeknya di Semarang bersama ibu dan kedua adiknya. Ibunya tidak memiliki mata pencaharian yang tetap. Mulai buruh cuci harian hingga mengasuh anak tetangga, itupun jika ada yang meminta. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan Yani sejak kecil, “saya tidak tahu dimana ayah sekarang,” jawabnya lirih ketika saya bertanya padanya.   Untuk hidup sehari-hari, Yani mengandalkan bantuan dari tantenya yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah kakeknya. Penghasilan ibunya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi kakeknya yang sudah tua dan sering sakit. Uang sakunya tiap hari hanya 2 ribu rupiah, itupun juga mengandalkan pemberian dari tantenya, jumlah rupiah yang bagi sebagian orang nilainya tidak seberapa. Tak jarang dia juga membantu mengasuh anak tantenya untuk mendapatkan uang tambahan. Meski begitu, semangatnya untuk sekolah tetap membara, tumpahan sinar matahari yang terik ketika berjalan kaki pulang dan pergi tak pernah menyurutkan niatnya. Sungguh perjalanan hidup yang bagi saya sangat luar biasa dan sangat menginspirasi. Di akhir wawancara tak lupa saya menyelipkan kalimat, “semangat ya dik, kamu bisa!” Cat Lukis dan Warna Kehidupan Cerita Yani tadi menjadi refleksi tersendiri bagi saya, mengingatkan saya saat dikarantina selama satu minggu di lereng Merapi dalam acara latihan kepemimpinan setahun yang lalu. Di sana saya diajak untuk merasakan langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar, menjadi penambang pasir di sungai, membantu nenek tua berjualan di pasar, sampai mencari makan untuk kambing, dan membersihkan kandangnya. Pada saat akhir sesi ada satu pertanyaan menarik. Pertanyaan tersebut adalah, seperti apa dirimu jika digambarkan sebagai suatu benda dan mengapa. Ketika itu saya menggambarkan diri saya sebagai cat lukis. Mengapa? Filosofinya saya mengibaratkan setiap manusia punya warna tersendiri dalam dirinya, yang akan digoreskan dalam kanvas orang lain, dan tentunya bakal membekas menjadi kumpulan warna tersendiri bagi orang tersebut. Intinya, saya ingin menjadi orang yang memberi dan menggoreskan warna tersendiri dalam kehidupan seseorang, sehingga menjadi lebih berwarna. Berangkat dari refleksi di atas, saya berharap dengan bergabung di AAT bisa menjadi media saya untuk lebih banyak belajar tentang hidup dan tentunya memberi warna bagi kehidupan sesama. Inilah sepenggal kisah pengalaman saya selama bergabung dengan Yayasan AAT Indonesia (AAT). Seperti judul cerita di atas, satu pertanyaan yang akan saya ajukan kepada anda semua, “So, What Colour Are You?”   Polycarpus Estutomo Bani Pandhito Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/so-what-colour-are-you” size=”175″]  

So, What Colour Are You? Read More »

Belajar Bersyukur Bersama AAT

MENJADI seorang mahasiswi bukanlah satu-satunya impianku pada beberapa tahun yang lalu. Mungkin bagi sebagian besar anak di luar sana, melanjutkan pendidikan seusai lulus SMA adalah hal yang mudah dan wajar karena orang tua mereka mampu untuk membiayainya. Namun, kesadaran bahwa hanya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, terlebih keadaan orang tua yang masing-masing sudah memiliki keluarga sendiri. Perceraian mereka, membuat semangatku menciut untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Mustahil untuk dapat menikmati bangku kuliah bersama teman-teman yang lain. Sehingga aku lebih memilih bekerja menjadi seorang Research and Development (R&D) di sebuah Perusahaan Food and Beverage di Kota Tangerang selama kurang lebih 1 tahun. Hingga akhirnya terjadi percakapan singkatku bersama Bruder Konrad, CSA, Ketua Yayasan Santo Paulus. Aku kenal beliau semenjak kelas 1 SMK saat menghadiri acara MOS di Gua Maria Kerep Ambarawa. Ketika itu kusampaikan keinginanku bahwa aku sangat ingin melanjutkan kuliah dan tanpa kuduga sebelumnya ternyata Bruder memberikanku tawaran untuk berkuliah di Akademi Kimia Industri (AKIN) Santo Paulus Semarang. Kukira Bruder hanya bercanda saat menyampaikan hal tersebut. Namun ternyata tawaran itu serius. Entah apa yang kurasakan saat itu. Senang karena diberi kesempatan untuk kuliah, namun juga bingung, siapa yang akan membantu perekonomian keluarga jika aku kuliah. Dengan sedikit mendengarkan hati kecil dan sedikit keegoisanku, aku mengambil kesempatan yang diberikan oleh Bruder Konrad, CSA walau terjadi pro dan kontra di dalam keluarga besarku. Kebingungan lainnya muncul lagi setelah aku mulai menjadi seorang mahasiswi. Meskipun mendapat bantuan beasiswa pada semester pertama, namun kuliah juga memerlukan biaya untuk mencukupi segala kebutuhan kuliah lainnya. Contohnya seperti untuk fotocopy, membeli alat tulis, dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, aku bekerja di sebuah Event Organizer. Meski berpenghasilan tak seberapa, namun lumayan daripada tidak memiliki masukan sama sekali. Tidak cukup sampai di situ, kebingungan lainnya muncul lagi karena uang yang kuperoleh tidak dapat mencukupi biaya kuliahku. Dan memang benar, Tuhan tidak pernah tidur. Kembali lagi Bruder Konrad, CSA memberikanku kesempatan emas yang sangat berharga bagiku. Bersama teman sekelasku, Handy, aku menemui Bruder yang kemudian dijelaskan tentang Anak Anak Terang (AAT). Kami diminta untuk menjadi relawan AAT untuk Sekretariat Semarang. Lalu kami dijelaskan lebih lanjut tentang AAT oleh Mas Christianus Widya Utomo (Mas Christ). Ternyata memang menyenangkan bisa bergabung dan mengenal AAT, apalagi terlibat di dalamnya dan menjadi salah seorang relawan yang bisa menyumbangkan tenaga serta waktu. Di sini juga aku bisa belajar banyak hal. Belajar segala hal yang tidak bisa dijelaskan oleh teori saja. Belajar tentang bersyukur, singkat namun sangat sulit untuk dipahami. Sebelum mengenal AAT, aku selalu merasa bahwa nasibku sangat buruk jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Terlahir dari keluarga sederhana, orang tua yang bercerai sejak aku kecil, tinggal jauh dari orang tua, sangat banyak yang menjadikanku alasan bahwa hidup ini sangatlah tidak adil. Namun setelah aku mengenal AAT, bagaikan ditampar langsung oleh Tuhan. Ternyata aku masih lebih beruntung. Hingga saat ini aku masih bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini tidak kusadari. Sangat berbeda jika kehidupanku dibandingkan dengan kehidupan para Anak Asuh di AAT. Setidaknya aku harus lebih bersyukur bahwa selama ini aku masih bisa bersekolah tanpa harus lelah bekerja menjadi tukang penjual majalah dan tanpa harus lelah bekerja di stasiun seperti yang dialami oleh anak-anak asuh AAT. Setidaknya aku harus lebih bersyukur bahwa aku masih bisa makan 3 kali sehari, tanpa harus lelah bekerja sepulang sekolah demi sesuap nasi untuk menyambung hidup. Lebih bersyukur bahwa setidaknya aku masih bisa tidur di atas kasur yang empuk jika dibandingkan dengan mereka yang tidur beralaskan koran. Lebih bersyukur bahwa bisa berjalan untuk berangkat ke sekolah hanya sejauh 500 meter, jika dibandingkan dengan mereka yang berjalan sejauh puluhan kilometer tanpa mengenakan alas kaki. Banyak hal yang diajarkan secara tidak langsung oleh anak-anak asuh AAT. Seperti menemukan keluarga baru di sana. Memiliki “Mami” yang tak pernah lelah untuk memberikan wejangan, memberikan cubitan-cubitan tentang menyikapi arus hidup. Memiliki kakak-kakak yang selalu mendorong semangat untuk melayani sesama, yang selalu berteriak-teriak agar aku memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki penasihat-penasihat yang sangat luar biasa dalam membentuk moral serta mentalku yang kurasa masih sangat lemah. Terlebih aku diberi kesempatan untuk menjadi salah satu anak asuh penerima beasiswa AAT untuk Perguruan Tinggi. Sungguh mukjizat yang sangat nyata terjadi bagi kehidupanku semenjak mengenal AAT. Meskipun keluarga baruku ini kadang terlihat sangat “galak” dan sering memberikan “tekanan”, namun itu semua ada maksudnya. Aku yakin bahwa suatu saat apapun yang telah mereka ajarkan kepadaku akan berguna di dunia luar nanti. Omelan-omelan dan wejangan dari Mami Can (Ibu Elisabeth Lies Endjang), marahan-marahan dari mas Christ, sentilan-sentilan dari kak Can (Mbak Santi Widya), dan aturan-aturan serta ketegasan dari Bruder Konrad, CSA, suatu saat nanti pasti akan sangat kurindukan meski saat ini sudah sangat lelah mendengar teriakan-teriakan dari mereka. Namun apalah jadinya diriku yang saat ini, jika 19 September 2012 yang lalu aku tidak mengenal AAT. Sekarang tidak ada lagi Nisa yang patah semangat. Tidak ada lagi Nisa yang selalu mengeluh tentang hidup. Tidak ada lagi Nisa yang lembek untuk menghadapi dunia luar. Tidak ada lagi keluh kesah pada Tuhan, dan tidak ada lagi alasan bagiku untuk tidak bersyukur. Apalagi yang masih harus Tuhan beri untuk kita? Udara tersedia gratis bagi kita, rezeki pun selalu ada celah untuk kita terima. Semua disediakan-Nya secara gratis untuk kita. Hanya sejauh mana kita mampu memandang itu semua sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Semua yang terjadi di dalam hidup kita sesungguhnya adalah sebuah anugerah. Kita bahagia, senang, gembira, sedih, berduka, musibah, sakit, semua adalah anugerah dari Tuhan. Apapun yang terjadi dalam kita bukan suatu kebetulan. Tidak perlu menunggu sempurna untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan. Sekali lagi, terimakasih yang sebesar-besarnya khususnya untuk Bruder Konrad, CSA (Bruder Agustinus Samsari) yang telah banyak berjasa dalam mengubah kehidupan dan kepribadianku. Pertolongan Tuhan datang melalui Bruder Konrad, CSA dan seluruh Tim AAT. Terima kasih, semoga AAT bisa semakin membawa Terang bagi sesama dan semakin berkembang demi kecerdasan anak bangsa. Amin.   Annisa Wulan Andadari Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/belajar-bersyukur-bersama-aat” size=”175″]  

Belajar Bersyukur Bersama AAT Read More »

Hidupku Lebih Bermakna Bersama AAT

Tanggal 19 September 2012 adalah tanggal yang tidak bisa saya lupakan. Bermula dari obrolan bersama Bruder Konrad, CSA seputar kegiatan kampus, beliau pun lantas mengajak saya dan teman saya Annisa untuk menjadi relawan Anak-Anak Terang (AAT). Dalam hati saya berpikir seperti apa kegiatan AAT itu? Bruder pun memberikan kontak dari pengurus AAT yaitu Mas Christianus Widya Utomo atau yang biasa kita panggil Mas Christ. Esoknya saya dan Annisa pergi menemui Mas Christ. Beliau lalu menjelaskan tentang apa itu AAT dan kegiatan seperti apa yang nanti akan dilakukan. Beliau juga mengatakan bahwa yang menjadi relawan mayoritas adalah mahasiswa dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Hari minggunya, saya bersama Annisa, Maria, dan Pieter mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai AAT oleh Bapak Hadi Santono selaku Ketua Yayasan AAT Indonesia dan tiga mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang telah lebih dahulu menjadi seorang relawan AAT. Mereka adalah Chika, cik Christina dan kak Mega. Ketiganya saling bergantian menjelaskan kepada saya dan teman-teman mengenai Sistem Pengelolaan Beasiswa AAT, prosedur pengajuan proposal beasiswa, dan lain-lainnya. Sungguh banyak sekali yang harus diingat-ingat. Rasanya saya hampir tidak bisa mengingat semua itu dengan jelas. Tapi satu point penting yang dapat saya ambil bahwa AAT membantu adik-adik yang ingin bersekolah namun tidak memiliki dana untuk membiayainya. Pada saat memulai wawancara untuk yang pertama kali dengan calon anak asuh, saya sangat tersentuh mendengarkan cerita-cerita mereka. Kebanyakan dari mereka merupakan anak yatim atau anak piatu. Ada juga yang ayah dan ibunya tidak lagi bersama (bercerai). Selain itu, ada yang sejak mereka lahir mereka tidak mengenal ayah atau ibu yang seharusnya mengasihi, menyayangi, dan membimbing, serta mendidik mereka. Bahkan ketika disuruh menceritakan tentang keluarganya, ada salah satu calon anak asuh yang menangis. Ia menceritakan tentang kehidupan keluarganya yang sangat menyedihkan karena orang tuanya sudah meninggal. Dan ia pun hanya diurus oleh neneknya yang setiap hari berusaha untuk memenuhi kebutuhannya agar bisa terus bersekolah. Akhirnya Bisa Kuliah Melihat adik-adik yang punya semangat untuk terus bersekolah, mengingatkan saya ketika mau lulus SMP. Waktu itu saya ingin melanjutkan sekolah di SMA layaknya teman-teman lainnya. Tetapi nenek dengan keras mengatakan “Handy kamu tidak usah ke SMA biayanya sangat mahal kamu lebih baik masuk SMK biar cepet kerja bantu orang tua cari uang”. Saya mengerti kondisi keuangan keluarga saya memang tidak sebaik saudara-saudara saya. Tetapi dalam hati bertanya mengapa cuma saya yang harus masuk di SMK? Pada awalnya memang saya sedikit kecewa dan putus asa karena tidak diijinkan masuk SMA. Tetapi saya juga harus tahu bahwa masuk SMA sangat mahal sehingga saya memilih masuk SMK dengan tujuan setelah lulus bisa langsung bekerja. Namun setelah melihat lowongan pekerjaan di saat saya kelas 3 SMK yang dibutuhkan minimal D3/S1, saya ingin melanjutkan pendidikan. Tetapi uang dari mana untuk bisa kuliah? Orang tua bilang bahwa uang tidak perlu dipikirkan yang penting bisa kuliah dulu. Akhirnya saya melanjutkan kuliah di Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang. Saat tiba waktu pembayaran kuliah, saya merasa was-was memikirkan pelunasan pembayaran. Tetapi ternyata orang tua bilang kepada saya bahwa uang kuliah cicilan pertama sudah lunas. Saya bingung, uang darimana sampai bisa membayar? Namun mereka menjawab tidak usah memikirkan biaya dan fokus kuliah saja. Bulan pertama kuliah lancar sampai akhir semester tetapi uang kuliah belum lunas. Saya pun harus meminta dispensasi ke kampus agar diberi keringanan. Untuk dapat melunasi uang kuliah, saya berusaha meringankan sedikit beban orang tua dengan memberikan les private. Hasilnya memang tidak seberapa. Tetapi setidaknya saya bisa sedikit membantu orang tua. Meskipun tiap semester saya tetap harus menemui bagian keuangan untuk meminta dispensasi. Meskipun begitu, saya tidak patah semangat karena saya ingin menjadi orang yang lebih baik dan dapat membanggakan orang tua. Suatu hari saat rapat dengan teman-teman AAT, Bu Lies mengatakan kepada kami bahwa kami diajukan dalam beasiswa AAT untuk perguruan tinggi dan harus melewati tahap seleksi. Saya mulai mempersiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Waktu proses wawancara pun saya melaluinya satu persatu dengan pasrah dan tetap sabar menunggu hasilnya. Dan akhirnya saya dinyatakan lolos seleksi. Saat itu juga saya merasa senang karena bisa meringankan beban orang tua saya dan mereka tidak harus membanting tulang demi dapat membiayai uang kuliah saya. Saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua saya dan juga untuk donatur yang telah membantu saya sehingga saya dapat terus menimba ilmu sampai sekarang.   Selama mengikuti kegiatan AAT, saya dan teman-teman selalu didampingi oleh Mas Christ, Bu Lies dan Bruder Konrad, CSA. Meskipun terkadang beliau-beliau marah karena kami berbuat salah dan kurang bertanggung jawab, namun kami sadar semua itu agar kami menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Saya sangat senang dapat bergabung di AAT. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan. Mulai dari bagaimana berbicara yang baik dengan orang banyak terutama dengan orang tua, belajar tentang tanggung jawab, pantang menyerah, dan belajar bagaimana mengatur waktu dengan baik. Kelak ketika saya sudah menjadi orang yang mapan nanti, saya juga ingin membantu adik-adik saya yang kurang mampu agar dapat mengenyam pendidikan yang baik. Terima kasih Anak-Anak Terang, terima kasih Bruder Konrad, CSA, terima kasih Mas Christ dan juga Bu Lies. Pengalaman serta pendampingan yang baik ini tidak akan saya sia-siakan.   Aloysius Handy Wibowo* Staff Admin AAT Semarang * Aloysius Handy Wibowo adalah salah satu Anak Asuh AAT tingkat Perguruan Tinggi yang juga bertugas sebagai Staff Admin AAT Semarang. Merupakan mahasiswa Akademi Kimia Industri (AKIN) St. Paulus Semarang angkatan 2011.   [qrcode content=”https://aat.or.id/hidupku-lebih-bermakna-bersama-aat” size=”175″]  

Hidupku Lebih Bermakna Bersama AAT Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 panduan analisa strategi taktik peluang rtp live mahjong wild deluxe dadu sicbo gates of olympus perihoki metodologi analisa pola rtp live strategi taktik teknik peluang mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess perihoki dinamika peluang strategi taktik teknik analisa pola rtp live blackjack sweet bonanza mahjong wins 3 pragmatic perihoki algoritma analisa pola rtp live strategi teknik taktik peluang roulette mahjong ways 2 pgsoft wild west gold perihoki agregasi teknik taktik strategi analisa pola rtp live peluang blackjack sv388 sugar rush mahjong wins 3 pragmatic perihoki korelasi taktik analisa pola peluang kemenangan mahjong deluxe dadu sicbo dan gates of olympus duta76 riset analisa peluang strategi taktik teknik pola rtp live mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess duta76 kalkulasi taktik teknik analisa pola rtp live strategi peluang mahjong wins 3 pragmatic blackjack sweet bonanza duta76 eskalasi strategi taktik teknik analisa pola rtp live peluang mahjong ways 2 pgsoft roulette wild west gold duta76 arsitektur peluang strategi taktik teknik analisa pola rtp live mahjong wins 3 sugar rush blackjack sv388 duta76 e4 panduan lengkap update harian dengan analisis pola dan tren kemenangan terkini e4 panduan melihat rtp live hari ini untuk peluang maksimal hingga 39 juta e4 pendekatan cerdas membaca pergerakan scatter dan wild secara sistematis e4 pendekatan data driven dalam membaca sinyal scatter dan wild e4 pendekatan konsisten dengan spin halus dan pola rtp akurat e4 pendekatan profesional mengamati pola scatter dan wild secara akurat e4 pendekatan spin halus dengan analisis rtp untuk ritme permainan optimal e4 pendekatan tepat membaca rtp live harian yang ramai dibahas hasil 19 juta e4 implementasi tren rtp harian dalam strategi permainan masa kini e4 integrasi data rtp harian dalam perencanaan permainan yang efektif e4 ketika analisis tren rtp harian menjadi dasar strategi permainan modern e4 ketika data rtp harian menjadi fondasi perencanaan permainan digital e4 kisah dika konsisten di dunia digital kini miliki bisnis sendiri e4 konsistensi di dunia digital bawa rudi bangun bisnis sendiri e4 laporan harian pola kemenangan disertai insight mendalam dan strategi terbaru e4 laporan pola kemenangan terkini panduan detail dan analisis harian e4 laporan terbaru update harian pola kemenangan dengan analisis lengkap dan insight strategis e4 laporan update harian strategi pola kemenangan dengan data dan insight akurat e4 metode analisis pola scatter dan wild dengan sistem terbaru e4 metode analisis rtp live harian yang trending hasilkan 59 juta e4 metode modern mengidentifikasi scatter dan wild berdasarkan pola sistem e4 metode sistematis mengungkap sinyal scatter dan wild secara konsisten e4 metode spin halus berbasis rtp untuk konsistensi permainan e4 metode terukur membaca momentum scatter dan wild dengan dukungan algoritma e4 model bisnis game asia tenggara vs dunia peluang dan tantangan di pasar indonesia e4 optimalisasi permainan modern lewat pemantauan tren rtp harian e4 optimasi ritme permainan lewat spin halus dan analisa rtp e4 panduan lengkap tren kemenangan harian dengan analisis dan data akurat dari permainan sensasi scatter mahjong wins fokus longgar celah scatter wild mahjong ketika mahjong stabil mahjong fase berbeda ketika pemain waspada scatter wild penting ketika scatter hitam mendominasi mahjong wins mahjong mengalir ringan scatter hitam mahjong ways bergerak arah konsentrasi mahjong wins berjalan scatter hitam putaran mahjong wins fase berbeda scatter hitam mahjong wins perubahan scatter hitam datang mahjong wins putaran scatter beban terselubung penurunan atensi memicu ritme mahjong penurunan disadari awal ritme mahjong perubahan reel mahjong ways fokus putaran biasa scatter menggeser kendali mahjong putaran mulai retak scatter hitam semakin padat putaran terasa dalam saat scatter hitam halus saat konsentrasi penuh scatter wild besar saat pola mulai tergeser scatter hitam hadir tekanan baru muncul scatter hitam aws analisis rtp mahjong taktik aws observasi rtp transisi simbol aws pola pecah mahjong rtp aws analisis rtp mahjong taktik aws starlight data super scatter