AAT Yogyakarta

Beasiswa Yayasan AAT Indonesia untuk UAJY

Bertempat di Ruang diskusi Gedung Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Hadi Santono, ST., MT., Ketua Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia bersama DR. R Maryatmo, selaku Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menandatangani perjanjian kerjasama tentang pemberian beasiswa bagi mahasiswa UAJY pada Selasa (20 Mei 2014). AAT akan memberikan beasiswa penuh berupa SPP tetap dan SPP variabel selama 4 tahun masa studi, bagi mahasiswa UAJY program Sarjana Strata 1 (S1) yang berprestasi, dengan kriteria IP semester minimal 3.00. Penandatangan perjanjian kerjasama ini merupakan wujud nyata visi dan misi AAT untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak yang tidak mampu namun memiliki kemampuan akademis yang baik untuk mengenyam pendidikan tinggi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk menyongsong masa depan yang lebih “terang” dan lebih baik. “Beasiswa AAT ini diberikan dalam dua bentuk yang pertama untuk mahasiswa lama. Mahasiswa yang terlanjur masuk ke perguruan tinggi namun di tengah jalan mengalami kesulitan ekonomi dalam menempuh studi. Kedua, untuk anak SMA yang berniat masuk UAJY tetapi tidak mampu namun berpotensi.” Jelas Hadi Santono, ST., MT.,. Melalui beasiswa ini, mahasiswa UAJY akan mendapatkan banyak manfaat. Tidak hanya menerima bantuan secara finansial, mahasiswa penerima beasiswa juga akan memperoleh banyak pengalaman yaitu dengan bekerja menjadi staff administrasi Sekretariat Beasiswa AAT Yogyakarta dan mengikuti program-program pendampingan dan pengembangan yang akan diberikan oleh AAT selama jangka waktu beasiswa. Saat ini sekitar 137 mahasiswa mendapatkan beasiswa, 12 diantaranya mahasiswa UAJY. Rektor Universitas Atma Jaya Yoyakarta mengapresiasi program AAT ini. “Saya sebagai rektor merasa program beasiswa ini merupakan program yang strategis karena lingkungan sangat membutuhkan aksi yang berdampak besar seperti ini.” Ungkap Dr. R. Maryatmo, MA. disalin dan sumber http://www.uajy.ac.id/berita/beasiswa-yayasan-aat-indonesia-untuk-uajy/   [qrcode content=”https://aat.or.id/beasiswa-yayasan-aat-indonesia-untuk-uajy” size=”175″]  

Beasiswa Yayasan AAT Indonesia untuk UAJY Read More »

Liputan Rekoleksi AAT 2014

RRI-Jogja News/L-09, Sebanyak 130 pemuda anggota Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia dari enam kota di Tanah Air, selama dua hari Sabtu dan Minggu (12-13 April 2014), mengikuti program Rekoleksi Nasional bertempat di Wisma Duta Wacana Kaliurang Yogyakarta. Koordinator Pelaksana Kegiatan AAT 2014, Ikka Marissa Roberta kepada RRI menjelaskan, ajang temu dari setiap relawan dan pembimbing dari Padang, Pontianak, Malang, Madiun, Purwokerto, Semarang dan Yogyakarta selaku tuan rumah, dimaksudkan untuk mempererat hubungan antar relawan yang berjuang meneliti langsung calon-calon penerima beasiswa di lapangan dalam tema “Good Attitude, Great Altitude”. Laporan dari UNICEF Tahun 2012 bahwa di Indonesia 2,5 juta anak-anak usia 7 (tujuh) hingga 15 tahun tidak bersekolah dan anak-anak dari keluarga miskin berkemungkinan empat kali lebih besar untuk putus sekolah dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga kaya.   Dalam forum diskusi, Romo Handoko dan Hadi Santono S.T., M.T. selaku pembina Yayasan memotivasi para relawan dan anak asuh untuk lebih mengembangkan kepribadian yang unggul dan mandiri. Rekoleksi merupakan program pendampingan AAT untuk mempersiapkan relawan dan anak asuh menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki karakter kuat dan kompetensi yang baik, sehingga kelak mereka mampu meningkatkan prestasi. Yayasan AAT Indonesia adalah yayasan beasiswa teruntuk anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa sekolah, berdiri sejak 1 Agustus 2002 dengan misi memberikan layanan beasiswa pendidikan formal bagi anak-anak asuh dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi yang kini tercatat ada 2.672 anak dengan dukungan 1.126 donatur. Info lebih detail bisa diakses pada email: beasiswa@anakanakterang.web.id. Adapun rekening untuk penyaluran Atas nama: Yayasan AAT Indonesia via BCA : 037-3-51111-8 dan Mandiri : 137-00-0044555-7. Dikutip dari berita Rekoleksi Anak-anak Terang Indonesia di Yogyakarta, http://www.rrijogja.co.id/nasional/sosial/5475-rekoleksi-anak-anak-terang-indonesia-di-yogyakarta   Rekoleksi Nasional Relawan AAT 2014 Sebanyak 5 mahasiswa Akademi Farmasi Theresiana (Theodora Laras W, Natalia Agasi, Risdya Wulansari, Fransisca Jenesia, Agnes Lensa) tergabung sebagai relawan dalam komunitas AAT (Anak-Anak Terang). Sejak Oktober tahun lalu kami bergabung dengan AAT dan banyak kegiatan yang sudah kami lakukan. Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 12-13 April 2014, AAT mengadakan rekoleksi nasional dengan tema “Good Attitude, Great Altittude”. Rekoleksi nasional ini diikuti oleh sekertariat AAT di seluruh Indonesia yaitu Semarang, Jogjakarta, Purwokerto, Malang, Madiun, Padang, dan Pontianak. Jumlah peserta dari seluruh sekretariat adalah sekitar 132 orang. Kami berangkat tanggal 12 April bersama anggota sekretariat AAT Semarang yang lain. Anggotanya meliputi mahasiswa dari beberapa universitas atau akademi di Semarang. Seperti AKIN, UNIKA, POLINESS, dan STIKOM. Sekitar pukul 07.00 WIB perjalanan dimulai menuju Kaliurang-Jogjakarta. Acara rekoleksi diadakan di Wisma Duta Wacana-Kaliurang. Kami tiba di Kaliurang sekitar pukul 11.00 WIB. Acara rekoleksi dimulai dari registrasi peserta, pembagian kamar, pembukaan, foto bersama dan foto masing-masing sekertariat, dan istirahat. Foto per sekretariat diupload di FB dan dilombakan. Foto dengan like terbanyak akan menjadi pemenang. Pemenang lomba foto ini adalah sekretariat Semarang. Kemudian dilanjutkan sesi I dengan pembicara Bapak Hadi Santoso selaku ketua Yayasan AAT Indonesia dengan topik “Pengelolaan Beasiswa Komunitas”. Lalu acara makan malam dan dilanjutkan sesi II dengan pembicara Rm. Handoko, MSC dengan tema pembicaraan “Open Your Mind and Change Your Attitude”. Melalui kedua sesi ini kami tentunya mendapat ilmu baru yang berguna bagi kami. Acara selanjutnya adalah perkenalan pembimbing AAT dari masing-masing sekretariat dan pensi atau performance dari masing-masing sekretariat. Setelah acara perkenalan, pengurus AAT memberikan apresiasi kepada 15 mahasiswa yang memiliki IPS dan IPK diatas 3,50. Salah satu mahasiswa Akfar mendapatkan apresiasi tersebut yaitu Natalia Agassi. Acara dilanjutkan dengan pensi hingga pukul 23.30. Masing-masing sekretariat memberikan penampilan yang dinilai oleh juri dan akan dicari pemenangnya, yaitu menyanyi, drama, tari-tarian. Pemenang pertama diraih oleh sekretariat Madiun, pemenang kedua sekretariat Semarang, dan pemenang ketiga sekretariat Jogja. Kemudian dilanjutkan istirahat dan tidur malam. Kegiatan hari kedua, 14 April 2014 adalah senam pagi pukul 06.00, makan pagi, outbond, acara penutupan, makan siang, dan foto bersama menggunakan jas almamater. Melalui acara ini kami mendapatkan banyak teman baru dari berbagai kota di Indonesia. Kami dapat saling berbagi cerita mengenai pengalaman selama bergabung di AAT maupun bercerita mengenai kuliah. Kami pun dapat saling bekerja sama melalui kegiatan outbond yang dibentuk kelompok secara acak, sehingga kami bertemu dengan teman baru dan belajar menjalin relasi yang baik dengan orang yang baru dikenal. Ketika acara penutupan terlihat semua relawan memakai jas almamater milik mereka, berbagai warna terlihat ada yang merah, coklat, kuning, biru tua, krem. Sangat menyenangkan bisa bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah. Saat yang paling ditunggu adalah foto bersama dengan semua relawan dengan memakai jas almamater. Setelah itu masing-masing sibuk berfoto dengan yang lainnya sebagai kenang-kenangan. Tentunya ada rasa bangga dari kami mahasiswa akfar bisa bergabung dengan mereka semua. Kami berharap semoga ada relawan baru yang bisa ikut bergabung dengan AAT, terutama dari Akfar Theresiana. Credit : Natalia Agassi Dikutip dari berita Rekoleksi Nasional Relawan AAT 2014, http://akfar.theresiana.ac.id/berita/seputar-akfar-theresiana/459-rekoleksi-nasional-relawan-aat-2014   [qrcode content=”https://aat.or.id/liputan-rekoleksi-aat-2014″ size=”175″]  

Liputan Rekoleksi AAT 2014 Read More »

Tekad Penuh Semangat

“Lawan hambatan itu dan kamu harus cari jalan keluarnya.” Surakarta, 21September 1994, Tuhan telah berkarya dengan menghadirkan seorang anak perempuan dengan segala kekurangan dan kelebihan untuk hidup bersama umat-Nya di dunia ini. Dengan penuh harapan dari orang tuanya, agar anaknya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan bagi keluarga. Dia adalah saya, Tanti Kusumawati, yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Akuntansi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya anak ke-3 dari 4 bersaudara. Lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Dengan kekurangan yang ada, saya mewarnai kehidupan dengan penuh syukur dan cinta. Saya gemar membaca, menyanyi, dan berolah raga. Dan saya paling senang jika mengikuti kegiatan yang bersifat sosial. Karena menurut saya berbagi itu indah. Hidup Sederhana Saat berusia 4-9 tahun saya tinggal di desa Gubug Purwodadi, tempat kelahiran ayah saya. Di sana saya tinggal bersama ibu, kakak laki-laki dan adik saya. Sedangkan ayah dan kakak perempuan tinggal di Solo bersama nenek. Satu minggu sekali, ayah menyempatkan pulang ke Purwodadi untuk berjumpa dengan kami. Memang harus terpisah seperti itu, karena untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. Ayah bekerja sebagai sopir truk milik paman dan ibu membuka usaha mebel di desa. Sedangkan kakak perempuan saya tinggal di Solo untuk menuntut pendidikan yang Ia inginkan. Dengan segala perbedaan, mulai dari perbedaan agama dan pendapat, membuat keluarga kami menjadi tidak harmonis. Namun, setelah usia 17 tahun kami diberi kebebasan oleh orang tua untuk memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kakak perempuan saya memilih agama Islam. Sedangkan kami bertiga menganut agama Katolik. Kami sudah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma. Ibu bercita-cita agar anaknya kelak dapat menempuh pendidikan yang baik, sehingga dapat membentuk pribadi anaknya yang baik atau berakhlak mulia. Dengan segala upaya, ibu menabung untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Saya bangga dengan ibu, karena beliau selalu mendidik kami anak-anaknya untuk hidup sederhana, menghargai sesama, dan mengajarkan kami untuk memiliki sifat yang jujur. Demi Sekolah dan Tiga Saudaraku Setelah itu, kami semua pindah ke Solo. Di Solo, kami tinggal di rumah nenek dan ibu bekerja menjadi peternak babi, yang merupakan usaha turun temurun dari nenek saya. Hampir 90% saudara-saudara saya adalah seorang peternak babi. Saat itu, paman mengajak tukar-menukar tanah warisan kakek, karena milik ibu digunakan paman untuk gudang makanan ternak. Ibu menyetujuinya dan membangun rumah di tanah tersebut atas kesepakatan keluarga. Saat saya masuk SMP, di sinilah tantangan terberat keluarga saya untuk membiayai anak-anaknya. Kami bertiga beruntut dari kelas 1-3 bersekolah di SMP yang sama yaitu SMP Regina Pacis Surakarta. Sedangkan adik masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ibu mengembangkan usahanya guna memenuhi kebutuhan kami anak-anaknya. Sedangkan Ayah bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan keluarganya. Semua kebutuhan keluarga, ibu yang menanggungnya. Dengan kebutuhan yang besar, tabungan yang dimiliki ibu lama-lama berkurang, karena untuk membiayai pendidikan kami berempat serta kebutuhan sehari-hari. Saat saya SMA kelas 3, saya sudah diterima di Universitas Atma Jaya Yogyakarta Program Studi Akuntansi. Inilah impian saya sejak SMP. Jika saya ditanya orang akan melanjutkan pendidikan di mana, pasti saat itu saya menjawab dengan bangga, SMA Regina Pacis dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta Program Studi Akuntansi. Kami Diusir dan Dikucilkan Inilah saat tersulit dalam hidup kami sekeluarga. Ibu mengalami kebangkrutan karena isu flu babi yang berkembang di Indonesia, hingga semua yang kami miliki terjual habis hanya menyisihkan 1 rumah saja dan juga hal itu menyebabkan keluarga kami memiliki hutang banyak. Tidak hanya itu, satu-satunya rumah yang kami tempati juga diminta paman dengan alasan tidak jadi tukar-menukar. Seketika itu, kami sekeluarga diminta pindah dan meninggalkan rumah. Hingga kami sekeluarga dipanggilkan pengacara untuk mengusir kami. Paman pun tidak mau mengganti biaya bangunan rumah yang sudah dibangun ibu. Kejadian ini berujung di persidangan. Ibu saya tidak memiliki pengacara karena keterbatasan ekonomi yang kami miliki. Ibu hanya meminta ganti rugi pembangunan rumah saja tidak lebih, tetapi paman tidak mau. Entah apa yang ada di benak paman hingga mempermalukan kami seperti ini. Setelah kejadian itu, empat bulan kemudian paman meninggal, entah apakah ini rencana Tuhan. Keluarga kami dikucilkan dalam keluarga besar Ibu karena keluarga kamilah satu-satunya yang tidak mampu. Ibu dianggap mempermalukan keluarga besarnya, karena hanya keluarga kamilah yang mengontrak rumah. Kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, kami hanya memiliki uang pesangon dari paman sebesar 25 juta rupiah. Uang itu langsung digunakan ibu untuk kontrak rumah selama 5 tahun. Setelah itu, pekerjaan apapun dilakukan ibu dan kami anak-anaknya. Mulai dari jualan botol, sate, dan hingga saat ini menjadi seorang penjahit. Hingga Akhirnya Mengenal AAT Saat itu, ibu dan saya bingung karena ini sudah mendekati registrasi mahasiswa baru. Dan akhirnya saya memutuskan untuk langsung mundur, tidak jadi kuliah. Namun, saya diminta dari pihak SMA saya untuk bertemu dengan rektor UAJY agar biaya kuliah saya dapat diringankan. Dengan segala proses, akhirnya kami berjumpa dengan Pak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang memberikan dispensasi waktu untuk pembayaran uang kuliah saya. Meskipun begitu, dari dispensasi itu kami tetap saja tidak bisa membayarnya tepat waktu. Lalu, Pak Agus Triyogo meminta saya untuk mengangsur biaya kuliah dengan berapapun jumlah uang yang saya miliki. Suatu ketika, Pak Agus menghubungi saya untuk wawancara beasiswa. Pak Agus selalu menyemangati saya. Waktu itu, beliau mengenalkan saya dengan suatu yayasan pemberi beasiswa. Menurut beliau, saya cocok untuk bergabung di yayasan beasiswa itu. Dan yayasan yang dimaksud adalah AAT. Pengalaman Mereka, Inspirasiku   Dan akhirnya, pada bulan Maret 2013, saya mulai bergabung dengan AAT. Dengan kegiatan yang saya ikuti bersama AAT, semangat berbagi saya menjadi semakin tumbuh. Di saat mulai putus semangat karena jenuh akan keadaan yang saya rasakan, saya akan kembali bersemangat setiap kali bertemu dengan anak-anak asuh ketika survei. Mereka menjadi inspirasi saya untuk mencapai cita-cita saya. Dengan segala karakter dan dengan perjuangan-perjuangan mereka yang diceritakan ke saya itu, membuat saya semakin bersemangat untuk menjalani kehidupan. Survei yang berkesan untuk saya adalah saat di SD Pangudi Luhur Kalirejo dan SMA Sanjaya XIV Nanggulan. Saya bertemu dengan anak yang luar biasa. Perjuangannya membuat saya salut padanya. Hingga foto anak asuh tersebut saya tempel di buku agenda saya, karena dialah yang selalu membuat saya untuk memiliki semangat yang luar

Tekad Penuh Semangat Read More »

Dulu Siswi, Sekarang Mahasiswi

Menjadi Staf Administrasi AAT adalah salah satu kegiatan yang sudah saya jalani dari tahun 2012. Sebagai Staf Administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh), bagaimana pengiriman kuitansi dan tanda bukti penerimaan beasiswa, dan masih banyak lagi. Lebih-lebih, saya juga bisa mengetahui bagaimana kondisi ekonomi anak asuh yang dibantu AAT lewat kegiatan survei sekolah dan wawancara. Di mana mereka harus menghabiskan waktu bermainnya untuk mencari nafkah dan membantu orang tuanya bekerja. Ada juga yang harus tinggal bersama kakek dan neneknya atau bersama tante dan omnya, tanpa mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya dan harus menjadi anak yatim piatu. Kisah-kisah dan perjuangan mereka mengingatkan saya pada perjuangan saya dan keluarga beberapa tahun silam. Bagaimana kerja keras ayah mencari pekerjaan dan bagaimana perjuangan saya agar tetap bisa sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan AAT. Dari Kantin Sampai Nasi Kucing Semenjak kecil saya hidup serba kekurangan. Untuk urusan biaya sekolah, selalu telat, selalu dapat peringatan dari sekolah. Tidak hanya saya yang mengalami ini, kedua adik saya pun sampai saat ini masih mengalami hal yang sama. Rumah, kami tidak punya. Kami sekeluarga tinggal di rumah kakek dan nenek. Hingga suatu ketika, saya sekeluarga harus hidup berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain. Sampai akhirnya, kami menetap di Yogyakarta dan hanya mengontrak sebuah rumah kecil untuk beristirahat sekeluarga. Saat pertama datang ke Jogja, orang tua saya sama sekali tidak memiliki mata pencaharian. Dengan semangat dan cinta kasih, mereka terus mencari pekerjaan demi menghidupi keempat anaknya. Pekerjaan pertama yang mereka dapat adalah membantu orang berjualan di kantin sekolah. Pekerjaan itu tidaklah berlangsung lama sehingga orang tua saya harus mencari pekerjaan lagi. Akhirnya, ayah mendapatkan pekerjaan lagi, yaitu sebagai sales alat kesehatan. Tetapi, di sini hanya ayah saya saja yang bekerja, sedangkan ibu tidak. Karena, ibu memiliki keterbatasan yaitu terkena penyakit glukouma sehingga penglihatan ibu sangat terbatas. Ibu hanya bisa mengurus rumah saja. Pekerjaan itu hanya bertahan beberapa bulan saja, karena ayah saya ditipu oleh atasannya sehingga beliau akhirnya memutuskan untuk resign. Dengan bertambahnya umur yang tidak produktif lagi dan kondisi kesehatan yang tidak mendukung (memiliki penyakit jantung), ayah saya memutuskan untuk berwirausaha saja. Akhirnya, sejak tahun 2012 hingga sekarang, orang tua saya bekerja sebagai pembuat dan penjual nasi kucing, yang nantinya dititipkan di satu angkringan dan di beberapa sekolah. Tidak perlu ditanya lagi untuk berapa penghasilannya. Saya katakan, penghasilan dari pekerjaan ini jauh di bawah cukup. Tapi, berkat kasih sayang orang tua saya, mereka tulus dan terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan kami sekeluarga. Beasiswa AAT Ketika saya duduk di kelas 2 SMA, di situlah saya mulai mengenal AAT. Selama dua tahun terakhir di SMA, saya mendapatkan bantuan beasiswa dari AAT. Benar-benar sangat membantu. Bagaimanapun juga, itu sudah membantu meringankan beban dari orang tua saya. Tapi, saya masih pesimis. Dengan keadaan ekonomi keluarga saya yang seperti ini, apa saya bisa melanjutkan ke perguruann tinggi? Padahal, itulah salah satu impian terbesar saya setelah lulus SMA nanti. Suatu ketika, salah satu dari PJ (Penanggung Jawab) sekolah saya memberitahu saya bahwa AAT membuka beasiswa perguruan tinggi, ini kesempatan bagi siapa saja (yang kurang mampu dalam finansialnya) yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Jadi, biaya kuliahnya dibantu oleh AAT. Itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh saya sia-siakan. Saya harus bisa mendapatkannya. Karena, dengan begitu saya bisa lebih meringankan beban orang tua saya. Sejak itu, saya lebih rajin lagi dan lebih semangat untuk belajar demi mendapatkan nilai yang baik, mencapai prestasi, dan demi impianku menjadi seorang MAHASISWI. Usaha selama SMA itu tidak sia-sia. Dengan nilai yang cukup baik, prestasi yang baik, dan masih dengan semangat belajar yang tinggi, saya diterima sebagai anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi. Tuhan selalu memberikan keindahan tepat pada waktunya. “Melalui AAT, Tuhan menjawab doa saya yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.” Dulu Siswi, Sekarang Mahasiswi Pada tahun 2012, tepatnya bulan Juli, saya resmi menjadi mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarrukmo (STiPRAM) Yogyakarta. Senang, akhirnya saya dapat kuliah dan masuk ke dunia pariwisata, karena memang saya sangat menyukainya. Bangga, karena kini status saya bukanlah lagi SISWI melainkan MAHASISWI. Tidak hanya itu, selain saya mendapatkan jurusan kuliah yang saya inginkan, di sini saya juga bisa menyalurkan bakat saya yang terpendam, yaitu modelling. Kebetulan sekali di tempat saya kuliah tersedia yang namanya UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Modelling. Dari UKM ini saya belajar lebih mendalam tentang modelling. Dari UKM ini juga saya mulai mengikuti lomba modelling, photo session, dan memperagakan baju koleksi dari beberapa designer. Kegiatan saya selain kuliah dan modelling, saya mengambil part time job di sebuah event organizer di Solo sebagai pagar ayu. Ini sebagai bentuk usaha saya untuk membantu orang tua saya. Bagaimanapun juga, saya harus mencari biaya untuk keperluan kuliah saya (biaya fotokopi, dan lain-lain). Karena sejak saya kuliah, saya tidak pernah lagi mendapatkan uang saku dari orang tua saya, jadi saya harus mencari biaya sendiri. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman, memperluas pertemanan, dan tentunya saya bisa mengukir prestasi yang lebih baik lagi. Yah, senanglah akhirnya satu impian saya tercapai kembali. Itu semua berkat kasih Tuhan yang diberikan kepada saya melalui AAT. Dan sejak saat survei itulah, saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik saya di luar sana yang sangat jauh di bawah saya. Masih bersyukur atas kehidupan saya yang masih bisa bersekolah lancar dan kedua orang tua yang masih utuh. Meskipun untuk bisa hidup dan sekolah, sampai kuliah, kami sekeluarga harus berusaha mati-matian untuk bisa mencapainya. Kisah-kisah mereka dan perjuangan keras mereka membuat saya semakin bersyukur dan semakin bersemangat untuk meraih cita-cita yang belum tercapai, untuk terus membantu sesama, dan terus melakukan tugas di AAT dengan sebaik-baiknya. Agar adik-adik itu bisa terus melanjutkan pendidikannya. Semoga, mereka juga tidak henti untuk terus bersemangat dan berusaha. Cerita singkat ini saya tulis sebagai ucapan terima kasih saya sekaligus ucapan terima kasih dari semua anak asuh yang sudah dibantu oleh beliau-beliau yang turut turun tangan untuk membantu dan mendampingi kami melalui AAT. Semoga, apa yang sudah diberikan beliau-beliau ini dapat bermanfaat bagi masa depan kami dan tetap semangat untuk mengenyam pendidikan yang lebih

Dulu Siswi, Sekarang Mahasiswi Read More »

Miracle Happens

Delapan Tahun Lalu Nenek saya menginap di ICU sebuah rumah sakit di Jakarta karena kanker lambung yang dideritanya. Suatu malam, papa menelepon saya dari Jakarta dan meminta saya untuk segera pulang ke Jakarta untuk menemui nenek. “Emak mau ketemu kamu, Ka…” ucap papa lirih. Saya yang saat itu sedang menghadapi ujian kenaikan kelas 2 SMP di Singapura, langsung memberitahu ibu kost dan guru saya mengenai apa yang terjadi. Ternyata, guru saya langsung memberikan izin malam itu juga dan ibu kost segera mengurus transportasi untuk kepulangan saya ke Jakarta. Esok paginya saya langsung menuju Jakarta. Dan sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, saya segera menuju ke rumah sakit. Sampai di sana, saya melihat nenek sudah sedang dalam fase kritis dan tidak sadarkan diri. Keinginannya untuk “melihat” cucu kesayangannya pun tidak tersampaikan, karena akhirnya beliau meninggal keesokan harinya. 21 Januari 2014 Malam itu, tepat pukul 21.30, saya sedang menginap di rumah seorang teman dekat. Handphone saya berdering dan memperlihatkan nama teman papa di layar handphone. Dalam hati saya, “Ada apa ya? Kok malam-malam Om telepon?” Akhirnya saya angkat teleponnya dengan ragu-ragu. Dengan suara seperti tidak yakin, teman papa berkata, “Ka, papa kamu sakit. Dadanya sesak. Ini baru Om bawa ke IGD. Nanti Om kabarin lagi.” Telepon langsung ditutup. Dengan perasaan tidak karuan, saya menunggu kabar berikutnya dari teman papa. Teman papa kembali menelepon, “Ka, papa kamu ternyata kena serangan jantung. Sekarang mau dibawa ke ICCU. Mendingan kamu ke sini. Cari transportasi yang tercepat. Papa kamu sedang masa kritis.” Dengan keadaan setengah tidak percaya saya menutup telepon dan segera mencari transportasi tercepat dari Yogyakarta ke Jakarta. Saya merasa terbawa ke delapan tahun yang lalu. Tidak mau membayangkan hal yang buruk terjadi, saya segera berdoa dan memohon agar Tuhan menyelamatkan Papa. Miracle Happens Pagi itu, pukul 10.30, keadaan jalan yang macet dan banjir membuat perjalanan dari bandara ke rumah sakit memakan waktu hingga 3 jam. Saya yang sudah gugup sejak tadi, tidak sabar untuk segera bertemu dengan papa. Namun, satpam tidak memperbolehkan saya masuk ruangan ICCU. Saya harus menunggu hingga jam besuk dibuka, yakni pukul sebelas siang. Akhirnya, jam besuk dibuka. Saya melihat keadaan papa yang lemah terkulai di ranjang pasien dengan berbagai alat tertempel di dada, hidung, dan tangannya. Suara bip..bip.. yang konstan terdengar dari monitor di sebelahnya. Pemandangan ini merupakan hal yang sangat kontras dibanding papa yang biasanya selalu energik. Saat saya menjenguknya, papa sudah dalam keadaan sadar dan bisa sedikit berbicara. “Papa sayang kamu,” bisik papa yang hampir tidak terdengar suaranya. “Papa nyesel nggak bisa bahagiakan mama, kamu, dan adik-adik. Sampai nggak punya apa-apa sama sekali. Jojo mau ke Timezone, papa selalu menghindar. Mau beliin Jojo baju baru aja susahnya minta ampun!” Beliau pun meneteskan airmata, sampai saya pun tak kuasa menahan tangis. Saya memegang tangan papa sambil mengelus punggung tangannya seraya berkata, “Papa nggak boleh gitu. Lihat, sekarang dede sudah bisa sekolah, aku dan Elis sudah bisa kuliah dan kerja. Papa harus bangga. Jangan mikir yang enggak-enggak, Pa.” Ya, memang dulu hidup kami bisa dikatakan sangat berkecukupan. Apapun yang saya minta, pasti dituruti. Alhasil, saya tumbuh menjadi anak egois yang harus selalu mendapatkan apa yang saya mau. Saya selalu ingin menjadi yang terbaik dan memiliki hal-hal yang terbaik pula. Saya bangga memiliki barang-barang branded dan membuang uang dengan mudahnya untuk hal yang tidak penting. Itu dulu.. Sejak nenek sakit, kami sudah menjual berbagai aset untuk biaya pengobatan. Ditambah hutang-hutang yang besar jumlahnya, bisnis papa yang terus menurun, dan investasi saham yang sudah tidak ada nilainya, kami praktis tidak punya apa-apa. Menjalani tahun-tahun penuh kekecewaan dan penolakan diri sudah pernah saya alami. Sekarang saya sadar bahwa hal-hal materi seperti itu tidaklah penting. Dengan keadaan kami yang sekarang ini, saya masih mempertahankan sikap ingin menjadi yang terbaik. Namun, menjadi yang terbaik tidak saya peroleh dengan merengek-rengek meminta pada orang tua. Saya memperolehnya dengan jerih payah sendiri. Saya bisa membeli tas baru dengan hasil kerja sebagai student staff di kampus. Saya bisa memberi adik saya sedikit uang jajan dari hasil bekerja di sebuah Event Organizer. Saya bangga dan saya tidak menyesali apa yang terjadi. Karena saya sadar, bahwa ini adalah jalan Tuhan untuk membuat saya dan keluarga saya menjadi pribadi yang lebih baik. “Saya memiliki hidup yang selalu diberkati Tuhan. Mukjizat selalu terjadi di dalam hidup saya.” Saya tidak memiliki ijazah SMP, karena tidak menyelesaikan studi di Singapura, namun tetap dapat melanjutkan pendidikan ke SMA tanpa halangan. Saya terpaksa menunda kuliah setelah SMA dan harus bekerja, namun saya bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan oli dengan gaji di atas rata-rata. Saya masuk kuliah dengan sudah memiliki pengalaman kerja. Dan ketika tidak mampu membayar SPP saat kuliah, Tuhan memperkenalkan saya pada AAT. Baru-baru ini, papa saya terkena serangan jantung dan kami tidak punya apa-apa untuk membayar biaya rumah sakit. Namun, pertolongan datang bertubi-tubi dari orang-orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Tak Kenal, Kami Sayang Melalui AAT, Tuhan membantu kami lewat tangan-tangan kecil orang-orang yang ada di sekitar kami yang bahkan tidak kami kenal. Bila peribahasa mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang,” AAT akan berkata, “Tak kenal, kami sayang”. Sahabat AAT dengan ikhlas membantu kami yang tidak pernah mereka lihat apalagi kenal. Saya hanya bisa terkagum-kagum dengan semangat para Sahabat AAT. Mereka dengan besar hati bersedia turun tangan memberikan sebagian rejekinya untuk membantu para strangers ini. Berada di roda kehidupan yang selalu berputar, saya percaya bahwa apa yang saya alami dulu dan saat ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuk saya kelak. Bukan menjadi orang yang selalu mengeluh, melainkan untuk selalu bersyukur. Bukan selalu khawatir akan masa depan, namun mempercayakan seluruhnya pada Tuhan. Kami telah merasakan jatuh ke dalam lubang dan ditolong oleh tangan-tangan orang tak dikenal. Sekarang, kami sudah keluar dari lubang itu. Suatu saat, kamilah yang akan menolong orang-orang yang terjatuh. Semua itu berkat bantuan para Sahabat AAT yang sudah memberi teladan pada kami tentang indahnya berbagi. Ketika kita tulus berbagi, maka keajaiban akan datang. Miracle happens. Semoga tulisan kecil ini bisa menjadi penyemangat dan pemberi harapan bagi kita semua. “Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah

Miracle Happens Read More »

Keajaiban dari Tuhan melalui AAT

MUKJIZAT selalu datang bila kita percaya kepada Tuhan. Itulah yang saya dapatkan, mukjizat dari Tuhan yang datang melalui Anak-Anak Terang (AAT) kepada saya. Berikut ini, saya akan sharing kepada teman-teman sekalian tentang pengalaman saya. Ketika saya duduk di bangku SMA, setiap tahun, sekolah saya mengadakan pameran pendidikan. Banyak perguruan tinggi yang ikut serta dalam pameran tersebut. banyak sekali stand-stand yang menawarkan dan mempresentasikan perguruan tinggi mereka. Teman-teman saya sangat antusias setiap tahunnya ketika diadakan pameran tersebut, karena memang latar belakang keluarga mereka yang berkecukupan sehingga membuat mereka yakin untuk memilih ke mana mereka akan melanjutkan studi mereka. Sedangkan saya hanya mengunjungi beberapa stand saja, karena saat itu ada tugas guru untuk menuliskan laporan tentang perguruan tinggi tersebut. Hingga akhirnya di tahun ketiga saya bersekolah dan hendak lulus, ketika pameran pendidikan itu diadakan kembali, dengan perasaan senang saya melihat teman-teman saya yang didampingi orang tua mereka untuk mendaftarkan diri ke sebuah perguruan yang mereka pilih. Namun di saat yang bersamaan pula, saya sedih hanya bisa melihat kegembiraan dan keantusiasan mereka karena keterbatasan biaya yang saya alami. Saya, Maria Elisabeth Roberta, kebetulan saya lahir di keluarga yang berkecukupan. Orang tua saya bekerja di bidang tekstil (batik) di bawah bimbingan nenek saya. Kemudian di tahun 2006 ketika itu saya duduk di bangku 6 SD, nenek saya meninggal dunia dikarenakan kanker lambung yang ia derita selama satu tahun. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan nenek saya tidaklah sedikit, sehingga ayah saya harus berhutang kepada bank dengan jaminan rumah kami di Pekalongan. Dan pada akhirnya rumah kami disita oleh bank, di tahun yang sama ketika nenek saya meninggal. Masa itu adalah masa tersulit yang tengah dihadapi oleh ayah saya karena setelah kehilangan ibunya ia juga harus kehilangan rumah yang telah Ia tinggali selama 19 tahun. Akhirnya, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Ketika di Jakarta, ayah saya tidak memiliki pekerjaan. Ia berniat membuka usaha lain selain batik, tetapi segala yang Ia lakukan hanyalah sebuah niat yang tak tersalurkan. Sehingga selama 3 tahun kami tinggal di Jakarta, ayah kami tidak bekerja dan hanya mengandalkan aset yang Ia miliki. Akhirnya seluruh aset yang ayah saya miliki kini habis dan ayah pun berhutang pada saudara dari ibu saya. Ketika tahun 2009, ayah saya memutuskan untuk kembali ke Pekalongan untuk merintis batik kembali. Seketika itu juga saya dan keluarga saya kembali ke Pekalongan. Saya dan keluarga saya mengontrak di sebuah rumah kecil di Pekalongan yang setiap tahunnya selalu terkena banjir ketika musim hujan. Seiring berjalannya waktu, ketika Ayah saya merintis batik kembali, Ia mengalami kerugian yang banyak sekali sehingga mengharuskan ayah berhutang lebih banyak lagi kepada saudara dan teman-temannya. Dan akhirnya pekerjaan apapun Ayah lakoni dan menyingkirkan ego dan gengsinya. Dari menjadi supir sampai membantu tetangga kami pindahan rumah. Apapun akan Ayah kerjakan asalkan dapat menghasilkan uang, sehingga setiap bulannya Ayah kami tidak memiliki penghasilan tetap. Kakak saya pun akhirnya menunda kuliahnya selama 2 tahun untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. Ketika kakak saya bisa kuliah, Ia beberapa kali dipanggil oleh Kantor Keuangan UAJY karena tunggakan yang Ia miliki. Hingga akhirnya pada semester 4, Ia direkomendasikan oleh Pak Agus Triyogo, Kepala Kantor Keuangan UAJY untuk bergabung dengan Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia. Akhirnya Saya Menjadi Seorang Mahasiswi Ketika saya lulus di tahun 2012, karena saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, saya bekerja. Awalnya saya bekerja sebagai Staff Administrasi di salah satu toko elektronik di Pekalongan. Di pertengahan tahun 2013, saya ditawari oleh ayah saya untuk bekerja di Jakarta. Karena gaji yang lebih tinggi, saya pun pindah ke Jakarta. Namun karena tekanan dari atasan saya yang begitu besar, akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri (resign) dan kembali ke Pekalongan. Sesampainya saya di Pekalongan, saya diajak kakak saya untuk mencoba mengajukan beasiswa AAT. Tuhan memang selalu datang di waktu yang tepat! Ia tidak pernah terlambat dan selalu menolong hambanya tepat pada saat saya menghadapi keputusasaan bagaimana saya akan melanjutkan studi saya. Saat itu setelah mendengarkan ajakan Kakak, saya langsung ke Jogja dan membawa berkas-berkas yang saya butuhkan untuk mendaftarkan diri ke beasiswa AAT. Besar harapan saya agar dapat lolos dalam seleksi AAT. Saya terus berdoa dan memohon kepada Tuhan agar saya dapat lolos dan mendapatkan beasiswa dari AAT, agar saya dapat mewujudkan cita-cita saya dan dapat membantu perekonomian keluarga saya bila kelak saya lulus nanti. Dan keajaiban pun terjadi, ternyata saya lulus untuk mendapatkan beasiswa AAT. AAT akhirnya membantu saya dalam melunasi tunggakan yang diperlukan agar saya dapat masuk ke universitas yang saya kehendaki. Pada bulan Agustus 2013, saya resmi menjadi mahasiswi di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) dan mengambil jurusan D3 Perhotelan. Walaupun saya terpaksa melewatkan masa OSPEK atau pengenalan kampus di bulan Juli, tapi saya sangat senang sekali. Dengan bantuan yang diberikan oleh AAT, saya dapat kuliah. Selain menjadi mahasiswi di STIPRAM, saya juga aktif dalam UKM Pastry setiap hari Selasa dan kegiatan senam pagi setiap hari Jumat. Tidak hanya kegiatan kampus, kegiatan lain yang saya lakukan yaitu kegiatan luar kampus, seperti mengikuti casual-casual (pekerjaan freelance di hotel) beberapa kali, tetapi tidak sering karena terkadang jadwal kuliah dengan casual sering kali bentrok. Jadi saya hanya mengikuti casual di saat saya tidak ada kelas saja. Dan juga menjadi pagar ayu di event organizer di Solo di akhir minggunya. Menjadi Staff Admin di AAT Dengan mendapatkan beasiswa dari AAT, konsekensi yang saya terima adalah selain belajar dengan rajin, saya juga harus menjadi Staff Administrasi atau biasa disebut sebagai Pendamping Komunitas (PK) di AAT. Saya sama sekali tidak terbebani dengan hal ini, karena saya juga ingin berbuat sesuatu kepada AAT yang sudah mau membantu saya dengan beasiswa yang diberikan agar saya dapat kuliah. Ketika pertama kali menjadi Staff Administrasi di AAT, awal mulanya saya cukup bingung dan beberapa kali melakukan kesalahan saat input data. Beruntung kakak-kakak pembimbing dengan penuh kesabaran selalu mengingatkan saya dan memberikan dukungan kepada saya agar saya tidak down dengan kebingungan yang saya alami. Sekitar tanggal 11 November 2013, saya bersama kakak PK lain mengadakan survei ke SMP Kanisius Gayam. Di sana banyak anak-anak yang latar belakang keluarganya juga kurang mampu, bahkan jauh di bawah saya. Ada

Keajaiban dari Tuhan melalui AAT Read More »

Kunjungan ke SMP Yoannes XXIII

Pagi menjelang siang, sekitar pukul 09.45 WIB, kami berempat para Pendamping Komunitas Anak-Anak Terang (PK AAT) Semarang mengunjungi SMP Yoannes XXIII. Saya, Johanes, Pieter, dan Lukas sampai di tujuan sekitar pukul 10.00 WIB. Di sana kami disambut oleh Bapak Rochadi selaku Penanggung Jawab (PJ) di SMP Yoannes XIII. Kami pun langsung menuju ke tempat kelas untuk melakukan presentasi mengenai AAT kepada calon anak asuh. Waktu itu, saya yang mempresentasikan mengenai AAT dibantu oleh Pieter sebagai moderator. Saat saya mempresentasikan mengenai AAT, calon anak asuh itu duduk dengan manis sambil mendengarkan dan berusaha memahami betul apa itu AAT. Cerita tentang Salah Satu Calon Anak Asuh Setelah selesai presentasi, kami segera mewawancarai para calon anak asuh. Dan saya mendapati salah satu calon anak asuh yang menurut saya memang pantas untuk dibantu. Anak tersebut menceritakan semua kondisi keluarganya. Keluarganya numpang di rumah teman ayahnya. Ayahnya sudah tidak bekerja karena sakit, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh (mencuci pakaian dan menyetrika). Ternyata ayahnya mengalami penyakit gagal ginjal yang tiap minggunya harus cuci darah sebanyak dua kali. Padahal ibunya hanya memiliki penghasilan kurang dari Rp 500.000,-. Ditambah lagi, dia dan adiknya masih sekolah dan harus membayar uang sekolah. Dia merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakaknya sudah tamat kuliah dan yang membiayai adalah pak dhenya. Sedangkan dia dengan adiknya dibiayai ibunya.   Setiap kali berangkat ke sekolah, dia diberi uang saku Rp 5.000,- di mana yang Rp 4.000,- untuk ongkos transportasi dan Rp 1.000,- untuk jajan. Dia mengerti kondisi keuangan keluarganya bisa dibilang sangat rendah, sehingga di sekolah dia tidak makan sama sekali. Jika dia merasa lapar, dia hanya beli air minum gelas untuk mengenyangkan perutnya. Ketika saya menanyakan kenapa tidak membawa bekal saja, anak itu menjawab tidak karena dia tidak mau merepotkan ibunya. Apalagi kalau masak sendiri, dia bisa telat masuk sekolah. Dia sadar bahwa ibunya juga harus mengurusi ayahnya yang sedang sakit. Saya pernah menanyakan bagaimana ibunya bisa membayar biaya rumah sakit kalau ayahnya mau cuci darah. Dia pun menjawab kalau ibunya meminjam uang ke tetangga-tetangga. Tiap satu kali cuci darah, ibunya harus mengeluarkan uang sekitar kurang lebih Rp 600.000,- Pernah dua kali ia belum bayar SPP ketika kelas VII dan saat ini juga belum bayar SPP bulan November. Meskipun begitu, dia memiliki cita-cita yang tinggi yaitu ingin menjadi pemain basket internasional karena dia suka sekali bermain basket. Selain itu, ia juga pernah mendapatkan suatu penghargaan berupa sertifikat bela diri karena dia sudah sampai di sabuk orange. Rapat Pleno Setelah selesai wawancara semua anak, kami mengadakan rapat pleno, di mana teman-teman saya menceritakan apa saja informasi yang didapatkan pada waktu wawancara tadi. Saya mendengarkan cerita dari pengalaman teman saya saat mewawancarai calon anak tersebut. Ada yang menceritakan tentang perilaku orang tuanya yang marah-marah karena agama. Saya pun heran mengapa karena masalah agama mereka selalu bertengkar? Padahal sebelum menikah pasti mereka setuju tentang perbedaan agama yang mereka anut. Saya pun menanyakan ke teman saya yang menceritakan cerita tersebut, ”Lah trus bagaimana dengan anak ini? Dia mengikuti agama ayahnya apa ibunya? Dan kenapa ayahnya dan ibunya sering bertengkar cuma gara-gara agama?” “Ya agama anak itu ikut dengan ibunya. Tidak hanya soal agama, mereka juga sering bertengkar karena masalah ekonomi,” jawab temanku itu. Setelah itu temen saya yang lain menceritakan hasil wawancaranya tentang salah satu anak yang nakalnya bukan main. Padahal kondisi keluarganya juga tidak terlalu mewah. Ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Kadang-kadang ia juga sering tidak masuk sekolah dan main ke warnet, tetapi orangtuanya tidak tahu kalau anak itu kadang-kadang tidak masuk sekolah. Namun anak ini pernah mendapat prestasi yaitu juara 3 lomba sepak bola di UNDIP pada saat masih di SD. Saya pun bilang kepada penanggung jawabnya kalau seandainya anak ini mendapatkan beasiswa dari AAT, anak ini harus berubah menjadi baik dan tidak akan bolos lagi. Jika kelakuannya masih seperti itu, beasiswanya nanti bisa dicabut. Ada juga cerita tentang orang tua calon anak asuh yang sering bertengkar karena ibunya sering berbohong. Namun sayangnya bukan saya yang mewawancarai melainkan teman saya. Saya hanya mendengar sekilas mengenai anak tersebut kalau ayahnya itu bekerja sebagai tukang pembuat saluran air minum dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Kadang-kadang ibunya jualan nasi pecel. Ayahnya bekerja jika ada panggilan, sedangkan kalau tidak ada panggilan ayahnya tidak bekerja. Dia anak ke-4 dari 4 bersaudara, kakak pertama sudah bekerja, kakak ke-2 masih kuliah, dan yang ke-3 masih sekolah kelas 3 SMK. Dia memiliki prestasi yaitu mendapat peringkat 1 dan juara lomba pendidikan. Ia memiliki hobi berenang dan memiliki cita-cita menjadi seorang pastur. Dari cerita-cerita anak asuh tersebut, banyak yang mempunyai kesamaan dengan kondisi keluarga saya. Sehingga setiap saya mendengarkan cerita tentang anak-anak tersebut, saya langsung ingat akan kenangan pahit yang pernah saya alami. Orang tua saya yang sering bertengkar gara-gara masalah ekonomi dan ayah saya yang dulu juga pernah menderita penyakit. Namun, kenangan-kenangan itu membuat saya bertekad untuk bisa mengubah kondisi keluarga saya agar lebih baik lagi.   Metodius Billy Sentosa Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/kunjungan-ke-smp-yoannes-xxiii” size=”175″]  

Kunjungan ke SMP Yoannes XXIII Read More »

Kunjungan Relawan ke SMP Salomo

SMP Salomo 3 Pringsurat yang berada di desa Ngipik, Pringsurat, Temanggung, adalah sekolah Kristen yang perintisannya bersamaan dengan perintisan Gereja Isa Almasih Ngipik yaitu pada tahun 1975 tepatnya bulan Januari 1975. SMP Salomo 3 Pringsurat didirikan sebagai salah satu prasyarat pendirian Gereja Isa Almasih Ngipik yang dirintis oleh seorang dokter gigi yang bernama dr. Lukas Sebadja. Awalnya pada tahun 1974, dr. Lukas Sebadja menabrak seorang anak laki-laki di desa Pringsurat. Menghadapi korban yang nampaknya tidak tertolong, dr. Lukas Sebadja bernazar “Apabila anak tersebut hidup dan sembuh, maka dr. Lukas akan mendirikan gereja di tempat tersebut”. Dan ternyata doa serta nazar dr. Lukas Sebadja didengar Tuhan, anak tersebut sembuh dan hidup. Menyaksikan mukjizat Tuhan melalui kesembuhan anak tersebut. Akhirnya, di lokasi tersebut didirikan tempat persekutuan doa keluarga dan ada beberapa orang yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat dalam hidupnya, termasuk di dalamnya keluarga anak yang ditabrak dr. Lukas Sebadja. Karena persekutuan semakin berkembang, maka pelayanan dibantu oleh para mahasiswa STT Abdiel. Oleh kuasa Tuhan Yesus akhirnya berdirilah pos PI di desa Pringsurat bertempat di rumah Pak Dul Sholeh dan di desa Nglarangan di rumah Bapak Christianus Ngasiman. Penanggung jawab pelayanan pada kedua pos PI tersebut adalah dr. Lukas Sebadja bersama Ibu Hanna Sebadja S.Th, istri beliau, dibantu oleh bapak Sugriwo seorang guru injil dan GKJ Pepanthan Pingit. Atas Hikmat dari Tuhan Yesus Kristus, dr. Lukas Sebadja berniat membeli lagi sebidang tanah yang berada tepat di samping tanah yang akan dipakai untuk pembangunan gereja. Tanah tersebut akan diperuntukkan bagi pembangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai wujud kepedulian umat Kristiani terhadap dunia pendidikan. Gereja ingin ikut ambil bagian mencerdaskan anak anak bangsa lewat jalur pendidikan. Kebetulan pada waktu itu di Kecamatan Pringsurat belum ada SMP yang akan diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu. Gagasan dan rencana tersebut ternyata disambut baik oleh masyarakat dan pemerintah desa Ngipik. Akhirnya, pembangunan gereja pun diperbolehkan bersamaan dengan pembangunan gedung SMP Salomo 3 Pringsurat, Temanggung. Tahun 1975, berdirilah sekolah menengah pertama dengan nama SMP Salomo 3 Pringsurat yang disponsori oleh keluarga dr. Lukas Sebadja. Untuk memudahkan pengelolaannya, dr. Lukas Sebadja membentuk Yayasan Pendidikan Anugerah. Yayasan Pendidikan Anugerah diketuai oleh Ibu Sulaksono dan dibantu oleh beberapa orang pengurus, termasuk Bapak Stepanus Sumaryono juga masuk di dalam kepengurusan. Dinamakan SMP Salomo 3 karena di kota Semarang sudah ada Salomo 1 dan Salomo 2 yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kranggan. Walaupun Yayasan yang menaungi berbeda, namun Salomo 1 dan Salomo 3 sama-sama didirikan oleh anak anak Tuhan yang berjemaat di Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. Enam bulan setelah SMP Salomo 3 Pringsurat berdiri, maka Gereja Isa Almasih Ngipik juga berdiri dan didewasakan sebagai Jemaat Gereja Isa Almasih. Selain pendewasaan Gereja, Bapak Stepanus Sumaryono juga ditahbiskan sebagai pendeta di jajaran Sinode Gereja Isa Almasih, sekaligus menjadi Gembala Sidang di GIA Ngipik. Di SMP Salomo Pringsurat Temanggung ini kebanyakan muridnya beragama Islam. Kondisi ekonomi orang tua murid murid SMP Salomo sebagian besar berada di bawah garis besar kemiskinan. Rata-rata orang tua mereka bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan karyawan kayu lapis. Tingkat pendidikan orang tua mereka pun hanya lulusan sekolah dasar. Untuk gaji guru dan karyawan, SMP Salomo diperoleh dari Bantuan Operasional Sekolah, Yayasan Pendidikan Kranggan, dan sebagian partisipasi orang tua siswa. Pengalaman Kunjungan Hari Rabu, 6 November 2013, saya melakukan kunjungan ke SMP Salomo Pringsurat Temanggung. Saat itu, saya bersama teman saya, Edo. Kunjungan itu adalah kali pertama saya terlibat dalam kegiatan relawan Anak-Anak Terang (AAT). Kami berangkat pukul 07.15 pagi. Sampai di SMP Salomo, kami langsung menemui Ibu Vosa dan Ibu Jeki. Kami pun disambut dengan hangat. Setelah itu, kami langsung bersiap- siap mewawancarai penanggung jawab tentang seberapa banyak pengetahuan Penanggung Jawab (PJ) tentang AAT, sejauh mana PJ mengenal Anak Asuh (AA), sumber dana sekolah, dan lain-lain. Yang membuat saya tertarik di saat mewawancarai PJ ternyata saya mendengar kalau banyak kondisi dari calon AA yang memprihatinkan. Semisal ada anak yang keluar dari SMP Salomo lalu berjualan di daerah Semarang, tetapi karena dia tidak betah kerja, maka kembali lagi ke SMP Salomo. Ada juga yang ditinggal ayahnya meninggal tetapi dia tetap sekolah dan kesehariannya membantu ibunya. Ini yang membuat saya kagum dengan calon AA meskipun baru mendengar ceritanya saja melalui PJ SMP Salomo. Hari Minggu, 10 November 2013, saya dan lima relawan AAT lainnya yaitu Edo, Anisa, Dora, Setyoko, dan Galih berangkat ke SMP Salomo. Kita dari Semarang jam setengah delapan pagi dan sampai di sana jam sembilan pagi. Sesampainya di sana kami langsung dipersilahkan oleh bu Vosa dan bu Jeki di salah satu kelas dan kami pun langsung menyiapkan peralatan dan dokumen untuk wawancara anak. Dan saat acara dimulai, ini adalah kali pertama saya presentasi di AAT. Rasanya saya sangat senang berinteraksi dengan anak-anak. Presentasi saya berjalan dengan lancar. Tibalah saatnya untuk wawancara. Saya kebagian mewawancarai anak kelas IX. Yang menarik dari anak-anak yang saya wawancarai yaitu mereka adalah anak-anak yang penuh semangat walau mereka dari keluarga yang tidak mampu, tetapi semangat mereka untuk belajar sangatlah tinggi. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka, anak-anak dari SMP Salomo 3.   Ignatius Sindhu Wijaya Staff Admin AAT Semarang   [qrcode content=”https://aat.or.id/kunjungan-relawan-ke-smp-salomo” size=”175″]  

Kunjungan Relawan ke SMP Salomo Read More »

Terima Kasih, Karena Kalian Berharga

“Sebaik-baiknya orang, ia tidak akan berguna jika tidak memberikan sesuatu untuk sekitarnya…” Kata-kata dosen tadi di kelas sontak membuatku tersadar dari lamunanku saat perjalanan pulang setelah kuliah. Entah mengapa kata-kata itu selalu terniang dalam benakku. Fricilia Mawaria, panggil saja aku Fricil, mahasiswi Program Studi Manajemen Angkatan 2012 Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Aku mengenal Anak-Anak Terang (AAT) dari teman dekatku Islamiah (Iis) yang mengajakku ikut AAT. Ia mengetahui AAT saat LDPKM (Latian Dasar Pengembangan Kepribadian Mahasiswa) oleh Bapak Hadi Santono sebagai dosen pendamping saat itu. Sungguh pertama mendengarnya aku sangat tertarik, mengingat kehidupan ini tidak hanya melulu bekerja untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Tidak tepat kapan waktu pertama menjadi relawan AAT, sekitar Oktober 2013, aku diajak untuk ikut rapat AAT bersama Iis. Kami berdua sangat ingin mengikuti tetapi saat itu kami tidak mengerti apa-apa. Untungnya Antik mau membimbing kami untuk mengenal AAT lebih dekat, terkadang kami juga suka piket di sekretariat ketika tidak sedang berkuliah. Pengalaman Kunjungan Pengalaman luar biasa saya ketika kunjungan ke sekolah untuk pertama kalinya di SMK St. Paulus di Sedayu, aku memperhatikan secara seksama bagaimana presentasi dimulai, lalu dilanjutkan dengan wawancara. Saat wawancara, aku begitu tersentuh dan berbicara dalam hatiku sendiri bagaimana bisa mereka selalu bisa tersenyum saat kondisi mereka seperti ini. Mereka bahkan tidak menuntut banyak hal untuk kehidupan yang mereka jalani saat ini. Bahkan, salah satu calon anak asuh AAT yang aku wawancarai mempunyai cita-cita tinggi. Ia ingin sekali masuk Perguruan Tinggi Negeri dan setelah itu menjadi pengusaha sukses. Kelak setelah sukses ia ingin membantu lebih banyak orang lagi untuk bisa bersekolah lebih layak dan tinggi, tidak seperti ia sekarang. Selang beberapa minggu, aku kembali ikut kunjungan sekolah di SMP Kanisius Gayam. Betapa lucu-lucunya mereka, aku bahkan seperti mengingat masa kecilku, tetapi aku tidak bisa membayangkan, ternyata di balik tubuh mungil mereka tersimpan banyak permasalahan hidup. Salah satu dari mereka ayahnya meninggal dan ibunya sebagai buruh cuci baju. Ibunya masih harus menghidupi 3 orang anak yang masih bersekolah semua. Sejenak terdiam dan masuk dalam lamunanku sebelum tidur, merefleksikan banyak hal yang terjadi setelah menjadi relawan AAT. Seakan aku disadarkan untuk selalu mengucap syukur atas segala yang diberikan-Nya. Dan di dalam diriku selalu ada semangat untuk terus menjadi relawan AAT. Meskipun yang aku berikan sama sekali tidak berarti, tetapi aku berterima kasih pada kalian anak asuh karena kalianlah aku bercermin dan terus ingin berbagi tenaga, pikiran, waktu, dan bahkan aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi donatur. “Lahir di keluarga miskin/kaya bukanlah pilihan kita, tetapi untuk menjadi sukses adalah sebuah pilihan…” Kata-kata motivasi ini diberikan oleh seorang dosen dalam perkuliahan karena masa lalunya. Aku percaya, engkau dan aku juga sanggup menjalani kehidupan dan menjadi lebih baik bukan karena takdir kita lahir di keluarga miskin/kaya tetapi usaha kita yang mampu merubah kehidupan di masa depan.   Fricilia Mawaria Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/terima-kasih-karena-kalian-berharga” size=”175″]  

Terima Kasih, Karena Kalian Berharga Read More »

Rapat Pengurus Pusat

Rapat pengurus pusat Anak-anak Terang (AAT) dilaksanakan 2 hari, yaitu pada tanggal 26 Oktober sampai tanggal 27 Oktober 2013. Rapat pengurus pusat pada hari pertama dimulai pada pukul 15.00. Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh PK (Pendamping Komunitas) atau Staff Administrasi sekretariat Yogyakarta dan perwakilan PK atau Staff Administrasi dari sekretariat Semarang, Madiun, dan Malang. Dalam Rapat itu dibedakan antara rapat PK Yogyakarta dan rapat pengurus pusat. Memang tidak semua PK yang ditunjuk untuk menjadi pengurus pusat bisa datang, tetapi itu sudah mewakili semuanya. Dalam Rapat tersebut dijelaskan tentang tugas yang harus dikerjakan oleh setiap divisi dan pemilihan bagian untuk setiap PK. Beberapa PK juga bisa memilih sendiri mau masuk ke divisi mana, yang dirasa lebih mereka kuasai. Tetapi ada juga yang sudah ditentukan oleh Mbak Alma dan Mbak Chika untuk bertugas dalam divisi tertentu. Tidak lama rapat itu berlangsung karena hanya menjelaskan gambaran tugas-tugas dan memilih bagian untuk pengurus pusat. Rapat pun selesai dan akan dilanjutkan pada keesokan harinya, yaitu hari Minggu tanggal 27 Oktober 2013. Rapat pada hari Minggu dihadiri oleh perwakilan PK dari sekretariat Madiun, Malang, dan Semarang. Walaupun ada PK yang baru tiba di Yogyakarta pukul 07.00 dan rapat dimulai pukul 08.00 pagi, tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap bersemangat dan berkumpul antar sesama PK dari berbagai sekretariat. Rapat pengurus pusat tersebut diawali dengan pengenalan SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) kepada PK baru yang belum begitu tahu tentang SIANAS. Saat itu, Mbak Alma yang bertugas menjelaskan apa itu SIANAS kepada PK baru dan lama agar lebih mengenal lagi tentang SIANAS. Pembagian Divisi Setelah pengenalan SIANAS selesai, mulailah penjelasan untuk pengurus pusat. Beberapa PK yang hari sebelumnya belum sempat datang dan belum mengetahui pembagian divisi atau staff pengurus pusat dijelaskan kembali oleh Mbak Alma dan Mbak Cika. Kemudian dimulai dengan memilih bagian divisi oleh para PK yang belum mendapatkan bagian. Setelah semuanya masuk dan mendapat bagian dalam divisi masing-masing, mulailah penjelasan mengenai masing-masing tugas yang harus dilakukan oleh para pengurus pusat. Penjelasan tentang divisi dilakukan oleh Mbak Alma, Mbak Cika, dan Mbak Lia sebagai pengurus pusat yang lama dan memang yang sudah senior di antara yang lain. Divisinya dibagi menjadi 8 bagian, yaitu Divisi Keuangan yang diisi oleh Agustina Awalia Riyanti, Mahdalena Salupra, Mikaella Maria Dicna Advenia, dan Ryan Frederick, Divisi Kesekretariatan yang diisi oleh Brigitta Tri Damayanti, Lucas Kristiawan, dan Dhika M. Putera, Divisi Admin Media yang diisi oleh Ryan Frederick dan Maria Elisabeth Roberta, divisi Jurnalistik yang diisi oleh Rike Kotikhah, Divisi Kreatif yang diisi oleh Dica Herra Vidianti, Divisi Operasional yang diisi oleh Aloysius Handy Wibowo dan Rosalina Desti Wulandari, Divisi Data Base/SIANAS yang diisi oleh Caroline Nadia Laksita Devy, serta Divisi Beasiswa Perguruan Tinggi yang diisi oleh Ikka Marissa. Sebelum dilakukan penjelasan, pengurus masing-masing divisi berkumpul menjadi satu. Mereka mulai dijelaskan tugas-tugas setiap divisi. Kemudian tugas tersebut dibagi lagi sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan setiap anggota divisi. Sehingga dalam satu divisi dapat saling bekerja sama menyelesaikan setiap tugas yang harus dikerjakan. Setelah mengetahui tugas masing-masing, penjelasan diperdalam dengan praktik langsung. Dalam praktik ini memang tidak bisa lengkap dan hanya dengan contoh saja. Penjelasan secara praktik ini meliputi banyak hal, contohnya saja tugas untuk mengunggah foto di web AAT, mengirim data, memasukkan/menginput data ke SIANAS, meng-update penerimaan transfer dari donatur, dan masih ada yang lain lagi. Penjelasan ini memang lebih lama dari yang sebelumnya yaitu penjelasan tentang SIANAS, karena penjelasan ini lebih detail dan harus benar-benar dimengerti oleh masing-masing pengurus, mengingat tidak setiap saat mereka bisa mendapat penjelasan lebih detail karena pengurus datang dari berbagai kota. Hal terakhir yang dilakukan yaitu sedikit penjelasan tentang pengurus sekretariat cabang. Tidak banyak yang harus dijelaskan karena hal ini tidak sekompleks tugas pengurus pusat. Karena semua dirasa cukup dan sudah selesai, rapat pengurus pusat pun berakhir pada siang hari dan ditutup dengan makan siang bersama.   Mikaella Maria Dicna Advenia Staff Admin AAT Yogyakarta   [qrcode content=”https://aat.or.id/rapat-pengurus-pusat” size=”175″]  

Rapat Pengurus Pusat Read More »

duta76 perihoki duta76 aws logika sistem mahjongwins3 aws pengamat statistik rtp aktif aws transformasi emas wild mahjongways aws pendekatan sesi wildbounty aws ritme spin mahjongwins3 aws selaraskan keputusan indikator rtp aws distribusi simbol mahjongways rtp aws gatesolympus multiplier spin tren aws scatter mahjongways2 evaluasi visual aws spin pgsoft mahjongways data aws infrastruktur server mahjongways stabil aws tren rtp mahjongways strategi aws atensi pembaca mahjongways statistik aws stratifikasi statistik mahjongways3 aws dinamika struktur mahjongways2 observasi deskripsi perilaku rise of giza platform digital navigasi keberhasilan caishen wins game viral regulasi ritme ganesha fortune sesi digital karakteristik fase awal double fortune navigasi implementasi taktik leprechaun riches 95 persen peta industri genies wishes analisis algoritma aws fluktuasi rtp mahjong komunitas aws grid bergerak mahjongways2 observasi aws kombinasi simbol mahjongways panduan aws transisi warna scatter mahjongways2 aws variasi hasil mahjong wins3 aws fraktal heuristik mahjongways3 data aws pengalaman scatter mahjongwins3 dinamis aws pengelolaan saldo mahjongways2 terencana aws struktur simbol scatter mahjongwins3 aws unit presisi mahjongwins3 stabilitas aws eksplorasi tren game modern aws fokus emosi mahjongways2 strategi aws manajemen waktu mahjongways2 sesi aws mekanika mahjongways2 sistemik rtp aws visual data mahjongways tren kombinasi strategi dan taktik mahjong wild deluxe dadu sicbo gates of olympus untuk optimalkan rtp live perihoki cara cerdas menggunakan strategi pola dan teknik mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess perihoki analisa pro pola dan strategi mahjong wins 3 pragmatic blackjack sweet bonanza untuk pemain serius perihoki metode cerdas analisa pola mahjong ways 2 pgsoft roulette dan wild bounty showdown perihoki teknik efektif analisa dan teknik mahjong wins 3 pragmatic blackjack sugar rush sv388 raih peluang terbaik perihoki panduan pro teknik dan pola mahjong wild deluxe dadu sicbo gates of olympus paling mudah jepe duta76 analisa pola dan teknik mahjong ways 2 pgsoft baccarat starlight princess optimalkan rtp live duta76 kombinasi peluang pola dan teknik mahjong wins 3 pragmatic blackjack sweet bonanza untuk kemenangan duta76 formula analisa pro mahjong ways 2 pgsoft roulette dan wild west gold untuk raih jackpot duta76 taktik rahasia dan teknik pro mahjong wins 3 pragmatic blackjack sbobet88 sv388 untuk maksimalkan kemenangan duta76 arah permainan mahjong fokus pemain mulai mahjong memanfaatkan arah perkalian luas mahjong mengalir tenang perlahan scatter putaran datar menipu mahjong wins scatter saat permainan aman mahjong memberi ruang disaat perhatian pemain mahjong ways agresif scatter hitam datang tiba mahjong transisi fokus permainan banyak arah mahjong ways mahjong wins wajah tenang scatter hitam tanpa gejolak mahjong mengizinkan scatter