Artikel

Kuliah : Impian Yang Menjadi Nyata

SEBUAH KENYATAAN yang mungkin tidak terbayangkan oleh saya sebelumnya. Mimpi? Yaaa.. Itu semua adalah mimpi saya. Mimpi untuk dapat melanjutkan kuliah seperti teman-teman yang lain. Ejekan bahkan hinaan dari orang-orang di sekitar saya sudah sering saya terima. “Koe ki anak e wong ra ndue, mbok uwes kerjo wae ngewangi wong tuwo, mesake kae ibumu le golek duit nggo koe kuliah. Wong kere wae gayane koyo wong sugih (Kamu itu anak orang miskin, lebih baik kamu bekerja saja membantu orangtua, kasihan ibumu harus mencari uang untuk kamu kuliah. Orang miskin saja gayanya seperti orang kaya)”, itu sepenggal kalimat dari seorang tetangga saya. Apakah ejekan dan hinaan itu saya abaikan begitu saja dan tidak saya pikirkan? Oh tentu tidak.. Jelas itu semua selalu saya pikirkan dan selalu terngiang dibenak saya. Tapi itu semua tidak membuat saya pesimis dan menyerah begitu saja. Saya justru berterimakasih kepada orang-orang yang telah mengejek dan menghina saya, semua itu menjadi motivasi bagi saya. Mama saya seorang single parent dan memang kesulitan jika membiayai saya untuk kuliah. Belum lagi masih harus membiayai dua adik saya untuk bersekolah. Untuk makan dan tempat tinggal saja kami masih menggantungkan pada eyang. Tapi kami bersyukur masih bisa survive sampai sekarang. Kamis 15 Juli 2010, hari di mana saya merasa benar-benar menjadi seorang mahasiswi. Bukan karena sudah masuk kuliah, tetapi pada hari itu saya sudah berhasil mengumpulkan uang untuk membayar cicilan pertama uang masuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta. “Yey! Aku mahasiswi akuntansi UAJY!” Hahahaa.. Bagaimana pembayaran selanjutnya? Sejujurnya pada saat itu saya belum memikirkannya. Tetapi yang jelas saya ingin kuliah. Saya ingin menjadi orang berhasil. Semester pertama dan kedua masalah akademik lancar, masalah pembayaran SPP? Nol besar. Saya bingung bagaimana harus membayar kuliah. Pada saat itu saya memang bekerja sambilan sebagai operator (OP) warnet. Tapi tujuan saya menjadi OP warnet bukan untuk mencari uang, melainkan saya butuh fasilitasnya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Saya juga mencoba bekerja menjadi Sales Promotion Girl (SPG), uang yang didapat sebenarnya lumayan, tapi untuk mencukupi kebutuhan saya sehari-hari saja masih kurang karena memang saya sudah tidak meminta uang pada orangtua saya. Akhirnya setiap jatuh tempo pembayaran yang saya bawa ke kantor keuangan bukan uang untuk membayar SPP melainkan surat permohonan dispensasi. Hahahaha.. Malu tentu saja, tapi mau bagaimana lagi. Sampai suatu hari saya dipanggil ke kantor keuangan, dan saya diberitahu bahwa seluruh biaya sumbangan masuk dan SPP saya sudah lunas. WOW! LUNAS! Saya tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Saya ingin mengucapkan terimakasih, tetapi kepada siapa, saya sendiri tidak diberitahu siapa yang melunasinya. Bersyukur sudah pasti, dan saya akan lebih giat belajar. Suatu hari di bulan September 2012 saya dipanggil bapak Kepala Kantor Keuangan, Bp Agus Triyogo, dan saya diminta untuk menemui Bp Hadi Santono di Fakultas Teknologi Industri UAJY. Jujur saja saya tidak tahu mengapa dan untuk apa saya harus menghadap Pak Hadi. Ternyata di sana saya diperkenalkan dengan Anak-Anak Terang (AAT). Saat itu Christina Suryani yang menjelaskan kepada saya tentang AAT dan apa yang harus saya lakukan. Yaaa.. Dan mulai saat itu saya bergabung menjadi Pendamping Komunitas atau Staff Admin AAT. Mulanya saya takut tidak dapat membagi waktu untuk kuliah, bekerja sebagai Student Staff, dan AAT. Tapi saya juga berpikir bahwa saya sudah banyak dibantu oleh orang lain dan saya juga harus banyak membantu orang lain. Banyak hal baru yang saya dapatkan ketika saya bergabung dengan AAT. Dulu saya sering sekali mengeluh dan kurang bersyukur, tetapi melalui AAT saya benar-benar disadarkan bahwa di luar sana banyak orang yang hidup lebih susah dari saya. Di AAT ini saya juga belajar “berbicara”. Saya diharuskan untuk bisa berbicara di hadapan orang banyak. Mungkin apabila orang yang kita hadapi seusia atau lebih muda itu akan mudah, tetapi kali ini yang harus dihadapi adalah Bapak dan Ibu kepala sekolah maupun guru dari berbagai sekolah. Awalnya saya selalu berpikir apakah para kepala sekolah dan guru itu mau mendengarkan saya. Perasaan takut diremehkan itu lama-kelamaan menghilang dengan sendirinya. Karena ternyata tanggapan positif yang saya terima dari mereka. Walaupun jujur saja, terkadang pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan bisa membuat saya dan teman-teman pusing untuk menjawab. Hehehe.. Seiring berjalannya waktu, saya mulai tahu siapa orang yang berbaik hati mau membantu biaya kuliah saya. Beliau adalah salah satu donatur atau orangtua asuh di AAT. Walaupun sampai saat ini, sampai detik saya menulis cerita ini, saya tetap belum mengenal Beliau. Secuil kisah manis ini saya persembahkan kepada Beliau sebagai ucapan terimakasih saya. Saya berjanji untuk bisa menjadi orang sukses kedepannya, supaya saya tidak mengecewakan Beliau. Saya juga ingin menjadi seperti Beliau, dapat membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Tak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih kepada orangtua asuh yang lain, baik yang saya kenal maupun belum saya kenal. Saat ini hanya tenaga yang dapat saya berikan. Tenaga yang saya salurkan melalui Anak Anak Terang untuk membantu adik-adik dari SD, SMP, maupun SMA untuk dapat terus bersekolah.   Maria Claudia Alma Staff Admin AAT Jogja  [qrcode content=”https://aat.or.id/kuliah-mimpi-menjadi-kenyataan” size=”175″]  

Kuliah : Impian Yang Menjadi Nyata Read More »

Pertemuan Tahunan AAT Wilayah Jogja

Sabtu, 7 September 2013 – AAT. Setiap awal tahun ajaran, Anak Anak Terang (AAT) menyelenggarakan pertemuan rutin yang dihadiri oleh Penanggung jawab (PJ), Pendamping Komunitas (PK) dan Pengurus AAT. Untuk wilayah Yogyakarta, pertemuan dilaksanakan di SMK Marsudi Luhur 1, Jalan Bintaran Kidul No. 12 Yogyakarta. Kebetulan pada saat yang sama, pertemuan tahun AAT Wilayah Semarang juga berlangsung di SMK Kimia Industri Theresiana Semarang. Ada tiga acara utama dalam acara tahunan kali ini. Pertama, yaitu peresmian sekretariat Yogyakarta yang bertempat di sebuah ruang di SMK Marsudi Luhur 1. Kedua adalah pembagian penghargaan anak asuh berprestasi. Ketiga, pembagian Surat Keputusan (SK) berisikan daftar anak asuh yang akan menerima beasiswa AAT untuk tahun ajaran 2013/2014. Tepat pukul 13.00 WIB, Dica dan Hendro yang menjadi Master of Ceremony (MC) mulai membuka acara. Dimulai dengan doa pembukaan yang dipimpin langsung oleh Romo Agustinus Mintoro, SJ. (Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta), dilanjutkan dengan sambutan oleh Bapak Hadi Santono sebagai Ketua Yayasan AAT Indonesia. Pada kesempatan kali ini alangkah bahagianya karena ada seorang tamu istimewa, yaitu Ibu Patricia Henry, seorang ibu yang tinggal di Houston, USA. Kedatangan Ibu Patricia Henry khusus untuk dapat lebih mengenal AAT secara langsung, tidak hanya melalui FaceBook dan website saja. Akhirnya masuk ke dalam acara utama, yaitu peresmian Sekretariat AAT Jogja. Sekretariat ini diresmikan oleh Romo Agustinus Mintoro, SJ. dengan pemberkatan terhadap Papan Nama Sekretariat AAT Jogja dan ruang kantornya. Dengan diresmikannya Sekretariat AAT Jogja, maka sejak itu semua kegiatan operasional AAT Jogja yang semula menumpang di Fakultas Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta dipindahkan ke SMK Marsudi Luhur 1. Tak lupa diperkenalkan pula Koordinator PK Jogja yaitu Ardiyanti Kusumo Ayu atau yang biasa dipanggil Antik. Setelah peresmian itu dilanjutkan penyerahan SK secara simbolis yang diwakili oleh penanggung jawab dari SMA Pius Bhakti Utama Purworejo yaitu Sr. Evarista, ADM. Untuk penyerahan SK lainnya akan diberikan pada akhir acara.   Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian penghargaan bagi anak asuh berprestasi yang penerimaannya diwakilkan oleh para PJ. Meskipun dapat dikatakan kurang mampu secara finansial, anak asuh AAT tetap banyak yang berprestasi. Ada yang memperoleh juara 1, 2, dan 3 di kelas maupun juara paralel di sekolah, juara modeling, juara perlombaan catur, juara cheerleader dan lain sebagainya. Masing-masing anak berprestasi ini mendapatkan penghargaan berupa tas sekolah dari AAT. AAT memang tidak mengharuskan setiap anak asuh memiliki prestasi, namun setiap prestasi akademik maupun non-akademik yang diraih anak asuh pada tahun ajaran berjalan akan diberikan penghargaan oleh AAT. Penghargaan prestasi akademik diberikan kepada anak asuh yang mendapatkan Ranking 1, 2 dan 3. Sedangkan penghargaan prestasi non-akademik diberikan kepada anak asuh yang mendapatkan Juara 1, 2 dan 3 bidang minat bakat, seni dan olah raga. Setelah bagi-bagi hadiah untuk anak asuh, tak lupa AAT juga membagikan hadiah untuk para PJ yang hadir dalam acara quiz. Hadiah diberikan kepada PJ yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh MC. Pertanyaan ini berisi seputar hal-hal penting yang berhubungan dengan pengajuan beasiswa sampai pelaporannya. Terlihat bahwa para PJ begitu antusias untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Puluhan hadiah berupa tas dan tempat pensil pun habis dalam waktu singkat. Hal ini membuktikan bahwa para PJ telah benar-benar memahami proses pengelolaan Beasiswa AAT. Acara terakhir adalah pembagian SK Pemberian Beasiswa AAT. Acara tahunan ini ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh Antik. Secara keseluruhan acara berlangsung dengan lancar dan tepat waktu sesuai yang direncanakan. Semoga semakin banyak orang yang tergerak untuk membantu sehingga semakin banyak pula anak yang terbantu untuk terus dapat bersekolah.   Liputan oleh Maria Claudia Alma Staff Admin AAT Jogja   [qrcode content=”https://aat.or.id/pertemuan-tahunan-aat-wilayah-jogja” size=”175″]  

Pertemuan Tahunan AAT Wilayah Jogja Read More »

Secarik Kisah Pendamping Komunitas

Saya menjadi Pendamping Komunitas (PK) atau Staff Admin AAT mulai tahun 2011. Menjadi staff admin AAT merupakan pengalaman yang berharga bagi saya. Saat itu, saya beserta adik saya Fransiska Mulyani sedang kesulitan biaya studi. Atas kebaikan hati dari para donatur AAT, akhirnya saya dan adik saya dapat meneruskan kuliah. Sebagai konsekuensinya, kami mempunyai kewajiban untuk menjadi staff admin AAT. Semula belum ada yang namanya SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh). Semua proses administrasi AAT masih dikerjakan secara manual. Proses pencarian orang tua asuh dilakukan hanya melalui email. Ratusan email harus dikirimkan ke orangtua asuh dalam satu hari. Namun seiring berjalannya waktu, SIANAS pun berhasil diprogram oleh Mas Bastian. Pada saat itu jumlah anak asuh masih sekitar 1000-an anak. Masih terasa mudah mengerjakannya walaupun hanya dikerjakan berdua dengan adik saya. Berbeda dengan kondisi sekarang jumlah anak asuh yang dibantu pun semakin bertambah sekarang jumlahnya sekitar 2000-an anak. Di Jogja sendiri sekarang staf admin telah bertambah menjadi 24 orang, jumlah yang semakin banyak seiring dengan bertambahnya anak asuh. Pengalaman berharga yang masih saya ingat saat pertama kali saya diajak untuk mengunjungi sekolah-sekolah Marsudi Luhur (SMP Marsudi Luhur, SMA Marsudi Luhur, SMK Marsudi Luhur 1 dan SMK Marsudi Luhur 2). Di sana saya untuk pertama kalinya mewawancarai anak-anak calon anak asuh AAT. Mendengar hasil wawancara dengan anak-anak tersebut ternyata di usia mereka yang masih muda mereka telah merasakan kesulitan yang cukup besar yang seharusnya tidak dialami oleh anak seusia itu. Yang saya tahu, dengan usia mereka yang masih sangat muda, tidak seharusnya mereka memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk sesuap nasi. Namun kebanyakan dari mereka membantu kedua orang tuanya untuk bekerja. Meski setiap hari bekerja tetapi uang yang dapat mereka hasilkan tidaklah banyak. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah membuat mereka bersusah payah, apalagi untuk membayar uang sekolah. Ada banyak anak yang belum bisa membayar uang sekolah. Beberapa orang di antara mereka merupakan korban KDRT, tinggal di panti asuhan, atau harus ikut tinggal bersama relawan yang belum dikenal karena kondisi ekonomi keluarga mereka yang tidak memungkinkan. Hal ini membuat saya merasa kasihan dan juga berfikir bahwa yang mengalami penderitaan yang lebih sulit dari yang pernah saya alami dan pikirkan juga ternyata jauh lebih banyak. Selain itu saya juga pernah mengunjungi sekolah di daerah Wonosari yaitu SD Kanisius Ngawen, sekolahnya berada di puncak bukit dimana anak-anak harus berjalan beberapa kilometer untuk mencapai sekolah tersebut. Mereka sudah terbiasa memakai sandal. Sepatu mereka cepat rusak karena perjalanan yang cukup jauh. Hal seperti itu membuat saya semakin merasa iba, karena di saat mereka sedang bersusah payah kelelahan untuk ke sekolah, namun juga ada banyak anak yang hidup berkecukupan namun mereka sia-siakan kesempatan baik itu. Saat kunjungan kami membawakan makan siang berupa Fried Chicken. Kami merasa terheran-heran ketika anak-anak tersebut mengatakan belum pernah merasakan makanan seperti itu. Jadi pada saat itu mereka baru pertama kali merasakan rasa ayam goreng yang dinamakan Fried Chicken. Mereka sangat senang menerima kedatangan kami, di sana kami mengajak anak anak tersebut bermain dan bernyanyi. Saya pun sangat kagum dengan semangat yang mereka miliki, walaupun dengan kondisi serba terbatas dan harus melalui jalan yang cukup jauh untuk ke sekolah, namun mereka tetap semangat. Semua pengalaman yang saya jalani bersama AAT sangat berarti bagi saya dan tidak akan mungkin untuk saya lupakan. Meskipun saya sekarang sudah lulus sarjana dan sudah bekerja di API (Autoplastik Indonesia, salah satu anak perusahaan Astra Otoparts), namun kenangan bersama AAT tetap menjadi pemacu semangat hidup saja. Saya berharap semoga semangat yang ditanamkan AAT kepada semua anak asuh untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya tidak akan pernah padam. Saya juga berharap AAT mampu membantu lebih banyak lagi anak-anak yang membutuhkan. Saya yakin bantuan sekecil apapun itu, itu akan cukup berguna bagi masa depan mereka semua, masa depan bagi penerus bangsa. Yogyakarta, 13 September 2013   Christina Suryani, ST. *Christina Suryani (CHRISTINA) adalah salah satu anak asuh AAT yang juga ikut melayani sebagai Staff Admin AAT JOGJA sejak tahun 2011. Lulus Sarjana pada bulan Juli 2013 dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan predikat CUM LAUDE.   [qrcode content=”https://aat.or.id/secarik-kisah-pendamping-komunitas” size=”175″]  

Secarik Kisah Pendamping Komunitas Read More »

A Cup of Tea for You

Menjadi seorang Pendamping Komunitas (PK) atau sering disebut sebagai Staff Admin AAT membuat saya memiliki banyak pengalaman dan rasa yang dapat saya bagikan kepada orang lain. Salah satunya lewat perjalanan saya ketika saya berada di Purworejo. Saat itu sekitar akhir bulan Mei 2013 saya sedang menempuh skripsi dan berada pada tahap penelitian dan wawancara. Karena penelitian dan wawancara memerlukan waktu kurang lebih 1 minggu maka saya meminta tolong Bapak Hadi (Pengurus AAT) untuk menghubungi penanggung jawab AAT di SMA Pius Bhakti Utama sekaligus Kepala Asrama SMA Pius Bhakti Utama agar saya diperbolehkan tinggal di Asrama SMA Pius Bhakti Utama. Penanggung jawabnya yaitu Sr. Evarista, ADM bersedia untuk menampung saya. Akhirnya saya pun tinggal disana selama 5 hari 4 malam. Hal yang menarik ketika saya tinggal di sana adalah ketika makan kita harus menunggu teman-teman asrama untuk berkumpul semua kemudian berdoa bersama dan baru boleh makan. Yang lebih menarik lagi setiap makanan diambil dengan adil, bahkan bagi teman belum datang karena di sekolah masih mengerjakan tugas, teman-temannya menyimpankan makanan buat mereka. Setiap makanan yang lebih selalu dibagi kepada semua orang yang ada di meja makan tersebut. Contohnya: ketika ada satu potong tahu goreng yang lebih, ketua meja makan yakni anak asrama sendiri membagi-bagikan kepada teman-temannya bahkan termasuk saya, yang ketika saya hitung yang ada di meja makan ada 8 orang. Saya takjub dan sekaligus heran, takjub karena saya pribadi berpikir bahwa satu potong tahu goreng hanya cukup untuk satu orang, heran karena ketua meja makan dapat membagikannya dengan adil kepada teman-temannya bahkan termasuk saya yang pada saat itu orang baru di meja tersebut. Dari sini saya belajar bahwa terkadang kita lupa tentang nilai berbagi. Kadang kita berpikir bahwa berbagi itu dapat dilaksanakan ketika kita telah memiliki sesuatu yang berlebih dan banyak. Namun lewat pengalaman ini saya berpikir berbagi itu tidak hanya terjadi ketika kamu memiliki sesuatu yang lebih. Dalam kekurangan pun kita dapat berbagi. Satu potong tahu tersebut mustahil dapat dibagi untuk 8 orang ! Sangat kurang ! Namun hal itulah yang terjadi. Semua anak-anak yang di meja makan itu menerimanya. SMA Pius Bhakti Utama merupakan sekolah yang sebagian besar anak-anaknya tergolong tidak mampu dari segi finansial. Namun sekolah tersebut menurut saya telah mampu mendidik anak-anaknya untuk berbagi dari kekurangan mereka. Terbukti dengan saya diperbolehkan untuk tinggal dan hidup bersama mereka. Walaupun hanya sebentar tetapi sekolah tersebut memberikan pelajaran bagi saya pribadi. Hal yang menarik lagi yang dapat saya bagikan adalah ketika saya melakukan wawancara dengan seorang anak kelas X dari SMA Pius Bhakti Utama. Saat itu saya sedang melakukan penelitian sekaligus dengan kunjungan sekolah-sekolah Purworejo, ada seorang anak di mana saya belajar dari pengalamannya. Ia mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan pada saat SD. Saat itu kenaikan kelas, ia naik kelas dari kelas 4 ke kelas 5 SD. Namun karena banyaknya tunggakan yang belum terbayar, ia tidak dapat menerima raport. Kata gurunya kamu harus membayar tunggakanmu dulu baru mendapat raport. Bagi anak tersebut tidak apa-apa jika ia tidak terima raport, yang penting ia naik kelas. Oleh karena itu anak tersebut menjalani liburan sekolah dengan baik, sambil orang tuanya berusaha untuk mencarikan biaya untuk membayar tunggakannya. Setelah masa liburan sekolah selesai, anak tersebut masuk sekolah. Ketika ia masuk di kelas 5 … ia mendapati bahwa tidak ada bangku tersisa ! Ya … tidak ada bangku yang tersisa bagi dirinya ! Ia lalu bertanya pada guru kelas 5, “Ibu, saya duduk di mana ?” Ibu guru tersebut menjawab, “Untuk sementara kamu duduk di kelas 4 saja dulu ya … sampai orangtuamu melunasi tunggakanmu”. Betapa malu yang dirasakan anak tersebut karena ia harus merasakan duduk di kelas 4, seperti anak yang tinggal kelas, hanya karena tidak mampu membayar SPP ! Saya menyadari ketika saya mewawancarai anak tersebut bahwa pendidikan membutuhkan uang ! Kita belum bisa betul-betul merasakan kemerdekaan seperti yang diamanatkan UUD 1945 tentang setiap orang berhak untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan. Para sahabat terkasih … kita bisa berusaha secara bersama-sama untuk dapat mewujudkan apa yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 28 C ayat 1 dengan bergabung bersama Anak Anak Terang. Satu demi satu anak dibantu agar ia boleh terus mengenyam pendidikan yang dibutuhkannya. Terkait dengan pengalaman saya yang pertama bahwa untuk berbagi, kita tidak harus kaya dulu dan pengalaman yang kedua bahwa banyaknya anak-anak di sekitar kita yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena alasan finansial, saya pribadi mengajak untuk bergabung bersama AAT, agar kita bisa berbagi .   Yogyakarta, 12 September 2013 Megawati Kurnia Lolodatu, SH. *Megawati Kurnia Lolodatu (MEGA) adalah salah satu anak asuh AAT yang juga ikut melayani sebagai Staff Admin AAT JOGJA sejak tahun 2011. Lulus Sarjana pada bulan Juli 2013 dari Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan predikat sangat memuaskan.   [qrcode content=”https://aat.or.id/a-cup-of-tea-for-you” size=”175″]  

A Cup of Tea for You Read More »

Penandatanganan Kerjasama AAT WIMA

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama AAT dengan UNIKA Widya Mandala Madiun Sabtu, 24 Agustus 2013     “Tidak boleh terjadi seseorang tidak melanjutkan pendidikan karena ia miskin” Begitulah prinsip yang dipegang oleh Frans Seda (1926-2009). Prinsip ini menginspirasi setiap pelayanan Anak Anak Terang (AAT). AAT telah menyalurkan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu di wilayah Madiun sejak tahun 2004. Untuk lebih menjangkau anak-anak dari keluarga tidak mampu yang mempunyai semangat tinggi untuk belajar namun terkendala masalah finansial di wilayah Madiun dan sekitarnya mencakup wilayah Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Pacitan, mulai Sabtu, 24 Agustus 2013 AAT, Sekretariat Beasiswa AAT Madiun resmi beroperasi. Menurut Hadi Santono, Ketua Yayasan AAT Indonesia, beroperasinya Sekretariat Beasiswa AAT Madiun benar-benar merupakan sebuah anugerah dari Tuhan untuk melengkapi potongan puzzle wilayah pelayanan AAT di Pulau Jawa. Dengan hadirnya Madiun, maka AAT telah mempunyai 6 Sekretariat (1 sekretariat yayasan dan 5 sekretariat Beasiswa), yaitu Jakarta (Bekasi), Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Malang dan Madiun. Dr. Rudi Santoso Yohanes, M.Pd. selaku Rektor UNIKA Widya Mandala Madiun menyambut baik dan mendukung sepenuhnya kehadiran Sekretariat Beasiswa AAT di Madiun. Lebih lanjut disampaikan beliau bahwa sejak mendapat informasi mengenai AAT, pihak rektorat segera menggelar rapat kilat dengan yayasan untuk membahas rencana kerjasama dengan AAT dengan poin utama berupa pemberian beasiswa untuk mahasiswa UNIKA Widya Mandala Madiun dan pengelolaan Sekretariat Beasiswa AAT Madiun. Perjanjian kerjasama AAT dengan UNIKA Widya Mandala Madiun ditandatangani oleh Hadi Santono (Ketua Yayasan AAT Indonesia) dan Dr. Rudi Santoso Yohanes, M.Pd. (Rektor UNIKA Widya Mandala Madiun) disaksikan oleh Christianus Widya Utomo (Sekretaris Yayasan AAT Indonesia) dan Bernardus Widodo, S.Pd., M.Pd. (Wakil Rektor 3 UNIKA Widya Mandala Madiun). Pada kesempatan itu juga RD. Cornelius Triwidya Tjahja Utama sebagai Pastor Kepala Paroki Gereja Mater Dei Madiun dan Ketua Yayasan Yohanes Gabriel Madiun berkenan memberikan berkat pada Papan Nama Sekretariat Beasiswa AAT Madiun. Sekretariat Beasiswa AAT Madiun yang berlokasi di Kampus UNIKA Widya Mandala Madiun di Jalan Manggis No. 15-17, Madiun 63131 akan dikelola langsung di bawah koordinasi Wakil Rektor 3 UNIKA Widya Mandala Madiun. Untuk tahap awal, telah diseleksi 13 orang relawan dari 35 orang calon sebagai staff administrasi Beasiswa AAT Madiun, atau disebut sebagai PK (Pendamping Komunitas). Ke-13 orang relawan ini, 10 di antaranya merupakan anak asuh AAT untuk tingkat Perguruan Tinggi. Para relawan akan dibimbing oleh Br. Yakobus, CSA, Br. Aleks, CSA dan Br. Filipus Neri, CSA sebagai Pembimbing Rohani. Pada pertemuan itu juga dilakukan sosialisasi mengenai pengajuan dan pengelolaan beasiswa AAT. Acara sosialisasi dihadiri oleh puluhan kepala sekolah dan guru di sekolah-sekolah di wilayah Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Pacitan. Ibu Nunuk Lestianingrum berasal dari SMK Wiyatadarma Walikukun Ngawi dan Ibu Yosefin yang berasal dari SDK Santa Maria Walikukung Ngawi merupakan dua orang perwakilan sekolah yang menghadiri acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dan Sosialisasi Beasiswa AAT di UNIKA Widya Mandala Madiun. Ibu Nunuk dan Ibu Yosefin harus menempuh jarak kurang lebih 60 km dari tempat asal mereka di Walikukun untuk menghadiri acara ini. Walikukun merupakan sebuah kecamatan di Ngawi yang sebagian besar perekonomian warga masyarakatnya masih menengah ke bawah. Kebanyakan para kepala keluarga hanya bekerja sebagai buruh. Ibu Nunuk dan Ibu Yosefin menyadari bahwa prosedur Beasiswa AAT tidak rumit atau memberatkan mereka, karena hal itu adalah tanggung jawabnya sebagai guru yang harus membantu anak didiknya yang tidak mampu. Oleh karena itu, mereka ingin mengajukan proposal beasiswa AAT. Jumlah anak yang akan diajukan akan mereka seleksi terlebih dahulu. Untuk SDK Santa Maria Walikukung Ngawi ada sekitar 40 anak yang membutuhkan bantuan dari total siswa 62 orang. Semoga kehadiran AAT membawa terang kepada semua anak-anak asuh sehingga mereka dapat menyelesaikan pendidikan dan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan bangsa Indonesia.   [qrcode content=”https://aat.or.id/penandatanganan-kerjasama-aat-wima” size=”175″]  

Penandatanganan Kerjasama AAT WIMA Read More »

Kisah Relawan: Panti Rini Purworejo

TANGGAL 1 Juni 2013 saya, Kak Isma, Kak Desti, dan Kak Mega mendapat tugas kunjungan dan wawancara untuk sekolah yang mengajukan Beasiswa AAT di daerah Purworejo. Ada cukup banyak calon anak asuh dari 4 komunitas yang perlu kami wawancarai. Salah satunya adalah Panti Asuhan Panti Rini. Dan kebetulan kami berempat menginap panti asuhan tersebut. Kami tiba di sana saat hari sudah gelap, kurang lebih pukul 21.00. Kami dijemput oleh seorang Bruder di depan sebuah rumah sakit, kemudian kami pun diantarkan menuju Panti Rini. Setibanya di Panti Rini, kami disambut dengan hangat oleh senyum manis anak-anak yang tinggal di sana. Anak-anak tersebut dengan sengaja menunggu kedatangan kami, padahal seharusnya peraturan panti tidak memperbolehkan mereka tidur terlalu malam. Mereka mengerubungi kami berempat dan beberapa diantaranya menanyai nama kami masing-masing. Usia mereka cukup bervariasi. Ada beberapa anak yang masih duduk di SD, SMP, maupun SMA. Kami mengobrol dengan Suster Theresina sambil menunggu anak-anak menyiapkan makan malam, yaitu nasi goreng, telur dan timun. Saya bangga dengan anak-anak di panti tersebut, karena makanan yang saya santap malam itu adalah masakan mereka. Sambil menyantap makan malam, kami dan suster mengobrol hal-hal ringan seputar pengenalan AAT. Hari Wawancara Keesokan paginya sebelum memulai wawancara, kami menyempatkan diri untuk pergi berjalan-jalan. Lalu sekitar pukul 10.00 kami memulai wawancara, dimulai dengan SD, dilanjutkan SMP, lalu SMA. Pada hari itu kami berempat cukup mendapat banyak berkah makanan. Kami diberi kue-kue snack dari komunitas yang kami wawancarai, dan kembali kamu bagikan pada saat wawancara dengan calon anak asuh. Kami berpikir, jumlah kami hanya berempat dan jauh lebih baik bila makanan yang masih sisa kami berikan pada anak panti. Meski semuanya tidak mungkin terbagi namun setidaknya sebagian dari mereka merasakannya. Sewaktu wawancara siang hari itu, ada satu orang anak SMP yang memang kebetulan tinggal di Panti Rini. Dia menceritakan bahwa dia merasa rindu dan kecewa dengan keluarganya karena menaruhnya di sebuah panti. Anak itu juga mengatakan bahwa dia sering diejek oleh teman-temannya karena ia tinggal di panti. Anak itu menangis. Dan saya hanya bisa memberinya nasehat bahwa apa yang dia dapat dan miliki saat ini, itu adalah sesuatu yang terbaik yang Tuhan pilihkan. Dan setiap orang pasti memiliki jalan hidup yang berbeda. Hari sudah sore ketika kami selesai wawancara, namun masih ada 4 orang anak panti yang nanti malam baru akan kami wawancarai. Ketika kami semua baru masuk, anak-anak yang masih duduk di SD mengerubungi kami. Mereka mengatakan bahwa kami jangan pulang saat itu. Lalu saya bilang bahwa kami baru akan pulang nanti malam. Dan mereka bersorak gembira. Saya mendengar cerita dari beberapa anak yang membuat saya berpikir bahwa saya merasa lebih beruntung daripada mereka. Ada beberapa anak yang membuat saya cukup terkesan, namun saya lupa namanya. Dia anak yang berasal dari Papua. Orang tuanya mempunyai cukup banyak anak, sementara semuanya membutuhkan biaya untuk bertahan hidup juga pendidikan. Dia bercerita kalau seorang susterlah yang membawanya ke Panti Rini karena merasa iba dengan kehidupan keluarganya. Dia juga mengatakan kalau selama dia kecil sampai sekarang dia belum pernah dipeluk oleh siapapun termasuk oleh orang tuanya. Dia juga bilang dia ingin menjadi orang yang sukses di masa depan agar bisa membanggakan kedua orang tuanya. Di antara semua anak di panti tersebut yang seumuran dengannya, anak itulah yang memiliki gaya bicara seperti orang dewasa. Yang saya tahu anak tersebut pendiam. Dan ada satu anak lagi yang cukup menarik perhatian. Entah kenapa? Dia terkesan sangat tertutup juga pendiam, namun senyumnya sangat manis. Dia berasal dari Arab. Ada banyak rasa yang mereka miliki. Rasa kangen, sedih, sepi, kecewa, dan lain-lain. Meski mereka tidak secara jelas mengatakannya namun terlihat jelas dari pancaran sinar mata mereka. Meski hidup mereka di panti tersebut jauh lebih baik karena mereka bisa mendapatkan hal-hal yang lebih layak untuk dirinya namun ada sedikit ruang di hatinya yang masih kosong. Perhatian dan juga kasih sayang yang ada dalam sebuah keluarga, mereka belum sepenuhnya mendapatkannya. Ada juga anak yang merasa kecewa dengan hidupnya, merasa dia buruk dibanding dengan teman-temannya di sekolah karena dia tinggal di panti. Ada juga yang menyalahkan orang tuanya karena merasa ditelantarkan. Ketika saya sedang mencari suster Theresina, saya bertanya dengan salah seorang anak yang ternyata sedang menyembunyikan nasi kotak di sebuah lemari di kamarnya. Dia terkejut melihat saya. Dan saya hanya bisa tersenyum melihat kejadian itu. Lalu saya melihat anak-anak yang sedang berada di dapur. Ada yang sedang membersihkan telur, mencuci, membersihkan meja dapur dan sebagainya. Mereka semua dididik agar dapat hidup mandiri. Baru pertama kali saya menginap di sebuah panti, tapi itu sangat membuat saya senang. Sore hari, setelah kami menyelesaikan wawancara, kami pun memutuskan untuk bermain dengan mereka dan berfoto bersama namun tak lama hujan turun cukup deras. Jadi kami lanjutkan mengobrol. Kembali ke Jogja Dan malam harinya kami semua undur diri karena harus pulang kembali ke Jogja. Saya merasa cukup berat meninggalkan tempat itu. Karena saya merasa ada kebersamaan disana, mereka selalu melakukan sesuatu secara bergotong royong. Dan saya benar-benar bangga dengan mereka karena dengan umur mereka yang terpaut cukup jauh lebih muda dengan saya, mereka sudah bisa untuk hidup mandiri. Dan saya harap, senyum mereka semua akan menjadi lampu penerang di panti tersebut yang selalu terpancar baik siang maupun malam, yang tidak akan pernah padam. Dan semoga sedikit luka yang mereka miliki dan simpan di hati masing-masing dapat segera pulih. Juga mimpi yang menjadi angan-angan mereka semoga bukan hanya sekedar angan-angan. Semoga dengan adanya bantuan dari AAT akan membuat senyum mereka semakin terkembang dan membuat mereka dapat menggapai mimpinya.   Fera Tri Lestari Staff Admin AAT Jogja   [qrcode content=”https://aat.or.id/kisah-relawan-panti-rini-purworejo” size=”175″]    

Kisah Relawan: Panti Rini Purworejo Read More »

Kisah Relawan : SMP Pangudi Luhur Tuntang

SMP PANGUDI LUHUR (PL) Tuntang terletak di di Desa Tlogo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang dari Salatiga lebih kurang 5 Km. Untuk menuju sekolah ini tidak sulit, hanya saja letaknya jauh dari wilayah kota Salatiga. Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh perkebunan karet dan buah-buahan Desa Tlogo. Kondisi sekolah saat kami kunjungi kebetulan habis direnovasi jadi terlihat bersih dan indah. Biaya renovasi ini diperoleh dari pemerintah kota Salatiga. Kepala sekolah dan guru guru di sana sangat ramah dan benar-benar perhatian pada kami.   Tidak hanya mengembangkan prestasi akademis, di bidang non-akademis SMP PL Tuntang menyediakan ekstra-kulikuler menjahit, olahraga, karawitan demi pengembangan bakat para siswa. Hasilnya juga memuaskan sebab antara tahun 2009-2010, SMP ini meraih juara dalam berbagai bidang di tingkat kota maupun tingkat propinsi. Latar Belakang Para Siswa Anak-anak yang bersekolah di SMP PL Tuntang kebanyakan tinggal bersama kakek & nenek. Mereka menuju ke sekolah dengan berjalan kaki melewati desa-desa dan perkebunan. Selain itu ada juga yang bersepeda. Para orangtua siswa bekerja di luar kota, itupun bekerja “kasar”. Ada yang bekerja sebagai kuli bangunan, PRT, penjaga toko, ataupun buruh pabrik konveksi rumahan. Beberapa ada yang tinggal bersama kakek dan neneknya sejak kecil. Pertemuan dengan orang tuanya hanya saat lebaran, itupun tidak lengkap kadang hanya ayahnya saja dan ibunya saja. Pengiriman uang sekolah juga tidak tentu sehingga perekonomian anak tersebut sangat pas-pasan dan kadang kurang. Kakek dan nenek yang sudah tua penghasilannya juga sedikit karena hanya bekerja sebagai buruh “mbiset” getah karet. Namun betapapun banyak keterbatasan, semangat anak-anak yang tinggal di Desa Tlogo sangat membuat saya “berkaca diri”. Meskipun dengan kondisi keluarga yang tidak “utuh” namun mereka mampu bersekolah dengan baik serta berprestasi. Uniknya lagi kakek dan nenek mereka kebanyakan tidak bisa membaca dan menulis. Akibatnya, saat membuat surat keterangan, sekolah perlu membantu membuatkannya. Bahkan beberapa guru datang langsung ke rumah anaknya hanya untuk mengajari kakek dan nenek dari anak tersebut untuk tanda tangan ala kadarnya. Saya juga salut dengan para guru karena mereka mau mencari anak-anak yang tidak sekolah yang hanya bekerja di kebun untuk disekolahkan. Untuk pembiaya anak-anak ini sekolah mencarikan bantuan melalui pengurus yayasan, pemerintah kota, dan betapa beruntungnya sekolah ini dapat bertemu dengan “Anak Anak Terang”. Kami sebagai penanggung jawab komunitas yang merupakan bagian dari Anak Anak Terang juga merasa beruntung dan sangat senang dapat membantu. Melalui Anak Anak Terang semoga pendidikan siswa-siswi di desa Tlogo tidak hanya sampai berhenti di sini. Foto lengkap survey, presentasi, dan wawancara calon anak asuh SMP PL Tuntang dapat dilihat melalui Galeri AAT.   Edo Prakosa Staff Admin AAT Semarang  [qrcode content=”https://aat.or.id/kisah-relawan-smp-pangudi-luhur-tuntang” size=”175″]  

Kisah Relawan : SMP Pangudi Luhur Tuntang Read More »

Kisah Relawan : SMP Theresiana Sumowono

TIM AAT SEMARANG mengunjungi SMP Theresiana Sumowono yang beralamat di Jalan Pahlawan No.18 Sumowono pada 2 Juni 2013. Nama Theresiana pasti sangatlah favorit untuk banyak orang, khususnya bagi masyarakat Semarang. Namun yang terjadi justru berbeda, meski sama-sama di bawah naungan Yayasan Bernadus, SMP Theresiana Sumowono justru merupakan sekolah yang menurut saya dan teman-teman kurang dari baik untuk sebuah sekolah. Hal ini karena letaknya yang kurang strategis, jauh dari tengah kota. Saat saya dan teman-teman berkunjung pun, kita tidak tahu di mana SMP Theresiana berada sebab tingginya rumput-rumput liar yang menghalangi akses menuju sekolah. Sesampainya di sana, kami kami mewawancarai kepala sekolah serta salah satu penanggung jawab. Wawancara Kepala Sekolah dan Penanggung Jawab adalah prosedur baku yang harus dilakukan sebelum kami melakukan wawancara dengan calon anak asuh. Tentang SMP Theresiana Sumowono Pada tahun ajaran 2013/2014 SMP Theresiana Sumowono mempunyai 12 guru dan karyawan serta 60 murid yang terdiri dari 18 murid kelas VII, 16 murid kelas VIII, serta 44 murid kelas IX. Tiap tahunnya SMP Theresiana mengalami penurunan jumlah murid. Dari yang sekitar 90 pada tahun 2011, lalu tiap tahun jumlah murid terus menurun. Penurunan ini diakibatkan kekalahan kompetisi dengan sekolah negeri yang membebaskan tidak membayar uang gedung kepada calon murid, sehingga orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh SMP Theresiana Sumowono memang kurang. Jumlah kelas yang dimiliki pun juga sedikit, yaitu hanya ada 5 kelas yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Selain kelas yang sedikit, keterbatasan ruang guru yang kecil, jumlah komputer yang minim untuk kegiatan pembelajaran, tembok-tembok yang mulai retak, merupakan sedikit dari contoh kekuranglayakan fasilitas SMP Theresiana Sumowono. Pada tahun ajaran 2013/2014, SMP Theresiana Sumowono mengajukan 34 murid yang masih duduk di kelas VII dan kelas VIII. Kami Tim AAT segera mengenalkan Anak Anak Terang kepada murid-murid, mengajak mereka bernyanyi, dan mewawancarai satu per satu. Wawancara Rata-rata pekerjaan orang tua siswa adalah petani garapan. Sawah yang dikerjakan oleh mereka merupakan lahan milik TNI-AD yang disewakan pada masyarakat untuk digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Banyak di antara para murid yang kami wawancarai memang keluarganya berasal dari desa. Untuk menuju ke sekolah mereka harus berjalan kaki cukup jauh, bahkan mereka menumpang mobil pick-up yang lewat sesuai dengan jurusan munuju sekolah. Ketidakmudahan transportasi ini kerap kali membuat ada yang terlambat ke sekolah. Tapi semangat untuk bersekolah, semangat mendapat ilmu, membuat mereka tidak mengurungkan niat meski apapun rintangan yang mereka hadapi. Para murid SMP Theresiana Sumowono ingin menggapai cita-cita yang mereka impikan. Setelah pulang sekolah pun terkadang siswa-siswi – didampingi oleh para guru –  mengajari adik-adik mereka yang berada di sekitar rumah, baik berhitung dan juga membaca. Selesai mewawancarai, kami memberikan sedikit snack untuk sarapan murid-murid. Meskipun tidak banyak tapi berharga sekali untuk mereka. Tak lupa juga ada Ibu Lies Endjang selaku pengurus AAT yang turut hadir memberikan motivasi-motivasi kepada para murid agar tetap semangat dengan apa yang mereka miliki sekarang. Sesudah beliau memberikan saran yang bermanfaaat, kita ajak untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan sebelum pulang. Kenangan tentang semangat yang tetap menyala dalam segala keterbatasan yang mereka miliki. Setelah kunjungan kami melakukan pleno. SMP Theresiana Sumowono mendapatkan persetujuan untuk 18 anak asuh yang diterima AAT pada tahun ajaran ini.   Handy Wibowo Staff Admin AAT Semarang  [qrcode content=”https://aat.or.id/kisah-relawan-smp-theresiana-sumowono” size=”175″]  

Kisah Relawan : SMP Theresiana Sumowono Read More »

Kisah Relawan : Cepu Punya Cerita

PERJALANAN sore itu diawali dengan kecemasan kami akan tiket kereta ekonomi yang telah habis terjual. Padahal sudah jelas bahwa malam itu kami diwajibkan untuk tiba di Cepu karena Pak Michael (Kepala Sekolah SMK Katolik St. Yusuf) sudah menanti kedatangan kami. Pak Michael juga sudah mempersiapkan para muridnya untuk diwawancarai oleh team relawan AAT Semarang. Akhirnya kami memilih untuk tetap berangkat dengan Kereta Cepu Ekspress karena tak ada pilihan kereta lain. Kereta berangkat tepat pukul 17.05 WIB. Empat jam selama perjalanan kami tidak hanya duduk dan berdiam diri di atas kursi kereta api. Beberapa dari kami menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang rencana yang akan kita kerjakan di Cepu. Ada pula yang sembari mengerjakan tugas kuliah karena kami pergi dengan membawa sejuta tugas layaknya mahasiswa pada umumnya. Singkat cerita setelah 4 jam berada di atas kereta api, kami berdelapan tiba juga di Stasiun Cepu dengan sambutan hangat oleh Bapak Michael. Selanjutnya kami diantar ke penginapan yang terletak tak jauh dari stasiun. Hanya 10 menit dengan menaiki becak. Bapak Michael adalah seorang Kepala Sekolah yang juga aktif membantu murid-muridnya yang kesulitan untuk membayar biaya sekolah. Hal ini dikarenakan beliau belum memiliki seorang putra sehingga sebagian dari rejekinya diberikan kepada para murid yang membutuhkan agar mereka dapat terus bersekolah. Presentasi dan Wawancara  Keesokan harinya kegiatan kami diawali dengan mewawancarai Penanggung Jawab dari SMK Katolik St. Yusuf, dilanjutkan dengan presentasi mengenai AAT kepada calon anak asuh. Alangkah terkejutnya kami bahwa hampir seluruh calon anak asuh yang hadir adalah lelaki. Hanya terlihat dua murid perempuan pagi itu. Banyak hal yang membuat hati kami tersentuh saat wawancara. Bagaimana tidak, kebanyakan dari mereka harus bekerja seorang diri agar dapat memiliki cukup rupiah sekedar untuk biaya makan sehari-hari. Jangankan membayar SPP, untuk membayar buku pelajaran saja mereka harus rela makan sehari satu atau kali supaya bisa menyisihkan sedikit uang guna melunasi buku. Jarak antara rumah siswa dengan sekolah sangat jauh. Ada yang mencapai 10 kilometer, padahal mereka berangkat sekolah hanya dengan bersepeda. Sedangkan yang jaraknya lebih dekat, harus berjalan kaki untuk sampai ke sekolah tersebut. Belum lagi saat banjir tiba dan sungai Bengawan meluap, mereka harus menaiki perahu terlebih dahulu lalu dilanjutkan berjalan kaki. Beberapa dari mereka ada yang hidupnya jauh dari orang tua. Mereka harus pintar-pintar mencari uang untuk biaya hidup dan biaya sekolah sebab sadar bahwa orang tua tak mempunyai cukup uang untuk kebutuhan tersebut. Namun dengan penghasilan yang sangat kecil, mereka masih tetap punya semangat yang besar untuk terus bersekolah demi cita-cita yang sangat indah : ingin membahagiakan orang tua dengan hasil yang akan mereka peroleh ketika dewasa kelak. Ternyata di balik sikap kekanak-kanakan yang terlihat di depan kami, sesungguhnya mereka memiliki jiwa berjuang yang sangat tinggi untuk tetap dapat melanjutkan sekolah. Apapun yang terjadi, mereka akan terus mengejar cita-cita itu. Setelah banyak berbincang dengan para murid dan guru, kami sempatkan diri untuk berfoto bersama dan berpamitan dengan Bapak Michael serta para guru sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju Stasiun Cepu. Dengan diantar beberapa guru menggunakan sepeda motor, 5 menit kemudian kami tiba di stasiun. Tepat pukul 12:25 kereta Cepu Ekspress kembali membawa kami pulang ke Semarang dengan selamat. Di atas kereta api menuju Semarang kami tak lagi hanya berdiam diri, karena harus melakukan pleno kecil mengenai wawancara yang telah dilakukan. Meski hanya perjalanan singkat, namun cukup memberikan pembelajaran bagi kami, bahwa akan ada hasil yang diperoleh ketika kita mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Perjuangan anak-anak SMK Katolik St. Yusuf adalah salah satu perjuangan anak bangsa yang sangat nyata tentang kesesungguhan untuk dapat terus bersekolah. Mengapa kita yang telah memiliki berkat melimpah tidak membantu perjuangan mereka? Sejauh mana wujud syukur kita kepada Tuhan akan segala nikmat yang diberikan-Nya? 15 Juni 2013 Annisa Wulan Andadari Staff Admin AAT Semarang  [qrcode content=”https://aat.or.id/kisah-relawan-cepu-punya-cerita” size=”175″]  

Kisah Relawan : Cepu Punya Cerita Read More »

Beasiswa AAT Widya Mandala Madiun

Program Beasiswa Anak-Anak Terang (AAT) merupakan wujud nyata Visi dan Misi AAT guna memberikan kesempatan kepada anak-anak yang tidak mampu namun memiliki kemampuan akademis yang baik untuk mengenyam pendidikan tinggi sehingga mereka memiliki kesempatan menyongsong masa depan yang lebih “Terang” dan lebih baik. Program beasiswa ini bertujuan memotivasi anak asuh agar menjadi calon pemimpin masa depan berkarakter kuat dan kompetensi yang baik, sehingga mampu untuk terus meningkatkan prestasinya. Pengembangan karakter dan kompetensi bagi para penerima beasiswa AAT menjadi fokus utama dalam program ini, supaya mereka mampu menjadi future leaders yang dapat membawa bangsa Indonesia ke arah lebih baik.   [accordions title=”” active=1 event=”click” disabled=false autoheight=false] [accordion title=”Bentuk Beasiswa :”] Uang kuliah (SPP tetap dan variabel) selama kuliah. Masa kuliah maksimal 4 tahun untuk Program S1 dan 3 tahun untuk Program D3. [/accordion]   [accordion title=”Persyaratan Pengajuan Beasiswa :”] 1. Berkewarganegaraan Indonesia. 2. Merupakan mahasiswa aktif Universitas Katolik Widya Mandala Madiun (minimal Semester 2). 3. IP Semester terakhir & IP Kumulatif minimal 2.75 bagi fakultas eksakta, minimal 3.00 bagi fakultas non-eksakta. 4. Aktif terlibat dalam organisasi kemahasiswaan atau kemasyarakatan. 5. Tidak menerima/sedang dalam program beasiswa dari pihak lain. [/accordion]   [accordion title=”Persyaratan Administrasi :”] 1. Mengisi formulir pendaftaran. 2. Membuat esai profil pribadi minimal 2 halaman A4. 3. Fotokopi KTP dan KTM yang masih berlaku. 4. Fotokopi Kartu Keluarga yang masih berlaku. 5. Fotokopi sertifikat/piagam/bukti prestasi (jika ada). 6. Sertifikat kepengurusan dan kepanitiaan organisasi. Jika tidak ada dapat diganti dengan ?Surat Keterangan yang dibuat oleh pimpinan organisasi. 7. Daftar/Transkrip Hasil Studi yang menunjukkan IPK dan SKS yang telah ditempuh. 8. Surat Keterangan Penghasilan Orangtua. 9. Informasi besarnya SPP yang harus dibayarkan per semester (SPP Tetap dan Variabel) dari Bagian Keuangan Universitas. 10. Surat Rekomendasi Universitas/Fakultas. 11. Lolos seleksi dan wawancara oleh Tim Seleksi AAT. Catatan : Esai pribadi dan foto dikirim via email ke : beasiswa@anakanakterang.web.id. [/accordion]   [accordion title=”Persyaratan Tambahan :”] 1. Surat pernyataan bermaterai tidak sedang menerima beasiswa dari sumber lain, mengetahui Warek III. 2. Fotocopy Rekening Listrik bulan terakhir. 3. Menyerahkan Surat Keterangan Tidak Mampu dari Kelurahan asli dan dilegalisir satu lembar. 4. Surat pernyataan kesediaan terlibat aktif dalam kegiatan Universitas Fakultas/Prodi, HMJ atau BEM. [/accordion]   [accordion title=”Kewajiban Penerima Beasiswa AAT :”] 1. Aktif terlibat dalam pelayanan Beasiswa AAT. 2. Aktif terlibat dalam kegiatan Pengembangan Diri dan Spiritualitas AAT. [/accordion]   [accordion title=”Evaluasi Perkembangan Studi :”] 1. Evaluasi perkembangan studi dilakukan setiap akhir semester. 2. Pada akhir semester, jika IP Semester kurang dari 2.75 bagi fakultas eksakta dan 3.00 bagi fakultas non-eksakta maka beasiswa akan dihentikan. 3. Beasiswa hanya diberikan selama 4 tahun untuk Program S1 dan 3 tahun untuk Program D3, tanpa adanya perpanjangan waktu. [/accordion] [/accordions]   Pendaftaran beasiswa, silahkan menghubungi : Sekretariat Beasiswa AAT Universitas Katolik Widya Mandala Madiun Jln. Manggis No. 15-17. Madiun 63131. u.p. Bernardus Widodo, S.Pd., M.Pd. (Wakil Rektor III) Batas pengajuan beasiswa : 10 Agustus 2013.   [qrcode content=”https://aat.or.id/beasiswa-aat-widya-mandala-madiun” size=”175″]  

Beasiswa AAT Widya Mandala Madiun Read More »

duta76 perihoki duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 duta76 stc76 perihoki perihoki cakar76 cakar76 perihoki teknik baca grafik volatilitas pragmatic sinkronisasi jam main analis profesional bedah mekanik wild bounty showdown framework manajemen risiko sesi panjang psikologi fitur tumble pergerakan simbol dialektika rtp vs hit rate digital studi kasus starlight princess 1000 masa depan algoritma hiburan digital 2026 audit mandiri evaluasi strategi bermain analisis mekanik scatter hitam mahjong wins dinamika pengali mahjong ways 2 sinyal transisi sesi mahjong wins struktur probabilitas mahjong ways evolusi engine scatter hitam 2026 aws algoritma mahjong ways fluktuasi simbol teknis aws cara ukur efisiensi pola mahjong aws integrasi otomatis manual mahjong ways aws kalibrasi strategi mahjong wild rtp gates olympus aws kalkulasi rtp mahjong wins tiga teknis aws observasi teknis simbol mahjong wins aws pola trik rtp mahjong ways aws strategi awet mahjong black scatter aws tren dominasi fitur black scatter aws trik pola naga emas mahjong review lengkap fitur mahjong wild deluxe ketegangan dadu sicbo keajaiban gates of olympus teknik profesi pola transformasi mahjong ways 2 pgsoft sistem taruhan roulette sticky wild west gold alasan mahjong wins 3 pragmatic blackjack sugar rush menjadi game viral platform sv388 terbaru aws analisis jam hoki rtp olympus aws era multiplier turbo starlight olympus aws fase transisi mahjong pgsoft algoritma aws komputasi data rtp mahjong ways aws mitos fakta jam hoki olympus aws momentum scatter merah mahjong ways aws rekapitulasi data log mahjong ways aws rotasi fitur captains bounty analisis aws strategi transparan rtp starlight princess aws visual turbo lucky neko starlight aws analisis komparatif rtp pgsoft global aws arsitektur mekanik mahjong wins analis aws bocoran rtp live mahjong hari ini aws interkoneksi sistem money train2 presisi aws karakter pola server optimal mahjong aws latensi jaringan rtp mahjong ways aws observasi longitudinal rtp mahjong aws observasi realtime dragon tiger dinamis aws pendekatan ilmiah mahjong digital presisi aws pendekatan sistematis mahjong kombinasi strategi masterclass bedah algoritma mahjong wild deluxe rumus dadu sicbo pola petir gates of olympus teknik rahasia pro player ritme taruhan mahjong ways 2 strategi baccarat multiplier starlight princess panduan manajemen saldo taruhan mahjong wins 3 pramgatic teknik martingale blackjack sweet bonanza logika scatter hitam mahjong wins analisis algoritma mahjong ways 2 dinamika frame emas mahjong ways misteri frekuensi scatter hitam komparatif mahjong wins vs ways navigasi sesi stabil mahjong ways transformasi intensitas tumble mahjong probabilitas scatter hitam 2026 pengaruh latensi server mahjong ways evaluasi mekanik mahjong wins